Majalahdrise.com – Aku akan menugaskanmu untuk kembali lagi ke Madinah. Temui Khalifah dengan tenang dan ceritakan kepada beliau semua peristiwa yang kita alami. Tetaplah ada di sisi Khalifah dan lindungilah beliau sampai ada perintah baru dari Khalifah kepadamu. Rekomendasikan saja kepada Khalifah agar menyerbu benteng terkutuk itu.”
“InsyaAllah,” Jabal mengangguk teguh.
“Sementara aku akan melanjutkan perjalanan ke Yamamah menyelesaikan misi yang telah tertunda. Semoga Allah memberi aku kemudahan sehingga aku bisa sampai dengan selamat dan tidak terlalu terlambat.”
“Tapi bagaimana kita bisa melaksanakan tugas? Semua hewan tunggangan kita raib entah kemana!” Keluh Jabal. “Kita berdoa kepada Allah, mohonlah kemudahan dariNya,” sahut Mutsana enteng saja.
Kemudian alis Mutsana berkerut, dia mengangkat telinganya karena mendengar sesuatu. Pelan-pelan dia merayap menuju tepian celah, di sana dia saksikan ada dua orang prajurit hitam yang sedang menunggang kuda.
Kedua prajurit hitam itu pasti sedang berpatroli untuk menemukan di mana Mutsana dan Jabal. Kaki-kaki kuda itu melangkah pelan. Para prajurit hitam penunggangnya sibuk mengawasi sekitar. Salah seorang dari mereka menoleh ke celah tempat persembunyian Mutsana dan Jabal.
Dia menunjuk-nunjuk celah gelap itu kemudian melambai pada temannya. Mereka pun menjalankan kudanya menghampiri celah itu. “Lihat! Saat kita membutuhkan kendaraan, Allah mengirimkan kendaraan untuk kita,” gumam Mutsana sambil tersenyum tipis.
Jabal mengangguk pelan sambil menyeringai, tangannya sudah menggenggam sebongkah batu. Mutsana pun memungut sekeping batu, lalu menyembunyikan dirinya di dalam celah. Mereka bersiap! Ketika waktunya telah tepat, mereka menembakkan batu itu kepada sasaran masing-masing Sehelai perkamen kekuningan telah terhampar di atas telapak tangan seorang jenderal besar. Cemerlangnya kedua bola mata sang jenderal sedang memerhatikan tulisan-tulisan yang terpahat di atas perkamen itu. Alisnya berkerut, bibirnya mengatup rapat,
sementara ketajaman intuisinya berkelebat cepat menyusun rencana di saat yang sama ketika dia baca perkamen itu. Napasnya tenang dan degup jantungnya meyakinkan. Jenderal besar itu adalah Khalid bin Walid.
Bayang-bayang tenda menaungi Khalid dari teriknya matahari semenanjung Arab. Tidak ada waktu-waktu yang paling dia sukai kecuali berada di dalam tenda di tengah-tengah derap langkah jihad fi sabilillah. Satu malam yang dingin di medan tempur lebih dia sukai daripada seribu malam dalam pelukan bidadari.
Khalid bin Walid, terlahir untuk menjadi Pedang Allah yang selalu terhunus. Tubuh yang besar, kuat, dan kokoh dianugerahkan Allah untuk Khalid. Sejak kecil, medan perang telah menjadi tempatnya bermain. Dia dididik dengan kecintaan kepada bangsanya melebihi apa pun, yang ketika dia masuk Islam, sentimen kufur itu digantinya dengan kecintaan kepada Islam. Untuk Islam, dia rela mengorbankan apa pun yang dimilikinya. Berbagai jenis senjata piawai dia mainkan. Sasarannya jarang sekali meleset ketika dia memanah.
Tombak yang dilemparnya jarang sekali lari dari tujuan. Dan kemampuannya memainkan pedang membuatnya hampir tak terkalahkan. Setiap kali mata pedang itu diayunkan, dia selalu menjadi pemenang.
Di dalam tenda, Khalid tidak sendirian. Dia duduk bersila berhadap- hadapan dengan Mutsana bin Harits. Perkamen itu masih terselip di antara jemarinya dan tatapan matanya masih tertuju ke sana, sementara derap jihad telah menari-nari di hadapannya.
“Subhanallah walhamdulillah,” gumam Khalid dengan suaranya yang berat ketika dia mengakhiri bacaannya. Suara itulah yang sering kali menyemangati kaum muslim di medan perang. Suara itu pula yang telah menjadi halilintar yang menyambar hati pasukan musuh. Allah telah menyisipkan rasa takut di sanubari tentara kafir setiap kali Khalid membuka suaranya.
Mutsana memerhatikan Khalid dengan saksama. Hatinya berdebar-debar menunggu perintah dari jenderal yang telah lama dikenalnya itu.
“Kau tahu, Mutsana,” tanya Khalid, “surat ini adalah salah satu hal yang paling aku tunggu-tunggu dalam hidupku. Di dalamnya terkandung perintah dari Khalifah untuk menaklukkan Persia. Artinya, sebentar lagi, kita akan mewujudkan janji Rasulullah tentang kemenangan melawan Persia. Singgasana Persia akan tercabik-cabik, sebagaimana kaisar mereka dahulu mencabik-cabik surat dakwah Rasulullah shallahu ‘alayhi wasallam. Subhanallah walhamdulillah.” “Insya Allah, semoga Allah memberikan kemudahan,” kata Mutsana.
di muat di majalah remaja islam drise edisi 49