Majalahdrise.com – Salam kreatif bagi fans rubrik writerpreneur. To the by point aja ya, pada edisi kali ini, kita mo ngebahas mitos keempat penulis, yaitu para penulis (fiksi) tuh tukang ngibul bin tukang bo’ong alias suka ngadalin para pembacanya, nyambung juga sama mitos ketiga sebelumnya, yaitu penulis tuh tukang ngarang bin tukang ngedongeng! Hehehe… kita ulik bareng-bareng, yuk?!
Sebenernya, kalo penulis fiksi dianggap sebagai tukang bo’ong seh, ada benernya juga, kalo yang baca karya fiksinya itu adalah orang yang nggak berpendidikan ataunggak nyadar bahwa karya yang dibacanya adalah kisah rekaan, hasil imajinasi seorang penulis. Namun, kalo Si Pembaca itu nyadar bahwa apa yang dibacanya adalah sebuah karya fiksi maka dia akan memahami bahwa itu adalah cerita rekaan yang belum tentu ada dalam kenyataan. Artinya, dia sadar sepenuhnya bahwa dia bersedia untuk dikelabui atau dibo’ongi oleh Si Penulis.
Kesediaan Si Pembaca untuk dikelabui oleh Si Penulis inilah yang membedakannya dengan fakta kebohongan karena sebuah kebohongan terjadi ketika seorang komunikator (penyampai pesan) mengomunikasikan pesan yang tidak sesuai dengan faktanya kepada komunikan (penerima pesan). Si Komunikan pun nggak nyadar bahwa informasi dari Si Komunikator itu sebuah kebohongan. Nah, ketauan kan, dimana letak perbedaannya?!
So, siapapun di antara kita yang berkenan untuk membaca cerita fiksi, baik itu berupa cerpen, cerbung, novelet dan novel, sudah sejak awal bersedia untuk dikelabui. Tidak ubahnya kita nonton film ataupun pertunjukan drama (teater). Pada saat kita membayar harga buku cerita atau membeli karcis masuk, tanpa diberitahu pun kita akan paham bahwa cerita dalam buku ataupun film dan teater itu hanyalah rekaan belaka. Berbeda halnya kalo buku yang kitabaca adalah otobiografi atau film yang kita tonton adalah film dokumenter yang didasarkan pada fakta sebenarnya.
Namun, kesediaan kita dikelabui oleh penulis fiksi ataupun penulis skenario/sutradara tentu ada batasnya, yaitu ketika cerita itu nggak membangkitkan tanggapan emosional atau nggak logis alias nggak masuk akal jalan ceritanya. Seperti apa yang diungkap oleh Mohammad Diponegoro, penulis novel Siklus yang memenangkan Sayembara Menulis DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) taon 1997, ia menyatakan bahwa, “batas kesediaan orang dikelabui adalah ketika ketidaksungguhan cerita khayal itu muncul telanjang sebagai ketidaksungguhan yang betul-betul tak sungguh. Ketika itulah, hubungan antara cerita dan pembaca menjadi patah.”. Artinya, selama cerita itu masih tampak sungguhan, para pembaca atau para penontonnya mau saja dikelabui.
Pendapat Diponegoro ini sudah jadi konvensi umum di jagat sastra dunia, seperti apa yang diungkap oleh Bapak Cerpen Modern, Edgar Allan Poe, bahwa salah satu dari lima aturan cerpen adalah dia harus tampak sungguhan. Menurut Poe, “tampak sungguhan” ini adalah dasar dari semua seni mengisahkan cerita. Semua fiksi nggak boleh kentara hanya bikinan, sekalipun semua orang tahu bahwa itu adalah kisah rekaan belaka. Semua tokoh ceritanya harus keliatan sungguhan, bicara dan berlaku seperti manusia yang bener-bener hidup.
Oleh karena itu, seorang penulis fiksi jangan nyari plot atau alur yang mustahil. Jangan pula melebih-lebihkan tokoh ceritanya seperti karikatur atau kartun. Trus…, jangan pula membiarkan tokoh ceritanya itu berlaku atau bicara plin-plan, tak konsisten, ungkap Poe menguraikan teorinya itu.
Mau contoh kongkretnya, Bro and Sist? Baca deh, cerita Winetou dan Old Shatterhand karya fenomenal dari Karl May. Ceritanya asyik banget, mengisahkan persahabatan penuh nuansa heroisme antara kepala suku Indian Apache dengan petualang kulit putih di Benua Amerika. Padahal saat nulis ceritanya itu, Karl May belum pernah datang ke tanah kediaman orang-orang Indian itu. Tapi, dia sanggup membingkai fakta-fakta kehidupan orang Indian yang diketahuinya jadi sebuah cerita fiksi yang tampak hidup dan sungguhan sehingga banyak para pembaca ceritanya itu bersedia untuk dikelabui.
Saya juga pernah menulis karya seperti apa yang ditulis Karl May, yaitu menulis buku kumpulan cerita islami Impian Terindah yang meraih predikat best seller di masa booming fiksi Islami. Setengah dari isi buku itu berlatar Turki dan Timur Tengah, padahal saya sama sekali belum pernah singgah ke jantungnya umat Islam itu. Saya hanya menghimpun fakta, data dan berita tentang Turki dan Timur Tengah melalui buku, gugling dan bertanya plus diskusi dengan sohib-sohib yang pernah kesana. Selanjutnya, saya membangun dunia rekaan dengan memadupadankan fakta, data dan berita yang berhasil dihimpun tadi untuk menghadirkan ”tampak sungguhan” demi meyakinkan para pembaca. Hasilnya, Impian Terindah menembus angka penjualan 5.000 exp sekaligus repeat order kurang dari sebulan!
Jadi, inti dari semua seni bercerita fiksi adalah tampak sungguhan. Para penulisnya memiliki tugas membuat cerita khayalan yang tampak sungguhan, meskipun dia menulis cerita-cerita fabel atau cerita tentang dunia binatang. Tokoh-tokoh binatang yang diceritakannya itu harus “tampak manusiawi” (dalam berbicara dan bertingkah laku) untuk dapat “dipercaya”, dengan kata lain agar tampak sungguhan di mata para pembacanya.
Kini, apakah kamu masih nganggap penulis (fiksi) itu sebagai tukang bo’ong? Kalo masih berasumsi gitu, baca lagi deh, tulisan ini dari awal?! Atau mulai deh belajar bikin tulisan fiksi yang menginspirasi. Yuk ya yuk…! []
di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42
