MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS

– D’Riser, pada edisi D’Rise kali ini, kita mo ngebahas tahapan saat menulis poin yang ketiga, yaitu “pembahasan”, sekaligus nerusin jurus ampuh menumpas virus write’s block.

Dalam proses kreatif menulis, kita harus mampu membangun tubuh yang dinamis, tulisan yang kita bikin itu koheren dan kohesif. Maksudnya adalah adanya keterpaduan makna, sekaligus adanya kesatuan bentuk tulisan yang kita bangun.

Gak lucu, kan, kalo tulisan kita gak nyambung? Misalnya kek gini, niatnya bikin tulisan artikel bergaya deskriptif, eh saat kita nulis, kita malah keasyikan sendiri bernarasi panjang lebar. Akhirnya, tulisan kita mewujud jadi artikel naratif, malah bisa jadi feature atau yang lebih parah, jadinya kisahan faksi atau bahkan tulisan fiksi. Kacau, kan?

Selain itu, demi membangun tubuh yang dinamis dalam proses kreatif menulis, kita pun harus benar-benar memahami persoalan yang kita ajukan dalam tulisan dengan pembahasan yang kita kedepankan. Mulai persoalan keseharian maupun persoalan keumatan dan kebangsaan sampai pada pembahasan yang sistematis dan sistemis. Walah…, bahasanya ideologis bangeud, ye? Gapapa ding, kita kan mo jadi seorang yang totalitas dalam berkarya sebagai wujud aktualisasi Muslim kaffah.

Nah, soal ngebangun tubuh tulisan yang dinamis itu, dimulai dari maksud kita bikin tulisan. Jenis tulisan apa dulu yang mo kita bikin. Artinya, kita mo nulis artikel, berita, feature, fiksi atau faksi?

Kalo jenis tulisan, dah clear, lanjut deh ke outline, kita bikin kerangka tulisan agar kita punya panduan yang terarah dalam menulis. Bikin outline kek gini penting banget, lho, bagi para pemula karena akan membuat kamu-kamu terhindar dari write’s block yang sering jadi alasan kamu gak nerusin tulisan bahkan parahnya, gak nuntasin tulisan!

Makanya penting banget kita bikin outline, khususnya bagi para new comer dalam jagat kepenulisan. Hal ini bukan tanpa alasan, karena faktanya banyak di antara para pemula itu yang begitu bersemangat nulis hingga mereka terjebak dengan bahasa lanturan. Tulisannya ngelantur kemana-mana, boros kosa kata dengan kalimat yang gak efektif. Nah, lho, jadi dalam menulis jangan modal semangat doang, ya?

Walah…, kita dah masuk ke area bahasa dalam pembahasan, ya?

Oke deh, sebelumnya kita mo nanya, neh, Bro and Sist D’Riser, pernah baca ato sekadar liat-liat majalah mingguan berita (MBM) TEMPO, kan? Tuh, majalah yang digawangi Goenawan Mohamad itu punya tagline atau slogan yang mereka usung sejak awal penerbitannya sebagai pemantik minat baca para penggemarnya, taglinenya kek gini, enak dibaca dan perlu.

MBM TEMPO sepertinya pengen ngikut kesuksesan the weekly newsmagazine TIME di Amrik sana yang jadi barometer pemberitaan, gak hanya di dunia Barat, tapi juga jadi rujukan media berita seluruh dunia. Coba, liat tagline TIME ini, there’s never been a better.

Terlepas dari ide maupun ideologi yang diusung kedua majalah berita tersebut, tapi tagline dua majalah yang katanya mengusung model jurnalisme investigatif itu keren-keren, ya?

Kalo diperhatikan, karakter tulisan mereka, baik itu artikel, berita, feature, etc yang nampil di majalahnya itu, emang enak dibaca, bahasanya lugas, bernas dan kaya. Oya, maksud “kaya” di sini adalah kaya dalam menyajikan fakta dan data, sekaligus “kaya” dalam bahasa. Kalo “kaya” dalam analisa. Wah, nanti dulu, soal analisa, kan,  bergantung sepenuhnya pada ideologi yang mereka usung. Jadi, cukuplah kita terkesan dengan kekayaan fakta, data dan bahasa yang mereka punya.

Coba, deh, kamu baca Catatan Pinggirnya Mas Goen di majalah TEMPO atau yang sudah dibukukan oleh Penerbit Gramedia sebanyak 6 jilid. Simak dan perhatikan cara Mas Goen memulai hingga mengakhiri tulisannya, dia menulisnya dengan bahasa yang kaya, Dewan Redaksi Majalah TEMPO ini menulis dengan energi, setiap kalimatnya penuh dengan muatan informasi.

Di sini, kita mo ngebuka soal kekayaan berbahasa ini karena dalam membangun tubuh yang dinamis, seorang penulis yang baik tentu akan memerhatikan kualitas dari bahasa yang ia pake, sekaligus dengan kalimat yang efektif alias tepat sasaran.

Bahasa yang ia pake akan menyesuaikan dengan khalayak pembacanya, bahasa yang tepat sasaran dan tepat guna, tepat kepada yang dituju dan berdampak langsung pada perubahan sikap maupun karakter pembacanya.

Kalo kita nulis untuk remaja maka bahasa yang kita pake pun, ya bahasa keseharian mereka, dunk! Kita harus tahu dunia mereka untuk menyelami kebiasaan, tabi’at dan kehidupan anak-anak muda kekinian, termasuk soal gaya berbahasa mereka yang kata penyanyi en psikolog, Tika Bisono mah, bahasa yang dinamis, sering berubah sesuai zamannya, funky… bahkan, terkesan slank alias seenaknya.

Melalui pemahaman terhadap dunia remaja dengan karakter bahasanya yang funky dan slank tadi, tentu akan memudahkan kita untuk menyapa mereka dengan bahasanya sendiri, bahasa yang mereka fahami. Di sinilah misi da’wah bi lisani qaumih sudah terpenuhi, menyampaikan dakwah dengan bahasa yang dimengerti kaumnya.

Nah, itulah maksud dari pembahasan yang sistematis alias sesuai dengan sistematika penulisan yang baik dan benar. Kalo untuk pembahasan yang sistemis, gimana? Cegat di edisi D’Rise berikutnya, ya….[]

Di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi #38

BIKIN LEADING YANG MENGGODA

drise-online.com – Salam kreatif, D’Riser semuanya…. To the point aja, ya. Kita mo lanjut ngebahas tahapan saat menulis, sekaligus nerusin jurus ampuh menumpas virus write’s block. Pada edisi sebelumnya, kita dah ngebahas soal nentuin judul. Nah, dalam edisi D’Rise yang sedang D’Riser baca ini, kita mo ngulik soal leading, intro atau bahasa mudahnya adalah kalimat pembuka dalam sebuah tulisan.

Dalam proses menulis, kalimat pertama dalam paragraf pembuka harus kita bikin semenarik mungkin. Kalo gak menarik, mana mau orang membaca tulisan kita, ya, gak? Kalo boleh diibaratkan, judul yang kita bahas di edisi yang lalu, layaknya etalase sebuah toko maka kalimat pembuka yang kita bahas sekarang seperti layaknya sebuah pintu. Sebuah pintu untuk memasuki toko yang kita kelola. So, disinilah pentingnya kita bikin leading yang menggoda alias membuat kalimat pembuka yang menarik orang untuk terus membaca tulisan kita. Lanjut, ya….BIKIN LEADING YANG MENGGODA - DRISE-ONLINE.COM

Sebagai contoh, saya pernah membaca leading yang menarik dalam novelet Pudarnya Pesona Cleopatra karya Habiburrahman el-Shirazy, kalimat pembukanya sungguh bagus untuk memikat hati pembacanya. Kang Abik membuka kisahannya dengan sebuah pertanyaan retoris, coba simak, deh?

Ini nikmat ataukah azab?

Sebulan setelah kepulanganku dari Mesir, aku dipaksa menikah oleh Ibuku.

Nah, lho, kira-kira tokoh protagonisnya ngejawab apa, ya? Sama kek kita, kalo kita dikasi pertanyaan yang sama, pasti jadi dilema juga, ya? Nikmat atau azab? Kalo jodoh yang dipaksakan itu sesuai dengan selera dan idealita kita, tentu hal itu merupakan kenikmatan. Namun, kalo sebaliknya, walah…, bisa jadi malah mendatangkan azab.

Nah, dalam noveletnya itu, Kang Abik berhasil memainkan imajinasi sekaligus membetot-betot emosi para pembacanya dengan keluh kesah tokoh protagonisnya hingga klimaksnya, Kang Abik berhasil menghadirkan sebuah ending yang menyentuh dan mengharukan, sebuah katarsis untuk para pembacanya! Penulis memberi jawaban tuntas atas pertanyaaan tadi, nikmat ataukah azab? Di sinilah, kita dapat melihat sebuah karya yang bagus dimulai dari leading yang bagus pula.

Trus…, saya juga mo ngasi contoh laen, masih soal leading yang menggoda juga. Sebuah kalimat pembuka yang mencuri perhatian, sekaligus mengusik keingintahuan kita sebagai pembaca. Simak, deh…

The simplest way to describe Sukarno is to say that he is a great lover. He loves his country, he loves his people, he loves women, he loves art, and, best of all, he loves himself.

Menarik, ya? Leading tadi saya kutip dari paragraf pertama buku Sukarno An Autobiography as told to Cindy Adams yang diterbitkan oleh The Bobbs Merrill Company, Inc. di Amrik taon 1965.

Kalimat pembuka dari buku yang dinilai oleh para sejarawan sebagai literatur paling otoritatif tentang sosok Bung Karno ini sungguh memikat. Bagaimana tidak, kalimat pembukanya sudah langsung mengajak para pembaca untuk mengenal secara dekat dengan founding father negeri ini. Kita diajak untuk langsung mengetahui bahwa Si Bung Besar adalah seorang maha-pencinta, ia mencintai negaranya, ia mencintai rakyatnya, ia mencintai wanita, ia mencintai seni, dan lebih daripada itu, Sukarno mencintai dirinya sendiri! Nah, lho! Menurut pengakuannya sendiri, ternyata presiden pertama Negeri Si Komo ini adalah seorang narsis! Sukarno loves himself.

Nah, leading dari buku autobiografinya Sukarno tadi secara kebahasaan emang menarik, mencuri perhatian, sekaligus menggoda. Secara bahasa, kalimat pembukanya tadi berhasil menarik perhatian para pembacanya untuk meneruskan bacaannya. Para pembaca akan terus bertanya-tanya; Emang ada apa dengan Si Bung? Emang kenapa kalo doi narsis? etc….

Ringkasnya, kalimat pembuka dalam sebuah tulisan harus dapat menarik perhatian, mencuri hati sekaligus menggoda para pembacanya untuk terus membaca tulisan kita. Para pembaca dibuat terus penasaran dengan kalimat demi kalimat yang kita rangkai….hingga tuntas dalam ending, epilog atau penutup tulisan. Percaya, deh, sebuah tulisan yang menarik selalu berawal dari leading yang menarik.

Nah, agar kita dapat mengawali tulisan dengan baik sekaligus memicu ketertarikan para pembaca akan tulisan-tulisan kita, berlatihlah dengan banyak membaca karya para pengarang beken, penyair terkenal ataupun sastrawan yang sudah malang melintang di jagat kepenulisan.

Selain itu, kita juga kudu rajin baca plus merhatiin berita-berita di koran, radio ataupun tv karena bahasa yang dipake media berita, biasanya lugas dan to the point untuk menarik perhatian pemirsa. Selanjutnya, berlatihlah terus untuk menghasilkan karya terbaik!

So, kalo kita dah biasa baca en merhatiin karya-karya besar para pesohor jagat kepenulisan tadi, plus menjaring style reporter berita dalam menarik perhatian para pemirsanya, kita pasti dapat belajar banyak dari mereka, kita pun gakan kaku untuk memulai leading tulisan dengan baik, sekaligus menumpas write’s block yang ”konon dan katanya” jadi hantu bagi para pemula itu.

Ok, deh, di edisi y.a.d, kita lanjut sama tahapan ketiga saat menulis, yaitu pembahasan. Jangan lupa, cegat di edisi berikutnya…. see you, next time!

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi#37

 

Menumpas Mitos Write’s Block! Nentuin Judul Tulisan

drise-online.comD’Riser sebagaimana janji di edisi sebelumnya, kali ini, kita mo nerusin jurus ampuh menumpas virus write’s block. Pada dua edisi sebelumnya, kita dah ngebahas tahapan sebelum nulis. Nah, dalam edisi D’Rise kali ini, kita mo ngupas tuntas tahapan saat kita nulis, biar kita nyaman nerusin tulisan, sekaligus agar write’s block gak jadi alasan kita gak merampungkan tulisan.

Secara teori, tahapan saat kita nulis, dimulai dengan: pertama, menentukan judul; kedua, mengawali paragraf; ketiga, pembahasan, and yang terakhir, keempat, adalah kandungan isi.

Dalam menentukan judul, orang bilang gampang-gampang susah. Tapi kalo kita dah biasa nulis, nentuin judul bukan perkara yang sulit, mengalir aja, bisa dirangkai saat kita mulai nulis, saat tulisan dah kelar, atau bahkan saat kita punya ide nulis pun, kita dah bisa bikin judul yang menarik. Malah, sebagian penulis beken, dah mengantongi judul-judul keren sebelum mereka menuliskannya. Mo contoh?

Kang Abik alias Habiburrahman el-Shirazy yang beken melalui novel Ayat-Ayat Cinta ngaku bahwa judul novel religiusnya itu sudah ia kantongi sejak kuliah di Kairo, Mesir, jauh sebelum ia menuliskan naskahnya. Lulusan Universitas al-Azhar, Mesir ini juga bilang bahwa judul novelnya itu sama sekali gak terinspirasi dari judul novel kontroversialnya Salman Rushdie, The Satanic Verses alias Ayat-Ayat Setan. Namun, Kang Abik ngaku bahwa judul tersebut terinspirasi dari ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang cinta.

Kalo kita ngerasa nentuin judul masih jadi kendala, jangan ambil pusing, pending aja dulu sambil kita ngelanjutin tulisan sampe tuntas. Kalo dah kelar, pasti deh, ada something special yang membuat kita pede milih sekaligus nentuin judul yang ngepas dengan tulisan kita. Mo bukti?

Dulu medio taon 2002an, saya ngerasa terganggu dengan euforia anak-anak muda Muslim yang gandrung ama Si Muka Jaring dari Amrik. Saat itu, karakter superhero besutan duo Yahudi, Stanley Lieber Martin dan Steve Ditko itu tengah merajai tangga box office di seantero jagat. Beuh, jagoan rekaan itu bener-bener telah menghipnotis imajinasi anak-anak muda Muslim hingga mereka lupa bahwa sesungguhnya mereka punya para jawara dan jagoan Muslim (yang bener-bener nyata, asli bukan rekaan) yang bisa jadi teladan sekaligus kebanggaan mereka!

Saya pun terinspirasi untuk nulis buku soal bahaya Si Muka Jaring dari pusat Globo Capitalism itu. Bahkan, saat itu saya dah nentuin judulnya, yaitu Membunuh Si Muka Jaring! Namun, karena saat itu saya belum dapat reference yang akurat soal Spider-Man, akhirnya proyek untuk ’membunuh’nya pun terpaksa saya endapkan dulu. Saya baru bener-bener menuliskan proyek ini taon 2007, setelah Si Muka Jaring makin menggurita di Negeri Si Komo ini dengan live action-nya yang ketiga dalam pita seluloid.

Akhirnya, tidak lebih dari tiga pekan, saya berhasil merampungkan satu buku yang (akhirnya) saya beri judul, Aku Ingin Membunuh Spider-Man. Namun, dalam proses penerbitannya, naskah buku ini pun diberi title, Spider-Man I’ll Kill U! oleh pihak penerbit. Alasan pergantian judulnya itu demi mendongkrak sisi komersil buku tersebut, terbukti selama karier kepenulisan saya, buku inilah yang paling sering didiskusikan sekaligus diperdebatkan di banyak forum disbuk dan kepenulisan.

Nah tuh, untuk nentuin judul tulisan itu, kita ga harus buru-buru kan, terpenting kita dah punya ide, tema dan referensi yang cukup maka segeralah menulis. Kalo judulnya dah ada, makin mantep tuh. Kalo pun belum dapet judul, pasti deh abis tulisan dah kelar, judul pun pasti ngikut.

Oya, dalam nentuin judul yang keren sekaligus menarik, kita harus rajin membuka kamus, baik kamus bahasa Indonesia, bahasa daerah ataupun bahasa asing. Di dalam kamus, kita pasti bakal nemuin kosa kata, frase, idiom ataupun istilah yang klop dengan ide ataupun tema tulisan kita. Contoh, dulu saya pernah nulis soal perjuangan seorang pemuda bernama Khairuddin saat pemerintahan Turki Modern memberangus sisa-sisa pendukung kekhalifahan Utsmani. Setelah buka-buka kamus, saya mendapat kosa kata yang menarik untuk judul kisah tadi. Saya pun menuliskan judul Sebait Elegi Khairuddin. Judul tersebut tentu lebih menarik, dibandingkan dengan judul Sepenggal Kisah Sedih Khairuddin, ya?

Selain itu, dalam memilih kata atau kalimat dengan diksi yang bagus untuk judul tulisan kita, selayaknya kita membuka buku-buku antologi puisi para penyair, seperti karya Jalaluddin el-Rumi, Mohammad Iqbal, Kahlil Gibran, termasuk juga Chairil Anwar, Taufiq Ismail, W.S. Rendra, bahkan Sapardi Djoko Damono, etc. Pasti, deh, kita nemuin diksi ato pilihan kata yang wonderfull! Gak percaya? Buktiiin aja sendiri!

So, kalo kita dah mulai nulis, soal judul tulisan jangan jadi kendala kita gak nerusin tulisan. Pokoknya nulis aja dulu, terlepas kita sudah punya judul ataupun belum, sudah ada judul pasti ataupun judul sementara, kita nulis aja terus agar kita gak terserang virus write’s block!

Oke, D’Riser, di edisi berikutnya kita lanjut lagi dengan pembahasan yang lebih seru, soal tahapan berikutnya setelah nentuin judul tulisan, yaitu mengawali paragraf atau istilah kerennya leading…, tentu masih dengan tema besar menumpas mitos write’s block. Cegat di D’Rise berikutnya, ya? ^_^ []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise #36

Asyiknya Menulis

by Salman Iskandar,*

Bagi sebagian orang, menulis adalah aktivitas yang merepotkan, menyusahkan, bahkan, memberatkan. Mereka beralasan bahwa menulis membutuhkan ide, tema, metode, karakter, teori, bahkan alat-alat tulis yang harus setia setiap saat. Ada yang bilang bahwa aktivitas menulis membutuhkan keterampilan khusus yang jauh lebih sulit dibandingkan dengan aktivitas mendengar, membaca atau bicara. Komentar lain juga ikut nimbrung, bahwa menulis memberatkan karena seorang penulis kudu cerdas alias berilmu. Nah, soal cerdas inilah yang jadi masalah karena gak semua orang suka belajar, doyan baca, hobi diskusi ato demen meneliti.

Sesungguhnya menulis bukanlah perkara yang sulit, repot ataupun berat karena semua orang yang ”normal” dibekali kemampuan untuk menulis, selama dia mampu berpikir dengan baik. Menulis layaknya ”berbicara”, menyampaikan pesan, gagasan, ilmu ataupun pengetahuan kita kepada orang lain, melalui media. Menulis adalah menyampaikan pesan secara tidak langsung. Jadi, selama kita mampu berpikir dan berbicara maka sesungguhnya kita mampu untuk menulis! Bahkan, kalo mo jujur, sebagian besar di antara para pembaca D’Rise, tentu pernah menulis, paling gak, nulis pe-er, nulis surat cinta, nulis catatan harian ato diary. Ayo ngaku!

Bagi seorang Mukmin, menulis adalah karakteristik yang tak terpisahkan dari dirinya. Pada masa kenabian, para shahabat nabi berlomba untuk menghapal dan menulis al-wahyu ataupun al-hadits dari nabi saw. Hingga pada masa berikutnya, menulis telah menjadi tradisi intelektual bagi kaum Muslim. Hingga lahir kalangan intelektual Muslim dari rahim peradaban Islam, seperti Imam Hasan al-Bashri, Imam Ja’far ash-Shodiq, Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Ghozali, Imam Bukhori, etc. Keren!

Nah, kita mengenal dan ngeh sama keilmuan mereka yang mumpuni itu, dari karya-karya kreatif yang mereka wariskan untuk generasi kita saat ini. Melalui buku yang mereka tulis, kita dapat belajar Islam. Inilah yang dikatakan nabi sebagai ilmu bermanfaat yang amal kebaikannnya terus mengalir, sekalipun jasad telah lama dikebumikan. Ilmu yang jadi garansi memasuki surga-Nya. Nah, kalo kita Mo jadi ahli surga, ikuti jejak mereka. Menulis!

Trus, kalo kita mo serius menggeluti dunia kepenulisan ini, gak sekadar bentuk aktualisasi diri. Aktivitas kepenulisan juga menawarkan prestasi dunia bagi para aktivisnya. Seorang penulis yang karyanya pernah dipublikasikan, tentu dia dapet duit dari karya kreatifnya yang dibaca orang. Bahkan, dia bakal digadang-gadang oleh penerbitnya bak selebriti. Mo contoh kongkret? Liat aja para penulis beken di negeri Si Komo ini, ada Kang Abik, Mbak Asma, Bunda Helvy, Mas Tasaro, Anwar Fuady, Andrea Hirata, Agnes Davognar atau bahkan yang sudah ngepop duluan kek Dewi  Lestari ama Raditya Dika.

Karya-karya mereka gak hanya nampang di toko buku, diburu para penggemarnya, dibicarakan dalam banyak event tapi juga diangkat ke layar sinetron atau bahkan layar lebar. Asyik banget, kan?

Saya sendiri telah merasakan bagaimana melalui aktivitas menulis, saya dapat melepaskan beban stressing ataupun kepenatan dalam menjalani kehidupan. Asyik banget. Ya, menulis seperti mengeluarkan unek-unek, meluapkan angan, meluahkan asa, atau bahkan sekadar curahan hati dan jiwa dalam berkontemplasi.

Kita dapat melihat pada fakta sejarah, banyak para pejuang yang tetap konsisten dan penuh energi dalam memperjuangkan ide dan ideologinya melalui buku-buku yang mereka tulis. Ada Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail dari al-Quds, Palestina yang konsisten berjuang untuk membangun kembali peradaban Islam dengan banyak menulis kitab islam ideologis, sekaligus dalam upayanya membesarkan partai yang didirikannya.

Di negeri ini, kita pun dapat memetik pelajaran dari para pendiri bangsa, seperti Tan Malaka yang menulis booklet Naar de Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia pada 1925, Soekarno yang menulis risalah Mentjapai Indonesia Merdeka pada 1928 atau Mohammad Hatta yang menulis pledoi Indonesia Vrije atau Indonesia Merdeka pada 1933. Para pendiri bangsa ini memiliki visi yang sama yaitu kemerdekaan bangsanya dari semua bentuk penjajahan.

Tokoh-tokoh yang disebutkan tadi telah menjadikan aktivitas menulis sebagai sarana perjuangan dalam meraih apa yang mereka cita-citakan. Mereka merasa tetap “hidup” dan “dihidupkan” dengan karya-karya yang mereka tulis hingga melampaui zaman. Buktinya, kita yang hidup di zaman high-tech android ini dapat mengenal mereka, kan?

Selain itu, aktivitas menulis juga dapat menyembuhkan lho. Tuh liat, J.K. Rowling adalah buktinya! Saat dia nulis buku fenomenalnya yang menyabet megabestseller di seluruh dunia, Harry Potter itu, J.K. Rowling tengah mengalami depresi karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Selama sekian lama, J.K. Rowling menghabiskan waktunya di salah satu kedai kopi di pinggiran kota London, Inggris untuk melepaskan beban psikisnya hingga suatu ketika ia mendapatkan ide liar, menulis kisah fiksi imajinasi yang merambah rayah dunia sihir. Hasilnya, kini, kekayaan materinya diperkirakan melampaui kekayaan Ratu Elizabeth II sekalipun!

Menulis tidak hanya mengasyikan bagi J.K. Rowling, namun juga sekaligus jadi psiko ventilasi alias jalan keluar bagi masalah mentalnya yang sedang down! Menulis telah menyembuhkan jiwanya yang tertekan. Nggak percaya? Coba aja Kalo kita lagi suntuk ato tengah sumpek, ayolah… menulis?! Dijamin lega, deh?!

So, menulis itu bukanlah sesuatu yang menyulitkan apalagi memberatkan. Tetapi, aktivitas yang menyenangkan, mengasyikan, sekaligus menyembuhkan! Ayo kita menulis?![]

*Predator Buku & Pembina API Islam