MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS #2

Tulisan Yang Sistematis Sekaligus Sistemis

 

drise-online.com – Pada edisi D’Rise sebelumnya, kita sudah ngebahas gimana membangun tubuh tulisan yang dinamis bagian pertama, yaitu pembahasan yang sistematis alias sesuai dengan sistematika penulisan yang baik dan benar. Pada edisi D’Rise kali ini, kita akan ngebahas bagaimana membangun tubuh tulisan yang dinamis bagian kedua, yaitu pembahasan isi tulisan yang sistemis. Maksudnya adalah bagaimana agar tulisan kita itu gak sekadar menyajikan fakta, data dan berita saja, ataupun mengandung unsur informasi dan edukasi semata. Namun juga, inspiratif sekaligus solutif. Walah… keknya berat, ya? Iya dunk, kan, tulisan kita kudu jelas gimana bobotnya!

Ok deh, Bro and Sist… kita ambil sample saja, ya, agar kita mudah memahami gimana tulisan yang sitematis plus sistemis itu? Bro and Sist D’Riser tentu dah tahu karya best seller Felix Y. Siauw yang berjudul Muhammad Al-Fatih 1943, kan, ya? Gimana seru, ga kisah heroik Fetih Sultan Mehmed dalam menaklukkan ibukota Romawi Byzantium, Konstantinopel itu?

Nah, buku karya Ustadz Felix yang ia dedikasikan khusus untuk kedua puteranya; Shifr & Ghazy sebagai bekal untuk membuka Kota Roma itu, dapat kita jadikan sebagai contoh dari tulisan yang sistematis, sekaligus sistemis.

Sebelum ngebahas lebih lanjut, kita mo sedikit ngasih bocoran, gimana proses kreatif Ustadz Felix menghasilkan buku fenomenal ini. Gimana gak jadi fenomena, MAF 1453 itu ditulis oleh seorang engineer bidang pertanian, bukan seorang sejarawan ataupun lulusan ilmu sejarah. Terlebih lagi, Ustadz Felix adalah seorang mualaf. Bahkan, saat diskusi bukunya di Bandung, seorang doktor sejarah menyatakan, melalui karyanya ini, Ustadz Felix dapat disejajarkan dengan para sarjana ilmu sejarah.

Saat itu, saya yang mendapatkan amanah sebagai penyunting buku MAF 1453 mengetahui betul proses kreatif Ustadz Felix sejak awal. Bahkan, mendapat kesempatan menjadi first reader dan mengawal prosesnya dari naskah mentah menjadi sebuah buku. Proses kreatif menulis MAF 1453 itu digarap dengan sungguh-sungguh oleh penulisnya, Ustadz Felix berulang kali merevisi naskah tulisannya, ia tidak sungkan menerima kritik konstruktif dari saya demi kesempurnaan MAF 1453.

Di antara masukan yang saya berikan kepada Ustadz Felix adalah ia harus berani tega untuk memangkas 2/3 isi naskah yang telah ia tuliskan. Saat itu, saya berargumentasi bahwa tidak semua orang suka membaca sejarah karena bagi sebagian orang, sejarah adalah sesuatu yang memberatkan karena harus mengingat rumus 5W+1H: What: Apa peristiwa sejarahnya? Who: Siapa para pelaku sejarahnya? When: Kapan peristiwa sejarah itu terjadi? Where: Dimana peristiwa sejarah itu terjadi? Why: Mengapa hal itu dapat terjadi?, dan How: Bagaimana proses terjadinya? Waduh, sebegitu banyak yang harus diingat dan diketahui para pembaca, mulai nama orang, nama peristiwa, nama tempat, tanggal kejadian, analisa peristiwa, etc.

Selanjutnya, saya bertanya secara retoris kepada Ustadz Felix, apakah ia bermaksud menulis biografi Sultan Mehmed II, ataukah menuliskan prestasi terbesar Sultan Mehmed II bagi Islam dan Kaum Muslim? Pertanyaan itu dilatarbelakangi karena judul awal naskah Ustadz Felix adalah The Great Inspirator: Muhammad Al-Fatih. Jadi, sudah dapat ditebak, isinya banyak menguraikan sosok Sultan Mehmed II.

Ustadz Felix sendiri menerima usulan kongkret itu dengan antusias, ia berani merombak kembali content tulisannya dengan menyederhanakan bahasannya tentang Sultan Mehmed II, sekaligus memperkaya bahasan tentang prestasi terbesar Sultan Mehmed II dalam penaklukkan Konstantinopel, bahwa penaklukkan pada 29 Mei 1453 itu tidak berdiri sendiri. Namun, ada banyak faktor pendukung yang menyempurnakan pembuktian nubuwwah Rasul sekaligus bisyarahnya itu. Saking bersemangatnya, Ustadz Felix sampai mematok 29 Mei 2011 pukul 14:53 sebagai momen menyelesaikan naskah tulisannya.

Akhirnya, kita dapat membaca buku kedua Ustadz Felix setelah Beyond The Inspiration ini dengan renyah bak kacang garing, sekaligus mendapatkan ibrah dan inspirasi terpenting, bagaimana mengaktualisasikan sosok penakluk terbaik yang dijanjikan Nabi itu dalam konteks kekinian, karena MAF 1453 tak melulu berkisah tentang Sultan Mehmed II, namun juga mengetengahkan gimana cara kita meneladani prestasinya.

Nah, inilah, esensi dari membangun tubuh yang dinamis dalam konteks pembahasan isi tulisan yang sistemis. Buku MAF 1453 telah mewakili bagaimana sebuah tulisan gak sekadar menyajikan fakta, data dan berita, namun juga, inspiratif dan solutif. Ok, Bro and Sist, semoga kamu-kamu ngerti, maksud dari tulisan yang sistemis itu. Cag, ah! []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.