drise-online.com – Dalam setiap pelatihan kepenulisan, saya nyaris selalu mendapatkan pertanyaan serupa dari para peserta, khususnya mereka yang baru memasuki dunia kepenulisan. Mereka yang tak sungkan mengaku sebagai pemula itu, bertanya soal kreativitas menulis sehubungan dengan pencarian identitas kepenulisannya. Pertanyaan yang berulang ini berkutat pada masalah karakter kepenulisan bagi seorang pemula.
Saya kira, pertanyaan ini sungguh wajar bagi mereka yang serius menekuni dunia kreatif ini karena karakter kepenulisan merupakan kekhasan tersendiri bagi seorang penulis, sekaligus keistimewaannya yang membedakan dirinya dengan penulis lain.
Dalam memberikan jawaban sekaligus penjelasan kepada para pemula itu, saya sering mengutip apa yang pernah diuraikan oleh seorang trainer dan motivator bidang jurnalistik kaliber nasional, Paulus Wijayanto yang mengatakan bahwa karakter atau tipologi seorang penulis itu ada lima, yaitu: pengajar, pelapor, penjahit, perakit dan yang terakhir adalah seorang pengkaji.
Kelima karakter kepenulisan itu, tidak lantas lebih baik satu dibanding dengan yang lainnya karena masing-masing karakter memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri, sekaligus memiliki khalayak sasaran yang berbeda pula, alias di antara tipologi penulis ini memiliki para pembacanya masing-masing. Namun, kalau parameternya adalah performa penjualan di pasaran, hal itu tentu akan berbeda pembahasannya.
Secara ringkas, tipe penulis pengajar adalah style atau gaya kepenulisannya seperti seorang pengajar/pendidik yang mengajari peserta didiknya layaknya seorang guru kepada murid-muridnya atau seorang dosen kepada para mahasiswanya. Sedangkan pelapor adalah gaya kepenulisan seperti layaknya seorang wartawan atau reporter yang tengah memberikan reportase atau liputan di lokasi acara. Isinya penuh dengan informasi atau berita, berupa data ataupun fakta di lapangan.
Sedangkan tipe penulis penjahit ataupun perakit ada kemiripan dan kesesuaian dalam beberapa hal. Penulis penjahit memiliki karakter kepenulisan layaknya seorang penjahit yang menjahitkan pakaian untuk orang lain. Ia sekadar menjahitkan atau merekonstruksi tulisan dari tulisan-tulisan orang lain. Artinya bahan-bahan tulisannya, ia dapatkan dari penulis lain. Bahasa kerennya, ia mengadopsi beberapa tulisan menjadi sebuah tulisan baru.
Demikian pula dengan penulis perakit, ia pun merekonstruksi tulisannya dari bahan-bahan tulisan orang lain. Namun, penulis tipe perakit ini sedikit memiliki kreativitas lebih dibanding dengan tipe penulis penjahit, ia punya model atau pola sendiri dalam merekonstruksi tulisannya alias ia merakit sendiri. Bahan-bahan tulisan dari penulis lain, ia adopsi dan diadaftasinya dalam tulisan baru yang berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya.
Persamaan dan kesesuaian antara tipe penulis penjahit dan perakit ada dalam hal merekonstruksi tulisan. Penulis tipe ini memiliki keterampilan memadukan tulisan satu dengan tulisan lainnya menjadi tulisan baru, sekalipun tulisan-tulisan yang mereka himpun memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, mereka memiliki kepekaan dan ketelitian dalam menyeleksi bagian mana dalam tulisan orang lain yang dapat diadopsinya.
Perbedaan elementer di antara mereka hanya terletak dalam proses adaftasi tulisan orang lain, setelah mereka memilih dan memilah bagian mana yang akan diadopsinya, penulis perakit mengadaftasinya lagi dengan kekhasan yang ia miliki. Just it, tidak lebih, tidak pula kurang!
Oya, jujur ajaneh, berdasarkan fakta empirik di lapangan, banyak para pemula yang gak sabar menjalani proses, mereka lebih nyaman dengan jadi penulis penjahit ato juga perakit ini. Mereka menjahit tulisannya dari kreativitas penulis lain, bahkan tidak jarang asal comot ato terjebak dengan pemeo kopas alias copy-paste karena gakmo ribet nyusun struktur tulisan. Gawat, deh kalo begitu, dia bisa terjebak dengan pelanggaran kode etik kepenulisan, dia mengklaim tulisan orang lain sebagai karya kreatifnya. Kalogitu, mending kelaut aja, deh!
Berbeda halnya dengan tipologi penulis pengkaji, ia memiliki kekhasan sendiri dalam menyusun konstruksi tulisannya, ia sama sekali tidak mengajari, melapor, menjahit ataupun merakit tulisan orang lain dalam karya kreatifnya. Sekalipun ia menjadikan karya tulis orang lain sebagai maroji’ atau reference. Ia hanya mengambil intisari, alur atau arus utama dari karya orang lain tadi sebagai bentuk pengayaan dalam tulisannya.
Pertanyaannya sekarang, mungkinkah seorang pemula dapat menjadi seorang penulis pengkaji? Sungguh, saya berani menyatakan bahwa seorang pemula dalam dunia kepenulisan dapat menjadi seorang pengkaji sekaligus. Asalkan dia memiliki keterampilan mengolah tulisan dengan baik dan memiliki kekhasan dalam menganalisa. Saya tidak mengada-ada, saya berkawan akrab dengan seorang penulis kandidat doktor dalam bidang urban housing dari sebuah universitas ternama di tanah air.
Sepanjang pengetahuan saya tentangnya, bukunya yang terbit baru berjumlah tujuh! Tiga buku terbit di tanah air, sisanya diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di luar negeri. Semua bukunya menembus angka penjualan best seller. Bahkan, di negeri jiran, bukunya masuk kategori mega best seller, terjual lebih dari 70.000 eksemplar kurang dari satu tahun, sekaligus menjadi sebuah fenomena baru di sana. Luar biasa!
Keterampilannya dalam mengolah tulisan dan kekhasannya dalam menganalisa menjadikan dirinya sebagai seorang pengkaji, sekalipun buku-bukunya masih terhitung dengan jari. Namun, keterampilannya dalam bidang quranic archeology dengan memadukan analisa sinkronik-diakronik dalam buku-bukunya, menjadikan dirinya berbeda dibandingkan dengan penulis pada umumnya.
Nah, sekarang, saya mo nanya kepada D’Riser semua-mua, penulis tipe manakah kamu?[]
di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40