AWAS SIHIR PENGHIBUR

Majalahdrise.com – ajang pencarian bakat di televisi kian eksis. Telah melahirkan alumnialumni ngetop. Seperti Indonesian Idol, X-Factor, Indonesia Mencari Bakat, Indonesia Got Talent, dan Dangdut Academy. Setiap musim pencarian bakat dibuka, nggak tanggung-tanggung peminatnya. Ribuan, bahkan puluhan ribu. Audisi diadakan di kota-kota besar di Indonesia. Dan setiap audisi, antreannya mengular.

Kebanyakan, tentu kaum muda. Mereka mimpi terkenal dengan cara instan. Seperti Dangdut Academy, yang daftar pada musim ketiga tahun ini mencapai puluhan ribu. “Daftar peserta jika biasanya hanya tiga ribuan, ini sudah puluhan ribu. Apalagi pendaftaran dibagibagi juga, ada yang lewat online juga. Mudah-mudahan kami sebagai juri bisa power full, lebih high class lagi,” kata salah satu juri Dangdut Academy, Inul Daratista. (liputan6.com, 22/10/15). Saking suksesnya, Dangdut Academy bahkan akan dibawa ke level Asia. Jadi pesertanya datang dari seluruh negara di Asia. Kemasannya akan makin spektakuler. Duh!

Sihir Hiburan

Kamu tahu nggak, dari mana asal muasal ajang pencarian bakat kayak gitu? Nggak salah lagi, dari Barat sono. Yup, negeri kita ini memang follower sejati. Benerbener lemah dari sisi kreativitas dan inovasi. Makanya, bisanya cuma ngekor. Apa yang lagi ngetop di Barat, langsung deh diadopsi tanpa malu-malu. Contohnya Indonesian Idol yang menyontek American Idol.

Ternyata, American Idol ini juga nyontek Pop Idol yang awalnya adalah acara kompetisi musik asal Inggris yang dibuat oleh Simon Fuller. Disiarkan pertama 2001 di ITV, tujuannya mencari seorang penyanyi pop dimana bagus atau tidaknya ditentukan oleh jumlah suara dukungan dari para penonton. Acara ini menjadi acara yang paling top dalam format TV dengan munculnya berbagai adaptasinya seperti “American Idol”, “Latin American Idol”, “Indian Idol” dan beberapa internasional “Idol” lainnya. Fenomena ajang pencarian bakat pastinya sangat menyedot perhatian masyarakat. Energi mereka habis untuk mengarahkan pandangan ke sana. Apalagi kalo punya jagoan-jagoan yang lagi berlaga, pasti nggak mau ketinggalan berita.

Tentu saja kondisi ini tanpa sadar telah membenamkan pola pikir buruk di benak remaja. Ajang seperti ini telah mengubah orientasi hidup generasi muda. Para kontestan akhirnya beralih dari cita citanya semula, puas menjadi juara penghibur. Nggak lagi ngejar pelajaran sekolah atau kuliahan. Wong udah tenar, dikejar uang, buat apa sekolah? Sementara bagi kawula muda yang nggak bisa jadi kontestan, jadi penonton pun puas. Yang terbenakkan hanya hiburanhiburan yang menyenangkan. Mereka diarahkan jadi generasi-generasi pemuja kesenangan. Mengagumi panggung hiburan. Mereka terjebak pada aktivitas bersenangsenang.

Nggak jauh-jauh dari dunia hiburan seperti musik, film, artis dan tetek bengeknya. Generasi muda kayak gini kagak ngerti persoalan-persoalan serius bangsa. Nggak peka dan peduli dengan fakta-fakta di sekitarnya yang jauh dari kondisi ideal. Remaja nggak biasa mikir serius, karena otaknya udah diarahkan pada kesenangan. Have fun. Itu aja. Ironisnya, itu juga mayoritas terjadi pada remaja muslim. Na’uzubillahi minzalik.

Remaja, sadar dan bangkitlah!

Tampaknya, Barat emang berhasil mengalihkan umat Islam umumnya dan remaja-remaja muslim khususnya agar mengekor gaya hidup Barat. Salah satunya, yakni memuja dunia hiburan. Maka itu, Barat menciptakan permainan-permainan yang terorganisir atau lahwun munadhamun. Permainan-permainan itu di-setting demikian rapi dan detail untuk membuat umat terlena. Panggung hiburan menjelma menjadi industri besar yang menggerakkan roda perekonomian Barat. Negeri-negeri muslim pun dipaksa untuk mengimpornya. Tak ayal, muatan ideologi dan gaya hidup Barat pun diadopsi besar-besaran di dunia Islam.

Tanpa filter. Remaja yang jauh dari nilai-nilai agama, ikut terlena. Buktinya, nggak sedikit ajang-ajang tersebut juga diikuti muslimahmuslimah berhijab. Udah nutup aurat, tapi kok sengaja masuk kubangan industri hiburan. Sedikit demi sedikit karakter remaja muslim pun luntur oleh sihir permainan dan hiburan. Lantas, mau jadi apa generasi mendatang jika saat ini hanya fokus pada hiburan? Remaja usia belasan tahun yang saat ini terinveksi virus hiburan, adalah caloncalon generasi bangsa untuk 10, 20 dan 30 tahun mendatang. Apa yang bisa diharapkan jika saat ini tidak membekali diri dengan keilmuan, keahlian dan agama yang kuat?

Padahal, kondisi masyarakat saat ini sudah benar-benar rusak. Makin nggak beradab gara-gara menerapkan peradaban Barat. Moral merosot, kejahatan kian kejam, nyawa kian tak berharga, pornografi merajalela, kemaksiatan makin meningkat, dst. Semua itu harus segera diatasi. Dihilangkan. Diganti dengan masyarakat yang beradab. Masyarakat yang berpedoman pada Islam, sehingga hidup penuh kebaikan. Itu jadi tugas kalian juga, para pemuda calon pemimpin masa depan.

Jadi, remaja mustinya menjadi pribadi-pribadi yang sangat serius memikirkan masa depan. Menyiapkan segala potensi diri untuk menjadi calon pemimpin. Calon pengubah keadaan (agent of change). Mengubah peradaban Barat yang rusak jadi peradaban Islam. So, jangan terlena dan tenggelam dalam dunia hiburan yang membius. Sadar dan segera bangkitlah!(*)

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 52

Cermin Jati Diri?

Majalahdrise.com – Cinta pada pandangan pertama melihat  penampilan JKT48 di teater, Uwo –sapaan  Genderuwota– rajin mencari tahu tentang  JKT48 lewat internet. Bak dimabuk cinta dan  ingin ketemu orang yang dicintainya, ia pun  tak abses nonton pertunjukan teater kedua,  ketiga, keempat, dan seterusnya. Walaupun  untuk itu ia harus merogoh kocek tidak  sedikit. Ketemu idola memang tidak gratis  sodara-sodara! Bukan hanya buat beli tiket nontonnya,  juga pernak-pernik JKT48 yang dijual di  depan area teater yang sangat “menggoda”  dompet.

Uwo bahkan menulis buku berjudul  Dunia Delusi, berisi kisah-kisah penggemar  inspiratif dan unik dari anggota komunitas.  Dengan royalti yang didapat dari buku itu,  Uwo bercita-cita dapat membangun rumah  singgah di Jakarta untuk penggemar-penggemar dari daerah yang perlu  penginapan saat menonton teater JKT48.  Wow!

Cermin Jati Diri?

Kenapa ya ada orang mengidolakan artis  sampai segitunya?  Menurut para psikolog  sih, kegiatan menggemari idola bisa  dikatakan upaya untuk mencari jati diri.  Tokoh yang diidolakan sebetulnya  merupakan ekspresi keinginan diri, salah  satunya obsesi dari sisi fisik misalnya cantik,  ganteng, atau keren.Tapi masak iya, jati diri  cowok ditemukan pada idolanya yang  notabene cewek? Nggak nyambung kan.  Ada juga yang bilang, mencintai idola itu  karena sedang mencari panutan. Terutama  itu buat remaja. Tapi kalo buat yang udah  agak dewasa, mencintai idola itu merupakan  penyalur hiburan atau rekreasi. Hmm…kalo buat panutan, mustinya  idola itu ya yang berprestasilah, sukses di  akademik, sukses di karier atau yang soleh-solehah, baik luar dalam perilaku dan  pemikirannya.

Jadi, kayaknya lebih pas kalo  mengidolakan itu hanya sebatas hiburan.  Pelarian dari kesumpekan hidup barangkali.  Juga, demi kepuasan batin karena bertemu  orang-orang yang kebetulan memiliki hidup  “sempurna”. Cantik/tampan, tajir dan ngetop.  Dan mereka bermimpi, idola itu adalah  representasi dirinya. Kasihan! Jangan Ditiru Yang jelas, perlu diwaspadai jika mulai  muncul perilaku berlebihan pada proses  idolasisasi ini (halah). Misalnya sampai  mengutamakan nonton idola dibanding  aktivitas positif lainnya. Menghabiskan waktu  terlalu lama untuk menonton idolanya,  hingga mengganggu tugas wajibnya.  Menghabiskan banyak uang demi mengoleksi  pernak-pernik idolanya.  Kalo remaja muslim sampai seperti itu,  tandanya pasti dia melalaikan kewajibannya  sebagai hamba Allah SWT. Iyalah, jangan-jangan doi lebih banyak nyambangi teater  dibanding masjid. Lebih rutin main twitter  dibanding tilawah Quran. Lebih khusyu  nonton aksi idolanya dibanding menjalankan  ibadahnya.

Bahaya lainnya, jika remaja tersebut  mulai bertransformasi dan mengadaptasi  seluruh karakter dan sifat idola, tanpa  berfikir halal-haramnya. Hmm…ini yang  bahaya. Lah, apa kata dunia kalo para fans  cowok itu bertransformasi bak idolanya yang  notabene cewek? Gawat![]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

IDOL GRUP CANDU BARU COWOK

Majalahdrise.com – Idol group belakangan menjadi fenomena di  Indonesia, terutama dengan kesuksesan luar  biasa JKT48. Mereka membawa gebrakan baru  dalam industri musik yang menciptakan ikatan  batin sedemikian kuat dengan para fans.  Hebohnya lagi, fans berat kelompok cewek-cewek centil itu adalah kaum cowok sodara-sodara! Wah, kok bisa?

Jagat twitter awal Agustus kemarin heboh  dengan trending topik  #terimakasihAndela. Ada apa? Ternyata  member JKT48 Andela Yuwono  mengumumkan mundur per 10 Agustus.  Alasannya kesehatan, jadi doi nggak bisa  maksimal saat dance. Keputusan ini sontak  bikin para penggemar meratap. Fans JKT48  yang seabrek pun langsung rame-rame  ngetwit kasih dukungan buat Andela. JKT48  emang paling bisa bikin heboh.

Fans Fanatik

Kamu tahu nggak, idol grup berasal dari  budaya Jepang. Konsepnya begini: ada  sebuah manajemen yang mengumpulkan  remaja perempuan (belakangan juga ada idol  grup laki-laki) berpenampilan menarik  dengan rentang usia tertentu dan dibentuk  sebuah grup. Umumnya, remaja yang direkrut berusia  14-16, memiliki penampilan menarik dan  punya talenta. Jika sudah melewati usia  tertentu yang ditetapkan sebagai batas  dalam suatu idol group, maka anggota wajib  untuk meninggalkannya.  Nama grup ini dijadikan sebuah brand,  bukan sekadar girl band. Artinya, mereka

memang diekspose sebagai sebuah  komoditi untuk menjual produk-produknya, “mengikat” penggemar dan  menciptakan semacam “kecanduan”. Manajemen akan menyediakan  panggung khusus untuk grup ini,  dimana hampir tiap hari mereka unjuk  kebolehan bernyanyi sambil menari di  sana dengan penonton para fans  setianya. Hanya di sanalah fans bisa  berakrab ria dengan idolanya.  Istilahnya “fans service” dengan konsep “idola  yang dapat Anda temui setiap hari.” Bisa  jabat tangan, sharing hingga foto bersama  hanya di sana.

Makanya, member idol group  ini nggak boleh sembarangan foto dengan  penggemar di jalanan. Secara rutin pula  mereka akan diekspose melalui media  massa, baik sebagai penyanyi, artis,  pembawa acara atau model di majalah dan  iklan.  Nah, di Jepang ada idol gorup kesohor  AKB48 yang membuat sister-grup di Jakarta  bernama JKT48 itu. Para cewek yang gabung  di idol group ini rutin manggung di “Jakarta  JKT 48 Theater”. Di sanalah para fans  terpuaskan berakrab ria dengan para  member idol group yang mereka kagumi. Hasilnya luar biasa.

Gelombang para  fans fanatik pun terbentuk. Uniknya, fans  berat JKT48 ini adalah para cowok. Ya,  mereka terpesona dengan kecantikan dan  kecentilan para member JKT48 tentunya.  Nggak beda dengan cewek-cewek yang  histeris mengidolakan Coboy Junior misalnya  (sekarang CJR) atau One Direction. Cowok-cowok ini juga histeris kalo ngeliat  penampilan JKT48. Emang rada aneh ya,  cowok-cowok suka sama penampilan cewek-cewek centil. Rasanya gimanaaa…gitu. Kok  ke-macho-an cowok jadi hilang hehe…

Tapi itulah faktanya. Seperti fans yang  menyebut diri Genderuwota. Saking cintanya  pada JKT48, melalui Twitter @Genderuwota  dan blog Genderuwota48, mereka sangat  aktif membagikan informasi dan pengalaman  yang berhubungan dengan kelompok idola  tersebut.  Gilanya, followernya mencapai 32.500-an. Tiap hari kicauan diproduksi demi  berinteraksi dengan pengikut setianya.

Uwo,  begitu Genderuwota biasa disapa, pun mulai  menerangkan bagaimana awalnya  menggemari JKT48. Pada awal 2012, Uwo  termasuk dalam segelintir orang yang  menyaksikan penampilan perdana JKT48 di  teater sementara yang saat itu digelar di  Gedung Nyi Ageng Serang, Pasar Festival,  Kuningan, Jakarta. “Dulu tiket teater dikasih-kasih gratis, sekarang berebut dapetin tiket,”  ujar pemuda berusia 25 tahun ini.

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

Broken Home

MajalahDrise.com – “Namaku Azka, dan ini adalah cerita tentang seorang anak yang mengalami broken home. Ibu dan ayah bertemu, lalu jatuh cinta dan memutuskan untuk punya seorang anak. Aku lahir 4 Juni 2006 dan mereka menamaiku Azka. Semua berjalan baik-baik saja sampai aku berusia 6 tahun. Kita punya keluarga yang sangat bahagia.

Ibu dan ayah mulai bertengkar hebat mengenai banyak hal. Dan mereka akhirnya memutuskan untuk bercerai. Mereka bilang aku tak perlu khawatir dan tak perlu memilih tinggal dengan siapa. Aku masih tinggal di rumah yang sama dan ayah ternyata sosok yang sangat menyenangkan. Jadi aku pilih tinggal dengannya.

Ibuku tinggal sangat dekat dengan rumahku dan selalu mengunjungiku hampir setiap hari. Mereka tak pernah bertengkar lagi dan kita masih pergi ke mal dan ke luar negeri bersama. Banyak orang yang bertanya padaku bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang mengalami broken home. Tapi faktanya, tidak ada yang broken. Statusnya saja yang bukan suami-istri lagi, namun mereka tetaplah orangtuaku. Aku menikmati hubungan ini lebih dari sebelumnya karena mereka tak pernah bertengkar lagi. Ketika orang-orang bertanya apakah aku ingin mereka menikah lagi, aku bilang, ‘TIDAK’. Aku cuma ingin mereka bahagia. Bukan broken home namanya kalau kamu masih menerima cinta yang sama dari kedua orangtuamu. Aku cinta kamu ibu. Aku cinta kamu ayah. Aku bahagia. Terima kasih sudah menjadi orangtua terbaik yang pernah ada.”

Begitu curhatan Azka Nikola Corbuzier dalam video You Tube yang belum lama ini jadi trending topic sampai di BBC London itu. Sampai tulisan ini dibuat, udah lebih 500 ribu netizen yang nonton gambar-gambar lugu goresan Azka yang bikin nangis itu.

Azka mungkin beruntung, ortu cerai tapi masih merasa bahagia secara kasat mata. Walaupun, yakin deh, dia nulis curhatan kayak gitu, juga karena dorongan perasaan galaunya sebagai pemilik label “anak broken home”. Capek dianggap tak bahagia.

Tapi, di luar sana, masih banyak anak-anak korban broken home yang tidak seberuntung Azka. Anak yang tidak bahagia. Tahu kan, hidup dengan satu ortu, rasanya pasti pincang. Kurang kasih sayang dan perhatian, juga kesepian. Gimana nggak, setelah terjadi perceraian, pasti ortu tunggal jadi sibuk nyari nafkah karena harus berperan ganda: jadi ayah sekaligus ibu. Duh!

Bukan Cita-cita

DRiser, emang dunia kadang nggak seadil dan seideal yang kita mau. Ada kalanya takdir berkata lain. Nggak ada satupun anak di dunia ini yang bercita-cita jadi korban broken home. Karena, jadi anak broken home itu nggak enak.

Ada rasa kehilangan sebelan orangtua, sedih, kecewa, sepi, dan kurang perhatian. Belum lagi pandangan orang sekitar yang selalu memandang sebelah mata, mengejek dan menggunjingkan. Akibatnya, nggak sedikit anak-anak korban broken home melarikan diri ke hal-hal negatif. Merokok, narkoba, miras, dugem, gaul dan seks bebas.

Mereka lalu tumbuh jadi anak-anak bermasalah. Kepribadiannya labil. Jadi egois, ugal-ugalan, suka cari perhatian, kasar, tidak peduli dengan sekitarnya, dan tidak mendengar nasihat orang lain. Sebaliknya, ada juga yang menjadi sangat pendiam, tertutup, menarik diri dari pergaulan dan bahkan sampai bunuh diri. Miris memang. Tapi, begitulah skenario kehidupan yang terpaksa mereka jalani. Sebab jika bisa memilih, pasti nggak mau jadi anak broken home. Betul?

Lebih Dewasa

Broken home pastinya bukan kondisi ideal bagi seorang anak. Namun, jika kondisi itu menimpa, jangan sampai jadi alasan untuk terjerembab dalam lembah nista. Apalagi kalo kita adalah muslim. Nggak ada alasan saat ortu cerai terus kita hancur.

Seharusnya, anak-anak muslim tidak terlarut dalam kesedihan terus menerus. Tetap ada pelajaran terbaik dalam proses hidup yang digariskan Allah SWT melalui perceraian orang tua. Misalnya, lebih mamahami konsep ikhlas dalam penerimaan ketetapan-Nya. Yup, kita juga musti percaya, bahwa orangtua pun nggak ada yang bercita-cita untuk bercerai. Jangan dendam dan benci pada mereka.

So, terimalah kenyataan. Mungkin itu jalan terbaik. Ada rencana indah yang hendak diberikan Allah SWT melalui jalan ini. Misal lagi, anak-anak broken home biasanya menjadi anak yang memiliki pola pikir lebih dewasa. Pada akhirnya lebih mengerti tentang makna kehidupan. Seperti Azka yang tampaknya telah bisa menerima kenyataan di usianya yang baru 9 tahun.

Kehilangan salah satu orangtua, juga mengajarkan diri menjadi pribadi lebih mandiri. Tidak lagi serba tergantung pada sosok orangtua. Menjadi anak yang lebih sabar dan ulet, tidak suka merepotkan orangtua yang sudah begitu repot. Tidak menambahi beban orangtua yang sudah berat beban di pundaknya.

Broken home seharusnya menjadi penyemangat dalam kesungguhan untuk mewujudkan mimpi. Menanamkan optimisme bahwa siapapun berhak bahagia dan sukses, asal dengan sungguh-sungguh. Broken home semestinya menjadi pelecut untuk menata masa depan dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Bukan berarti membanggakan diri sebagai anak broken home, tapi membuktikan bahwa pribadi muslim itu tetap tangguh dalam kondisi apapun. Sembari membina diri untuk berbenah menjadi manusia berkualitas, agar kelak menjadi pribadi terbaik, menemukan jodoh terbaik dan mewujudkan rumah tangga yang harmonis.

Iya dong, jadi korban broken home kelak jangan sampai mengulang kisah kegagalan orangtua dalam rumah tangga. Itu pelajaran berharganya. Jadi, tetaplah tersenyum bahagia. Ini bukan berarti kita mendukung supaya para orangtua pada enjoy bercerai ya, karena toh setelah bercerai anak-anak bisa bahagia seperti Azka. Titik tekannya adalah: Islam memang membolehkan perceraian meski itu  dibenci Allah. Dan jika itu menimpa keluarga kita, terimalah. Berbaiksangkalah.

Bersyukur

Semua pasti ingin memiliki keluarga yang lengkap, rukun, dan harmonis. Memiliki orangtua selalu perhatian, dan penuh kasih sayang. Makanya, terakhir nih, pesan buat kamu-kamu yang masih punya ortu utuh. Jangan kalian sia-siakan kasih sayang dan perhatian mereka. Bersyukurlah. Nasib kalian jauh lebih baik dibanding anak-anak korban broken home. Yuk peluk ayah bunda dan katakan, “Aku sayang kalian berdua..!” *ambiltissue. []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 48