Si Cantik dan Kegenitan Media

Majalahdrise.com – “Ada Gadis Cantik Jadi Cleaning Service” Begitu judul berita Tribun Medan (2/2/15). Ditulis dalam berita, di antara kesibukan di Stasiun Besar Kereta Api Medan, Jl Stasiun, Medan, Sumut, Kamis (2/2/15), ada pemandangan menarik. Seorang perempuan cantik wara-wiri membersihkan area stasiun. Ya, dia memang petugas cleaning service (CS). Namanya Duma Mariana Simanjuntak (19). Telah 18 bulan ia bekerja sebagai CS di stasiun tersebut. Duma bekerja untuk membiayai kuliah. Ia saat ini tercatat sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Institut Bina Bisnis Indonesia (IBBI) Medan.

Heran, akhir-akhir ini media –tepatnya wartawan yang mungkin juga kebanyakan laki-laki– begitu centil menyajikan berita tentang si “cantik” yang menekuni pekerjaan “tidak cantik”. Tukang getuk cantik jadi trending topik. Tukang jamu cantik menghiasi halaman koran. Kali ini cleaning service cantik pun “digoda” sang kuli tinta (Padahal tepatnya, dia itu mahasiswi yang nyambi jadi cleaning service).

Para cewek cantik yang disorot media itu, memang memiliki profesi yang mungkin dalam pandangan masyarakat kebanyakan –tepatnya dalam sudut mata genit si wartawan laki-laki itu– tidak lumrah dan tidak layak dilakukan oleh si cantik.

Seolah-olah ingin mengatakan, si cantik yang kebetulan bernasib sebagai masyarakat marginal ini tidak pantas bekerja kasar. Kasihan “cuma” jadi petugas kebersihan. Bergaji kecil. Tidak bergengsi. Tidak pantas miskin. Kecantikan itu seharusnya bisa mengantarkannya pada profesi yang lebih ‘mulia.’ Lebih mentereng. Lebih nyaman kerjanya. Lebih gede gajinya.

Pandangan ini berarti juga berlaku sebaliknya, seolah-olah ingin mengatakan bahwa pekerjaan yang dianggap remeh-temeh seperti menjadi tukang jamu, jual getuk atau cleaning service itu mestinya cuma dijalani oleh mereka-mereka yang bermuka standar atau bahkan (maaf) jelek. Karena, pekerjaan kasar semacam itu nggak butuh modal kecantikan.

Maka itu, akhirnya si tukang getuk pun “diangkat” derajatnya, diorbitkan jadi artis. Penyanyi dangdut. Dandannya jadi modis. Tak lagi ndeso. Lah iya, sayang toh cantik-cantik kok cuma jadi tukang getuk. Padahal dengan kecantikannya dia bisa ngetop, banyak fans dan banyak duit. Begitu logikanya.

Jangan-jangan nanti si cleaning service juga akan di-‘naik-daunkan’. Sekali diberitakan dan rame di media, siapa tahu tiba-tiba ada produser nawari main film. Atau ngajak rekaman. Soalnya, para kapitalis di dunia hiburan itu sangat suka memanfaatkan orang mendadak ngetop kayak gitu. Biar dagangannya laris. Khas kapitalis!

 

Ukuran Relatif

Mencari berita yang unik dan eksklusif memang kerjaan wartawan. Nah, orang cantik tapi miskin itu, mungkin dikategorikan unik dalam kacamata mereka. Seakan ada kontradiksi dengan kecantikan dan kemolekan tubuhnya, dengan pekerjaan kasar yang dia lakoni.

Walaupun, sejatinya ukuran cantik sendiri sangat relatif. Meskipun ada ukuran standar yang menjadi opini umum bahwa cantik itu: langsing, putih, kulit mulus, rambut legam, hidung mancung, eye cahcthing dan serba proporsional.Tapi, semua sepakat, cantik itu relatif. Tidak ada definisi baku mengenai kecantikan.

Yang menjadi pertanyaan, jika cantik tapi miskin dianggap ironi, apakah akan berlaku sebaliknya? Bagaimana jika tidak cantik, tapi nasibnya baik? ‘Jelek’ tapi kaya atau ngetop? Apakah wartawan berani membuat berita ‘jelek’ yang dipadankan dengan ‘profesi mulia nan sukses’? Misal, ada seorang perempuan yang (maaf) ‘jelek dalam standar ukuran kebanyakan’ tapi sukses menjadi pengusaha atau miliarder? Berani nggak melabelkan embel-embel ‘jelek’?

Jangan Dikotomi

Jangan-jangan wartawan itu waktu liputan sengaja nyari yang cantik-cantik saja, karena ketemu yang cantik tapi “nyeleneh” sudah bisa jadi berita. Tapi, bukankah profesi yang dijalani si cantik itu sungguh beragam? Memang sih, biasanya kalau cantik itu pekerjaannya berhubungan dengan modal kecantikannya.

Logikanya: kalau sales promotion girl cantik, itu biasa. Kalau celaning service cantik, itu luar biasa. Ya iyalah, perekrutan sales promotion girl itu memang sudah memakai saringan: hanya menerima yang cantik-cantik. Sedangkan rekrutmen cleaning service itu kan tidak mencantumkan: hanya menerima yang “jelek” atau menolak yang cantik.

Jadi, jangan mendikotomi perempuan dengan cantik atau jelek. Adillah. Tak usah kegenitan. Jutaan informasi penting yang mencerdaskan lebih inspiratif dibanding sekadar menyorot fisik perempuan.Pekerjaan wartawan itu banyak!

Eksploitasi Fisik

Di sinilah buruknya sistem sekuler-kapitalistik. Ukuran fisik tetap jadi parameter nomor satu untuk menilai seseorang. Eksploitatif! Ukuran fisik dianggap sangat penting dalam menentukan masa depan: cerah atau suram.

Perempuan dengan anugerah fisik cantik, biasanya akan bernasib baik. Mendapat pekerjaan yang baik, kedudukan terhormat, harta berlimpah, dan suami yang ganteng serta kaya raya. Dunia begitu ramah pada si cantik, sehingga mereka umumnya akan mendapatkan kemudahan-kemudahan itu.

Sebaliknya, nasib yang tidak cantik biasanya suram. Kalau ingin cemerlang, harus berusaha lebih keras lagi dibanding si cantik. Ya, kalau si cantik cukup modal tampang, si ‘biasa’ (untuk tidak menyebut jelek) ini harus menambah modal berupa: kepintaran, kecerdikan, dan kerja keras lainnya. Karena, kalau cantik tapi tidak pintar, masih bisalah hidup enak. Tapi kalau sudah ‘standar’ juga tidak pintar, kiamatlah masa depannya. Begitukah?

Islam Antidiskriminasi

Tentu jika Islam tidak mengenal dikotomi cantik dan jelek. Yang membedakan keduanya hanyalah derajat ketakwaan-Nya. Allah SWT tidak akan menghisab hamba-Nya dengan pertanyaan: kenapa kamu tidak cantik? Tapi, yang penting anugerah fisik kita itu, digunakan untuk apa. Tidak akan mendapat keberkahan hidup dan kebahagiaan akhirat jika fisik cantik justru dimanfaatkan untuk maksiat. Walau dengan motif bekerja atau apapun. Cantik tapi pamer aurat untuk menarik minat pembeli, itu dosa. Sebaliknya, jika berwajah biasa tapi jauh dari maksiat, itu lebih mulia.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47

 

 

 

 

 

Buku Vulgar Belajar Pacaran

majalahdrise.com – Berkedok edukasi seksual remaja, buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” ramai dikecam. Gimana nggak, banyak ajaran vulgar yang mengarahkan pada seks di luar nikah di sana. Hadeuh, kok bisa kecolongan ya?

D’Riser, sebaiknya hati-hati kalau baca buku. Jangan asal pilih, jangan asal telan mentah-mentah dan menjadikannya sebagai referensi. Nggak sedikit isi buku yang menyesatkan pembacanya kalo nggak punya filter.

Contohnya buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto. Buku berkedok psikologi remaja itu memuat bab tentang pedekate, pesaing, temen, hobi, orang tua, seks, patah hati dan mantan pacar. Dari judulnya aja udah kebayang gimana isinya: ngajak maksiat!

Buktinya, banyak banget kalimat vulgar dan cabul. Itu bisa terlihat di halaman 21, 60, 63, dan 66. Ada kalimat yang ditulis Toge seperti ini, “Aku pernah ngeseks sama dia.” Lalu, halaman 60 memuat subjudul pacar ngajak ML (making love). Toge menuliskan, “Sebetulnya wajar, kok, kalau pacar ngajak kamu ML. Wajar juga kalau kamu ngajak pacarmu ML. Itu hal naluriah alamiah.” (tempo.co, 7/2/15). Astaghfirullah, benar-benar menyesatkan!

 

Ada Ideologi Di Balik Buku

Buku, sama dengan produk lain yang juga nggak bebas nilai, seperti komik, musik dan film. Ada filosofi atau pemahaman tertentu yang ditanamkan di sana. Pemahaman seperti apa, ya tergantung ideologi penulisnya.

Semestinya, jika dia penulis muslim, maka bukunya berisi nilai-nilai Islam. Sebab jelas, nilai-nilai yang tidak islami haram untuk ditulis. Bertolak belakang dengan penulis nonmuslim, atau muslim tapi muslim KTP yang nggak mau ngaji. Jadinya ya nggak ngerti tsaqofah Islam.

Terlebih lagi kalo yang nulis itu pengemban ideologi kapitalisme-sekuler. Udah pasti, isi bukunya bakalan mengarahkan pembacanya untuk menyetujui gaya hidup sekuler. Contohnya buku yang menggeber tips-tips pacaran tadi. Padahal jelas-jelas pacaran tidak ada dalam khazanah dunia Islam.

Makanya, kamu-kamu musti punya filter untuk menyaring dan memilah buku mana yang baik, berkualitas dan tidak menyesatkan. Jangan sampai tersesat dan terbawa arus gaya hidup sekuler karena menelan bulat-bulat isi buku tersebut. Ingatlah, ada pepatah yang cukup masyur yang konon dikeluarkan oleh ulama, bahwa “barangsiapa membaca buku tanpa guru maka gurunya adalah setan.”

Yup, bener banget! Membaca buku sendirian itu bisa menyesatkan. Masih ingat kasus seorang remaja di Jakarta, Rangga (14) yang bunuh diri? Konon ia terinspirasi dari komik-komik Jepang yang di antaranya mengandung pemahaman bahwa “mati itu akan membawa pada kedamaian.” Phiuuh, bahaya banget, kan!

Lantas, apakah kita musti berhenti membaca buku karena takut disesatkan setan? Well, segitunya kalee…. Di antara jutaan buku yang beredar, karya-karya buku yang bagus dan bermutu, sarat ilmu dan manfaat juga banyak kok. Bahkan jauh lebih banyak yang mengajak pada kebaikan dibanding pada kemaksiatan. Kuncinya: selektif pilih bacaan.

 

Filter Diri

Buku adalah jendela ilmu. Banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita dapatkan dari membaca buku. Sama banyaknya dengan paham-paham sesat yang bisa kita dapat saat membaca buku. Makanya, seorang muslim musti punya filter yang kokoh untuk menangkal paham-paham sesat yang meresap dan menjalar lewat berbagai media tersebut: buku, komik, majalah, musik dan film. Jadi, harus punya pemahaman Islam yang mantap supaya ketika membaca media tersebut akal mampu menimbang benar dan salahnya.

Contohnya, ketika mencermati buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” tadi. Bagi yang nggak paham Islam, buku ini bisa menjadi referensi penting untuk melanggengkan aktivitas pacaran. Sebaliknya bagi remaja muslim yang paham Islam, udah pasti nggak bakal tertarik sama sekali buat membeli atau membaca buku itu. Judulnya aja udah nggak sesuai dengan ajaran Islam.

Pasalnya, Islam mengharamkan pacaran. Sudah tahu kan, pacaran itu definisinya khas, yakni sepasang muda-mudi yang komitmen menjalin hubungan intim dengan didominasi aktivitas berdua-duaan (kholwat). Nah, ini kan mengajarkan maksiat. Makanya, buku itu memang pantas untuk dikecam.

 

Nasihat Untuk Penulis

Penulis buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran,” Toge Aprilianto akhirnya minta maaf telah membuat keresahan dengan buku karyanya. Ia mengaku khilaf dengan buku tersebut. Aneh ya, masa khilaf kok dalam bentuk sebuah buku?

Menulis buku itu butuh keseriusan dan kesungguhan. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran.Rangkaian kalimat demi kalimat dibuat dengan penuh perhatian. Mustahil jika menulis buku itu adalah sebuah kelalaian. Ada pertanggungjawaban dunia akhirat dalam setiap kata-katanya. Makanya, jangan asal menulis buku. Termasuk kamu-kamu, D’Riser yang hobi atau bercita-cita jadi penulis. Menulislah yang positif, membangun dan inspiratif. Masih banyak ide bagus untuk dituangkan dalam tulisan, dibanding mengajari anak-anak untuk pacaran. Apalagi jika menulis buku berisi ajakan kebaikan, menjelaskan tentang pemahaman Islam, inshaa Allah akan menjadi ladang pahala yang tak ada putusnya.

Nah, untuk menulis buku inipun dibutuhkan ilmu yang mumpuni, pemahaman yang mendetail dan jika perlu dalil-dalil yang kuat. Karya seperti ini akan bernilai manfaat bagi umat. So, jangan asal nulis buku. Apalagi jika motifnya semata-mata untuk mencari materi: biar laris, best seller dan royaltipun mengalir deras ke rekening.

Sungguh rendah jika menulis buku hanya bermotif uang. Apalagi jika menghalalkan segala cara dengan sengaja membuat buku yang kontroversial supaya laris. Ingatlah, apapun yang kita tulis akan dimintai pertanggungjawaban. Catet! []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45

 

Darurat Moral Remaja

MajalahDrise.com – Ada berita super miris (lagi):NA (13), seorang siswi kelas VIII SMP warga Jalan Pangeran Antasari Kelurahan 14 Ilir Kecamatan IT I, Palembang, diperkosa oleh 12 pelajar yang merupakan adik kelasnya sendiri. Kejadian di kawasan 15 Ilir itu berlangsung di rumah kosong, pukul 11.00, saat sekolah sedang clasmeeting (sriwijawapost,10/1/15).

Itu hanya satu contoh kasus tragedi remaja. Jauh sebelum peristiwa itu, ada juga yang bikin geleng-geleng kepala: seorang pelajar putri berseragam abu-abu putih, melahirkan bayi di sebuah kebun di pinggir jalan di Kelurahan Cimone Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang. Siswi –yang tentu belum bersuami itu– melahirkan bayi laki-laki (detik.com, 26/11/14).

Dua berita itu aja udah menggambarkan betapa bobroknya profil (sebagian) remaja kita. Remaja putri kalau tidak dizinahi pacar atau lelaki mana saja yang ia suka, eh…dimangsa pemerkosa.Risiko selanjutnya: hamil. Solusi yang dipilih: mengaborsi janin atau membuang bayi setelah dilahirkan. Na’uzubillahi minzalik.

Sementara itu, profil remaja putra berarti juga nggak kalah bobroknya: suka menzinahi gadis-gadis dan atau memperkosa. Remaja putra ini rata-rata juga dekat dengan rokok, miras, narkoba, tawuran dan kriminalitas. Duh, mau jadi apa kalo udah besar ya?

 

URUSAN SIAPA?

Moral remaja sedang dalam kemerosotan sangat parah. Anehnya, nggak ada upaya apapun dari pemerintah sebagai pelindung warga negaranya buat mengatasi ini. Duh, ke mana pemimpin negara ini? Empati pemimpin nggak ada sama sekali terhadap korban-korban tragedi moral yang berjatuhan. Yah, paling tidak ngasih komentar, kek! Atau, jangan-jangan ini nggak dianggap #bukanurusansaya? Parah!

Pantas saja kalo peristiwa miris itu terjadi lagi dan lagi. Apalagi, kalo kita perhatikan, kebijakan pemerintah emang menjurus ke arah liberalisasi yang makin tak terkendali. Proses liberalisasi di segala lini kehidupan ini, justru menambah parah dampak buruknya pada remaja (bahkan orang dewasa).

Remaja dikepung dengan hal-hal berbau liberal yang disetir kekuatan adidaya melalui berbagai produknya. Di sekolah, kurikulum pendidikan makin jauh dari agama. Pergaulan di lingkup sekolah juga demikian bebasnya. Profil pendidik, sebagian juga sudah sangat liberal.

Di rumah, orangtua –yang notabene juga telah dicuci otak dengan ideologi sekuler– akhirnya juga menanamkan nilai-nilai liberal. Orangtua yang cenderung memberi kebebasan pada anaknya. Contohnya, membolehkan anaknya pacaran. Tidak mengajarkan etika, moral dan pendidikan budi pekerja. Apalagi menanamkan nilai-nilai agama yang benar-benar bisa membekali anak dengan pemahaman Islam yang mendarah daging.

Apalagi, di rumah sarana dan prasarana liberalisasi sangat masif. Lihat saja tayangan di televisi, sarat gaya hidup liberal. Sinetron, film, musik, talk show dan bahkan acara lawakan, selalu menampilkan filosofi hidup liberal yang serba bebas, serba permisif dan hedonis. Semua tak jauh-jauh dari fun, food, fashion, seks, party dan matre. Nggak ada tuh tayangan yang menanamkan nilai-nilai moral, inspiratif dan inovatif kecuali sangaaat sedikit.

Lalu di lingkungan, remaja juga dikepung liberalisasi. Mulai pergaulan yang sudah bebas tanpa batas. Cowok-cewek nggak ada sekat, bahkan intim. Lalu cara berpakaian yang makin irit bahan. Ditambah masyarakat yang individualis dengan ego masing-masing. Nggak peduli dengan urusan orang lain. Ogah “mengurusi” orang lain meski itu berupa kemaksiatan di depan mata.

 

KAMU BERHARGA

D’Riser, kamu, ya, kamu yang masih remaja, adalah aset sangat berharga. Jangan rusak duniamu dengan kehidupan yang tidak berguna. Jaga diri baik-baik, jangan sampai terjerumus jadi remaja rusak. Saatnya untuk terus memperbaiki diri.

Kamu harus berbeda dengan remaja kebanyakan yang tidak memikirkan hal-hal yang positif, tapi juga harus menjadi pejuang bagi perubahan di dunia kamu. Jangan biarkan remaja di luar sana terus mengalami nestapa. Kalau mereka tidak mampu mengubah dirinya, bisa jadi di tanganmulah perubahan mereka bisa terwujud.

Ingat, di tangan-tangan kamulah kelak masa depan kepemimpinan danperadaban bangsa dan dunia ini berada. Remaja adalah masa depan. Kalau remaja sudah rusak, ke depan mereka tidak akan bisa menjadi pemimpin yang benar. Akhirnya negeri ini akan terus disetir dan dijajah kekuatan adidaya yakni ideologi sekuler. Mau bobrok terus?

Makanya, butuh kerja keras dan peran besar kamu-kamu untuk mengenyahkan sumber malapetaka remaja: ideologi sekuler-liberal. Ganti dengan ideologi Islam. Iya dong, nggak ada solusi lain. Inilah way of life yang bakal menyelamatkan moral remaja.

Muslim harusnya menjadi umat terbaik, terdepan dan tercanggih. Harus jadi leader, pioner dan visioner. Jangan mau tertipu dengan silaunya gaya hidup liberal yang seolah-olah menawarkan kesenangan. Itu semu. Makanya, remaja harus berpegang teguh pada Islam.

Kalo islam dipahami secara mendalam oleh remaja, lalu dipraktikkan dan didakwahkan kepada teman-teman remaja pula, tragedi moral seperti di atas tak akan terus terulang. Dan, kamulah yang wajib ikut berperan. Ingat Sobat, mengutip ungkapan orang bijak, kelak ketika kalian udah tua, fisik udah loyo dan nggak bisa lagi ngapa-ngapain, hanya ada dua kemungkinan yang bakal kamu kenang: apakah kamu akan membanggakan masa mudamu, atau sebaliknya, menyesali masa mudamu. Tentunya, jangan jadi golongan yang menyesal, ya. Makanya, yuk bangkit sejak sekarang! (*)

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi #44

 

Korban “Cherrybelle” Tumbang, Ulama Jadi Kambing Hitam

Majalahdrise.com – Gara-gara pesta “Cherrybelle”, 16 warga Garut menjemput maut. Beruntung 4 lainnya masih bisa diselamatkan nyawanya. “Cherrybelle” di sini bukan girl band super centil itu ya, tapi sebutan untuk minuman keras (miras) oplosan. Miras itu sendiri ada yang dicampur dengan penambah energi, alhokol, lotion antinyamuk dan spirtus. Bahkan dokter curiga, ada kandungan lain yang lebih berbahaya (www.liputan6.com, 6/12/14).

Kejadian yang tak kalah luar biasa juga terjadi di Sumedang, korban miras oplosan mencapai 127 orang. Sebanyak 8 di antaranya tewas. Ditambah korban dari Depok dan Jakarta Timur, sedikitnya 33 tewas di empat kota tersebut karena mengkonsumsi minuman keras oplosan (www.rtv.co.id, 4/12/14). Nyawa melayang sia-sia di tangan barang haram.Hadeuh! *TepokJidat!

 

STANDAR GANDA

Ketika korban miras berjatuhan, semua tersentak. Menyesalkan kejadian tersebut dan mereka-reka bagaimana solusinya. Padahal kenapa kaget? Bukankah negeri ini menerapkan aturan sekuler-kapitalisme yang tidak menjadikan agama sebagai pedoman? Bukankah di negeri ini miras memang sah beredar di tengah masyarakat?

Coba tengok Perpres Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol. Melalui peraturan itu, pemerintah mengategorikan minuman beralkohol sebagai barang dalam pengawasan. Cuma diawasi peredarannya, bukan dilarang sama sekali.Ada miras golongan A yang mengandung etil alkohol (C2H5OH) dengan kadar sampai 5%.Golongan B mengandung etanol 5-20% dan golongan C kadarnya 20-55% . Nah, Pasal 7 Perpres ini menegaskan, miras golongan A, B, dan C hanya dapat dijual di hotel, bar dan restoran yang memenuhi persyaratan. Selain itu, di toko bebas bea.

Hmm, soal miras ini, pemerintah memang menerapkan standar ganda. Di hotel-hotel berbintang, diskotek, kafe dan mal-mal besar boleh, tapi miras di level wong cilik dilarang. Agen miras digerebek. Warung penjual miras dibekuk. Pemadat dari kolong jembatan ditangkap.

Memang, mungkin ada yang ngeles, miras yang beredar kan diawasi kadarnya. Jadi aman dikonsumsi.Sedangkan yang oplosan, itu sama sekali tidak ada jaminan aman untuk dikonsumsi. Makanya, orang tewas gara-gara pesta miras hanya terjadi pada rakyat kecil yang nenggak miras oplosan.

Yah, sama saja Sobat! Keberadaan miras oplosan merajalela, dikarenakan rakyat kecil tidak sanggup membeli miras premium yang harganya selangit. Iyalah, belinya saja harus ke minimarket, mal, bar atau hotel. Mana sanggup. Jadi, tak ada miras original, oplosanpun jadi.

Lagipula, siapa bilang pengaruh buruk miras hanya bersumber dari yang oplosan? Pemabuk dari kalangan berduit, yakni pecinta dugem di bar, diskotek atau hotel-hotel, juga tak sedikit yang menimbulkan petaka. Masih ingat dengan tragedi Tugu Tani dengan pelaku Afriani? Habis pesta miras dan narkoba di diskotek, perempuan itu menabrak pejalan kaki hingga menewaskan 9 orang dan melukai 4 orang lainnya. Kasus sejenis kemudian susul-menyusul tiada habis. Jadi, kurang bukti apalagi atas kemudharatan miras?

Dus, sumber masalahnya adalah: kenapa miras dilegalkan.Padahal, udah tahu miras membawa bahaya, bikin mabuk, hilang akal dan bahkan hilang nyawa. Seandainya miras dilarang, tidak legal, tentu tidak akan ada ceritanya orang mati gara-gara miras. Betul apa benar?

 

UMARA vs ULAMA

Lebih aneh, ada segelintir pihak yang menyalahkan kalangan ulama. “Kejadian di Garut misalnya, ini kan kota santri, kota religius, kiai dan ulama banyak di situ. Jadi bagaimana ini, pada kemana mereka,” kata Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Rafani Achyar, di Bandung (www.okezone.com, 6/12/14)

Menurutnya, peran kiai dan ulama jelas sentral bagi berlangsungnya kehidupan masyarakat yang tenteram. Tapi itu pun jika kiai dan ulama mampu menjalankan peran dengan baik di masyarakat. “Kemungkaran itu bisa diminimalisir atau dihilangkan kalau ulama hadir di situ (di masyarakat). Tapi hadirnya ulama bukan untuk sekadar diam,” tuturnya.

Memang, ia juga menggarisbawahi, pemerintah pun harus memberi dukungan. Sebab apa yang terjadi saat ini tak lepas dari pemerintah yang tidak menjadikan agama sebagai tuntunan utama. “Saya melihat ini akibat pemerintah tidak menjadikan agama sebagai kaidah penuntun dalam menjalankan roda pemerintahan. Kalau agama tidak dijadikan kaidah penuntun, kemungkaran apapun bisa bebas. Dari perspektif sufistik, negara kalau begini terus tinggal menunggu kehancuran,” tandas Rafani (idem).

Padahal, jelas pemegang juara salah nomor satu adalah pemerintah, pemimpin alias umaro yang melegalkan miras. Seandainya tidak dilegalkan, kemudian ada hukuman keras bagi siapa saja yang berhubungan dengan barang haram itu, baik sebagai pelaku bisnis atau peminum, niscaya masyarakat akan pikir-pikir dulu sebelum membeli dan atau menenggak miras.

Jadi, umara alias pemimpin itulah yang bertanggungjawab penuh. Umara hendaklah menjadikan Islam sebagai pedoman dalam menerapkan seluruh kebijakan. Islam menjelaskan, barang terkategori khamr itu haram. Berapapun kadarnya, tetap tidak boleh diproduksi dan dijual-belikan. Jelas, kan?

Sementara ulama, tugasnya “hanyalah” amar makruf nahi munkar. Namanya berdakwah, tidak memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan. Mengajak kebaikan, kalau orangnya mau bagus. Mencegah kemungkaran, yang punya tangan ya umaro. Ulama sebagai penjaga akidah umat sebatas menyampaikan kebenaran. Jadi, ketika korban miras bergelimpangan, jangan salahkan masyarakat. Apalagi mengkambinghitamkan ulama yang aktif memerangi maksiat. Salah tunjuk jari tuh!(*)

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #43