kamis dini hari, 23 Pebruari 2012. Enam orang datang ke RSPAD di KJalan Gatot Subroto Jakarta Selatan untuk melayat rekannya yang meninggal di ruang A Eksekutif. Tiba-tiba, muncul puluhan orang dari dua mobil plat hitam dan satu taksi. Sebagian dari mereka membawa golok dan parang. Seorang perempuan juga turut menyerbu dengan senjata samurai bak lady Kill Bill.
Gerombolan ini langsung menyerang para pembesuk tadi secara membabi buta. Tawuran tak seimbang terjadi di lapangan parkir Gedung Di-rektorat Kesehatan Angkatan Darat, Akademi Kesehatan Gigi. Akibatnya, dua orang tewas di tempat dan satu meninggal di perjalanan serta tiga lainnya luka-luka. Sontak, peristiwa itu jadi berita utama (headline) media massa berhari-hari. Tema berita pun berkembang mengupas sisik melik dunia preman, wabil khusus preman Ambon. Sepintas, riuhnya pemberitaan kasus ini wajar saja.
Tapi, ada sebuah ketidakwajaran besar yang tak pernah ditelisik media; Lho, kok bisa, rumah sakit tentara jadi ajang tawuran preman. Tawuran di sebuah rumah sakit saja sudah aneh, terlebih ini rumah sakit TNI Angkatan Darat. Bukankah peristiwa macam begini hampir-hampir hil yang mustahal terjadi.
Sebelum meledaknya kasus yang mencuatkan nama John Kei itu, media massa ramai-ramai memberitakan penolakan massa Dayak terhadap kehadiran 4 pengurus DPP FPI Pusat ke Palangkaraya. Kasus ini berlanjut hingga aksi demo bertajuk ”Indonesia tanpa FPI” di Bunderan HI Jakarta Pusat.
Lagi-lagi ada keanehan besar yang tak disorot; Bagaimana mungkin, ratusan orang liar bersenjata tajam dapat melenggang bebas memasuki area bandara sampai ke landas pacu pesawat. Dalam waktu berdekatan, juga mencuat berita aneh seperti ”teroris” mengubur amunisi di hutan UI. Juga lima orang yang dihabisi Densus-88 di Bali karena dituduh ”teroris”, sementara Kapolda Bali sendiri menyebut mereka kawanan perampok.
Peristiwa-peristiwa mengandung keanehan yang jadi headline media itu, namanya escavation news. Berita pengalih isu, yang saat itu didominasi tentang orkestra korupsi para pimpinan Partai Demokrat. Seorang produser di stasiun teve swasta nasional mengungkapkan, ekspos kasus John Kei memang by-design alias sengaja diatur agar jadi headline.
Hal ini terungkap dari pengakuan temannya yang seorang perwira menengah Polri. ”Banyak peristiwa lain yang menarik, tapi sama ‘Redaktur’ kita disuruh ‘menulis’ John Kei terus,” keluh perwira polisi itu. Pada 22 September 2010, segerombolan orang bersenjata lengkap menyerbu Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang. Tiga polisi tewas diberondong timah panas. Kapolri waktu itu, Jenderal Bambang Hendarso Danuri, langsung mengklaim bahwa serangan tersebut adalah terorisme.
Ia mengatakan, penyerangan tersebut merupakan buntut dari penggerebekan Densus-88 terhadap para teroris yang merampok Bank CIMB Niaga Medan, Sumatera Utara, 18 Agutus 2010. Tapi, klaim Kapolri disanggah keterangan Kapolda Sumut, Irjen Pol Oegroseno. Kapolda Oegroseno menegaskan, serentetan peristiwa yang menghebohkan Kota Medan dan sekitarnya, mulai perampokan Bank CIMB Niaga hingga penyerbuan Mapolsekta Hamparan Perak, dilakukan oleh sisa separatis, bukan teroris.
Hal itu dia ungkapkan saat menjadi pembicara pada forum diskusi antara Kapoldasu dengan sejumlah Ormas Islam, MUI Medan dan jajaran Pemko Medan di Ruang Rapat IV, Balai Kota, 23 September 2010. Kapolda Sumut juga menyebutkan, “Ada satu media yang terus menggiring masyarakat ke arah sana, sehingga masyarakat percaya bahwa mereka adalah teroris.” Sebelum penggerebekan ”amunisi teroris” di hutan UI, kalangan wartawan juga menerima undangan khusus dari aparat.
Undangan meliput juga diterima wartawan sebelum penggerebekan teroris di Wonosobo, Solo, dan lain-lain itu. Tak ayal, hal tersebut akhirnya jadi bahan lelucon di kalangan insan pers. Wartawan yang sadar dan cerdas, menyebutnya sebagai ”terortainment”.
Pamungkas dari pengalihan isu korupsi The Ruling Party adalah harga BBM. Diwarnai demo ribuan mahasiswa dan buruh di berbagai kota yang menguras keringat, airmata, dan darah, Sidang Paripurna DPR RI akhirnya menggagalkan kemauan pemerintah untuk menaikkan harga BBM per 1 April 2012. Lalu Partai Golkar dan Demokrat berebut jadi pahlawan atas hasil sidang itu.
Padahal, dengan keputusan yang mereka buat bersama komplotan Setgab, Indonesia memproklamirkan diri sebagai penganut liberalisme perminyakan. Sudahlah ekplorasi sumur minyak diserahkan pada perusahaan asing, penjualannya pun harganya mengikuti ketentuan asing. Driser, di satu sisi peran media sebagai sumber informasi sangat kita butuhkan. Sialnya, hal ini sering dimanfaatkan oleh penguasa untuk menggiring opini masyarakat sesuai keinginan mereka.
Media massa jadi ujung tombak untuk meredam kemarahan masyarakat yang mulai jengah dengan kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat. Media massa juga sering dipake untuk menyudutkan ajaran Islam dan kaum Muslimin yang aktif mengingatkan penguasa zhalim. Makanya, penting banget bagi kita untuk melek media. Biar nyadar dengan realitas sebenarnya dibalik pemberitaan media. Kalo kita alergi dengan tayangan berita atau isu-isu politik, alamat masuk golongan kamseupay tuh. Mau?! [nurbowo]