Cinta Nabi Harga Mati

Majalahdrise.com – Bagi kita sebagai seorang muslim, Nabi Muhammad saw adalah sosok yang mulia. Tak ada cacat cela karena udah dijamin oleh Allah swt kalo perkataan dan perbuatan beliau adalah wahyu yang mesti kita jadikan pegangan. Kecintaan pada Nabi Muhammad adalah bagian dari kecintaan pada Allah swt.

Nggak heran kalo para sahabat mati-matian berusaha mencintai Rasulullah saw melebihi dirinya sendiri. Dalam hadits dari Anas ra. Nabi Saw bersabda: “Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (Muttafaq Alaih).

Karena cinta nggak cuman kata-kata, mereka berusaha tunjukkan kecintaannya dalam perbuatan yang patut jadi teladan, diantaranya:

Diriwayatkan dari Anas ra., ia berkata: Ketika perang Uhud kaum Muslim berlarian meninggalkan Nabi saw. Abu Thalhah sedang berada di depan Nabi saw., melindungi beliau dengan perisainya. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang sangat cepat lemparannya. Pada saat itu ia mampu menangkis dua atau tiga busur panah. Kemudian ada seorang lelaki yang lewat. Ia membawa setumpuk tombak kemudian berkata, “Aku akan menebarkannya untuk Abi Thalhah”. Kemudian Nabi saw. beralih ke pinggir melihat orang-orang. Maka Abu Thalhah berkata, “Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan minggir, nanti panah orang-orang akan mengenaimu. Biarkan aku yang berkorban jangan engkau….” (Mutafaq ‘alaih)

Dari Sahal bin Saad ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda pada Khaibar: Berkata kepadaku Qutaibah bin Said, berkata kepadaku Ya’kub bin Abdurrahman dari Abu Hazim, ia berkata; Sahal bin Sa’ad ra. telah memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda pada perang Khaibar, “Aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang di atas tangannya Allah akan memberikan kemenangan. Ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.”

             Berkata Sahal Bin Sa’ad, “Maka orang-orang pun pergi untuk tidur dan mereka bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah di antara mereka yang akan diberikan panji oleh Rasulullah saw.” Ketika tiba waktu subuh, maka orang-orang ramai menghadap Rasulullah saw. Semuanya berharap agar diberi panji oleh Rasululah saw.

             Maka Rasul bersabda, “Di manakah Ali bin Abi Thalib?” Dikatakan kepada Rasul, “Ia sedang sakit mata, Ya Rasulullah!” Kemudian orang-orang pun mengutus seorang sahabat untuk membawa Ali bin Abi Thalib ke hadapan Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. meludahi kedua matanya dan berdoa untuknya, maka sembuhlah ia hingga seolah-olah ia belum pernah sakit sebelumnya.

             Kemudian Rasul memberikan panji itu kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali berkata, “Ya Rasulallah!, aku akan memerangi mereka sampai mereka bisa seperti kita (memeluk Islam).” Kemudian Rasullah saw. bersabda, “Berangkatlah perlahan-lahan hingga engkau berdiri di halaman mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang merupakan kewajiban mereka. Maka demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang manusia karena engkau, hal itu lebih baik bagi engkau daripada unta merah.” (Mutafaq ‘alaih)

Muhammad bin Sirin berkata: Telah berbincang-bincang segolongan laki-laki di masa Umar ra., hingga seakan-akan mereka melebihkan Umar ra. atas Abu Bakar ra., kemudian hal itu sampai kepada Umar bin Khathab r.a., lalu beliau berkata, “Demi Allah, satu malam dari Abu Bakar lebih utama daripada keluarga Umar. Sungguh Rasulullah telah pergi menuju gua Tsur disertai Abu Bakar. Abu Bakar terkadang berjalan di depan beliau dan terkadang berjalan di belakang beliau.

             Hingga hal itu membuat Rasulullah penasaran, beliau pun berkata: Wahai Abu Bakar! Kenapa engkau terkadang berjalan di depanku dan terkadang di belakangku? Abu Bakar berkata: Jika aku ingat orang-orang yang mengejarmu, maka aku berjalan di belakangmu, dan jika aku ingat orang-orang yang mengintaimu, maka aku berjalan di depanmu.

             Rasulullah saw. bersabda: Wahai Abu Bakar, jika terjadi sesuatu, apakah engkau suka hal itu menimpamu dan tidak menimpaku? Abu Bakar menjawab: Benar, demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, jika ada suatu perkara yang menyakitkan, maka aku lebih suka hal itu menimpaku dan tidak menimpamu.

             Ketika keduanya telah sampai di gua Tsur, Abu Bakar berkata: Tunggu sebentar di tempatmu wahai Rasulullah!, hingga aku membersihkan gua untukmu. Kemudian Abu Bakar pun masuk gua dan ia membersihkan (dari segala hal yang akan menggangu). Ketika ia ada di atas gua, ia ingat belum membersihkan sebuah lubang, kemudian ia berkata: Wahai Rasulullah, tetap ditempatmu!, aku akan membersihkan sebuah lubang. Maka ia pun masuk gua dan membersihkan lubang itu. Kemudian berkata; silakan turun wahai Rasulullah saw., Maka Rasul pun turun.” Umar berkata, “Demi Allah, sungguh malam itu lebih utama dari pada keluarga Umar.” (HR. Hakim).

Anas bin Malik berkata: Sesunguhnya Rasulullah saw. pada saat perang Uhud telah terpojok sendirian bersama  tujuh orang Anshar dan dua orang Quraisy (Muhajirin). Ketika musuh (kaum Musyrik) telah merangsek mendekati beliau, beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar lalu memerangi musuh hingga terbunuh. Kemudian musuh kembali merangsek mendekat. Beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar, lalu memerangi musuh hingga ia terbunuh. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang hingga terbunuhlah tujuh orang Anshar. Rasulullah bersabda kepada dua sahabatnya (dari Muhajirin), “Kita tidak sebanding dengan para sahabat kita itu.” (HR. Muslim)

Abdullah bin Hisyam berkata: Kami bersama Nabi saw., sementara beliau memegang tangan Umar bin Khathab. Umar berkata, “Wahai Rasulullah!, Sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi saw. berkata, “Tidak bisa! Demi Allah hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata, “Sesungguhnya mulai saat ini, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi saw. bersabda, “Sekarang engkau telah benar wahai Umar.” (HR. Bukhari).

 

Cegah Dengan Khilafah

Sebagai bentuk protes terhadap penghinaan Nabi oleh media Barat, ajakan boikot terhadap produk Barat menggema di negeri-negeri Muslim. Hasilnya, emang lumayan bikin ngeper pemerintah Eropa yang takut ekonomi negaranya terancam akibat aksi boikot. Seperti yang pernah dialami negeri Viking, Denmark pasca kasus kartun Nabi saw. Sayangnya, aksi boikot produk nggak bikin mereka yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya kapok. Apalagi dalih kebebasan berpendapat atau berekspresi bisa melindungi mereka dari jeratan hukum. Makanya, mereka malah makin jor-joran.

Kalo udah gini, kerasa banget deh pentingnya kehadiran institusi yang bisa menyatukan muslim sedunia. Institusi itu adalah kekhilafahan Islam seperti yang ditunjukkan para shahabat pasca Rasul wafat. Ini ditegaskan Rasul dalam sabdanya:

Sesungguhnya seorang imam—Khalifah—adalah perisai orang-orang akan menjadikannya pelindung dan berperang di belakangnya (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dengan adanya khilafah, mereka yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya bakal dapet ganjaran setimpal. Penghinaan terhadap Islam atau kaum Muslimin sama dengan menabuh genderang perang. Seperti yang terjadi pada masa Khilafah Abbasiyah, yaitu ketika Nuruddin Zanki menjabat sebagai wali (gubernur) Syam pada tahun 557 H. Ada pihak yang berupaya menyerang makam Rasulullah saw. Atas sepengetahuan Khalifah, Nuruddin pun bertolak ke Madinah untuk menangkap dan membunuh mereka yang menyerang makam Nabi saw. Rasain tuh!

Ketegasan Khilafah dalam menjaga kemuliaan Islam cukup bikin ngeper mereka yang hendak melecehkan Islam. Seperti diakui oleh Bernard Shaw dalam memoarnya. Bahwa pada masa Khilafah Utsmaniyah tahun 1913 M, dia dilarang mengeluarkan kisah yang berisi penghinaan kepada Rasulullah saw. Lord Chamberlin melarangnya karena takut terhadap reaksi duta besar Daulah Khilafah Utsmaniyah di London.

Begitu juga yang pernah terjadi pada masa Khalifah Abdul Hamid. Saat itu, Prancis hendak mengadakan pertunjukan drama yang diambil dari hasil karya Voltaire. Isinya bertemakan “Muhammad atau Kefanatikan”. Di samping mencaci Rasulullah saw., drama tersebut menghina Zaid dan Zainab. Ketika Khalifah Abdul Hamid mengetahui berita tersebut, melalui dutanya di Prancis, beliau segera memberikan ancaman kepada Pemerintah Prancis supaya menghentikan pementasan drama tersebut. Kalo tetep ngeyel, bakal ribut gede urusannya. Prancis pun ngeper lalu membatalkannya.

Ngerasa nggak dapet angin di Prancis, perkumpulan teater itu malah jalan ke Inggris untuk menyelenggarakan pementasan serupa. Sekali lagi, Khalifah Abdul Hamid memberikan ancaman kepada Inggris. Tapi Inggris menolak ancaman tersebut dengan alasan tiket sudah terjual habis dan pembatalan drama tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Khalifah pun ngasih ultimatum, ”Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!”. Akhirnya, nyali Pemerintah Inggris jadi ciut lalu menelan ludahnya sendiri tentang kebebasan dan pementasan drama itu pun dibatalkan. Makanya jangan cari gara-gara!

Driser, terbukti hanya Khilafah yang bisa membungkam kebebasan berekspresi media Barat yang doyan menghina Allah swt dan Rasul-Nya. Ayo kita sama-sama berjuang demi tegaknya Khilafah Islamiyah yang mengikuti jejak kenabian. Biar kemuliaan Islam dan kaum Muslimin tetep terjaga sepanjang masa.  Yuk! [@hafidz341]

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45

Yang Muda Yang Berjasa

Majalahdrise.com – Tak diragukan lagi bahwa genrasi memegang peran vital dalam perubahan masyarakat. Seorang pemikir dari Beirut, Musthafa Al Ghalayaini berkata: “Adalah terletak di tangan para pemuda kepentingan umat ini, dan terletak di tangan pemuda juga kehidupan umat ini.” Kemudian Musthafa Kamil, pemikir dari Mesir berkomentar: “Pemuda yang bodoh, beku (tidak punya ruh jihad) untuk memajukan bangsa, matinya itu lebih baik daripada hidupnya.”

Sejarah Islam telah menorehkan beberapa nama remaja dengan tinta emas. Jasa mereka dalam menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia tak bisa dipandang sebelah mata. Usianya yang masih belia, tak menjadi kendala untuk ambil bagian dalam dakwah. Diantara mereka adalah Thariq bin Ziyad dan Muhammad al-Fatih.

Waktu itu tahun 92 H/711M. Pasukan Muslim di bawah pimpinan Panglima muda berusia 25 tahun bela-belain menyebrangi selat Gibraltar (Jabal Thariq) biar bisa sampe di Spanyol. Atas pertolongan Allah, pasukan raja Rhoderick (Spanyol) yang berkekuatan 100.000 pasukan tumbang di tangan pasukan Muslim yang hanya berjumlah 7000 plus 5000 pasukan tambahan. Kamu tahu siapa panglima muda itu, dialah Thariq bin Ziyad yang membuka penyebaran Islam di negeri matador Spanyol.

Dulu, waktu Rasul saw masih hidup, beliau pernah bersabda: “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”[H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]. Kamu tahu, Konstantinopel adalah basis kekuatan Nasrani yang yang dikuasai oleh Kaisar Heraklius. Makanya Allah swt dan Rasul-Nya begitu memuliakan orang-orang yang ikut andil menumbangkan Konstantinopel.

Setelah beberapa kali gagal, tujuh abad kemudian kaum Muslimin berhasil menaklukkan Konstantinopel atas petolongan Allah swt. Tepatnya pada hari Selasa tanggal 20 Jumadil Ula 857 H bertepatan tanggal 29 Mei 1453 M, melalui tangan seorang pemuda yang baru berusia 23 Tahun. Dialah sebaik-baiknya pemimpin seperti disebutkan dalam hadits Rasul di atas. Pemuda itu adalah Sulthan Muhammad Khan (Al-Fatih) putera Sulthan Murad II.

Driser, Thariz bin Ziyad atau Muhammad al-Fatih hanya dua gelintir aja pemuda Islam yang oke banget. Bukan karena fisiknya yang macho atau wajahnya yang cute. Tapi karena kontribusinya yang begitu besar dalam penyebaran Islam.

Emang udah seharusnya pemuda-pemudi maupun remaja-remaji muslim nggak cuman mikirin diri sendiri. Tapi jadi ujung tombak perubahan ke arah yang lebih baik sebagai agen of change. Seperti pesan seorang mujahid dan ulama fiqih ternama, Hasan Al-Banna: “Di setiap kebangkitan pemudalah pilarnya, di setiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya.”.

So, tunggu apalagi. Segera bergerak memantaskan diri menjadi bagian dari generasi cemerlang pembangkit Islam dan kaum Muslimin. Hiasi hari-hari dengan aktivitas ngaji dan dakwah. Agar hidup makin berarti dan penuh berkah. #YukNgaji! [@Hafidz341]

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi #44

Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya

MajalahDrise.com – Bagi seorang penulis, karya yang harus ia buat tentunya dalam bentuk tulisan. Bisa berupa artikel maupun buku. Bisa dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi. Menulis adalah sebuah proses yang cukup rumit dan panjang, dan untuk menempuhnya dibutuhkan, konsistensi, kesabaran, dan ketekunan. Jika tidak ada hal-hal tadi, maka karya-karya itu tidak akan selesai. Kalaupun kita bisa memulai sebuah tulisan, jika tanpa konsistensi, kesabaran, dan ketekunan, maka tulisan itu tidak akan bisa kita tuntaskan. Padahal penulis yang baik itu bukan hanya bisa memulai sebuah tulisan, tetapi juga mesti bisa mengakhirinya. Tulisan ini ingin memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana proses terbentuknya sebuah karya.

Hal yang paling pertama harus dilakukan seorang penulis adalah memunculkan ide cerita yang hendak ia tulis. Proses ini harus terjadi, jika tidak, proses-proses selanjutnya tidak akan pernah ada. Seorang penulis mesti tahu apa yang hendak ia tulis. Cukup banyak orang yang bertanya bagaimana caranya agar seorang penulis selalu memiliki ide-ide tulisan yang segar dan unik? Sebagian lainnya merasa pusing tentang apa yang mesti mereka tuliskan. Sebenarnya jawabannya cukup sederhana, selama ada kehidupan pasti akan selalu ada kisah yang menarik untuk dituliskan.Sesederhana apa pun kisah itu, pasti ia akan selalu memiliki daya tarik. Ide-ide cerita itu akan selalu ada di sekitar kita, dan kita bisa mengambilnya dari mana saja.

Ketika ide cerita itu sudah muncul di benak kita, berupa gambaran global dari kisah yang akan kita garap, langkah selanjutnya adalah menuangkan ide besar itu dalam bentuk kerangka dasar. Kerangka dasar inilah yang berperan besar untuk menentukan seperti apa tulisan yang akan kita buat. Kerangka pula yang akan memandu kita dalam menuangkan isi pikiran kita berupa tulisan sejak awal hingga selesai.

Sumber-sumber kepustakaan tentunya amat penting dan amat kita butuhkan. Langkah selanjutnya setelah kerangka dasar terbentuk adalah berburu berbagai referensi yang berhubungan dengan tulisan yang akan kita garap. Sumber-sumber rujukan ini bisa dalam berbagai bentuk, umumnya berupa buku, artikel, dan berbagai bentuk tulisan lainnya. Jika diperlukan, bisa pula diburu informasi dengan cara mewawancarai narasumber. Sumber rujukan lainnya bisa pula didapat dari melakukan riset atau penelitian. Setelah berbagai data yang kita perlukan berhasil dihimpun, langkah selanjutnya adalah mempelajari berbagai data tersebut. Langkah ini tentu saja akan memperkaya wawasan tentang tema yang sedang digarap. Di sanalah relevansinya sebuah pepatah: “Untuk menulis, maka haruslah membaca.”

Setelah semua proses di atas kita jalankan dengan baik, saatnya kita meramu kata-kata dan dirangkaikan dengan berbagai data yang sudah kita olah dan pelajari. Dengan menjadikan kerangka dasar tersebut sebagai panduan, maka tentu saja akan lebih memudahkan kita menuangkan berbagai ide dalam benak kita. Seluruh tahapan ini dari awal sampai dengan akhrinya haruslah dijalankan dengan sabar, tekun, dan konsisten. Sebagaimana sudah disebutkan tadi, tanpa kesabaran, ketekunan, dan konsistensi, maka karya yang sedang digarap ini tidak akan bisa diselesaikan dengan baik. Apa yang sudah kita kerahkan sedari awal tentunya akan sia-sia belaka. Menghasilkan sebuah karya mirip sekali dengan seorang ibu yang sedang mengandung janin di dalam rahimnya. Dia harus menjaganya dengan baik dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, sekaligus menggenapkan waktu persemayaman janin itu di dalam rahimnya. Ia harus menjalankan semua itu dengan sabar, tekun, dan konsisten, kelak ketika waktunya sudah tiba, karya itu akan lahir dan membawa barokah, kebahagiaan, dan manfaat bagi semua. Insya Allah.[]