Kebangkitan Islam : Just the matter of time

Sejak awal tahun 2011 lalu, gelombang kebangkitan  umat Islam bergejolak di Timur Tengah. Kondisi ini  Sbisa kita cium dari kejatuhan beberapa kepala negara  yang memerintah dengan tangan besi. Di awali dari  tumbangnya Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, mundurnya  Mubarak di Mesir, hingga berakhirnya rezim represif  Gadzafi secara tragis di Libya.

 

Saat ini beberapa wilayah  masih terus bergolak seperti Yaman dan Suriah. Malah  negara-negara yang selama ini dikenal benar-benar ‘under  control’ penguasanya pun dipastikan akan turut bergoyang  seperti Yordania, Saudi Arabia, Bahraian, dan lain-lain.  Tinggal tunggu waktu aja.  Gencarnya opini penerapan syariah Islam yang  mengisi ruang pemberitaan media massa nasional maupun  internasional, bikin masyarakat melek tentang jalan  kebaikan yang ditawarkan Islam untuk mengatasi  kebobrokan aturan sekuler kapitalis yang selama ini  mengatur kehidupan mereka. Bukan cuman melek, umat  Islam juga bergerak menuntut perubahan. Ini yang terjadi  dalam rangkaian aksi di Tunisia, Suriah, Libanon, atau  Mesir.

 

Gimanapun juga, Umat adalah pemilik sejati  kekuasaan. Sekuat apapun dukungan asing terhadap  sebuah rezim, jika umat telah bergerak untuk mengambil  alih kekuasaan, rezim tersebut akan jatuh. Kena deh!

Status Perubahan Hakiki: Pending! Siapa yang nggak sumringah ngeliat tanda-tanda  kebangkitan Islam dan kaum Muslimin makin menguat di  Timur Tengah. Sayangnya arah kebangkitan belum berada  di jalur perubahan yang hakiki. Lantaran tuntutan  mayoritas umat Islam masih sebatas pada pergantian  rezim. Belum menyentuh persoalan dasarnya, yakni sistem  yang diterapkan. Kejadiannya persis saat aksi  penumbangan rezim order baru di negeri kita. Semua  masyarakat bersatu untuk menuntut lengsernya RI-1 yang  udah berkuasa selama 32 tahun.

 

Namun setelah lengser,  era pemerintah selanjutnya gak banyak ngasih kebaikan  buat masyarakat. Karena yang diganti cuman orang yang  duduk di pemerintah aja. Sementara sistem yang dipake  buat ngatur rakyatnya, masih stay tune dengan kapitalis  sekuler. Podo wae! Perubahan yang hakiki di negeri-negeri Islam  seharusnya mengandung 2 (dua) unsur utama agar  arahnya benar; Pertama, menjadikan Islam, baik aqidah  maupun syariahnya, sebagai panduan ideologis untuk  mendirikan negara Khilafah, yang akan menerapkan Islam  secara utuh di dalam negeri dan menyebarkan Islam  dengan jihad ke luar negeri. Kedua, menolak secara total  segala bentuk intervensi asing ke negeri-negeri Islam dan  tidak minta bantuan kepada asing. (Al-Waie [Arab], No  291, Rabiul Akhir 1432/ Maret 2011, hlm. 4).

 

Sementara yang tengah terjadi di Timur Tengah,  hanyalah ganti sosok penguasa aja, bukan perubahan  sistem menjadi negara Khilafah. Artinya, unsur pertama  tidak terpenuhi. Unsur kedua juga tidak terpenuhi karena  intervensi Barat, khususnya dari Amerika, Inggris, dan  Prancis telah berlangsung baik di Tunisia, Mesir, Libia  maupun; juga di negeri-negeri yang sedang bergolak kini,  yaitu di Yaman dan Suriah. Negara Barat segala  kecanggihan politiknya sukses membajak arah perubahan  Timur Tengah ke arah yang sesuai dengan kepentingannya.  Berbagai cara digunakan Barat untuk membajak arah  perubahan ini. Yang terpenting ada 5 (lima) cara.

Pertama:  memanfaatkan politisi boneka.

Kedua: memberikan  bantuan ekonomi (utang).

Ketiga: melakukan intervensi  militer.

Keempat: mempropagandakan Islam moderat.

Kelima: mengendalikan media massa guna mempengaruhi  opini publik.

 

Nggak jelasnya arah perubahan yang  dikehendaki oleh umat Islam di Timur Tengah dengan jeli  dimanfaatkan oleh negara adi daya.  Media-media Barat mengopinikan bahwa rakyat di  Timur Tengah menuntut dilakukan demokratisasi dan  liberalisasi. Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam aksi itu  pun tokoh-tokoh sekular, liberal, dan pro Barat, seperti  Muhammad Elbaradei, Amr Mousa, dan sebagainya.  Padahal tuntutan demokratisasi dan liberalisasi itu  bohongan, setidaknya bukan menjadi arus utama.  Sebaliknya, masyair dan syiar Islam justru sangat  menonjol. Tuntutan penerapan syariah juga banyak  disuarakan di tengah kerumunan massa di Lapangan Tahrir  Kairo, Alexandria dan wilayah-wilayah Mesir lainnya.  Demikian pula yang terjadi di Yaman, Suriah, Libya, dan  lain-lain. Tapi semuanya ditutup-tutupi oleh musuh-musuh  Islam yang menguasai media massa. Untuk melakukan perubahan hakiki, setidaknya ada  tiga pemahaman yang harus dimiliki.

Pertama:  pemahaman mengenai buruknya realitas yang sedang  berlangsung.

Kedua: pemahaman tentang realitas yang  menjadi penggantinya, yakni sistem yang menjadi  alternatifnya.

Ketiga: metode yang tepat untuk melakukan  perubahan itu. Nah, dua hal terakhir ini yang belum dimiliki secara  sempurna. Akibatnya, perubahan hakiki tidak terjadi.  Bahkan seperti yang kita saksikan, tuntutan mereka bisa  dibajak dan dibelokkan oleh negara-negara penjajah.  Capek deh!

 

Secercah Harapan, Sebuah Keniscayaan Negara Barat yang urat malunya udah putus, boleh  aja ngaku-ngaku paling berjasa mendorong perubahan di  Timur Tengah. Amerika, Inggris, dan Prancis yang paranoid  dengan kebangkitan Islam silahkan aja membajak  perubahan di Timur Tengah. Namun demikian, ada hal  yang nggak bisa mereka klaim apalagi dibajak, yaitu  kesadaran umat akan kebobrokan sistem Kapitalis sekuler.

 

Realitas ini dapat melahirkan keberanian pada diri umat  untuk melakukan perubahan yang lebih mendasar. Sebuah pesan yang jelas bergemuruh di jalanan kota  Sanaa setelah sholat Jumat (10/2), saat puluhan ribu  demonstran Yaman menyatakan bahwa revolusi mereka  akan terus berlanjut hingga orang-orang Yaman yakin  terhadap semua tuntutan mereka. Para pengunjuk rasa  juga menyatakan bahwa pemilu presiden mendatang  adalah rencana para kapitalis yang bertujuan untuk  memalingkan tuntutan rakyat Yaman yang sebenarnya  sehingga banyak diantara mereka mengumumkan tidak  akan berpartisipasi dalam pemilu, dan akan terus turun ke  jalan untuk menyerukan jatuhnya kapitalisme dan  kebangkitan Islam. Sementara Franklin Lamb, seorang pengamat dan  pengacara internasional mengatakan, kebangkitan Islam  saat ini begitu luas dan begitu dalam.

 

Gerakan ini tidak  hanya terjadi di Timur tengah dan Asia, namun juga  mempengaruhi publik Amerika Serikat, Eropa dan berbagai  belahan dunia pada umumnya. Protes juga menyebar ke  AS dan Eropa, di mana demonstran bangkit untuk  melawan kapitalisme dan korporatisme. Sedangkan di sisi  lain ekonomi Islam terus mendapat perhatian dunia barat  menjawab sistem ekonomi baru ke depan. (republika.co.id,  29/1/2012).

 

Driser, secara i’tiqadi, kita yakin bahwa kekuasan  hakiki di tangan Allah SWT. Dialah yang memberikan atau  mencabut kekuasaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya.  Kekuasaan, sebagaimana umur manusia, juga ada ajalnya.  Nggak ada yang awet. Sekuat apa pun kekuasaan itu  dipertahankan, kalo udah waktunya, bakal lengser juga.  Inilah yang dialami oleh para penguasa Timur Tengah dan  lainnya. Kita juga yakin kuadrat kalo janji pertolongan Allah  SWT seperti disebutkan dalam QS an-Nur [24]: 55 bakal  kejadian.

 

Kabar gembira tentang tegaknya Khilafah juga  udah diberitakan dalam banyak Hadis Nabi saw. Salah  satunya dalam riwayat Ahmad, Khilafah ‘alâ minhâj al-nubuwwah akan datang setelah masa mulk[an] jabriyyan  (penguasa diktator), mulk[an] ‘adhdh[an] (penguasa yang  menggigit).  Belum lagi fakta yang ada di depan mata  menunjukkan kehancuran Ideologi Sosialisme. Dan  Kapitalisme juga sudah gonjang-ganjing, keropos dan  banyak dikritik karena terbukti gagal  mensejahterakan manusia. Orang kafir saja ada  yang yakin tegaknya Khilafah.

 

Michael Loreyev,  direktur sebuah perusahaan dan Wakil Presiden  Rusia Union of Industrialists dan Wakil Ketua  Duma (Rusia Assembly) memprediksi pada tahun  2020 akan muncul beberapa negara besar di  dunia. Salah satunya adalah Khilafah. Ini juga  sejalan dengan prediksi The National Intelligence  Counted menyebut kemungkinan munculnya  Khilafah baru pada tahun 2020.

 

So, udah seharusnya janji Allah dan kabar  gembira tentang kemenangan Islam dari  Rasulullah serta prediksi dari lembaga penelitian  orang kafir ditambah keseriusan negara-negara  kafir penjajah yang melakukan berbagai cara  untuk menghalangi perjuangan Khilafah semakin  menguatkan keyakinan kita bahwa mereka  kebangkitan Islam yang ditandai dengan tegaknya  Khilafah bukan utopia alias khayalan semata,  namun sebuah keniscayaan yang pasti terjadi.  Just a matter of time! [341]

 

Di muat di majalah drise edisi 20

Mengatasi Sikap Cuek

[et_pb_section bb_built=”1″][et_pb_row][et_pb_column type=”4_4″][et_pb_text]

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb. Mbk, sy orang yang cuek banget. Teman satu kamar sy, sejak dua minggu lalu punya pacar baru dan sering ngobrol berjam-jam via tlp dan sy diam saja. Sy berpikir yang penting bukan sy yang melakukan dosa dan sy juga takut untuk menegurnya. Gimana menghilangkan sikap cuek sy? (Rosa, Srby)

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Dik Rosa, yang baik Seseorang yang cuek berarti ia bersikap individualis, kurang peduli, masa bodoh, egois dan tidak peka. Jika sudah cuek alias tidak peduli, hidup yang ia jalani hanya untuk urusan kesenangan pribadinya sendiri. Urusan yang lain tidak akan dipikirkannya. Enjoy dengan urusan dirinya, dan tidak peduli dengan masalah sahabat, tetangga dan orang-orang di sekelilingnya, termasuk tidak peduli dengan permasalahan yang terjadi pada kaum muslimin umumnya. Saat ini, banyak orang yang berpikiran demikian, sehingga orang yang melakukan tindakan melanggar syariat Allah SWT mendapatkan angin segar, dan mengakibatkan timbul banyak kerusakan di tengah masyarakat.

Dik Rosa yang baik, Manusia sebagai makhluk sosial, hidup bersama orang lain. Islam mengajarkan setiap orang peduli dengan orang lain, termasuk peduli dengan permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Jika kita menyaksikan perbuatan dosa, dan kita diam saja, tidak mengingkari perbuatan dosa tersebut dan tidak memberikan nasehat, maka Allah SWT akan mencatat kita sebagai bagian pelaku maksiat. Keburukan akibat kemaksiatan, tidak hanya menimpa pelakunya saja tetapi juga bagi orang yang diam ketika menyaksikan kemaksiatan tersebut. Amar ma’ruf nahi munkar (dakwah) merupakan karakter orang-orang yang beriman. Jika kita melihat ada yang melanggar perintah Allah dan tidak mencegahnya, maka Allah SWT akan meratakan siksaan kepada semua Mengubah Sikap Cuek orang disebabkan perbuatan dosa tersebut, bahkan, do’a kita tidak akan dikabulkan.

“Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian memiliki dua pilihan, yaitu benar-benar memerintahkan berbuat ma’ruf dan melarang berbuat munkar, ataukah Allah akan mendatangkan siksa dari sisi-Nya yang akan menimpa kalian. Kemudian setelah itu kalian berdoa, maka doa itu tidak akan dikabulkan (HR. Tirmidzi).

Dik Rosa yang baik, Sahabat yang baik adalah seseorang yang selalu mengharapkan kebaikan bagi sahabatnya. Ia tidak ridha jika sahabatnya melakukan aktivitas yang dimurkai Allah SWT. Ia akan mengingatkan sahabatnya di saat sahabatnya lupa dan berkubang dengan kemaksiatan. Ia akan saling menguatkan dalam ketaatan. Sebaik-baik sahabat dan saudara seakidah adalah yang mengajak pada ketaatan. Dan perkataan terbaik adalah ajakan kepada kebaikan.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata sesungguhnya aku ini termasuk orang-orang muslim” (QS. Fushilat:33).

Jangan khawatir dengan respon negatif ketika kita menyampaikan kebenaran, insyaAllah pahala dan kasih sayang Allah SWT pada kita lebih berharga daripada dunia dan seisinya.

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 54

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Perjuangan Syari’ah dan Khilafah = Kebaikan yang Sistematis

Majalahdrise.com – Kami berfirman, ‘Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (TQS. al-Baqarah: 38-39).

Wisma Makara UI-12 Februari 2011 dalam acara Diskusi Interaktif Intelektual Muslimah Nasional (‘Kebangkitan KHILAFAH Sebagai Tata Dunia Baru: Jalan Menuju Negara Mandiri, Kuat, dan Terdepan’). DPP Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Ir. Hj. Ishmah Cholil berkata; “Rasulullah saw. bersabda: ‘Barangsiapa bangun pagi-pagi, tetapi tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka mereka yang tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin (o/ Rasulullah saw.) dicap sebagai orang-orang yang bukan dari kalangan kaum muslimin.’
Geliat keruntuhan negara-negara boneka barat, saat ini makin nyata (Tunisia, Mesir, insyaa ALLAH akan disusul dengan negara-negara boneka Barat AS lainnya). Sementara di sisi lain, syi’ar ISLAM, perjuangan SK (Syari’ah dan Khilafah) makin bergelora di berbagai negara.

Perjuangan SK tidak lagi omongan/perbincangan segelintir orang, tapi sudah menjadi bagian dari perasaan, perjuangan sebagian besar umat di seluruh dunia. Tetapi kita mengetahui, bahwa ISLAM sebagai sebuah ideologi, yang terdiri atas Fikroh dan Thoriqoh, tidak bisa dipisahkan, maka adanya persoalan yang dirasakan o/ umat saat ini, hanya akan bisa diatasi dan diobati dengan benar, yakni apabila kita kembali kepada ALLAH. Mengikuti apa yang dibawa o/ Rasulullah saw. Bila kita salah memberi obat, maka umat ini hanya akan dihantarkan pada kesembuhan yang semu, seperti krisis ’97 (Reformasi), keruntuhan kekuasaan hanya dibagi dengan penguasa yang baru. Tidak diganti dengan sistem yang baru yang berasal dari ALLAH Swt. sehingga kegoncangan yang terjadi ketika itu, hanya menyebabkan penyakit yang lebih parah, bukan mengobati. O/ karenanya, adanya gejolak global saat ini, jangan sampai kita kembali salah memberikan obat dan resepnya.

Sebagaimana tema kali ini yang kita angkat “Menuju Kebangkitan Khilafah Islamiyah: Menuju Negara Mandiri, Kuat, dan Terdepan”, merupakan bagian yang harus kita perjuangkan. Gejolak yang terjadi di Mesir akan terjadi juga di Indonesia, Insyaa ALLAH, lantas apa yang akan kita lakukan…?
Umat ini akan menjadi baik bila, hanya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah yang diimplementasikan secara kaffah. Tegaknya Khilafah sudah di depan mata, bisyarah Rasul telah disampaikan, dan ALLAH secara langsung memberikan janji itu.

Sebagian orang masih tidak percaya, karena karakter nasionalisme saat ini membangun ashabiyah yang sangat tinggi. Tetapi jika ALLAH sudah berkehendak, maka tingkatan ashabiyah setinggi apa pun (sekat-sekat yang ada saat ini), insyaa ALLAH akan mampu dirontokkan. Sebagaimana Aus dan Khazraj. Insyaa ALLAH. Seluruh kepingan-kepingan yang selama ini berserak, akan mampu disatukan kembali. 1 resepnya, yakni ISLAM KAFFAH dalam wadah KI (Khilafah Islamiyah).
Kutipan ayat: “ALLAH telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh…”, ini menunjukkan bahwa kekuasaan ISLAM akan kembali di tangan umat ISLAM, bukan di tangan orang kafir. Dengan ridho-Nya, insyaa ALLAH kita akan menjadi bagian dari pejuang-pejuang-Nya di setiap lini.

‘Khilafah a/ pelopor peradaban, yang akan menghancurkan kebathilan dan menebarkan keadilan di seluruh dunia. Sementara orang-orang kafir dan wali mereka Thagut, menyeret dari nuur ila dzulumat.’

Saat ini, akan kita songsong kebangkitan ISLAM dengan tegaknya kembali KI. ALLAHU AKBAR…!!!”

Subhanallahu… Jika membaca kembali catatan yang ada di brankas data saya, ada getar en bara perjuangan yang bergelegak menuntut aksi, aksi, en aksi. Mengingat konsekuensi dari pemahaman a/ sebuah amal, rasanya saya kepengen semuuuua kawan-kawan juga memiliki pemahaman yang serupa dengan yang saya miliki. Agar turut mampu merasakan kepedihan terhadap setiap permasalahan dunia yang tak kunjung selesai sampai syari’ah en khilafah benar-benar ada di tengah-tengah kita.

Sebentar lagi Konferensi Rajab 1432 H akan segera tiba.

En konferensi tersebut akan menjadi mercusuar yang menggambarkan akan umat yang menuntut sebuah perubahan. So, semoga kita semua yang memperjuangkan ISLAM bisa mengambil peran yang terdepan sebagai kesuksesan acara ini. Jangan pernah sepelekan aktivitas ketika kita menyebarkan media, mengopinikannya di tengah-tengah umat, berdiskusi, dlsb. Itu semua memiliki pengaruh. Sekecil apa pun yang kita lakukan sebenarnya mempengaruhi percepatan pencapaian target kita yang ingin memusnahkan ideologi kapitalisme yang busuk ini. Coz, itu a/ salah satu bagian pencerdasan umat. Semua bekerja secara sistematis. Terencana en terukur. En insyaa ALLAH, yakinlah, bahwa kebaikan yang sistematis akan mengalahkan kejahatan yang sistematis pula.

Semoga kita semua bisa berdaya upaya dengan penuh kesungguhan en keseriusan demi meraih pahala en ridho-Nya.

Gardens of heaven are for us. Terbaik dalam perjuangan, terdepan dalam persembahan. Yeahhhh!!! [Hikari Inqilabi]

BAHASA MASA DEPAN ALAY

Majalahdrise.com Alkisah ada seorang bule datang ke  Indonesia. Jauh-jauh hari itu buleh  udah getol belajar Bahasa Indonesia.  Iya dong, biar komunikasi dengan pribumi  lebih mudah. Soalnya ia denger-denger,  orang Indonesia banyak yang Bahasa Inggris  pas-pasan.

Pas mereka ngomong, pas nggak  ada dalam kosakata inggris.  Saat hendak menuju Monumen  Nasional (Monas), untuk meyakinkan  arahnya, bertanyalah ia pada seorang  pemuda alay yang nongkrong dekat Stasiun  Gambir. Bule: “Maaf, benarkah jalan menuju  Monas yang ke kanan?” Jawab si Alay: “Yoi.”  Si bule kebingungan, sambil buka  kamus percakapan Bahasa Inggris-Bahasa  Indonesia, nyari-nyari arti kata “yoi”. Nihil. Ya  iyalah, sampai kesemutan juga nggak  ketemu dah.

Lantaran orang bule itu belajar  Bahasa Indonesia sesuai dengan Ejaan Yang  Disempurnakan (EYD) di Kamus Besar  Bahasa Indonesia (KBBI).  Sementara kita? Banyak banget yang  nggak ngerti Bahasa Indonesia yang baik  dan benar. Bahasa baku sama sekali nggak  populer. Nulis EYD pun salah-salah melulu.  Kalo ngerti pun, kadang juga nggak  dipraktikkan. Merasa terlalu kaku. Kurang  luwes kalo buat percakapan sehari-hari.  Apalagi kalo buat guyonan, masak harus  pakai EYD? Hehe…  Walhasil, Bahasa Indonesia baku kini  kalah populer sama bahasa alay. Entah  siapa pelopor dan produsennya, kini istilah-istilah alay alias bahasa gaul sangat meng-Indonesia (atau mungkin sudah mendunia,  ya?).  Contohnya istilah gaje, gajebo, bingit,  mihil, cius miapa, curcol, cukstaw, cemungut, japri, bais, boil, afgan, kamseupay, unyu,  woles, prikitiew, baper, mager, dll. Ada lagi  yang singkatan macam GJ, PM, PW, DL, CMIIW,  GWS, KEPO, PHP, dll. (ada yang belum tahu  kepanjangannya? PR ya, hehe…).

Padahal, gaya bahasa alay bener-bener melabrak kaidah Bahasa Indonesia  yang baik dan benar. Cenderung  nyeleneh, rumit, sulit  dimengerti dan bahkan  dibolak-balik kayak  gorengan aja. Orang  yang nggak ngerti  dibikin  mengernyitkan dahi  untuk mencerna  maknanya.  Biasanya baru ngeh  setelah dikasih tahu  arti sebenarnya.  Aha..! Mengancam  Eksistensi Emang sih,  pake bahasa gaul  sah-sah aja buat  percakapan sehari-hari, karena bikin luwes  dan akrab. Asal sesuai  waktu dan tempat aja  penggunaannya. Tapi, jangan  keterusan dan kebablasan  banget bikin bahasa alay-nya.  Sampai menjungkir-balikkan  ejaan sebenarnya.

Soalnya, tanpa disadari, lama-lama bahasa ini dapat mengancam eksistensi Bahasa Indonesia yang baik dan  benar. Kata-kata yang benar hilang berganti  kata-kata gaul. Selain itu, berkembangnya  bahasa tersebut dapat mengancam  kemampuan berbahasa generasi muda  zaman sekarang, karena jauh sekali dari  kaidah-kaidah yang sesuai dengan EYD.  Padahal, kemampuan berbahasa yang  baik dan benar itu sangat penting.  Bayangkan, dalam kehidupan sehari-hari,  kita nggak lepas dari komunikasi. Itu artinya  bahasa kita gunakan setiap hari, sepanjang  masa, sepanjang usia, dan seumur hidup. Di  manapun dan kapanpun, kita memerlukan  bahasa. Komunikasi juga nggak hanya lisan,  tapi tulisan. Hari ini, sangat sedikit orang yang bisa  menulis EYD dengan baik dan benar.

Bahkan  untuk hal-hal  kecil yang  tampak sepele,  banyak nggak  tepatnya. Seperti  menulis nama jalan,  nama instansi, tanda-tanda peringatan di  tempat umum dan  bahkan nama gerobak  pedagang kaki lima atau pantat truk  pun salah.  Misal: Jual Mie Ayam, Tata Tertip  Sekolah dan Tiket Bis. Seharusnya  Jual  Mi Ayam, Tata Tertib Sekolah dan Tiket  Bus. Itu baru soal ejaan kata. Belum lagi  soal titik koma, di-ke-dari, me-ber-pe, pun,  dan imbuhan-imbuhan lainnya.

Belum  lagi soal sinonim, antonim, akronim, dll.  Anehnya, semakin ke sini, Bahasa  Indonesia menjadi semakin tidak diminati untuk dipelajari dengan sungguh-sungguh.  Sebaliknya, lebih merasa hebat kalo bisa  menguasai bahasa alay. Juga, lebih getol  mempelajari bahasa asing yang sedang  happening. Seperti Bahasa Inggris, Jepang  atau Korea.

Padahal, sebagai orang yang lahir  di Indonesia, mustinya bahasa inilah yang  kita gunakan dalam kondisi formal maupun  tidak formal. Bukan mengajarkan  nasionalisme ya, tapi karena faktanya  memang kita hidup dalam lingkungan  Bahasa Indonesia sebagai “bahasa ibu” kita. Bahasa Masa Depan  Okelah, kalo sekarang kita masih asyik-masyuk sama bahasa alay, tunggu beberapa  tahun ke depan. Masa depan bahasa gaul itu  biasanya nggak bertahan lama. Akan ada lagi  trend bahasa baru yang bakal  menenggelamkan bahasa-bahasa gaul. Itu  juga kalo kamu-kamu sadar untuk tidak ikut  melestarikan bahasa alay.

Kurangi dan  mulailah berbahasa Indonesia dengan baik  dan benar.  Nah, kalo kita bicara soal posisi kita  sebagai muslim, bahasa utama yang kudu  kita kuasai sebenarnya adalah Bahasa  Alquran, yakni Bahasa Arab. Itu juga salah  satu kewajiban. Apalagi di era mendatang,  Bahasa Arab adalah bahasa masa depan.  Sebabnya, 10, 20 atau 30 tahun lagi akan  berdiri sistem Khilafah Islam yang notabene  Bahasa Arab sebagai bahasa resminya. So, generasi muda muslim sekarang  kudu ngebut belajar Bahasa Arab. Sebab, di  masa mendatang,

kalianlah para pemimpin-pemimpin yang akan hidup dalam peradaban  Islam yang telah tegak. Masak pemimpin  nggak bisa bahasa resmi, malu dong.  Sembari terus mempelajari Bahasa Indonesia  sesuai EYD, belajar juga tuh Bahasa Arab.  Siap? [Asri]

di muat di Majalah Remaja islam Drise edisi 51