Budaya Jepang Kian Meradang

Majalahdrise.com – Driser, perpaduan yang apik antara  manga dan anime dengan sukses bikin  pengaruh budaya jepang kian meradang.  Awalnya suka dengan tokoh dan jalan  ceritanya setelah baca manga. Kemudian  ngeliat audio visualnya dalam wujud anime.  Akhirnya, nggak tahan untuk niru sebagai  ekspresi fanatik yang menggebu-gebu.  Yup, begitulah efek gencarnya  sosialisasi budaya populer Jepang. Saking  seringnya jadi bacaan, kemudian jadi  tontonan, sampai akhirnya jadi tuntunan.

Tanpa sadar, penikmat manga  dan  anime yang mayoritas remaja  en  remaji kepincut dengan  penampilan tokoh ceritanya yang imut. Lalu  ngikutin gaya hidupnya sampe semaput.  Berikut beberapa perilaku cerminan budaya  populer Jepang yang bisa menghipnotis  remaja.

Otaku secara bahasa ditujukan bagi  mereka yang tergila-gila terhadap hobi  mereka. Maniak banget. Mereka ngasih  porsi besar dalam waktu hidupnya untuk  menekuni hobinya. Begitu juga dengan  otaku anime dan manga yang tergokil-gokil  dengan komik dan kartun Jepang. Seorang  otaku nggak cuman ngetem di depan TV  nonton anime, membaca manga, atau  ngoleksi pernak-pernik tokoh fiksi idolanya.

Mereka juga aktif di forum-forum yang  obrolannya nggak jauh dari manga dan  anime.  Dalam kondisi wajar, seorang otaku  masih bisa jaga diri, jaga harta, dan jaga  wibawa. Tapi kalo udah akut, aktivis otaku  bisa terjerumus dalam gaya hidup  hikikomori alias anti sosial. Tentang  hakikimori, pernah drise bahas di edisi  sebelumnya. Silakan ubek infonya. Otaku  yang mengidap gejala hikikomori kerjaannya  cuman mengurung diri dalam kamar, tidur,  nonton anime, baca manga, main game,  makan, tidur lagi. Bukan cuman hitungan  jam atau hari, bisa bulan bahkan tahunan.

  1. Cosplay

“Cosplay” sendiri berasal dari dua  kata yaitu ‘costume’ dan ‘play’. Tujuan  seseorang ber-cosplay, adalah untuk  berpakaian mirip dengan karakter anime,  manga, atau game favoritnya. Kian hari,  banyak remaja yang jadi cosplayer menirukan gaya berpakaian sang karakter  Manga. Apalagi banyak cosplay competition  baik lokal hingga dunia yang memancing  popularitas para cosplayer. Seperti AFA  (Anime Festival Asia) yaitu gelaran festival  Anime dan Manga se asia yang belum lama  ini digelar di indonesia.

Disana, para  cosplayer unjuk gigi mengadu kreatifitas  mereka dalam melakukan cosplaying.  Tak cuma pakaian, gaya rambut,  tingkah laku, dan bahkan raut muka juga  ditiru. Tak jarang ada cosplayer yang  melakukan operasi plastik demi  mendapatkan bentuk muka yang persis  seperti karakter yang diinginkan. Mereka  pun rela merogoh kocek yang tidak sedikit  demi membuat kostum karakter yg  diinginkan lengkap dengan propertinya  seperti pedang, armor, panah, hingga wig  impor biar mirip abiez!

  1. Harajuku

Dalam mode busana, budaya pop  Jepang juga ikut mempengaruhi remaja di  Indonesia. Gaya berpakaian khas Jepang ini  disebut dengan Harajuku Style. Harajuku  sebenarnya adalah sebutan populer untuk  kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku,  Distrik Shibuya, Tokyo. Kawasan ini terkenal  sebagai tempat anak-anak muda ngumpul  bin nongkrong. Jadi, Harajuku Style adalah  sebutan populer untuk gaya jalanan yang  diadopsi dari kawasan Harajuku.

Gaya busana harajuku dicirikan  dengan model busana yang rame dan  semau gue. Rambut dibikin warna-warni  dengan model sekenanya. Nggak kenal  dengan istilah saltum alias salah kostum.  Justru kesan nggak  matching dalam  berbusana itu jadi  bawaan harajuku  style. Atasannya  dipakein perpaduan  kemeja, blouse, dan  tank top berlapis-lapis. Sementara  untuk bawahan  pake celana pendek,  legging, kemudian  kaos kaki ditumpuk-tumpuk serame mungkin. Belum lagi aksesoris yang  dipakenya juga kaya pedagang asongan.  Kacamata, kalung, anting, tas, bando, pita,  jepit rambut semuanya hadir.

Yang absen,  label harganya!  Dari gayanya, keliatan kalo Harajuku  style sangat individualis. Nggak peduli  dengan penilaian orang lain. Gaya Harajuku  berusaha melepas diri dari pakem, tatanan,  standar, dan segala tata krama berbusana  berikut tata rambut dan rias wajah. Khas  anak jalanan yang anti kemapanan dan  mencerminkan pemberontakan.  Dandanannya ekstrim. Dari ujung rambut  hingga ujung kaki.  Driser, selain anime, cosplay, dan  harajuku, j-pop culture juga berwujud dalam  bentuk dorama alias drama jepang dan j-music (japanese music). Untuk dua jenis  hiburan ini, tak jauh beda dengan hiburan  sejenis lainnya. Hanya para pemainnya aja  orang Jepang dan so pasti ngomongnya juga  pake bahasa ninja hatori. Arigatou  gozaimasu!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50

DI GEMPUR J-POP CULTURE

Majalahdrise.com – DI GEMPUR J-POP CULTURE Doraemon. Siapa yang nggak kenal  tokoh kartun fenomenal ini. Kucing  ajaib asal negeri matahari terbit ini  pertama kali menyapa anak-anak nusantara  tahun 1988. Tepatnya tanggal 06 November  yang tayang di stasiun televisi swasta RCTI.

Tak perlu waktu lama, serial Doraemon  dengan kantong ajaibnya ini mampu  menghipnotis dan menjadi tontonan idola.  Sampai sekarang. Termasuk film terakhir  bertajuk “Stand By Me” yang menyita  perhatian masyarakat dunia.   Kesuksesan Doraemon diikuti  dengan munculnya serial-serial kartun  Jepang lain yang meramaikan jagat hiburan  televisi.

Ada Sun Go Kong dengan pencarian  7 bola naganya, kepiawaian kaki Kapten  Tsubasa memainkan si kulit bundar  dengan tendangan Drive Shoot-nya  atau perjalanan Ash Ketchum untuk  menjadi seorang Pokemon  Master. Nggak ketinggalan  petualangan Chinmi dari  Kuil Dairin juga turut  meramaikan tayangan  kartun jepang yang bikin  kesengsem.

Walhasil,  Indonesia menduduki  peringkat kedua di dunia  untuk jumlah pembaca  manga, atau komik Jepang.  Rata-rata seseorang  membaca 3,11 buku komik Atau sekitar 3 buku per orang!

(jogja.tribunnews.com, 29/11/2013)

Potret Budaya Jepang ( J-POP culture )

Di Jepang, komik dikenal dengan  sebutan Manga.  Manga 漫画 terdiri dari dua  kata, yaitu ‘man’ 漫 yang berarti penuh, dan  ‘ga’ 画yang berarti gambar. Secara harfiah  dapat diartikan bahwa manga memiliki arti  penuh dengan gambar tidak beraturan.

Yang bikin Manga namanya Mangaka. Buat  Jepang sendiri, Manga tuh udah jadi  bagian  dari karya seni yang menawarkan cerita all  about Jepang melalui gambar apik dan  cerita ringan yang dikemas sebagai sebuah  hiburan.

Asli keren.  Manga punya bidikan untuk  berbagai kalangan berdasarkan jenis  pembacanya. Untuk anak-anak (kodomo),  wanita (redikomi atau josei), remaja  perempuan (shojo), atau remaja lelaki  (Shounen). Untuk kalangan  dewasa, ada manga khusus  yang isinya berbau mesum  pin porno yang dikenal  dengan sebutan Hentai  yang artinya  “penampilan yang  aneh” atau  “abnormalitas”.

Orang  Jepang ngasih label “jū  hachi kin” (untuk 18  tahun ke atas), “ecchi/H  anime” (seksual/anime  pornografi), “eroanime” (singkatan dari  erotic anime),  atau “seinen” (dewasa) untuk hentai.  Jepang dikenal sebagai sentra komik  Asia. Lantaran negeri matahari terbit itu  menjadi pelopor kemunculan komik setelah  akhir Perang Dunia ke-2.

Kali pertama oleh  Osama Tezuka yang dikenal sebagai “The  God of Manga” dengan karyanya: New  Treasure Island dan Shintakarajima. Dan kini,  komik Jepang kian mendunia. Berdasarkan  data penerbitan bulan Desember 2010, dari  daftar komik yang dicetak oleh m&c, unit  Komik dan Majalah dari Gramedia Majalah,  terdapat 475 judul komik Jepang atau  sekitar 86.4% dari total komik yang  diproduksi oleh perusahaan percetakan itu.

DI GEMPUR J-POP CULTURE
DI GEMPUR J-POP CULTURE

Manga sebagai bagian dari wujud  budaya populer jepang (J-Pop Culture), isinya  nggak bisa dipisahin dari kepercayaan  masyarakatnya yang mayoritas beragama  Shinto atau Budha. Pastinya mengandung  nilai-nilai budaya Jepang yang sekuler dan  pola hidup masyarakatnya yang cenderung  bebas dan materialis. Coba aja perhatiin,  setiap cerita yang dibesut Manga. Mayoritas  menggambarkan gaya hidup tanpa aturan  agama yang dikemas dalam cerita-cerita  khayalan, glamour, instant, serba bebas, en  yang pasti jauh dari unsur-unsur Islam. Hati-hati ah!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50

Save

Islam itu Satu

Majalahdrise.com – Driser, hati-hati kesambet JIN, eh  kebawa opini Jaringan Islam Nusantara.  Tuhan kita satu. Rasul kita satu. Agama kita  juga satu. Nggak dibagi-bagi sesuai tempat  tinggal kita. Allah mengingatkan kita: Sesungguhnya umat [agama] kalian ini  adalah umat [agama] yang satu. Aku adalah  Tuhan kalian. Karena itu sembahlah Aku (TQS  al-Anbiya’ [21]: 92).

Kata “ummat” pada ayat di atas  diartikan oleh para mufassir dengan agama (millah). Maknanya jelas, yakni agama kita,  Islam, itu satu. Tidak terbagi dan tidak boleh  dilabeli kata-kata yang meracuni. Kata  “ummat” itu juga bisa diartikan secara  bahasanya, yaitu umat. Karena itu Islam  adalah satu. Umat Islam juga satu. Tidak  ada “Islam Nusantara”, “Islam Turki”, atau  “Islam Arab”. Umat Islam pun hanya satu.  Tidak ada “Umat Islam Indonesia”, “Umat  Islam Arab” atau yang lain. Semuanya  adalah Islam dan umat Islam. Catet tuh! Karena Islam satu, nggak perlu ada  lagi label Islam pake nama daerah atau  wilayah.

Justru Islam membenci adanya  fanatisme daerah alias nasionalisme yang  bikin umat Islam terpecah belah. Nggak  peduli satu sama lain cuman lantaran beda  ras, negara atau suku. Jelas banget rasul  mengingatkan, “Bukan termasuk umatku  orang yang mengajak pada ‘ashabiyah; bukan  termasuk umatku orang yang berperang atas  dasar ‘ashabiyah; bukan termasuk umatku  orang yang mati atas dasar ‘ashabiyah  (nasionalisme dan tribalisme).” (HR Abu  Dawud).

Biar nggak gampang kena jebakan  betmen Islam Nusantara, ada baiknya kita  kenal islam lebih dalam. Jangan cuman  tahu aturan ibadahnya aja. Tapi juga paham  Islam sebagai aturan hidup yang beda  dengan ajaran agama lainnya. Dengan  begitu, kita punya tameng buat menangkal  pemahaman sesat yang bisa merontokkan  akidah kita. Dan tetap bangga sebagai  muslim calon penghuni surga. Islam  Nusantara? Ke laut aja..!#YukNgaji!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

Resep Islam Nusantara (lanjut)

Majalahdrise.com – Justru Islam di Indonesia yang  moderat dengan mayoritas penduduk  muslim terbesar di dunia layak jadi kiblat  peradaban Islam.  Hello…! Yuk kita buka mata. Kondisi  Timur Tengah yang terus bergolak  sesungguhnya bukan karena faktor Islam.  Wilayah ini terus memanas karena strategi  penjajah Barat. Timur Tengah selama ini  telah menjadi arena pertarungan  kepentingan antara Inggris, Amerika, Rusia  dan Prancis. Sebagai contoh, konflik yang  sedang terjadi di Yaman sekarang ini.  Konflik tersebut sebenarnya bukanlah  konflik Syiah-Sunni, tetapi pertarungan  Amerika dengan Inggris untuk merebut kue  kekuasaan di Yaman. Karena itu mengaitkan  konflik Timur Tengah dengan sikap  keberislaman kaum Muslim di sana  merupakan tindakan naif dan diskriminatif.

Tindakan ini telah menutup mata terhadap  apa yang telah dilakukan negara-negara  penjajah di wilayah tersebut. Inget tuh! Resep Ketiga: Islam Nusantara  dijadikan tameng untuk menangkal bahaya  Islam Trans-Nasional. Nah lho, apa lagi ini?  Islam trans-nasional itu ajaran islam import  (lintas wilayah), bukan lahir dari budaya  lokal.Lucu juga ya dengernya. Emang nggak  inget, Islam yang kita anut sekarang ini kan asalnya dari Timur  Tengah. Bukan  ‘produk’ asli dalam  negeri.

Islam sampai  pada kita juga karena  jasa ‘orang luar’ yang  kita kenal sebagai  wali songo. Dan dari  dulu, karakter Islam  emang trans- nasional. Getol  didakwahkan ke  seluruh penjuru  dunia dari pusat  Daulah Islamiyah di  Madinah hingga  akhirnya menembus  wilayah Romawi,  Persia, Afrika Utara, Eropa, Asia dan  seterusnya hingga di Nusantara ini. Satu lagi, nggak ada yang salah dengan  Islam Trans-Nasional. Justru ide Islam Nusantara yang bersifat kewilayahan  terbatas itulah yang bahaya karena akan  mengerdilkan Islam itu sendiri. Padahal  ajaran islam kan rahmatan lil ‘alamain alias  rahmat bagi seluruh alam. Bukan cuman  rahmat bagi penduduk di Afrika, Eeropa,  Asia atau Nusantara. Betul?

di muar di majalah remaja islam drise edisi #49