drise-online.com – Pada tahun 462 H/1069M, Raja Romawi, Armanus berencana menyerang kantong-kantong Islam dengan tujuan menghancurkan kaum Muslimin. Tepat tiga puluh tahun sebelum perang salib di mulai. Ini raja saking ngebetnya pengen menaklukkan negeri Islam, persiapannya juga nggak main-main.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Armanus raja romawi menyiapkan pasukan tak ubahnya seperti gunung yang terdiri dari orang-orang Romawi, Georgia, dan Perancis. Jumlah dan perlengkapan mereka sangat besar. Ia didukung 35.000 para Batrix dan setiap Batrix mengepalai 200.000 personel pasuka kavaleri (pasukan berkuda). Tentara-tentara dari Perancis berjumlah 25.000 personel. Tentara yang bermarkas di Konstantinopel berjumlah 15.000 personel plus 200.000 seruling dan penggali lobang, 1.000 kuda kerja, 400 gerobak yang mengangkut sandal dan paku, 1.000 gerobak lainnya yang mengangkut senjata, lampu dan alat perang pelempar batu termasuk manjaniq alat pelembar batu yang lebih besar untuk perlengkapan perang 1.200 pasukan infantri (pasukan darat).
Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan khalifah Abbasiyah al Qaim Biamrillah Abu Jafar Abdullah bin Qadir dengan sultannya Alib Arsalan. Ia harus menghadapi pasukan Romawi dengan kekuatan tidak lebih dari 20.000 personel!
Sultan Alib Arsalan sempet ngeper dengan jumlah pasukan musuh yang bejibun. Beliau meminta nasihat dari ulama. Salah satu ulama bernama Abu Nashir Muhammad bin Abdul Malik al Bukhari mengusulkan agar waktu perang ditentukan pada hari Jumat setelah matahari tergelincir ketika para khatib mengajak berjihad di atas mimbar dan bedoa kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin.
Pada waktu yang telah ditentukan, Sultan turun dari kudanya kemudian sujud kepada Allah dan berdoa meminta kemenangan pasukannya dan agamannya. Allah swt mengabulkan doanya. Kaum muslimin menang dan Raja Armanus tertawan. Ia ditangkap dalam keadaan hina dan ditempatkan di depan Sultan. Sultan Alib Arsalan memukulnya tiga kali dan berkata, “Jika saya yang menjadi tawananmu maka apa yang akan kau lakukan kepadaku?”
Armanus menjawab, “Semuanya tidak mengenakkan”.
Sulatan Alib Arasalan bertanya, “Apa yang akan saya perbuat terhadapmu menurut perkiraanmu?”
Armanus menjawab, “Anda membunuhku kemudian menyiarkannya kepada seluruh rakyatmu atau mengampuniku dengan kompensasi tebusan dan mengembalikan ke negeriku semula.”
Armanus menebus dirinya dengan uang sebesar satu juta setengah dinar. Ia berdiri di depan Sultan dan memberi minum air kepada Sultan sebagai tanda kepasrahannnya kepadanya dan kesediaan melayaninya. Ia mencium tanah di depan Sultan dan menghadap arah tempat tinggal Khalifah dan membotaki kepalanya dan memberi isyarat siap memberikan pelayanan dan kepatuhan kemudian mencium tanah sebagai tanda hormat kepadanya.
Kendati menang, Sultan Alib Arsalan tetap menunjukkan akhlak yang mulia. Ia tidak merendahkan derajat Armanus yang kalah dan tidak memintanya melayani dirinya. Ia justeru bersikap lembut kepadanya dan memberinya sepuluh ribu dinar sebagai bekal perjalanannya dan mengirimkan bersamanya beberapa Batrix. Sultan pun berjalan dengannya hingga empat mil dan menyiapkan pasukan tentara yang mengawalnya hingga ia tiba di negerinya. Tentara tersebut membawa bendera yang tertulis di dalamnya lambang negara Islam (syahadat).
Driser, sikap yang ditunjukkan oleh Sultan Alib Arsalan patut kita teladani. Meski emosi udah nyampe ke ubun-ubun, beliau tetap menunjukkan akhlak mulia sebagai cerminan seorang muslim. Tawanan diperlakukan dengan baik tanpa diskriminatif. Begitulah kemuliaan ajaran Islam. So, banggalah menjadi seorang muslim dan tunjukkan kalo kita emang mulia. Yes! [@Hafidz341]
di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #41