Majalahdrise.com – Matahari menjadi raja di puncak langit. Bersinar terang menyilaukan. Langit yang biru bersih tak memeluk sejumput awan pun, sehingga cahaya matahari benar-benar menyengat. Kedua agen rahasia Khilafah Islamiyah, Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza, terbaring di tepian sebuah sungai.
Tepat di depan sebuah mulut gua. Mereka terbatuk-batuk dan memuntahkan sedikit air yang memenuhi paru-paru mereka. Mutsana terbaring telungkup dengan napas terengah-engah. Tubuhnya basah kuyup dan dengan berat dia berusaha mengangkat tubuhnya hingga terduduk. Jabal mengambang di sisi sungai yang tak jauh dari Mutsana. Dia segera tersadar dan cepat-cepat berenang menghampiri Mutsana dengan susah-payah. Jabal terbatuk beberapa kali dan meludah ke sebelah kiri.
“Ternyata sungainya berujung di sini,” kata Jabal. Suaranya terputus-putus.
“Kita harus bergegas,” timpal Mutsana.
“Tempat ini sebenarnya masih terletak tak terlalu jauh dari benteng.” Mutsana memaksakan tubuhnya agar bangkit berdiri. Dia kemudian membantu Jabal dan memapahnya. Kondisi Jabal memang belum pulih benar. Mutsana melingkarkan lengan Jabal ke pundaknya, bersama-sama mereka keluar dari sungai menuju ke tepi sebuah bukit karang. Mutsana membawa Jabal sedikit mendaki ke atas bukit karang yang banyak memiliki celah itu, dan membuat persembunyian di sana. Jabal disandarkan di dalam sebuah celah yang terlindung. Mutsana mengambil tempat di sisi Jabal. Mereka telah tersembunyi di balik celah
“Subhanallah walhamdulillah,” dada Jabal masih naik-turun cepat. Namun napasnya sudah mulai tenang.
“Aku tidak membayangkan masih bisa lolos dari tempat yang mengerikan itu.”
“Semuanya berkat pertolongan Allah subhanahu wata’ala,
” gumam Mutsana sambil menelan ludah. Dia juga sedang berusaha menstabilkan napasnya. “Alhamdulillah. Tapi aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan aku.” “Memang sudah tugas seorang komandan untuk memerhatikan anakbuahnya,”
sahut Mutsana sambil tersenyum lebar. Kebahagiaan di dalam hatinya terasa tak terkira, sebab jerih dan perjuangannya tak sia-sia. Dia berhasil menyelamatkan rekannya.
“Terima kasih banyak. Bagaimana caranya bisa masuk ke dalam benteng?” kata Jabal lagi. “Allahlah penolong yang paling baik.”
“Tapi kita tidak boleh terlalu cepat bersantai,” kata Jabal.
“Misi kita pastilah belum kita tuntaskan.” Mutsana merogoh saku celananya yang basah kuyup. Dia mengeluarkan sebuah tabung dengan tangan kanannya.
“Surat Khalifah masih aman di sini.” “Alhamdulillah kalau begitu,” gumam Jabal.
“Karena ada berbagai kekacauan ini sekarang aku akan sampai beberapa perubahan rencana,
” kata Mutsana sambil memasukkan lagi tabung berisi surat penting itu ke tempat yang aman. “Perhatikan ini baik-baik!” Jabal duduk tegak dengan menopangkan lengannya.
Dia menatap mata komandannya dengan penuh perhatian. Mutsana menunduk sejenak, hendak menyusun kata-kata.
“Aku khawatir Khalifah Abu Bakar ada dalam bahaya. Jelas sekali bahwa lelaki yang terluka kakinya di tengah gurun itu dengan sengaja hendak menjebak kita. Tidak ada yang tahu misi kita dan kepergian kita ke Yamamah, berarti ada mata-mata mereka di Madinah, bahkan mungkin dia ahlush sufah. Aku curiga pada ahlush sufah yang mengantarkan minuman kepada kita saat kita datang melapor kepada Khalifah kemarin.
di muat di majalah remaja islam drise edisi 49