Madha Afiatin (Sineas Muslim Dan Sutradara Film Andai Dia Tahu)
Geliat perfilman Indonesia masih menyisakan harap bagi sineas muslim. Nggak bisa dipungkiri, negeri dengan mayoritas penduduk muslim ini doyan banget nonton film. Sayangnya, banyak film dalam dan luar negeri yang justru muatannya jauh dari nilai-nilai Islam. Untuk itulah Madha Afiatin, salah seorang sineas muslim menghadirkan Film layar lebar bernuansa religi, Andai Dia Tahu. Bagaimana suka duka produksi film Islam yang harus memegang teguh aturan pergaulan Islam by hijab alila, silakan simak obrolan redaksi Drise dengan sutradaranya. Yuk Mari!
Menurut Mbak Madha, bagaimana kondisi perfilman Indonesia dewasa ini?
Bagi saya film adalah sarana untuk menyampaikan pesan. Kondisi perfilman Indonesia mulai marak diisi oleh film-film yang berusaha menyampaikan pesan kebaikan yang bersumber dari Islam. Namun jika melihat jumlah film yang beredar dan tayang di bioskop masih lebih banyak menyampaikan pesan-pesan yang kontradiktif dengan Islam. Saat ini sudah ada cukup banyak film yang bernafaskan Islam di dunia perfilman Indonesia, bagaimana pandangan Mbak?
Setuju… Film-film bernafaskan Islam sedang dilirik oleh beberapa production house, masyarakat juga ternyata banyak yang minat. Mudah-mudahan dapat lebih menggerakkan insan-insan film untuk membuat film islami. Dan juga memotivasi insan dakwah untuk menyampaikan pesannya lewat film. Namun saya juga mau mengajak siapa pun yang terkait dengan film-film islami, agar bukan hanya content dan pesan yang bernafaskan Islam, tapi juga metode dan teknik produksi yang sebaiknya juga dilandaskan para norma Islam. Seperti tidak sentuhan di antara pemain yang bukan mahrom. Untuk menjalankan norma tersebut, kita bisa gunakan stunt in (pemeran pengganti). Stunt in ini sudah umum digunakan dalam film untuk adegan-adegan berbahaya. Padahal adegan memeluk, bersalaman, dan mencium kening juga bisa jadi berbahaya menurut Allah jika dilakukan oleh pemain yang bukan mahrom.
Beberapa waktu yang lalu baru saja diputar film Andai Dia Tahu yang dihelat Hijab Alila, gimana suka-duka penggarapan film ini, Mbak?
Suka duka yang paling terasa saat penggarapan Andai Dia Tahu adalah upaya membentuk tim yang solid secara visi misi. Baik pemain dan kru. Kita harus melewati berbagai ujian. Seolah kita ditunjukkan oleh Allah fakta-fakta “Andai Dia Tahu”. Kita memang harus menghayati dan merasakan substansi dari Andai Dia Tahu, yang juga bisa berarti Andai Aku tahu, Andai Engkau Tahu, dan ternyata hanya Allah yang Mahatahu. Justru kami bersyukur karena Allah memperlihatkan berbagai peristiwa nyata terkait dengan substansi Andi Dia Tahu agar kami mengalami dan menghayati sebelum kami menyampaikannya kepada banyak orang.
Hal apa yang paling sulit ketika ingin mengangkat nilai-nilai Islam dalam sebuah film?
Yang paling sulit adalah menyelaraskan niat dari seluruh unsur yang terlibat. Pemain maupun kru. Dari berbagai pengalaman kami mengcreate program-program tayangan religi, niat inilah yang sangat berpengaruh pada proses produksi dan hasil tayangannya. Alhamdulillah di film Andai Dia Tahu, kami memulai segalanya dengan penyelarasan niat ini. Casting pemain tidak hanya mengandalkan kemampuan acting, tapi juga penelusuran niat mereka. Demikian juga dengan kru. Sebelum ini kami sulit sekali mendapatkan tim produksi yang solid dari aspek niat, visi dan misi, terutama yang tergabung dalam teknis produksi, seperti kamera person, lighting, audio, property, dll. Sebelum Andai Dia Tahu, meski kami selalu memegang teguh unsuryang terkait dengan content dan substansi tayangan, kami seringkali harus mengalah untuk soal misi dan visi dari kru produksi tersebut. Kareka memang kebanyakan orang yang memiliki keahlian tersebut dan terjun di bidang ini umumnya tidak peduli dengan misi dan visi islami. Sebuah kebahagiaan luar biasa bagi kami sehingga bisa membangun tim produksi dan merekrut talent yang memiliki niat, visi dan misi untuk kemajuan Islam. Semoga istiqomah.
Film seperti apa yang ingin sekali Mbak Madha garap?
Mimpi besar saya adalah bisa menggarap film-film yang dapat dinikmati dan menginspirasi penonton dari berbagai bangsa di seluruh dunia. Antara lain keinginan saya yang besar untuk bisa memfilmkan kembali Muhammad al-Fatih 1453 dan juga Ghazi. Aaamiin.. hehe
Setelah proyek Andai Dia Tahu, dalam waktu dekat ini film apa lagi yang akan Mbak Madha garap?
Setelah Andai Dia Tahu, kami lanjutkan konsentrasi kami pada film Udah Putusin Aja bekerjasama dengan Maxima Picture. Proses yang dimulai sejak lebih dari 2 tahun yang lalu kini sudah memasuki tahap pasca produksi. Insya Allah segera kita sosialisasikan trailer dan jadwal tayangnya di bioskop 21. Bukan hanya filmnya yang akan kita promosikan, melainkan juga cara menontonnya yang insya Allah lebih baik. Warna Putih Creative House memiliki program The Right Way Nonton Film “Udah Putusin Aja”.
Pesan-pesan Mbak Madha untuk pembaca D’Rise?
Pesan untuk pembaca D’Rise teruslah berbagi dan menebar kebaikan Islam. Berbagi dengan hati, dengan pikiran, dengan kata-kata, dengan coretan tinta, dengan langkah, dengan apa pun yang kita bisa. Pesan kebaikan tidak saja disampaikan lewat tabligh akbar atau kajian-kajian tapi juga bisa lewat sebuah karya visual contohnya film.[]
Di Muat di Majalah remaja islam drise edisi 52