Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya

MajalahDrise.com – Bagi seorang penulis, karya yang harus ia buat tentunya dalam bentuk tulisan. Bisa berupa artikel maupun buku. Bisa dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi. Menulis adalah sebuah proses yang cukup rumit dan panjang, dan untuk menempuhnya dibutuhkan, konsistensi, kesabaran, dan ketekunan. Jika tidak ada hal-hal tadi, maka karya-karya itu tidak akan selesai. Kalaupun kita bisa memulai sebuah tulisan, jika tanpa konsistensi, kesabaran, dan ketekunan, maka tulisan itu tidak akan bisa kita tuntaskan. Padahal penulis yang baik itu bukan hanya bisa memulai sebuah tulisan, tetapi juga mesti bisa mengakhirinya. Tulisan ini ingin memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana proses terbentuknya sebuah karya.

Hal yang paling pertama harus dilakukan seorang penulis adalah memunculkan ide cerita yang hendak ia tulis. Proses ini harus terjadi, jika tidak, proses-proses selanjutnya tidak akan pernah ada. Seorang penulis mesti tahu apa yang hendak ia tulis. Cukup banyak orang yang bertanya bagaimana caranya agar seorang penulis selalu memiliki ide-ide tulisan yang segar dan unik? Sebagian lainnya merasa pusing tentang apa yang mesti mereka tuliskan. Sebenarnya jawabannya cukup sederhana, selama ada kehidupan pasti akan selalu ada kisah yang menarik untuk dituliskan.Sesederhana apa pun kisah itu, pasti ia akan selalu memiliki daya tarik. Ide-ide cerita itu akan selalu ada di sekitar kita, dan kita bisa mengambilnya dari mana saja.

Ketika ide cerita itu sudah muncul di benak kita, berupa gambaran global dari kisah yang akan kita garap, langkah selanjutnya adalah menuangkan ide besar itu dalam bentuk kerangka dasar. Kerangka dasar inilah yang berperan besar untuk menentukan seperti apa tulisan yang akan kita buat. Kerangka pula yang akan memandu kita dalam menuangkan isi pikiran kita berupa tulisan sejak awal hingga selesai.

Sumber-sumber kepustakaan tentunya amat penting dan amat kita butuhkan. Langkah selanjutnya setelah kerangka dasar terbentuk adalah berburu berbagai referensi yang berhubungan dengan tulisan yang akan kita garap. Sumber-sumber rujukan ini bisa dalam berbagai bentuk, umumnya berupa buku, artikel, dan berbagai bentuk tulisan lainnya. Jika diperlukan, bisa pula diburu informasi dengan cara mewawancarai narasumber. Sumber rujukan lainnya bisa pula didapat dari melakukan riset atau penelitian. Setelah berbagai data yang kita perlukan berhasil dihimpun, langkah selanjutnya adalah mempelajari berbagai data tersebut. Langkah ini tentu saja akan memperkaya wawasan tentang tema yang sedang digarap. Di sanalah relevansinya sebuah pepatah: “Untuk menulis, maka haruslah membaca.”

Setelah semua proses di atas kita jalankan dengan baik, saatnya kita meramu kata-kata dan dirangkaikan dengan berbagai data yang sudah kita olah dan pelajari. Dengan menjadikan kerangka dasar tersebut sebagai panduan, maka tentu saja akan lebih memudahkan kita menuangkan berbagai ide dalam benak kita. Seluruh tahapan ini dari awal sampai dengan akhrinya haruslah dijalankan dengan sabar, tekun, dan konsisten. Sebagaimana sudah disebutkan tadi, tanpa kesabaran, ketekunan, dan konsistensi, maka karya yang sedang digarap ini tidak akan bisa diselesaikan dengan baik. Apa yang sudah kita kerahkan sedari awal tentunya akan sia-sia belaka. Menghasilkan sebuah karya mirip sekali dengan seorang ibu yang sedang mengandung janin di dalam rahimnya. Dia harus menjaganya dengan baik dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, sekaligus menggenapkan waktu persemayaman janin itu di dalam rahimnya. Ia harus menjalankan semua itu dengan sabar, tekun, dan konsisten, kelak ketika waktunya sudah tiba, karya itu akan lahir dan membawa barokah, kebahagiaan, dan manfaat bagi semua. Insya Allah.[]

 

MITOS PENULIS #2 Menepis Stigma Penulis Fiksi Tukang Boong

Majalahdrise.com – Salam kreatif bagi fans rubrik writerpreneur. To the by point aja ya, pada edisi kali ini, kita mo ngebahas mitos keempat penulis, yaitu para penulis (fiksi) tuh tukang ngibul bin tukang bo’ong alias suka ngadalin para pembacanya, nyambung juga sama mitos ketiga sebelumnya, yaitu penulis tuh tukang ngarang bin tukang ngedongeng! Hehehe… kita ulik bareng-bareng, yuk?!

Sebenernya, kalo penulis fiksi dianggap sebagai tukang bo’ong seh, ada benernya juga, kalo yang baca karya fiksinya itu adalah orang yang nggak berpendidikan ataunggak nyadar bahwa karya yang dibacanya adalah kisah rekaan, hasil imajinasi seorang penulis. Namun, kalo Si Pembaca itu nyadar bahwa apa yang dibacanya adalah sebuah karya fiksi maka dia akan memahami bahwa itu adalah cerita rekaan yang belum tentu ada dalam kenyataan. Artinya, dia sadar sepenuhnya bahwa dia bersedia untuk dikelabui atau dibo’ongi oleh Si Penulis.

Kesediaan Si Pembaca untuk dikelabui oleh Si Penulis inilah yang membedakannya dengan fakta kebohongan karena sebuah kebohongan terjadi ketika seorang komunikator (penyampai pesan) mengomunikasikan pesan yang tidak sesuai dengan faktanya kepada komunikan (penerima pesan). Si Komunikan pun nggak nyadar bahwa informasi dari Si Komunikator itu sebuah kebohongan. Nah, ketauan kan, dimana letak perbedaannya?!

So, siapapun di antara kita yang berkenan untuk membaca cerita fiksi, baik itu berupa cerpen, cerbung, novelet dan novel, sudah sejak awal bersedia untuk dikelabui. Tidak ubahnya kita nonton film ataupun pertunjukan drama (teater). Pada saat kita membayar harga buku cerita atau membeli karcis masuk, tanpa diberitahu pun kita akan paham bahwa cerita dalam buku ataupun film dan teater itu hanyalah rekaan belaka. Berbeda halnya kalo buku yang kitabaca adalah otobiografi atau film yang kita tonton adalah film dokumenter yang didasarkan pada fakta sebenarnya.

Namun, kesediaan kita dikelabui oleh penulis fiksi ataupun penulis skenario/sutradara tentu ada batasnya, yaitu ketika cerita itu nggak membangkitkan tanggapan emosional atau nggak logis alias nggak masuk akal jalan ceritanya. Seperti apa yang diungkap oleh Mohammad Diponegoro, penulis novel Siklus yang memenangkan Sayembara Menulis DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) taon 1997, ia menyatakan bahwa, “batas kesediaan orang dikelabui adalah ketika ketidaksungguhan cerita khayal itu muncul telanjang sebagai ketidaksungguhan yang betul-betul tak sungguh. Ketika itulah, hubungan antara cerita dan pembaca menjadi patah.”. Artinya, selama cerita itu masih tampak sungguhan, para pembaca atau para penontonnya mau saja dikelabui.

Pendapat Diponegoro ini sudah jadi konvensi umum di jagat sastra dunia, seperti apa yang diungkap oleh Bapak Cerpen Modern, Edgar Allan Poe, bahwa salah satu dari lima aturan cerpen adalah dia harus tampak sungguhan. Menurut Poe, “tampak sungguhan” ini adalah dasar dari semua seni mengisahkan cerita. Semua fiksi nggak boleh kentara hanya bikinan, sekalipun semua orang tahu bahwa itu adalah kisah rekaan belaka. Semua tokoh ceritanya harus keliatan sungguhan, bicara dan berlaku seperti manusia yang bener-bener hidup.

Oleh karena itu, seorang penulis fiksi jangan nyari plot atau alur yang mustahil. Jangan pula melebih-lebihkan tokoh ceritanya seperti karikatur atau kartun. Trus…, jangan pula membiarkan tokoh ceritanya itu berlaku atau bicara plin-plan, tak konsisten, ungkap Poe menguraikan teorinya itu.

Mau contoh kongkretnya, Bro and Sist? Baca deh, cerita Winetou dan Old Shatterhand karya fenomenal dari Karl May. Ceritanya asyik banget, mengisahkan persahabatan penuh nuansa heroisme antara kepala suku Indian Apache dengan petualang kulit putih di Benua Amerika. Padahal saat nulis ceritanya itu, Karl May belum pernah datang ke tanah kediaman orang-orang Indian itu. Tapi, dia sanggup membingkai fakta-fakta kehidupan orang Indian yang diketahuinya jadi sebuah cerita fiksi yang tampak hidup dan sungguhan sehingga banyak para pembaca ceritanya itu bersedia untuk dikelabui.

Saya juga pernah menulis karya seperti apa yang ditulis Karl May, yaitu menulis buku kumpulan cerita islami Impian Terindah yang meraih predikat best seller di masa booming fiksi Islami. Setengah dari isi buku itu berlatar Turki dan Timur Tengah, padahal saya sama sekali belum pernah singgah ke jantungnya umat Islam itu. Saya hanya menghimpun fakta, data dan berita tentang Turki dan Timur Tengah melalui buku, gugling dan bertanya plus diskusi dengan sohib-sohib yang pernah kesana. Selanjutnya, saya membangun dunia rekaan dengan memadupadankan fakta, data dan berita yang berhasil dihimpun tadi untuk menghadirkan ”tampak sungguhan” demi meyakinkan para pembaca. Hasilnya, Impian Terindah menembus angka penjualan 5.000 exp sekaligus repeat order kurang dari sebulan!

Jadi, inti dari semua seni bercerita fiksi adalah tampak sungguhan. Para penulisnya memiliki tugas membuat cerita khayalan yang tampak sungguhan, meskipun dia menulis cerita-cerita fabel atau cerita tentang dunia binatang. Tokoh-tokoh binatang yang diceritakannya itu harus “tampak manusiawi” (dalam berbicara dan bertingkah laku) untuk dapat “dipercaya”, dengan kata lain agar tampak sungguhan di mata para pembacanya.

Kini, apakah kamu masih nganggap penulis (fiksi) itu sebagai tukang bo’ong? Kalo masih berasumsi gitu, baca lagi deh, tulisan ini dari awal?! Atau mulai deh belajar bikin tulisan fiksi yang menginspirasi. Yuk ya yuk…! []

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

 

MITOS PENULIS : ngeblok mental blok para pemula

Majalahdrise.com – Salam jumpa lagi D’Riser, semoga tetap semangat dalam menulis kreatif, ya? Oke, deh, dalam kesempatan kali ini, kita monyinggung soal mitos-mitos penulis yang berimbas pada mental kamu-kamu hingga bikin semangat menulismu menguap begitu aja. Bahkan, para penulis senior bilang, mitos penulis inilah yang disebut sebagai mental blok yang katanya bisa membuat kamu emoh jadi penulis. Ok, deh, kita jabanin satu persatu, ya?

Pertama, penulis itu kerjaan yang gak menjanjikan!

Hus! Kata sapa, tuh? Kaloceloteh orang males, gada kerjaan alias pengangguran, kita masih bisa maklum. Tapi, kalo itu masih ada dalam benak para pembaca D’Rise, buang jauh-jauh ya, pikiran ngacokekgitu. Soalnya kata para pakar komunikasi, menulis adalah aktivitas yang membutuhkan high-creativity karena menulis memiliki tingkat aktivitas lebih daripada sekadar mendengar, membaca ataupun bicara. Ringkasnya, menulis adalah olah keterampilan yang tidak semua orang dapat menguasainya dengan baik. Catet, tuh!

Nah, kalo masih ada yang berceloteh, penulis itu kerjaan yang gak menjanjikan, bisa dipastikan orang kekginigak suka baca, gak berwawasan, gak gaul, bahkan pemalas dan pengangguran. Fakta empiris membuktikan bahwa menulis adalah pekerjaan yang menjanjikan secara finansial, juga sosial. Contohnya, kini tengah menjamur komunitas kepenulisan di tanah air, trus training-training kepenulisan juga tengah mewabah di negeri ini. Bahkan, sejumlah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta mulai bergiat membuka program studi ataupun jurusan yang fokus dalam aktivitas menulis ini. Apalagi untuk menakar intelektualitas pelajar ataupun kecendikiaan para mahasiswa sebagai tanda kelulusannya, mereka diuji dengan membuat karya tulis, berupa paper, literatur, skripsi, tesis ataupun disertasi. Termasuk untuk mendapatkan gelar doktor honoris causa (Dr.Hc.) dan pengukuhan professor (Prof.) juga diuji dengan karya ilmiah. Hayo, masih mau mendebat, kalo nulis itu kerjaan yang gak menjanjikan?

Kedua, penulis tuh idupnyasenen-kemis alias melarat!

Walah… itu mah, celoteh ngawur alias tudingan ngasal. Coba aja kamu liat orang-orang beken di jagat kepenulisan, kek JK.Rowling yang kini pundi-pundi poundsterlingnya diperkirakan melampaui kekayaan ratunya sendiri, Elizabeth II dari monarki Inggris. Ato ada fakta yang lebih mencengangkan lagi sekaligus sadis abis, Adolf Hitler yang nulis otobiografiny

MITOS PENULIS ngeblok mental blok para pemula - MAJALAHDRISE.COM

a plus ideologi politiknya dalam Mein Kampf. Hasil penjualan bukunya itu gak sekadar mampu menghidupinya tapi juga menghidupi mesin politiknya, Die Nationalsozialistische Partei alias Nazi. Bahkan, hingga kini dalam sejarah dunia, Mein Kampf tercatat sebagai buku terlaris sepanjang masa, mengalahkan angka penjualan Bible dan al-Qur’an sekalipun! Padahal, buku itu sudah diharamkan terbit semenjak Nazi Jerman takluk oleh sekutu dalam Perang Dunia IItaon 1945.

Kalo di negeri Si Komo ini, tercatat nama-nama kek Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Habiburrahman el-Shirazy sampai Raditya Dika yang karya-karya kreatifnya gak hanya nampang di etalase toko buku, tapi sudah merambah ke layar kaca dan layar lebar. Soal keuntungan materinya jangan ditanya, dah!Mereka ngaku dari menulis saja, mereka dapat melanjutkan studi, umrah, naik haji, beli mobil baru, rumah baru, hingga keliling dunia! Wah… bikin kamu ngiler, kan?

Ketiga, penulis tuh tukang ngarang bin tukang ngedongeng!

Hehehe… benergak, seh, tudingan miring ini pantas dialamatkan kepada penulis? Kita bikin ilustrasi saja, ya… kalo kamu-kamu dikenal sebagai anak yang suka ngelesato mengada-ngada, pasti kamu sering denger kawan bicaramu ngomel, ”Jangan ngarang, lu?!”ato, ”Lu, ngedongeng lagi, ya?!”.

Nah, ngarangtuh terkesan diada-adakan atau asal nyablakalias gak ada faktanya. Ngedongeng juga sebelas-dua belas kekgitu. Halah, kalokamu masihkekgini, harus masuk ruangan uji kejujuran plus antikebohongan di ruang penyidikan kriminal, tuh! Truskalo ada yang ngaku sebagai penulis, wah keknya harus dijebloskan ke ruang UGD ato ICU, dah!

Seorang penulis yang baik, dia dituntut untuk dapat meyakinkan para pembacanya bahwa informasi yang diberitakannya adalah kebenaran, menginspirasi kebaikan dan kebahagiaan. Jadi fakta, data dan berita yang diungkapkannya didasarkan pada kenyataan yang dapat diindera dan dirasa. Kalogak dapat memenuhi kedua hal itu, wah… bisa-bisa kita terjebak dengan khurafat (cerita-cerita dusta) dan takhayul (khayalan kek dongengan), tuh!

Trus, kalo kamu berdalih penulis fiksi juga tukang ngarang gimanadunk? Nah, pasti deh, Si Penulis Fiksi bakal meradang abis dituding gitu…. Ntar di edisi D’Rise y.a.d, kita bahas khusus tentang menulis fiksi, ya? Sekaligus membahas mitos keempat yang menyatakan bahwa penulis tuh tukang ngibul bin tukang bo’ong alias suka ngadalin para pembacanya! Yang pasti mah, kalo diungkap semua-muadi edisi ini, ntareditor dan layouter D’Rise ngomel-ngomel ke saya karena space naskah rubrik writepreneur ini kepanjangan…. So, cegat di edisi D’Rise brikutnya, ya….yuk![]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #41

PENULIS TIPE MANAKAH KAMU? Melacak Karakter Kepenulisanmu Selama Ini

drise-online.com – Dalam setiap pelatihan kepenulisan, saya nyaris selalu mendapatkan pertanyaan serupa dari para peserta, khususnya mereka yang baru memasuki dunia kepenulisan. Mereka yang tak sungkan mengaku sebagai pemula itu, bertanya soal kreativitas menulis sehubungan dengan pencarian identitas kepenulisannya. Pertanyaan yang berulang ini berkutat pada masalah karakter kepenulisan bagi seorang pemula.

Saya kira, pertanyaan ini sungguh wajar bagi mereka yang serius menekuni dunia kreatif ini karena karakter kepenulisan merupakan kekhasan tersendiri bagi seorang penulis, sekaligus keistimewaannya yang membedakan dirinya dengan penulis lain.

Dalam memberikan jawaban sekaligus penjelasan kepada para pemula itu, saya sering mengutip apa yang pernah diuraikan oleh seorang trainer dan motivator bidang jurnalistik kaliber nasional, Paulus Wijayanto yang mengatakan bahwa karakter atau tipologi seorang penulis itu ada lima, yaitu: pengajar, pelapor, penjahit, perakit dan yang terakhir adalah seorang pengkaji.

Kelima karakter kepenulisan itu, tidak lantas lebih baik satu dibanding dengan yang lainnya karena masing-masing karakter memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri, sekaligus memiliki khalayak sasaran yang berbeda pula, alias di antara tipologi penulis ini memiliki para pembacanya masing-masing. Namun, kalau parameternya adalah performa penjualan di pasaran, hal itu tentu akan berbeda pembahasannya.

Secara ringkas, tipe penulis pengajar adalah style atau gaya kepenulisannya seperti seorang pengajar/pendidik yang mengajari peserta didiknya layaknya seorang guru kepada murid-muridnya atau seorang dosen kepada para mahasiswanya. Sedangkan pelapor adalah gaya kepenulisan seperti layaknya seorang wartawan atau reporter yang tengah memberikan reportase atau liputan di lokasi acara. Isinya penuh dengan informasi atau berita, berupa data ataupun fakta di lapangan.

Sedangkan tipe penulis penjahit ataupun perakit ada kemiripan dan kesesuaian dalam beberapa hal. Penulis penjahit memiliki karakter kepenulisan layaknya seorang penjahit yang menjahitkan pakaian untuk orang lain. Ia sekadar menjahitkan atau merekonstruksi tulisan dari tulisan-tulisan orang lain. Artinya bahan-bahan tulisannya, ia dapatkan dari penulis lain. Bahasa kerennya, ia mengadopsi beberapa tulisan menjadi sebuah tulisan baru.

Demikian pula dengan penulis perakit, ia pun merekonstruksi tulisannya dari bahan-bahan tulisan orang lain. Namun, penulis tipe perakit ini sedikit memiliki kreativitas lebih dibanding dengan tipe penulis penjahit, ia punya model atau pola sendiri dalam merekonstruksi tulisannya alias ia merakit sendiri. Bahan-bahan tulisan dari penulis lain, ia adopsi dan diadaftasinya dalam tulisan baru yang berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya.

Persamaan dan kesesuaian antara tipe penulis penjahit dan perakit ada dalam hal merekonstruksi tulisan. Penulis tipe ini memiliki keterampilan memadukan tulisan satu dengan tulisan lainnya menjadi tulisan baru, sekalipun tulisan-tulisan yang mereka himpun memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, mereka memiliki kepekaan dan ketelitian dalam menyeleksi bagian mana dalam tulisan orang lain yang dapat diadopsinya.

Perbedaan elementer di antara mereka hanya terletak dalam proses adaftasi tulisan orang lain, setelah mereka memilih dan memilah bagian mana yang akan diadopsinya, penulis perakit mengadaftasinya lagi dengan kekhasan yang ia miliki. Just it, tidak lebih, tidak pula kurang!

Oya, jujur ajaneh, berdasarkan fakta empirik di lapangan, banyak para pemula yang gak sabar menjalani proses, mereka lebih nyaman dengan jadi penulis penjahit ato juga perakit ini. Mereka menjahit tulisannya dari kreativitas penulis lain, bahkan tidak jarang asal comot ato terjebak dengan pemeo kopas alias copy-paste karena gakmo ribet nyusun struktur tulisan. Gawat, deh kalo begitu, dia bisa terjebak dengan pelanggaran kode etik kepenulisan, dia mengklaim tulisan orang lain sebagai karya kreatifnya. Kalogitu, mending kelaut aja, deh!

Berbeda halnya dengan tipologi penulis pengkaji, ia memiliki kekhasan sendiri dalam menyusun konstruksi tulisannya, ia sama sekali tidak mengajari, melapor, menjahit ataupun merakit tulisan orang lain dalam karya kreatifnya. Sekalipun ia menjadikan karya tulis orang lain sebagai maroji’ atau reference. Ia hanya mengambil intisari, alur atau arus utama dari karya orang lain tadi sebagai bentuk pengayaan dalam tulisannya.

Pertanyaannya sekarang, mungkinkah seorang pemula dapat menjadi seorang penulis pengkaji? Sungguh, saya berani menyatakan bahwa seorang pemula dalam dunia kepenulisan dapat menjadi seorang pengkaji sekaligus. Asalkan dia memiliki keterampilan mengolah tulisan dengan baik dan memiliki kekhasan dalam menganalisa. Saya tidak mengada-ada, saya berkawan akrab dengan seorang penulis kandidat doktor dalam bidang urban housing dari sebuah universitas ternama di tanah air.

Sepanjang pengetahuan saya tentangnya, bukunya yang terbit baru berjumlah tujuh! Tiga buku terbit di tanah air, sisanya diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di luar negeri. Semua bukunya menembus angka penjualan best seller. Bahkan, di negeri jiran, bukunya masuk kategori mega best seller, terjual lebih dari 70.000 eksemplar kurang dari satu tahun, sekaligus menjadi sebuah fenomena baru di sana. Luar biasa!

Keterampilannya dalam mengolah tulisan dan kekhasannya dalam menganalisa menjadikan dirinya sebagai seorang pengkaji, sekalipun buku-bukunya masih terhitung dengan jari. Namun, keterampilannya dalam bidang quranic archeology dengan memadukan analisa sinkronik-diakronik dalam buku-bukunya, menjadikan dirinya berbeda dibandingkan dengan penulis pada umumnya.

Nah, sekarang, saya mo nanya kepada D’Riser semua-mua, penulis tipe manakah kamu?[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40