#INDONESIATANPAPACARAN

Majalahdrise.com – Indonesia rawan bencana zina. Itulah  yang tengah kita hadapi saat ini.  Perilaku zina merajalela dari anak-anak  hingga dewasa. Di kalangan remaja, tak  bisa dipungkiri bahwa perilaku zina  bermuara dari pergaulan bebas yang  identik dengan pacaran.

Ekspresi cinta  antara remaja en remaji yang tengah  dimabuk asmara dengan mudah disusupi  bisikan setan yang menjerumuskan.  Awalnya cuman jalan bareng, ujung-ujungnya tidur bareng. Kalo dibiarkan,  pastinya gaya hidup gaul bebas bakal terus  lestari. Malah bisa jadi dinobatkan sebagai  salah satu budaya dalam negeri.  #tepokjidat Padahal, perilaku zina hanya akan  membuahkan bencana. Tak hanya bagi  pelakunya, tapi seluruh bangsa. Rasul  mengingatkan,

“Jika zina dan riba sudah  menyebar di suatu kampung, maka  sesungguhnya mereka telah menghalalkan  azab Allah atas diri mereka sendiri”. (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Keprihatinan akan kondisi remaja  yang terjerat dalam budaya pacaran  mendorong seorang penulis muda,  @LaOdeMunafar menggagas sebuah  pergerakan dengan tagline  #IndonesiaTanpaPacaran (ITP).

Kampanye  ITP ini tujuan utamanya adalah  menyelamatkan generasi dari budaya rusak  pacaran. Biar potensi generasi muda bisa  lebih maksimal untuk memajukan bangsa  dan membangkitkan umat. Bukan malah  terpasung dalam jeratan ajang baku  syahwat bernama pacaran.  Berbagai program menarik dalam  grup ini yaitu konsultasi, tebar artikel  #IndonesiaTanpaPacaran yang ditulis oleh  penulis-penulis Cinta, pembagian gratis  buku tentang cinta dan program menarik  lainnya.

Program ini didukung berbagai penulis Indonesia, lembaga , dan organisasi dakwah sekolah, dan kampus

se-Indonesia.

Mari bergabung dengan gerakan

#IndonesiaTanpaPacaran di kota Anda

dengan dengan cara ketik melalui

WhatsApp : Nama_Pekerjaan_AsalKota Lalu

kirim ke WA 0852 2134 5393

Dukung juga dengan cara:

Follow Instagram : @IndonesiaTanpaPacaran

Like Fanpage    : Indonesia Tanpa Pacaran

Follow Twitter  : @TanpaPacaran

Kerjasama/mengundang keperluan acara : 0823 2686 7308

Driser, yuk kita dukung kampanye #IndonesiaTanpaPacaran. Sebuah

pergerakan untuk menjauhkan remaja dari kemaksiatan yang bisa bikin masa depannya suram nggak karuan. Yuk!

[@Hafidz341

di muat di majalh drise edisi 50

MENYEMAI KANGEN DARI ABERDEEN

“Prinsip hidupku, tidak ada orang bodoh, yang ada hanyalah orang menuruti kemalasannya”

Majalahdrise.com – Angin bertiup melambaikan hawa  dingin di wajahku. Walaupun Summer  alias musim panas, tetap saja terasa  dingin terutama bagi pendatang dari negeri  tropis sepertiku. Dan disinilah aku  berada,  jauh dari Bapak-Ibu juga sejawat lain yang  biasa jadi kawan bercengkrama. Waktu  seolah berlari teramat cepat, itulah yang aku  rasakan. Aberdeen, di kota ini kupijakkan  kaki, meninggalkan negeri yang kucintai demi  meraih cita-cita, melanjutkan studi di  University of Aberdeen.

Rasanya baru  beberapa bulan lalu aku mengenyam pendidikan Kedokteran Gigi di Universitas  Sumatera Utara. Pergi meninggalkan  kampung halaman di kota Padang, itu saja  sudah jauh sekali rasanya. Nah sekarang,  Aberdeen, di Inggris? Masyaallah….  Demikiankah cara-Mu Ya Allah. Prinsip hidupku, tidak ada orang  bodoh, yang ada hanyalah orang  menuruti kemalasannya.

majalah-drise-kabar-dari-luar-2

Maka,  mumpung masih muda, banyak-banyak saja menimba ilmu, walau tak  kurang tantangannya. Untuk sampai  bisa kuliah disini, butuh motivasi kuat  dari diri sendiri dan orang sekitar.  Bagaimana tidak, biaya tes  kemampuan bahasa saja (IELTS),  sedikitnya aku harus merogoh kocek  2,5 juta, belum ongkos pesawat dan  akomodasinya. Pasti lulus? Belum  tentu. Boro-boro lulus, yang ada  hangus

majalah-drise-kabar-dari-luar-1

Ahh… sudahlah, itu memang  gelombang tantangan para calon mahasiswa  untuk kuliah di Luar Negeri. Sangat lumrah,  dan wajib banget. Aku begitu menikmati  tempat ini. Jalan-jalan yang tertata  rapi, tata kota yang indah dan  fasilitas memadai yang rasanya  susah aku temui di Indonesia.  Favoritku adalah berjalan kaki dari  flat ke kampus atau tempat lainnya.

Selain berhemat, aku bisa melihat  paras kota ini seutuhnya. Aman,  tidak takut diserempet seperti jalan  semrawut di kota besar Indonesia.  Aku kagum dengan keramahan kota  ini. Kadang hatiku bertanya, apa  yang membuat sedemikian  teraturnya. Jika ditarik garis lurus,  barulah terasa bahwa keteraturan  komunitas masyarakat tergantung  dari sistem yang mengatur mereka.  Semakin baik sistemnya, buah  kehidupannya akan semakin baik.  Setidaknya apa yang tampak di  permukaan. Aku merenung sejenak,  mengingat Indonesia Negeri muslim  yang seharusnya memiliki dasar  kehidupannya, yaitu islam. Begitu  indahnya islam, ia mampu mengatur  umatnya sejak bangun tidur hingga  bangun Negara.

Ayolah kita jujur,  berapa sih yang sudah kita amalkan  dari adab islam dan sunnah rasul yang   pada dasarnya indaaahhhh sekali.  Boleh jadi, lebih indah daripada tatanan Negara barat yang sedang  kusaksikan ini. Bukankah  Eropa dulunya tak lebih  dari peradaban primitif  dan terbelakang. Kita chaos  justru tatkala jauh dari  agama. Ahh, Indonesia  tanah air beta. Walau  begitu, aku tetap rindu  akan Indonesia yang  penuh cita rasa. Kerinduan ini datang  menyergap terutama jika  waktu sholat  berkumandang,  sementara masjid dan tempat ibadah  sangatlah sedikit jumlahnya. Wajar, sebab  muslim tetaplah minoritas di Negara ini.

Alhamdulillah, tak jauh dari kampusku, ada masjid AMIC (Aberdeen  Mosque Islamic center)  yang cukup untukku meneguk nuansa  ruhiyah. Tak seramai di Indonesia, masjid ini  aktif dan selalu ada pengunjungnya.  Sebenarnya, ingin ikut lebih jauh dengan  kegiatan di sana. Seperti diskusi keislaman  maupun mengenal komunitas islam lebih  dekat. Aku memang belum lama berada di  sini, sehingga aku simpan dulu keinginan itu.  Curi-curi pandang, siapa tau ada wajah  Indonesia yang bisa kudekati dan berbaur  lebih akrab. Tantangan untuk sholat, rasanya belum  seberapa dibanding mencari menu halal.  Baik dari sisi kelangkaan, yang kemudian  berpengaruh kepada harga. Aku memilih  bahan-bahan yang lebih terjamin  kehalalannya seperti sayur-mayur ketimbang  daging. Alhamdulillah, ada juga toko islami  yang menjual daging potong sesuai syariat.  Tapi, mahal banget. Sayur mayur tropis juga  tak kalah mahalnya. Suatu kali aku melihat  seorang muslim Afrika berbelanja ubi talas di  toko bahan makanan halal. Tak disangka,  harganya sekitar £ 15 (setara dengan  Rp.330.000).

Wow, fantastis ya! Sebagai seorang Indonesia, apalagi  muslim, aku ingin sedikit-sedikit  memperkenalkan keindahan agama islam yang dicintai. Ya, minimal aku juga ngga  malu-maluin di tempat ini. Meski belum  kesampaian, semoga aku bisa  berpartisipasi, memperberat amal  jariyahku kelak. Aku dengar, kadang ada  kampanye keislaman dengan  membagikan al-Qur’an di jalan-jalan  strategis. Orang di sini pada dasarnya  memiliki sikap kritis dan openminded.  Mau dan tertarik dengan hal-hal baru.  Hanya kadang kala media lebih  mengekspos hal yang diskrimininatif dan  negatif seputar islam.  Geram juga  rasanya! Harapanku sederhana, moga  masa studiku ini bisa jadi amal jariyah  untuk kehidupan yang akan datang.

Aku  juga terus menggali ilmu dan membaur  dengan kehidupan disini tanpa  melupakan identitasku sebagai seorang  muslim. Sebait kalimat rindu ingin  kutaburkan teruntuk keluargaku nun jauh  disana:        “Dear my mom, dad, sisters and  little brother thank you so much for your  full supporting and understanding” love you  all. Mohon doa juga dari semua saudara  seiman di Indonesia. Dimanapun kita berada,  semoga Allah menabur hikmah yang tiada  tara kepada kita, aamiin.  [Seperti yang  dikisahkan Defi Marizal kepada Redaksi/Alga  Biru]

di muat di majalah drise edisi 50

Tips Menjadi Seorang Writer

D’Riser, kini saya mo berbagi tips, agar kita menjadi seorang  writer yang baik, sekaligus jadi  kolektor buku yang bijak:

  1. Pastikan dulu passion kamu ada dimana? kamu interest pada tema  apaan, jadi focus nulis disana  sekaligus ngoleksi buku dengan  tema yang sama;
  2. Kalo kamu interest juga dengan ragam tema yang laen, ga masalah  juga, take it, tapi tetep jangan salah  arah, ya!
  3. Kamu juga kudu tahu betul, buku apa saja yang layak dikoleksi,  sekaligus dimana kamu bisa  mendapatkannya? so, jangan ngasal,  ya:
  4. Inget juga, kamu harus pinter-pinter merawat buku dengan baik,  pokoknya jangan sampai lecek,  apalagi sampai jamuran dan  bulukan; lecek seh sebenernya  biasa, tapi kalo sampe jamuran wah  binasa, dah, and jangan lupa
  5. Basicly kamu adalah penulis, jangan terobsesi ngoleksi buku doang,  kawatir terjebak biblomania, tuh!  jadi, tetep kudu rajin berkarya. Ayo  kreatif menulis?!

WRITER AS BOOK COLLECTOR

Majalahdrise.com – D’Riser, pada diri seorang penulis,  ia pasti ingin dikenal sebagai  seorang writer, not is a boxer or  a fighter! Seorang penulis juga adalah  sosok penggemar buku alias bookslover.

Di edisi sebelumnya, kita sudah  ngebahas tuntas soal bookslover yang  satu ini. So, kali ini, kita masih mo  ngebahas hobi penulis pada buku,  namun lebih khusus pada kebiasaan  mengoleksi buku, writer as books  collector alias penulis sebagai seorang  kolektor buku. Nyok, kita bahas  kebiasaan asyik ini… Apa seh, perbedaan mendasar antara  bookslover dan books collector?

Jawaban  sederhananya, kalo books collector sudah  pasti dia adalah seorang books lover, tapi  seorang books lover belom tentu dia seorang  books collector. Jawaban kek gini saya dapat  dari seorang penggiat literasi di Kota  Bandung, Deny Rachman yang lebih dikenal  sebagai bandar buku dan owner  LawangBuku, sebuah toko buku langka, antik  dan jadul.

Seorang kolektor buku juga biasa  menghimpun dan mengoleksi satu judul  buku lebih dari 1 exp, bahkan setiap  cetakannya pun dia biasa menyimpannya.  Dalam beberapa tema tertentu, dia bisa  mengoleksi buku yang sama dari beberapa  penerbit berbeda, termasuk buku  terjemahannya dari berbagai penerbit luar  negeri. Nah, sudah semakin jelas, kan letak perbedaannya ada dimana?

Jujur saja, neh, menjadi seorang  books collector itu dapat meningkatkan  prestise di tengah masyarakat. Kita akan  dikenal sebagai kaum intelek yang mampu  bicara berdasarkan referensi.  Bahkan lebih  daripada itu, bila benar-benar diseriusi,  dapat meningkatkan strata sosial juga, lho.  Kita dianggap sebagai kaum “the have” oleh  masyarakat, karena sejumlah buku tertentu  memiliki nilai jual tinggi secara ekonomi. Mo  buktinya, gak, bray?

Saya mengenal seorang kawan  penulis sekaligus seorang books collector,  khususnya buku-buku sastra klasik dan  melayu, teristimewa buku-buku karya  Pramoedya Ananta Toer. Sejak keranjingan  buku-buku Pram, dia rajin hunting buku ke  sentra-sentra buku bekas di kota-kota besar  hingga ke pelosok daerah. Saat itu, dia  mengaku memiliki puluhan buku Pram dari  berbagai penerbit, baik cetakan lama  maupun cetakan baru, termasuk buku-buku  terjemahannya. Saat dia melancong ke negeri jiran  Malaysia, delapan buku Pram dalam bahasa  melayu koleksiannya ditawar jutaan ringgit  oleh seorang kurator di Kuala Lumpur.

Awalnya, dia enggan melepas buku-bukunya  tadi, apalagi koleksiannya itu ada signature  asli dari penulisnya. Namun, setelah nego,  akhirnya dia melepaskannya dengan senyum  bahagia. Hasil menjual delapan bukunya tadi, kawan penulis itu, kini mukim di  Singapura dan punya usaha  penerbitan sendiri di Negeri Singa itu.  Wah, bikin ngiler, ya? Selain itu, saya juga mengenal  sosok books lover, sekaligus books  collector bernama Kiki Adrianto,  penggiat literasi ini mulai mengoleksi  sejumlah literatur soal Jerman ini  sejak kuliah di jurusan Bahasa &  Sastra Jerman STBA Bandung. Suatu  hari, ia mendapatkan buku Mein  Kampf asli berbahasa Jerman tahun  1944 seharga 2 juta rupiah dari Ridwan Saidi,  seorang tokoh nasional dan budayawan Betawi.

Dia pun menamatkan membaca buku  kontroversial karya Sang Fuehrer, Adolf Hitler  itu dengan antusias. Kiki pun terinspirasi untuk  menambah koleksi bacaannya hingga dia pun  tergerak untuk menggagas toko buku dan  perpustakaan Der Mutterland berbasis  komunitas. Kini, Kiki dikenal sebagai kolektor  buku-buku berbahasa Jerman terlengkap di  negeri ini. Bahkan, melampaui isi perpustakaan  Goethe Institute di Bandung dan Jakarta.

Keren! Demikian pula, seorang penulis  berkaliber internasional seperti Ajip Rosidi.  Sastrawan dan budayawan Sunda yang lama  menetap di negeri Sakura, Jepang ini, dikenal  mengoleksi sejumlah buku dan literatur klasik  tentang sastra dan budaya di Indonesia,  khususnya naskah-naskah Sunda dan Jawa  kuno. Kini, Pak Ajip menghimpun semua  koleksiannya itu di perpustakaan Rumah  Belajar Rancage yang diinisiasi langsung oleh  Pak Ajip dan inohong Sunda lainnya. Saking  lengkap koleksi buku-bukunya itu, Pak Ajip dkk  dapat menyusun Kamus Lengkap Basa Sunda  sebanyak enam jilid, melampaui Kamus  Sundanya Satjadibrata yang hanya terbit satu  jilid.

Tidak hanya itu, ada kandidat doktor  linguistik yang mendapatkan literatur klasik di  perpustakaan tadi, setelah sekian tahun  lamanya dia berburu di sejumlah perpustakaan  dalam dan luar negeri. Waouw!

Nah, terbukti, kan dengan mengoleksi  sejumlah buku tertentu, akan meningkatkan  prestise dan strata sosial kita di masyarakat,  bahkan lebih daripada itu, buku dapat  membuat kita kaya, tidak hanya kaya akan  wawasan dan ilmu pengetahuan. Namun juga,  kaya ide-ide kreatif, bahkan kaya secara materi  dan finansial. Minat? []

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50