Waduh,,, Maksiat Di Ujung Tahun

Majalahdrise.com -Pergantian tahun masehi di akhir bulan Desember, banyak dinanti remaja sedunia. Udah kebayang apa yang bakal terjadi di planet remaja. Pesta pora dan hura-hura bakal jadi menu utama. Bahkan jauh-jauh hari mereka udah bikin perencanaan yang matang. Dari mulai tempat hangout yang ramai sampe logistiknya terutama terompet nggak ketinggalan.

Perayaan Tahun Baru dimulai sejak tahun 45 SM pada masa kaisar Roma dipimpin oleh Julius Caesar. Dialah kaisar yang memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah dibentuk sejak abad ke 7 SM. Satu tahun penanggalan baru dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan dia menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Dia juga memerintahkan untuk menambah 1 hari pada bulan Februari setiap 4 tahun sekali untuk menghindari penyimpangan dalam kalender tersebut. Dan sebelum ia terbunuh pada tahun 44 SM, ia telah mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya yaitu Julius (Juli) dan bulan Sextilis dengan nama kaisar yang menggantikan Julius Caesar yaitu Agustus. Dan kini perayaan 1 Januari telah dijadikan sebagai salah satu hari suci umat Kristen.

Perayaan tahun baru Masehi seperti dijelaskan di atas, merupakan budaya yang masih terkait dengan ritual umat Nasrani, karena tahun Masehi dihitung berdasarkan tahun kelahiran tuhan mereka yaitu Yesus. Nabi SAW telah menjelaskan bahwa orang yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dalam kaum tersebut, sebagaimana hadits riwayat Abu Daud berikut:

Dari Ibnu Umar ra. berkata: Rasulullah SAW bersabda : “barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk diantara mereka”

Maksiat Di Ujung Tahun - MAJALAHDRISE.COM

So, kalo kamu ngerasa remaja muslim yang merindukan surga pastinya nggak ikut-ikutan ngerayain tahun baru. Termasuk juga nggak latah niup terompet yang menurut sejarahnya bermula saat perang Salib. Ketika itu telah terjadi peperangan besar, para Kristiani dari berbagai daerah kerajaan dari Eropa maupun Asia bekerjasama melawan kaum muslimin. Hal ini mengakibatkan kaum muslimin mengalami kekalahan dan kaum Kristiani pun merayakan kemenangan mereka dengan peniupan terompet oleh panglima besar Kristen. Jangan sampe deh kena wabah maksiat di ujung tahun. Hati-hati ya! [@Hafidz341]

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi #42

 

Mengenal Emoticon Yang Bikin Ramai Dumay

Majalahdrise.com – Ngorol di dunia maya makins eru dengan kehadiran symbol. Ekspresi lawan bicara nggak cuman terlukis dalam rangkaian kata, tapi juga bisa ditunjukkan dalam bentuk visual. Gambar yang unik, lucu sekaligus ngegemesin. Inilah jasa dari emoticon bikin chatting online makin rame. Berikut 10 hal pernting yang patut kita ketahui tentang emoticon. Simak yuk!

 

Emoticon tertua. Emoticon pertama diterbitkan pada 30 Maret 1881 oleh (sekarang sudah tidak ada) majalah majalah Amerika Puck.

 

Abraham Lincoln Emoticon. Pada tahun 2004, tim dari arsip perusahaan digital Proquest stumbled across bisa menjadi contoh emoticon terlama yang di cetak di transkrip pidato Presiden Lincoln tahun 1862.

 

Emoticon Internet Pertama. Pada 19 September 1982, ilmuwan komputer Carnegie Mellon University Scott Fahlman memperkenalkan smiley pertama pada sebuah pesan untuk membedakan postingan serius dan lelucon.Sejak itu, Fahlman dikenal sebagai “ayah dari smiley.”

 

Western vs. Eastern Emoticons

Western-style         Eastern-style
smile/happy           🙂                            (^_^)
frown/sad               🙁                            (T_T)
wink                        😉                            (^_~)
shocked                  :-0                            (o_O)

Seperti hip hop, emoticon memiliki gaya geografis; ada emoticon barat dan ada emoticon timur . Barat dibaca menyamping (dari kiri ke kanan) sedangkan gaya emoticon timur dengan membaca tegak lurus

 

Statistik Emoticon.Pada tahun 2007, Yahoo! mensurvei 40.000 pengguna Yahoo! Messenger dan menemukan bahwa 82% di antaranya menggunakan emoticon dalam percakapan IM. 83% mengatakan bahwa “kebahagiaan” dan “flirting” adalah dua emosi (flirting adalah emosi?) Kebanyakan mereka menyatakannya dengan menggunakan emoticon. 57% mengatakan bahwa mereka lebih senang mengungkapkan perasaan sebenarnya dengan menggunakan emoticon daripada langsung dengan kata-kata. Pengguna Yahoo! Messenger sangat mendedikasikan pada emoticonnya: 66% dari mereka ingat 3 karakter emoticon atau lebih. 19% dari mereka ingat 10 karakter emoticon.

 

Evolusi Emoticon. Dikendarai oleh program-program pesan instan seperti Yahoo! Messenger, Windows Live Messenger, AIM dan ICQ, emoticon cepat berkembang dari teks smiley menjadi lebih kompleks, yakni animasi grafis.Yahoo! Messenger bahkan ada set “tersembunyi” emoticon yang tidak akan Anda temukan dalam menu, namun dapat “aktif” dengan mengetikkan shortcut keyboard tertentu. Bahkan Gmail dalam permainan – mereka menambahkan, “emoji” (grafis emoticon dalam bahasa Jepang). Jika Anda ingin mereka untuk account Gmail Anda, cukup masuk ke >Pengaturan Labs, kemudian mengaktifkan “Extra Emoji.”

 

Emoticon Sebagai Merek Dagang. Pada tahun 2000, Despair Inc, perusahaan yang datang dengan lucu “de-Motivational” produk, atau merek dagang 🙁 frowny emoticon.Menyatakan barang siapa yang menggunakan logo tersebut di e-mail atau internet akan didenda 7 juta dollar, kemudian perusahaan tersebut mendapatkan tekanan dari semua orang. Pengusaha Rusia Oleg Teterin menggunakan 😉 untuk merek dagang perusahaannya atau wink emoticon dalam Rusia. Dalam sebuah wawancara televisi, Oleg berkata:

“Saya ingin menekankan bahwa ini hanya diarahkan pada perusahaan, perusahaan yang mencoba untuk membuat keuntungan tanpa izin dari pemilik merek dagang,” katanya dalam komentar untuk NTV.Perusahaan akan memberikan hukum peringatan jika mereka menggunakan simbol-Nya tanpa izin, “ujarnya.

“Penggunaan yang legal setelah membeli lisensi tahunan dari kami,” seperti dikutip oleh Kommersant katanya. “Itu bukan biaya yang banyak hanya puluhan ribu dolar.”

 

Driving LED Emoticon. Berpikir bahwa Anda hanya dapat menggunakan emoticon dia Internet? coba pikir lagi! Kini ada baterai powered LED emoticon untuk mobil Anda, sehingga Anda dapat memberitahu orang-orang yang terjebak di belakang Anda bagaimana perasaan anda.

 

Manusia Emoticon. Jika emoticon adalah ungkapan emosi yang dimasukkan ke dalam format teks sederhana, apakah ada proses sebaliknya? seniman New Jersey berbasis multimedia Dan Wade mengambil emoticon dan menggantikan emosi mereka.

 

Driser, kebayang dong gimana garingnya ngobrol via YM, BBM, MSN, ICQ atau email tanpa adanya emoticons (simbol emosi/ perasaan yang biasa kita gunakan di messanger atau email). Wajah deh kalo kita kasih apresiasi kepada bapak yang satu ini. Sekitar 25 tahun yang lalu, Profesor Scott Fahlman dari Universitas Carnegie Mellon menemukan simbol yang pastinya sudah sangat kita kenalseperti “:-)”, “:-(“, ” ” dan lainnya. Pertama kali, Profesor Scott membuat emoticons di salah satu buletin elektronik (Electronic Bulletin) pada tanggal 19 September 1982 pada jam 11:44.Terima kasih profesor karena Anda udah bikin ramai dumay. [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

PARODI GARUDA

Majalahdrise.com – Ukiran burung emas itu masih terpajang di atas papan tulis kelasku seperti dulu. Aku memandangnya tanpa kebanggaan lagi sebagaimana saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah.

Seorang guru SMA tampak datang tergopoh-gopoh menghampiriku, danmenyapa.

“Ka-el, apa kabar? Lama sekali bapak tak melihatmu.”

Aku tersenyum balik, dan menjabat tangan beliau. Erat.

Ka-el, itu namaku. Sebuah nama yang absurd. Seabsurd kisah tentang bagaimana aku memperolehnya.

Bapakku sangat mencintai Superman, manusia fatamorgana paling legendaris dari planet krypton. Koleksi tentang si manusia baja, mulai dari beberapa poster, kaos, action figure, dan barang aneh lainnya pun menghambur di rumah kami. Tingginya rasa cinta pada sang idola membuat beliau sampai terobsesi untuk memberi nama anak laki-laki pertamanya sesuai dengan nama asli tokoh komik Amerika itu. Dalam kasus ini, akulah korbannya. Seorang bocah dengan nama bak si Manusia Baja tapi tanpa kekuatan super, tanpa logo S di dada, tanpa baju ketat, tanpa sayap, dan ehm, tanpa celana dalam di luar yang dulu merupakan salah satu icon utama superhero berjubah merah ini. Perut kami juga beda. Superman selalu digambarkan six packs, sedang aku setia dengan without pack.

Ada satu lagi perbedaan kami. Nama asli Superman adalah Kal-el, dan namaku Ka saja tanpa L. Ketika kutanyakan alasannya pada bapak, beliau ngotot bahwa nama asli Superman memang tanpa L.

“Nama aslinya memang Ka-el. Persis nama kamu. Bapak tidak mungkin salah. Gini-gini bapak sudah 40 tahun lebih jadi fans berat Superman.”

Bapak selalu membanggakan diri sebagai pemuja sejati si Man of Steel meski aku yakin beliau tak pernah menonton filmnya sampai habis atau membaca komiknya. Beliau selalu tertidur tiap nonton TV, dan beliau juga tak suka membaca, kecuali resep dokter. Itu juga karena terpaksa. Tapi aku tak pernah protes. Aku tahu, meski tampak konyol, sejatinya beliau memiliki maksud baik dengan memberiku nama ini.

Tak habis-habisnya beliau memberiku wejangan ketika aku masih kecil tentang makna yang beliau sematkan di akte kelahiranku.

“El, kamu lihat itu Superman. Tak kenal lelah dia mengupayakan keamanan bagimasyarakatnya. Selalu geram manakala melihat kejahatan. Nak, bapak pengen kelak kamu juga sama seperti Superman. Selalu memikirkan bagaimana agar masyarakat negeri ini – Indonesia – bisa mencapai keamanan, bahkan kemakmuran. Bukan kemelaratan.”

Sesuai teori marketing, seseorang baru akan tertarik membeli barang ketika nama barang itu setidaknya sudah disuarakan sebanyak dua puluh tiga kali. Nah, petuah bapak itu sudah menggema di telingaku lebih dari seratus kali, maka bukan hanya tertarik aku pada perintah itu, tapi kata-kata bapakku adalah harga mati.

Mungkin, itulah dorongan utama kenapa begitu bersentuhan dengan gerakan dakwah untuk menerapkan syariat Islam secara kaafah demi memakmurkan dan mensejahterakan Indonesia, aku dengan penuh semangat segera mengaji, dan ikut mendakwahkannya.Aku yang dulu mencintai Indonesia secara buta menjadi semakin mencintainya. Tentu dengan kacamata berbeda. Aku mencintai Indonesia karena negeri ini adalah titipan Allah untuk dilindungi dengan syariatnya.

Kuakui, pemikiranku banyak berubah sejak aku mengaji. Semua pandangan usangku diruntuhkan bersama kajian yang kujalani. Hal paling mendasar dari semua itu adalah tentang kepercayaanku kepada Garuda, burung emas yang selalu dibangga-banggakan kesaktiannya oleh guruku di sekolah dasar, dan menengah.

Garuda adalah lambang favoritku. Sebagaimana namaku yang dipenuhi dengan unsur fantasi, Garuda memiliki hal serupa. Pantas aku sempat mengidolakannya. Aku menerima semua doktrin mentah tentangnya di bangku sekolah dasar, tapi sekarang semua sudah berbeda. Pemahaman dari gerakan dakwah yang kuikuti membuat setiap inci penilaianku pada burung bermata satu tersebut tersungkur tanpa mampu bangkit kembali. Itulah kenapa, ketika seorang guru di bangku SMA mencoba menyuntikkan doktrin yang sama, aku tak lagi menerima.

Masih tegak dalam ingatanku ketika seorang guru dengan perawakan besar berpeci hitam, dan berpakaian parlente masuk ke dalam kelasku. Wajah beliau tegas. Hanya, kumisnya yang tipis membuat ketegasan itu meredup walau samar. Bapak guru tersebut membuka cakap begitu buku-buku di di tangannya diletakkan di atas meja.

“Assalamu’alaikum. Selamat pagi semua. Perkenalkan, saya Pak Kusno. Guru PKN atau Pendidikan Kewarganegaraan di kelas ini. Bapak   senang bisa kembali menularkan ilmu penting ini kepada para generasi baru bangsa seperti kalian. Tahukah kalian, kenapa Bapak senang mengajar materi ini? Bapak ingin selalu bisa meneladani bapak proklamator kita yang telah melahirkan Pancasila, Bung Karno. Itulah kenapa, bapakselalu menganjurkan para siswa sekalian, termasuk kalian untuk memanggil bapak dengan sebutan Bung Kusno. Bla..bla..”

Aku berdehem. Hatiku menyayangkan teladan yang guruku ikuti. Betapa sia-sia dirinya meneladani manusia biasa yang jauh dari sempurna. Tidakkah beliau sadar bahwa hanya dengan meneladani Baginda Nabi saja dengan mengajarkan Al Qur’an dan Sunnah-nya maka keteladanan itu akan diganjar dengan surga, dan menghasilkan generasi berkualitas untuk sejahterakan Indonesia, bahkan dunia.

Bapak paruh baya itumeneruskanperkenalannya dengan sesi tanya jawab. Kami dibolehkan bertanya tentang apapun yang masih ada hubungannya dengan PKN.Alisa, teman yang kuketahui ikut mengaji dalam gerakan dakwahku, mengangkat tangannya. Firasatku mengatakan dia akan menyuarakan satu pertanyaan kritis.

“Pak…”

Belum sampai pertanyaan terucap, guru kami menyela.

“Panggil saya Bung Kusno.”

“Kan saya siswi, Pak. Tadi bapak bilang yang dianjurkan menyebut bapak dengan sebutan Bung cuma siswa.”

Bung Kusno geleng-geleng. “OK, pertanyaannya apa?” Dia melanjutkan dengan tambahan. “Mulai sekarang, siswa dan siswi saya harus menyebut saya Bung Kusno.”

“Maaf, dan terimakasih Bung Kusno. Kebetulan, tadi Bung Kusno menyinggung kata Pancasila. Nah, saya jadi tertarik untuk menanyakan perihal pandangan Bung Kusno tentang sosok gagah burung Garuda yang dicetuskan di era Bung Karno sebagai simbol negara kita tersebut? Masihkah Indonesia pantas menyandangnya?Padahal kondisi negara kita saat ini jauh dari kata gagah lagi. Maksud saya, negeri ini sudah jauh dari kata berdaulat jika melihat tingkat korupsi, kemiskinan, kriminalisme bahkan prestasinya di dalam kancah dunia. Terimakasih.”

Bung Kusno diam sesaat, dan melempar kesempatan pada siswa lainnya untuk memberikan komentar, atau bahkan menjawab bila mampu. Semangat demonstrasiku yang masih berapi-api membuatku segera mengacungkan tangan tinggi-tinggi.

“Bung Kus, begini…”

“No-nya jangan ditinggalkan.” Beliau mengoreksi.

“Ya, maaf. Sedikit menanggapi pertanyaan tadi. Dalam pandangan saya, burung kita…”

Terdengar kasak kusuk di belakangku.

“Burung kita? Burung loe aja kali..”

Aku segera merevisi.

“Menurut saya, Burung Garuda justru sangat cocok menjadi lambang negara kita saat ini. Pertama, burung Garuda dan segala kegagahannya merupakan lambang yang tak lebih dari sebuah dongengan semata. Dengan kata lain, burung itu hanya rekayasa orang Indonesia tempoe doloe yang disesuaikan dengan tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan kita. Karena kemerdekaan negeri ini kebetulan jatuh pada tanggal tujuh belas dan bulan ke delapan yang keduanya pantas dipasangkan sebagai sayap dan ekor makhluk bernama burung, maka diangkatlah Garuda sebagai lambangnya. Tidak terbayang kalau misalnya negara ini merdeka tanggal dua bulan Januari, misalnya. Bisa jadi lambang yang diambil bukan burung, tapi capung! Kenapa? Memang, mana pantas burung Garuda hanya memiliki dua sayap dan sehelai ekor? Mikiir….”

Pandanganku sekelebat kuarahkan kepada teman-teman di kelas. Aku tak ingin Bung Kusno tersinggung.

“Maka, saya katakan, fakta Garuda sebagai burung dongeng memang menjadikannya sangat sesuai dalam melambangkan kemakmuran di negeri kita yang sampai sekarang juga tak lebih dari sebuah dongengan belaka. Tidak pernah nyata. Kemakmuran hanya di terucap dari bibir para pejabat saja, tanpa ada bukti nyata untuk merealisasikannya.”

“Terakhir, jenis kelamin si burung juga tidak jelas. Ada yang bilang jantan memang, tapi tak pernah terbukti. Saya jadi curiga jangan-jangan ini burung banci. Tentu ini juga sesuai sekali dengan negara kita yang selalu berpenampilan banci dan tak pernah berani menunjukkan kedaulatannya? Contoh, Indonesia tak pernah bilang “tidak” pada perintah Amerika biarpun harus merugikan rakyatnya sendiri.Indonesia tak pernah menolak ketika tambang minyak, batu bara, emas, bahkan kebijakan-kebijakan politiknya disetir oleh negara-negara lain. Jadi, Garuda memang pilihan yang sangat-sangat tepat untuk melambangkan negara kita dengan sistem kenegaraannya. Hidup Garuda!”

Seisi kelas tertawa keras dengan opiniku yang setengah mengkritik. Bung Kusno tampak tersenyum kecut nan sinis karena lambang yang dipujanya setengah dilecehkan, tapi masih bisa menahan diri. Beliau pandai menjaga sikap. Ditimpalinya komentarku kemudian denganpemaparantentang sejarah lambang burung Garuda yang dicetuskan Sultan Hamid II dari Pontianak berdasarkan lambang kerajaan Sintang, sebuah kerajaan Hindu yang didirikan seorang Tokoh Hindu dari Semenanjung Melaka bernama Aji Melayu, dilanjutkan dengan gambaran tentang Garuda yang dipercaya orang Hindu sebagai kendaraan Wishnu yang menyerupai burung elang rajawali.

“Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan harapan Indonesia agar menjadi bangsa yang besar dan negara yang kuat. Maka kalaupun sekarang Indonesia belum sejahtera, itu tidak ada kaitannya dengan burung Garuda. Toh, setidaknya dengan keberadaan burung Garuda, Indonesia masih tetap bertahan menjadi salah satu negara merdeka yang sukses bertahan dalam kedamaian hingga kini. Bisa jadi, Garuda adalah lambang yang memang Allah ridhoi.”

Tersentak diriku mendengar kesimpulan akhir beliau. Teori tanpa dalil, apalagi sampai membawa nama Allahadalah pembodohan. Kesuksesan bukan tolok ukur untuk melihat bahwa sebuah aktivitas pasti mendapat ridho Allah. Perbuatan manusia cuma diridhoi oleh-Nya ketika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai syariat Islam. Tak peduli perbuatan itu diikuti dengan kesuksesan atau tidak. Segera aku acungkan tangan lagi. Kali ini aku mengurai satu analogi untuk menyangkalbeliau

“Bung Kusno, mohon maaf. Seandainya ada orang yang mencuri, dan dia sukses dalam aksi pencuriannya, apakah dalam kacamata Islam ada jaminan bahwa perbuatannya pasti diridhoi oleh Alloh SWT? Apa dalilnya? Pun kalau tadi disebutkan bahwa Indonesia sukses bertahan dalam kedamaian, maka apakah kian maraknya kriminalitas, pemerkosaan, tawuran pelajar, perang antar suku atau agama seperti di Poso, serta pembantaian berdarah bagi tertuduh teroris oleh Densus 88 adalah bentuk kesuksesannya?”

Kata-kataku menyentak. Kelas hening. Mendadak, tak ada takut di benakku. Sesuai kata ustadzku dalam satu kajiannya, takut harus diperuntukkan bagi Allah semata. Tugas aktivis dakwah hanya menyampaikan, tapi hidayah tetap milik Allah.Pun, dakwah adalah bentuk kasih sayang pada sesama. Aku tak ingin Bung Kusno menerima murka Allah karena kekhilafan lisannya.

Muka Bung Kusno memucat. Tak ada jawaban.

Muka itu hingga sekarang tetaplah sama. Hanya tidak pucat lagi. Setelah sekian lama kutinggalkan beliau untuk menempuh kuliah. Hari ini, sekali lagi kami berhadapan. Erat kami berjabat tangan. Bung Kusno tampak sumringah. Tidak terlalu parlente.

“Garuda itu, Bapak juga ingin segera menggantinya dengan lafal syahadah. Tak ada solusi untuk negara ini selain dengan penerapan Islam secara kaafah. Terimakasih atas percerahanmu dulu.” []

Kavana Elkava

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

Virus Paling Ganas

Majalahdrise.com – D’Riser tau nggak sih, tanggal 1 Desember diperingati sebagai World AIDS Day alias Hari AIDS Sedunia. Yup, walaupun baru-baru ini dunia digalaukan dengan virus Ebola yang nggak kalah dahsyat dari AIDS, bukan berarti dunia sudah aman dari serangan negara api, eh, virus HIV. Penyakit AIDS merupakan wabah yang sangat berbuahaya D’Riser, sehingga digolongkan ke dalam 8 masalah Kesehatan Global (Global Health Issues).

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), yaitu virus yang menghancurkan atau mengganggu fungsi dari sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia. Bedanya dengan Ebola yang akan menular hanya dengan kontak cairan tubuh secara langsung dengan penderita yang menunjukkan gejala-gejala sakit parah, penularan HIV seringkali tak disadari karena bisa jadi orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala sakit sama sekali! Ngeriii!

Virus ini bisa menyebar melalui penyaluran cairan reproduksi, darah, dan air susu ibu (ASI). Tapi, seorang yang terinfeksi virus HIV tidak akan langsung menderita AIDS. Virus HIV akan menggerogoti sistem kekebalan tubuh rata-rata dalam waktu 10 tahun atau kurang. Ketika sistem imun tubuhnya sudah sangat rusak, barulah orang itu akan menderita AIDS. Penderita AIDS (biasa disebut ODHA) akan rentan dari berbagai penyakit ganas yang biasanya tidak menjangkiti orang-orang dengan sistem imun yang sehat. Bila tidak dirawat, rata-rata ODHA hanya bisa bertahan hidup 3 tahun saja. Sereem!

Virus Ebola

Seperti halnya Ebola, HIV/AIDS juga belum ada obat penyembuhnya lho, yang baru ada sekarang hanyalah terapi dan perawatan untuk memperlambat penyebaran virus HIV. Padahal, sudah puluhan tahun berlalu sejak penyakit ini pertama kali ditemukan. Menurut pelacakan tim peneliti dari universitas Oxford, Virus yang sudah menginfeksi hampir 75 juta orang di dunia ini berasal dari kota Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) pada tahun 1920.

HIV diyakini merupakan mutasi dari SIV (simian immunodeficiency virus) yang menjangkiti simpanse, yang menular kepada manusia karena proses berburu. Virus ini kemudian semakin menyebar akibat merajalelanya pelacuran dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril di kota yang sedang tumbuh tersebut. Seiring dengan berkembangnya sarana transportasi masuk dan keluar Kinshasa, virus HIV pun menyebar di wilayah Afrika dan akhirnya ke seluruh dunia.

Virus HIV memasuki Amerika di kisaran tahun 1980an, dan menyebar terutama di kalangan homoseksual (gay) dan pecandu narkoba yang menggunakan jarum suntik. Sebelumnya di tahun 1960, Amerika mengalami apa yang disebut “revolusi seksual” (sexual revolution) atau “pembebasan seksual” (sexual liberation), yang menggugat dan menjungkirbalikkan norma-norma sosial dan tata krama seksualitas. Yang semula tertutup menjadi terbuka. Yang semula terbatas menjadi bebas. Yang semula sembunyi-sembunyi, menjadi perayaan. Bahkan film porno pun ditayangkan untuk umum di bioskop. Hororr!

Maka dari itu, nggak heran bila di Amerika virus mematikan ini menyebar lebih cepat dibanding di negara lain. Bahkan karena banyak menjangkiti kaum gay, Pemerintahan Reagan pun menganggap AIDS sebagai “azab” dari Tuhan. Di Indonesia, kasus AIDS pertama ditemukan di Bali, yang diderita oleh seorang wisatawan asal Belanda. Dari tahun ke tahun, jumlah ODHA di Indonesia terus meningkat. Data Kemenkes, jumlah kasus HIV/AIDS yang tercatat sejak 1987 hingga Juni 2014 di Indonesia sebanyak 198.584 orang, dimana kasus HIV sebanyak 142.961 orang dan AIDS 55.623 orang. Naudzubillah…

Penderita AIDS di dunia maupun di Indonesia, mayoritas diakibatkan karena perilaku yang menyimpang, baik homoseksual, biseksual maupun seks bebas dan pelacuran. Dari para pelaku maksiat ini, AIDS bisa menyebar kepada “orang tak berdosa” melalui transfusi darah, pernikahan bahkan pada janin yang masih dalam kandungan.

Karena itu, solusi terbaik untuk mengatasi masalah AIDS ini adalah solusi preventif, alias mencegah penyebaran virus HIV sampai ke akar masalah diantaranya yaitu menghilangkan praktek seks bebas dan homoseksual. Islam, sejak 14 abad yang lalu sudah mengharamkan zina dan liwath (homoseksual) dengan tegas dan keras. Bukan cuma itu, celah-celah yang bisa mengantarkan terhadap zina dan liwath pun ditutup sedemikian rupa, misalnya melarang lelaki & perempuan berkhalwat (berduaan), melarang pacaran, melarang untuk tidur dalam satu selimut baik antara laki-laki maupun perempuan, sampai pada larangan untuk melihat aurat.

Inilah salah satu hikmah dari ketatnya aturan Islam dalam urusan seksual, tidak lain untuk melindungi manusia dari kehancuran akibat perbuatan manusia sendiri. Padahal ketika kerusakan itu terjadi, yang kena bukan hanya para pelaku kebejatan itu, tapi termasuk juga orang-orang lain di sekitar mereka. Makanya D’Riser, daripada maksiat, mendingan taat, InsyaAlloh selamat dunia akhirat.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42