PARODI GARUDA

Majalahdrise.com – Ukiran burung emas itu masih terpajang di atas papan tulis kelasku seperti dulu. Aku memandangnya tanpa kebanggaan lagi sebagaimana saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah.

Seorang guru SMA tampak datang tergopoh-gopoh menghampiriku, danmenyapa.

“Ka-el, apa kabar? Lama sekali bapak tak melihatmu.”

Aku tersenyum balik, dan menjabat tangan beliau. Erat.

Ka-el, itu namaku. Sebuah nama yang absurd. Seabsurd kisah tentang bagaimana aku memperolehnya.

Bapakku sangat mencintai Superman, manusia fatamorgana paling legendaris dari planet krypton. Koleksi tentang si manusia baja, mulai dari beberapa poster, kaos, action figure, dan barang aneh lainnya pun menghambur di rumah kami. Tingginya rasa cinta pada sang idola membuat beliau sampai terobsesi untuk memberi nama anak laki-laki pertamanya sesuai dengan nama asli tokoh komik Amerika itu. Dalam kasus ini, akulah korbannya. Seorang bocah dengan nama bak si Manusia Baja tapi tanpa kekuatan super, tanpa logo S di dada, tanpa baju ketat, tanpa sayap, dan ehm, tanpa celana dalam di luar yang dulu merupakan salah satu icon utama superhero berjubah merah ini. Perut kami juga beda. Superman selalu digambarkan six packs, sedang aku setia dengan without pack.

Ada satu lagi perbedaan kami. Nama asli Superman adalah Kal-el, dan namaku Ka saja tanpa L. Ketika kutanyakan alasannya pada bapak, beliau ngotot bahwa nama asli Superman memang tanpa L.

“Nama aslinya memang Ka-el. Persis nama kamu. Bapak tidak mungkin salah. Gini-gini bapak sudah 40 tahun lebih jadi fans berat Superman.”

Bapak selalu membanggakan diri sebagai pemuja sejati si Man of Steel meski aku yakin beliau tak pernah menonton filmnya sampai habis atau membaca komiknya. Beliau selalu tertidur tiap nonton TV, dan beliau juga tak suka membaca, kecuali resep dokter. Itu juga karena terpaksa. Tapi aku tak pernah protes. Aku tahu, meski tampak konyol, sejatinya beliau memiliki maksud baik dengan memberiku nama ini.

Tak habis-habisnya beliau memberiku wejangan ketika aku masih kecil tentang makna yang beliau sematkan di akte kelahiranku.

“El, kamu lihat itu Superman. Tak kenal lelah dia mengupayakan keamanan bagimasyarakatnya. Selalu geram manakala melihat kejahatan. Nak, bapak pengen kelak kamu juga sama seperti Superman. Selalu memikirkan bagaimana agar masyarakat negeri ini – Indonesia – bisa mencapai keamanan, bahkan kemakmuran. Bukan kemelaratan.”

Sesuai teori marketing, seseorang baru akan tertarik membeli barang ketika nama barang itu setidaknya sudah disuarakan sebanyak dua puluh tiga kali. Nah, petuah bapak itu sudah menggema di telingaku lebih dari seratus kali, maka bukan hanya tertarik aku pada perintah itu, tapi kata-kata bapakku adalah harga mati.

Mungkin, itulah dorongan utama kenapa begitu bersentuhan dengan gerakan dakwah untuk menerapkan syariat Islam secara kaafah demi memakmurkan dan mensejahterakan Indonesia, aku dengan penuh semangat segera mengaji, dan ikut mendakwahkannya.Aku yang dulu mencintai Indonesia secara buta menjadi semakin mencintainya. Tentu dengan kacamata berbeda. Aku mencintai Indonesia karena negeri ini adalah titipan Allah untuk dilindungi dengan syariatnya.

Kuakui, pemikiranku banyak berubah sejak aku mengaji. Semua pandangan usangku diruntuhkan bersama kajian yang kujalani. Hal paling mendasar dari semua itu adalah tentang kepercayaanku kepada Garuda, burung emas yang selalu dibangga-banggakan kesaktiannya oleh guruku di sekolah dasar, dan menengah.

Garuda adalah lambang favoritku. Sebagaimana namaku yang dipenuhi dengan unsur fantasi, Garuda memiliki hal serupa. Pantas aku sempat mengidolakannya. Aku menerima semua doktrin mentah tentangnya di bangku sekolah dasar, tapi sekarang semua sudah berbeda. Pemahaman dari gerakan dakwah yang kuikuti membuat setiap inci penilaianku pada burung bermata satu tersebut tersungkur tanpa mampu bangkit kembali. Itulah kenapa, ketika seorang guru di bangku SMA mencoba menyuntikkan doktrin yang sama, aku tak lagi menerima.

Masih tegak dalam ingatanku ketika seorang guru dengan perawakan besar berpeci hitam, dan berpakaian parlente masuk ke dalam kelasku. Wajah beliau tegas. Hanya, kumisnya yang tipis membuat ketegasan itu meredup walau samar. Bapak guru tersebut membuka cakap begitu buku-buku di di tangannya diletakkan di atas meja.

“Assalamu’alaikum. Selamat pagi semua. Perkenalkan, saya Pak Kusno. Guru PKN atau Pendidikan Kewarganegaraan di kelas ini. Bapak   senang bisa kembali menularkan ilmu penting ini kepada para generasi baru bangsa seperti kalian. Tahukah kalian, kenapa Bapak senang mengajar materi ini? Bapak ingin selalu bisa meneladani bapak proklamator kita yang telah melahirkan Pancasila, Bung Karno. Itulah kenapa, bapakselalu menganjurkan para siswa sekalian, termasuk kalian untuk memanggil bapak dengan sebutan Bung Kusno. Bla..bla..”

Aku berdehem. Hatiku menyayangkan teladan yang guruku ikuti. Betapa sia-sia dirinya meneladani manusia biasa yang jauh dari sempurna. Tidakkah beliau sadar bahwa hanya dengan meneladani Baginda Nabi saja dengan mengajarkan Al Qur’an dan Sunnah-nya maka keteladanan itu akan diganjar dengan surga, dan menghasilkan generasi berkualitas untuk sejahterakan Indonesia, bahkan dunia.

Bapak paruh baya itumeneruskanperkenalannya dengan sesi tanya jawab. Kami dibolehkan bertanya tentang apapun yang masih ada hubungannya dengan PKN.Alisa, teman yang kuketahui ikut mengaji dalam gerakan dakwahku, mengangkat tangannya. Firasatku mengatakan dia akan menyuarakan satu pertanyaan kritis.

“Pak…”

Belum sampai pertanyaan terucap, guru kami menyela.

“Panggil saya Bung Kusno.”

“Kan saya siswi, Pak. Tadi bapak bilang yang dianjurkan menyebut bapak dengan sebutan Bung cuma siswa.”

Bung Kusno geleng-geleng. “OK, pertanyaannya apa?” Dia melanjutkan dengan tambahan. “Mulai sekarang, siswa dan siswi saya harus menyebut saya Bung Kusno.”

“Maaf, dan terimakasih Bung Kusno. Kebetulan, tadi Bung Kusno menyinggung kata Pancasila. Nah, saya jadi tertarik untuk menanyakan perihal pandangan Bung Kusno tentang sosok gagah burung Garuda yang dicetuskan di era Bung Karno sebagai simbol negara kita tersebut? Masihkah Indonesia pantas menyandangnya?Padahal kondisi negara kita saat ini jauh dari kata gagah lagi. Maksud saya, negeri ini sudah jauh dari kata berdaulat jika melihat tingkat korupsi, kemiskinan, kriminalisme bahkan prestasinya di dalam kancah dunia. Terimakasih.”

Bung Kusno diam sesaat, dan melempar kesempatan pada siswa lainnya untuk memberikan komentar, atau bahkan menjawab bila mampu. Semangat demonstrasiku yang masih berapi-api membuatku segera mengacungkan tangan tinggi-tinggi.

“Bung Kus, begini…”

“No-nya jangan ditinggalkan.” Beliau mengoreksi.

“Ya, maaf. Sedikit menanggapi pertanyaan tadi. Dalam pandangan saya, burung kita…”

Terdengar kasak kusuk di belakangku.

“Burung kita? Burung loe aja kali..”

Aku segera merevisi.

“Menurut saya, Burung Garuda justru sangat cocok menjadi lambang negara kita saat ini. Pertama, burung Garuda dan segala kegagahannya merupakan lambang yang tak lebih dari sebuah dongengan semata. Dengan kata lain, burung itu hanya rekayasa orang Indonesia tempoe doloe yang disesuaikan dengan tanggal, bulan dan tahun kemerdekaan kita. Karena kemerdekaan negeri ini kebetulan jatuh pada tanggal tujuh belas dan bulan ke delapan yang keduanya pantas dipasangkan sebagai sayap dan ekor makhluk bernama burung, maka diangkatlah Garuda sebagai lambangnya. Tidak terbayang kalau misalnya negara ini merdeka tanggal dua bulan Januari, misalnya. Bisa jadi lambang yang diambil bukan burung, tapi capung! Kenapa? Memang, mana pantas burung Garuda hanya memiliki dua sayap dan sehelai ekor? Mikiir….”

Pandanganku sekelebat kuarahkan kepada teman-teman di kelas. Aku tak ingin Bung Kusno tersinggung.

“Maka, saya katakan, fakta Garuda sebagai burung dongeng memang menjadikannya sangat sesuai dalam melambangkan kemakmuran di negeri kita yang sampai sekarang juga tak lebih dari sebuah dongengan belaka. Tidak pernah nyata. Kemakmuran hanya di terucap dari bibir para pejabat saja, tanpa ada bukti nyata untuk merealisasikannya.”

“Terakhir, jenis kelamin si burung juga tidak jelas. Ada yang bilang jantan memang, tapi tak pernah terbukti. Saya jadi curiga jangan-jangan ini burung banci. Tentu ini juga sesuai sekali dengan negara kita yang selalu berpenampilan banci dan tak pernah berani menunjukkan kedaulatannya? Contoh, Indonesia tak pernah bilang “tidak” pada perintah Amerika biarpun harus merugikan rakyatnya sendiri.Indonesia tak pernah menolak ketika tambang minyak, batu bara, emas, bahkan kebijakan-kebijakan politiknya disetir oleh negara-negara lain. Jadi, Garuda memang pilihan yang sangat-sangat tepat untuk melambangkan negara kita dengan sistem kenegaraannya. Hidup Garuda!”

Seisi kelas tertawa keras dengan opiniku yang setengah mengkritik. Bung Kusno tampak tersenyum kecut nan sinis karena lambang yang dipujanya setengah dilecehkan, tapi masih bisa menahan diri. Beliau pandai menjaga sikap. Ditimpalinya komentarku kemudian denganpemaparantentang sejarah lambang burung Garuda yang dicetuskan Sultan Hamid II dari Pontianak berdasarkan lambang kerajaan Sintang, sebuah kerajaan Hindu yang didirikan seorang Tokoh Hindu dari Semenanjung Melaka bernama Aji Melayu, dilanjutkan dengan gambaran tentang Garuda yang dipercaya orang Hindu sebagai kendaraan Wishnu yang menyerupai burung elang rajawali.

“Garuda digunakan sebagai Lambang Negara untuk menggambarkan harapan Indonesia agar menjadi bangsa yang besar dan negara yang kuat. Maka kalaupun sekarang Indonesia belum sejahtera, itu tidak ada kaitannya dengan burung Garuda. Toh, setidaknya dengan keberadaan burung Garuda, Indonesia masih tetap bertahan menjadi salah satu negara merdeka yang sukses bertahan dalam kedamaian hingga kini. Bisa jadi, Garuda adalah lambang yang memang Allah ridhoi.”

Tersentak diriku mendengar kesimpulan akhir beliau. Teori tanpa dalil, apalagi sampai membawa nama Allahadalah pembodohan. Kesuksesan bukan tolok ukur untuk melihat bahwa sebuah aktivitas pasti mendapat ridho Allah. Perbuatan manusia cuma diridhoi oleh-Nya ketika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai syariat Islam. Tak peduli perbuatan itu diikuti dengan kesuksesan atau tidak. Segera aku acungkan tangan lagi. Kali ini aku mengurai satu analogi untuk menyangkalbeliau

“Bung Kusno, mohon maaf. Seandainya ada orang yang mencuri, dan dia sukses dalam aksi pencuriannya, apakah dalam kacamata Islam ada jaminan bahwa perbuatannya pasti diridhoi oleh Alloh SWT? Apa dalilnya? Pun kalau tadi disebutkan bahwa Indonesia sukses bertahan dalam kedamaian, maka apakah kian maraknya kriminalitas, pemerkosaan, tawuran pelajar, perang antar suku atau agama seperti di Poso, serta pembantaian berdarah bagi tertuduh teroris oleh Densus 88 adalah bentuk kesuksesannya?”

Kata-kataku menyentak. Kelas hening. Mendadak, tak ada takut di benakku. Sesuai kata ustadzku dalam satu kajiannya, takut harus diperuntukkan bagi Allah semata. Tugas aktivis dakwah hanya menyampaikan, tapi hidayah tetap milik Allah.Pun, dakwah adalah bentuk kasih sayang pada sesama. Aku tak ingin Bung Kusno menerima murka Allah karena kekhilafan lisannya.

Muka Bung Kusno memucat. Tak ada jawaban.

Muka itu hingga sekarang tetaplah sama. Hanya tidak pucat lagi. Setelah sekian lama kutinggalkan beliau untuk menempuh kuliah. Hari ini, sekali lagi kami berhadapan. Erat kami berjabat tangan. Bung Kusno tampak sumringah. Tidak terlalu parlente.

“Garuda itu, Bapak juga ingin segera menggantinya dengan lafal syahadah. Tak ada solusi untuk negara ini selain dengan penerapan Islam secara kaafah. Terimakasih atas percerahanmu dulu.” []

Kavana Elkava

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

Leave a Reply

Your email address will not be published.