Dua Abdullah di Medan Perang

Majalahdrise.com –  Semasa hidup Rasulullah saw. pernah terjadi dua buah perang yang di dalamnya terlibat dua orang bernama Abdullah. Abdullah yang pertama adalah Abdullah bin Rawahah, yang kedua, Abdullah bin Qim’ah. Abdullah pertama adalah seorang Muslim dan menjadi pahlawan Islam, sementara Abdullah kedua adalah seorang musyrik dan telah memerangi Rasulullah saw., lalu mendapatkan kematian yang sangat buruk.

Abdullah bin Rawahah

Abdullah bin Rawahah adalah seorang sahabat Rasulullah Muhammad saw. yang terlibat dalam peristiwa Bai’at Aqabah. Ia adalah salah seorang yang terpandang di Madinah dan turut menyerahkan ketaatan dan kesetiaan kepada Rasulullah saw. Saat 12 orang dari Madinah menghadap Rasulullah secara sembunyi-sembunyi di Bukit Aqabah, Abdullah bin Rawahah hadir di sana. Begitu pula pada peristiwa Bai’at Aqabah kedua yang terjadi setahun kemudian, Abdullah bin Rawahah pun hadir di sana.

Setelah Rasulullah Muhammad saw. hijrah ke Madinah dan kota itu diubah menjadi Negara Islam yang pertama, Abdullah bin Rawahah tetap memberikan sumbangsihnya yang tiada tara untuk Islam. Seperti dikisahkan oleh Khalid Muhammad Khalid dalam Rijalun Hawlar Rasul, Abdullah bin Rawahah bertugas untuk mengawasi gerak-gerik Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafik Madinah. Sebenarnya sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul hendak dinobatkan untuk menjadi penguasa Madinah. Tetapi ketika orang-orang Madinah mendapatkan pencarahan dari dakwah Islam, mereka segera meninggalkan Abdullah bin Ubay bin Salul dan mendukung Rasulullah saw. untuk memimpin seluruh Madinah dan menerapkan syariat Islam di sana. Hal ini jelas saja membuat Abdullah bin Ubay bin Salul memendam dendam, dan sampai akhir hayatnya dia tak henti membuat konspirasi untuk menghancurkan Islam. Namun sepak terjangnya itu selalu berada di bawah pengawasan Abdullah bin Rawahah.

Abdullah bin Rawahah adalah juga seorang penyair kawakan. Setelah ia masuk Islam, semua syairnya didedikasikan untuk Islam. Rasulullah saw. amat menyukai syair-syairnya. Medan perang yang mencatat nama Abdullah bin Rawahah adalah medan Perang Mu’tah. Pada perang ini, pasukan Islam berhadapan dengan pasukan Romawi Bizantium untuk yang pertama kali.

Jumlah pasukan musuh jauh lebih banyak, dan hal itu cukup menggoyang nyali pasukan Muslim hingga muncullah suara-suara untuk meminta pasukan bantuan kepada Rasulullah saw. Namun dengan gagah berani Abdullah bin Rawahah menguatkan kembali tekad dan semangat jihad di hati pasukan Islam. Sebagaimana diperintahkan Rasulullah saw., Abdullah bin Rawahah mengambilalih komando pasukan setelah Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib gugur di medan perang. Ia berjuang habis-habisan hingga ia sendiri gugur sebagai syahid. Di tengah-tengah para sahabatnya di Madinah, Rasulullah bersabda: “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku, di surga.”

Abdullah yang pertama telah mendapatkan tempat terbaik di surga. Berbeda halnya dengan Abdullah yang kedua, Abdullah bin Qim’ah. Mungkin kita jarang sekali mendengar nama Abdullah bin Qim’ah, walaupun dia pernah melakukan sesuatu yang amat memilukan. Kisahnya bisa kita telusuri dari Perang Uhud.

Kafir Quraisy menghimpun pasukannya untuk Perang Uhud pada Sabtu, 7 Syawal tahun 3 Hijriyah. Pasukan dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Sebanyak 3000 personil ini sebagian di antaranya adalah para wanita yang sengaja dibawa untuk memacu semangat para prajurit. Para wanita ini memainkan alat musik dan menyanyikan kasidah-kasidah kepahlawanan mereka. Jika nanti ada yang hendak melarikan diri dari medan perang, maka mereka akan memukulinya dan minta cerai dari mereka.

Pasukan Islam kalah dalam perang ini. Sebuah kekalahan yang pertama bagi pasukan Islam dalam peperangan. Kekalahan ini terjadi karena kemaksiatan pasukan panah yang mengabaikan perintah Rasulullah saw. untuk tetap berada di atas bukit, apa pun yang terjadi. Pada awalnya pasukan Islam berhasil menguasai keadaan, dan ‘terlihat’ menang. Sebagian pasukan panah yang ditempatkan di atas bukit tergoda dengan harta rampasan perang (ghanimah). Mereka pun turun dari bukit walaupun pemimpin mereka, Abdullah bin Jabir, telah memberikan peringatan keras. Ketika itulah pasukan kavaleri yang dipimpin Khalid bin Walid (saat itu masih kafir), mengitari bukit yang sudah tidak terjaga dan mendadak muncul dari barisan belakang pasukan Islam. Kekacauan pun terjadi, pasukan Islam kocar-kacir. Kemenangan yang tadinya sudah di depan mata, sirna entah ke mana.

Rasulullah saw. menghadapi keadaan terdesak. Pasukan musuh sudah mengepungnya, sementara pasukan Islam sudah berhamburan entah ke mana. Beberapa orang sahabat mati-matian membela dan melindungi Rasulullah saw. Mereka menjadikan diri mereka sendiri sebagai tameng hidup bagi sang Nabi. Awalnya hanya 9 orang sahabat yang mati-matian melindungi Rasulullah saw., tetapi kemudian bertambah menjadi 30 orang. Serangan yang ditujukan kepada diri Rasulullah saw. amatlah hebat sehingga beliau pun mendapatkan luka-luka.

Abdullah bin Qim’ah

Salah seorang kafir Quraisy yang dengan bringas menyerang Rasul adalah Abdullah bin Qim’ah. Dia mengayunkan senjatanya hendak mencabut nyawa Rasulullah saw., namun datanglah Mush’ab bin ‘Umair yang menjadi pembela Rasulullah saw. Mereka pun mengadu senjata dan Mush’ab bin Umair syahid di tangan Abdullah bin Qim’ah.

Setelah menghabisi Mush’ab bin Umari, Abdullah bin Qim’ah kembali kepada sasaran utama, Rasulullah saw. Ia segera mengalihkan pandangannya kepada Rasulullah saw. dan melancarkan serangan mematikan. Jika kita pernah mendengar bahwa gigi Rasulullah tanggal pada Perang Uhud, maka Abdullah bin Qim’ah inilah pelakunya. Syaikh Hani al-Hajj mengisahkan bahwa Abdullah bin Qim’ah mematahkan gigi Rasulullah, melukai pelipisnya, begitu juga menyobek bibir bawah bagian dalam, ditambah lagi melukai pundak dan lutut Rasulullah dengan pedangnya. Dari Ibnu Abbas ra., dia berkata: “Allah swt. sangat murka kepada orang yang telah melempar wajah Rasulullah saw.”

Seperti diriwayatkan dari Abdurrahman bin Zaid bin Jabir, ketika Abdullah bin Qim’ah berhasil melukai Rasulullah saw., dia sesumbar: “Ambillah gigi itu dariku, aku adalah Abdullah bin Qim’ah.” Rasulullah saw. menyahut: “Allah swt. pasti akan menghinakanmu.” Maka apa yang kemudian terjadi pada Abdullah bin Qim’ah adalah tragedi.

Abdurrahman bin Zaid bin Jabir kembali mengisahkan, setelah usai Perang Uhud, semuanya kembali ke kediamannya masing-masing, begitu juga Abdullah bin Qim’ah. Suatu hari, ia kembali menggembalakan kambing-kambingnya di puncak sebuah bukit terjal di pinggiran kota Makkah. Jumlah kambingnya cukup banyak dan ia berjalan di tengah-tengah kerumunan kambing-kambingnya. Tiba-tiba ada seekor kambing jantan yang marah dan menanduknya hingga ia tersungkur di tanah. Si kambing tidak sudi berhenti, dan terus menyeruduk Abdullah bin Qim’ah hingga luka-luka, dan si kambing pun seolah belum puas. Ia terus menyeruduk hingga Abdullah bin Qim’ah terdorong ke tepian bukit terjal itu dan terjatuh. Di dasar bukit itu ia tewas dengan tubuh terkoyak-koyak. Sebuah akhir tragis dari orang yang melempar wajah Rasulullah saw.[Sayf Muhammad Isa]

MITOS PENULIS #2 Menepis Stigma Penulis Fiksi Tukang Boong

Majalahdrise.com – Salam kreatif bagi fans rubrik writerpreneur. To the by point aja ya, pada edisi kali ini, kita mo ngebahas mitos keempat penulis, yaitu para penulis (fiksi) tuh tukang ngibul bin tukang bo’ong alias suka ngadalin para pembacanya, nyambung juga sama mitos ketiga sebelumnya, yaitu penulis tuh tukang ngarang bin tukang ngedongeng! Hehehe… kita ulik bareng-bareng, yuk?!

Sebenernya, kalo penulis fiksi dianggap sebagai tukang bo’ong seh, ada benernya juga, kalo yang baca karya fiksinya itu adalah orang yang nggak berpendidikan ataunggak nyadar bahwa karya yang dibacanya adalah kisah rekaan, hasil imajinasi seorang penulis. Namun, kalo Si Pembaca itu nyadar bahwa apa yang dibacanya adalah sebuah karya fiksi maka dia akan memahami bahwa itu adalah cerita rekaan yang belum tentu ada dalam kenyataan. Artinya, dia sadar sepenuhnya bahwa dia bersedia untuk dikelabui atau dibo’ongi oleh Si Penulis.

Kesediaan Si Pembaca untuk dikelabui oleh Si Penulis inilah yang membedakannya dengan fakta kebohongan karena sebuah kebohongan terjadi ketika seorang komunikator (penyampai pesan) mengomunikasikan pesan yang tidak sesuai dengan faktanya kepada komunikan (penerima pesan). Si Komunikan pun nggak nyadar bahwa informasi dari Si Komunikator itu sebuah kebohongan. Nah, ketauan kan, dimana letak perbedaannya?!

So, siapapun di antara kita yang berkenan untuk membaca cerita fiksi, baik itu berupa cerpen, cerbung, novelet dan novel, sudah sejak awal bersedia untuk dikelabui. Tidak ubahnya kita nonton film ataupun pertunjukan drama (teater). Pada saat kita membayar harga buku cerita atau membeli karcis masuk, tanpa diberitahu pun kita akan paham bahwa cerita dalam buku ataupun film dan teater itu hanyalah rekaan belaka. Berbeda halnya kalo buku yang kitabaca adalah otobiografi atau film yang kita tonton adalah film dokumenter yang didasarkan pada fakta sebenarnya.

Namun, kesediaan kita dikelabui oleh penulis fiksi ataupun penulis skenario/sutradara tentu ada batasnya, yaitu ketika cerita itu nggak membangkitkan tanggapan emosional atau nggak logis alias nggak masuk akal jalan ceritanya. Seperti apa yang diungkap oleh Mohammad Diponegoro, penulis novel Siklus yang memenangkan Sayembara Menulis DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) taon 1997, ia menyatakan bahwa, “batas kesediaan orang dikelabui adalah ketika ketidaksungguhan cerita khayal itu muncul telanjang sebagai ketidaksungguhan yang betul-betul tak sungguh. Ketika itulah, hubungan antara cerita dan pembaca menjadi patah.”. Artinya, selama cerita itu masih tampak sungguhan, para pembaca atau para penontonnya mau saja dikelabui.

Pendapat Diponegoro ini sudah jadi konvensi umum di jagat sastra dunia, seperti apa yang diungkap oleh Bapak Cerpen Modern, Edgar Allan Poe, bahwa salah satu dari lima aturan cerpen adalah dia harus tampak sungguhan. Menurut Poe, “tampak sungguhan” ini adalah dasar dari semua seni mengisahkan cerita. Semua fiksi nggak boleh kentara hanya bikinan, sekalipun semua orang tahu bahwa itu adalah kisah rekaan belaka. Semua tokoh ceritanya harus keliatan sungguhan, bicara dan berlaku seperti manusia yang bener-bener hidup.

Oleh karena itu, seorang penulis fiksi jangan nyari plot atau alur yang mustahil. Jangan pula melebih-lebihkan tokoh ceritanya seperti karikatur atau kartun. Trus…, jangan pula membiarkan tokoh ceritanya itu berlaku atau bicara plin-plan, tak konsisten, ungkap Poe menguraikan teorinya itu.

Mau contoh kongkretnya, Bro and Sist? Baca deh, cerita Winetou dan Old Shatterhand karya fenomenal dari Karl May. Ceritanya asyik banget, mengisahkan persahabatan penuh nuansa heroisme antara kepala suku Indian Apache dengan petualang kulit putih di Benua Amerika. Padahal saat nulis ceritanya itu, Karl May belum pernah datang ke tanah kediaman orang-orang Indian itu. Tapi, dia sanggup membingkai fakta-fakta kehidupan orang Indian yang diketahuinya jadi sebuah cerita fiksi yang tampak hidup dan sungguhan sehingga banyak para pembaca ceritanya itu bersedia untuk dikelabui.

Saya juga pernah menulis karya seperti apa yang ditulis Karl May, yaitu menulis buku kumpulan cerita islami Impian Terindah yang meraih predikat best seller di masa booming fiksi Islami. Setengah dari isi buku itu berlatar Turki dan Timur Tengah, padahal saya sama sekali belum pernah singgah ke jantungnya umat Islam itu. Saya hanya menghimpun fakta, data dan berita tentang Turki dan Timur Tengah melalui buku, gugling dan bertanya plus diskusi dengan sohib-sohib yang pernah kesana. Selanjutnya, saya membangun dunia rekaan dengan memadupadankan fakta, data dan berita yang berhasil dihimpun tadi untuk menghadirkan ”tampak sungguhan” demi meyakinkan para pembaca. Hasilnya, Impian Terindah menembus angka penjualan 5.000 exp sekaligus repeat order kurang dari sebulan!

Jadi, inti dari semua seni bercerita fiksi adalah tampak sungguhan. Para penulisnya memiliki tugas membuat cerita khayalan yang tampak sungguhan, meskipun dia menulis cerita-cerita fabel atau cerita tentang dunia binatang. Tokoh-tokoh binatang yang diceritakannya itu harus “tampak manusiawi” (dalam berbicara dan bertingkah laku) untuk dapat “dipercaya”, dengan kata lain agar tampak sungguhan di mata para pembacanya.

Kini, apakah kamu masih nganggap penulis (fiksi) itu sebagai tukang bo’ong? Kalo masih berasumsi gitu, baca lagi deh, tulisan ini dari awal?! Atau mulai deh belajar bikin tulisan fiksi yang menginspirasi. Yuk ya yuk…! []

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

 

Cut Nyak Dien: Ratu Perang

MajalahDrise.com – Wanita yang seolah terbuat dari baja ini hidup sekitar 140 tahun yang lalu, amat jauh jaraknya dengan zaman kita sekarang. Namanya pun mungkin hampir saja dilupakan oleh generasi kita, dan kalau pun ada yang masih ingat, tak lebih sekadar karena ada nama jalan yang mengambil namanya. Padahal ketika namanya disebut, saat itulah akan tergambar tentang kegigihan dan perjuangan. Dialah sosok pejuang yang begitu ditakuti penjajah Belanda semasa dia masih hidup, dan namanya dikenang ketika dia sudah tiada. Dialah Cut Nyak Dien: Ratu Perang. Dan tulisan yang amat sederhana ini hendak mengisahkan kembali kegigihan dan perjuangannya yang mengagumkan.

Pada Maret 1873, Belanda mengumumkan perang secara resmi kepada Aceh (saat itu masih berbentuk kesultanan). Deklarasi perang yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, ini disusul oleh datangnya balatentara Belanda sebanyak 3000 prajurit. Di bawah kepemimpinan Jenderal Johann Harmenn Rudolf Kohler, Belanda membombardir Aceh, namun Muslim Aceh menolak menyerah. Dengan semangat jihad berkobar di dalam dada, mereka melawan dengan persenjataan yang mereka miliki. Belanda gagal menguasai Aceh setelah Kohler tertembak di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, dan seluruh kekuatan militer Belanda ditarik mundur ke Batavia.

Pada November tahun itu juga, Belanda kembali mengirimkan ekspedisi militer kedua ke Aceh. Dengan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak, dan persenjataan yang jauh lebih lengkap, Belanda menyerbu Aceh. Di bawah kepemimpinan seorang Jenderal tua, Jan van Swieten, Belanda akhirnya berhasil merebut istana Sultan Aceh, Darud Dunya, dan merebut Banda Aceh.

Belanda mengira bahwa dengan dikuasainya Banda Aceh dan istana sultan berarti seluruh Aceh secara otomatis sudah ditaklukkan, padahal tidak. Sultan Mahmud Shah yang melarikan diri pada akhirnya wafat dan dikebumikan di Longbata. Setelah ini, dimulailah Perang Aceh yang bertahan hingga puluhan tahun.

Cut Nyak Dien: Ratu Perang

Seperti dikutip dari De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsch Indie van 1811 tot 1894 karya G.B. Hooijer, di dalam pengantar penerjemah untuk buku Atjeh karya H.C. Zentgraff, terdapat gambaran tentang betapa gigihnya Muslim Aceh berperang: “Tidak ada pasukan Diponegoro atau Sentot, baik orang-orang Padri yang fanatik maupun rombongan orang-orang Bali atau massa berkuda orang-orang Bone, seperti yang pernah diperagakan oleh para pejuang Aceh yang begitu berani dan tak takut mati menghadapi serangan, yang begitu besar menaruh kepercayaan pada diri sendiri, yang sedemikian gigih menerima nasibnya, yang cinta kemerdekaan, yang bersikap sedemikian fanatik seolah-olah mereka dilahirkan untuk menjadi gerilyawan bangsanya. Oleh sebab itu, perang Belanda di Aceh akan tetap menjadi sumber pelajaran bagi pasukan kita. Dan karena itu pula saya menganggap tepat sekali jika jilid III atau terakhir sejarah perang (Belanda di Hindia Belanda) itu seluruhnya saya peruntukkan guna menguraikan peperangan di Aceh.” Perang Aceh, sebuah perang besar yang melibatkan Cut Nyak Dien di dalamnya.

Biografi Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien dilahirkan pada 1848 atau 1858 di Lampadang, wilayah Enam Mukim, di Banda Aceh. Dia adalah putri dari Teuku Nanta Seutia, Uleebalang Enam Mukim. Dididik dengan wawasan Islam yang kental semenjak kecil membuat Cut Nyak Dien mencintai agamanya dan negerinya sebagaimana diajarkan Islam. Ini pulalah yang membuatnya benci setengah mati kepada Belanda. Dia adalah wanita yang amat berpengaruh, dan sedemikian besarnya pengaruhnya sampai-sampai Belanda menyadarinya. Inilah yang dicatat oleh koran Bataviaasche Handelsblad yang terbit di Batavia sekitar tahun 1894: “Zoo, staat Teuku Umar de man van het oogenblik in Groot Atjeh, geheel onder den invloed van zijn Tjut Nya’ Din,” (demikianlah, Teuku Umar, orang paling penting dewasa ini di Aceh Besar, sepenuhnya berada di bawah pengaruh istrinya, Cut Nyak Dien) (Mohammad Said, hal. 247. 1965).

Mohammad Said juga menyatakan bahwa Belanda seringkali menyebut “Shruck” (bajingan) kepada Teuku Umar karena pengkhianatannya, tetapi mereka tidak pernah menyebut demikian kepada Cut Nyak Dien. Padahal sudah banyak nyawa prajurit Belanda yang melayang karena strategi-strateginya. C. van der Pol pun berkomentar tentang Cut Nyak Dien: “…een der merkwaardigeste vrouwen in Nederland Indie,” (salah seorang wanita yang paling menakjubkan di Hindia Belanda).

Bekas Residen Belanda Jongejans menulis tentang Cut Nyak Dien: “Sebagai istri-istri dari banyak pemimpin pejuang, Cut Nya’ Din lebih sangat fanatik lagi dari suaminya, dalam hal tidak mengenal takluk. Segala kisah tentang dia serupa ceritanya, terutama bagaimana Nya’ Din senantiasa mendorong dan menggosok suaminya supaya tetap jihad memerangi Belanda. Satu diantara sebab utama maka Umar balik lagi ke pangkuan perjuangan Aceh adalah karena Cut Nya’ Din. Dia menemani Umar ke mana saja, turut merasa pahit pedih perjuangan dan terus mengingatkan bahwa meski bagaimanapun tak bolehlah menyerah. Bahkan sejak Umar wafat, ruh suaminya memberi dorongan kepadanya untuk terus tabah menderita, menyambut kelanjutan pahit perjuangan bersama-sama dengan pengikutnya. Begitulah, masuk dan keluar desa, masuk dan keluar belantara, naik dan turun gunung, dia pun semakin uzur dan rabun, namun dia terus memimpin pengikutnya, diburu dan memburu, tiada waktu mengasoh dari menjaga terhindar dari sergapnya patroli Belanda.”

Lebih jauh lagi, Jongejans berkata: “Maar nog was haat wil niet gebroken.” Yang artinya “namun bencinya tidaklah padam.” Kemudian Jongejans menyimpulkan: “Zij is slechts eene in de rij der vrouwen,” (Hanya dia seoranglah satu-satunya dari antara kaum wanita).

Cut Nyak Dien :  janda Teuku Umar yang ulet

Pengaruh Cut Nyak Dien yang amat besar dijelaskan lebih lanjut oleh C. van der Pol: “Apa yang mereka lakukan adalah pada pokoknya karya Cut Nyak Dien sendiri. Serangan-serangan klewang yang hebat-hebat yang dialami oleh Belanda umumnya digerakkan oleh pejuang-pejuang atas instruksi Cut Nyak Dien sendiri. Lebih lagi, di kemudian hari apa yang dikerjakannya terutama di Aceh Besar betul-betul menurut petunjuknya.”

Dalam Kolonial Verslag 1905, nama Cut Nyak Dien pun diabadikan sebagai janda Teuku Umar yang ulet. “Cut Nya’ Din, die energieke weduwe van Teuku Umar, werkte ons vooral in Boven Meulaboh krachtig tegen,” (Cut Nyak Dien, janda Teuku Umar yang enerjik itu merintangi kita dengan hebat terutama di Meulaboh Hulu). Betapa enerjiknya Cut Nyak Dien terlihat pada sebuah laporan resmi Belanda. Sebuah pertempuran pecah pada 30 September 1902 antara pasukan Komandan Scheepers melawan pasukan Sultan Aceh di Pameue, dan Cut Nyak Dien turut bertempur di sana.

Sudah banyak tokoh besar militer Belanda yang mati-matian menangkap Cut Nyak Dien, tetapi tetap saja tidak berhasil. Mereka adalah van Heutsz, van Daalen, van der Maaten, Veltman, H. Colijn, Christoffel, dan masih banyak lagi yang lainnya. Cut Nyak Dien tidak akan bisa ditangkap kecuali oleh pengkhianatan bangsanya sendiri.

Mungkin sedikit sekali yang mengetahui bahwa Cut Nyak Dien dengan Teungku Cik di Tiro punya hubungan besan. Anak lelaki Teungku Cik di Tiro yang bernama Teungku Cik Mahyed menikah dengan anak perempuan Cut Nyak Dien, yang bernama Cut Gambang. Pasangan pejuang ini mewarisi kegigihan orangtua mereka. Cut Gambang selalu menyertai ke manapun suaminya berjuang hingga akhir itu datang di tahun 1910. Zentgraff, seorang wartawan dan mantan prajurit Belanda, mengisahkan sekelumit tentang Cut Gambang dalam sebuah karyanya, Atjeh.

“Seperti telah diceritakan, pada tahun 1909 dimulailah pengejaran-pengejaran terhadap anggota-anggota terakhir keluarga ulama Tiro (keturunan Teungku Cik di Tiro) yang terkenal di gunung-gunung di sekitar Tangse. Schmidt (seorang komandan Marsose) telah mengetahui jejak-jejak mereka itu dan mengikutinya seperti seekor anjing buruan. Akhri tahun 1910 hampir-hampir saja ia dapat menangkap pasukan lawan; ia menyerbu ke tempat-tempat persembunyian mereka. Teungku Mahyed di Tiro dapat melepaskan dirinya, ini artinya penundaan hidupnya untuk beberapa hari lagi, tetapi istrinya jatuh ke tangan kita dalam keadaan luka parah.

Ketika pasukan selesai melakukan pembersihan di daerah itu barulah diketahui kehadiran wanita itu. Ia berseluar dan berbaju hitam, badannya tegap, berumur kira-kira tiga puluh tahun. Ia tertidur telentang dengan luka-luka akibat tembakan di perutnya. Juga dalam penderitaan ini ia menampakkan wajahnya yang gagah berani. Walau bagaimanapun sakit yang dideritanya, namun ia tidak mengerang dan tanpa bersuara ia menanti akhir hidupnya.

Schmidt mendekatinya dengan membawa air minum, dan secara sopan ia bertanya dalam bahasa Aceh apakah ia tidak ingin dibalut lukanya. Dengan membuang mukanya wanita itu menghardik: ‘Bek kamat kee, kaphe budok’ (jangan kau sentuh aku kafir kusta). Ia lebih menyukai kematian daripada hidup di tangan seorang kafir.”

Tentang Cut Nyak Dien, Zentgraff menggambarkan dengan lebih dramatis lagi. “Sesudah Teuku Umar tewas, wanita itu lebih suka hidup bertualang di hutan-hutan daripada menyerah kalah kepada musuhnya; ia telah bertahan demikian rupa, walaupun jumlah pengikutnya semakin mengecil. Ia menjadi tua, matanya buta, namun semua itu tidak menjadi penghalang untuk mematahkan semangatnya. Ia menderita kepalaran di hutan-hutan, sementara patroli Marsose memburunya dari satu tempat ke tempat pesembunyian lainnya. Pernah terjadi, bahwa sampai berminggu-minggu lamanya ia tak pernah merasakan sesuap nasi dan harus makan umbut pisang liar. Lebih kurang enam tahun lamanya ia bertahan dalam keadaan demikian. Pada masa jayanya ia berdiri di samping sederet nama-nama wanita paling hebat di daerahnya. Karenanya orang dapat membayangkan berapa besar pengorbanan yang telah diberikannya untuk kepentingan bangsanya.”

Seperti diceritakan oleh Zentgraff dan Muhammad Said, penangkapan Cut Nyak Dien terjadi dengan amat dramatis dan menyedihkan. Pada September 1905, pasukan Letnan Vastenou telah berhasil memergoki Cut Nyak Dien di suatu persembunyian yang disebut Jambo di Boer Berawan (Pameue). Pasukan Cut Nyak Dien melawan dengan hebat, tapi karena menghadapi jumlah pasukan yang jauh lebih besar, pasukan Cut Nyak Dien terpaksa mengundurkan diri. Ada lima orang lelaki yang tewas dan seorang wanita dari pasukan Cut Nyak Dien. Karena menyangka bahwa wanita yang tewas itu adalah Cut Nyak Dien sendiri, maka Vastenou melapor telah menewaskan Cut Nyak Dien.

Sebulan kemudian barulah ketahuan bahwa wanita yang tewas itu bukanlah Cut Nyak Dien, melainkan wanita yang sengaja dijadikan mirip dengan Cut Nyak Dien untuk melindungi tokoh besar itu. Tak lama kemudian, seorang pejuang Aceh mantan pengawal Teuku Umar yang kemudian menjadi pengawal Cut Nyak Dien, bernama Pang Laot, tiba-tiba muncul di sebuah bivak Belanda. Bivak itu dipimpin oleh Letnan van Vuuren. Pang Laot memberitahu bahwa kedatangannya bukan untuk menyerah. Kalau dia diserang maka dia akan melawan walau harus tewas. Dia mengatakan bahwa kedatangannya hendak menyerahkan Cut Nyak Dien kepada Belanda dengan syarat Belanda bersikap baik kepadanya.

Segeralah van Vuuren membawa Pang Laot kepada atasannya, Kapten Veltman. Pang Laot akan memandu pasukan Belanda untuk mencari Cut Nyak Dien di Pameue. Tanggal 23 Oktober 1905, Veltman menggerakkan pasukannya sebanyak 6 brigade (satu brigade sebanyak 20 bayonet). Dua hari berjalan barulah sampai di sebuah Jambo yang diduga oleh Pang Laot masih mungkin untuk menyergap Cut Nyak Dien di situ. Ternyata pasukan Belanda malah menemukan orang lain di situ, Panglima Habib Panjang, yang memang diperintahkan Cut Nyak Dien untuk bersiaga di daerah itu. Habib Panjang menyiapkan serangan dengan tergesa-gesa karena terlanjur ketahuan, pertempuran yang tidak seimbang pun terjadi dan saat itulah Habib Panjang tewas.

Perjalanan pun dilanjutkan, pasukan Belanda bersama Pang Laot melintasi hutan-hutan daerah Beutong yang liar dan dalam. Perjalanan ini amatlah berat karena rimba sangat rapat dan setelah tiga hari, barulah mereka tiba di Beutong. Pasukan Veltman tidak berhasil mencapai Jambo persembunyian Cut Nyak Dien, bekas jalan kaki tidak ada, semua jejak sudah dihilangkan, mereka seolah masuk rimba belantara yang tidak pernah dipijak umat manusia. Pang Laot pun bantu mencari kesana-kemari namun tidak menemukan apa-apa. Diputuskanlah untuk dengan sabar menunggu saja sampai beberapa hari sekuat perbekalan.

Pada 7 November 1905, tiba-tiba Pang Laot datang ke bivak pasukan Belanda bersama seorang anak kecil yang ternyata disuruh untuk mencari makanan. Setelah dibujuk dan diancam, anak itu akhirnya membeberkan tempat persembunyian Cut Nyak Dien. Setelah melakukan persiapan pasukan, Veltman memimpin menembus hutan untuk memburu Cut Nyak Dien. Pada salah satu sudut hutan, akhirnya Ratu Perang itu ditemukan hanya berdua dengan putrinya, Cut Gambang. Ketika sergapan itu datang, Cut Nyak Dien segera pasang badan dan mendorong putrinya agar segera melarikan diri. Karena sasaran sergapan itu adalah Cut Nyak Dien, maka Cut Gambang tidak dikejar.

Mati-matian Cut Nyak Dien melawan dengan rencong di tangan. Prajurit Belanda hanya menyaksikan Cut Nyak Dien mengibaskan rencongnya menerjang angin. Tiba-tiba Pang Laot melompat dan menerjang Cut Nyak Dien hingga rencong itu terlepas dari tangannya. Cut Nyak Dien menyumpah serapah atas pengkhianatan itu. Ketika ditemukan Belanda, kondisi Cut Nyak Dien memang amat memprihatinkan, tubuhnya lemah dan kurus. Cut Nyak Dien ditandu dan harus menempuh perjalanan beberapa hari untuk keluar dari hutan hingga tiba di Meulaboh. Pada tahun 1907 beliau dibuang ke Sumedang dan wafat di sana.

Logika LGBT

Majalahdrise.com – Memang sangat aneh kaum LGBT itu. Kecenderungan mereka untuk menyukai sesama jenis (secara seksual) memang tidaklah masuk akal. Bagaimana mungkin ada orang yang ‘mencintai’ sesama jenisnya dan meninggalkan lawan jenisnya? Ini benar-benar di luar logika. Tetapi seperti itulah yang terjadi saat ini, kaum Nabi Luth yang sekarang bertransformasi menjadi kaum LGBT wara-wiri meminta pengakuan dan legitimasi. Dengan menggunakan Hak Asasi Manusia dan wacana kebebasan sebagai senjata ampuh, mereka menuntut agar tingkah laku mereka yang abnormal itu dimaklumi.

Orang-orang yang sekian lama terkenal sebagai pembela HAM dan liberalisme pun bersuara mendukung LGBT. Padahal tindakan ini malah makin menunjukkan kedangkalan intelektualitas mereka. Ulil Abshar Abdala, seorang tokoh JIL yang amat terkenal, berkicau tentang LGBT di akun twitternya @ulil, semuanya bernada dukungan.

Logika LGBT - MAJALAHDRISE.COM

Lesbian, gay, biseksual, dan transgender itu bukan ancaman, setidaknya begitulah kata Ulil dalam salah satu twit-nya. “LGBT bukan ancaman. Sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Dan spesies manusia tak pernah punah karena mereka.”

Spesies manusia memang tidak punah karena mereka, untung saja Allah swt segera bertindak dengan memusnahkan kaum gay pertama (kaum Nabi Luth) sampai habis dan tidak bersisa. Kalau saja mereka dibiarkan, mungkin saja terjadi fenomena abnormal ini akan tersebar dan membawa kerusakan yang meluas. Saat ini pekerjaan kaum Luth diulangi lagi, apakah kita menunggu azab yang dulu pernah terjadi?

Memang benar bahwa LGBT sudah ada ribuan tahun yang lalu, tetapi apakah kelakuan buruk mesti kita ikuti kembali? Apakah karena LGBT sudah ada sejak ribuan tahun lalu, lantas kita memakluminya hari ini? Fitrah makhluk hidup saja menolak keberadaan LGBT, apalagi kalau ia sampai berkembang dan dirayakan di mana-mana! Makhluk paling rendah saja tertarik secara seksual dengan lawan jenisnya, bukan sesama jenisnya. Yang ada, mereka akan bertarung jika bertemu dengan makhluk sesama jenisnya, bukan saling mencintai. LGBT memang absurd. [Sayf Muhammad Isa]