Dua Abdullah di Medan Perang

Majalahdrise.com –  Semasa hidup Rasulullah saw. pernah terjadi dua buah perang yang di dalamnya terlibat dua orang bernama Abdullah. Abdullah yang pertama adalah Abdullah bin Rawahah, yang kedua, Abdullah bin Qim’ah. Abdullah pertama adalah seorang Muslim dan menjadi pahlawan Islam, sementara Abdullah kedua adalah seorang musyrik dan telah memerangi Rasulullah saw., lalu mendapatkan kematian yang sangat buruk.

Abdullah bin Rawahah

Abdullah bin Rawahah adalah seorang sahabat Rasulullah Muhammad saw. yang terlibat dalam peristiwa Bai’at Aqabah. Ia adalah salah seorang yang terpandang di Madinah dan turut menyerahkan ketaatan dan kesetiaan kepada Rasulullah saw. Saat 12 orang dari Madinah menghadap Rasulullah secara sembunyi-sembunyi di Bukit Aqabah, Abdullah bin Rawahah hadir di sana. Begitu pula pada peristiwa Bai’at Aqabah kedua yang terjadi setahun kemudian, Abdullah bin Rawahah pun hadir di sana.

Setelah Rasulullah Muhammad saw. hijrah ke Madinah dan kota itu diubah menjadi Negara Islam yang pertama, Abdullah bin Rawahah tetap memberikan sumbangsihnya yang tiada tara untuk Islam. Seperti dikisahkan oleh Khalid Muhammad Khalid dalam Rijalun Hawlar Rasul, Abdullah bin Rawahah bertugas untuk mengawasi gerak-gerik Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafik Madinah. Sebenarnya sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul hendak dinobatkan untuk menjadi penguasa Madinah. Tetapi ketika orang-orang Madinah mendapatkan pencarahan dari dakwah Islam, mereka segera meninggalkan Abdullah bin Ubay bin Salul dan mendukung Rasulullah saw. untuk memimpin seluruh Madinah dan menerapkan syariat Islam di sana. Hal ini jelas saja membuat Abdullah bin Ubay bin Salul memendam dendam, dan sampai akhir hayatnya dia tak henti membuat konspirasi untuk menghancurkan Islam. Namun sepak terjangnya itu selalu berada di bawah pengawasan Abdullah bin Rawahah.

Abdullah bin Rawahah adalah juga seorang penyair kawakan. Setelah ia masuk Islam, semua syairnya didedikasikan untuk Islam. Rasulullah saw. amat menyukai syair-syairnya. Medan perang yang mencatat nama Abdullah bin Rawahah adalah medan Perang Mu’tah. Pada perang ini, pasukan Islam berhadapan dengan pasukan Romawi Bizantium untuk yang pertama kali.

Jumlah pasukan musuh jauh lebih banyak, dan hal itu cukup menggoyang nyali pasukan Muslim hingga muncullah suara-suara untuk meminta pasukan bantuan kepada Rasulullah saw. Namun dengan gagah berani Abdullah bin Rawahah menguatkan kembali tekad dan semangat jihad di hati pasukan Islam. Sebagaimana diperintahkan Rasulullah saw., Abdullah bin Rawahah mengambilalih komando pasukan setelah Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib gugur di medan perang. Ia berjuang habis-habisan hingga ia sendiri gugur sebagai syahid. Di tengah-tengah para sahabatnya di Madinah, Rasulullah bersabda: “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku, di surga.”

Abdullah yang pertama telah mendapatkan tempat terbaik di surga. Berbeda halnya dengan Abdullah yang kedua, Abdullah bin Qim’ah. Mungkin kita jarang sekali mendengar nama Abdullah bin Qim’ah, walaupun dia pernah melakukan sesuatu yang amat memilukan. Kisahnya bisa kita telusuri dari Perang Uhud.

Kafir Quraisy menghimpun pasukannya untuk Perang Uhud pada Sabtu, 7 Syawal tahun 3 Hijriyah. Pasukan dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Sebanyak 3000 personil ini sebagian di antaranya adalah para wanita yang sengaja dibawa untuk memacu semangat para prajurit. Para wanita ini memainkan alat musik dan menyanyikan kasidah-kasidah kepahlawanan mereka. Jika nanti ada yang hendak melarikan diri dari medan perang, maka mereka akan memukulinya dan minta cerai dari mereka.

Pasukan Islam kalah dalam perang ini. Sebuah kekalahan yang pertama bagi pasukan Islam dalam peperangan. Kekalahan ini terjadi karena kemaksiatan pasukan panah yang mengabaikan perintah Rasulullah saw. untuk tetap berada di atas bukit, apa pun yang terjadi. Pada awalnya pasukan Islam berhasil menguasai keadaan, dan ‘terlihat’ menang. Sebagian pasukan panah yang ditempatkan di atas bukit tergoda dengan harta rampasan perang (ghanimah). Mereka pun turun dari bukit walaupun pemimpin mereka, Abdullah bin Jabir, telah memberikan peringatan keras. Ketika itulah pasukan kavaleri yang dipimpin Khalid bin Walid (saat itu masih kafir), mengitari bukit yang sudah tidak terjaga dan mendadak muncul dari barisan belakang pasukan Islam. Kekacauan pun terjadi, pasukan Islam kocar-kacir. Kemenangan yang tadinya sudah di depan mata, sirna entah ke mana.

Rasulullah saw. menghadapi keadaan terdesak. Pasukan musuh sudah mengepungnya, sementara pasukan Islam sudah berhamburan entah ke mana. Beberapa orang sahabat mati-matian membela dan melindungi Rasulullah saw. Mereka menjadikan diri mereka sendiri sebagai tameng hidup bagi sang Nabi. Awalnya hanya 9 orang sahabat yang mati-matian melindungi Rasulullah saw., tetapi kemudian bertambah menjadi 30 orang. Serangan yang ditujukan kepada diri Rasulullah saw. amatlah hebat sehingga beliau pun mendapatkan luka-luka.

Abdullah bin Qim’ah

Salah seorang kafir Quraisy yang dengan bringas menyerang Rasul adalah Abdullah bin Qim’ah. Dia mengayunkan senjatanya hendak mencabut nyawa Rasulullah saw., namun datanglah Mush’ab bin ‘Umair yang menjadi pembela Rasulullah saw. Mereka pun mengadu senjata dan Mush’ab bin Umair syahid di tangan Abdullah bin Qim’ah.

Setelah menghabisi Mush’ab bin Umari, Abdullah bin Qim’ah kembali kepada sasaran utama, Rasulullah saw. Ia segera mengalihkan pandangannya kepada Rasulullah saw. dan melancarkan serangan mematikan. Jika kita pernah mendengar bahwa gigi Rasulullah tanggal pada Perang Uhud, maka Abdullah bin Qim’ah inilah pelakunya. Syaikh Hani al-Hajj mengisahkan bahwa Abdullah bin Qim’ah mematahkan gigi Rasulullah, melukai pelipisnya, begitu juga menyobek bibir bawah bagian dalam, ditambah lagi melukai pundak dan lutut Rasulullah dengan pedangnya. Dari Ibnu Abbas ra., dia berkata: “Allah swt. sangat murka kepada orang yang telah melempar wajah Rasulullah saw.”

Seperti diriwayatkan dari Abdurrahman bin Zaid bin Jabir, ketika Abdullah bin Qim’ah berhasil melukai Rasulullah saw., dia sesumbar: “Ambillah gigi itu dariku, aku adalah Abdullah bin Qim’ah.” Rasulullah saw. menyahut: “Allah swt. pasti akan menghinakanmu.” Maka apa yang kemudian terjadi pada Abdullah bin Qim’ah adalah tragedi.

Abdurrahman bin Zaid bin Jabir kembali mengisahkan, setelah usai Perang Uhud, semuanya kembali ke kediamannya masing-masing, begitu juga Abdullah bin Qim’ah. Suatu hari, ia kembali menggembalakan kambing-kambingnya di puncak sebuah bukit terjal di pinggiran kota Makkah. Jumlah kambingnya cukup banyak dan ia berjalan di tengah-tengah kerumunan kambing-kambingnya. Tiba-tiba ada seekor kambing jantan yang marah dan menanduknya hingga ia tersungkur di tanah. Si kambing tidak sudi berhenti, dan terus menyeruduk Abdullah bin Qim’ah hingga luka-luka, dan si kambing pun seolah belum puas. Ia terus menyeruduk hingga Abdullah bin Qim’ah terdorong ke tepian bukit terjal itu dan terjatuh. Di dasar bukit itu ia tewas dengan tubuh terkoyak-koyak. Sebuah akhir tragis dari orang yang melempar wajah Rasulullah saw.[Sayf Muhammad Isa]

Leave a Reply

Your email address will not be published.