Ma’rakah Mu’tah

MajalahDrise.com – Menjadi bagian dari bumi syam, membuat Jordan memiliki tempat-tempat yang kaya akan sejarah. Berbagai agama pernah menancapkan benderanya di Negara ini. Nabi Muhammad SAW sendiri pernah dua kali melewati Jordan. Keduanya untuk urusan bisnis sebelum masa kenabian.

Sebuah peristiwa besar yang menghiasi catatan sejarah dunia islam pernah terjadi di selatan Jordan, tepatnya di kawasan Mu’tah. Perang Mu’tah, adalah peperangan yang terjadi di masa Rasulullah SAW pada tahun 629 M atau Jumadil Awal 8 Hijrah.

Berawal dari dibunuhnya salah satu utusan Rasulullah SAW yang membawa surat beliau untuk Raja Bushra di kawasan timur Jordan, Mu’tah. Sejak dahulu sampai sekarang, pembunuhan terhadap utusan diartikan sebagai pernyataan perang. Pembunuhan ini menyebabkan Rasulullah SAW marah dan mengirim pasukan perang sebanyak 3.000 tentara yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu.

Dalam perang kali ini Rasulullah SAW menunjuk tiga orang panglima perang sekaligus, hal yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya. Dan beliau bersabda: “Jika Zaid mati syahid, maka Ja’far yang menggantikannya. Jjika Ja’far mati syahid, maka Abdullah bin Rawahah penggantinya.”

Setibanya pasukan di Ma’an wilayah Syam, terdengar kabar bahwa Heraklius sang Raja Romawi telah sampai di Balqa dengan membawa pasukan gabungan sebanyak 200.000 tentara. Awalnya para sahabat terkejut dan hendak meminta pasukan tambahan kepada Rasulullah SAW. Namun Ibnu Rawahah, panglima ketiga,membakar semangat para pasukan dengan mengingatkan akan kemenangan serta kesyahidan, sehingga mereka membulatkan tekad untuk tetap maju sampai ke hadapan musuh. Mereka pun berangkat menuju medan perang. Di sinilah terlihat betapa besar keberanian para sahabat dalam berjihad memerangi musuh-musuh Allah.

Pasukan musuh yang berjumlah sangat besar membuat para sahabat berperang habis-habisan. Satu tentara dari sahabat mesti melawan puluhan tentara-tentara musuh. Sungguh benar firman-Nya yang diyakini para sahabat: “Jika di antara kalian 20 orang yang bersabar makan akan mengalahkan 200 orang.” (Qs. Al-Anfal: 65)

Bendera Islam dipegang oleh Zaid ibn Haritsah. Dengan keberanian beliau maju memerangi musuh, hingga syahid. Kemudian bendera dipegang oleh panglima kedua, Ja’far ibn Abi Thalib. Tangan kanan beliau ditebas oleh musuh, sehingga beliau memegang bendera dengan tangan kiri. Namun musuh terus memburu dan kembali menebas tangan kiri beliau, yang menyebabkan beliau harus merangkul bendera tersebut untuk mempertahankan tegaknya bendera Islam.Dalam keadaan seperti itulah beliau syahid terbunuh. Beliau pun dijuluki Ath-Thayyar sebab Allah menggantikan kedua tangan beliau dengan dua sayap di surga. Ditemukan pula di tubuh beliau lebih dari 90 luka tusukan panah, sabetan pedang dan tombak.

Lalu bendera tersebut diambil alih oleh panglima ketiga yaitu Ibnu Rawahah. Tak lama beliau pun syahid menyusul kedua panglima sebelumnya.

Pasukan muslim sepakat menyerahkan bendera kepada Khalid ibn Walid. Dan dengan dinobatkannya sebagai panglima, beliau memegang bendera kemudian maju untuk mengubah strategi. Posisi pasukan sayap kanan ditukar dengan sayap kiri, begitu pula depan dan belakang. Dengan demikian musuh akan menyangkan kaum muslimin mendapatkan tentara tambahan. Meskipun kemudian, Khalid ibn Walid menganggap bahwa kekuatan musuh jauh tidak sebanding dengan pasukan muslim. Beliau sendiri telah berperang habis-habisan sampai sembilan pedang patah di tangannya.

Akhirnya Khalid ibn Walid memutuskan untuk menarik mundur pasukan sampai ke Madinah. Musuh tidak berani mengejar karena menyangka hal tersebut bagian dari siasat perang untuk mengajak mereka berperang di padang pasir yang terbuka, yang bisa merugikan mereka.

Perang Mu’tah memiliki banyak hikmah dan menyiratkan mukjizat kenabian Rasulullah SAW .Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dalam keadaan sedih meneteskan air mata seraya berkata, “Bendera perang dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga mati syahid, lalu bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera perang dibawa oleh Saifullah (Pedang Allah –yakni Khalid bin Walid) hingga Allah memenangkan kaum muslimin.” Di sinilah tampak mukjizat beliau, bahkan beliau telah mengetahui apa yang terjadi di ma’rakah Mu’tah sebelum pasukan tersebut sampai di Madinah.

Di kawasan Mu’tah sekarang, terdapat makam Zaid ibn Haritsah, Ja’far ibn Abi Thalib, dan Ibnu Rawahah. Oleh kaum Syiah, makam Zaid dan Jafar dibuat begitu mewah dengan hiasan dan bangunan, karena keduanya dimasukkan ke dalam ahlul bayt yang mereka puja-puja sedemikian rupa. Keduanya berada di satu komplek dengan masjid. Adapun Ibnu Rawahah memiliki makam di medan perang Mu’tah tanpa bangunan apapun di atasnya. Medan perang ini sangat luas dan dipagari oleh pemerintah, karena sering dipakai oleh sebagian orang untuk minum-minuman keras. Hal tersebut bisa diketahui dari botol-botol minuman keras yang berserakan di sekitar monumen. Alangkah menyedihkannya, di sebuah tempat mulia yang menjadi saksi sebuah upacara pelaksanaan puncak dalam Islam, yaitu jihad, dihinakan dengan sedemikian rupa oleh orang-orang islam itu sendiri. Allahul musta’an.

Demikian sekelumit kisah dari Mu’tah, Jordan. Betapa banyak bukti-bukti sejarah yang menggambarkan keindahan hidup Islam di zaman Rasulullah SAW . Semoga dengan turut menyaksikannya, membuat iman kita semakin bertambah dan terus bersemangat untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Wallahu a’lam.[]

Keterangan foto:

  1. Makam Ja’far ibn Abi Thalib Radhiyallahu anhu
  2. Tugu di Monumen Perang Mu’tah

    majalahdrise.com - Ma’rakah Mu’tah.jpg

    majalahdrise.com - Ma’rakah Mu’tah.jpg

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43

HIJAB,TREN DUNIA AKHIRAT

MajalahDrise.com – Beberapa tahun belakangan ini, hijab mulai menjadi tren dan dipakai berbagai kalangan. Kalo jaman ibu dan bapak kita dulu, jangankan menutup aurat dengan pakaian syar’i, sekedar berselendang saja juga masih minimalis penggunanya. Itu juga kalo mau pengajian atau ngelayat tetangga yang wafat. Alhamdulillah kini dakwah mulai membuka pikiran sebagian besar muslimah. Pakaian syar’i muslimah alias hijab malah jadi tren yang mewabah.

Kalangan artis, yang akrab dengan dunia hedonisme dan berkiblat kepada dunia gemerlap Barat, kini satu persatu banyak yang taubat. Bukan Cuma untuk dirinya, bahkan mulai aktif berdakwah, menyampaikan agama Allah walau hanya satu ayat. Beberapa artis kini sudah istiqomah berhijab seperti Lyra Virna, Sheeren Sungkar, Zeezee Shihab, Peggy Melati Sukma dan banyak lainnya yang terus berproses menjadi lebih baik. Sebagian mereka juga aktif berdakwah.

Apa sih pesona berhijab?! Sekedar tren biar keliatan keren? Beberapa yang berhasil Alga tangkap dari kedahsyatan hijab ialah berhasil melengkapi diri kita sebagai hamba Allah,terlebih bagi yang mengaku muslimah.

Pertama, berhijab merupakan kewajiban. Wajib berhijab sama seperti wajib sholat 5 waktu. Dikerjakan berpahala, ditinggalkan mendapat dosa. Logikanya, kok setelah menghadap Allah dalam sholat malah mendurhakainya dengan memperlihatkan aurat. Padahal, sholat itu khasiatnya bisa mencegah keji dan mungkar. Berhijab tidak mengenal siap atau tidak siap, taqwa atau belum taqwa. Memangnya kematian akan datang bagi yang siap?! Tidak. Belum tentu loh yang lebih tua yang wafat lebih dulu. Namanya kematian, datang tidak dengan pertanda apalagi kirim notifikasi ke smartphone kita. Ajal bisa merenggut siapa saja. Kapan saja. Dimana saja.

Kedua, hijab menjauhkan fitnah. Namanya wanita, pasti ada aja bagian yang bikin lelaki suka melihatnya. Masa mau sih perhiasan itu jadi pajangan. Yang dipajang itu kan biasanya contoh barang doang, replika alias murahan. Hiii,,,, kita ini dimuliakan Allah, sist! Berhijab menutup perhiasan, dibuka bagi yang berhak, bukan sembarang orang. Siapakah itu? Yaitu orang-orang tercinta, bisa orang tua, atau suami tercinta kelak.

Ketiga, Hijab sebagai pembeda. Yupz…. Kadang-kadang kita suka bingung ya jika ada muslimah tapi tidak berhijab. Apa yang membedakannya dengan wanita kafir jika bukan hijab yang datangnya dari Allah Swt? Nah, daripada disangka non muslim, berhijab yuk.

Keempat, Hijab melindungi kecantikan bukan menghilangkannya. Berhijab bikin ngga laku alias bisa ngga dapat jodoh? Huuu,,,, itu Cuma mitos !!! Dalih yang dibuat-buat padahal tidak sesuai fakta. Banyak yang sudah banting harga yaitu membuka auratnya, tapi tetap aja belum mendapat pasangan hidup. Jodoh akan bertemu sesuai ukurannya. Lelaki baik-baik, untuk perempuan yang baik pula. So, mau dapat jodoh yang baik? Pantaskan diri, perbaiki diri, mulai dari luar, hatimu mengikuti, juga akal pikiran.

Nah, sekarang ini orang-orang makin haus spiritual dan ingin kembali pada agama islam yang penuh rahmat ini. Jadi orang berlomba-lomba menjadi lebih baik, meninggalkan kejahiliyah, udah bosan hidup bergelimang dosa melulu. Berhijab sekarang atau kain kafan akan jadi hijab terakhirmu? Hiii…. Serem kan. Tren hijab mewabah, benar-benar jadi kabar gembira dan makin semangat menjadikan islam way of life. Muslimah, let’s go ![Alga Biru]

 

 

STOP JILBOOBS!

Tren pakaian dengan sebutan “jilboobs” sempat menjadi trending topik beberapa waktu lalu. Dari kata ‘Jilbab’ dan ‘boobs’ lalu dibuatlah akronim ‘Jilboobs’. Sebuah padanan kata yang jauh dari asal usulnya. Dimana Jilbab, berdiri dengan seruan agung dari Allah Swt kepada para muslimah dalam rangka menutup aurat secara sempurna sesuai tuntunan agama. Sedangkan ‘boobs’ dikutip dari bahasa Inggris yang berarti payudara.

Dari diksi atau penggunaannya saja, artinya sudah bertolak belakang. Aneh, jika satu sisi menutup aurat, di sisi lain mengumbarnya. Namun faktanya, tren ini mewabah di kalangan wanita, apalagi mereka yang berhijab bermodal semangat, tak memperhatikan rambu-rambu. Terlepas karena ketidaktahuan ataupun kesengajaan. Bahaya, jika tanpa sadar para muslimah malah melecehkan agama di saat mereka merasa sudah berhijab sebagaimana mestinya.Stop menggunakan pakaian ala “jilboobs” untuk jilbab yang sakral ini. Yuk Berhijab syar’I ![Alga Biru]

dimuat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #43

Tips Menulis Dari Sayf Muhammad Isa : Menebar Karya

MajalahDrise.com – Bagi seorang penulis, karya yang harus ia buat tentunya dalam bentuk tulisan. Bisa berupa artikel maupun buku. Bisa dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi. Menulis adalah sebuah proses yang cukup rumit dan panjang, dan untuk menempuhnya dibutuhkan, konsistensi, kesabaran, dan ketekunan. Jika tidak ada hal-hal tadi, maka karya-karya itu tidak akan selesai. Kalaupun kita bisa memulai sebuah tulisan, jika tanpa konsistensi, kesabaran, dan ketekunan, maka tulisan itu tidak akan bisa kita tuntaskan. Padahal penulis yang baik itu bukan hanya bisa memulai sebuah tulisan, tetapi juga mesti bisa mengakhirinya. Tulisan ini ingin memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana proses terbentuknya sebuah karya.

Hal yang paling pertama harus dilakukan seorang penulis adalah memunculkan ide cerita yang hendak ia tulis. Proses ini harus terjadi, jika tidak, proses-proses selanjutnya tidak akan pernah ada. Seorang penulis mesti tahu apa yang hendak ia tulis. Cukup banyak orang yang bertanya bagaimana caranya agar seorang penulis selalu memiliki ide-ide tulisan yang segar dan unik? Sebagian lainnya merasa pusing tentang apa yang mesti mereka tuliskan. Sebenarnya jawabannya cukup sederhana, selama ada kehidupan pasti akan selalu ada kisah yang menarik untuk dituliskan.Sesederhana apa pun kisah itu, pasti ia akan selalu memiliki daya tarik. Ide-ide cerita itu akan selalu ada di sekitar kita, dan kita bisa mengambilnya dari mana saja.

Ketika ide cerita itu sudah muncul di benak kita, berupa gambaran global dari kisah yang akan kita garap, langkah selanjutnya adalah menuangkan ide besar itu dalam bentuk kerangka dasar. Kerangka dasar inilah yang berperan besar untuk menentukan seperti apa tulisan yang akan kita buat. Kerangka pula yang akan memandu kita dalam menuangkan isi pikiran kita berupa tulisan sejak awal hingga selesai.

Sumber-sumber kepustakaan tentunya amat penting dan amat kita butuhkan. Langkah selanjutnya setelah kerangka dasar terbentuk adalah berburu berbagai referensi yang berhubungan dengan tulisan yang akan kita garap. Sumber-sumber rujukan ini bisa dalam berbagai bentuk, umumnya berupa buku, artikel, dan berbagai bentuk tulisan lainnya. Jika diperlukan, bisa pula diburu informasi dengan cara mewawancarai narasumber. Sumber rujukan lainnya bisa pula didapat dari melakukan riset atau penelitian. Setelah berbagai data yang kita perlukan berhasil dihimpun, langkah selanjutnya adalah mempelajari berbagai data tersebut. Langkah ini tentu saja akan memperkaya wawasan tentang tema yang sedang digarap. Di sanalah relevansinya sebuah pepatah: “Untuk menulis, maka haruslah membaca.”

Setelah semua proses di atas kita jalankan dengan baik, saatnya kita meramu kata-kata dan dirangkaikan dengan berbagai data yang sudah kita olah dan pelajari. Dengan menjadikan kerangka dasar tersebut sebagai panduan, maka tentu saja akan lebih memudahkan kita menuangkan berbagai ide dalam benak kita. Seluruh tahapan ini dari awal sampai dengan akhrinya haruslah dijalankan dengan sabar, tekun, dan konsisten. Sebagaimana sudah disebutkan tadi, tanpa kesabaran, ketekunan, dan konsistensi, maka karya yang sedang digarap ini tidak akan bisa diselesaikan dengan baik. Apa yang sudah kita kerahkan sedari awal tentunya akan sia-sia belaka. Menghasilkan sebuah karya mirip sekali dengan seorang ibu yang sedang mengandung janin di dalam rahimnya. Dia harus menjaganya dengan baik dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, sekaligus menggenapkan waktu persemayaman janin itu di dalam rahimnya. Ia harus menjalankan semua itu dengan sabar, tekun, dan konsisten, kelak ketika waktunya sudah tiba, karya itu akan lahir dan membawa barokah, kebahagiaan, dan manfaat bagi semua. Insya Allah.[]

 

Derap Rantai Sebuah fiksi-sejarah

Episode 14

MajalahDrise.com – Semakin dekat Mutsana dan Jabal dengan apa yang mereka sangka mereka lihat, semakin jelas bahwa pandangan mereka tidak tertipu. Ada seorang lelaki yang sedang duduk di tengah-tengah gersangnya padang pasir, lelaki itu sepertinya sedang merintih kesakitan. Jarak mereka dengan lelaki itu semakin dekat, tinggal tiga puluh lima meter lagi.

Tiba-tiba Jabal melambaikan tangannya sambil mengepal. Memberi tanda agar Mutsana segera menghentikan derap langkah untanya. Mutsana terkesiap dan mereka segera menarik tali kekang unta kuat-kuat hingga kedua unta itu berhenti.

Mutsana dan Jabal memicingkan mata mereka untuk meningkatkan daya pandang. Di tengah-tengah padang pasir yang kosong dan gersang itu ada seorang lelaki yang sedang duduk dan kelihatannya sedang merintih kesakitan. Mutsana dan Jabal berhenti dengan tetap menjaga jarak aman dari laki-laki itu, sebab mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai seorang agen rahasia memang harus seperti itulah cara mereka bertindak.

“Ada seorang lelaki yang sepertinya sedang membutuhkan pertolongan,” kata Mutsana.

Sayup-sayup mulai terdengar suara lelaki itu meminta tolong. Sebelah tangannya melambai pelan kepada Mutsana dan Jabal, sebelah tangannya yang lain menopang tubuhnya.

“Aku meminta kita berhenti karena kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Jabal, “Kita tidak tahu siapa dia dan kondisi apa yang sedang terjadi padanya.”

“Dia melambai pada kita, dia meminta pertolongan kita,” kata Mutsana.

“Tunggu dulu,” Jabal menoleh ke sekelilingnya. Dia memerhatikan keadaan sekitarnya. Dia sapukan pandangannya kepada pasir-pasir dan gunung-gunung yang kokoh itu, seolah-olah ingin sekali mengetahui apa yang ada di balik semua itu. Salah satu tangannya melindungi matanya dari sinar matahari yang menyilaukan, matanya terpicing jauh. Namun tidak ada apa-apa, padang pasir tetaplah kosong, gunung-gunung cadasnya tetap bisu. “Aku curiga kepada orang itu. Lebih baik kita terus saja.”

Mutsana menggeleng sambil melipat tangan di depan dadanya. “Bagaimana mungkin kita terus saja, sementara ada orang di depan mata kita membutuhkan pertolongan kita?”

Jabal mendengus, dia sendiri bingung tentang apa yang mesti mereka lakukan. Salah satu sisi hatinya amat ingin menolong orang itu, tapi sisi hatinya yang sebelah lagi berkata lain, mungkin ada sebuah jebakan. “Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Kita tidak tahu apa-apa tentang orang itu.”

“Justru karena kita belum tahu, maka kita mendekat untuk mencari tahu apa yang terjadi padanya.Jika kita tetap di sini kita tidak akan mengetahui apa-apa. Lihatlah, dia membutuhkan pertolongan kita.”

“Aku khawatir ada jebakan yang sedang dipersiapkan untuk kita,” Jabal mengembuskan napasnya. Dia benar-benar kebingungan.

“Jebakan apa? Dengan menggunakan orang itu? Aku rasa tidak, orang itu pasti terjatuh dari kudanya, mungkin kakinya patah atau terluka.”

“Kita tidak tahu pasti tentang hal itu,” sergah Jabal.

“Karena itulah kita harus ke sana dan segera menolongnya,” kata Mutsana.

Dengan enggan akhirnya Jabal sepakat dengan komandannya. Mereka memacu unta mereka untuk menghampiri seorang lelaki di tengah-tengah padang pasir itu. Semakin mereka mendekat semakin jelaslah apa yang terjadi pada lelaki itu. Sementara Jabal tak henti menoleh ke sekelilingnya untuk memantau keadaan yang tetap saja terlihat sepi.

Seorang lelaki terjatuh di atas pasir, dia merintih karena kaki kanannya berlumuran darah. “Tolong aku… Tolong!”

Lelaki itu masih muda. Kulitnya cokelat dengan hidung bengkok dan janggut yang lebat.Pakaiannya berwarna biru, dia tidak memakai serban dan rambutnya berantakan. Keringat yang bercucuran di wajahnya menyiratkan rasa sakit yang amat sangat. Lukanya menganga di bagian betis sebelah kanan. Mutsana segera melompat dari untanya kemudian berlutut di sisi lelaki itu. Jabal masih tetap saja meneliti keadaan sekitar.

“Apa yang terjadi padamu?” Tanya Mutsana pada lelaki itu.

“Aku terjatuh dari kuda… Kakiku terluka karena terbentur batu, tolong aku,” ratapnya.

“Jabal, tolonglah!” Kata Mutsana. “Balut lukanya.”

Jabal segera menyobek selendang serbannya dan berlutut kepada luka di kaki lelaki itu. Dia menyeka darah di luka itu dan kemudian terkejut. Dia curiga tentang sesuatu di luka itu. Jabal melirik dengan penuh sangka kepada lelaki itu.

“Ini bukan luka terbentur batu,” kata Jabal pada Mutsana. “Ini luka sayatan pedang.”

Sekilas saja, terhamparlah sebaris senyum kecut di wajah lelaki itu. Tiba-tiba gemuruh menyeruak dari gunung-gunung batu di sekitarnya. seolah-olah gunung-gunung terbelah dan dari sela-selanya keluarlah pasukan berkuda yang bergerak cepat hendak mengepung Mutsana dan Jabal. Pasukan berkuda itu berpakaian hitam-hitam dan wajah mereka yang sangar menjadikan semuanya lebih mengerikan.

Tanpa bicara, kedua agen rahasia itu segera mengabaikan lelaki yang terluka tadi dan memacu unta-unta mereka, melarikan diri. Pecahlah sebuah kejar-kejaran yang mematikan. Seluruh pasukan berkuda berpakaian hitam itu mengacungkan pedang dan tombak. Mereka bersorak dan bersiul-siul tak tentu, dan padang pasir yang sunyi menjadi riuh.

Mutsana dan Jabal pun mencabut pedang mereka masing-masing. Apa pun yang terjadi, mereka bertekad untuk tetap melawan sampai akhir. Mutsana membungkuk di atas punggung untanya dengan penuh deru. Tangan kirinya menggenggam tali kekang unta, sementara tangan kanannya menyatu dengan pedang. Jabal mengguncang tali kekang untanya kuat-kuat untuk menambah kecepatan larinya. Orang-orang berpakaian hitam itu mengejar di belakang mereka.

Seorang prajurit hitam yang berkuda paling depan berhasil mendekati Mutsana. Dia memacu kudanya sekencang-kencangnya agar dapat menyusul kecepatan unta Mutsana. Tangan kanannya bersiap dengan tombak terhunus. Ketika posisinya sudah sejajar di sisi kiri Mutsana, prajurit hitam itu menusukkan tombaknya kepada Mutsana. Angin menderu dan pecah karena tebasan tombak. Dengan mata setajam mata elang, Mutsana mengelak dengan membungkukkan tubuhnya lebih rendah di atas punggung untanya. Dalam posisi yang sulit dan dengan susah-payah, Mutsana mengangkat pedangnya dan menebas ke tangan prajurit hitam itu. Lepaslah tangan prajurit hitam itu dan tombaknya terhempas di atas pasir. Kemudian dia terjatuh dari kudanya dan terjerembab di gurun.

“JANGAN SAMPAI LOLOSSS!!!” Salah seorang dari pasukan hitam itu, yang sepertinya pemimpinnya, memberikan komando.

Para pengejar itu semakin mendekat. Mutsana dan Jabal hampir-hampir terkejar, namun mereka tak akan pernah berhenti berjuang…

Bersambung

Follow @sayfmuhammadisa

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43