MAJALAH DRISE EDISI 46 : Woman Happy With Islam

Majalahdrise.com – Ngeri juga ngeliat data kekerasan terhadap kaum hawa yang terus meningkat setiap tahunnya. Ini tercermin dari fakta-fakta terbaru yang disampaikan Komnas Perempuan Indonesia pada tanggal 24 November 2014 mengenai jumlah kekerasan terhadap kaum perempuan di Indonesia.

Sepanjang 2013, tercatat 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan. Angka ini mengalami peningkatan sebanyak 4.336 kasus dari tahun 2012. Bila dihitung, dalam 3 jam setidaknya ada 2 perempuan mengalami kekerasan seksual..!

Kekerasan terhadap perempuan itu banyak sekali macamnya. Mulai dari pelecehan secara verbal dengan perkataan mesum, pelecehan secara fisik dengan meraba daerah terlarang, perkosaan, hingga human traficking alias jual beli perempuan. Bah, gawat sangat ini.

Kebayang dong, gimana nggak paranoidnya perempuan hidup di era kapitalis saat ini. Kadung dicap makhluk yang lemah, kaum hawa sering jadi korban pelecehan baik secara verbal atau pun fisik. Secara gitu lho, kaum adam udah kaya kucing kebelet kawin aja kalo ngeliat lawan jenisnya lewat di depan mata. Apalagi kalo tuh makhluk cantik pake busana minim yang bikin jakunnya pria naik turun. Bisa berabe urusannya.

Gara-gara Islam Nih!

Tingginya angka kekerasan yang menimpa perempuan emang nggak bisa dibantah. Tapi lucunya, ada pihak yang menunjukkan jarinya pada Islam sebagai penyebab menderitanya kaum hawa. Lho kok bisa? Piye iki?!

Segudang aturan Islam yang menjaga kemuliaan martabat wanita dituduh aktivis gender yang gencar memperjuangkan emansipasi sebagai biang penderitaan kaum hawa. Dalam Islam, tugas utama wanita itu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Bahasa kerennya, sebagai ummu wa robbatul bait. Otomatis, ruang geraknya lebih banyak di dalam rumah dan sekitarnya. Mulai dari ngurus anak sampai beresin rumah.

Cara berfikir dangkal kaum gender menganggap, kalo perempuan banyak di rumah pastinya bete dan ketinggalan informasi alias nggak gaul. Sehari-hari cuman berkutat di dapur, sumur, dan kasur. Nggak ada kegiatan yang produktif untuk mendatangkan materi dan gengsi. Jabatanya perumtel alias penunggu rumah teladan.

Kalo istri mau keluar rumah, Islam mengajarkan untuk meminta izin pada suami. Nggak bisa berkeliaran di sektor publik semaunya. Udah kaya tahanan rumah aja. Terus Islam juga melarang wanita jadi kepala negara, gubernur, atau walikota. Seolah memasung hak politik kaum hawa. Kecantikan perempuan seperti tak dihargai oleh Islam karena harus menutup aurat sempurna ketika keluar rumah. Nggak bisa tuh lenggak lenggok bak peragawati mengumbar uratnya memancing adrenalin lelaki. Dan satu lagi yang sering bikin sewot kaum gender, suami boleh poligami sementara istri dilarang poliandri (emangnya kucing :D). Di sini kadang aktivis gender merasa sedih.

Tuduhan ngawur aktivis feminis dan kaum gender di atas sengaja diumbar biar umat Islam terutama perempuan alergi dengan syariah Islam. Padahal justru kebobrokan ide feminis dan kesetaraan gender yang diimpor dari Barat bikin kehidupan perempuan nelangsa sepanjang hayat. Bilangnya memperjuangkan hak perempuan. Kenyataannya, merendahkan derajat perempuan.

Nicole Kidman menyatakan Hollywodd mungkin telah turut memberikan andil pada kekerasan terhadap wanita , dengan menggambarkan wanita sebagai pihak yang lemah dan menjadi objek seksual. Nicole Kidman memberikan keterangan tentang kekerasan terhadap wanita dihadapan House Foreign Affairs subcommittee (Christine Simmons, Associated Press Writer – Wed Oct 21) Catet!

di muat di Majalah Remaja Islam drise edisi 46

Islam Agama Barbar? No Way!

Majalahdrise.com – Ada orang-orang yang nuduh Islam sebagai agama yang barbar, nggak beradab, dan nggak berperikemanusiaan. Mereka nuduh kayak gitu karena –katanya- Islam disebarkan dengan pedang dan peperangan. Katanya lagi, Islam nggak kenal kompromi, siapa yang nggak mau masuk Islam pasti bakal langsung ditebas pake pedang. Apakah tuduhan-tuduhan ini benar? Yuk kita lihat apa yang terjadi pada peristiwa Perang Salib.

Perang Salib berawal dari sebuah khutbah dari Paus Urbanus II pada tanggal 25 November 1095 di Konsili Clermont. Pada pertemuan itu, di hadapan para kesatria, pendeta, dan orang-orang miskin, Paus menyerukan perang suci untuk melawan kaum Muslim. Paus mengatakan bahwa orang-orang Turki Saljuk adalah ras barbar dari Asia Tengah yang baru saja masuk Islam, yang terus merangsek maju menyerbu Anatolia. Turki Saljuk telah merebut banyak wilayah di Anatolia dari Kekaisaran Bizantium Kristen. Setelah para kesatria Kristen itu membersihkan Anatolia dari kotoran-kotoran Turki Saljuk, kewajiban mereka selanjutnya adalah berbaris rapi menuju Yerusalem dan merebut kota suci itu dari tangan bangsa kafir. Memalukan sekali jika Maka Kristus berada di tangan kaum Muslim.

Kabar tentang seruan itu pun menyebar ke mana-mana dan disambut dengan sangat antusias. Pada musim semi tahun 1096, berangkatlah 5 pasukan yang terdiri dari 60.000 prajurit. Pada musim gugur, gelombang pertama tadi disusul oleh sejumlah pasukan yang lebih besar lagi, sebanyak 100.000 prajurit. Pasukan-pasukan itu diiringi oleh para peziarah dan pendeta yang tidak bersenjata. Mereka semua bergerak ke arah timur.

Pada tanggal 15 Juli 1099, pasukan salib berhasil membobol Yerusalem. Mereka membunuh orang-orang Saracen (Muslim) dan orang Turki yang mereka temukan. Tidak peduli laki-laki ataupun perempuan. Besoknya, pasukan salib memanjat atap Al-Aqsha, dan membantai sekelompok kaum Muslim yang sebelumnya telah menerima perjanjian untuk dilindungi. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki berserakan di jalan-jalan kota. Sampai-sampai orang yang berjalan di situ harus berhati-hati agar kakinya tidak menginjak bangkai laki-laki dan kuda. Di Kuil Sulaiman bahkan terjadi banjir darah hingga setinggi lutut. Puluhan ribu kaum Mulism dan Yahudi dibunuh ketika itu.

Kira-kira 88 tahun kemudian, pada tanggal 2 Oktober 1187, Salahuddin al Ayubi merebut kembali Yerusalem dari pasukan salib. Ribuan orang Kristen berada di dalam kota dan menunggu takdir mematikan mereka. Mereka menyangka bahwa Salahuddin akan membalas dendam kepada mereka, persis seperti ketika pasukan salib membantai umat Muslim pada tahun 1099. Tetapi Islam adalah kasih sayang bagi semesta. Salahuddin tidak melakukan pembantaian itu, padahal dia sangat mampu melakukannya. Dia malah menetapkan tebusan yang sangat rendah bagi para tawanan Kristen agar mereka sanggup membebaskan diri mereka sendiri. Ketika banyak tawanan itu yang nggak sanggup menebus dirinya sendiri, bahkan Salahuddin merogoh koceknya sendiri untuk menebus para tawanan itu. Itu pulalah yang dilakukan oleh saudaranya, Al-Adil. Apa yang dilakukan oleh pemuka Kristen malah lebih memalukan. Setelah menebus dirinya sendiri, Patriach Heraklius pergi begitu saja meninggalkan ribuan orang Kristen dengan membawa seluruh hartanya. Padahal semua hartanya itu sanggup menebus ribuan tawanan Kristen. Sungguh terlalu..!

Dari kilasan sejarah di atas, keliatan siapa sih yang sebenernya barbar dan nggak berperikemanusiaan. Kelembutan hati Shalahuddin Al-Ayubi terhadap musuh bukan semata karena pribadinya, tapi dibimbing oleh kemuliaan syariah Islam dalam adab peperangan. Padahal kalo ngikutin nafsu, bisa aja Shalahuddin menghabisi para tawanan perang salib sebagai bentuk balas dendam. Tapi untuk apa?

Islam mengajarkan umatnya untuk tetap menunjukkan akhlak mulia dalam peperangan. Diantaranya dengan tidak menghancurkan tempat ibadah atau tempat layanan publik, tidak membunuh anak-anak dan perempuan yang tidak ikut dalam peperangan, tidak membunuh tua renta, melindungi tawanan, dan tidak menghabisi musuh yang sudah dalam keadaan tak berdaya. Jadi, ngaco bin ngawur kalo ada yang bilang Islam agama bar-bar. Mungkin mereka ngiri karena Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari islam. Kasian deh! [@SayfMuhammadIsa]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #46

 

Buku Vulgar Belajar Pacaran

majalahdrise.com – Berkedok edukasi seksual remaja, buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” ramai dikecam. Gimana nggak, banyak ajaran vulgar yang mengarahkan pada seks di luar nikah di sana. Hadeuh, kok bisa kecolongan ya?

D’Riser, sebaiknya hati-hati kalau baca buku. Jangan asal pilih, jangan asal telan mentah-mentah dan menjadikannya sebagai referensi. Nggak sedikit isi buku yang menyesatkan pembacanya kalo nggak punya filter.

Contohnya buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto. Buku berkedok psikologi remaja itu memuat bab tentang pedekate, pesaing, temen, hobi, orang tua, seks, patah hati dan mantan pacar. Dari judulnya aja udah kebayang gimana isinya: ngajak maksiat!

Buktinya, banyak banget kalimat vulgar dan cabul. Itu bisa terlihat di halaman 21, 60, 63, dan 66. Ada kalimat yang ditulis Toge seperti ini, “Aku pernah ngeseks sama dia.” Lalu, halaman 60 memuat subjudul pacar ngajak ML (making love). Toge menuliskan, “Sebetulnya wajar, kok, kalau pacar ngajak kamu ML. Wajar juga kalau kamu ngajak pacarmu ML. Itu hal naluriah alamiah.” (tempo.co, 7/2/15). Astaghfirullah, benar-benar menyesatkan!

 

Ada Ideologi Di Balik Buku

Buku, sama dengan produk lain yang juga nggak bebas nilai, seperti komik, musik dan film. Ada filosofi atau pemahaman tertentu yang ditanamkan di sana. Pemahaman seperti apa, ya tergantung ideologi penulisnya.

Semestinya, jika dia penulis muslim, maka bukunya berisi nilai-nilai Islam. Sebab jelas, nilai-nilai yang tidak islami haram untuk ditulis. Bertolak belakang dengan penulis nonmuslim, atau muslim tapi muslim KTP yang nggak mau ngaji. Jadinya ya nggak ngerti tsaqofah Islam.

Terlebih lagi kalo yang nulis itu pengemban ideologi kapitalisme-sekuler. Udah pasti, isi bukunya bakalan mengarahkan pembacanya untuk menyetujui gaya hidup sekuler. Contohnya buku yang menggeber tips-tips pacaran tadi. Padahal jelas-jelas pacaran tidak ada dalam khazanah dunia Islam.

Makanya, kamu-kamu musti punya filter untuk menyaring dan memilah buku mana yang baik, berkualitas dan tidak menyesatkan. Jangan sampai tersesat dan terbawa arus gaya hidup sekuler karena menelan bulat-bulat isi buku tersebut. Ingatlah, ada pepatah yang cukup masyur yang konon dikeluarkan oleh ulama, bahwa “barangsiapa membaca buku tanpa guru maka gurunya adalah setan.”

Yup, bener banget! Membaca buku sendirian itu bisa menyesatkan. Masih ingat kasus seorang remaja di Jakarta, Rangga (14) yang bunuh diri? Konon ia terinspirasi dari komik-komik Jepang yang di antaranya mengandung pemahaman bahwa “mati itu akan membawa pada kedamaian.” Phiuuh, bahaya banget, kan!

Lantas, apakah kita musti berhenti membaca buku karena takut disesatkan setan? Well, segitunya kalee…. Di antara jutaan buku yang beredar, karya-karya buku yang bagus dan bermutu, sarat ilmu dan manfaat juga banyak kok. Bahkan jauh lebih banyak yang mengajak pada kebaikan dibanding pada kemaksiatan. Kuncinya: selektif pilih bacaan.

 

Filter Diri

Buku adalah jendela ilmu. Banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita dapatkan dari membaca buku. Sama banyaknya dengan paham-paham sesat yang bisa kita dapat saat membaca buku. Makanya, seorang muslim musti punya filter yang kokoh untuk menangkal paham-paham sesat yang meresap dan menjalar lewat berbagai media tersebut: buku, komik, majalah, musik dan film. Jadi, harus punya pemahaman Islam yang mantap supaya ketika membaca media tersebut akal mampu menimbang benar dan salahnya.

Contohnya, ketika mencermati buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” tadi. Bagi yang nggak paham Islam, buku ini bisa menjadi referensi penting untuk melanggengkan aktivitas pacaran. Sebaliknya bagi remaja muslim yang paham Islam, udah pasti nggak bakal tertarik sama sekali buat membeli atau membaca buku itu. Judulnya aja udah nggak sesuai dengan ajaran Islam.

Pasalnya, Islam mengharamkan pacaran. Sudah tahu kan, pacaran itu definisinya khas, yakni sepasang muda-mudi yang komitmen menjalin hubungan intim dengan didominasi aktivitas berdua-duaan (kholwat). Nah, ini kan mengajarkan maksiat. Makanya, buku itu memang pantas untuk dikecam.

 

Nasihat Untuk Penulis

Penulis buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran,” Toge Aprilianto akhirnya minta maaf telah membuat keresahan dengan buku karyanya. Ia mengaku khilaf dengan buku tersebut. Aneh ya, masa khilaf kok dalam bentuk sebuah buku?

Menulis buku itu butuh keseriusan dan kesungguhan. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran.Rangkaian kalimat demi kalimat dibuat dengan penuh perhatian. Mustahil jika menulis buku itu adalah sebuah kelalaian. Ada pertanggungjawaban dunia akhirat dalam setiap kata-katanya. Makanya, jangan asal menulis buku. Termasuk kamu-kamu, D’Riser yang hobi atau bercita-cita jadi penulis. Menulislah yang positif, membangun dan inspiratif. Masih banyak ide bagus untuk dituangkan dalam tulisan, dibanding mengajari anak-anak untuk pacaran. Apalagi jika menulis buku berisi ajakan kebaikan, menjelaskan tentang pemahaman Islam, inshaa Allah akan menjadi ladang pahala yang tak ada putusnya.

Nah, untuk menulis buku inipun dibutuhkan ilmu yang mumpuni, pemahaman yang mendetail dan jika perlu dalil-dalil yang kuat. Karya seperti ini akan bernilai manfaat bagi umat. So, jangan asal nulis buku. Apalagi jika motifnya semata-mata untuk mencari materi: biar laris, best seller dan royaltipun mengalir deras ke rekening.

Sungguh rendah jika menulis buku hanya bermotif uang. Apalagi jika menghalalkan segala cara dengan sengaja membuat buku yang kontroversial supaya laris. Ingatlah, apapun yang kita tulis akan dimintai pertanggungjawaban. Catet! []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45

 

HABITS PENULIS #3 Si Peneliti Bak Sosok Politisi

Majalahdrise.com  – D’Riser,  edisi kali ini kita mo ngebahas habits penulis yang ketiga, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang gemar meneliti. Catet ya, penulis itu hobi meneliti, menyelidiki, sekaligus mendetili sebuah persoalan hingga ia menemukan simpulan, bahkan mendapatkan jawaban atas persoalan yang ia selidiki itu. Jadi, ia meneliti sekaligus memberi solusi, bukan meneliti untuknyari masalah, apalagi kalo sampai bikin masalah baru!Gawat banget kalo gitu!

Seorang kawan di komunitas kepenulisan pernah berseloroh, bahwa penulis yang baik layaknya seorang detektif, ia adalah seorang yang peka dan peduli, ia sanggup mendeteksi gejala sosial di sekelilingnya, ia selalu tergerak untuk mencari, meneliti dan mendetili persoalan. Ia pun mampu menuliskan hasil penelitiannya dan penyidikannya, sekaligus memberikan jawaban atas persoalannya secara solutif. Wah… selorohannya itu keren juga. Bener banget, penulis tuh adalah seorang detektif!

Oleh karena itulah, seorang penulisakan berupaya untuk mengetahui fakta, data dan berita yang ada di sekelilingnya. Apalagi, bagi seorang penulis tipe pelapor, seperti reporter ataupun wartawan, mencari kelengkapan berita mutlak dibutuhkan oleh mereka demi akurasi informasi yang disampaikannya. Mereka dapat menghimpunnya dengan teknik wawancara kepada para nara sumber, berdiskusi dengan para pakar di bidangnya atau bahkan turba (turun ke bawah) untuk melihat langsung keadaan di masyarakat. Teknik menghimpun informasi ini biasa dipakai dalam jurnalisme investigatif.

Saya punya beberapa kawan reporter di beberapa surat kabar dan majalah. Salah seorangnya menjadi wartawan di salah satu media nasional. Saat ia diamanahi untuk meliput latihan gabungan trimatra di lingkungan militer, ia tidak hanya menginput data dari informasi resmi para komandan. Namun, ia sengaja mencari sisi human interest para prajurit yang terlibat dalam latgab yang melibatkan kesatuan elit tempur dari masing-masing angkatan itu. Hasilnya, ia tidak hanya mampu memberitakan bagaimana kesiapan para prajurit menjaga teritorial negara kesatuan ini, namun juga mengungkap kecemburuan di antara mereka, apalagi setelah dilibatkannya pasukan burung hantu yang dibiayai Aussie dalam latgab itu.

Demikian pula bagi penulis tipe pengkaji, ia membutuhkan kajian fakta, data, dan berita yang lengkap dan akurat sebagai bahan untuk dikaji dan dianalisanya. Sebagai contoh, kawan penulisyang lain, ia adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Ia tergerak untuk menulis dampak sosial akibat kenaikan BBM. Sambil berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar, ia bertanya harga ini-itu kepada para pedagang, sekaligus menghimpun keluhan di antara para pembeli. Nyaris satu pekan, ia menginput bayak hal di lapangan, ia pun segera menuliskan hasil investigasinya sekaligus memberikan jawaban atas dampak sosial akibat kenaikan BBM tersebut. Ia mengajak para pembacanya tidak hanya untuk bersabar dan berhemat, tetapi juga untuk bergerak berjuang bersama-sama mengubah keadaan dengan solusi ideologis.

Jadi, Driser, kesibukan keseharian kita gak bisa dijadikan alasan kita untuk gak nulis. Lihat, tuh, ibu dengan tiga anak tadi, sambil berbelanja, ia dapat sekaligus investigasi, mengamati fakta di pasar, mendetili perkembangan harga-harga, sekaligus meneliti dampak sosialnya selama sepekan itu. Jadi, sambil menyelam minum aer! Halah… kembung, dunk?! Harusnya diganti, ding, sambil nyelam dapet kerang… kerang mutiara lagi!

Demikian pula yang dilakukan oleh Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail, syaikh mujtahid mutlaq dari al-Quds, Palestina yang diburu aparat intelejen di seluruh Timur Tengah, setelah mendirikan partai Islam ideologisnya itu, kerap mendengarkan berita-berita politik melalui radio ditempat persembunyiannya.Ia juga mengamati berbagai persoalan di negeri-negeri kaum Muslim, menganalisa permasalahan utamanya, kemudian memberikan solusinya secara praktis dan ideologis. Setiap peristiwa politis di dunia, khususnya Dunia Islam tak lepas dari analisanya, hingga aparat intelejen mengira Syaikh Abu Ibrahim ada dimana-mana karena partainya bergerak dimana-mana. So, gemar meneliti ternyata bukan hanya habits seorang penulis, namun juga tabiat seorang politisi dan pejuang revolusioner. Keren! []

 

BOX:

Tips Agar Gemar Meneliti

 

Oke driser, soal habits penulis yang ketigaini emang tabiat asasi bagipara penulis. Kini, saya mo berbagi tips, biar kamu padagemar meneliti:

Pahamidulu, masalah apaan yang ingin kamu amati dan kamu teliti?Kalo gak paham masalahnya apa, malahkamu yang bakal dapat masalah baru!

Cari tahutempat atau lokasi dimana kamu akan mengamati, menyelidiki atau investigasi? Jika perlu, kamu nyiapin peta, browsing via google earth atau google map, manfaatin teknologi, cuy!

Siapin hal apa aja yang kamu butuhin di lapangan, buku catetan, alat tulis, alat rekam, etc. Jangan hanya ngandelin hapalan di memori, apalagi kalo loading memorinya lemot!

Seleksi siapa aja yang akan kamu tanyai, fakta apa aja yang akan kamu amati. Jangan sembarang orang yang kamu tanyai dan amati, fokus pada masalah yang ingin kamu selidiki.

Segera himpun apapun yang kamu dapet, apalagi info-info penting and krusial harus segera kamu catet, selanjutnya silahkan menganalisa dengan berkarya…

 

Congrat’s… kini kamu sudah jadi penulis pengkaji sekaligus peneliti, bahkan belajar jadi politisi….! Salut, angkat topi, deh![]