Islam Agama Barbar? No Way!

Majalahdrise.com – Ada orang-orang yang nuduh Islam sebagai agama yang barbar, nggak beradab, dan nggak berperikemanusiaan. Mereka nuduh kayak gitu karena –katanya- Islam disebarkan dengan pedang dan peperangan. Katanya lagi, Islam nggak kenal kompromi, siapa yang nggak mau masuk Islam pasti bakal langsung ditebas pake pedang. Apakah tuduhan-tuduhan ini benar? Yuk kita lihat apa yang terjadi pada peristiwa Perang Salib.

Perang Salib berawal dari sebuah khutbah dari Paus Urbanus II pada tanggal 25 November 1095 di Konsili Clermont. Pada pertemuan itu, di hadapan para kesatria, pendeta, dan orang-orang miskin, Paus menyerukan perang suci untuk melawan kaum Muslim. Paus mengatakan bahwa orang-orang Turki Saljuk adalah ras barbar dari Asia Tengah yang baru saja masuk Islam, yang terus merangsek maju menyerbu Anatolia. Turki Saljuk telah merebut banyak wilayah di Anatolia dari Kekaisaran Bizantium Kristen. Setelah para kesatria Kristen itu membersihkan Anatolia dari kotoran-kotoran Turki Saljuk, kewajiban mereka selanjutnya adalah berbaris rapi menuju Yerusalem dan merebut kota suci itu dari tangan bangsa kafir. Memalukan sekali jika Maka Kristus berada di tangan kaum Muslim.

Kabar tentang seruan itu pun menyebar ke mana-mana dan disambut dengan sangat antusias. Pada musim semi tahun 1096, berangkatlah 5 pasukan yang terdiri dari 60.000 prajurit. Pada musim gugur, gelombang pertama tadi disusul oleh sejumlah pasukan yang lebih besar lagi, sebanyak 100.000 prajurit. Pasukan-pasukan itu diiringi oleh para peziarah dan pendeta yang tidak bersenjata. Mereka semua bergerak ke arah timur.

Pada tanggal 15 Juli 1099, pasukan salib berhasil membobol Yerusalem. Mereka membunuh orang-orang Saracen (Muslim) dan orang Turki yang mereka temukan. Tidak peduli laki-laki ataupun perempuan. Besoknya, pasukan salib memanjat atap Al-Aqsha, dan membantai sekelompok kaum Muslim yang sebelumnya telah menerima perjanjian untuk dilindungi. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki berserakan di jalan-jalan kota. Sampai-sampai orang yang berjalan di situ harus berhati-hati agar kakinya tidak menginjak bangkai laki-laki dan kuda. Di Kuil Sulaiman bahkan terjadi banjir darah hingga setinggi lutut. Puluhan ribu kaum Mulism dan Yahudi dibunuh ketika itu.

Kira-kira 88 tahun kemudian, pada tanggal 2 Oktober 1187, Salahuddin al Ayubi merebut kembali Yerusalem dari pasukan salib. Ribuan orang Kristen berada di dalam kota dan menunggu takdir mematikan mereka. Mereka menyangka bahwa Salahuddin akan membalas dendam kepada mereka, persis seperti ketika pasukan salib membantai umat Muslim pada tahun 1099. Tetapi Islam adalah kasih sayang bagi semesta. Salahuddin tidak melakukan pembantaian itu, padahal dia sangat mampu melakukannya. Dia malah menetapkan tebusan yang sangat rendah bagi para tawanan Kristen agar mereka sanggup membebaskan diri mereka sendiri. Ketika banyak tawanan itu yang nggak sanggup menebus dirinya sendiri, bahkan Salahuddin merogoh koceknya sendiri untuk menebus para tawanan itu. Itu pulalah yang dilakukan oleh saudaranya, Al-Adil. Apa yang dilakukan oleh pemuka Kristen malah lebih memalukan. Setelah menebus dirinya sendiri, Patriach Heraklius pergi begitu saja meninggalkan ribuan orang Kristen dengan membawa seluruh hartanya. Padahal semua hartanya itu sanggup menebus ribuan tawanan Kristen. Sungguh terlalu..!

Dari kilasan sejarah di atas, keliatan siapa sih yang sebenernya barbar dan nggak berperikemanusiaan. Kelembutan hati Shalahuddin Al-Ayubi terhadap musuh bukan semata karena pribadinya, tapi dibimbing oleh kemuliaan syariah Islam dalam adab peperangan. Padahal kalo ngikutin nafsu, bisa aja Shalahuddin menghabisi para tawanan perang salib sebagai bentuk balas dendam. Tapi untuk apa?

Islam mengajarkan umatnya untuk tetap menunjukkan akhlak mulia dalam peperangan. Diantaranya dengan tidak menghancurkan tempat ibadah atau tempat layanan publik, tidak membunuh anak-anak dan perempuan yang tidak ikut dalam peperangan, tidak membunuh tua renta, melindungi tawanan, dan tidak menghabisi musuh yang sudah dalam keadaan tak berdaya. Jadi, ngaco bin ngawur kalo ada yang bilang Islam agama bar-bar. Mungkin mereka ngiri karena Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari islam. Kasian deh! [@SayfMuhammadIsa]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #46