Di Bawah Langit Perang Yaman

2 Agustus 2014

Majalahdrise.com – Akhirnya aku beserta suami dan kedua anakku menginjakkan kaki ditanah Sana’a, ibukota Yaman. Negara yang telah aku idam-idamkan untuk didatangi. Negara yang aku impikan untuk menimba ilmu. Sejak usia 12 tahun, niat untuk belajar di Yaman sudah tumbuh dihatiku. Teringat saat aku tak sengaja melihat sebuah brosur tentang beasiswa ke Yaman. Di brosur itu terpampang sebuah foto para pelajar wanita yang sedang didalam kelas. Seluruh tubuhnya dibalut kain bewarna hitam dan hanya menyisakan kedua matanya. Bagaimana bisa aku merinding hanya dengan melihat hal itu? I think it’s very cool ^^

Hari pertama hingga hari ketiga kami menikmati sarapan, makan siang, dan makan malam dengan menu ala Yaman yang disediakan hotel tempat kami menginap. Semuanya enak dilidah kecuali satu, Fasulia. Bentuknya yang bikin eneg dan rasanya yang aneh membuat aku tiba-tiba kenyang. Untungnya anak-anak suka. Jadi aku tak khawatir mereka kelaparan. Sedangkan yang paling ditunggu-tunggu adalah waktu makan siang. Menu ayam panggang guling ala Yaman benar-benar lezat menggugah selera.

Ternyata saat kami datang, Yaman sedang konflik. Teman-teman Indonesia banyak yang mengungsi ke KBRI. Terutama teman-teman yang tinggal didaerah Universitas Al-Iman. Salahsatu universitas besar di Yaman yang terkenal secara internasional. Saat itu Al-Iman mendapat ancaman serangan dari Syiah Houthi (Syiah beraliran Rafidhah). Hingga perayaan Idul Fitri pun dirayakan oleh teman-teman pengungsi di KBRI. Kami yang malang karena belum mendapat rumah jadi masuk kategori pengungsi. Awalnya malu karena barang-barang kami lumayan banyak. Membuat sesak ruangan. Tapi Alhamdulillah kami diterima dengan baik. Seminggu kami di KBRI hingga suasana aman dan kami pun dapat rumah kontrakan. Alhamdulillah…

Tetapi,baru dua bulan kami menikmati hidup di Yaman dengan tenang, konflik kembali muncul. Tak tanggung-tanggung…perang besar terjadi di ibukota Sana’a. Hari itu, suamiku bilang kalau ia akan pergi keluar rumah. Selang beberapa saat suamiku pulang. Aku heran karena tumben sekali dia pulang begitu cepat. Ternyata orang-orang di jalan memberitahunya kalau perang sebentar lagi dimulai. Suamiku sempat-sempatnya menunggu ditepi jalan untuk melihat permulaan perang, setelah melihat mobil-mobil pickup berisi tentara lewat dan kemudian terdengar bunyi satu atau dua tembakan,barulah beliau pulang ke rumah.

Ternyata Syi’ah Houthi benar-benar melaksanakan ancamannya yang pernah dilontarkan dua bulan sebelumnya. Mereka mulai memerangi Universitas Al-Iman, dan kami yang tinggal diluar kompleks universitas (walau tidak belajar disitu) turut merasakan horor yang ditimbulkan.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan selama perang berlangsung, melainkan menunggu dan berharap perang reda. Kemudian pemilik rumah sewa datang kepada kami dan mengatakan untuk tidak khawatir karena menurutnya perang tidak akan berlangsung lama.

Detik-detik berlalu, kemudian menit, kemudian jam, sedangkan perang tidak semakin reda. Suara-suara yang awalnya hanyalah suara tembakan satu-dua kali dalam satu menit, semakin lama semakin sering terdengar hingga tidak ada jeda diiringi suara ledakan mortir. Hingga malam hari, suara ledakan-ledakan yang besar terus menggema. Aku tak membuang kesempatan, suara-suara itu kurekam diponsel untuk jadi kenangan. Bersyukurnya anak-anak tidak rewel ataupun ketakutan sama sekali. Hingga tengah malam, suara-suara itu masih terdengar mengiringi tidur kami.

Esok harinya kami dibuat panik karena letusan dan ledakan masih saja bersahut-sahutan. Tanpa fikir panjang aku mulai berkemas. Hanya untuk menyiapkan jika mungkin terjadi apa-apa. Hingga akhirnya datanglah pemilik rumah dan menawarkan kami untuk diungsikan (kembali) ke KBRI, sedangkan istri dan anak-anaknya sudah ia ungsikan terlebih dahulu ke negerinya di Taiz.

Perjalanan ke KBRI bukannya tanpa teror tersendiri. Jalanan sepi. Namun masih terlihat beberapa warga yang lalu lalang dipinggir jalan. Beberapa mobil yang kami lewati ternyata mobil-mobil para pengungsi lainnya terbukti dengan banyaknya barang yang memenuhi mobil mereka. Hingga akhirnya si supir menurunkan kami ditengah jalan untuk ditukar dengan taksi. Kami heran namun tak bisa berkata-kata. Tanpa babibu kami turun dan memberhentikan taksi yang lewat. Saat mengganti kendaraan aku benar-benar ketakutan. Aku takut jika ada peluru nyasar dan mengenai salah satu dari kami.

Taksi melaju sangat cepat. Tak henti-hentinya kami berzikir dan berdoa meminta perlidungan pada ALLAH. Hingga akhirnya kami pun sampai di KBRIdengan selamat. Eh si sopir bisa-bisanya mengambil keuntungan dari kejadian ini. Ia meminta bayaran tiga kali lipat dari harga biasanya.

Di KBRI kami tak mendengar suara-suara mengerikan itu. Karena jaraknya cukup jauh dari daerah perang. Hingga suatu malam kami dikagetkan oleh suara-suara yang kami hindari itu. Suara tembakan kembali kami dengar di pengungsian. Aku dan ummahat lain sangat panik. Beberapa ummahat berlarian mencari anak-anaknya. Sejujurnya aku sedikit geli dengan situasi ini. Karena saking paniknya, ada yang teriak-teriak menyebut nama anaknya. Ada yang tiba-tiba asal ambil hijab orang lain untuk menutupi rambutnya. Takut kalau-kalau harus kabur namun tidak sempat mencari milik sendiri. Barang-barang sekitar yang tercecer pun menjadi korban tendangan para ummahat. Hehehe 😀

Ternyata oh ternyata itu perayaan kemenangan Syiah Houthi yang berhasil menguasai Universitas Al-Iman. Mereka melakukan parade keliling kota dengan menembakkan peluru ke udara. Ditambah kembang api yang meramaikan malam itu hingga terasa seperti malam tahun baru (walaupun kita tidak ikut merayakan malam tahun baru namun kita terganggu dengan kegiatan itu). Kami sedikit lega karena yang kami bayangkan tidak terjadi (penyerangan) namun kesedihan begitu terasa di ruangan itu. Betapa tidak, dengan jatuhnya Universitas Al-Iman ke tangan Houthi, rumah-rumah beserta harta benda didalamnya yang mana harta benda itu milik para pelajar Al-Iman akan menjadi harta rampasan mereka. Beberapa ummahat ada yang menitikkan air mata.

Dalam perang ini kami disuguhi dagelan yang nyata, yaitu Universitas Al-Iman yang sebelumnya telah dijaga oleh tentara pemerintah dan mendapatkan jaminan untuk dilindungi ternyata hanya dalam sehari tanpa perlawanan menyerahkan universitas tersebut ke pihak oposisi yang masuk dengan melenggang, seakan-akan menunjukkan mereka dari awal berkomplot tetapi dibuat sebuah cerita perang agar tidak menimbulkan kecurigaan. (Sudah rahasia umum bahwa Universitas Al-Iman tidak disukai oleh pemerintah dan juga Amerika Serikat)

Akhirnya KBRI membuka evakuasi untuk pulang ke Indonesia. Banyak yang mengambil kesempatan tersebut tetapi kami tidak mengambilnya. Pertimbangannya adalah, kami baru saja datang dari Indonesia dengan mengorbankan banyak hal, sungguh rugi jika kami pulang kembali sedangkan ilmu pun belum didapat. Belum tentu bisa kembali ke negeri ini dengan mudah.

 

Febuari 2015

Waktu telah berlalu. Warga Indonesia di Yaman banyak yang telah kembali ke Indonesia. Sedangkan kami tetap bertahan di Yaman hingga saat ini. Perang masih berlanjut. Namun itu tak mempengaruhi kami sama sekali. Beberapa kota termasuk Ibukota Sana’a telah jatuh ke tangan Syiah Houthi.

Hingga kini, kami berharap tidak terjadi apa-apa terhadap kami. Walaupun sempat terdengar kabar kalau warga asing akan dikembalikan ke negara masing-masing, kami sangat berharap itu tak pernah terjadi sedangkan Houthi tak akan pernah berhenti hingga Yaman didaulat menjadi negara syiah. Wallaahu a’lam bishshawwab…[]

Ya ALLAH lindungilah kami sekeluarga dan lindungilah negeri Yaman…Aamiin…

8 Februari 2015 ,Sana’a_Yaman

Ummu Asad

di Muat di majalah Islam Drise Edisi 46

DARI GELAP MENUJU CAHAYA

Majalahdrise.com – Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht . Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanonmengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya“. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. Kartini mendapatkan inspirasi dari kalimat Kitab Sucinya ‘mina dulumati illa nuur’.

Jauh sebelum Ibu Kartini membuat sebuah curhatan dan semangat melalui surat-suratnya, generasi emas islam yang juga berisikan para perempuan melakukan banyak kisah yang mengharukan. Asma Binti Abu Bakar, Asma anak Khalifah Umar, membantu domestik ayahnya dan para sahabat selama menyusun strategi di tempat tersembunyi. Ini semacam misi penyelamatan dari para pengintai. Jika bukan karena tekad baja dan kecermatan, manalah bisa.

Aisyah pun begitu. Beliau pengumpul hadist dan tempat bertanya para muslimah, bahkan dihormati di kalangan sahabat. Ini setara, kalau kita melihat wanita berpendidikan tinggi di era saat ini. Ada perempuan jadi professor di usia muda, jadi dosen dan motivator, itulah posisi Aisyah Radiallahu Anha.

Yang patut dicatat pula dari cuplikan kisah Ibu Kartini tadi, ternyata salah satu inspirasi beliau ialah Al-Qur’an. Ini yang jarang dicermati ya. Nah, artinya kalau kita kembali membuka kitab suci, mengisi pemahaman dengan al-Qur’an, kita bisa menemukan berbagai solusi permasalahan. Pastinya, untuk paham, kita butuh guru dalam berbagi, minimal buku penunjang. Plis deh, hari gini jadi cewe males baca, bisa ketinggalan info.

 

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut Ilmu,Niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan jalan menuju Surga Baginya”. 

(H.R. Muslim).

 

Jadi, menjadi great muslimah di era digital ini ialah,,,, buka mata, bunga telinga, ikut ngaji, tutup aurat, mengambangkan potensi diri dan mohon restu dari orang tua. Tren sepuluh tahun ke depan, islam akan mewarnai dunia. Tren kebarat-baratan udah mulai ngebosenin. Orang Barat aja berbondong-bondong pengen mengenal islam. Nah, akankah kita terus jadi orang yang ketinggalan? Sementara, kita punya penghulu alias buyut yang tidak hanya diakui dunia, tapi ikhlas demi urusan akhirat. [Alga Biru]

 

BOX:

4 Isu Dunia Menyerang Islam dan Perempuan

Islam tidak berhenti menarik hati, tidak berhenti pula para pembenci menebar strategi mengaburkan indahnya islam ini. Berikut isu seputar muslimah yang patud diwaspadai. Becareful Sis!

‘Divorce Party’

Beberapa waktu lalu, sempat ramai di sosial media tentang maraknya perempuan muslim yang minta bercerai atau resmi cerai dari suaminya. Ini dinilai dari berbagai sisi, bencana maupun prestasi. Lagi-lagi, nilai islam yang dibidik. Islam dengan seruan kepatuhan kepada suami, dinilai mengekang perempuan. Waspadalah, ini tipudaya. Perempuan atau laki-laki ialah sama, pembedanya hanyalah taqwa.

LGBT

LGBT ialah singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Trangender. Isu ini menarik pro-kontra di negara Amerika dan Eropa. Beberapa negara membolehkan bahkan sponsor LBGT pun turun tangan. Jangan sampai isu yang tidak sesuai fitrah manusia ini mendominasi pikiran kita apalagi menjadi jalan hidup. No way!

Emansipasi

Ini isu lama, tapi masih aja laku dan dijajakan dimana-mana. Wanita gagah diekspos sebagai bentuk emansipasi. Nasib wanita yang ditelantarkan, dinilai wujud menodaan terhadap harkat wanita. Jauh dari semua itu, korban dari sistem kapitalis yang busuk, bukan Cuma wanita tapi juga pria. So, mungkin ini yang disebut gagal fokus!

Miss Universe

Untuk kesekian kali, ajang pemilihan ratu kecantikan digelar. Dengan berlindung dibalik beauty, smart and behavior, acara terus berlangsung. Sudah saatnya penilaian yang berbau fisik dihentikan. Jika benar bukan karena cantik, kenapa miss universe selalu cewek cantik ya. Nah! [Alga Biru]

Derap Rantai Episode 17

Majalahdrise.com – Dinding gunung batu di hadapan Mutsana membuka lebar. Sebuah gerbang membentang di hadapannya. Dia memerhatikan apa yang terjadi dengan tatapan mata membelalak. Dia benar-benar tidak menyangka semua yang sedang dilihatnya. Bongkahan batu berpermukaan halus yang didorongnya tadi ternyata tombol kunci sebuah gerbang. Sambil menuntun kudanya, Mutsana berjalan memasuki gerbang itu.

sebelumnya,,,,

Ketika dia telah melangkah masuk, gerbang batu itu menutup dengan sendirinya, menyisakan kegelapan yang menelannya. Mutsana berada di semacam lorong yang berdinding batu karang. Dia berada di dalam gunung batu yang tadi dilihatnya. Mutsana melangkahkan kakinya tanpa penerangan. Hanya beberapa helai cahaya yang menyusup masuk dari atas yang menemaninya. Jalan yang dilangkahinya diperkeras dengan pecahan batu-batu gunung.

Ada dua hal yang bersemayam di hati Mutsana, rasa takjub dan tanda tanya. Sejak pertama dia menyaksikan ada sebuah benteng yang dibangun di dasar jurang, rasa takjub telah menggelayuti sanubarinya. Sekarang dia sedang dalam perjalanan untuk mengetahui rahasia apa yang ada di balik tembok benteng itu?! Rasa takjub tadi disusul oleh ribuan tanda tanya. Siapa yang membuat benteng itu? Orang-orang macam apakah prajurit berpakaian hitam tadi, hingga bisa membangun tempat seperti ini? Siapakah sebenarnya mereka? Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang menyerangnya.

Di ujung lorong batu itu, Mutsana melihat dua titik cahaya. Ada dua obor yang kobaran apinya menari-nari di hadapan pelupuk matanya. Cahaya obor itu menerangi redup ke sekitarnya, dan terlihatlah ada dua orang prajurit hitam yang sedang menjaga sebuah pintu. Mutsana berusaha agar tetap tenang, dia berusaha untuk terlihat sebiasa mungkin.

Kedua penjaga di ujung lorong itu terlihat waspada saat mengetahui kedatangan Mutsana. Tangan mereka membelai-belai gagang pedang yang tersemat di pinggang mereka. Sampailah Mutsana di hadapan kedua penjaga pintu itu. Dia mengamati segala hal yang bisa diamati dari kedua penjaga pintu itu. Mereka berpakaian serba hitam, membawa pedang, mata mereka keruh dan sayu.

“Aku utusan dari Alamut!” Kata Mutsana. Dia menatap tajam kedua penjaga itu bergantian, kemudian tangan kirinya merogoh sesuatu dari saku bajunya. Sebuah medali dari perak yang berkilauan ditimpa cahaya obor telah tergeletak di tangannya. Tercetak gambar sebuah kalajengking dengan dua bilah pedang bersilang di kedua sisi medali perak itu. Mutsana menunjukkan medali itu kepada penjaga pintu.

“Kemana Sahal?” Kata salah seorang dari penjaga pintu.

“Dia sedang ditugaskan ke tempat lain,” sahut Mutsana.

“Jadi kau orang baru? Siapa namamu?” Tanya penjaga pintu yang seorang lagi.

“Mutsana!”

“Nah, Mutsana, lakukanlah tugasmu dengan baik! Serahkan kudamu.”

Mutsana mengangguk saja sambil menyerahkan tali kekang kudanya. Seorang penjaga menuntun kuda Mutsana ke sebuah ruangan lain yang ternyata terletak di samping lorong, sebuah istal. Penjaga yang seorang lagi membukakan pintunya untuk Mutsana dan membiarkannya masuk. Jantung Mutsana berdebar-debar, entah apalagi yang akan dia temui di sebuah tempat yang menembus gunung itu.

Apa yang ada di balik pintu itu kembali membuat mata Mutsana membelalak lebar. Di sana terhamparlah sebuah aula yang luas, yang diterangi puluhan obor. Tak ketinggalan berbatang-batang lilin pun menerangi ruangan itu, sehingga membuatnya terang benderang. Bagian bawah ruangan itu dilapisi oleh permadani yang halus dan tebal. Berbagai jenis senjata tersimpan dengan rapi di rak-rak di pinggir ruangan. Ada pedang, belati, tongkat, cakar besi, gada, martil, dan berbagai jenis senjata lainnya. Banyak anggota prajurit hitam yang sedang berlatih-tanding di ruangan itu, hingga ruangan itu ramai dengan suara dentang senjata. Mutsana terpukau, ternyata dia sedang memasuki tempat latihan para prajurit hitam. Dia merasa takjub saat menyaksikan semua itu namun cepat-cepat dia tersadar sebab dia tidak punya banyak waktu.

Berjalanlah Mutsana di tepi ruangan itu sambil terus memerhatikan keadaan. Para prajurit hitam memang sangat terlatih, namun dia menemukan keanehan, setiap dia menatap mata prajurit hitam itu, dia saksikan bahwa mata mereka keruh. Ada gurat-gurat merah terpahat di mata mereka.

Mutsana terus berjalan di pinggiran ruangan itu kemudian berbelok di koridor sebelah kanan. Tak ada seorang pun yang memerhatikan keberadaannya. Dia benar-benar telah melebur dengan penyamarannya. Langkahnya tenang sebagai seorang prajurit hitam di tengah-tengah lorong yang diterangi oleh cahaya obor itu. Ketika dia tiba di ujung koridor, dia berhadapan lagi dengan sebuah pintu. Dibukanya pintu itu perlahan, dan berhadapanlah dia dengan sebuah persimpangan. Ke manakah dia harus berbelok? Kanan ataukah kiri?

Untuk beberapa detik Mutsana berdiri tegak di tengah-tengah persimpangan itu, seolah sedang memikirkan sesuatu. Kemudian memutuskan berbelok ke kanan. Dia susuri lagi lorong yang berdinding dan berlantai batu itu. Semakin dalam dia masuki benteng itu, bau harum yang aneh semakin kuat menyeruak. Dia belum pernah mengenal bau macam apakah itu, namun semakin lama dia hirup bau harum itu, pandangan matanya semakin berkunang-kunang. Dia memang harus bergegas.

Lorong itu berbelok ke kiri, Mutsana pun mengikutinya. Ada garis-garis cahaya yang menembus lubang-lubang di dinding, dia mengintip melalui lubang-lubang itu, dan apa yang dia lihat kembali mencengangkannya. Di balik dinding itu, di luar, ada sebuah taman yang indah sekali. Sebuah taman yang meniru taman-taman surga. Seakan-akan padang pasir yang tandus dan gersang itu telah disihir menjadi subur makmur. Rerumputan hijau menghampari taman yang luas itu dan sebuah sungai membelah di tengah-tengahnya. Bunga-bunga beraneka warna tumbuh dengan indah di sana tanpa ragu, dan suara denting dawai mengalun merdu. Rusa-rusa merumput dengan damai dan kelinci-kelinci putih melompat-lompat riang. Kuda-kuda jinak dibiarkan berlari dengan bebas. Mata Mutsana membelalak lebar, mengapa ada taman seindah itu di dalam benteng yang dipenuhi para pembunuh?

Dia menyadarkan dirinya dari ketakjuban dan segera melangkahkan kakinya. Dia tidak boleh terlihat seolah-olah baru pertamakali menyaksikan taman itu, sebab bisa-bisa penyamarannya terbongkar. Dua orang prajurit hitam berpapasan jalan dengannya, dan mereka lewat begitu saja tanpa curiga. Mutsana kembali merapatkan tubuhnya kepada lubang di dinding itu, dia harus mengamati dengan cermat apa yang ditemukannya, sementara bau harum itu semakin mengganggu pikirannya.

Ada perempuan-perempuan cantik bergaun aneka warna yang menari-nari di dalam taman itu. Mereka tertawa dan bersendagurau. Mutsana semakin tak mengerti apakah dia sedang menyaksikan para bidadari? Di tepi sungai, Mutsana melihat ada sekelompok pemuda yang sedang duduk bersila, di depan mereka ada seorang lelaki tua berpakaian putih dengan janggut yang juga putih. Sepertinya orangtua itu sedang mengajarkan sesuatu kepada pemuda-pemuda tadi, Mutsana tak bisa mendengar apa yang dikatakan lelaki tua itu.Ketika dia perhatikan wajah-wajah pemuda itu dengan saksama, dia kembali terkejut. Ada wajah yang sepertinya pernah dia lihat, kemudian yakinlah dia bahwa pemuda yang dilihatnya adalah lelaki asing yang terluka kakinya di tengah gurun beberapa waktu yang lalu. Mutsana melihat ada perban yang melingkar di kaki pemuda itu.

Ternyata dia adalah anggota prajurit hitam, bisiknya. Berarti dia sengaja melukai dirinya sendiri untuk menjebak aku dan Jabal.

Dia melanjutkan langkahnya. Koridornya cukup panjang, gumamnya lagi. Tandanya taman itu cukup luas. Sangat aneh di tempat yang mengerikan seperti ini ada taman yang amat indah. Tapi tujuanku adalah Gerbang Neraka, seperti yang diberitahukan oleh prajurit hitam tadi. Entah tempat macam apa Gerbang Neraka itu!

Setelah perjalanan yang panjang menyusuri lorong itu, sampailah lagi Mutsana pada ujungnya. Namun kali ini jalan yang ada di hadapannya mengarah ke bawah, berbentuk anak tangga.Persis seperti yang dikatakan padaku, bisiknya. La hawla wala quwwata illa billah.

Mutsana menjejak anak tangga itu, dia melangkah turun mencari gerbang neraka. Hatinya hanya bisa pasrah kepada Allah, semoga dia benar-benar menemukan Jabal di sana, dan berhasil membebaskannya. []

Bersambung…..

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 46

Melabrak Kodrat Kaum Hawa

Majalahdrise.com – Driser, kita turut prihatin dengan nasib perempuan yang hidupnya sering jadi bulan-bulanan. Seperti kasus kekerasan dalam rumah tangga yang gencar menghiasi layar kaca. Siapa sih yang nggak terusik dengan berita-berita menyedihkan itu. Cuman masalahnya, apa bener gerakan feminisme layak kita jadikan kendaraan buat memperbaiki hidup kaum hawa? Kayanya kita mesti lebih jeli deh.

Kalo kita baca sejarahnya, udah keliatan kalo gerakan feminisme lahir dan berkembang di Eropa yang hidup dengan prinsip sekuler. Nggak ngasih ruang bagi aturan agama dalam kesehariannya. Otomatis, standar yang mereka pake  dalam perjuangannya adalah untung rugi dalam kacamata manusia. Jauh dari pertimbangan akherat. Hasilnya, mereka bakal ngotot untuk melabrak setiap aturan yang dianggap bisa merendahkan wanita. Termasuk aturan Islam. Nah lho?

Lemahnya posisi perempuan dalam keluarga, dianggap sebagai penyebab menjamurnya kekerasan dalam rumah tangga. Walhasil, kaum feminis gencar mengajak perempuan untuk eksis di dunia kerja. Baik sebagai buruh pabrik atau pekerja kantoran. Agar secara ekonomi tidak bergantung pada pria dalam keluarga. Label wanita karir jadi simbol kesetaraan.

Emang sih dengan bekerja, kaum hawa jadi bisa menghidupi dirinya sendiri. Namun, mandiri secara ekonomi tak berarti memperkuat posisinya di dunia kerja. Tetap saja secara fisik, wanita punya kelemahan. Kondisi ini yang sering dimanfaatkan oleh pria untuk melakukan pelecehan di tempat kerja. Buruh wanita dilecehkan oleh atasan dengan ancaman kontrak kerja tak akan diperpanjang. Atau ketika pulang kerja lembur atau shift malam, kaum hawa sering jadi sasaran korban pelecehan. Ngeri!

Di Jakarta, terdapat sekitar 80.000 orang buruh. Sebanyak 90 persen dari angka tersebut merupakan buruh wanita dan 75 persen buruh wanita yang ada di Jakarta telah mengalami kekerasan seksual. Dari catatan tahunan yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan tahun 2012, terdapat 216.156 kasus kekerasan seksual. Di antaranya diterima oleh buruh wanita sebanyak 2.521. Angka itu berdasar kepada buruh wanita yang melaporkan kejadian yang dialaminya. (Megapolitan.Kompas.Com, 19/04/13).

Secara psikis, wanita bekerja merasa punya posisi yang setara bahkan lebih tinggi dalam keluarga. Karena sukses di dunia kerja atau penghasilannya melebihi suami. Sampai-sampai jadi ‘kepala’rumah tangga dalam urusan nafkah. Walhasil, sang istri nggak ngerasa penting untuk selalu tunduk pada keinginan suami. Malah kalo udah ngerasa nggak nyaman dengan pasangan, dengan mudahnya mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Ngerasa nggak akan ada masalah dalam urusan keuangan. Toh, dirinya sudah berpenghasilan. Waduh!

Kesetaraan gender juga berimbas pada pola pergaulan. Laki perempuan udah nggak ada batasnya lagi. Yang udah berkeluarga atau lajang, kalo di tempat umum bebas bercengkerama. Haha hihi bin ketawa ketiwi. Bukan cuman mereka yang senang, setan juga jingkrak-jingkrak ngomporin. Biar tuh pasangan makin dalam terjerumus ke jurang kemaksiatan. Tak ayal, terjadi perselingkuhan. Ujung-ujungnya, perceraian!

Driser, kita bukan bermaksud lebay bin paranoid ya ide emansipasi binti kesetaraan gender yang menjerat kaum hawa. Faktanya, bukan kemuliaan yang akan diperoleh wanita. Justru ternodanya martabat mereka. Karena segudang masalah yang menimpa wanita, bukan karena mereka kaum hawa. Tapi akibat cara pandang kaum adam yang dipengaruhi gaya hidup sekuler terhadap perempuan. Seperti diungkap oleh Nicole Kidman di atas. Jadi, salah sasaran kalo tuduhan penyebab penindasan terhadap perempuan ditujukan pada syariah Islam yang sangat memuliakan wanita. <<–CATET!

di muat di Majalah Remaja Islam drise edisi 46