HABITS PENULIS #5 Menjalin Komunitas

Majalahdrise.com – D’Riser, pada edisi kali ini, kita mo ngebahas habits penulis kelima alias yang terakhir, yaitu seorang penulis itu harus punya komunitas ato mampu menjalin komunitas. Sesungguhnya, seorang penulis yang baik tentu dia ingin selalu berbagi sekaligus mengembangkan karier kepenulisannya. Salah satu di antaranya dengan terlibat aktif dalam komunitas kepenulisan atau komunitas yang terkait erat dengan dunia literasi, baik komunitas buku, maupun komunitas baca.

Dengan kita memiliki komunitas, selain bersilaturahmi, kita juga akan selalu terpacu untuk menjadi lebih baik karena saat kita terlibat aktif di komunitas, kita akan mendapatkan kawan-kawan yang memiliki habits yang sama, kreativitas yang sama, bahkan ide ato ideologi yang sama. Jadi, kita nggak ngerasa sendirian saat menerjuni gelanggang yang sama karena kita punya kawan seiring, seirama, bahkan seperjuangan. Bahkan, saat kita mengalami stagnasi pun, ada kawan-kawan yang siap membantu, menyemangati atau bahkan mengompori kita untuk bangkit dan kembali berkarya.

Selain itu, saat aktif dalam komunitas, kita akan selalu mendapati kawan berbagi dan berdiskusi tentang kreativitas yang sedang dan sama-sama digeluti. Contohnya gini, saat booming fiksi Islami pertengahan tahun 2000-an yang dipelopori komunitas Forum Lingkar Pena (FLP), Mas Harry Haris Hendrayana yang kondang dengan nama pena Gola Gong pun terpacu untuk menulis tema religius tanpa menghilangkan karakteristiknya yang bernuansa adventures. Mas Gong pun intens berdiskusi dengan kawan-kawan FLP dan hasilnya, lahirlah novelet Al-Bahri, si anak samudera.

Saat saya bertanya tentang kreativitasnya menulis Al-Bahri itu, Mas Gong mengaku bahwa sosok Al-Bahri itu dimaksudkan untuk mengobati kerinduan para penggemarnya akan sosok Si Roy. Sebelumnya, Mas Gong emang kondang dengan novel Balada Si Roy. Sebuah novel anak muda yang dimaksudkan juga untuk menandingi Catatan Si Boy. Sedangkan dalam novelet Al-Bahri-nya itu, Mas Gong mengemasnya dengan nuansa Islami. Setelah sukses dengan novelet itu, Mas Gong pun semakin kreatif menghasilkan karya-karya religiusnya, di antaranya adalah trilogi Pada-Mu Aku Bersimpuh yang naskahnya tidak hanya dibukukan, namun juga diangkat ke atas pita seluloid alias difilmkan. Keren!

Ternyata, gak hanya Mas Gong yang tersulut untuk menghasilkan karya-karya religius, demikian pula halnya dengan kawan-kawan penulis lainnya yang tergabung di Alpen Prosa (Aliansi Penulis Pro Syari’ah) ataupun Asosiasi Penulis Ideologis (API) Islam yang diarsiteki oleh Felix Y. Siauw dan Sayf M. Isa. Termasuk juga Adi Wijaya dan kawan-kawannya di Senada (Sekolah Pena Dakwah), mereka menjadikan komunitasnya untuk mengkader para penulis muda, sekaligus menghasilkan karya.

So, seorang penulis yang baik tentu akan memahami betul urgensi dari komunitas kepenulisan ini karena melalui komunitasnya ini, dia dan juga para penulis lainnya akan selalu memiliki tantangan baru saat ide-ide bermunculan ketika mereka berdiskusi dengan sesama penulis, mereka akan selalu mendapat kompetitor positif dalam berkarya. Jujur aja, neh, saat ketemu dengan sesama penulis pun, saya kerap ditanya, sedang nulis buku apaan? ato lagi terlibat dalam proyek penulisan dimana? dan pertanyaan sejenis itu lainnya. Nah, kalo ditanya kek geto, semangat nulis pun pasti langsung tersulut. Ntar kalian buktiin aja sendiri, ya….

Nah, lho, bener banget komen kawan saya tadi bahwa dengan banyak menjalin komunitas itu, selain bersilaturahmi, juga pasti banyak mendatangkan rezeki. Maksudnya adalah dengan banyak ketemu orang, ketemu banyak relasi, ketemu sesama penulis, dapat banyak ide untuk berkarya, trus juga menghasilkan banyak karya yang diterbitkan dan dibukukan. Waow… rezeki pun langsung berdatangan kepada kita…. duh bahagianya. Kerennya lagi, gak hanya itu, teman-teman wartawan dan reporter yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kerap saling membantu saat salah seorang anggotanya berkasus di pengadilan. Asyik kan? Makanya jangan sungkan untuk gabung dengan komunitas kepenulisan. Kalo skill kamu dalam menuangkan pikiran dalam tulisan pengen makin terasah. Catet!

Oke, Bro and Sist, di edisi D’Rise y.a.d kita akan membahas tema-tema kepenulisan yang menarik lainnya…. tunggu tanggal penerbitannya, ya?![]

 

 

BOX:

Jalin Komunitas Yuk!

Oke, D’Riser, kini saya akan berbagi tips agar kamu mampu menjalin komunitas untuk mengasah keterampilan menulismu, sekaligus mengembangkan karier kepenulisanmu:

  1. Pastikan dulu kamu mo aktif di komunitas kepenulisan yang mana? mo di komunitas penulis buku anak, remaja ato dewasa? so, jangan salah milih, ya?;
  2. Trus, komunitasnya yang populer ato yang religius? ga asyik banget kan, kalo kita mo nulis tema-tema Islami tapi ngumpul bareng dengan para penulis liberal yang mengusung ide sepilis dengan jargon l’art pour l’art;
  3. Pilihlah komunitas yang juga punya sistem pembinaan dan kaderisasinya biar keterampilan kita ada penerusnya, geto lho;
  4. Jangan sungkan sharing ide dan kreativitas, kalo kamu males ato pelit berbagi, halah alamat dijauhin, tuh! karena silaturahmi ato silah ukhuwah itu sekaligus silah fikriyah;
  5. Tetap aktif berkarya, biar kamu dan komunitasmu semakin eksis dan berkibar.

di muat di majalah remaja islam Drise Edisi 47

 

Muhammad Shiddiq Ilham Noor “…bukan hanya agent of Change, remaja adalah architec of Change!”

MajalahDrise.com – Segudang prestasi pernah diraihnya. Mulai dari juara lomba penulisan Essay tingkat Propinsi hingga lomba Karya Ilmiah tingkat nasional. Hobynya dalam berorganisasi mencatatkan namanya dalam berbagai kepengurusan di sekolahnya. Bahkan sempat mengantarkanya untuk ikut studi kepemimpinan di negeri kanguru. Dicky, begitu ia biasa disapa. Salah satu siswa berprestasi yang duduk di bangku SMA Islam Terpadu Insantama Bogor. Kang Isa dari Drise, berkesempatan ngobrol dengan doi seputar kondisi pelajar saat ini. Kita simak yuk!

Biasanya setelah UN banyak remaja yang pawai dan corat-coret baju seragamnya. Komentar Dicky?

Wah, kalau ditanya tentang kondisi  remaja saat ini, jelas kita semua akan menjawab tanpa ragu bahwa remaja sedang sakit kronis, kacau balau, dan gak punya arah.Banyak dari saudara-saudara kita yang identitasnya gak jelas karena mudah terbawa arus yang dicekokan oleh peradaban sekuler ini. Gambarannyaseperti kertas dengan mudah terbawa angin. Hanya dengan dasar tak mau dibilang cupu(gak gaul) atau dibilang kuper mereka mengejar semua hal yang membuat eksis. Kalaulagi nge-trend boyband, kerjaanya koleksi lagu/poster boyband. Kalaulagi nge-trend BB (blackbarry), dengan susah payah minta orangtua untuk membelikan BB. Pastrend ganti jadi android, semua remaja berbondong-bondong beli android. Bahkanbatu akik! Yang kalau dulu cuma bapak-bapak, sekarang remaja juga ikut-ikutan, karena lagi nge-trend dan itu semua akan terus berlanjut karena mereka gak punya arah.

Oke, buat sebagian orang contoh tadi memang masih simpel dan cuma kasus sehari-hari. Tapisayangnya kehilangan arah ini menyebabkan dampak yang lebih besar dari sekedar remaja mengejar ‘trend’ yang akhirnya bisa kita katakan remaja sedang sakit kronis. Gimana enggak, ada berapa puluh remaja yang meninggal berkaitan aksi geng motor? Beraparatus remaja yang meninggal karena melakukan tawuran? Beraparatus ribu remaja yang melakukan aborsi akibat seks bebas? Berapajuta remaja yang hidupnya berantakan akibat menggunakan narkoba? Berapabelas juta yang merusak otaknya dengan menyaksikan video porno? Dan itu semua masih sebagian kecil dari permasalahan remaja. Belumditambah bullying, rokok,penyakit dan lain lain. Makatidak salah kalau remaja dikatakan dalam keadaan sakit dan kacau balau.

Untuk coret-coret baju setelah UN, hal ini sepertinya sudah menjadi tradisi turun-temurun kakak kelas-adik kelas. Daritradisi coret-coret baju dapat dikatakan kalau sebagian dari saudara-saudara kita memiliki sifat hura-hura dan cuek pada sekitar. Danhal itu hasil dari terjebaknya saudara-saudara kita dalam kehidupan masa kini yang telah rusak akibat gaya hidup sekuler. Dan sekali lagi ini adalah akibat dari remaja yang tidak memiliki arah dan pijakan dalam bertindak, tidak memiliki penerang dalam mengarungi gelapnya dunia. Dan akhirya berakhir dengan sifat hura-hura mencoret-coret pakaian.

 Ada kasus pelajar yang ‘pesta seks’ setelah selesai UN. Bagaimana menurut Dicky?

Ya, ini juga sebuah budaya tak beradab yang sudah dijadikan tradisi dengan alasan meluapkan rasa senang setelah menyelesaikan ulangan terakhir dalam pendidikan 12 tahun. Banyakdari saudara-saudara kita akhirnya kelewatan batas. Padahaltanpa memperhatikan apapun, pesta seks adalah budaya yang ‘hewani’. Bahkan jauh-jauh hari Islam sudah mengharamkan dengan tegas zina walau hanya mendekatinya dengan cara pacaran. Lalu dengan ngotot sebagian dari kita (remaja) mengatakan kalau masih bisa menahan diri dalam berpacaran. Ternyata hasilnya, budaya seks bebas ini. Allah swt sudah mengingatkan kita, Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.(QS. Al-Isrâ 17)

 Menurut Dicky, sosok pelajar yang baik itu kaya gimana sih?

Menurut saya teman-teman remaja itu dibagi ke beberapa kelompok. Pertama, kelompok yang telah terjebak dalam kehidupan sekuler yang menjadi pelaku-pelaku bermasalah sebagian besar remaja. Kedua, mereka yang tidak melakukan kerusakan/kebodohan dalam berperilaku tetapi cuek bebek terhadap sekitar, tidak peduli terhadap nasib generasi-generasinya yang sesama dan hanya peduli pada urusan sendiri. Danyang ketiga adalah mereka yang tidak terjebak bahakan malah menjadi remaja yang peduli terhadap sekitar, peduli untuk memperbaiki kerusakan generasinya. Mereka selalu gelisah pada kerusakan yang terjadi pada remaja saat ini. Dan sadar bahwa perbaikannya adalah dengan menghapus kehidupan sekuler dan mengembalikan islam sebagai cahaya kehidupan. Islam sebagai pijakan dan penerang dalam bertindaknya remaja. Dan kelompok ketiga inilah yang menjadi remaja ideal yang seharusnya.

 Bagaimana cara kita memperbaiki kondisi remaja saat ini?

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kamu kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka” (QS. Ar-ra’du: 11). Untuk memperbaiki kondisi remaja saat ini satu-satunya cara adalah dengan membentuk kelompok remaja yang ketiga tadi. Dengan begitu akan banyak agen-agen remaja yang peduli untuk memperbaiki sesama remaja, makin banyak yang peduli, maka akan makin banyak remaja yang terselamatkan. Dan tentu kuncinya adalah mengajak para remaja untuk kembali kepada cahaya dunia yaitu islam. Yang dengan itu mereka akan mendapat penerangan dalam gelapnya dunia. Karena jelas Islam sudah memberikan kunci keselamatan untuk para remaja dalam mengarungi hidupdan dalam mencari jati diri. Sehingga akan lahir kembali kembali generasi seperti para sahabat Ali bin Abi Thalib, Muhammad alFatih, Zaid bin Tabit, Aisyah binti Abu Bakar dll.

 

Saat ini, kehidupan kita lekat dengan aturan kapitalisme. Menurut Dicky, seberapa bsar aturan ini mempengaruhi remaja?

Sangat dalam. Kapitalisme dengan senjata sekularisme sudah berhasil mengacau balau kondisi remaja saat ini melalui food, film, fashion, dan fun. Remaja jadi terpengaruh dengan budaya barat yang membuang-buang umur. Semua lini kehidupan remaja sudah dimasukin berbagai aturan kapitalisme

 

Menurut Dicky, bagaimana Islam memandang remaja dan memperbaiki kondisinya?

Remaja adalah para manusia yang sudah baligh maka sudah terbebani hukum. Artinya, remaja adalah manusia yang perbuatannya sudah terikat dengan hukum Allah. Maka sudah seharusnya kita sebagai remaja selalu memiliki islam dalam bersandar untuk bertindak melakukan aktivitas sehari-hari. Remaja adalah generasi pelanjut generasi sekarang. Bukanhanya agent of change remaja adalah architec of change. Yang seharusnya bukan menjadi beban dalam kehidupan bermasyarakat melainkan pembawa ide pembaharu dan selanjutnya akan jadi leader di tengah masyarakat. Remaja seharusnya pembawa peringatan terhadap masyarakat rusak. Dan satu-satunya cara untuk memperbaiki remaja  agar mau menjadi perubah adalah membentuk remaja kelompok ketiga yang intinya adalah mau untuk melakukan dakwah. Pendakwahyang dapat menjadi dokter dari penyakit kronis, pendakwah yang menjadi penertib kekacau balauan, dan pendakwah yang menjadi penerang bagi yang tak punya arah. Kitabutuh remaja yang mau berdakwah. Obat dari hancurnya remaja adalah remaja itu sendiri!

Driser, semoga oborolan drise dengan Dicky di atas ngasih banyak inspirasi. Bener banget apa yang dikatakan Dicky, obat dari hancurnya remaja adalah remaja itu sendiri. Remaja yang harus berubah. Remaja yang harus berani berbenah cara berpikir dan berperilakunya agar sesuai dengan Islam. Sehingga bisa melahirkan generasi yang peduli dengan lingkungan dan aktif berdakwah. Saat itulah mereka akan menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. #YukNgaji, sampai nanti sampai mati!

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 47

Perawi Hadits Terbanyak

Majalahdrise.com – D’Riser pasti sudah pada familiar deh dengan nama Abu Hurairah. Secara, banyak hadits yang kita baca, diawali dengan “diriwayatkan dari Abu Hurairah.. dst”. Wajar aja sob, soalnya, Abu Hurairah ini merupakan sahabat Rasulullah Saw yang paling banyak meriwayatkan hadits. Jumlah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra. sebanyak 5374 hadits lho!

Tau nggak sih, sebenarnya Abu Hurairah bukanlah nama asli dari sang perawi hadits ini. Nama asli beliau adalah Abdu Syams bin Shakhr ad-Dausiy, tapi setelah masuk Islam namanya diganti menjadi Abdurrahman. Abu Hurairah berarti “bapak kucing kecil”, julukan itu disematkan karena beliau sangat menyukai kucing dan sering membawa kucing kesana kemari.

Menurut al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani, Abu Hurairah masuk Islam ketika Rasulullah Saw. masih berdakwah di Makkah, melalui perantara Thufail bin Amru Ad-Dausiy Ra., salah satu pembesar kabilah bani Daus. Thufail bin Amru sendiri masuk Islam setelah bertemu Rasulullah di Makkah, kemudian berdakwah di kampung halamannya. Salah seorang yang pertama kali menyambut ajakan Thufail bin Amru ini adalah Abu Hurairah. Tapi, Abu Hurairah baru berhijrah ke Madinah pada masa peristiwa Khaibar, 7 tahun setelah Hijrah.

Persahabatan Abu Hurairah dengan Rasulullah Saw. memang relatif singkat, yaitu sekitar 4 tahun. Tapi, masa 4 tahun itu digunakan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu dari Rasulullah Saw. Abu Hurairah tak pernah absen dari majelis-majelis Rasulullah. Tidak hanya belajar langsung dari sumbernya, Abu Hurairah juga merekam kata demi kata yang terucap dari mulut Nabi Saw, dan menyimpan setiap momen persoalan yang Rasulullah selesaikan.

Satu keistimewaan yang dimiliki oleh Abu Hurairah tetapi tidak dimiliki oleh sahabat yang lain adalah ingatannya yang sangat kuat. Abu Hurairah bisa mengingat semua perkataan dengan detil betapapun panjangnya. Dan ingatan itu bisa ia pertahankan hingga akhir hayatnya. Awalnya, Abu Hurairah sering lupa hafalannya, kemudian beliau mengadu kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. kemudian mendoakan Abu Hurairah, sejak saat itu beliau tak pernah lupa dengan hafalannya.

Doa Rasulullah Saw. ini semakin menambah motivasi Abu Hurairah untuk menimba Ilmu. Demi mendengarkan dan menghafal sabda-sabda Rasulullah Saw, Abu Hurairah rela menjadi Ahlu as-Shuffah (para sahabat yang hidup di beranda masjid), dalam keadaan faqir dan tak memiliki harta. Tak jarang beliau harus menanggung rasa lapar dan haus hingga beberapa hari. Meski demikian, Abu Hurairah lebih memilih untuk terus menuntut ilmu sambil mengikat batu di perutnya sebagai pengganjal rasa lapar.

Abu Hurairah berkata, “Orang-orang banyak yang heran, bagaimana aku dapat meriwayatkan hadis begitu banyak. Sebenarnya ketika saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin banyak yang berdagang dan saudara-saudara dari kaum Anshar sibuk berladang, aku selalu di samping Rasulullah saw.”

Abu Hurairah r.a. pernah bercerita kepada Abdullah bin Umar r.a., “Aku selalu bersama Rasulullah saw. di saat orang lain tidak berada di situ. Pekerjaanku hanyalah menghafal apa yang telah disabdakan Rasulullah saw. dan aku tidak makan selain yang diberikan Rasulullah saw. kepadaku.”

Tak hanya zuhud dan ahli beribadah, Abu Hurairah juga tidak ketinggalan melaksanakan tugas di medan pertempuran, baik pada masa Rasulullah Saw hidup maupun setelah beliau Saw. meninggal. Beberapa ekspedisi yang pernah diikuti oleh Abu Hurairah diantaranya adalah perang Khaibar dan perang di Wadi Al Qura’, ekspedisi Dzatur Riqa’, Perang Tabuk, Perang Mu’tah, Perang Riddah dan Perang Yarmuk.

Sepeninggal Rasulullah Saw., Abu Hurairah tinggal di Madinah dan mengajarkan Hadits. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Abu Hurairah sempat diangkat menjadi wali (gubernur) Bahrain, namun beliau kembali ke Madinah, dan kemudian diangkat menjadi wali Madinah pada masa Khilafah Umayyah.

Tidak hanya dikaruniai ingatan yang kuat, Allah juga menganugerahi Abu Hurairah umur yang panjang, yaitu kurang lebih 78 tahun. Abu Hurairah wafat pada tahun 681 Matau 59 H dan dimakamkan di Baqi’. Diceritakan bahwa menjelang wafat, Abu Hurairah tampak menangis. Orang-orang di sekitarnya lalu bertanya sebab ia menangis, apakah karena takut mati. Abu Hurairah menjawab, “Tidak, saya menangis karena saya tahu akan menghadapi perjalanan yang sangat jauh namun perbekalan saya sangatlah sedikit”. MasyaAllah, mudah-mudahan kita bisa meneladani Abu Hurairah Ra. []

di muat di majalah Remaja islam Drise Edisi 47

 

 

Dongkrak Semangat Belajarmu!

Majalahdrise.com – Keutamaan menuntut ilmu tak hanya memberikan pahala bagi si empunya. Tapi juga jalan kebaikan yang nggak ada habisnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [HR Bukhari dan Muslim dari Muawwiyah radhiyallahu anhu]

Belajar nggak sekedar datang sekolah, duduk, dengerin guru ngoceh, terus pulang ke rumah. Cuman ngisi absen kehadiran. Sayang banget. Padahal, cuman dengan belajar hidupa kita penuh arti. Hanya dengan belajar, kita punya cara untuk atasi masalah yang menghampiri. Sebaliknya, kalo kita ogah-ogahan belajar baik di sekolah atau dalam keseharian, hidup kita bakal jalan di tempat. Tahu-tahu ajal mendekat, sementara tak banyak bekal yang kita siapkan untuk kehidupan akhirat. Rugi!

Wajar kalo para ulama, begitu ngotot untuk urusan nuntut ilmu. Berikut beberapa kisahnya yang bisa kita petik hikmahnya.

 MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah bercerita : “Saya seorang yatim yang tinggal bersama ibu saya. Ia menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada di masjid). Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada sang pengajar sebagai upahnya karena mengajari saya. Saya mendengar darinya (guru) hadits atau pelajaran, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya mengambilnya dan menulis diatasnya. Apabila sudah penuh tulisanya, saya menaruhnya didalam guci/botol besar yang sudah tua.” [Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (1/98), Ibnu Abdil Baar]

 HAMID AL-ISFIRAYAINI

Salim Ar-Razy Rahimahullah menceritakan bahwa Syaikh Hamid al-Isfirayaini Rahimahullah pada awalnya adalah seorang satpam disebuah rumah. Beliau belajar ilmu dengan cahaya lampu ditempat jaganya karena terlalu fakir dan tidak mampu membeli minyak untuk lampunya. Beliau makan dari gaji nya. [Thabaqatus Syafi’iyah Al-Kubra (4/61), As-Subki]

 ABU HATIM AR-RAZI

Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah berkata : “Saya tinggal di Bashrah selama delapan bulan pada tahun 241 H. Didalam hati saya ingin tinggal selama setahun (agar bisa berlajar ilmu lagi), tetapi saya kehabisan nafkah. Maka saya menjual pakaian-pakaian saya sedikit demi sedikit, sampai saya betul-betul tidak memiliki nafkah lagi.” [Al-Jarh wa Ta’dil (hal 363), Ibnu Abi Hatim]

Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah juga bercerita : “Kami berada di Mesir selama tujuh bulan dan tidak pernah merasakan kuah makanan (karena sibuk untuk belajar sehingga tidak ada waktu untuk memasak makanan yang berkuah). Siang hari kami berkeliling ke para Masyaikh (guru) dan malam hari kami gunakan untuk menulis dan mengoreksi catatan kami. “Ilmu itu tidak akan bisa diraih dengan badan yang santai.” [Al-Jarh wa Ta’dil (1/5), Ibnu Abi Hatim]

 IBNU JARIR ATH-THABARY

Abu Muhammad  Al-Firghani Rahimahullah berkata : “Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah melakukan perjalan (rihlah untuk menuntut ilmu) ketika usianya baru dua belas tahun. Ayahnya mengizinkan nya untuk pergi selama hidupnya, dia (ayahnya) mengirimkan sesuatu sebagai bekal untuk belajar. Ibnu Jarir bercerita : “(Pernah) terjadi keterlambatan (kiriman) nafkah dari orangtua saya, sehingga saya terpaksa merobek kedua kantong jubah saya dan menjualnya  (untuk biaya belajar).” [Tadzkiratul Huffazh (3/711), Adz-Dzahabi]

 AL-BUKHARI

Imam Al-Bukhari Rahimahullah bercerita : “Saya menemui Adam bin Abi Iyyas Rahimahullah di Asqalan untuk belajar darinya. Bekal saya semakin berkurang hingga saya makan rerumputan. Saya tidak menceritakan nya kepada seorangpun. Dihari ketiga saya didatangi seseorang yang saya tidak kenal dan memberiku bungkusan yang didalamnya berisi dinar. Ia berkata : “Nafkahlanlah untuk dirimu sendiri.” [Tabaqatus Syafi’iyah Al-Kubra (2/227), As-Subki]

 MALIK

Ibnu Qashim Rahimahullah berkata : “Karena fakirnya, Imam Malik Rahimahullah berupaya menuntut ilmu hingga menghabiskan atap rumahnya, kayunya dijual. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala membukakan dunia dan memberi nya rezki. Imam Malik berkata : “Ilmu tidak akan bisa diraih, hingga merasakan nikmatnya kefakiran karena nya.” [Tartibul Madarik (1/130), Qadhi Iyadh]

 

Driser, saat ini kita jauh lebih beruntung dengan berbagai kemudahan untuk mendapatkan ilmu. Sayang banget, kalo keseharian kita habiskan dengan kegiatan yang minim manfaat malah cenderung maksiat. Ayo dongkrak semangat belajar seperti para ulama di atas. Ilmu yang kita dapat selagi muda, akan banyak memberikan kebaikan saat kita lanjut usia. #YukNgaji sampai nanti sampai mati. Hamasah! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47