Celah Liberalisasi Budaya

Majalahdrise.com – nyambung dari yang kemarin Namanya budaya, pastinya nggak  bebas nilai. Gitu juga dengan gencarnya J-Pop Culture. Tanpa sadar, nilai-nilai budaya  sekuler yang dijajakan lewat manga dilahap  dengan rakus oleh remaja. Kemasannya gue  banget. Padahal bisa bikin keimanan kita  seret. Berikut beberapa bahaya yang  mengintai remaja akibat digempur J-Pop  Culture.  Pertama, mengikis akidah. Banyak  cerita Manga yang diadopsi dari ajaran  keyakinan Shinto tentang adanya dewa yang

mereka anggap Tuhan.  Seperti dalam serial Naruto  Uzumaki karangan Masashi  Kishimoto. Musuh Naruto  bernama Pain Akatsuki  –misalnya-, diyakini sebagai  dewa, yang mampu  menghidupkan orang mati  dan menciptakan sesuatu  yang mengikuti  kehendaknya. Malah si Pain  ini, bisa menghentikan hujan  di Amekagure. Padahal  kemampuan menghidupkan  dan mematikan, serta  menghentikan Hujan hanya  dimiliki oleh Maha Kuasa, Allah swt.

Kisah Naruto juga menyisipkan  paham reinkarnasi. Seperti digambarkan  pada sosok Kabuto Yakushi buronan dari  warga Konoha dan pembela Orochimaru.  Kabuto diyakini memiliki jutsu yang bisa  menghidupkan kembali orang yang telah  mati. Begitu juga dengan paham manusia  kekal abadi yang nggak bisa mati. Seperti  tampak pada diri Madara Uchiha (Tobi).  Seorang tokoh antagonis utama Akatsuki  mampu meregenerasi sel-selnya yang rusak  sehingga ia mampu hidup seterusnya.  Meskipun kesannya biar ceritanya lebih  seriu, selipan pemahanan ajaran diluar  Islam bisa bikin akidah kita goyah. Apalagi  kalo nggak dibentengi dengan ilmu agama  yang mumpuni. Bisa-bisa murtad. Hati-hati! Kedua, mengajarkan kekerasan  dalam menyelesaikan masalah.

Ada jagoan  dan penjahat dalam cerita manga emang  wajar. Tapi kalo setiap penggalan cerita diisi  dengan adegan kekerasan, itu yang mesti  dicekal. Seperti manga Death Note alias  Dunia Dewa Kematian karya Tsugumi Ohba  dan ilustrasi oleh Takeshi Obata yang kenal  dengan kekerasan dan pembunuhan sadis  oleh Yagami Raito. Begitu juga dengan serial  Inuyasha alias anjing siluman karya Rumiko  Takahashi atau serial One Piece yang  diciptakan oleh Eiichiro Oda.  Ketiga, pornografi. Sebagian besar  busana kaum hawa dalam manga, anime,  atau game selalu vulgar mengumbar aurat.  Serba mini dan ketat membungkus setiap  lekuk tubuhnya.

Daya tarik seksual bagian dada dan paha yang dieksploitasi bikin  jakun kaum adam yang baca naik turun.  Kondisi ini yang bisa membuai remaja  dalam fantasi seksual yang liar. Parahnya,  cosplayer banyak yang memvisualisasikan  busana vulgar itu dalam kompetisi atau  sekedar cari sensasi. Obral harga diri! Keempat, gaul bebas.

Pergaulan  bebas dengan lawan jenis tanpa batas  dalam manga jadi menu utama. Kemasan  yang romantis yang mengisahkan kisah  asmara melambungkan remaja ekpresi  cinta yang steril dari aturan agama. Bahkan  seringkali menjadikan seks bebas sebagai  ekspresi cinta remaja. Sehingga  menempatkan kaum hawa sebagai objek  seksual seperti banyak digambarkan dalam  kisah cinta manga dewasa. Berabe tuh  urusannya! Kelima, pemisif alias serba boleh  dalam berbusana. Harajuku style bisa  menjerumuskan remaja dalam gaya hidup  tasyabuh bil kuffar alias menyerupai orang-kafir.

Lantaran bagi aktivis harajuku, bebas  pake simbol apapun sebagai pelengkap  aksesorinya tanpa harus terikat dengan  pandangan agama tertentu. Pake salib,  bintang david, tengkorak, yin yang atau  simbol ghotik yang mencerminkan  pemujaan terhadap setan, ngerasa pantas  aja yang penting rame. Padahal itu semua  bisa menjerumuskan pada aktifitas  tasyabuh alias menyerupai gaya hidup  orang kafir yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. Rasul saw bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum  maka dia termasuk dari  golongan mereka”( HR  Abu Daud dan Imam  Ahmad dari Ibnu  Umar).

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50

Budaya Jepang Kian Meradang

Majalahdrise.com – Driser, perpaduan yang apik antara  manga dan anime dengan sukses bikin  pengaruh budaya jepang kian meradang.  Awalnya suka dengan tokoh dan jalan  ceritanya setelah baca manga. Kemudian  ngeliat audio visualnya dalam wujud anime.  Akhirnya, nggak tahan untuk niru sebagai  ekspresi fanatik yang menggebu-gebu.  Yup, begitulah efek gencarnya  sosialisasi budaya populer Jepang. Saking  seringnya jadi bacaan, kemudian jadi  tontonan, sampai akhirnya jadi tuntunan.

Tanpa sadar, penikmat manga  dan  anime yang mayoritas remaja  en  remaji kepincut dengan  penampilan tokoh ceritanya yang imut. Lalu  ngikutin gaya hidupnya sampe semaput.  Berikut beberapa perilaku cerminan budaya  populer Jepang yang bisa menghipnotis  remaja.

Otaku secara bahasa ditujukan bagi  mereka yang tergila-gila terhadap hobi  mereka. Maniak banget. Mereka ngasih  porsi besar dalam waktu hidupnya untuk  menekuni hobinya. Begitu juga dengan  otaku anime dan manga yang tergokil-gokil  dengan komik dan kartun Jepang. Seorang  otaku nggak cuman ngetem di depan TV  nonton anime, membaca manga, atau  ngoleksi pernak-pernik tokoh fiksi idolanya.

Mereka juga aktif di forum-forum yang  obrolannya nggak jauh dari manga dan  anime.  Dalam kondisi wajar, seorang otaku  masih bisa jaga diri, jaga harta, dan jaga  wibawa. Tapi kalo udah akut, aktivis otaku  bisa terjerumus dalam gaya hidup  hikikomori alias anti sosial. Tentang  hakikimori, pernah drise bahas di edisi  sebelumnya. Silakan ubek infonya. Otaku  yang mengidap gejala hikikomori kerjaannya  cuman mengurung diri dalam kamar, tidur,  nonton anime, baca manga, main game,  makan, tidur lagi. Bukan cuman hitungan  jam atau hari, bisa bulan bahkan tahunan.

  1. Cosplay

“Cosplay” sendiri berasal dari dua  kata yaitu ‘costume’ dan ‘play’. Tujuan  seseorang ber-cosplay, adalah untuk  berpakaian mirip dengan karakter anime,  manga, atau game favoritnya. Kian hari,  banyak remaja yang jadi cosplayer menirukan gaya berpakaian sang karakter  Manga. Apalagi banyak cosplay competition  baik lokal hingga dunia yang memancing  popularitas para cosplayer. Seperti AFA  (Anime Festival Asia) yaitu gelaran festival  Anime dan Manga se asia yang belum lama  ini digelar di indonesia.

Disana, para  cosplayer unjuk gigi mengadu kreatifitas  mereka dalam melakukan cosplaying.  Tak cuma pakaian, gaya rambut,  tingkah laku, dan bahkan raut muka juga  ditiru. Tak jarang ada cosplayer yang  melakukan operasi plastik demi  mendapatkan bentuk muka yang persis  seperti karakter yang diinginkan. Mereka  pun rela merogoh kocek yang tidak sedikit  demi membuat kostum karakter yg  diinginkan lengkap dengan propertinya  seperti pedang, armor, panah, hingga wig  impor biar mirip abiez!

  1. Harajuku

Dalam mode busana, budaya pop  Jepang juga ikut mempengaruhi remaja di  Indonesia. Gaya berpakaian khas Jepang ini  disebut dengan Harajuku Style. Harajuku  sebenarnya adalah sebutan populer untuk  kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku,  Distrik Shibuya, Tokyo. Kawasan ini terkenal  sebagai tempat anak-anak muda ngumpul  bin nongkrong. Jadi, Harajuku Style adalah  sebutan populer untuk gaya jalanan yang  diadopsi dari kawasan Harajuku.

Gaya busana harajuku dicirikan  dengan model busana yang rame dan  semau gue. Rambut dibikin warna-warni  dengan model sekenanya. Nggak kenal  dengan istilah saltum alias salah kostum.  Justru kesan nggak  matching dalam  berbusana itu jadi  bawaan harajuku  style. Atasannya  dipakein perpaduan  kemeja, blouse, dan  tank top berlapis-lapis. Sementara  untuk bawahan  pake celana pendek,  legging, kemudian  kaos kaki ditumpuk-tumpuk serame mungkin. Belum lagi aksesoris yang  dipakenya juga kaya pedagang asongan.  Kacamata, kalung, anting, tas, bando, pita,  jepit rambut semuanya hadir.

Yang absen,  label harganya!  Dari gayanya, keliatan kalo Harajuku  style sangat individualis. Nggak peduli  dengan penilaian orang lain. Gaya Harajuku  berusaha melepas diri dari pakem, tatanan,  standar, dan segala tata krama berbusana  berikut tata rambut dan rias wajah. Khas  anak jalanan yang anti kemapanan dan  mencerminkan pemberontakan.  Dandanannya ekstrim. Dari ujung rambut  hingga ujung kaki.  Driser, selain anime, cosplay, dan  harajuku, j-pop culture juga berwujud dalam  bentuk dorama alias drama jepang dan j-music (japanese music). Untuk dua jenis  hiburan ini, tak jauh beda dengan hiburan  sejenis lainnya. Hanya para pemainnya aja  orang Jepang dan so pasti ngomongnya juga  pake bahasa ninja hatori. Arigatou  gozaimasu!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50

DI GEMPUR J-POP CULTURE

Majalahdrise.com – DI GEMPUR J-POP CULTURE Doraemon. Siapa yang nggak kenal  tokoh kartun fenomenal ini. Kucing  ajaib asal negeri matahari terbit ini  pertama kali menyapa anak-anak nusantara  tahun 1988. Tepatnya tanggal 06 November  yang tayang di stasiun televisi swasta RCTI.

Tak perlu waktu lama, serial Doraemon  dengan kantong ajaibnya ini mampu  menghipnotis dan menjadi tontonan idola.  Sampai sekarang. Termasuk film terakhir  bertajuk “Stand By Me” yang menyita  perhatian masyarakat dunia.   Kesuksesan Doraemon diikuti  dengan munculnya serial-serial kartun  Jepang lain yang meramaikan jagat hiburan  televisi.

Ada Sun Go Kong dengan pencarian  7 bola naganya, kepiawaian kaki Kapten  Tsubasa memainkan si kulit bundar  dengan tendangan Drive Shoot-nya  atau perjalanan Ash Ketchum untuk  menjadi seorang Pokemon  Master. Nggak ketinggalan  petualangan Chinmi dari  Kuil Dairin juga turut  meramaikan tayangan  kartun jepang yang bikin  kesengsem.

Walhasil,  Indonesia menduduki  peringkat kedua di dunia  untuk jumlah pembaca  manga, atau komik Jepang.  Rata-rata seseorang  membaca 3,11 buku komik Atau sekitar 3 buku per orang!

(jogja.tribunnews.com, 29/11/2013)

Potret Budaya Jepang ( J-POP culture )

Di Jepang, komik dikenal dengan  sebutan Manga.  Manga 漫画 terdiri dari dua  kata, yaitu ‘man’ 漫 yang berarti penuh, dan  ‘ga’ 画yang berarti gambar. Secara harfiah  dapat diartikan bahwa manga memiliki arti  penuh dengan gambar tidak beraturan.

Yang bikin Manga namanya Mangaka. Buat  Jepang sendiri, Manga tuh udah jadi  bagian  dari karya seni yang menawarkan cerita all  about Jepang melalui gambar apik dan  cerita ringan yang dikemas sebagai sebuah  hiburan.

Asli keren.  Manga punya bidikan untuk  berbagai kalangan berdasarkan jenis  pembacanya. Untuk anak-anak (kodomo),  wanita (redikomi atau josei), remaja  perempuan (shojo), atau remaja lelaki  (Shounen). Untuk kalangan  dewasa, ada manga khusus  yang isinya berbau mesum  pin porno yang dikenal  dengan sebutan Hentai  yang artinya  “penampilan yang  aneh” atau  “abnormalitas”.

Orang  Jepang ngasih label “jū  hachi kin” (untuk 18  tahun ke atas), “ecchi/H  anime” (seksual/anime  pornografi), “eroanime” (singkatan dari  erotic anime),  atau “seinen” (dewasa) untuk hentai.  Jepang dikenal sebagai sentra komik  Asia. Lantaran negeri matahari terbit itu  menjadi pelopor kemunculan komik setelah  akhir Perang Dunia ke-2.

Kali pertama oleh  Osama Tezuka yang dikenal sebagai “The  God of Manga” dengan karyanya: New  Treasure Island dan Shintakarajima. Dan kini,  komik Jepang kian mendunia. Berdasarkan  data penerbitan bulan Desember 2010, dari  daftar komik yang dicetak oleh m&c, unit  Komik dan Majalah dari Gramedia Majalah,  terdapat 475 judul komik Jepang atau  sekitar 86.4% dari total komik yang  diproduksi oleh perusahaan percetakan itu.

DI GEMPUR J-POP CULTURE
DI GEMPUR J-POP CULTURE

Manga sebagai bagian dari wujud  budaya populer jepang (J-Pop Culture), isinya  nggak bisa dipisahin dari kepercayaan  masyarakatnya yang mayoritas beragama  Shinto atau Budha. Pastinya mengandung  nilai-nilai budaya Jepang yang sekuler dan  pola hidup masyarakatnya yang cenderung  bebas dan materialis. Coba aja perhatiin,  setiap cerita yang dibesut Manga. Mayoritas  menggambarkan gaya hidup tanpa aturan  agama yang dikemas dalam cerita-cerita  khayalan, glamour, instant, serba bebas, en  yang pasti jauh dari unsur-unsur Islam. Hati-hati ah!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50

Save

Welcome

Majalahdrise.com – Welcome itu artinya keset. Gitu kata  si Bibi. Karena kata WELLCOM  itu  sering kedapetan menghiasi keset  yang mangkal depan pintu masuk. Nggak  salah sih. Emang gitu kenyataannya. Keset  disiapkan untuk menyambut kedatangan  tamu istimewa.

Makanya kali ini kita juga  mau obrolin seputar keset, eh welcome… Yup, pada edisi Drise setengah abad ini  ada beberapa hal baru yang kita siapkan  untuk driser.  Pertama, redaksi baru. Seperti yang  udah kita umumin di sosial media, Drise  membuka lowongan tambahan redaksi untuk  menguatkan daya gedornya. Gak nyangka,  antusiasnya meluber.

Dari yang penulis  pemula, hingga mastah pada ikut daftar.  Alhamdulillah sesuatu banget. Namun,  berhubung hanya satu slot yang kita siapkan,  dengan berat hati kita pilah dan pilih deh tuh  yg daftar. Sampai akhirnya dapat satu nama  yang akan mengisi rubrik amazing Islam dan  female corner. Welcome mbak Juanmartin…

Kedua, penjaga online. Drise udah lama  malang melintang di dunia maya. Namun tak  semuanya bisa tercover karena keterbatasan  sumber daya manusianya. Alhamdulillah..  kali ini kita kembali dapat support dari kang Ridwan. Dulu doi duduk di jajaran dewan  redaksi, kini jadi penjaga web dan akun sosial  media kita.

So, jangan lupa Like & Follow Fans  page Drise. Biar nggak ketinggalan update  seputer remaja dan content inpiratifnya.  Welcome back kang Ridwan… Ketiga, rubrik baru. Biar driser tambah  wawasannya tentang sejarah, kita sodorin  rubrik baru.

Namanya Sejarah Seru. Rubrik  keren ini bakal diasuh langsung oleh redaksi  yang doyan sejarah, kang Isa. Kita bakal  disajikan kisah seputar sejarah yang unik,  seru, dan pastinya inspiratif. Jangan sampe  kelewatan! Keempat, komunitas remaja islam  Drise. Komunitas online yang kita bangun via  group facebook ini, tujuannya sebagai wadah  bagi driser memajang hasil karyanya.

Kita  akan berbagi hasil karya kamu berupa opini,  kisah inspiratif, kegiatan kamu, plus info  seputar remaja. So, buruan cari group FB  Komunitas Remaja Islam Drise lalu join.  Sampe ketemu di sana ya! Itulah beberapa hal baru sebagai rasa  syukur kita udah nyampe edisi setengah  abad ini. Mohon doanya biar Drise tetep  eksis dan menginspirasi remaja muslim. Keep  on drise! [@Hafidz341

DI muat di majalah remaja islam drise edisi 50