DERAP RANTAI EDISI 21

majalahdrise.com – “Kita diperintahkan untuk segera  menyerang Persia,” kata Khalid bin Walid.

Tatapan matanya yang tegas menimpa  wajah Mutsana bin Harits. Kedua kesatria  Islam itu sedang berada di sebuah tenda  di Yamamah. Mereka berada di tengah-tengah pasukan kaum muslim yang baru  saja selesai menjalankan tugas  menumpas pasukan nabi palsu  Musailamah al Kadzab.

“Apakah Khalifah memerintahkan  kita masuk lewat Ubullah?” Tanya  Mutsana. Dia menduga-duga apa isi dari  surat perintah rahasia untuk Khalid yang  diantarkannya. Walau pun dia yang  membawa surat itu, tetapi dia tak pernah  tahu apa isinya.

“Benar!” Sahut Khalid.

“Alhamdulillah! Beberapa waktu  yang lalu aku dan Jabal menjalankan misi  ke Ubullah. Sudah ada orang kita yang  mempersiapkan keadaan di sana. Jika kita  masuk lewat sana insya Allah akan lebih  mudah.” “Ada informasi apa tentang  Ubullah?” “Informasi ini memang sangat  rahasia,

” kata Mutsana. Dia melirik ke luar  tenda untuk memastikan tidak ada orang  yang mencuri dengar apa yang hendak  dikatakannya. Dia juga memelankan  suaranya.

“Aku sendiri baru saja  mengetahui informasi ini ketika misi ini  diserahkan kepadaku dan Jabal. Ternyata  tak lama setelah Rasulullah shalallahu  ‘alayhi wasallam bersabda bahwa Persia  akan dicabik-cabik oleh kekuasaan Islam,  beliau menanam sekelompok agen rahasia di Ubullah. Pemimpin kelompok  ini bernama Aswad bin Asadi. Aku sempat  bertemu dengannya saat menjalankan  misi di Ubullah.”

“Subhanallah walhamdulillah.  Lantas hasil apa saja yang sudah dicapai  Aswad?”

“Kami sudah membawa seluruh  laporan Aswad sejak pertama kali dia  diberi misi oleh Rasulullah hingga  kedatangan kami. Seluruh laporan itu  sudah kami serahkan kepada Khalifah. Dia  sudah memersiapkan segala hal yang  dibutuhkan agar penaklukan Ubullah  menjadi lebih mudah. Salah satu yang  membuatku takjub adalah, dia berhasil  memimpin timnya untuk membangun  jaringan pintu rahasia di sepanjang kota  Ubullah yang dihubungkan dengan  terowongan. Pintu-pintu rahasia itu  tersebar di hampir seluruh kota, dan kita  bisa bebas muncul dan menghilang lewat  pintu rahasia itu.”

“Kerja bagus! Aku mengucapkan  selamat kepada Aswad dan tim kita di  sana,” terhamparlah senyum tegas di  wajah Khalid.

Kemudian dia bangkit dan  menghampiri lampu minyak yang ada di  pinggir tenda. Dibakarnya surat Khalifah  itu hingga jadi abu. “Ada banyak hal yang  harus kita lakukan sambil memersiapkan  serangan.

000

Tikar pelepah kurma menjadi alas kesederhanaan. Khalid jenderal besar, kalau dia mau, dia bisa mengumpulkan seluruh harta kekayaan dari negeri-negeri yang telah ditaklukkannya. Tetapi dia tidaklah begitu, bagaimana mungkin dia  tidur di atas dipan dari beludru,  sementara Rasulullah tidur di atas tikar  dari bekas pelepah kurma. Justru di atas  tikar pelepah kurma itulah dia merasa  lebih nyaman untuk merumuskan  strateginya dalam mengalahkan musuh-musuh Allah. Di hadapan Khalid duduklah  Mutsana bin Harits dan Rabiah bin Amir.

Sebagaimana diperintahkan, hanya dalam  beberapa menit, Mutsana segera  menghadirkan Rabiah di tenda komandan  pasukan Khilafah Islamiyah itu. Mutsana  tak perlu susah-susah mencari Rabiah  karena dia adalah salah satu komandan  kavaleri pasukan Khilafah.

“Syukur alhamdulillah kalian  berdua sudah hadir,” Khalid membuka  pembicaraan.

Dia mengambil kantung air  dari kulit kambing yang ada di dekatnya.  Membuka sumbatnya, lalu meminumnya  setelah membaca basmalah. Kemudian  dia menyodorkan kantung air itu kepada  Mutsana dan Rabiah. Kedua prajurit  muslim itu pun minum bergantian.

“Telah sampai perintah dari  Khalifah bahwa kita akan segera  mengadakan penaklukan ke Persia.  Khalifah memerintahkan kita masuk dari  kota Ubullah. Sebagaimana informasi  yang telah kudapatkan, telah ada tim kita  yang memersiapkan keadaan agar  Ubullah bisa ditaklukkan. Kemudian kota  itulah yang akan menjadi basis  penyerangan kita ke wilayah-wilayah  Persia selanjutnya,” Khalid menjelaskan.

Mutsana dan Rabiah  memerhatikan kata-kata Khalid dengan  saksama. Mulut mereka mengatup rapat.  Mutsana akan mengerutkan dahinya  kalau dia sedang berkonsentrasi.  Sementara Rabiah mengelus-elus pelan  punggung tangannya. Rabiah bin Amir adalah seorang  prajurit muslim yang tangguh.

Wajahnya  tampan dengan janggut yang tercukur  rapi dan hitam. Janggut itu tidak terputus  dari kedua jambangnya, terus tersambung  di dagu dan di atas bibirnya.

Perawakannya sedang, tidak jangkung dan tidak pendek. Tubuhnya kekar, otot-ototnya bertonjolan di lengan, perut dan  dadanya. Bahunya bidang dan  kekuatannya luarbiasa. Dia adalah tipe  lelaki yang amat disukai wanita. Sebilah pedang tergeletak di  pangkuan Rabiah sementara kedua  telapak tangannya saling bertumpuk. Dia  mengusap-usap punggung tangan  kanannya, begitulah tingkahnya jika  sedang berkonsentrasi. Khalid  melanjutkan instruksinya kepada anak  buahnya.

“Kalian akan menjadi satu tim  dalam pelaksanaan misi ini. Aku  perintahkan kepada Rabiah untuk  menghadap Badzan, Jenderal Persia yang  memimpin Ubullah. Sampaikanlah surat  dariku ini kepada Badzan.” Khalid berhenti sejenak dan  meraih segulung perkamen yang  dimasukkannya ke dalam sebuah tabung  kayu.

Tabung itu kemudian diserahkannya  kepada Rabiah. Dengan penuh keyakinan,  dia mengambil surat itu. Dia tahu persis  apa yang biasanya terjadi pada para  pengantar surat untuk para raja. Biasanya  para pengantar surat itulah yang dijadikan  pelapiasan jika raja yang dituju itu tidak  menyukai isi suratnya. Dia tahu benar  bahwa apa yang sedang dipegangnya bisa  jadi adalah palu godam kematiannya.  Sebab surat yang dia bawa itu adalah  surat dakwah. Sepucuk surat yang isinya  belum tentu disenangi semua orang.

Namun tugas itu diambilnya juga. Kalau  untuk menyampaikan kebenaran, apa pun  akan dia pertaruhkan. Khalid  mengacungkan telunjuknya kepada  Rabiah. Dia berusaha menekankan misi  penting untuk anakbuahnya.

“Serahkan surat dakwah ini  kepada Badzan di Ubullah. Jika kelak kita  akan mengambilalih Ubullah berarti kita  akan berhadapan dengannya. Jika  dibutuhkan, mintalah jawaban tertulis.  Ketika memasuki Ubullah, kalian berdua  haruslah berjalan terpisah. Untuk  Mutsana, hubungilah orang-orang kita di  Ubullah sebelum Rabiah menghadap  Badzan. Mintalah bantuan sepenuh-penuhnya dari mereka agar Badzan bisa  keluar dengan selamat jika terjadi hal-hal  yang tidak diinginkan. Kalian pasti tahu  bagaimana biasanya sikap para penguasa  ketika menghadapi surat dakwah.

Setelah  pelaksanaan misi ini, Mutsana kembalilah  kepada pasukanmu, tunggu perintah  selanjutnya. Rabiah berjalanlah terus  menuju Kazima. Temuai aku di sana dan  laporkan segala perkembangan yang  terjadi!”

“Siap!” sahut mereka.

Setelah  mendapatkan perintah, mereka segera  bangkit dan segera bergerak  melaksanakannya.

bersambung,,,

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50

Kasihan anak artis

majalahdrise.com – buah jatuh tak jauh dari pohonnya.  Kayaknya pepatah itu emang  mewakili kebanyakan fakta. Tak  terkecuali di dunia artis. Orangtuanya artis,  anaknya pun jadi artis. Sekarang telah hadir  artis-artis baru yang lahir dari rahim para  artis generasi pendahulu. Dipopulerkan,  dipertontonkan supaya terkenal dan jadi  tuntunan.  Yang terbaru web seri #AnakArtis yang  mengorbitkan nama-nama Brandon Nicholas  Salim, Valerie Thomas, Shawn Adrian,  Stephanie Poetri Dougharty, Daffa Jenaro  Muchtar, dan Nadine Waworuntu. Mereka  adalah anak artis Ferry Salim, Jeremy  Thomas, Andy Soraya, Titi DJ dan Ruth  Sahanaya. Lagi heboh-hebohnya tuh,  makanya langsung melejit. Apa yang dipertontonkan? Mulai  kegiatan sehari-hari, pergaulannya, hingga  hobi dan aktivitas di bidang entertaiment  seperti musik, modeling atau syuting. Artinya,  bakal diulik habis sisi-sisi kehidupan publik  sekaligus privat mereka. Apa bagusnya?

Parade Kemewahan

Umumnya kehidupan anak artis ini bak putri atau pangeran dalam kehidupan istana. Dalam hal materi, tentu bergelimang harta.  Kebutuhan hidup udah pasti nggak  kekurangan. Bahkan berlebih. Fasilitas  mewah selalu tersedia. Rumah mewah,  kamar nyaman, busana branded, aksesori  favorit, gadget tercanggih, mobil berderet  dan sebagainya. Makan enak udah pasti.  Restoran mahal tinggal tunjuk.

Liburan ke  mana-mana tinggal berangkat. Kehidupan  yang sempurna, bukan? Parade kemewahan itulah yang  menonjol dari kehidupan dunia artis.  Bagaimana dengan prestasi? Mungkin ada  yang memiliki prestasi akademik, tapi lebih  banyak yang “prestasinya” juga di dunia artis.  Paling-paling berapa banyak single-nya,  albumnya, sinetron atau film yang  dibintanginya, dan sejenisnya. Kalau itu bisa  disebut “prestasi” loh, ya.

Yang parah, udah pasti ada parade  pergaulan bebas di sana. Cowok-cewek gaul  ga ada batasnya. Cipika cipiki dengan lawan  jenis, semobil atau sekamar, nggak pakai  risih. Lihat aja di salah satu episode  #AnakArtis, ada pool party alias pesta di  kolam renang. Kehidupan glamour nan hura-hura itu sungguh bikin iri para remaja yang  memimpikan hidup bak di surga.

Teladan Keburukan

Jelas saja, apa yang diperlihatkan dari  kehidupan para anak artis itu tidak layak jadi  teladan bagi remaja. Apalagi remaja muslim  seperti kamu, ya kamu. Tayangan-tayangan  dunia artis, dikemas dengan bentuk apapun,  pasti membawa efek negatif.  Remaja yang melihatnya, apalagi terus  menerus dan diulang-ulang, akan menjadi  pemuja kemewahan. Akibatnya tak memiliki  rasa syukur atas apa yang dianugerahkan  Allah SWT padanya. Muncul perasaan  seandainya bisa hidup semewah itu.  Akibatnya, mereka juga kurang menghargai  jerih payah orangtuanya.

Selalu menuntut  dan merasa kurang, hanya demi memenuhi  kebutuhan tersiernya.  Lihat saja, banyak remaja di sekitar kita  yang lebih mengutamakan penampilan  dibanding pendidikan. Apalagi pemahaman  agama, nol. Fashion dan tetek bengeknya jadi  prioritas. Cara berbusananya selalu  mengikuti gaya terkini. Misalnya Korean Style  yang lagi up date.

Belum lagi remaja yang terjerumus  pergaulan bebas. Akibat tersihir ratusan kali  oleh akting para aktor-artis di tayangan  televisi, baik sinetron maupun infotaiment,  mereka mengusungnya di dunia nyata.  Cewek pun kerjanya sibuk cari gebetan.  Mudah galau kalau ditinggal pacar. Mau-maunya dijadikan budak seks, gara-gara  ancaman kata putus. Bahkan tega kabur dari  rumah demi lelaki buaya daratnya. Akibatnya  diperkosa, hamil di luar nikah atau malah  pulang tinggal nama. Astaghfirullah. Seperti itulah profil remaja-remaja  pemuja gaya hidup ala artis yang selalu  pamer kemewahan. Tak ada sisi positifnya.  Jadi, nggak usah tersihir dan terpesona.  Bahkan, sebenarnya kasihan hidup mereka.  Di luar kelihatan bahagia, sejatinya dalam  hati hancur-hancuran.

Generasi Takwa

Bersyukurlah kamu, ya, kamu, lahir dari  orangtua yang bukan artis. Bahkan lebih  bersyukur lahir dari orangtua yang memiliki  pemahaman Islam yang baik. Orangtua yang  ikut berkontribusi pada dakwah Islam.  Orangtua yang ustad-ustazah, dai-daiyah,  motivator, trainer Islam dan sejenisnya. Lebih bersyukur lagi, karena  orangtuamu juga mengarahkan kamu supaya

menjadi penerusnya. Menjadi para (calon)  pengemban dakwah, pejuang Islam. Memang  sudah seperti itulah seharusnya. Bukan  semata-mata karena buah tak akan jauh dari  pohonnya, tapi memang itu sudah  kewajibanmu. Seandainya kamu lahir dari orangtua  artis pun, sebagai muslim, kamu harus  mengubah kondisi untuk tidak mengikuti  jejak orangtuamu. Tetap harus menjadi  pejuang Islam. Bahkan dari orangtua apapun,  kamu adalah kamu.

Muslim yang dilahirkan  untuk menjadi hamba Allah SWT, mengabdi  untuk-Nya. Sebagai muslim, kamu adalah generasi  harapan umat. Kalau di kalangan artis saja  sudah terjadi regenerasi, di kalangan  generasi muslim juga harus segera  mewujudkan generasi-generasi baru pejuang  Islam. Itu adalah kamu. Kamu harus bercita-cita jadi pembela Islam.  Tentu saja, duniamu bertolakbelakang  dengan remaja mainstream.

Ya, remaja  muslim memang beda. Remaja ideal yang  berkepribadian Islam, bertakwa dan mengisi  hidupnya dengan kegiatan yang bermanfaat.  Nggak sempat deh hura-hura. Belum saatnya  deh bermewah-mewah. Itu nanti di surga  sana. Remaja muslim harus berkontribusi  memerangi kemaksiatan, bukan ikut  melanggengkannya. Maka itu, kalo kamu  muslim, masih suka terpesona dengan dunia  artis, mendingan stop deh! Stop follower  para artis, selebgram atau seleb you tube  yang cuma merusak pikiranmu. Membuat  hidupmu cuma mimpi.

Membuat dirimu  kurang bersyukur. Membuat dirimu galau  karena membanding-bandingkan dengan  yang lain. Dan lebih parah, nggak bikin kamu  fokus pada kewajiban utamamu: belajar dan  mengkaji Islam. Catet![]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50

 

Hakim gila Terdakwanya Mayat

Majalahdrise.com – para sejarawan menamai periode  Kepausan pada abad ke-9 dan 10  Masehi sebagai “Pornokrasi”.  Pastinya istilah ini bikin kita bertanya-tanya,  sistem pemerintahan itu demokasi,  teokrasi, dan krasi-krasi lainnya, tapi kok  ada ya pornokrasi? Berarti pemerintahan  porno dong? Presidennya Hugh Heffner  yang bikin majalah Playboy, hehehe.

Pornokrasi memang pernah ada.  Pada abad 9 dan 10 Masehi, Tahta  Kepausan di Vatikan tenggelam dalam  pornokrasi, yakni pemerintahan para Paus  yang sepenuhnya dikendalikan oleh para  kekasih gelap dan bahkan para pelacur.  Para Paus hanya menjadi pion-pion yang  diatur sepenuhnya oleh cewek-cewek nakal  dari keluarga berpengaruh di Italia, seperti  Keluarga Spoleto. Kisah kita dimulai dari  sini. Tersebutlah seorang wanita cantik  dari Keluarga Spoleto, Duchess Agiltrude.

Walaupun dia berwajah cantik dengan  rambut pirang yang panjang, tapi dia punya  hati busuk dan kejam. Dia berkuasa dan  mengendalikan banyak pejabat dan bisa  berbuat sekehendak hatinya. Dia juga  seorang wanita yang ambisius. Di saat yang  sama, orang yang saat itu sedang  menduduki Tahta Suci Santo Petrus adalah  Paus Formosus. Dia dikenal sebagai  seorang Paus yang baik hati dan tidak  sombong. Suka menolong umatnya dan  lembut hatinya. Dia amat dihormati dan  dicintai oleh orang-orang di sekitarnya.

Sayang baginya, dia harus berurusan  dengan Duchess Agiltrude yang kejam itu. Pada awal 894 Masehi, Duchess  Agiltrude membawa putranya, Lambert,  untuk dipilih dan dinobatkan oleh Paus  Formosus sebagai Kaisar Romawi Suci. Dari  sini keliatan banget perempuan ini haus  kekuasaan. Paus Formosus yang baik hati  dan bijak itu menolak dengan halus.

Dia  tahu betul anak ingusan macam Lambert  nggak bakal bisa jadi kaisar yang baik, dan  udah mencium ada konspirasi di balik  pengajuan ini. Dia lebih memilih Arnulf,  seorang bangsawan Korintia, keturunan  langsung Charlemagne, dan sangat layak  untuk menjadi Kaisar Romawi Suci.

Perempuan nggak beres macam Duchess  Agiltrude sangat geram dengan penolakan  ini, dan Paus Formosus tahu itu. Paus Formosus menyadari bahwa  Agiltrude nggak bakal tinggal diam, maka  dia meminta bantuan kepada Arnulf yang  telah dinobatkan sebagai Kaisar Romawi  Suci pada 22 Februari 896. Arnulf segera  mengejar Agiltrude bersama pasukannya,  sayangnya, dia jatuh sakit dan menjadi  lumpuh, kemungkinan karena stroke.

Pengejaran pun dihentikan. Paus Formosus  wafat 6 minggu kemudian pada 4 April 896  Masehi, konon karena diracun suruhan  Agiltrude. Kengerian nggak berhenti sampai  di sini. Agiltrude dendam setengah mati  kepada Paus Formosus, walaupun sang  Paus sudah mati. Perempuan jahat ini  kemudian menggunakan seluruh kekuatan  dan pengaruhnya untuk menaikkan calon

Paus jagoannya, Stefanus VII, ke atas Tahta  Suci Santo Petrus. Padahal semua orang  mengetahui bahwa Stefanus ini setengah  gila. Sayangnya, Stefanus naik juga menjadi  Paus, dan berada di bawah kontrol penuh  Agiltrude. Maka hal pertama yang dilakukan  Stefanus adalah menggelar sidang untuk  mengadili Formosus. Walaupun mantan Paus  ini sudah mati, dia ‘dipanggil’ kembali untuk  didudukkan sebagai terdakwa. Momen  mengerikan ini dikenal sebagai Synodus  Horrenda (Sidang Mayat).

Pada Januari 897 Masehi, Stefanus  mengumumkan bahwa sebuah sidang akan  diadakan di Gereja Santo Yohanes Lateran.  Terdakwanya adalah mantan Paus Formosus  yang sudah ‘berdiam’ di kuburan selama 9  bulan. Saat mayat mantan Paus itu digali,  yang tersisa cuma daging-daging membusuk  dan tulang-belulang. Baunya juga nggak  keruan.

Mayat yang sudah membusuk itu  dipakaikan jubah Kepausan, dan didudukkan  di kursi terdakwa, yang menjadi hakimnya  Stefanus sendiri. Di dalam sidang itu,  Stefanus puas menghujat dan menghina  Formosus yang sudah nggak bisa  mendengar, namanya juga mayat. Stefanus  membuat kegaduhan karena teriak-teriak  dan menuding Formosus. Semua hadirin  bergidig ngeri, cuma Agiltrude saja yang  tersenyum puas saat sidang itu berlangsung.

Namun dia belum puas dengan  dendamnya. Formosus pun divonis bersalah atas  semua tuduhan. Stefanus memerintahkan  jubah Kepausan itu dilucuti dan dipakaikan  baju rakyat jelata sebagai gantinya.

Belum  cukup sampai di situ, tiga jari Formosus,  atau lebih tepatnya sisa-sisa jari, yang biasa  digunakan untuk memberi berkat  Kepausan, dipotong. Tiga jari itu kemudian  diserahkan kepada Agiltrude. Bakal jadi  jimat kali yeee!  Pemakaman kembali Formosus pun  dilakukan di pemakaman rakyat jelata. Tapi  kengerian belum berakhir sampai di sana,  mayat Formosus digali lagi kemudian  diseret di jalan-jalan kota Roma, lantas  mayatnya diikatkan pemberat dan dibuang  ke Sungai Tiber biar nggak ngambang.  Secara rahasia, seorang pendeta yang amat  menghormati Formosus meminta bantuan  kepada sekelompok nelayan untuk  mengangkat mayat itu dari dasar sungai  dan menguburkannya secara rahasia. Ngeri  banget kan!

Firman Allah memang benar,  merekalah seburuk-buruknya makhluk.  “Sesungguhnya orang-orang kafir dari  golongan ahli kitab dan musyrik berada  dalam neraka Jahanam. Merekalah seburuk-buruknya makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 76)  [say ]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50

Tolak Generasi Sadis !

majalahdrise.com – Kemana ya, perginya rasa kemanusiaan itu. Menyakiti hewan saja kita kasihan,  tapi ini kok tega menyiksa teman  sendiri. Saya sedang berbagi rasa prihatin  terhadap pelajar yang doyan kekerasan.  Salah satu kasus yang sempat heboh pada  awal September lalu yakni penyiksaan siswi  SMP Negeri 4 Binjai, Medan pada teman  sebayanya yang diunggah ke youtube. Video  itu lalu dibagikan ke media sosial facebook.

Ribuan mata menyaksikan aksi sadis seorang  pelajar berseragam pramuka dan  berkerudung, membentak, mendorong dan  menampar gadis berseragam yang sama  dengannya. Di satu pemberitaan dikatakan  bahwa seorang siswi yang jadi bagian dari  adegan kekerasan itu mengaku cuma  bercanda. Wah, bercanda saja sudah sadis  begitu, gimana kalau benaran ya. Sampai  tulisan ini dibuat, belum diketahui penyebab  siswi tersebut menyakiti temannya. Satu  yang pasti, rasa kasih sayang yang Allah Swt  tanamkan ke dalam dirinya, saat itu benar-benar hilang. Umat Islam dulunya terkenal sebagai  umat terbaik kan ya.

Iman mereka kuat,  ibadahnya rajin dan  akhlaknya baik. Mereka  berkasih sayang dan lemah lembut kepada  saudara sesama muslim, tegas kepada orang  kafir serta taat sepenuhnya pada Allah Swt  dan RasulNya. Ibaratnya kaum muslim tuh  bagai rahib di malam hari dan singa di siang  hari. Mereka begitu khusyuk saat  berhadapan dengan Allah Swt dalam  ibadahnya. Lalu di siang hari siap membela  Islam, menyebarluaskan Islam dengan  dakwah dan jihad. Persaudaran kaum  muslim saat itu yang diikat dengan akidah  Islam sangat kuat. Mereka bersatu padu,  bahu membahu membangun Islam, hingga  Islam bisa merata sampai ke pelosok dunia  kayak sekarang.

Beberapa sosok muslim  yang dikenal sejarah, seperti  sahabat Nabi, Abu Bakar as  Siddiq, Umar bin Khatab, Ustman  bin Affan dan Ali bin Abi Thalib,  tersohor dengan karakter ideal  muslim sejati. Mereka adalah  para Khalifah, pemimpin  negara yang bijaksana  mengurus rakyatnya dengan  Islam. Ada lagi sahabat Sa’ad bin  Abi Waqqash. Beliau pernah  ditentang oleh sang ibu ketika masuk Islam.  Bahkan ibu Sa’ad mengancam nggak mau  makan kalau anaknya nggak ninggalin Islam.  Namun dengan sabar serta lemah lembut  beliau menyampaikan pandangannya pada  sang bunda. Hingga pada akhirnya sang  bunda luluh dan kembali bersedia untuk  makan. Banyak lagi pribadi Islam lainnya,  kalau kita mau baca sejarah.

Semua itu  adalah gambaran muslim generasi Khilafah,  generasi didikan Islam seutuhnya.  Dalam kamus Islam nggak dikenal  prilaku keji kayak prilaku banyak pelajar  masa kini. Please, kembalikan karakter  pemuda Islam sejati. Kita setuju kalo yang  bertanggungjawab atas ini adalah keluarga,  sekolah dan masyarakat. Kita butuh keluarga  yang baik, sekolah yang beri ilmu membekas  hingga ke prilaku kita dan masyarakat yang  kasih contoh prilaku baik.

Tapi semuanya  bisa terwujud kalo negara serius ngurus kita.  Tanda bahwa negara serius ngurusin  rakyatnya yakni mau menerapkan Islam  secara kaffah. Kalau negara berlabel kapitalis  sekuler kayak sekarang nggak mampu  melakukan hal itu, maka kita harus  menegakkan kembali negara Khilafah.  Sejarah sudah membuktikan, Khilafahlah  negara yang serius mengurusin rakyatnya  dan menghasilkan muslim berkepribadian  Islam. Ayo tegakkan Islam! []

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50