majalahdrise.com – “Kita diperintahkan untuk segera menyerang Persia,” kata Khalid bin Walid.
Tatapan matanya yang tegas menimpa wajah Mutsana bin Harits. Kedua kesatria Islam itu sedang berada di sebuah tenda di Yamamah. Mereka berada di tengah-tengah pasukan kaum muslim yang baru saja selesai menjalankan tugas menumpas pasukan nabi palsu Musailamah al Kadzab.
“Apakah Khalifah memerintahkan kita masuk lewat Ubullah?” Tanya Mutsana. Dia menduga-duga apa isi dari surat perintah rahasia untuk Khalid yang diantarkannya. Walau pun dia yang membawa surat itu, tetapi dia tak pernah tahu apa isinya.
“Benar!” Sahut Khalid.
“Alhamdulillah! Beberapa waktu yang lalu aku dan Jabal menjalankan misi ke Ubullah. Sudah ada orang kita yang mempersiapkan keadaan di sana. Jika kita masuk lewat sana insya Allah akan lebih mudah.” “Ada informasi apa tentang Ubullah?” “Informasi ini memang sangat rahasia,
” kata Mutsana. Dia melirik ke luar tenda untuk memastikan tidak ada orang yang mencuri dengar apa yang hendak dikatakannya. Dia juga memelankan suaranya.
“Aku sendiri baru saja mengetahui informasi ini ketika misi ini diserahkan kepadaku dan Jabal. Ternyata tak lama setelah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda bahwa Persia akan dicabik-cabik oleh kekuasaan Islam, beliau menanam sekelompok agen rahasia di Ubullah. Pemimpin kelompok ini bernama Aswad bin Asadi. Aku sempat bertemu dengannya saat menjalankan misi di Ubullah.”
“Subhanallah walhamdulillah. Lantas hasil apa saja yang sudah dicapai Aswad?”
“Kami sudah membawa seluruh laporan Aswad sejak pertama kali dia diberi misi oleh Rasulullah hingga kedatangan kami. Seluruh laporan itu sudah kami serahkan kepada Khalifah. Dia sudah memersiapkan segala hal yang dibutuhkan agar penaklukan Ubullah menjadi lebih mudah. Salah satu yang membuatku takjub adalah, dia berhasil memimpin timnya untuk membangun jaringan pintu rahasia di sepanjang kota Ubullah yang dihubungkan dengan terowongan. Pintu-pintu rahasia itu tersebar di hampir seluruh kota, dan kita bisa bebas muncul dan menghilang lewat pintu rahasia itu.”
“Kerja bagus! Aku mengucapkan selamat kepada Aswad dan tim kita di sana,” terhamparlah senyum tegas di wajah Khalid.
Kemudian dia bangkit dan menghampiri lampu minyak yang ada di pinggir tenda. Dibakarnya surat Khalifah itu hingga jadi abu. “Ada banyak hal yang harus kita lakukan sambil memersiapkan serangan.
000
Tikar pelepah kurma menjadi alas kesederhanaan. Khalid jenderal besar, kalau dia mau, dia bisa mengumpulkan seluruh harta kekayaan dari negeri-negeri yang telah ditaklukkannya. Tetapi dia tidaklah begitu, bagaimana mungkin dia tidur di atas dipan dari beludru, sementara Rasulullah tidur di atas tikar dari bekas pelepah kurma. Justru di atas tikar pelepah kurma itulah dia merasa lebih nyaman untuk merumuskan strateginya dalam mengalahkan musuh-musuh Allah. Di hadapan Khalid duduklah Mutsana bin Harits dan Rabiah bin Amir.
Sebagaimana diperintahkan, hanya dalam beberapa menit, Mutsana segera menghadirkan Rabiah di tenda komandan pasukan Khilafah Islamiyah itu. Mutsana tak perlu susah-susah mencari Rabiah karena dia adalah salah satu komandan kavaleri pasukan Khilafah.
“Syukur alhamdulillah kalian berdua sudah hadir,” Khalid membuka pembicaraan.
Dia mengambil kantung air dari kulit kambing yang ada di dekatnya. Membuka sumbatnya, lalu meminumnya setelah membaca basmalah. Kemudian dia menyodorkan kantung air itu kepada Mutsana dan Rabiah. Kedua prajurit muslim itu pun minum bergantian.
“Telah sampai perintah dari Khalifah bahwa kita akan segera mengadakan penaklukan ke Persia. Khalifah memerintahkan kita masuk dari kota Ubullah. Sebagaimana informasi yang telah kudapatkan, telah ada tim kita yang memersiapkan keadaan agar Ubullah bisa ditaklukkan. Kemudian kota itulah yang akan menjadi basis penyerangan kita ke wilayah-wilayah Persia selanjutnya,” Khalid menjelaskan.
Mutsana dan Rabiah memerhatikan kata-kata Khalid dengan saksama. Mulut mereka mengatup rapat. Mutsana akan mengerutkan dahinya kalau dia sedang berkonsentrasi. Sementara Rabiah mengelus-elus pelan punggung tangannya. Rabiah bin Amir adalah seorang prajurit muslim yang tangguh.
Wajahnya tampan dengan janggut yang tercukur rapi dan hitam. Janggut itu tidak terputus dari kedua jambangnya, terus tersambung di dagu dan di atas bibirnya.
Perawakannya sedang, tidak jangkung dan tidak pendek. Tubuhnya kekar, otot-ototnya bertonjolan di lengan, perut dan dadanya. Bahunya bidang dan kekuatannya luarbiasa. Dia adalah tipe lelaki yang amat disukai wanita. Sebilah pedang tergeletak di pangkuan Rabiah sementara kedua telapak tangannya saling bertumpuk. Dia mengusap-usap punggung tangan kanannya, begitulah tingkahnya jika sedang berkonsentrasi. Khalid melanjutkan instruksinya kepada anak buahnya.
“Kalian akan menjadi satu tim dalam pelaksanaan misi ini. Aku perintahkan kepada Rabiah untuk menghadap Badzan, Jenderal Persia yang memimpin Ubullah. Sampaikanlah surat dariku ini kepada Badzan.” Khalid berhenti sejenak dan meraih segulung perkamen yang dimasukkannya ke dalam sebuah tabung kayu.
Tabung itu kemudian diserahkannya kepada Rabiah. Dengan penuh keyakinan, dia mengambil surat itu. Dia tahu persis apa yang biasanya terjadi pada para pengantar surat untuk para raja. Biasanya para pengantar surat itulah yang dijadikan pelapiasan jika raja yang dituju itu tidak menyukai isi suratnya. Dia tahu benar bahwa apa yang sedang dipegangnya bisa jadi adalah palu godam kematiannya. Sebab surat yang dia bawa itu adalah surat dakwah. Sepucuk surat yang isinya belum tentu disenangi semua orang.
Namun tugas itu diambilnya juga. Kalau untuk menyampaikan kebenaran, apa pun akan dia pertaruhkan. Khalid mengacungkan telunjuknya kepada Rabiah. Dia berusaha menekankan misi penting untuk anakbuahnya.
“Serahkan surat dakwah ini kepada Badzan di Ubullah. Jika kelak kita akan mengambilalih Ubullah berarti kita akan berhadapan dengannya. Jika dibutuhkan, mintalah jawaban tertulis. Ketika memasuki Ubullah, kalian berdua haruslah berjalan terpisah. Untuk Mutsana, hubungilah orang-orang kita di Ubullah sebelum Rabiah menghadap Badzan. Mintalah bantuan sepenuh-penuhnya dari mereka agar Badzan bisa keluar dengan selamat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kalian pasti tahu bagaimana biasanya sikap para penguasa ketika menghadapi surat dakwah.
Setelah pelaksanaan misi ini, Mutsana kembalilah kepada pasukanmu, tunggu perintah selanjutnya. Rabiah berjalanlah terus menuju Kazima. Temuai aku di sana dan laporkan segala perkembangan yang terjadi!”
“Siap!” sahut mereka.
Setelah mendapatkan perintah, mereka segera bangkit dan segera bergerak melaksanakannya.
bersambung,,,
di muat di majalah remaja islam drise edisi 50