DERAP RANTAI EPS. 23

Majalahdrise.com – Dengan kasar dan keras, para prajurit itu membawa Rabiah.  Mereka melingkarkan lengan  mereka ke leher Rabiah hingga hampir  tercekik. Prajurit yang lainnya lagi  mencengkeram pundak tangan lengan  Rabiah kuat-kuat. Rabiah hanya bisa  menahan sakit sambil berzikir kepada Allah. Mereka membawa Rabiah menuju  penjara bawah tanah. Dinding-dinding  koridor dari batu menemani Rabiah  menjalani takdirnya. Dia pasrahkan seluruh  nasibnya kepada Allah. Walau pun besok  pagi dia sudah tidak bernyawa lagi, hal itu  pun dipasrahkannya kepada Allah. Dia  sama sekali tidak tahu apa yang sedang  direncanakan Allah untuknya. Para prajurit Persia itu menyeret  Rabiah menuruni tangga batu. Mereka  terus turun ke ruang bawah tanah tempat  di mana jeruji-jeruji besi mengunci orang-orang yang berani menentang kekuasaan  Persia. Prajurit-prajurit Persia itu hendak  melemparkan Rabiah ke dalam kurungan  ketika mereka mendengar teriakan.

“TUNGGU!!!  “

Mereka semua menoleh ke arah  tangga. Terlihatkan dua orang prajurit  Persia menghampiri mereka.

“Ada apa? Orang ini akan dieksekusi  besok pagi. Dia telah menghina Yang Mulia  Badzan. “

Kata salah seorang prajurit Persia  itu.

“Serahkan orang ini pada kami, “

sergah seorang prajurit yang baru datang  tadi.

“Kami diperintahkan untuk membawa  dia, “

tambah kawannya.

“Siapa yang memberi kalian  perintah? “

Kegaduhan itu menarik perhatian  tahanan-tahanan yang lain. Dalam sekejap  bermunculanlah kepala-kepala tahanan  yang melongok dari balik jeruji besi. Mereka  ingin tahu apa yang sebenarnya sedang  terjadi.

“Kami diperintahkan untuk membawa  orang ini, “

prajurit yang baru datang itu  mengulang.

“Perintah siapa? “

Tanpa disangka-sangka, kedua  prajurit Persia yang baru datang tadi  menghantam prajurit-prajurit yang  menahan Rabiah dengan tinju mereka. Dua  orang prajurit Persia terjerembab di lantai  batu. Sedetik kemudian dua orang lagi  prajurit Persia jatuh. Rabiah sama sekali tak  mengenal dua orang prajurit Persia yang  baru datang itu. Sepertinya mereka hendak  membantu Rabiah.

“Saudaraku, ikutilah kami! Jangan  sampai tertinggal! “

Kata salah satu dari  mereka. Mata Rabiah nanar. Dia hampir-hampir tidak percaya apa yang sedang  terjadi di hadapannya. Ada dua orang lelaki  bertopi dan berbaju zirah seragam prajurit  Persia yang membantunya. Namun dia  menguatkan dirinya meski pun pelipisnya  yang dihantam gagang pedang tadi masih  kembang-kempis. Kedua prajurit Persia itu  berlari melintasi penjara bawah tanah dan  Rabiah mengikuti derap langkah mereka.  Para tahanan lain yang sedang mendekam  dalam penjara menanti takdirnya menjadi  ribut saat melihat ada tahanan yang  melarikan diri. Mereka mengguncang-guncangkan jeruji besi penjara dan  berteriak-teriak riuh.

“BEBASKAN KAMI JUGA!!! “

“BEBASKAN KAMIIIIII!!! “

Share your mind : SALAM

Majalahdrise.com – Kamu mau gak dapet kebaikan  yang besar?? Tapi amal yang kita  lakukan Cuma sedikit dan  gampang sekali. Gak perlu repot segala.  Mau gak?? Nah, diantara kalian pasti  seneng banget kan kalau ketemu  seseorang yang sudah lama tak  bertemu??

Ngaku deh.. aku juga kok,  rasanya bahagiaaa banget. Siapapun  orangnya. Apalagi kalau sobat sendiri.  Nah perasaan itu ada karena diantara  kita udah saling terikat, serasa sebagian  dari hidup. Jadi kalo hilang, pasti  perasaannya gak enak. Iya gak sihh?

Rindu. Itu adalah kata kuncinya.  Kalo udah rindu pasti pengen banget  ketemu kan? Pada akhirnya kalo udah  ketemu mancay daah. Entah yang keluar  air mata, air mancur yang keluar dari  mulut gara-gara ngomong mulu atau bisa  jadi pura-pura galiat. Iya kann?? Ngaku..  Tapi ketika pertamakali ketemu pasti kita  bakal nyapa kan, entah itu saling teriak  (kalo cewek biasanya gitu) atau sekedar  bilang ‘hai’ atau sok basa-basi. Tapi dari  sekian sapaan ketika bertemu dengan  siapapun jarang sekali yang  mengucapkan salam. Jujur, aku juga suka  lupa ko, hehee jangan diikuti yaa. Kamu mau kan dapet kebaikan  yang besar?!

Nah caranya gampang  banget. Cukup ucapin salam aja setiap  ketemu orang. Walaupun gak kenal,  salam aja… yaa itu juga kalo berani, hehee. Tapi beneran deh, jujur aku tuh  terinspirasi nyapa orang dengan  mengucapkan salam itu dari seseorang  yang gak biasa-biasa aja. Beliau ini udah  banyak memotivasi banyak orang hampir  diseluruh dunia.  Nah kali ini aku termotivasi bukan  dari omongon yang biasa disampaikan  beliau ketika training, melainkan dari  sikap beliau yang sudah lama aku  kagumi. Aku suka liat tuh kalau beliau  lagi ketemu orang (dimanapun) pasti  beliau sapa sambil menyodorkan jabatan  hangat. Alhasil, orang yang disapa itupun  menyapa kembali dan menerima jabatan  tangan itu dengan senang hati.

Misalnya,  pernah suatu ketika beliau ingin membeli  mangga, ketika keluar dari mobil lalu  bertemu, beliau menyapa dengan  sapaan salam sambal menyodorkan  tangan.  Selain ucapan salam itu adalah  tradisi kaum muslim, salam juga  menyimpan banyak do’a di dalamnya.  Setiap kali kita mengucapkan  “assalamu’alaikum..” secara sadar  maupun gak sadar, kita sedang  memberikan do’a terbaik kita kepada  orang yang kita sapa itu. Nah karena  hukum menjawab salam itu wajib, kita  dapet balesannya juga karna dibales  salamnya ples dido’ain balik.

Arti dari  salam juga gak sembarangan lhoo.. kalian tau kan arti dari salam itu apa?!  Kalo yang bener-bener muslim  pasti tau apa artinya.. tapi biar gak salah  atau melenceng aku ingetin lagi yaa.  Assalamu’alaikum itu artinya semoga  keselamatan, rahmat allah dan berkah-Nya  tercurah kepadamu. Wuiiiiiiihh mantep  banget tuh artinya. Ya kan?? Disatu sisi  kita dapet kebaikan yang nilainya gak ada  tandingannya dibanding barang apapun  termahal didunia, disatu sisi juga kita  salig mendoakan, dannn disisi yang lebih  penting lagi, ketika kita berjabatan  tangan secara gak sadar itu  menggugurkan dosa-dosa kita. Kalo mau dibeberin tuh maksud  do’anya bakal panjang banget deh, bisa-bisa kamu diomelin sama ortu gara-gara  bacanya kelamaan trus jadi lupa waktu.

Tapi aku bisa ngasih beberapa kata  supaya kita ga bloon-bloon amat. Malu  banget kan kalo nanti ada noni yang  minta dijelasin apa makna dari salam itu  trus kamu malah gabisa jawab. Hadeuuh  bisa-bisa tuh noni jadi males masuk  islam gara-gara orang isalamnya sendiri  aja gangerti islam, padahal  pertanyaannya dasar banget. Salam itu apa sihh?? Salam sendiri merupakan Bahasa  Arab yang digunakan oleh kultur muslim Salam ini hukumnya Sunnah namun  yang menjawabnya hukumnya wajib,  yang sebenarnya tujuannya untuk dapat  merekatkan Ukhuwah Islamiyah umat  muslim di seluruh dunia.  Dalam Surah Al-Hasyr ayat 23  “Dialah allah, tidak ada ilaah  (sesembahan) yang layak kecuali dia,  Maha Rajadiraja, Maha Suci, Maha  Sejahtera, …” dalam ayat ini disebutkan  As-Salaam (maha sejahtera) adalah  salahsatu sifat allah yang mulia ini.  Sangat jelas sekali bahwa salam  memberikan kesejahteraan kepada  setiap hambaNya yang sungguh-sungguh  memohon.

Dalam kitab Al-Ahkamul Qur’an  yang ditulis oleh Ibnu Al-Arabi  mengatakan bahwa salam juga  mendo’akan kita yang berarti semoga  Allah menjadi pelindungmu. Seneng gak  sih kalo kita selalu dilindungin Allah??  Kalo kita dilindungin sama ortu atau  abang atau teteh atau  pujaan hati, pasti  seneng kaan. Apalagi  kalo yng ngelindungin  kita itu yang jadi hidup  dan mati kita, kekasih  kita, rajanya kita.  Makanya, mulai  dari sekarang yuk kita  coba menyapa setiap  orang ( yaa minimal  yang dikenal dulu lahh)  dengan mengucapkan  salam. Siap??!! Good  luck![]

DI MUAT DI MAJALAH DRISE EDISI 52

MERAH SURIAH II

Majalahdrise.com – Hariku dipenuhi dengan tangisan, airmata dan darah. Pertama kali kesini, Aku shock. Alhasil di hari-hari berikutnya, tak melihat darah tergenang seolah menjadi pemandangan yang aneh. Isu terorisme telah menjadi alat ampuh bagi Amerika untuk bercokol di Bumi Syam yang penuh berkah ini. Pada beberapa kesempatan, Aku berdiskusi dengan Khalid. Usianya masih tergolong muda, 19 tahun. Usia yang bagi anak sepertinya di Indonesia merupakan usia yang tepat untuk menikmati hidup, bersenang-senang dan memilih untuk menghabiskan waktu di tempat hiburan. Khalid beda. Suasana perlawanan menjadi nyanyian disetiap tarikan nafasnya. Aku bertanya mengapa ia begitu gigih melakukan hal itu.

“Kami katakan, bahwa kami sedang berusaha tanpa kenal letih dan lelah, siang dan malam untuk mendirikan Khilafah dengan segera. Khilafah adalah pelindung dan penjaga yang sebenarnya bagi kaum muslim termasuk suriah. Khilafah yang akan membuat para diktator berlutut dengan terhina, dan yang akan mengakhiri mimpi buruk yang tengah kami alami. Kami menyeru saudara-saudara kami untuk mengikhlaskan diri kepada Allah, serta terus berpegang teguh dengan revolusi kalian demi Islam”

“apa yang hendak kau sampaikan ke sesama muslim di Negara lainnya?”,Tanyaku

“Aku ingin mengatakan, Bagaimana bisa mereka tidak tergerak melihat aksi genosida terhadap saudara saudari mereka? Bagaimana kelak mereka menjawab, ketika Allaah menanyakan kelalaian mereka melindungi kami, saudaranya? Aku ingin mengatakan bangkitlah sekarang untuk melakukan tugas kalian yang diperintahkan Tuhan, yaitu menyingkirkan rezim diktator ini, dan melindungi saudara kalian! “engkau tidak berpikir tentang…” Aku menjeda kalimat, memperhatikan wajahnya yang masih sabar menunggu kelanjutan kalimatku “uhm… di negaraku, seusiamu ini sibuk menghadiri pesta, menghabiskan waktu dengan teman dan tentu saja menghadiri konser music”, Aku menertawai diriku sendiri. Diluar dugaan, Khalid tersenyum. “ah ya, Saya nyaris lupa, besok in syaa Allaah saya menikah. Anda boleh datang jika berkenan”, masih dengan senyum khasnya, aku hanya melongo. Ia mengambil secarik kertas lalu dengan cepat menulis sebuah alamat kemudian menyodorkannya kepadaku. Aku mengambilnya dengan perasaan yang tak biasa, bagaimana bisa seseorang yang akan melangsungkan pernikahan besok masih berkeliaran membicarakan masalah revolusi? Ah…

………………………………

Aku membuka laptop,menyalakannya dan Membuka beberapa email dan mengecek akun media sosial. Dalam sekali klik, postingan laman sebuah berita memenuhi dinding akunku. Pengeboman terjadi di Paris, Perancis. Dunia menangis. Satu suara mengutuk serangan tersebut. Pic profile seketika didominasi bendera perancis. Sebegitu berdukanyakah dunia hingga hastag PrayForPerancis seketika mendominasi dunia maya?

Dan ah… sepersekian detik, berbagai macam analisa bermunculan. Satu hal yang terlintas dalam pikiranku saat itu, Suriah kembali terancam. Drone, suara tembakan, jerit tangis dan…. Tasbih, serta takbir yang membuat bulu kudukku meremang. Benar saja ,Tak perlu waktu seminggu setelah kejadian, perancis benar-benar melengkapi upaya genosida kaum kafir terhadap rakyat suriah. Terorisme benar-benar telah dijadikan alat untuk membantai rakyat suriah yang tak berdosa.

Jika terror yang terjadi di paris memakan korban sekitar seratusan orang, dunia seharusnya berduka dan berempati untuk suriah. Karena disini, tak hanya seratus, tapi jutaan! Namun seluruhnya sepi dari pemberitaan. Ah, airmataku tiba-tiba menggenangi pelupuk mata yang kian perih. Perih melihat genangan darah, juga perih memprotes ketidak adilan dunia. Untuk beberapa hari, Aku tak bertemu Khalid. Serangan Perancis benarbenar mencekam. Aku disibukkan dengan upaya medis untuk para korban. Anak-anak tak bernyawa bergelimpangan dimanamana. Jeritan Ibu yang berpisah dengan anaknya, atau sebaliknya menjadi pemandangan hari-hariku. Ah,Khalid, perjuangan apalagi yang akan kalian lakukan?

………………………..

Aku tiba di alamat yang ditulis Khalid beberapa waktu yang lalu. Hari terakhir kami bertemu sebelum serangan balasan Perancis. Aku ditemani Pierre mencoba menelusuri jalan-jalan sepi. Tak Nampak kehidupan. Mayat-mayat bergelimpangan dan mulai membusuk. Penciuman,penglihatan bahkan perasaanku telah terlatih menyaksikan pemandangan ini. Lagi dan lagi, dunia bungkam. Aku mencari secarik kertas yang kuselipkan di antara buku catatan harian. Ah, kertas dari Khalid masih ada. Bergegas Aku mengajak Pierre kesebuah tenda pengungsian yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Tiba-tiba, dari arah samping tenda, Aku melihat sosok Khalid yang saat itu juga sedang mengarahkan pandangannya kepadaku. Rasa bahagia benar-benar menyelimutiku.

Aku sumringah dan tak dapat menyembunyikan perasaan bahagiaku. Aku memeluk dan menepuk punggungnya. Ia tersenyum tipis. Pandangannya benar-benar meneduhkan. Belum pernah Aku merasa hormat dengan seseorang yang usianya lebih mudah dariku. Khalid segera mengajak kami kebagian belakang tenda. Ternyata disitu terdapat meja panjang dengan kursikursi kayu yang tak terurus. Aku tak sabar ingin mendengar ceritanya, terutama masalah pernikahannya yang tentu saja sangat kusesali tak menghadirinya. Khalid menyodorkan dua gelas berisi air putih. Aku mengulurkan tangan mengambil gelas tersebut. “Khalid, maaf yah Aku tidak datang kepernikahanmu waktu itu. Serangan perancis benar-benar tak memberikan ruang untuk kita semua”, Aku memasang wajah penuh penyesalan. Khalid tersenyum “tidak mengapa” jawabnya singkat

“oh, iya. Istrimu dimana? Disini alamat istrimu kan? Aku kesini karena yakin engkau masih menghabiskan masa bulan madu kalian”,aku berucap kegirangan. Khalid lagi-lagi tersenyum.

“istrimu didalam?” Khalid menggeleng.

“tidak.Ia telah dikuburkan beberapa waktu yang lalu. Seluruh keluarganya meninggal karena serangan perancis, kemarin”, Aku tergagap. Ada ribuan kata yang mengantri di lisanku.

Aku menatap Khalid. Kali ini, matanya mengisyaratkan sebentuk rasa pedih yang teramat sangat. Ia menengadahkan wajahnya, menghadap ke langit yang mulai kemerahan. Hening merambati. Angin sore yang semilir kuharap membawa pergi perih di hati Khalid. Sungguh, aku merasa dunia tak bijak. Demikian pula sikap kaum Muslimin.

Saat Bashar al-Assad yang tidak berkemanusiaan sengaja mengisolasi rakyat suriah yang tak berdosa hingga mengalami kelaparan, para penguasa antek dan pemerintah tercela di dunia Islam justru sibuk untuk berpartisipasi dalam perayaan Hari Natal dan Tahun Baru Negara Kafir. Bahkan untuk pesta kufur itu mereka rela menghamburkan jutaan dolar, dibanding memobilisasi dana dan tentara untuk membebaskan umat Islam di Suriah. Ah, kenapa khoiru ummat ini begitu terpuruk? Bilakah khilafah datang membebaskan Suriah? Bilakah Khilafah tegak yang dengan kekuatannya akan mengusir Negara-negara teroris ini??[Juanmartin]

di muat di majalah drise edisi 52

MERAH SURIAH

Majalahdrise.com – jika bumi Suriah adalah Indonesia, mungkin para coas akan sumringah menatap log book-nya. Oh, tidak. Tentu saja mereka tidak akan memiliki waktu untuk memperhatikan log book. Sebab disini, setiap detiknya adalah kematian. Setiap detik yang ampuh membuat ingatan kita melekat kepada Sang Kholiq. Ah, suasana dimana maut mengakrabi memang merupakan suasana tersyahdu. Sekali lagi, aku berusaha memejamkan mata, namun suara-suara itu seperti orchestra yang menyanyikan lagu kematian. Kelaparan, genosida dan perlawanan.

Ya, selain tiga kata tersebut, sepertinya warga suriah tak terkecuali anakanak dan kaum perempuan disini tak mengenal kata yang lain. Anak-anak di tempatku saat ini —salah satu wilayah yang masih diblokade oleh pasukan Bashar al- Assad—, mereka mampu membedakan antara rasa dari daun-daun pohon yang berbeda—pahit, manis atau asam—sebagaimana anak-anak di belahan dunia lainnya membedakan antara rasa pizza dan rasa daging yang dimasak dengan saus, serta membedakan antara rasa cokelat dan biskuit.

Anak-anak suriah, menangis sebelum kematiannya dan meminta kepada ibunya sesuatu untuk dimakan, namun ibunya tidak mampu berbuat banyak selain melihat anaknya yang sedang sekarat. Pemandangan inilah yang mengakrabi setiap waktu yang aku lalui disini, Suriah. Peperangan ini telah mengubah mereka menjadi sosok yang mampu menggentarkan serdadu kafir barat yang tak tahu malu itu. Satu sosok yang lekat dalam ingatanku,

Khalid. Dialah yang menyenandungkan kalimat bernyawa kepada anak-anak ini. Jiwa kepemimpinan dan naluri perlawanannya benar-benar seperti pahlawan Islam,Khalid bin Walid.

…………….

Aku menatap Pierre. wajah pemuda asal jerman itu memerah. Rasa kemanusiaannya mengusik hingga menyeretnya untuk membaktikan ilmu di tengah suasana perang yang tak jelas akhirnya. Entah bagaimana si kulit pucat ini bisa sampai ke Suriah. Detik ini, Ia mencoba focus pada pemandangan di kejauhan. Terik mentari menjadi satu-satunya saksi pemandangan di hari itu, hari ketika semangat anak-anak Suriah mengusik rasa kemanusiaanku yang tercerabut paksa oleh kebijakan tak manusiawi pemerintah Negara adidaya: Amerika.

Dari kejauhan, Aku melihat sekitar lima serdadu Amerika yang sedang berpatroli. Sebagai tenaga medis, Aku sedikit bisa bernafas lega. Aku menatap Khalid yang mengikuti pergerakan serdadu Amerika tersebut hingga yakin mereka sama sekali tak sedang berminat menerima gempuran Khalid dan kawan-kawan.

Ya, tentu saja mereka takut. Bukankah mereka pengecut?. Serdadu-serdadu itu berhenti tak jauh dari tenda pengungsian tempat kami memberi bantuan medis. Tak disangka, salah seorang serdadu mendekat dengan memasang wajah yang memuakkan. Khalid memancangkan tatapannya pada serdadu itu. Sorot matanya tajam merontokkan keberanian sang serdadu. Aku menatap adegan ini tanpa berkedip. Seperti menyaksikan anak kucing yang akan mengalahkan harimau ompong.

“Anda tak perlu menakut-nakuti kami dengan senjata. Kami tidak takut mati seperti kalian. Kami hidup untuk mencari mati. Kami tidak butuh janji Assad dan presiden kalian. Pulang dan katakan pada presiden Anda, Kami hanya butuh Khilafah dan diterapkan syariat Islam di bumi Syam”, Ia mengeluarkan kalimat-kalimat bernyawa yang di amini sahabat-sahabat yang mengelilinginya, mereka mengepalkan tangan meninju udara sembari mengucapkan “Nahnu! Nuriid ! Khilafah Islamiyah!”, sang serdadu celingukan mencari teman. Detik selanjutnya, Ia memilih meninggalkan anak-anak itu dengan segera. Aku mendengus. Dasar pengecut!

bersambung,,,,,

di muat di majalah remaja islam drise edisi 52