Teuku Wisnu (Aktor) “..Anak Muda.. Apa yang Bisa Kalian Berikan Pada Islam?”

Namanya udah nggak asing lagi di telinga pemirsa televisi. Puluhan sinetron dan iklan layar kaca kerap menampilkan sosoknya sebagai figur sentral. Belakangan, pria berdarah Aceh kelahiran Maret 1985 ini terlihat sering merapat di acara keislaman. Mulai dari presenter tayangan ramadhan, nara sumber atau bintang tamu kajian keislaman, malah nggak sungkan duduk sebagai peserta seperti saat menghadiri Konferensi Islam Peradaban (KIP) di Sentul International Convention Center Mei 2014 lalu. Jadi penasaran, apa sih yang bikin selebriti peraih penghargaan Panasonic Award 2009 untuk kategori Aktor Terfavorit pilihan Pemirsa ini ‘hijrah’. Simak obrolan singkat redaksi Drise, kang Isa dengan abang Teuku Wisnu. Cekidot!

 

Gimana perasaan Abang setelah hijrah sekarang ini?

Alhamdulillah keadaan semakin membaik. Karena sudah pasti kalau kita berhijrah hidup kita akan semakin tenang, semakin nyaman, dan semakin damai. Dan kita juga jadi tahu tujuan hidup kita itu apa, gitu! Selama ini kan, ketika sebelum hijrah, hanya berkutat pada masalah duniawi saja, dan nggak tahu sampai kapan kita kayak gini.

Nah sekarang alhamdulillah, setelah hijrah, dan Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa, karena kita butuh bimbingan. Begitu juga ketika belajar agama, kita butuh bimbingan, dan butuh guru. Dan guru juga nggak cukup satu. Banyak guru juga baik, yang penting kita bisa memfilternya juga, gitu. Dalam arti, ya hati-hati juga. Kan cari-cari guru juga kan harus hati-hati juga.

Nah alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa, dan saya banyak belajar dan dibimbing oleh mereka juga. Di masa-masa saya belajar ini mudah-mudahan saya bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.

 

Ada nggak sih halangan-halangan yang dihadapi saat memutuskan untuk berhijrah?

Sebenernya halangannya sih nggak seberapa ya, dan nggak berat. Cuman ada orang-orang yang sempat kaget ketika melihat kondisi saya setelah hijrah. Terutama ya istri, orang tua, orang-orang terdekat dulu lah. Keluarga saya. Begitu juga orang-orang terdekat saya seperti teman-teman dan sahabat-sahabat saya.

Tapi ini lambat laun mereka semua jadi menyadari, karena semua orang kan butuh adaptasi dan perkenalan lagi. Jadi ketika saya berubah menjadi sosok Teuku Wisnu yang baru, hal ini membuat orang-orang di sekitar saya harus berkenalan lagi dengan saya, gitu.

Nah di sini nanti akan kelihatan, bahwa orang yang baik nanti pasti akan senang dengan perubahan baik yang ada di dalam diri kita. Jadi kita semua saling belajar lagi satu sama lain. Seperti misalnya perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan di dalam keluarga, ternyata itu ada dalilnya dan ada aturannya di dalam Islam. Dan itulah kewajiban saya untuk menyampaikannya kembali.

 

Dunia Islam kan sekarang lagi berduka nih Bang seperti yang dialami saudara kita di Palestina. Bagaimana pendapat abang tentang kondisi itu?

Tentang Gaza ya? Saya banyak ngobrol dengan kawan-kawan, termasuk juga dengan Ustadz Felix Siauw dan Ustadz Fatih Karim. Jadi kita jangan melihat hal ini dari sisi kemanusiaan saja. Kalau hanya dari sisi kemanusiaan, kita semua pasti akan melihat bahwa hal ini amatlah keji.

Tapi kalau kita lihat dari perspektif agama, terutama agama kita, Islam, maka sesama muslim itu kan saudara, jadi mereka yang di Palestina itu adalah saudara kita juga. Dan ada salah satu hadist Rasulullah yang menyatakan bahwa umat Islam itu satu tubuh, dan kalau ada salah satu bagian tubuh yang sakit, maka bagian tubuh yang lain pasti akan merasakan sakit juga.

Jadi intinya adalah, saudara-saudara kita di Palestina adalah bagian tubuh kita. Kalau mereka terluka, mestinya kita juga merasakan sakitnya. Begitu juga seharusnya dengan kita umat Islam di Indonesia. Bayangkan, kita yang selama ini bisa beribadah dengan cukup tenang, mereka di sana beribadah juga, tapi harus bersiap-siap dengan hantaman roket, gedung-gedung yang runtuh, siap-siap dengan suara-suara tembakan. Nah ini semua yang harus kita sadari. Intinya adalah, apa yang harus kita lakukan?

Kita tidak boleh berdiam diri. Kita harus melakukan sesuatu yang mampu kita lakukan kalau kita nggak bisa ke sana. Kita perhatikan korban-korbannya. Salah satunya yang mereka butuhkan adalah bantuan medis dan pangan. Kita sumbang mereka melalui berbagai lembaga-lembaga yang kita percaya dan amanah untuk bisa menyampaikan bantuan kita ke sana. Kita juga harus berjihad sikap, untuk mengutuk dan marah terhadap pembantaian itu. Boikot juga produk-produk Israel. Karena potensi umat Islam amat besar jika kita memboikot produk-produk Israel. Doakan juga mereka, sebagai penjaga salah satu masjid suci kita.

 

Kan sekarang anak muda Islam lagi ancur-ancuran juga Bang. Bagaimana cara kita untuk memperbaiki kondisi itu?

Kalo dibilang anak muda ancur-ancuran, bisa dibilang ya atau tidak. Karena saya melihat temen-teman saya yang masi muda luarbiasa juga. Mereka berhijrah juga insya Allah istiqomah. Hanya tak terekspos saja. Ini salah satu tugas dan keingingan saya. Saya ingin memberikan motivasi semangat untuk anak-anak muda Islam bahwa kita mempunya potensi yang luar biasa. Manfaatkan potensi itu untuk berdakwah sesuai bidang kita masing-masing. Berdakwah gak mesti seperti ustadz ngasih tausiyah. Bukan hanya itu. Berdakwah bisa dengan berbagai cara. Potensi anak muda yang harus dibangkitkan. Potensi apa yang bisa kalian berikan pada pada Islam? Pada Umat Islam? Pada Allah?

Salah satu keinginan saya ingin menarik potensi anak-anak muda berprestasi agar dikenal dan menginspirasi. Saya yakin, jika anak-anak muda bersatu akan mengguncang dunia. Bisa sebagai penulis, pengusaha muda, desainer, pelaku media. Anak muda harus sadar potensinya. Saatnya kita harus bergerak. Sekarang! [Isa]

BIODATA SINGKAT:

Nama              : Teuku Wisnu

TTL                  : Jakarta, 04 Maret 1985

Istri                  : Shireen Sungkar

Penghargaan   : Aktor Terbaik ajang Panasonic Award 12, 27 Maret 2009.

Aktor Ngetop penghargaan SCTV Award 3 tahun berturut-turut (2007-2010)

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

Konsep Keselamatan (salvation)

drise-online.comDriser, beruntung banget orangtua kita muslim. Kita jadi kecipratan sebagai anak menjadi muslim. Sayangnya, islam warisan yang kita anut sering bikin manja diri untuk mengenal islam lebih dalam. Minimal menemukan jawaban, kenapa saya menjadi muslim. Kalo masih bingung, buku ini pas banget untuk bantu kamu temukan jawabannya. Cekidot!

Salvation bukan buku yang membahas cinta dan romansa. Bukan juga perjuangan seorang aktivis yang terlibat cinta segitiga. Apalagi buku yang mengupas bagaimana mendapatkan istri yang cantik jelita.Buku ini justru mengupas Konsep Keselamatan (salvation).

Konsep keselamatan pada dasarnya adalah konsekuensi logis dari konsep teologi ketuhanan. Semua agama memberikan hak eksklusif kepada pemeluknya. Yakni hak eksklusif atas keselamatan. Seperti Kristen dengan doktrin “tidak ada keselamatan di luar gereja (extra ecclesiam nulla salus)”. Dalam Hindu konsep keselamatan ini dikenal dengan istilah “moksha”, yakni menyatunya ruh dengan Brahma setelah proses reinkarnasi yang berulangkali. Sedangkan di dalam agama Budha dikenal dengan istilah “nirvana”, yakni pencerahan rohani setelah terbebas dari penderitaan.

Semua agama telah menuntut pemeluknya untuk mengakui secara penuh akan keabsolutan doktrinnya. Kenyataan ini tentunya berseberangan dengan apa yang dihembuskan paham pluralisme. Sehingga patutlah bagi seorang muslim hanya mengakui keabsolutan doktrin agamanya semata. Meyakini keyakinan dan keselamatan agama lain sama saja dengan mencemplungkan keimanannya sendiri dalam kenistaan. Sebab perkara keselamatan adalah perkara iman dan kufur. Bahasan inilah yang dikupas dalam bagian pertama buku ini.

Begitulah konsep keimanan yang dipahami oleh generasi pertama umat ini. Sehingga kita menyaksikan dalam catatan sejarah Islam mampu berdiri kokoh sebagai agama yang mapan. Dengan itu pula muslimin mampu membangun peradaban yang berwibawa. Celakanya, perjalanan panjang filsafat barat pada abad pertengahan telah melahirkan satu bentuk ideologi yang menghantam ideologi muslimin, yakni Sekularisme.

“Tuhan telah mati”, kata Nietzsche. Dan kata itu pula yang diamini oleh sebagian muslimin. Sehingga mereka lebih gemar mengikuti kata-kata manusia ketimbang firman Tuhan. Dan terjadilah proses sekularisasi yang menghantam ajaran-ajaran Islam yang telah mapan. Tak hanya itu, sekularisasi juga menghilangkan wibawa agama dari politik. Alhasil, agama tak bersisa sedikit pun kecuali di masjid-masjid dan rumah. Kalau urusan negara? Tentu saja mereka lebih suka pakai konsep trias politikanya Montesquieu. Dan pembahasan ini diurai secara rinci dalam bagian ketiga dari buku ini.

So, buku ini lebih merinci lagi terkait apa itu Islam. Sekali lagi Penulis meracik dengan sedemikian rupa agar buku ini bisa menarik untuk dibaca dengan bahasa yang lebih segar dalam mengartikan keimanan dan kekufuran itu sendiri. Pastikan kamu cicipi hidangan inspirasi dari buku ini biar keimanan kamu tambah josh!Konsep Keselamatan salvation - DRISE-ONLINE.COM

Judul                     : Salvation
Penulis                 : Kusnady Ar Razi
Penerbit              : KUTLAH – media –
ISBN                      : 978-602-19276-9-4
Hlm                        : x + 190 ; 12 x 17,5
Genre                   : pemikiran
Harga                    : Rp. 30.000,-

 

di muat di Majalah Remaja Islam Edisi #39

MEMBANGUN TUBUH YANG DINAMIS #2

Tulisan Yang Sistematis Sekaligus Sistemis

 

drise-online.com – Pada edisi D’Rise sebelumnya, kita sudah ngebahas gimana membangun tubuh tulisan yang dinamis bagian pertama, yaitu pembahasan yang sistematis alias sesuai dengan sistematika penulisan yang baik dan benar. Pada edisi D’Rise kali ini, kita akan ngebahas bagaimana membangun tubuh tulisan yang dinamis bagian kedua, yaitu pembahasan isi tulisan yang sistemis. Maksudnya adalah bagaimana agar tulisan kita itu gak sekadar menyajikan fakta, data dan berita saja, ataupun mengandung unsur informasi dan edukasi semata. Namun juga, inspiratif sekaligus solutif. Walah… keknya berat, ya? Iya dunk, kan, tulisan kita kudu jelas gimana bobotnya!

Ok deh, Bro and Sist… kita ambil sample saja, ya, agar kita mudah memahami gimana tulisan yang sitematis plus sistemis itu? Bro and Sist D’Riser tentu dah tahu karya best seller Felix Y. Siauw yang berjudul Muhammad Al-Fatih 1943, kan, ya? Gimana seru, ga kisah heroik Fetih Sultan Mehmed dalam menaklukkan ibukota Romawi Byzantium, Konstantinopel itu?

Nah, buku karya Ustadz Felix yang ia dedikasikan khusus untuk kedua puteranya; Shifr & Ghazy sebagai bekal untuk membuka Kota Roma itu, dapat kita jadikan sebagai contoh dari tulisan yang sistematis, sekaligus sistemis.

Sebelum ngebahas lebih lanjut, kita mo sedikit ngasih bocoran, gimana proses kreatif Ustadz Felix menghasilkan buku fenomenal ini. Gimana gak jadi fenomena, MAF 1453 itu ditulis oleh seorang engineer bidang pertanian, bukan seorang sejarawan ataupun lulusan ilmu sejarah. Terlebih lagi, Ustadz Felix adalah seorang mualaf. Bahkan, saat diskusi bukunya di Bandung, seorang doktor sejarah menyatakan, melalui karyanya ini, Ustadz Felix dapat disejajarkan dengan para sarjana ilmu sejarah.

Saat itu, saya yang mendapatkan amanah sebagai penyunting buku MAF 1453 mengetahui betul proses kreatif Ustadz Felix sejak awal. Bahkan, mendapat kesempatan menjadi first reader dan mengawal prosesnya dari naskah mentah menjadi sebuah buku. Proses kreatif menulis MAF 1453 itu digarap dengan sungguh-sungguh oleh penulisnya, Ustadz Felix berulang kali merevisi naskah tulisannya, ia tidak sungkan menerima kritik konstruktif dari saya demi kesempurnaan MAF 1453.

Di antara masukan yang saya berikan kepada Ustadz Felix adalah ia harus berani tega untuk memangkas 2/3 isi naskah yang telah ia tuliskan. Saat itu, saya berargumentasi bahwa tidak semua orang suka membaca sejarah karena bagi sebagian orang, sejarah adalah sesuatu yang memberatkan karena harus mengingat rumus 5W+1H: What: Apa peristiwa sejarahnya? Who: Siapa para pelaku sejarahnya? When: Kapan peristiwa sejarah itu terjadi? Where: Dimana peristiwa sejarah itu terjadi? Why: Mengapa hal itu dapat terjadi?, dan How: Bagaimana proses terjadinya? Waduh, sebegitu banyak yang harus diingat dan diketahui para pembaca, mulai nama orang, nama peristiwa, nama tempat, tanggal kejadian, analisa peristiwa, etc.

Selanjutnya, saya bertanya secara retoris kepada Ustadz Felix, apakah ia bermaksud menulis biografi Sultan Mehmed II, ataukah menuliskan prestasi terbesar Sultan Mehmed II bagi Islam dan Kaum Muslim? Pertanyaan itu dilatarbelakangi karena judul awal naskah Ustadz Felix adalah The Great Inspirator: Muhammad Al-Fatih. Jadi, sudah dapat ditebak, isinya banyak menguraikan sosok Sultan Mehmed II.

Ustadz Felix sendiri menerima usulan kongkret itu dengan antusias, ia berani merombak kembali content tulisannya dengan menyederhanakan bahasannya tentang Sultan Mehmed II, sekaligus memperkaya bahasan tentang prestasi terbesar Sultan Mehmed II dalam penaklukkan Konstantinopel, bahwa penaklukkan pada 29 Mei 1453 itu tidak berdiri sendiri. Namun, ada banyak faktor pendukung yang menyempurnakan pembuktian nubuwwah Rasul sekaligus bisyarahnya itu. Saking bersemangatnya, Ustadz Felix sampai mematok 29 Mei 2011 pukul 14:53 sebagai momen menyelesaikan naskah tulisannya.

Akhirnya, kita dapat membaca buku kedua Ustadz Felix setelah Beyond The Inspiration ini dengan renyah bak kacang garing, sekaligus mendapatkan ibrah dan inspirasi terpenting, bagaimana mengaktualisasikan sosok penakluk terbaik yang dijanjikan Nabi itu dalam konteks kekinian, karena MAF 1453 tak melulu berkisah tentang Sultan Mehmed II, namun juga mengetengahkan gimana cara kita meneladani prestasinya.

Nah, inilah, esensi dari membangun tubuh yang dinamis dalam konteks pembahasan isi tulisan yang sistemis. Buku MAF 1453 telah mewakili bagaimana sebuah tulisan gak sekadar menyajikan fakta, data dan berita, namun juga, inspiratif dan solutif. Ok, Bro and Sist, semoga kamu-kamu ngerti, maksud dari tulisan yang sistemis itu. Cag, ah! []

 

Budaya ‘Bokis’ Sosial Media

Hari gini, remaja mana yang gak punya akun di sosial media. Entah itu twitter, facebook, path, instagram, pinterest, atau linkedin. Kalo pun ada yang belum punya, mungkin tempat tinggalnya emang belum tersentuh peradaban dunia digital. Pasti dia termasuk kategori Pejabat alias Pemuda Jaman Batu. Wkwkwk….Emangnya Flinstone?

Sosial media udah jadi rumah kedua bagi remaja. Tempat mereka berbagisuka, duka, dan pastinya curhat ala one line status. Karakter sosial media yang terbuka tanpa harus bawa surat keterangan domisili dari kelurahan saat mendaftar, memancing penggunanya untuk seenak udel nyantumin identitasnya. Walhasil, identitas palsu merajalela di jagat sosial media.

Akun palsu

Akun palsu maupun duplikat yang ada di Facebook terus bermunculan dan bertambah. Mulai dari menduplikat nama akun yang asli hingga membuat akun dengan nama yang aneh. Padahal akun-akun itu tidak dalam keadaan aktif, tetapi tetap eksis bila dicari di Facebook. Jumlahnya pun begitu fantastis.Pihak Facebook mengatakan, telah memiliki lebih dari 100 juta akun palsu maupun duplikat. Jumlah itu cukup mengejutkan karena angkanya mewakili hampir 8% pengguna aktif bulanan yang dimiliki Facebook.(http://agc.my.id/05092598/akun-palsu-di-facebook-capai-100-juta/)

Seolah biasa, pengguna sosial media ngerasa wajar aja membokis ria di dunia maya. Mulai dari penggunaan namanya yang dibikin secentil mungkin seperti “CantiCemungudhCelalu…”. Ada juga yang pasang foto profil punya orang maen comot aja biar keliatan keren. Tampang yang pas-pasan tapi foto-foto yang diuploadnya menawan. Ini modus penjahat kelamin.

Aslinya pengangguran, tapi profilnya ditulis pemilik usaha jual beli smartphone online. Biar pada yakin, statusnya dijejali gambar gadget terbaru dengan harga miring hampir terguling. Smartphone sekelas Galaxy S5 seharga 10 juta cuman dibandrol 3 juta. Bilangnya barang Black Market, jadi murah. Padahal modus penipuan. Sialnya, ada aja yang jadi korban. #TepokJidat

Banyak alasan orang pake identitas palsu di sosial media. Pertama, agar kehidupan nyatanya gak terganggu oleh perilakunya di sosial media yang suka ngebully atau bikin rusuh. Kedua, dalam rangka memuluskan cybercrime alias kejahatan online. Ketiga, untuk kepentingan marketing. Soalnya ada akun-akun sosial media yang dibuat emang buat pemasaran suatu produk atau jasa.

Nggak heran kalo di negerinya Jet Lee, pemerintah merapikan pengguna weebo (sosial media sebangsa facebook) agar daftar ulang dengan mencantumkan nama asli sesuai kartu identitas. Kaya masuk sekolah aja pake daftar ulang. Gitu deh. Kata pemerintah China, biar gampang diciduk kalo ada yang tengil ngomongin pemerintah di sosial media. Malah di Rusia muncul wacana undang-undang untuk mendenda pemilik akun palsu social media. Jumlah dendanya pun tak main-main. Pemilik akun ‘aspal’ terancam denda USD 150 ribu atau setara Rp 1,8 miliar.Nah lho?

Buat kita sebagai remaja muslim yang imut bin istiqomah, banggalah dengan nama pemberian orang tua. Sosial media tempat kita nyari pahala. Jangan dikotori dengan perilaku bokis alias berbohong ria. Biar kata orang lain nggak tahu siapa kita, tapi Allah dan Malaikat selalu melihat dan mencatat setiap amal kita. Be your self! [@Hafidz341]

BOX:Budaya Bokis Sosial Media - DRISE-ONLINE.COM

Hukum Membuat Akun Palsu di Facebook

Membuat akun palsu pada dasarnya adalah membuat akun bukan dengan nama sebenarnya. Misalnya seseorang bernama A tapi di Facebook membuat akun dengan nama B.Hukumnya secara syar’i bergantung pada faktanya (manath), berhubung faktanya tidak tunggal, melainkan ada beberapa macam, yakni sebagai berikut :

Pertama, hukumnya makruh jika nama yang digunakan tujuannya untuk menyembunyikan nama asli dan nama itu bukan nama atau panggilan sehari-hari. Misalkan seseorang bernama asli “Yono”, sehari-hari dipanggil “Yono”, tapi di Facebook membuat nama baru dengan akun “Simbah Maridjon”.

Kedua, hukumnya mubah dan tidak apa-apa, jika nama yang digunakan bukan nama asli tetapi nama itu sudah menjadi nama baru bagi yang bersangkutan dan digunakan sebagai panggilan dalam kehidupan sehari-hari. Misalkan seseorang bernama asli “Sigit”, tapi di Facebook namanya “Shiddiq”, dan nama “Shiddiq” ini sudah menjadi nama baru bagi orang itu dan juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, hukumnya haram jika nama itu adalah nama atau identitas orang lain, baik orang itu sudah meninggal atau pun masih hidup. Hal itu tidak dibolehkan karena termasuk kedustaan (al kadzib) atau penipuan (al ghisy) yang telah diharamkan oleh syara’.Sabda Rasulullah SAW :”Barangsiapa menipu kami, maka dia bukan golongan kami.”(HR Bukhari no 164).

Sumber: www.syariahpublications.com

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39