Windows 10

Era sistem operasi jendela alias windows kini kehadiran versi terbarunya. Setelah sukses denga versi Windows 7, lalu Windows 8, perhatian penggian teknologi informasi dibetot dengan launching Window 10. Lho, kok langsung 10. Windows 9-nya manna?

Itu dia yang belum ketahuan rimbanya. Konon kabarnya, memang tidak ada windows 9. Jadi setelah versi 8 langsung loncat ke 10. Eh, gak bisa gitu dong. Kan harus berurutan! Sabar bang, bosnya windows kan bukan kita. Kita cuman pengguna. Jadi, terima aja kalo windows gak ngeluarin versi 9-nya. Gitu aja kok repot!

Tapi…kalo mau pengen tahu misteri ketidakhadiran windows 9, berikut jawaban resmi yang dirilis oleh microsoft. Jawaban ini di utarakan oleh wakil presiden pemasaran dari pihak Windows yakni Tony Propet perihal kenapa tidak ada windows 9. Berikut pengakuan Tony Propet.

“Sudah ada dan telah pergi” tutur Tony, saat dalam acara Dreamforce Conference di San Francisco seperti di kutip dari winpoin.com. Maksudnyadalam masa pemakaian sistem operasi windows 8 yang lalu, kemudian dalam pemakaian tersebut terjadi update. Nah, update itu sudah masuk sebagai windows 9. Gitchu!

Buat kamu yang doyan coba-coba install windows terbaru, ada baiknya kenali dulu daleman windows 10. Biar nggak ngabisin waktu buat install ulang kalo ternyata gak cocok. Berikut kelebihan yang tersemat pada Windows 10. Cekidot!

  • Teknologi pratinjau pada Start Menu.Yang pernah pake windows 8 pasti ngerasain betenya gak ada start menu kaya windows 7. Nah, kini Microsoft tak mau lagi kecolongan, dengan menyematkan start menu dengan menampilkan pratinjau (preview)yang lebih canggih dan tentu akan sangat membantu pengguna Windows 10 nantinya.
  • Tambahan aplikasi Commands(Perintah).Aplikasi tersebut ditampilkan dalam format yang sama dengan aplikasi pada desktop, selain itu tampilan yang dinamis dengan kemampuan untuk diubah ukurannya dan dapat bergerak.
  • Kemampuan untuk menampilkan beberapa aplikasi dalam 1 layar (Snap enchancement).Kelebihan ini dapat memudahkan anda dalam memantau dan melihat aplikasi yang berjalan pada saat menjalankan beberapa (multi) aplikasi pada Windows 10.
  • Penambahan teknologi Virtual Desktop. Kemampuan untuk membuat beberapa desktopuntuk tujuan ataupun tema yang berbeda, sekaligus kemudahan untuk berpindah desktopdengan lebih mudah dan cepat. Selain itu kemudahan yang anda akan dapatkan dengan menggunakan Windows 10 nantinya adalah, dapat dengan cepat dalam melakukan pencarian
  • Satu Os Semua Perangkat.Pengguna bisa menginstal Windows 10 tidak hanya di PC maupun notebook, tetapi juga di tablet PC dan smartphone. Untuk sinronisasi datanya, bisa memanfaatkan teknologi cloud yang tersemat pada windows 10.

Biar infonya lengkap, berikut kekurangan yang ada pada windows 10.

  • Windows 10 Ditujukan Untuk Pc Expert dan EnthusiastWindows Technical Preview sebenarnya dibuat untuk para expert dan enthusiast yang sudah familiar dengan berbagai troubleshooting Windows. Hal ini karena Windows 10 Preview ini bukan software final yang siap pakai, jadi masih mungkin ada bug disana-sini. Kalo kamu paling bete nemu masalah dengan windows, sebaiknya mikir ulang untuk pakai windows 10.
  • Tidak Untuk Keperluan Sehari – hari. Windows Technical Preview ini bukanlah OS Final yang sudah matang dan siap digunakan untuk kegiatan sehari-hari (meskipun bisa). Versi Preview ini lebih ditujukan untuk keperluan testing dan feedback.
  • Belum Final Secara Desain, Fitur dan Performa. Windows Technical Preview masih dalam proses pengerjaan. Jadi bisa dibilang ini masih scracth dari segala planning yang ingin ditanamkan Microsoft di Windows 10 Final. Jadi jangan heran jika kamu mendapati performa yang belum optimal, desain yang masih mirip dengan Windows 8.x, dan fitur yang belum lengkap. Seperti yang sudah kita beritakan sebelumnya, Cortana dan IE 12 bahkan belum disertakan di versi technical preview ini.
  • Masih Ada Banyak Fitur dan Perubahan. fitur dan tampilan Windows 10 tidak berarti sama persis dengan Windows Technical Preview. Masih ada banyak beberapa fitur baru yang ditambahkan dan diperbaiki, serta tampilan yang dipercantik sebelum Windows 10 Final dirilis pertengahan tahun depan.

 

Satu hal lagi yang mesti driser inget, windows 10 ini teknologinya udah lekat dengan dunia maya. Itu artinya, kalo gak koneksi internet kinerja windows 10 nggak kerasa canggihnya. Tanpa internet, windows 10 tak bisa update windows sewaktu-waktu, tak bisa sinkronisasi data setiap saat dengan device lainnya, security lemah lantaran updatenya barengan windows, tak bisa backup data ke cloud, dan tak bisa download berbagai aplikasi keren dari windows store.

Nah, sebelum coba-coba install windows 10, pelajari dulu kelebihan dan kekurangan di atas ya. Kecuali, kamu termasuk petualangan yang doyan ngoprek sistem operasi, window 10 cocok banget. Karena bermain dengan Windows Technical Preview sangat menyenangkan. Apalagi ada bahan obrolan bersama dengan teman-teman lainnya. Dijamin seru![@Hafidz341]

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 48

 

Dua cangkir kopi bagian 2

Majalahdrise.com – Nuri, satu nama yang selalu hinggap bertahun-tahun di masa kecilnya, serta satu nama yang selalu terlupa bertahun-tahun sekarang.Thoriq sering bertabrak pandang dengan gadis itu, hanya saling memberi seutas senyum, berlalu, tanpa ada sepatah-katapun mengucur dari mulut. Gadis berambut cepak,yang selalu mengenakan baju terfavorit kaos bergambar batman, bersama merayap naik ke atap rumah.

Segera Thoriq mengambil buku catatan, lembaran yang kosong, merobeknya, meremas hingga membentuk seperti bola. Bidikan tajam.. Pluk!

“Yes, kena!”

Kaca jendela itu terbentur bola kertas yang besar, menyisakan bunyi berdebam. Siluet perempuan hadir, berdiri tegak, dalam kaca jendela dengan cahaya yang temaram. Jendela itu membuka. Wajah Nuri melongok.

“Hai, Nur. Lama nggak jumpa. Lama nggak ngobrol. Kamu bisa keluar sebentar, nggak? Ke depan pagar rumahmu.” Sapa Thoriq agak kikuk.

Nuri mengangguk.

Gadis cilik itu sudah besar. Tak terlihat lagi rambut cepak, terbalut jilbab yang menjulur sampai ke perut. Tak ada lagi kaos bergambar batman, terganti jaket tebal dan rok panjang sampai ke tumit, serta kaos kaki.Mata Nuri menatap ke jalan, sepi. Sedang Thoriq tak berani menatap pada gadis yang duduk mematung berjarak tiga meter dari tempat ia duduk matanya terbang ke langit. Hembusan napasnya bergelung-gelung, lautan bintang yang indah.

Demi langit yang mempunyai gugusan bintang..”2Thoriq berucap lirih, kagum.

Nuri melakukan hal yang sama, menatap dan berucap ke arah langit. “Dan hari yang dijanjikan.”3

Thoriq tersenyum, menyambung potongan-potongan ayat yang indah. “Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan..”4

“Subhanallah,” Komentar Nuri. Mata indah itu berkaca-kaca.

“Baru pertama kali lihat?” Tanya Thoriq mengusap tengkuknya yang sakit, karena terlalu lama menataplangit.

“Iya. Antum?” Nuri melempar balik tanya.

“Sama sih. Oh iya, mau kopi?” Thoriq mengangkat dua cangkir kopi, yang dibawanya dari dapur.

“Boleh..,” Nuri mengambil secangkir, memegang telinga cangkir berwarna putih tulang. “.., jadi.. Bagaimana kabar antum?Rekan panjat atap dan lompat jendela kamar?” Tanyanya mengulum tawa.

Thoriq tertawa, menegak kopi. “Alhamdulillah, baik. Lebih baik. Masa-masa jahiliyah udah lewat, Ukhti.” Ia menatap lautan bintang, “Walaupun kemiskinan ilmu terus-terusan ada.”

“Ana suka liat teman seperti ini, kok. Ciyee.. Sekarang lebih alim, ya?” Ejek Nuri, juga menegak kopi. “Ana sering lihat antum berjamaah di mesjid. Bener-bener sholat ‘kan? Nggak jadi agen nyolong sendal?”

Thoriq membelalakkan mata, “Oi! Jangan su’udzon! Tapi.. Kok anti tau? Hahaha.. Pengalaman jangan dibagi, dong!”

“Hihi. Seneng deh, kumpul-kumpul lagi.” Kata Nuri membuang pandang. “Sayangnya, kita nggak bisa sedekat dulu.”

“He-eh. Serasa reunian, walaupun rumah kita berdekatan dan sering ketemu. Cuma nggak ngobrol, lima tahun..”

Bintang berkedip samar, tak tampak. Semilir angin mendesah lirih.

“Iya, ya. Lima tahun..” Nuri mencoba mengulang kata-kata. Menancapkannya dalam hati. Lima tahun? Selama itu nggak ngobrol sama sahabat yang udah sama-sama dari lahir..

“Ana juga suka liat Nuri si rambut cepakdan kaos gambar batman berubah jadi seorang akhwat yang rapi menutup aurat.Keep istiqomah, yaa..”

“Doakan terus aja. Antum juga. Tetap istiqomah berjamaah di mesjid. Pahala dua puluh tujuh derajat, lumayan menambah amal di timbangan sewaktu di yaumi mizan..”

“Na’am, Kakak Ketua Akhwat..” Thoriq memberi hormat seperti seorang jenderal.

Nuri tertawa, “Siiiip deh, Kakak Ketua Umum..”

Mereka tertawa bersama.

“Apa kabar, ya? Langit sore yang dulu sering kita pandangin sama-sama. Liat matahari terbenam, terus buru-buru turun pake kesandung dan lompat ke tangga di dapur anticepat-cepat mengambil wudhu, dan lomba lari sampai ke mesjid buat sholat maghrib..” Celetuk Thoriq, setelah jeda diam sehabis tawa.

“Antum lupa? Genteng ana sering di ganti, karena kita yang jingkrak-jingkrak di atap rumah.” Kata Nuri membayangkan gentengnya yang kebanyakan penyok dan jadi bocor.

Thoriq terkekeh. “Yah, curhat lagi doi. Hmm, udah dulu, ya. Bentar lagi shubuh. Cuma kita berdua, nanti ketiganya?–”

“–Setaannnnnn!!!”

Langkah mereka berhamburan, berlari ke halaman rumah masing-masing. Di depan pintu, mereka saling pandang dari kejauhan, dalam remang-remang lampu jalan.

“Jangan lupa qiyamul lail-nya.” Nuri mengingatkan, yang disambut dengan dua jempol dari Thoriq.

Mereka masuk ke dalam rumah, dengan dada yang berdebar.

“Dia makin sholehah.” Ucap Thoriq, memegang jantungnya yang berdetak lebih laju.

“Ngapain, Bro? Jam segini diluar.” TanyaBang Umar, mata tajam itu tak lepas dari televisi.

“Nyari angin segar aja, Bang.” Jawab Thoriq.

“Kakak nyari angin? Aku mau kentut, nih. Mau? Nggak usah lagi nyari anginnya diluar.” Suara cempreng si bungsu Jamal langsung dibekap mulut mungil itu oleh Abi.

“Dia makin sholeh.” Tutur Nuri menggelar sajadah. Sedang dengkuran dua adik dan dua orang tuanya mengiringinya untuk memilinkan doa ke atas langit.

Keran terbuka, air deras mengalir. Sealiran dengan air yang berdesir di dadanya, Thoriq tertegun sejenak. Meluruskan niat, pembuktian cinta seorang hamba. Bukan karena satu akhwat yang membuat dada berdebar mengingatkannya sepuluh menit lalu. Aliran air keran menyentuh lantai keramik, melompat-melompat berkecipak. Thoriq mulai berwudhu.

Teriakan keras mengguncang rumah itu: “GOL!!!!!”

Dua cangkir kopi itu terlupa, masih tergeletak sunyi di pinggir jalan. Isi yang tandas.Berampas hitam. Warna seputih tulang. Angin malam membuat dua cangkir kopi berembun, seperti embun yang menyatu dengan bola mata Nuri. (*)

Keterangan:

1:Al-Insaan ayat 26

2-4: Al-Buruj 1-3

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48

Dua cangkir kopi

By: Qatrunnada Hulwah

Kepada malam,

Aku tak mampu berkata banyak,

Mengapa dunia tak mau terlelap?

Aku ingin mengintip mimpi,

Namun bunga tak mau mengajak,

Bersikeras tetap mekar di luar kepala,

Mengapa mata tak bisa berhenti menatap?

Rembulan telah enggan,

Menyuapkan dongeng sebelum kantuk,

Bintang-gemintang telah menggeleng,

Menyanyikan syair sebelum dengkur,

 

(Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari.)1

 

Asap obat nyamuk membumbung di udara, mencolek cuping hidung hinga terbatuk-batuk. Thoriq meletakkan secangkir kopi hangat di depan buku-buku belajarnya, ia menggaruk kepalanya gusar. Ingin tidur lagi tapi tidak bisa. Ia merindukan tidurnya tiga jam yang lalu. Dengung nyamuk yang menyebalkan. Suhu kamar yang begitu panas. Dan, yang paling meresahkan; suara ribut di ruang tengah. Ekor matanya melirik jam dinding, pukul 02.00 dini hari. Ia menghela napas. Gara-gara sepak bola dengan copa del rey, seisi rumah kecuali dirinya nongkrong di depan teveuntuk begadang.

Thoriq tersenyum kecut, ia tak suka dan tak ingin pura-pura suka bola. Trauma masa lalu. Beni kecil berpakaian merah putih, menendang benda bundar menampar telak pipinya. Keras. Riuh-rendah sorakan teman-teman. Thoriq kecil malu, tak bergerak. Air matanya menetes, dan tangisan adalah suatu aib bagi kaum adam. Itu kenangan paling buruk dalam hidupnya.

Pikirannya mencelat sampai kemana-mana. Tiga cangkir kopi yang telah tandas isinya, tertata rapi di meja belajarnya. Detak jam dinding bergemuruh lirih. Tentang Bu Hanum yang mengomelinya karena tugas dikumpul terlambat, tentang motornya yang manja minta didorong karena mogok, tentang mentoring bersama ikhwan-ikhwan yang membuatnya terus-terusan minder.

Minder? Sejak kapan perasaan itu mengungkung dirinya, serta hatinya? Pertama kali langkahnya menginjak teras mushola, bergabung dengan lingkaran para ikhwan untuk membahas semua aspek keislaman, maka saat itu ia mengambil keputusan yang cukup besar. Meninggalkan semua kesalahannya di masa putih-biru. Mana ada ikhwan suka balapan liar? Mana ada ikhwan suka ngegodain cewek-cewek seksi? Mana ada ikhwan sukagame daripada al-qur’an? Ia tercengang, suatu hari menjadi seorang ketua pelaksana sebuah seminar yang diadakan oleh Kelompok Studi Islam di sekolahnya. Mendapati dalam bayang cermin, bahwa kini ia sudah, (ehem) agak sedikit alim. Perubahan yang lumayan besar. Minder dan semangat belajar tertohok, ketika didapatinya ikhwan-ikhwan yang luar biasa dalam lingkaran taman syurga di mushola sekolah. Ada Fariz yang adzan dan tilawahnya merdu. Ada Fuad yang menyampaikan materi seperti seorang kyai yang menggebu-gebu dakwahnya. Ada Furqon yang tak pernah ketinggalan shaum senin-kamis, waktu tahajjud, waktu dhuha, dan dzikir petang-sore. Ada Rachmad yang gadhul basharnya top markotop. Dan, Thoriq.. Seorang ikhwan yang selalu dibakar semangatnya oleh Kakak murobbi mereka. Ia yang terbata-bata membaca al-qur’an, ia yang masih grogi dan tidak jelas menyampaikan materi, ia yang sering batal shaum sunnah, ia yang sering ketiduran waktu tahajjud, ia yang lebih memilih nongkrong di kantin daripada waktu dhuha di mushola, ia yang hobi main Clash of clans daripada dzikir pagi-petang, ia punya manik-manik mata yang suka curi-curi pandang kepada akhwat..

Thoriq terhenyak, tangan kanannya meraih secangkir kopi, lagi. Soal-soal fisika menantinya, mencengkeram erat bola matanya, menyakitkan kepala! Ia menyandarkan punggung di bangku, tubuhnya merosot, tatapan matanya terpaku pada gorden jendela. Angin malam beringsut masuk, hingga gorden jendela itu terbuka. Thoriq menyingkap gorden jendela. Dadanya sedikit bergetar, terguncang pelan. Dilihatnya sebuah jendela, ingatannya memantul dalam kenangan. Terayun-ayun, menggantung di pelupuk matanya.

Jendela.. Merah muda. Berjarak sepuluh meter dari jendela kamarnya. Cahaya temaram berpendar di kaca jendela kamar itu.Kenangan itu memantul-mantul dalam otaknya, menggantung dalam ingatan yang mendekam sudah lama. Jendela yang sering ia masuki di siang hari, anak nakal. Jendela yang sering ia tengok, sepulang sekolah. Bersama gadis cilik berambut cepak, memakai baju terfavorit kaos bergambar batman. Jendela yang digunakan sebagai jalan pintas, menuju tangga, merayap ke atap rumah.Berdua menatap langit sore, berceloteh menukar cerita, dan mengucapkan kalimat-kalimat harapan yang berakhir dengan kata “aamiin“.

Kenangan itu merangkak, mengerak di masing-masing kepala. Waktu terus bergerak. Langit sore yang semakin jingga, pertukaran cerita yang semakin meremaja, dan harapan-harapan yang sudah tak ingin diungkapkan lagi. Cukup di simpan dalam sudut hati. Rapat-rapat. Sampai salah satu dari mereka berhenti melompati jendela, berhenti merayap ke atap rumah, berhenti bersama. Masa putih-biru yang berbeda, memaksa mereka berpisah.Lama-kelamaan, kenangan masa kecil itu hilang. Seolah hanya bayangan mimpi saat mata terpejam sebentar. Indah.. Namun, hei, kita hidup tidak melulu di masa lalu, ‘kan?

besambung…..

di muat di majalah remaja islam Drise edisi 48

Broken Home

MajalahDrise.com – “Namaku Azka, dan ini adalah cerita tentang seorang anak yang mengalami broken home. Ibu dan ayah bertemu, lalu jatuh cinta dan memutuskan untuk punya seorang anak. Aku lahir 4 Juni 2006 dan mereka menamaiku Azka. Semua berjalan baik-baik saja sampai aku berusia 6 tahun. Kita punya keluarga yang sangat bahagia.

Ibu dan ayah mulai bertengkar hebat mengenai banyak hal. Dan mereka akhirnya memutuskan untuk bercerai. Mereka bilang aku tak perlu khawatir dan tak perlu memilih tinggal dengan siapa. Aku masih tinggal di rumah yang sama dan ayah ternyata sosok yang sangat menyenangkan. Jadi aku pilih tinggal dengannya.

Ibuku tinggal sangat dekat dengan rumahku dan selalu mengunjungiku hampir setiap hari. Mereka tak pernah bertengkar lagi dan kita masih pergi ke mal dan ke luar negeri bersama. Banyak orang yang bertanya padaku bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang mengalami broken home. Tapi faktanya, tidak ada yang broken. Statusnya saja yang bukan suami-istri lagi, namun mereka tetaplah orangtuaku. Aku menikmati hubungan ini lebih dari sebelumnya karena mereka tak pernah bertengkar lagi. Ketika orang-orang bertanya apakah aku ingin mereka menikah lagi, aku bilang, ‘TIDAK’. Aku cuma ingin mereka bahagia. Bukan broken home namanya kalau kamu masih menerima cinta yang sama dari kedua orangtuamu. Aku cinta kamu ibu. Aku cinta kamu ayah. Aku bahagia. Terima kasih sudah menjadi orangtua terbaik yang pernah ada.”

Begitu curhatan Azka Nikola Corbuzier dalam video You Tube yang belum lama ini jadi trending topic sampai di BBC London itu. Sampai tulisan ini dibuat, udah lebih 500 ribu netizen yang nonton gambar-gambar lugu goresan Azka yang bikin nangis itu.

Azka mungkin beruntung, ortu cerai tapi masih merasa bahagia secara kasat mata. Walaupun, yakin deh, dia nulis curhatan kayak gitu, juga karena dorongan perasaan galaunya sebagai pemilik label “anak broken home”. Capek dianggap tak bahagia.

Tapi, di luar sana, masih banyak anak-anak korban broken home yang tidak seberuntung Azka. Anak yang tidak bahagia. Tahu kan, hidup dengan satu ortu, rasanya pasti pincang. Kurang kasih sayang dan perhatian, juga kesepian. Gimana nggak, setelah terjadi perceraian, pasti ortu tunggal jadi sibuk nyari nafkah karena harus berperan ganda: jadi ayah sekaligus ibu. Duh!

Bukan Cita-cita

DRiser, emang dunia kadang nggak seadil dan seideal yang kita mau. Ada kalanya takdir berkata lain. Nggak ada satupun anak di dunia ini yang bercita-cita jadi korban broken home. Karena, jadi anak broken home itu nggak enak.

Ada rasa kehilangan sebelan orangtua, sedih, kecewa, sepi, dan kurang perhatian. Belum lagi pandangan orang sekitar yang selalu memandang sebelah mata, mengejek dan menggunjingkan. Akibatnya, nggak sedikit anak-anak korban broken home melarikan diri ke hal-hal negatif. Merokok, narkoba, miras, dugem, gaul dan seks bebas.

Mereka lalu tumbuh jadi anak-anak bermasalah. Kepribadiannya labil. Jadi egois, ugal-ugalan, suka cari perhatian, kasar, tidak peduli dengan sekitarnya, dan tidak mendengar nasihat orang lain. Sebaliknya, ada juga yang menjadi sangat pendiam, tertutup, menarik diri dari pergaulan dan bahkan sampai bunuh diri. Miris memang. Tapi, begitulah skenario kehidupan yang terpaksa mereka jalani. Sebab jika bisa memilih, pasti nggak mau jadi anak broken home. Betul?

Lebih Dewasa

Broken home pastinya bukan kondisi ideal bagi seorang anak. Namun, jika kondisi itu menimpa, jangan sampai jadi alasan untuk terjerembab dalam lembah nista. Apalagi kalo kita adalah muslim. Nggak ada alasan saat ortu cerai terus kita hancur.

Seharusnya, anak-anak muslim tidak terlarut dalam kesedihan terus menerus. Tetap ada pelajaran terbaik dalam proses hidup yang digariskan Allah SWT melalui perceraian orang tua. Misalnya, lebih mamahami konsep ikhlas dalam penerimaan ketetapan-Nya. Yup, kita juga musti percaya, bahwa orangtua pun nggak ada yang bercita-cita untuk bercerai. Jangan dendam dan benci pada mereka.

So, terimalah kenyataan. Mungkin itu jalan terbaik. Ada rencana indah yang hendak diberikan Allah SWT melalui jalan ini. Misal lagi, anak-anak broken home biasanya menjadi anak yang memiliki pola pikir lebih dewasa. Pada akhirnya lebih mengerti tentang makna kehidupan. Seperti Azka yang tampaknya telah bisa menerima kenyataan di usianya yang baru 9 tahun.

Kehilangan salah satu orangtua, juga mengajarkan diri menjadi pribadi lebih mandiri. Tidak lagi serba tergantung pada sosok orangtua. Menjadi anak yang lebih sabar dan ulet, tidak suka merepotkan orangtua yang sudah begitu repot. Tidak menambahi beban orangtua yang sudah berat beban di pundaknya.

Broken home seharusnya menjadi penyemangat dalam kesungguhan untuk mewujudkan mimpi. Menanamkan optimisme bahwa siapapun berhak bahagia dan sukses, asal dengan sungguh-sungguh. Broken home semestinya menjadi pelecut untuk menata masa depan dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Bukan berarti membanggakan diri sebagai anak broken home, tapi membuktikan bahwa pribadi muslim itu tetap tangguh dalam kondisi apapun. Sembari membina diri untuk berbenah menjadi manusia berkualitas, agar kelak menjadi pribadi terbaik, menemukan jodoh terbaik dan mewujudkan rumah tangga yang harmonis.

Iya dong, jadi korban broken home kelak jangan sampai mengulang kisah kegagalan orangtua dalam rumah tangga. Itu pelajaran berharganya. Jadi, tetaplah tersenyum bahagia. Ini bukan berarti kita mendukung supaya para orangtua pada enjoy bercerai ya, karena toh setelah bercerai anak-anak bisa bahagia seperti Azka. Titik tekannya adalah: Islam memang membolehkan perceraian meski itu  dibenci Allah. Dan jika itu menimpa keluarga kita, terimalah. Berbaiksangkalah.

Bersyukur

Semua pasti ingin memiliki keluarga yang lengkap, rukun, dan harmonis. Memiliki orangtua selalu perhatian, dan penuh kasih sayang. Makanya, terakhir nih, pesan buat kamu-kamu yang masih punya ortu utuh. Jangan kalian sia-siakan kasih sayang dan perhatian mereka. Bersyukurlah. Nasib kalian jauh lebih baik dibanding anak-anak korban broken home. Yuk peluk ayah bunda dan katakan, “Aku sayang kalian berdua..!” *ambiltissue. []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 48