BAHASA MASA DEPAN ALAY

Majalahdrise.com Alkisah ada seorang bule datang ke  Indonesia. Jauh-jauh hari itu buleh  udah getol belajar Bahasa Indonesia.  Iya dong, biar komunikasi dengan pribumi  lebih mudah. Soalnya ia denger-denger,  orang Indonesia banyak yang Bahasa Inggris  pas-pasan.

Pas mereka ngomong, pas nggak  ada dalam kosakata inggris.  Saat hendak menuju Monumen  Nasional (Monas), untuk meyakinkan  arahnya, bertanyalah ia pada seorang  pemuda alay yang nongkrong dekat Stasiun  Gambir. Bule: “Maaf, benarkah jalan menuju  Monas yang ke kanan?” Jawab si Alay: “Yoi.”  Si bule kebingungan, sambil buka  kamus percakapan Bahasa Inggris-Bahasa  Indonesia, nyari-nyari arti kata “yoi”. Nihil. Ya  iyalah, sampai kesemutan juga nggak  ketemu dah.

Lantaran orang bule itu belajar  Bahasa Indonesia sesuai dengan Ejaan Yang  Disempurnakan (EYD) di Kamus Besar  Bahasa Indonesia (KBBI).  Sementara kita? Banyak banget yang  nggak ngerti Bahasa Indonesia yang baik  dan benar. Bahasa baku sama sekali nggak  populer. Nulis EYD pun salah-salah melulu.  Kalo ngerti pun, kadang juga nggak  dipraktikkan. Merasa terlalu kaku. Kurang  luwes kalo buat percakapan sehari-hari.  Apalagi kalo buat guyonan, masak harus  pakai EYD? Hehe…  Walhasil, Bahasa Indonesia baku kini  kalah populer sama bahasa alay. Entah  siapa pelopor dan produsennya, kini istilah-istilah alay alias bahasa gaul sangat meng-Indonesia (atau mungkin sudah mendunia,  ya?).  Contohnya istilah gaje, gajebo, bingit,  mihil, cius miapa, curcol, cukstaw, cemungut, japri, bais, boil, afgan, kamseupay, unyu,  woles, prikitiew, baper, mager, dll. Ada lagi  yang singkatan macam GJ, PM, PW, DL, CMIIW,  GWS, KEPO, PHP, dll. (ada yang belum tahu  kepanjangannya? PR ya, hehe…).

Padahal, gaya bahasa alay bener-bener melabrak kaidah Bahasa Indonesia  yang baik dan benar. Cenderung  nyeleneh, rumit, sulit  dimengerti dan bahkan  dibolak-balik kayak  gorengan aja. Orang  yang nggak ngerti  dibikin  mengernyitkan dahi  untuk mencerna  maknanya.  Biasanya baru ngeh  setelah dikasih tahu  arti sebenarnya.  Aha..! Mengancam  Eksistensi Emang sih,  pake bahasa gaul  sah-sah aja buat  percakapan sehari-hari, karena bikin luwes  dan akrab. Asal sesuai  waktu dan tempat aja  penggunaannya. Tapi, jangan  keterusan dan kebablasan  banget bikin bahasa alay-nya.  Sampai menjungkir-balikkan  ejaan sebenarnya.

Soalnya, tanpa disadari, lama-lama bahasa ini dapat mengancam eksistensi Bahasa Indonesia yang baik dan  benar. Kata-kata yang benar hilang berganti  kata-kata gaul. Selain itu, berkembangnya  bahasa tersebut dapat mengancam  kemampuan berbahasa generasi muda  zaman sekarang, karena jauh sekali dari  kaidah-kaidah yang sesuai dengan EYD.  Padahal, kemampuan berbahasa yang  baik dan benar itu sangat penting.  Bayangkan, dalam kehidupan sehari-hari,  kita nggak lepas dari komunikasi. Itu artinya  bahasa kita gunakan setiap hari, sepanjang  masa, sepanjang usia, dan seumur hidup. Di  manapun dan kapanpun, kita memerlukan  bahasa. Komunikasi juga nggak hanya lisan,  tapi tulisan. Hari ini, sangat sedikit orang yang bisa  menulis EYD dengan baik dan benar.

Bahkan  untuk hal-hal  kecil yang  tampak sepele,  banyak nggak  tepatnya. Seperti  menulis nama jalan,  nama instansi, tanda-tanda peringatan di  tempat umum dan  bahkan nama gerobak  pedagang kaki lima atau pantat truk  pun salah.  Misal: Jual Mie Ayam, Tata Tertip  Sekolah dan Tiket Bis. Seharusnya  Jual  Mi Ayam, Tata Tertib Sekolah dan Tiket  Bus. Itu baru soal ejaan kata. Belum lagi  soal titik koma, di-ke-dari, me-ber-pe, pun,  dan imbuhan-imbuhan lainnya.

Belum  lagi soal sinonim, antonim, akronim, dll.  Anehnya, semakin ke sini, Bahasa  Indonesia menjadi semakin tidak diminati untuk dipelajari dengan sungguh-sungguh.  Sebaliknya, lebih merasa hebat kalo bisa  menguasai bahasa alay. Juga, lebih getol  mempelajari bahasa asing yang sedang  happening. Seperti Bahasa Inggris, Jepang  atau Korea.

Padahal, sebagai orang yang lahir  di Indonesia, mustinya bahasa inilah yang  kita gunakan dalam kondisi formal maupun  tidak formal. Bukan mengajarkan  nasionalisme ya, tapi karena faktanya  memang kita hidup dalam lingkungan  Bahasa Indonesia sebagai “bahasa ibu” kita. Bahasa Masa Depan  Okelah, kalo sekarang kita masih asyik-masyuk sama bahasa alay, tunggu beberapa  tahun ke depan. Masa depan bahasa gaul itu  biasanya nggak bertahan lama. Akan ada lagi  trend bahasa baru yang bakal  menenggelamkan bahasa-bahasa gaul. Itu  juga kalo kamu-kamu sadar untuk tidak ikut  melestarikan bahasa alay.

Kurangi dan  mulailah berbahasa Indonesia dengan baik  dan benar.  Nah, kalo kita bicara soal posisi kita  sebagai muslim, bahasa utama yang kudu  kita kuasai sebenarnya adalah Bahasa  Alquran, yakni Bahasa Arab. Itu juga salah  satu kewajiban. Apalagi di era mendatang,  Bahasa Arab adalah bahasa masa depan.  Sebabnya, 10, 20 atau 30 tahun lagi akan  berdiri sistem Khilafah Islam yang notabene  Bahasa Arab sebagai bahasa resminya. So, generasi muda muslim sekarang  kudu ngebut belajar Bahasa Arab. Sebab, di  masa mendatang,

kalianlah para pemimpin-pemimpin yang akan hidup dalam peradaban  Islam yang telah tegak. Masak pemimpin  nggak bisa bahasa resmi, malu dong.  Sembari terus mempelajari Bahasa Indonesia  sesuai EYD, belajar juga tuh Bahasa Arab.  Siap? [Asri]

di muat di Majalah Remaja islam Drise edisi 51

REMAJA BER-MUKA TUA

Majalahdrise.com – Jangan salah arti, muka tua disini  adalah REMAJA BER MUTU DAN KUA  LITAS TINGGI ,hehe Padahal aku masih  U-17 loh!! Jikalau kaum barat  memberikan kebebasan memilih  kasarnya sih, me-liarkan anak remajanya  di usia yang ke 17, semestinya kita  remaja ber-muka tua harus berfikir ulang  dengan adat buruk pihak barat ini.

Berpikir, bro… berpikir. Karena  berpikir itu tanda orang beriman. Seperti  yang ditulis oleh As-Syeikh Taqiyuddin  an-nabhani RahimahuAllah dalam  kitabnya Nidzomul Islam “orang yang  beriman adalah orang yang berfikir”. Jadi,  ga ada lagi nih alesan yang ter-cuap  “aduh kan aku belum tau hukumnya”.  Padahal kan sudah jelas, kebebasan  liar ala Barat alias wild life yang  menginternalisasi dalam kehidupan  remaja barat telah membawa ‘bad  benefit’ dalam bumi ini. Kenapa aku  bilang masih ada benefitnya? Ia jelas aja  ada, karena di dalam kebebasan itu  diselipkan kenikmatan duniawi. Tapi  ingat  kenikmatan sesaat yang sesat.  Pada gilirannya  berujung pada  penderitaan yang panjang.  Bagaimana  tidak panjang, dari dunia hingga akhirat,  lho!

Kita juga harus berpikir untuk  melawan ide-ide liberal yang rusak. Lihat  saja ide LGBT yang saat ini marak dikampanyekan orang-orang liberal. Kita  nih , para pemuda, Islam, disuruh  nerima, LGBT itu fitrah manusiawi.  Padahal jelas prilaku LGBT , prilaku lebih  rendah dari binatang yang diharamkan  Islam. Buktinya hewan saja tidak ada tuh  yang kita dengan suka sama sejenis.  Belum lagi rencanya membangun  Disneyland di sebuah kota di Indonesia  ini. Wahana yang isinya tentu saja hanya  hura-hura, mengumbar sex and fun. Ya  Salaaaam, kita remaja bermuka tua  harus berifikir kritis itu semua adalah  senjata barat untuk membuai para agent  of changes dengan hal-hal duniawi. Perlu ‘Berwajah Tua” Walhasil, para remaja berwajah tua,  bermutu dan berkualitas tinggi.  Merekalah pemuda pemudi yang sholih  dan sholihah yang selalu dalam  menentang kebatilan!

Di masa mudanya  ini dia mencari petunjuk untuk  memahami ideologi yang benar, ia menjadi remaja yang  cemerlang agar  memiliki solusi yang  ideal untuk  merontokkan  kebijakan kapitalisme.  Ia juga mampu  terbang tinggi melihat  fakta saat ini sehingga  ia tidak tersibukkan  dengan hal-hal sepele  anak remaja yang sekedar cinta ekhem.  Ditambah lagi tumpuan remaja bermuka  tua itu adalah aqidah yang mantap  sehingga akan istiqomah dan bersandar  pada kaidah yang tetap. Lah gimana gak  mantap orang dia rajin pemantapan di  kajian-kajian intensif Islam..

Lagi-lagi gerakan remaja bermuka  tua ini terarah dia sibuk mengkaji islam  dan mengikat ilmu tersebut di otaknya  lalu menabur ilmunya untuk ummat.  Mereka selalu cekatan memastikan opini  dakwah tersebar sehingga remaja  menjadi solutif dalam  menyikapi problem  saat ini. Misi Hidup  Dunia Akhirat Bro,  berwajah tua,  artinya kita  kudu sadar misi  hidup kita dunia  akhir. Yaps, misi hidupnya gak lain gak bukan yaitu  menjadi remaja ber muka tua yang  ditinggikan derajatnya oleh Allah.

Seperti  yang dikatakan oleh syeikh taqiyuddin an  nabhani rahimahullah “hanya ada dua  macam orang yang di tinggikan  derajatnya yaitu orang yang ber iman  dan berilmu”. Makanya remaja bermuka  tua kudu sibuk menuntut ilmu agama  sebagai bekal menangkan ilmu-ilmu  dunia yang kebanyakan materi nya  sudah di racuni oleh para ilmuan kufur Bermuka tua berarti  menjadikan  pola hidupnya berlandaskan hukum  syara’, baik diam nya, pekerjaannya,  ucapannya. Dakwah, tentu menjadi  aktifitas utamanya.

Berjuang terus untuk  meneruskan kehidupan dunia islam. Ayo guys, sadari dan bangkit jangan  ter blokade pada kekurangan yang kita  miliki, yakinlah kamu punya potensi, jika  kamu pernah merasa use-less di kelas, di  antara teman-teman lain atau di keluarga  hmm itu salah besar! Itu hanyalah ruang  lingkup kecil, tapi berjuta-juta ummat  membutuhkan penyadaran dengan  ideologi islam mu. Takbir!!![]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 51

Hijab is My Identity Bag III

Majalahdrise.com – Hal  tersebut jelas bertentangan dengan akidah  islam dan masuk ke dalam perkara syirik.  Kuil ini begitu ramai. Lihatlah banyak  orang berkumpul mulai dari anak-anak hingga  orangtua. Ah, ternyata ditengah kesibukan  orang Jepang mereka masih tetap  menyempatkan diri untuk beribadah.

“Ah ya, beruntung sekali kita pergi ke  kuil hari ini” ucap Terumi

“Ya, aku baru ingat hari ini adalah hari  upacara setsubun…” tambah Miko

“Pantas saja ramai, apa itu upacara  setsubun…?” tanyaku pada keduanya.  “Ayo, upacara akan segera dimulai.”  Miko menarikku ikut membaur ke tengah  kerumunan.  Di atas kuil ada seorang laki-laki  menggunakan topeng bergambar aneh  dengan 2 tanduk di kepalanya. Kalau aku  boleh menebak mungkin itu adalah gambar  setan. Entahlah. Ku lihat di sekelilingku ramai  orang membawa kacang-kacangan seperti  kacang kedelai. Terumi yang tadi sempat  menghilang kini telah kembali, dan ia juga  membawa kacang yang sama. “Ambil ini …. “ ujarnya sambil  memamerkan kacang ditelapak tangannya.

Miko dengan cepat mengambilnya.  Aku menggeleng “ Aku tidak  menyukainya…” ujarku pada Terumi. “No, ini untuk melempar oni Rara chan”  jawab Terumi sambil tersenyum “Oni..?” tanyaku bingung.  “ Ya, pria bertopeng itu” ujarnya sambil  menunjuk ke atas kuil.  Aku semakin bingung. “Duh, apaan lagi  nih..?” “Setsubun merupakan upacara yang  untuk memperingati pergantian musim,  seperti hari ini, pergantiaan antara musim  dingin dan musim semi. Nah acara ini  bertujuan untuk mengusir arwah jahat dan  membawa kebaikan di musim yang baru.”  Jelas Terumi. Orang-orang sibuk melempar kacang  sambil membaca mantra “Oni wa soto, fuku wa  uchi” (Oni ke luar, keberuntungan ke dalam)  Aku menggeleng dengan tegas “ Maaf  aku tidak bisa…”  “Kenapa?” tanya Miko “Orang hindu, shinto juga sering mengikuti perayaan ini. Angeline yang  beragama kristen pun dulu pernah ikut  setsubun sekedar untuk senang-senang saja” “Berbeda dengan mereka aku seorang  muslim dan agama kami tak meyakini  sesembahan atau ritual seperti itu” jawabku  menjelaskan. Mungkin ini salahku karena  tidak dari awal memproklamirkan diri sebagai  seorang muslim. “Aku tahu orang muslim tak merayakan  setsubun, sepupuku yang seorang muslim  pernah mengatakan  hal yang sama. Ia  bahkan tidak pernah lagi berkunjung ke kuil  setelah memeluk islam. Gomenna Rara-chan  aku tidak tahu kau seorang muslim karena  kau berbeda dari mereka yang biasanya  menggunakan kain penutup kepala” Ujar  Miko.  Aku terdiam. Kata-kata itu lebih dari  cukup untuk menikamku.  Miko buru-buru melanjutkan  kalimatnya. “Tapi itu bukan berarti aku  meragukan agamamu Rara-chan, gomenna…”  Ia membungkukkan badan ketika  mengucapkan frase yang terakhir itu

.  ***

Miko mengetuk pintu apartemen. Aku  terkejut melihat siapa yang keluar. Sesosok  lelaki Jepang, dengan lesung pipi yang  menawan, tapi bukan itu yang membuatku  terkesima. Dia sungguh berbeda dengan lelaki  Jepang kebanyakan. Ia memakai baju koko  berwarna putih lengkap dengan kopiah hitam  dikepalanya, khas sekali menandakan bahwa  ia seorang muslim.  “Mari masuk…” ujarnya ramah “ Yuka-neechan kemana? “ tanya Miko  padanya.  “ Sepertinya ia sedang belajar agama  bersama teman-temannya, sebentar lagi juga  biasanya sudah pulang “ “Ini Rara-chan temanku dari Indonesia,  ia juga seorang muslim sama seperti kalian. Ia  ingin berkenalan dengan Yuka dan muslim  lainnya  di Jepang. “  Aku menjulurkan tangan ingin  bersalaman dengannya, ia hanya membalas  dengan 2 tangan yang dirapatkan dan  diletakkan di depan dada. Aku canggung dan  salah tingkah jadinya. Ia seorang muslim yang  sangat taat tentunya sehingga tidak ingin  bersentuhan dengan yang bukan mahramnya.  Ia juga duduk bersebrangan dengan kami. “Nama Jepangku Ryu, setelah masuk  islam aku memutuskan untuk berganti nama  menjadi Thariq. Aku lebih senang dengan  nama itu, kau tentu mengenal nama itu  bukan..? “ tanyanya. “ Zahra, tentu ia seorang panglima  tangguh yang menaklukkan Andalusia di usia  23 tahun. Sungguh prestasi yang luarbiasa. ”  “Assalamu’alaikum..” ucap seorang  wanita yang baru masuk itu.

Ia sungguh  anggun dengan gamis birunya bermotif bunga  sakura, ditambah balutan kain kerudung yang  menutupi rambut hingga dadanya. Ah, aku  kalah telak dari mereka. Meski baru mengenal  islam tapi mereka begitu taat, sedangkan aku  terlahir sebagai seorang muslim dengan  orangtua muslim dan tinggal di negara muslim  tapi justru jauh dari islam itu sendiri.  Miko pamit pulang karena ada janji  dengan senpai. Thariq juga pamit ke kamar,  meninggalkan aku dan Hanifah. Aku  berbincang banyak hal dengannya. Aku begitu  tertarik dengan cerita dan pengetahuan  keislamannya.

Ia benar-benar seorang  muslimah yang taat dan lurus, persis seperti  namanya. Ia juga mengajakku untuk  bergabung dengan komunitas muslimah  Jepang untuk mendalami islam dan menjalin  silaturrahmi.  4 April 2015 di Musim Semi yang hangat.. Awal april adalah momen yang tepat  untuk melihat bunga sakura yang mekar  (orang jepang biasa menyebutnya sebagai  tradisi Hanami). Kami berkumpul di bawah  salah satu pohon sakura yang rindang.  Menikmati keindahan mankai (bunga sakura  telah bermekaran seluruhnya) sambil  berbincang-bincang mengenai islam dan  menikmati makanan . Aku bersyukur, bukan  hanya karena akhirnya aku bisa menikmati  Hanami dan menikmati hangatnya musim  semi seperti impianku sejak dulu. Kehangatan  yang sesungguhnya yakni berkumpul denga  saudari-saudari seiman-ku.

Perasaanku serasa  sesak dengan sakura yang bermekaran.  Bahkan apa yang ku rasakan ini lebih indah  dari mankai sekalipun. Perasaan bersyukur  karena hari ini akhirnya ku putuskan untuk  berhijab. Sebuah keharusan yang harusnya  telah aku tunaikan sejak dulu. Aku mendapat  banyak pencerahan dari Hanifah. Ia  mengajarkanku apa makna sebenarnya dari  kehidupan, yakni untuk senantiasa beribadah  kepada Allah, menjadikan segala aktivitas kita bernilai ibadah dengan meniatkan semuanya  karena Allah dan menjalankan seluruh  aktivitas kita berdasarkan pedoman Al-Qur’an  dan sunnah, termasuk dalam hal berpakaian  yakni dengan menutup aurat secara sempurna  atau berhijab.

Menggunakan jilbab (gamis)  sebagaimana perintah Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan mengenakan kerudung  hingga menutupi dada sebagaimana dalam  surat An-Nur ayat 31.  Awalnya aku berdalih dengan alasan  belum siap dan belum mendapat hidayah,  sambil tersenyum ia menjelaskan “Banyak dari  kita yang hanya mengharapkan hidayah  tauqify, padahal ada hidayah yang lebih besar  dan lebih dekat denga kita yakni hidayah  khalqiyah dan hidayah irsyad wal bayan. “

“Hidayah tauqify yakni hidayah yang  Allah turunkan dengan dibukakannya pintu  hati kita sehingga tertunjuki pada sebuah  kebenaran, tidak semua orang mendapat  hidayah jenis ini. Sedangkan hidayah khalqiyah  atau hidayah penciptaan yang Allah berikan  kepada seluruh insan berupa akal yang  dengannya kita dapat berpikir untuk mencari  kebenaran. Adapun hidayah irsyad wal bayan  yakni berupa Al-Qur’an dan Sunnah yang  berisi nasihat dan penjelasan tentang seluruh  dimensi kehidupan kita.  Nah, masihkah ada alasan untuk kita  menolak syari’at Allah sedangkan Allah telah  menghadiahkan hidayah tersebut kepada kita?  Dan sebagai mahluk yang diciptakan-Nya  bukankah sudah sepantasnya kita bertaqwa  kepadanya dengan senantiasa beribadah  kepada-Nya dan menjalankn seluruh perintah-Nya.”

Aku tersenyum mengenang kalimat  hikmahnya itu. Sejak itu aku memutuskan  untuk segera berhijab dan berusaha  melaksanakan islam secara kaffah. Bagiku  hijab adalah sebuah kewajiban sekaligus  identitasku sebagai seorang muslim ditengah  ras kulit putih ini. Ah, sungguh hanami tahun  ini begitu indah rasanya. []

di muat di majalah remaja islam drise eddisi 51

Hijab is My Identity Bag II

Majalahdrise.com – Persis tepat. Orang Jepang  tidak menerima alasan untuk keterlambatan  apalagi dengan dalih bahwa jam kita lebih  lambat, karena pengaturan waktu di Jepang  sama persis untuk seluruh wilayahnya.    Di Tokyo Nodai, aku mendapat  teman-teman yang juga sangat baik, baik  sesama mahasiswa asing maupun mahasiswa  asli Jepang. Mereka cukup ramah dan sangat  toleransi dengan perbedaan. Mereka juga  mengajariku bahasa Jepang dan menceritakan  banyak hal tentang Jepang mulai dari budaya,  makanan khas dan sebagainya.

Di akhir pekan  yang tidak sibuk, mereka dengan senang hati  mengajakku berlibur, mulai dari menikmati  sushi dan mie ramen di pinggiran kota sampai  pergi ke tempat wisata seperti Tokyo Tower,  Tokyo Imperial Palace dan lainnya. Minggu ini  Terumi juga berencana mengajakku ke kuil  Sensoji, kuil tertua di Tokyo. Sebenarnya aku  tidak begitu tertarik dengan ajakannya.  “Kuil…?” tanyaku memastikan.

“Ya, jangan kira kuil hanya bangunan  sejarah atau tempat ibadah saja, di sensoji  selain bangunan kuilnya yang tua, disana ada  banyak tempat menarik lho Rara-chan. Disana  ada Ojoin (perpustakaan dan ruang sekolah),  dan taman yang indah. Sebelum masuk   Kannondo Hall  kita juga bisa berkunjung ke  Nakamise Douri (Nakamise Shopping Street)  yang terletak di sepanjang Nakamise Street.”  Jelas Terumi panjang lebar.

“Ada banyak souvenir dan juga makanan  disana, harganya juga murah-murah. Dan yang  tak kalah menariknya kita juga bisa meramal  keberuntungan kita. Ramalan kuil sensoji  terkenal ketepatannya lho…!” Tambah Miko  meyakinkan.  “Baiklah…” jawabku sambil tersenyum.  Tak elok rasanya menolak kebaikan mereka.

Angin menyapa dengan lembut. Senang  rasanya musim dingin telah berlalu. Baju  dingin sudah tak lagi menjadi kewajiban dan  aku bisa kembali dengan style pakaianku yang  biasa. Hari ini kami menggunakan pakaian  terbuka untuk merayakan terbebasnya dari  baju dingin yang tebal dan menyesakkan itu.  Aku menggunakan dress berwarna biru  dengan sweater putih. Kami masuk melalui  Kaminarimon, gerbang megah yang juga  menjadi simbol dari Asakusa (nama lain dari  Kuil Sensoji). Di bagian tengahnya terdapat  lampion besar yang menjadi ciri khas dari kuil  ini. Di kanan dan kiri gerbang terdapat dua  patung dewa pelindung, yaitu Raijin (Dewa  Petir) dan Fujin (Dewa Angin).

Setelah melewati  gerbang utama, tibalah kami di  Nakamise  Douri. Sebuah jalan sepanjang kurang lebih  200-250 meter. Meski tidak terlalu luas, di  Nakamise Douri ini terdapat sekitar 100 toko  yang menjual berbagai macam barang, mulai  dari aksesoris, fashion, snack, souvenir serta  oleh-oleh khas Jepang lainnya. Asyik berburu  aksesoris dan jajanan kami melanjutkan  perjalanan. Kami memasuki Hozomon Gate  yang menjadi pintu masuk Kannondo Hall .

Di  sebelah kirinya ada pancuran air. Orang-orang  yang datang sibuk mencuci mulut dan  tangannya dengan air tersebut.  “Ayo kesana…” ajak Miko. “Untuk apa..? apa kita juga harus  mencuci mulut dan tangan seperti mereka..?  tanyaku. “ Ya, untuk membersihkan diri.”  Jawabnya.  Aku hanya mengekor, melakukan apa  yang mereka lakukan. Hal aneh lainnya yakni  banyak orang yang berebut asap dari sebuah  dupa besar. Entah untuk apa. Ditambah bau  kemenyan yang menyengat. Aku sungguh  tidak menyukainya.  “Kemarin kamu bilang sering sakit kepala  kan?” Tanya Terumi. Aku hanya mengangguk.  “Mari kesana, ia menunjuk dupa besar  yang mengeluarkan asap itu.”

“Apa hubungannya..?” tanyaku heran. “ Kami meyakini asap dari dupa itu dapat  menyembuhkan apapun dan memberikan  kesehatan, makanya orang-orang yang  berkunjung ke kuil ini mengusap seluruh  badannya dengan asap dari dupa itu. Aku  menggelengkan kepala. “Tidak, aku tidak tertarik, sama sekali  tidak logis, bukan?” tanyaku. Alasan yang lebih  besar dari semua itu adalah menyangkut  keyakinanku sebagai seorang muslim. bersambung….

di muat di majalah remaja islam drise edisi 51