DUA ABDULLAH DI MEDAN PERANG

Majalahdrise.com – Semasa hidup Rasulullah saw. pernah  terjadi dua buah perang yang di  dalamnya terlibat dua orang bernama  Abdullah. Abdullah yang pertama adalah  Abdullah bin Rawahah, yang kedua,  Abdullah bin Qim’ah. Abdullah pertama  adalah seorang Muslim dan menjadi  pahlawan Islam, sementara Abdullah kedua  adalah seorang musyrik dan telah  memerangi Rasulullah saw., lalu  mendapatkan kematian yang sangat buruk.

Medan perang yang mencatat nama  Abdullah bin Rawahah adalah medan  Perang Mu’tah. Pada perang ini, pasukan  Islam berhadapan dengan pasukan Romawi  Bizantium untuk yang pertama kali. Jumlah pasukan musuh jauh lebih  banyak, dan hal itu cukup menggoyang  nyali pasukan Muslim hingga muncullah  suara-suara untuk meminta pasukan  bantuan kepada Rasulullah saw. Namun  dengan gagah berani Abdullah bin Rawahah  menguatkan kembali tekad dan semangat  jihad di hati pasukan Islam. Sebagaimana  diperintahkan Rasulullah saw., Abdullah bin  Rawahah mengambilalih komando pasukan  setelah Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi  Thalib gugur di medan perang. Ia berjuang  habis-habisan hingga ia sendiri gugur  sebagai syahid. Di tengah-tengah para  sahabatnya di Madinah, Rasulullah  bersabda: “Mereka bertiga diangkatkan ke  tempatku, di surga.”

Abdullah yang pertama telah  mendapatkan tempat terbaik di surga.  Berbeda halnya dengan Abdullah yang  kedua, Abdullah bin Qim’ah. Mungkin kita jarang sekali mendengar namanya,  walaupun dia pernah melakukan sesuatu  yang amat memilukan. Kisahnya bisa kita  telusuri dari Perang Uhud. Pasukan Islam kalah dalam perang  ini. Sebuah kekalahan yang pertama bagi  pasukan Islam dalam peperangan.  Kekalahan ini terjadi karena kemaksiatan  pasukan panah yang mengabaikan perintah  Rasulullah saw. untuk tetap berada di atas  bukit, apa pun yang terjadi. Pada awalnya  pasukan Islam berhasil menguasai keadaan,  dan ‘terlihat’ menang. Sebagian pasukan  panah yang ditempatkan di atas bukit  tergoda dengan harta rampasan perang  (ghanimah).

Mereka pun turun dari bukit  walaupun pemimpin mereka, Abdullah bin  Jabir, telah memberikan peringatan keras.  Ketika itulah pasukan kavaleri yang dipimpin  Khalid bin Walid (saat itu masih kafir),  mengitari bukit yang sudah tidak terjaga  dan mendadak muncul dari barisan  belakang pasukan Islam. Kekacauan pun  terjadi, pasukan Islam kocar-kacir.  Kemenangan yang tadinya sudah di depan  mata, sirna entah ke mana. Rasulullah saw. menghadapi  keadaan terdesak. Pasukan musuh sudah  mengepungnya, sementara pasukan Islam  sudah berhamburan entah ke mana.  Beberapa orang sahabat mati-matian  membela dan melindungi Rasulullah saw.

Mereka menjadikan diri mereka sendiri  sebagai tameng hidup bagi sang Nabi.  Serangan yang ditujukan kepada diri  Rasulullah saw. amatlah hebat sehingga  beliau pun mendapatkan luka-luka. Salah seorang kafir Quraisy yang  dengan beringas menyerang Rasul adalah jarang sekali mendengar namanya,  walaupun dia pernah melakukan sesuatu  yang amat memilukan. Kisahnya bisa kita  telusuri dari Perang Uhud. Pasukan Islam kalah dalam perang  ini. Sebuah kekalahan yang pertama bagi  pasukan Islam dalam peperangan.  Kekalahan ini terjadi karena kemaksiatan  pasukan panah yang mengabaikan perintah  Rasulullah saw. untuk tetap berada di atas  bukit, apa pun yang terjadi. Pada awalnya  pasukan Islam berhasil menguasai keadaan,  dan ‘terlihat’ menang. Sebagian pasukan  panah yang ditempatkan di atas bukit  tergoda dengan harta rampasan perang  (ghanimah).

Mereka pun turun dari bukit  walaupun pemimpin mereka, Abdullah bin  Jabir, telah memberikan peringatan keras.  Ketika itulah pasukan kavaleri yang dipimpin  Khalid bin Walid (saat itu masih kafir),  mengitari bukit yang sudah tidak terjaga  dan mendadak muncul dari barisan  belakang pasukan Islam. Kekacauan pun  terjadi, pasukan Islam kocar-kacir.  Kemenangan yang tadinya sudah di depan  mata, sirna entah ke mana. Rasulullah saw. menghadapi  keadaan terdesak. Pasukan musuh sudah  mengepungnya, sementara pasukan Islam  sudah berhamburan entah ke mana.  Beberapa orang sahabat mati-matian  membela dan melindungi Rasulullah saw.

Mereka menjadikan diri mereka sendiri  sebagai tameng hidup bagi sang Nabi.  Serangan yang ditujukan kepada diri  Rasulullah saw. amatlah hebat sehingga  beliau pun mendapatkan luka-luka. Salah seorang kafir Quraisy yang  dengan beringas menyerang Rasul adalah Rasulullah saw., dia sesumbar: “Ambillah  gigi itu dariku, aku adalah Abdullah bin  Qim’ah.” Rasulullah saw. menyahut: “Allah  swt. pasti akan menghinakanmu.”

Maka  apa yang kemudian terjadi pada Abdullah  bin Qim’ah adalah tragedi. Abdurrahman bin Zaid bin Jabir  kembali mengisahkan, setelah usai Perang  Uhud, semuanya kembali ke kediamannya  masing-masing, begitu juga Abdullah bin  Qim’ah. Suatu hari, ia kembali  menggembalakan kambing-kambingnya di  puncak sebuah bukit terjal di pinggiran kota  Makkah. Jumlah kambingnya cukup banyak  dan ia berjalan di tengah-tengah  kerumunan kambing-kambingnya.

Tiba-tiba  ada seekor kambing jantan yang marah dan  menanduknya hingga ia tersungkur di  tanah. Si kambing tidak sudi berhenti, dan  terus menyeruduk Abdullah bin Qim’ah  hingga luka-luka, dan si kambing pun  seolah belum puas. Ia terus menyeruduk  hingga Abdullah bin Qim’ah terdorong ke  tepian bukit terjal itu dan terjatuh. Di dasar  bukit itu ia tewas dengan tubuh terkoyak-koyak. Sebuah akhir tragis dari orang yang  melempar wajah Rasulullah saw.[]

 

di muat di majalah remaja islam drise edisi 52

DIRTIEST PEOPLE (Tahukah D’Riser zat berbahaya yang dimaksud?)

Majalahdrise.com – Pada abad  16 sampai  18 Masehi,  di tengah-tengah  masyarakat benua  Eropa menyebar ketakutan terhadap suatu  zat yang konon sangat berbahaya bagi  tubuh. Ambroise Pare, tabib raja-raja  Perancis, pada tahun 1568 memperingatkan  masyarakat akan bahaya zat tersebut, yaitu  “bisa membuat badan jadi lembek dan  membuka pori-pori kulit, sehingga bisa  menyebabkan berbagai uap yang berbahaya  memasuki tubuh, yang bisa mengakibatkan  kematian mendadak”.

Senada dengan Pare,  Theophraste Renaudot, yang juga dokter  dari Perancis menjelaskan bahwa zat  berbahaya ini merupakan “musuh dari  jaringan syaraf dan otot, yang bisa  melemahkan badan”. Tahukah D’Riser zat  berbahaya yang dimaksud? Zat itu ialah air! Yup, itulah kepercayaan orang Eropa di  abad pertengahan akan bahaya air bila  menyentuh kulit. Akibatnya, orang-orang  Eropa di masa itu jarang mandi. Frekuensi  mandi mereka rata-rata beberapa kali dalam  setahun, yang paling rajin dan elite adalah sebulan sekali. Yaiks…!

Masyarakat  kelas bawah lebih parah lagi karena  mereka tak pernah mandi sama sekali,  dan hanya mencukupkan diri dengan  mencuci tangan, muka, dan kumur-kumur. Mencuci muka seluruhnya pun  masih dianggap berbahaya karena  dianggap bisa melemahkan  penglihatan, jadi cuci muka pun agak  jarang. Bahkan mereka percaya bahwa  lapisan daki pada kulit justru melindungi tubuh dari penyakit. Hiiy…!  Selain ketakutan terhadap penyakit,  ternyata ada alasan lain yaitu alasan  keagamaan. Sebelum abad pertengahan,  fasilitas pemandian umum sebenarnya  sudah biasa dijumpai, mengingat pada masa  itu masih jarang rumah yang di dalamnya  ada kamar mandi, kecuali di rumah-rumah  para bangsawan dan orang kaya.

Namun  pihak Gereja memberi stigma negatif  terhadap pemandian umum, karena  dianggap menyebabkan perbuatan amoral  dan seks bebas. Dari waktu ke waktu  pembatasan itu semakin banyak, bahkan  sampai ada larangan untuk mandi telanjang.  Stigma negatif terhadap aktivitas mandi  ini juga diyakini oleh kalangan bangsawan  dan aristokrat.  Beberapa penguasa yang  jarang mandi itu diantaranya adalah Raja  Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol.  Menurut kedua penganut agama Kristen  fanatik ini, mandi itu dekat dengan  kefasikan, karena orang yang mandi biasanya tidak pakai baju. Ketika duo jarang  mandi ini menaklukkan Andalusia,  penduduk muslim di sana tak hanya dipaksa  pindah agama, mereka juga dilarang untuk  mandi.

Isabella sendiri dengan bangga  menyebutkan bahwa seumur hidupnya ia  hanya mandi dua kali, pada saat dilahirkan  dan ketika menikah. Masih di Spanyol, Putri  Isabella, anak dari raja Felipe II bahkan  pernah bersumpah untuk tidak mengganti  baju hingga pengepungan Ostend (1601 M)  selesai. Namun ternyata pengepungan itu  baru berakhir 3 tahun kemudian.

Wueks…! Para penguasa Prancis pun, walau  dandanannya paling flamboyan, ternyata  kebiasaannya tak jauh beda. Raja Louis XIV  yang dianggap raja Perancis paling agung,  ternyata menurut seorang diplomat Rusia,  bau badannya seperti binatang liar.  Dibanding bangsa Eropa lainnya, frekuensi  mandi orang Rusia masa itu memang agak  lebih sering. Sebagai gantinya mereka dicap  sebagai bangsa yang paling mesum dan  amoral di mata bangsa Eropa lain. Untuk mengatasi masalah bau badan  tanpa harus mandi, para bangsawan Eropa menggunakan parfum dan  bedak wangi untuk  menyembunyikan busuknya bau  badan mereka. Alasan lainnya,  konon istana-istana di Perancis  walaupun mewah, tapi seringkali  dikotori oleh perilaku jorok  penghuninya, yakni sering BAB  sembarangan. Tak jarang  seonggok kotoran manusia  ditemukan di atas karpet di  koridor maupun tangga.

Itulah  kenapa Perancis terkenal dengan  parfumnya, demi menangkal  segala macam bau yang  menusuk hidung.  Selain memakai parfum,  solusi lain adalah dengan sering  mengganti baju dalam sehari.  Sayangnya, harga parfum dan  pakaian sangat mahal, sehingga,  parfum dan pakaian yang putih  bersih merupakan simbol  kekayaan.

Sementara rakyat  jelata harus puas dengan baju  yang tak pernah diganti  bertahun-tahun serta harus  terbiasa dengan berbagai macam bau  menyengat di sekitar mereka. Iya sob,  seakan bau badan saja gak cukup,  lingkungan pun beraroma neraka akibat  gaya hidup yang tidak higienis. Jalanannya  becek dan dipenuhi dengan kotoran dan air  kencing, karena mereka biasa  menumpahkan isi chamber pots (belanga  tempat buang air) mereka ke jalanan.

Ugh…! Kita semua patut bersyukur karena  memeluk agama Islam yang sangat  menghargai kebersihan. Kita tentu hafal  dengan ungkapan “Kebersihan adalah  sebagain dari iman” (an-nadhafatu minal  iman). Meskipun ungkapan ini bukan hadits,  tapi maknanya tidak menyimpang karena  Islam memang menyeru kepada  kebersihan. Ada banyak aturan dalam Islam  terkait dengan kebersihan, misalnya saja  perintah istinjak, perintah menjauhi najis,  perintah membersihkan pakaian, larangan  untuk buang air sembarangan, juga  perintah untuk wudhu dan mandi. Inilah  salah satu ajaran Islam yang mulia.  Tentunya kita bangga dong jadi seorang  muslim. Betul?! [].

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 52

 

Cowok “Tuman”

Majalahdrise.com – Ngomongin soal hoby kaum adam  emang gak ada abisnya. Apalagi  kalo udah asyik dengan hobynya,  dijamin dunia serasa milik sendiri. Lupa  waktu. Lupa diri. Untung gak lupa bernapas.  Nah, salah satu kegiatan yang  biasanya dilakonin anak cowok itu mancing.  Eits, jangan salah ya. Biar cowok identik  dengan jawara, bukan mancing keributan  yang kita  aksud. Tapi mancing beneran alias  mancing ikan. Mereka itulah yang dijuluki  cowok ‘tuman’ alias cowok tukang mancing.  Hehehe…!

Sejarah Memancing Kegiatan memancing boleh dibilang  salah satu teknik menangkap ikan. Konon  kabarnya, teknik menangkap ikan ini sudah  di kenal sejak 10.000 tahun yang lalu.  Buktinya, banyak di temukan tulang-tulang  ikan dan alat untuk menangkap ikan yaitu  mata kail dan tombak ikan di dalam gua  jaman batu. Bahan untuk membuat mata  tombak ikan adalah batu yang diruncingkan  menggunakan batu. sedangkan bahan  untuk membuat mata kail adalah tulang  yang dibentuk menjadi mata kail  menggunakan batu. Menurut analisa para arkeolog  walaupun tidak ditemukan tali untuk  mengikat mata kail namun di pastikan  benang atau tali yang diigunakan untuk  mengikat mata kail terbuat dari bahan serat  kayu yang kuat dan ulet serta tahan untuk  menarik ikan.

Perkembangan dari zaman batu ke  zaman batu baru atau disebut juga zaman  Neolitik sekitar 4.000 – 8.000 tahun yang  lalu telah merubah bahan yang digunakan  untuk membuat mata kail yaitu disamping  dari tulang juga telah dibuat mata kail dari  bahan kayu yang keras sehingga tidak  mudah patah, pada zaman ini sudah  berkembangan tehnik memancing tidak  hanya menggunakan tombak ikan tetapi  juga alat pancing menggunakan benang  atau tali dari bahan serat pohon yang kuat  dan panjang serta telah menggunakan  semacam pelampung dari bahan pohon  kayu. hal ini dibuktikan dengan penemuan  makanan (Ikan) yang diawetkan  menggunakan garam atau pengasapan. Saat ini mata kail tidak lagi  menggunakan tulang atau pun kayu tetapi  sudah menggunakan besi atau sudah  menggunakan baja dengan campuran  bahan lain seperti carbon.

Joran yang digunakanpun sudah jauh lebih baik.  Alat7j-alat pancing saat ini jauh sekali  lebih modern. seperti timah untuk  pemberat, reel untuk menggulung  benang, umpan pancing selain  menggunakan umpan alami juga  sudah menggunakan umpan buatan  (minnows, popper dll) Asyiknya Memancing Banyak alasan yang bikin  kaum adam betah dengan jorannya  sambil nunggu umpan dimakan ikan.  Berikut diantaranya:

1 . Nggak pandang status sosial.  Hobi memancing ini sangat  universal. Meski lebih banyak anak  cowok yang mancing, bukan berarti  kaum hawa gak boleh ikut. Minimal,  anak cewek bisa siapkan menu dan  bumbu buat masak ikan kalo nggak  betah megang joran dan nunggu  tanpa kepastian. Kesannya di-php in  sama ikan. Hehehe..

2 . Nggak perlu biaya mahal. Kita tidak  harus menyewa kapal / perahu dan  menggunakan peralatan pancing yang  mahal. Cukup dengan memanfaatkan  geografis lingkungan di sekitar kita, hobi ini  bisa kita lakukan di kolam, sungai, waduk,  empang, laut, dll.

3 . Ajang relaksasi. Begitulah alasan yang  paling banyak  diutarakan para  mancing mania.  Terkadang,  memancing bukan  bagian dari profesi  atau untuk cari temen  nasi. Dengan  memancing kita  memperoleh  ketenangan jiwa,  terlepas dari semua  tetek bengek urusan  dunia, melatih  kesabaran dan  mempertajam insting  kita akan keadaan di  sekitar kita. Dodie Magis, CHT. mengatakan  bahwa, memancing merupakan salah  satu bentuk relaksasi. Pandangan mata  yang tertuju pada satu titik secara terus  menerus dengan gerakan-gerakan air  yang monoton akan tertangkap oleh  alam pikiran kita dan masuk ke bawah  sadar dimana si pemancing akan  merasakan ketenangan yang luar biasa.  Saat-saat demikian yang membawa  pemancing ‘lupa’ akan segalanya, kesulitan  hidupnya, masalah-masalah yang dihadapi  bahkan bisa dibilang lupa anak-istri, ayah,  ibu, bahkan kekasih, saking asiknya… . Ajang rekreasi. Kegiatan mancing

4.biasanya nggak berdiri sendiri. Biar  lebih seru, sering dipadukan dengan  kegiatan lain yang masih nyambung. Apalagi  kalo mancingnya di alam bebas, sekalian  piknik dan jalan-jalan. Plus masak hasil  tangkapannya. Maknyoss!

Driser, buat kamu yang hobi  memancing kita sekedar mau ngingetin soal  waktu aja. Dari cerita yang beredar, konon  para pemancing suka lupa waktu kalo udah  asyik ngulik umpan dan pegang joran.  Jangan sampai kewajiban terlalaikan seperti  ibadah shalat dan dakwah. Bagus juga kalo  mancing sambil bawa laptop atau buku,  apapun yang bisa bikin tetep produktif dan  optimalkan waktu. Mancing mania,  mantabs! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam drise edisi 52

Sis, NGAJI YUK,,

Majalahdrise.com – Sis, coba sejenak buka mata dan  pikiranmu. Lihat berita baca koran.  Perhatikan dengan jeli gimana kondisi  kaum muslimin saat ini? Kemiskinan  meningkat, Kriminalitas kian parah,  komunias lesbi, homo, gay plus transgender  kian beringas nunjukin eksistensinya. Kaum  perempuan ogah-ogahan menjaga  kehormatan mereka. Anak kecil kian banyak  jadi korban kekerasan dan pelecehan  seksual. Angka perceraian kian meningkat.  Masalah pendidikan gak pernah berakhir.

Negeri muslim terus menerus manut sama  Negara kafir, dan sederet permasalahan  kaum muslim lainnya yang jika saya tuliskan  disini, selain bikin tangan saya pegel, juga  gak bakal ketampung saking banyaknya.  Sekilas kalian mungkin mengatakan,  “itu udah biasa kali. Gak usah mikir kemana-mana. Urus diri sendiri aja dulu. Masa bodo.  Boro-boro Nyibukin mikir orang lain. Gue  aja banyak masalah gini”. Hmmm, kalau ada  yang jawabnya gitu, kasian banget. Cuman  mikirin diri sendiri. Belon aja kalo mati  nggak ada yang mandiin, nyolatin, atau  nguburin. Mau? Masalah yang dihadapi umat itu  tanggung jawab kita. Lantaran kita bagian  dari umat sedunia. Itu artinya, kita bakal  terkena getahnya meski berdiami diri.

Sekarang, coba kita berpikir lebih kritis.  Harusnya kan gak ada kemiskinan, karena  negeri kita kaya sumber daya alamnya.  Kriminalitas bisa diminimalisir, karena  hukum dalam Islam tegas. Harusnya gak  ada lesbi, gay, transgender, karena fitrah  manusia suka ama lawan jenis. Ayam jantan  aja doyannya betina, bukan jantan,betul? Harusnya perempuan dan anak-anak  nggak mengalami berbagai pelecehan dan  kekerasan, karena dalam Islam mereka  dilindungi oleh pihak laki-laki dan negara.  Harusnya pendidikan menjadi sarana untuk  mencetak generasi cemerlang, bukan  generasi yang doyan narkoba, tawuran, free  seks, apalagi keranjingan nonton konser  musik.  Masih banyak harusnya-harusnya lain  yang mesti kita pertanyakan. Kenapa  kondisi umat jadi terpuruk kaya gini  padahal kita sebaik-baik ummat, dan  agama kita adalah sebaik-baik agama??

Ketika Ajaran Islam Dicuekin Sis, kondisi di atas kejadian lantaran  ajaran Islam dicuekin. Yang namanya  seperangkat aturan, emang nggak akan diketahui kalau dicuekin. Apalagi jika  kita meyakini sesuatu itu sebagai  aturan hidup. Mempelajarinya  emang kudu. Nah, Islam sebagai  aturan hidup, hanya akan jadi  seonggok kitab jika nggak dipelajari  untuk kemudian diterapkan. Islam  itu sistem hidup lho. Bukan sekedar  agama seperti ajaran agama yang  lain. Islam beda. Islam adalah  agama sekaligus pandangan hidup  ummat manusia. Jadi, First of all,  kalian kudu membenahi diri. Mulai  detik ini, kuatkan tekad untuk  menjadi seseorang  yang lebih baik. Nah,  untuk tahu gimana caranya jadi orang baik,  maka kalian kudu ngaji. Nggak bisa nggak.  Harga pas. Nggak bisa ditawar lagi.  Ngaji di sini bukan ngaji sekadar baca  al-Quran tanpa paham maknanya. Tapi  mengenal Islam yang mendalam hingga  kalian dapetin ilmunya dan paham untuk  diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Faham Islam adalah satu-satunya cara  agar hidup kalian ke depan jelas arahnya.  Gimanapun, kelak kalian bakal jadi Ibu lho.  Menjadi seorang Ibu, tentu membutuhkan  ilmu, apalagi kalau udah punya anak. Eits, ini  kok udah ngomong jadi ibu-ibu ajah sih? Kita  kan masih punya cita-cita laen. Ya gak papa  dong. Ngaji, mendalami islam untuk mempersiapkan ilmu dalam rangka  mendidik anak kelak agar terwujud  generasi cemerlang. Ini bukan perkara  gampang dan butuh waktu yang gak  sebentar lho. Apalagi berharap anak cerdas  dan faham agama. Itu semua Gak akan  terlahir dari didikan seorang Ibu yang gak  faham ilmu agama.

Ini butuh perhatian  serius, Sis. Ditangan kalianlah, peradaban  Islam sedang di persiapkan, sehingga  generasi mendatang betul-betul  mendapatkan ilmu mumpuni yang  siap  menorehkan tinta emas peradaban Islam  untuk kedua kalinya.  Dua hal yang perlu kalian sadari.  Kalian punya dua peran penting bin genting  untuk saat ini. Apa peran itu? Kalian adalah  generasi muda, arsitek peradaban untuk  kejayaan Islam dimasa depan. Selain  itu, kalian adalah calon Ibu pendidik  generasi cemerlang. Bercita-citalah  untuk menjadi Ibu yang memiliki anak  pemberani penakluk konstantinopel,  Muhammad Al-Fatih. Bayangkanlah  bagaimana bahagianya menjadi Ibu  seperti Ummu Imaarah yang merelakan   anak-anaknya menjadi syuhada.

Bercita-citalah, menjadi Ibu yang memiliki  anak cerdas seperti Ibu Imam As-Syafi’i.  Itulah sebaik-baik cita-cita. Dan itulah  sebaik-baik prestasi.   Masa iya sih pengen jadi Ibu dan  berharap punya anak seperti Imam Asy-Syafi’I, tapi kerjaannya hang out, demen  konser plus doyan jogetan? Itu mah mimpi  kali yee… so, biar cita-cita plus tujuan kamu  jelas, Ngaji yuks! [Juanmartin]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 52