HABITS PENULIS #4 Mencintai Bahasa Memperkaya Karya

MajalahDrise.com – D’Riser, pada edisi kali ini, kita mau ngebahas habits penulis yang keempat, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang mencintai bahasa.Malah, seorang kawan jurnalis pernah bilang bahwa penulis itu mencintai bahasa sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Maksudnya gini, seorang penulis yang baik, tentu memiliki kreativitas lebih dalam bertutur dan bernarasi, ia tidak hanya luas ilmu pengetahuan dan wawasannya, namun juga kaya dalam diksi dan kosa katanya. Ia terampil dalam mengolah informasi dengan kekayaan berbahasanya. Artinya, seorang penulis yang baik ditunjang oleh kemampuannya untuk menguasai ragam bahasa yang ada. Bahasa yang dikuasainya akan menunjukkan bagaimana kualitas dirinya, sekaligus aktualisasi dirinya dalam jagat kepenulisan. Bahkan, ia dapat berkomunikasi akrab dengan orang asing dengan ragam bahasa yang dikuasainya.

Bagi para pemula yang berpacu untuk menjadi penulis yang baik, tentu akan terus belajar menambah bobot kualitas tulisannya, di antaranya dengan memperluas wawasan dan memperkaya penguasaan bahasanya. Ia akan terus menimba ilmu di manapun dan kapanpun, di antaranya ditandai dengan menambah perbendaharaan kamus bahasa di meja kerjanya. Hayo, kini coba hitung ada berapa kamus yang kalian miliki di tempat kerja ataupun di rumah? Kalo masih bisa nyebutin dua atau tiga kamus masih mendinglah. Tapi, kalo gak ada sama sekali? Halah, mending gak usah ngarep jadi penulis, deh!

Hal ini bukan tanpa alasan lho, karena cara termudah untuk menakar kemampuan kekayaan berbahasa seorang penulis, termasuk juga seorang editor dan penerjemah, lihatlah di meja kerjanya atau di meja tulisnya, ada berapa kamus bahasa yang dia punya? Sedikitnya ia harus punya tiga kamus, seperti: Kamus Umum Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan Kamus Inggris-Indonesia. Kalo lebih banyak, tentu jauh lebih baik.

Sebagai contoh, kalian tahu R.A. Kartini, kan? Raden Adjeng yang tiap bulan April ini hari lahirnya selalu diperingati sebagai hari emansipasi wanita ini, ternyata gemar membaca dan senang mempelajari bahasa, hingga ia mampu bertutur dan bernarasi dengan baik dalam tulisan-tulisannya, khususnya saat ia berkorespondensi dengan teman-teman Eropanya di negeri Belanda. Padahal R.A. Kartini hanyalah lulusan Europeesche Lagere School atau setingkat sekolah dasar. Namun, ia mampu menulis dengan baik hingga surat-suratnya dibukukan oleh Mr.Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht atau From Darkness to Light alias dari kegelapan menuju cahaya. Judul bukunya ini kemudian disadur oleh penyair Armyn Pane menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini sungguh terinspirasi dengan kalimat minazh zhulumati ilan nuurdalam al-Qur’anul karim yang bermakna”dari kegelapan menuju cahaya terang”. Ia mendapatkan kalam mulia itu dari guru ngajinya, K.H. Sholeh Darat yang menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar bahasa dan bahasannya mudah dipahami Kartini, sehingga dalam surat-surat berikutnya kepada Mr.Abendanon, Kartini banyak mengutip kalimat tadi. Ia menjadi lebih religius dan semakin mencintai agamanya. Tuh, keren kan, dengan mencintai bahasa, kita bisa berkorespondensi dan berkomunikasi dengan orang asing tanpa kita harus ngerasa asing dengan keyakinan sendiri, bahkan kita bisa sekaligus berdakwah!

Nah, selain R.A. Kartini, ada contoh yang lebih super duper soal mencintai bahasa ini. Kalian tahu kakak kandung Kartini, gak? Pasti gak kenal, kan? Ia adalah Rd. Mas Panji Sosrokartono, sosok yang gak banyak diketahui publik ini justru sangat membumi di bumi Eropa, karena Si Genius dari Jawa lulusan Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur Universitas Leiden ini menguasai 24 bahasa dunia, khususnya bahasa di Eropa dan 10 bahasa daerah di Nusantara Indonesia.

Keterampilan Kartono yang bertitel Doctorandous in de Oostersche ini dalam berbahasa, menghantarkan dirinya menjadi wartawan Herlad Tribune di kantor biro Wina, Austria, dan pada 1917 saat terjadinya Perang Dunia I, ia pernah dimintai jasanya untuk menerjemahkan berita jalannya peperangan ke berbagai bahasa di Eropa Raya. Selepas perang, Kartono menjadi penerjemah di Kedubes Perancis di Den Hagg, Belanda. Bahkan, pada 1919, kariernya melesat menjadi kepala penerjemah Liga Bangsa-Bangsa (embrio PBB) di Jenewa, Swiss. Gimana tuh, keren kan, kakaknya R.A. Kartini ini?

Selain kakak beradik itu, ada juga tokoh bangsa lainnya yang keren abis dalam mencintai bahasa ini, dialah Si Bung Besar, Rd. Kusno Sosro Soekarno yang menguasai banyak bahasa asing dan berbagai bahasa daerah di Indonesia. Bahkan, Pangeran Norodom Sihanouk menyatakan bahwa; ”Sukarno adalah seorang ahli bahasa yang ulung. Ia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jerman dan juga bahasa Pali (bahasa suci India kuno) yang masih digunakan oleh para biarawan Buddha. Bahasa Inggrisnya juga luar biasa. Bahkan, saya bisa bercakap-cakap dengannya dalam bahasa Perancis tanpa memerlukan penerjemah.”

Presiden Republik Persatuan Arab (Mesir, Irak dan Suriah) taon 60an pun, Jenderal Gamal Abdul Nasser mengakui bahwa ia suka berakrab ria dengan Bung Karno melalui tiga bahasa; Arab, Inggris dan Perancis! Saat ketemu dengan para pembantunya, para ajudannya dan rakyatnya, Si Bung lebih nyaman bercakap-cakap dengan bahasa daerah lawan bicaranya. Kalo soal menulis dan berpidato bagi Si Bung, walah jangan ditanya, deh!

Oke, D’Riser, di edisi y.a.d kita akan merampungkan bahasan habits penulis ini dengan habits terakhir, menjalin komunitas…. Cegat, ya?![]

 

BOX:

Tips Mencintai Bahasa

D’Riser, habits penulis yang keempat ini emang kudu en wajib dimiliki oleh para penulis karena banyak manfaatnya. Kini, saya mau berbagi tips, agar kamu padamencintai bahasa:

  1. Mantepin dulu niat mau belajar bahasa dengan baek, kalo niatnya gak mantep lupain saja deh, mimpimu jadi penulis hebat!
  2. Pastiin juga bahasa apa saja yang akan kamu pahami dan kuasai, misal kamu terobsesi jadi penakluk Roma maka kuasailah dulu bahasanya biar saat kamu tiba di Italia, kamu gak nyasar di sana!
  3. Siapin apa pun yang dapat menunjang penguasaanmu pada bahasa tadi; minimalnya kamu punya kamus, baik kamus bahasa, dialek, istilah, etc.
  4. Cari orang atau pihak yang bisa kamu ajak berkomuniksi akrab dengan bahasa itu, searching aja di berbagai medsos yang ada di gadget kamu, tapi awas kamu tetap kudu waspada!
  5. Ayo nulis pake bahasa yang kamu kuasai itu, kamu mau nyadur, mau nerjemahin ataupun mau nulis sendiri seterah kamulah, yang penting kamu sudah menulis.Semakin kamu asyik berkarya maka semakin kamu mencintai bahasanya. Semakin kamu mencintai bahasa, semakin kaya setiap karya yang dihasilkannya. Cobalah… []

di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi 46

Leave a Reply

Your email address will not be published.