Majalahdrise.com – Menjadi penulis itu emang asyik. Apalagi kalo pasangan hidup juga punya minat yang sama. Walhasil, karyanya tak hanya berupa buku tapi juga ‘pembaca buku’. Seperti dialami duet penulis romantis, Kang Irvan Aqila dan Teh Ryu Aqila yang baru saja dikaruniai putera kedua yang bernama Binar Syuhada, 14 Oktober 2014 lalu. Simak yuk obrolan redaksi Drise kang Isa dengan duo penulis yang karyanya udah banyak terpajang di rak toko buku ini. Yuk mari..!
Kenapa Kang Irvan dan Teh Ryu Tri memilih dunia tulis-menulis sebagai profesi?
Ryu: Karena suka dan passionnya memang di dunia ini. Senang saja rasanya bisa menjadikan hobi yang bisa dijadikan profesi sekaligus. Selain itu ingin berbagi sesuatu yang dapat dikenang sepanjang hayat, bahkan tidak mungkin sepanjang masa meski penulisnya sudah tidak ada di dunia ini.
Irvan: Kalau saya awalnya nggak sengaja karena iseng buat nyalurin waktu luang. Eh,nggak taunya naskah pertama saya malah diterima penerbit. Kebetulan saat itu juga saya sedang dikasih ujian sakit sehingga banyak waktu luang di rumah. Kaget juga karena waktu itu cuma iseng kirim-kirim. Akhirnya, jadi malah ketagihan ingin nulis lagi. Terus dan terus. Sampai sekarang menulis jadi seperti kebutuhan. Kalau belum nulis, kayaknya ada yang mengganjal di hati. Nulis apa aja nggak melulu harus buku atau novel. Kadang sekadar curhat di buku harian atau sharing di blog.
Kabarnya Kang Irvan dan Teh Ryu bisa dipertemukan dan akhirnya menikah lewat dunia menulis ya? Gimana ceritanya?
Ryu: Iya benar. Awalnya, beliau meminta endorsment ke saya untuk naskah novelnya yang terbit. Selanjutnya terjadi diskusi tentang tulisan dan penerbitan. Eh,nggak tahunya, memang dasar jodoh ya. Hihi. Akhirnya kami bisa menikah dan bisa berkolaborasi dalam dunia ini.
Irvan: Hehehe… ya begitulah kira-kira. Dulu, saya salah satu pembaca karya-karya beliau. Nggak disangka ketemu di dunia maya. Setelah itu, saya minta endorsmentuntuk novel saya yang baru akan terbit. Saat itu,jujur, saya masih awam banget dalam dunia tulis-menulis. Saya belajar banyak dari beliau yang sudah berkecimpung di dunia tulis menulis lebih dulu. Sempat juga diajak kerjasama dalam sebuah proyek penulisan script cerita untuk Dinas Pendidikan Pemerintah. Sejak saat itu jadi makin akrab dan benih-benih cinta mulai bertumbuh di dalam hati, hehehe…
Apakah benar tulis-menulis bisa kita jadikan sebagai sumber penghasilan?
Ryu: Jika dilakukan secara profesional, menulis di Indonesia bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan kok. Terpenting, kita memang konsisten menciptakan karya. Namun, tak sekadar hanya asal terbit saja. Karya bagus dan bermanfaat bagi pembaca itu yang harus diprioritaskan. Oh ya, jangan sampai hanya karena uang, seorang penulis mau saja membuat karya yang “menyesatkan” pembacanya.
Irvan: Bisa banget. Apalagi jika kita menekuninya dengan profesional. Kalian pasti tahu penulis-penulis beken semisal Habiburahman, Asma Nadia, Raditya Dika, Andrea Hirata, dan banyak lagi. Tidak bisa dipungkiri mereka sudah mendapatkan materi melimpah melalui buku-bukunya yang best seller dan menembus angka fantastis untuk tiap terbitan. Namun tentu niat awal untuk menulis bukan untuk materi tapi lebih ke arah berbagi.
Biasanya kendala apa saja yang dihadapi selama menggeluti dunia tulis-menulis?
Ryu: Kendala pasti selalu ada dalam setiap profesi. Tak terkecuali di dunia tulis menulis ini. Besaran pajak penghasilan yang harus dipotong rasanya belum cukup seimbang dengan nilai royalti yang diberikan beberapa penerbit. Itu yang terkadang menjadi masalah besar bagi para penulis. Belum lagi masalah pemasaran karya. Tak jarang ada beberapa penerbit yang akses pemasarannya rendah sehingga karya bagus yang kita buat tidak laku di pasaran.
Irvan: Saya pribadi sih kendalanya rasa malas dan jenuh saat menulis. Atau ide yang kadang suka buntu. Solusinya saya berhenti menulis untuk beberapa saat dan memilih untuk melakukan aktivitas lain seperti nonton DVD, main dengan anak atau sekadar pergi ke luar. Biar pikiran lebih fresh.
Hal apa saja yang harus kita lakukan untuk menjadi penulis yang baik?
Ryu: Rajin membaca dan selalu apdet berita. Seorang penulis itu harus mau membaca dan jeli melihat apa pun agar ide yang dihasilkan tetap cihuy. Kedua, harus mau menerima kritikan dan masukan dari siapapun; editor, publisher, dan juga pembaca. Ketiga rajin bersilaturahim dengan komunitas penulis atau para pembaca karyanya.
Irvan:Niat, latihan menulis yang rajin, banyak membaca, bergaul dengan berbagai teman seprofesi dan komunitas menulis yang ada di kota tempat tinggal atau bisa juga milis-milis dan grup-grup penulisan di dunia maya, dan tentu konsisten yang lebih ekstra dari sekadarnya.
Bagaimanakah pentingnya menulis jika dikaitkan dengan perjuangan Islam?
Ryu: Sangat penting. Dakwah Islam bisa disebarkan melalui tulisan. Kita tentu ingat perkataan seorang ulama besar Islam bernama Sayyid Quthb bahwa satu peluru itu hanya bisa menembus satu kepala saja, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala sekaligus. Itulah pentingnya menulis. Menulis adalah tradisi para ulama. Dan kita sebagai pemuda-pemudi Islam sudah selayaknya meneruskan dan menjaga tradisi warisan berharga dari para ulama terdahulu demi tegak dan jayanya Islam di muka bumi.
Irvan: Sekadar menambahi jawaban Kak Ryu. Kalau boleh menghukumi, saya akan mewajibkan menulis bagi sesiapa saja para pengikut nabi Muhammad Saw. yang berjuang untuk Islam. Saya percaya bahwa kemampuan menulis itu bukan lagi berbicara masalah bakat, tapi kemauan dan tekad keras. Siapa saja bisa menulis jika mau. Bayangkan, seandainya dulu seorang Imam Syafi’i tidak pernah menuliskan ilmunya ke dalam kitab bernama Ar-Risalah, atau seorang Imam An-Nawawi yang enggan menggoreskan penanya ke dalam kitab Riyadush Shalihin, sudah barang tentu kita takkan pernah menikmati manfaat dari kitab-kitab besar tersebut. Begitu pentingnya tradisi menulis, sampai-sampai Sayyid Quthb dan Ibnu Taimiyah masih menyempatkan waktu untuk menulis meski raganya terpenjara dalam belenggu tirani pemerintah saat itu dan melahirkan sebuah kitab fenomenal bernama Fi Zhilalil Qur’an dan Majmu Fatawa.
Pesan-pesan dari Kang Irvan dan Teh Ryu untuk para pembaca D’Rise?
Ryu: Menulislah dan berkarya meski sekali seumur hidup, niscaya kita akan menjadi manusia lebih berarti dan menyejarah. Terus belajar. Dan semoga pembaca D’Rise bisa menghargai tulisan serta mau membaca segala macam pengetahuan yang bermanfaat.
Irvan:Angkat pensilmu, nyalakan komputermu. Terus menulis dan tetap mengancam. Semangat! J
Biodata Sangat Singkat:
Nama : Ryu Tri
Buku Terbit : Kisah 1001 Malam Prince & Princess, EO For Teen, Cerita Kidung, 101 Tentang Shalat Dongeng Negeri Pariri, Kisah 5 Nabi Ulul Azmi, Rahasia Kotak Amal, Halal Haram Untuk Anak, 100 Kisah Tokoh Besar Teladan Untuk Anak, dan lain sebagainya.
Nama : Irvan Aqila
Buku Terbit : Sholeh on 7, Pinokiyoh, Cinta Bikin Mules, Solmed 1 & 2, Mendadak Detektif, Ketika Cinta Berlari, The Last Jomblo, From Pesantren With Fun, My Silly Boss, dan lain sebagainya.
Alamat : Vila Tangerang Elok B7/1 Pasarkemis Tangerang Banten 15560
