KITAB PALING OTENTIK 2

Majalahdrise.com – Imam Jalaluddin al-Sayuti menjelaskan  bahwa mukjizat itu adalah “Suatu hal atau  peristiwa luar biasa yang disertai  tantangan dan selamat (tidak ada yang  sanggup) menjawab tantangan tersebut”.   Walid bin al-Mughirah, dedengkot  kafir Quraisy pun mengakui keindahan Al-Qur’an; “Demi Allah, sungguh aku baru saja  mendengar dari Muhammad suatu  perkataan yang bukan merupakan  perkataan manusia maupun jin. Sungguh ia  berasa manis dan penuh pesona, bagian  atasnya berbuah dan bagian bawahnya  subur.

Ia tinggi dan tidak ada yang lebih  tinggi darinya”. Al-Qur’an juga jelas bukan  karangan Nabi Muhammad, biar gimana  pun juga, beliau kan tetap orang Arab,  apalagi beliau nggak dikenal sebagai  seorang penyair. Ditambah lagi ada  perbedaan besar antara gaya bahasa Al-Qur’an dengan sabda-sabda beliau. Jauh  banget. Jadi kalau ada yang bilang Al-Qur’an itu bikinan Nabi Muhammad, itu  fitnah banget! Apalagi kalau ada yang  bilang Al-Qur’an itu karangan orang non-Arab atau jiplakan dari kitab non-Arab. Lah  orang Arab paling fasih aja nggak bisa  bikin, apalagi orang ‘ajam (non-Arab), ya  nggak sih.

Jadi, Al-Qur’an itu perkataan siapa  dong? Hmm… nampaknya kemungkinan terakhir yang bisa  diterima akal sehat  cuma satu, yaitu  kalam Allah SWT yang  diwahyukan kepada  Nabi Muhammad  Saw(QS Al-Insan:23).   Kalau boleh ngutip  kata-katanya Sir  Arthur Conan Doyle  melalui karakter  Sherlock Holmes;  “when you have  eliminated the  impossible, whatever  remains, however  improbable, must be  the truth”. Ketika  kamu sudah  menyingkirkan  (kemungkinan-kemungkinan) yang  mustahil, maka apapun yang kemungkinan  tersisa, walaupun kelihatannya gak  mungkin, tapi pasti itulah yang benar! Yup! Ketika ada wahyu turun kepada  Rasulullah Saw, beliau memerintahkan para  sahabat dan juru tulisnya untuk menghafal  dan menuliskan ayat tersebut, sambil  menunjukkan dimana ayat itu ditempatkan  dalam surat.

Jadi, susunan ayat dan surat Al-Qur’an itu juga merupakan tuntunan wahyu,  bukan asal-asalan.  Hanya saja, pada masa Rasulullah  Saw hidup, tulisan-tulisan ayat itu masih  berceceran, walaupun banyak di antara para  sahabat yang hafal seluruh ayat Al-Qur’an.

Sepeninggal Rasulullah, Allah Swt  mengilhamkan kepada para sahabat  terkemuka di masa Khalifah Abu Bakar ra.  untuk mengumpukan dan merapikan  tulisan-tulisan Al-Qur’an yang berceceran itu  dalam satu tempat.  Tugas mulia ini diemban oleh Zaid  bin Tsabit ra. dengan amat sangat teliti  banget. Walaupun banyak penghafal,  namun pengumpulan ini nggak cukup  mengandalkan hafalan para huffazh saja,  tetapi harus didukung dengan adanya  manuskrip tertulis. Manuskrip ini pun nggak  akan diterima, kecuali setelah disaksikan  oleh dua orang saksi bahwa lembaran ini  ditulis di hadapan Rasulullah saw. Masya  Allah.

Pada masa Khalifah Utsman ra.,  mushaf Al-Qur’an kemudian ditulis ulang  untuk mengatasi perbedaan cara membaca  Al-Qur’an dan mengantisipasi fitnah yang  bisa timbul akibat perbedaan bacaan itu.  Setelah selesai ditulis ulang, mushaf ini  disalin sebanyak 7 buah dan dikirimkan  masing-masing ke kota Makkah, Syam,  Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan  Madinah, agar orang-orang tidak berbeda  pendapat lagi tentang al-Qur`an. Mushaf  inilah yang dikenal dengan mushaf Utsmani.

Salah satu langkah antisipasi yang  lain adalah perintah untuk memusnahkan  selain mushaf Utsmani, yang diamini para  sahabat radhiallahu ‘anhum ‘ajmain.  Selanjutnya kaum muslimin menyalin  mushaf-mushaf lainnya dari mushaf  Utsmani, dengan tulisan dan bacaan yang  sama hingga sampai kepada kita sekarang.  Pada masa Khalifah berikutnya Al-Qur’an  diberi tanda baca untuk menghindari  kesalahan bacaan bagi yang kurang mengerti  tata bahasa Arab. Benarlah firman Allah Swt,  “Sesungguhnya Kami menurunkan adz-Dzikru  (Al-Qur’an) dan susungguhnya Kami benar-benar menjaganya.” (QS al-Hijr:9).

Sudah lebih  dari seribu tahun lamanya kitab ini  mempunyai bacaan dan tulisan yang sama di  seluruh dunia. Coba, kitab mana yang lebih  otentik dari Al-Qur’an?[]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

KITAB PALING OTENTIK

Majalahdrise.com – Beberapa waktu yang lalu dunia  sempat dihebohkan dengan  ditemukannya salinan Al-Qur’an  tertua di universitas Birmingham, Inggris.  Berdasarkan penelitian radiokarbon,  perkamen tersebut diperkirakan berusia  1370 tahun. Menurut peneliti, boleh jadi  salinan ini ditulis tak jauh dari masa Nabi Muhammad Saw hidup. Wih.

Buat kalangan akademisi, orang-orang skeptis, orientalis, ataupun non  muslim yang sekedar penasaran,  penemuan ini pastinya menarik banget,  apalagi ketika manuskrip itu dibandingkan  dengan mushaf Al-Qur’an yang kita pegang  sekarang. Tapi, bagi orang beriman seperti  kita-kita ini, ciee, penemuan manuskrip ini  pastinya nggak akan menambah ataupun  mengurangi keyakinan kita terhadap  keotentikan  Al-Qur’an dong.

Yup, bukan berarti keimanan kita ini  dogmatis alias doktrin alias “udah, yakini  ajah!”, tapi justru keimanan kita bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah itu bersifat  rasional, alias bisa dibuktikan dengan akal  sehat.  Semua orang juga tahu, bahwa Al-Qur’an itu berbahasa Arab. Kalau ada yang  berpendapat berbeda, kayaknya orang itu  perlu dipinjami kamus bahasa arab deh.

Bahkan, Al-Qur’an sendiri pun menegaskan  bahwa kitab ini berbahasa Arab yang terang  benderang (QS An-Nahl:103). Namun  hebatnya, Al-Qur’an mempunyai  keunikan  dalam gaya pengungkapan dan susunan  katanya, yang tak didapati dalam kitab lain,  bahkan yang sekedar mendekatinya pun  nggak ada.

Lebih jauh lagi, Allah kemudian  menantang semua manusia, bahkan berikut jin dan kawan-kawannya sekalian,  untuk membuat satu surat saja yang  serupa dengan Al-Qur’an (QS Al-Baqarah:23), tapi sampai sekarang pun gak  ada yang bisa. Al-Qur’an diturunkan di  tengah-tengah bangsa yang gandrung  dengan puisi dan syair. Tapi, tak ada satu  pun dari penyair Arab yang paling handal  sekalipun, yang mampu membuat karya  seperti al-Qur’an. Inilah mukjizat Al-Qur’an. bersambung……

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

Kopi pertama

Majalahdrise.com – Bagi para begadangers alias orang-orang yang harus tetap melek sampai larut malam, pastinya segelas kopi is a must, alias kudu banget! Secara, kandungan kafein dalam kopi bisa mengurangi keletihan tubuh dan mengembalikan kewaspadaan ketika rasa kantuk menyerang. Selain membuat mata kita melek, kafein juga dapat meningkatkan fokus, mempercepat proses berpikir, serta membuat koordinasi tubuh lebih baik. Tapi tetep hati-hati ya. Kopi juga punya beberapa efek samping negatif bila dikonsumsi berlebihan seperti masalah pencernaan dan pengurangan kepadatan mineral pada tulang. Makanya minum kopi sewajarnya aja ya.

Kata coffee berasal dari bahasa Belanda koffie, yang dipinjam dari bahasa Turki, kahveh, yang merupakan serapan dari bahasa Arab, qahwah. Kemungkinan kata ini berasal dari “Kaffa”, nama tempat di Ethiopia dimana tanaman kopi berasal. Para sejarawan berbeda pendapat mengenai asal mula minuman kopi. Ralph S. Hattox mengutip catatan Fakhr al-Din Abu Bakr Ibn Abi Yazid Al-Makki, yang menyatakan bahwa kelompok sufi dari tarekat Syadziliyah biasa membuat “Al-Qahwa”dengan menggunakan daun “Al-Gat”, sebuah tanaman stimulan yang terkenal di jazirah Arabia. Tapi karena terjadi kelangkaan stok daun Al-Gat di Aden, Syaikh -Dhabhani (d. 1470-71) memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan “bunn”, atau biji kopi, sebagai penggantinya.

Sumber lain yang dikutip Hattox menyatakan bahwa pada awal abad 15 M kopi sudah dijadikan minuman di wilayah Persia. Hal ini diungkapkan oleh Jamaluddin al-Dabhani, mufti wilayah Aden, ketika berkunjung ke Persia. Ketika sakit, sang mufti mencoba menyicipi kopi, dengan harapan kesehatannya bisa membaik. Ternyata bukan hanya sakitnya sembuh, sang mufti merasakan manfaat lain, yaitu mnghilangkan sakit kepala, menambah semangat dan mengusir kantuk. Mufti Jamaludin kemudian merekomendasikan minuman kopi kepada para sufi agar untuk meningkatkan stamina ketika shalat malam.

Sumber dari Turki mencatat penemuan kopi pada tahun 1258, ketika seorang syaikh bernama Umar yang memakan biji kopi karena kelaparan. Bahkan catatan medis mengenai khasiat kopi tercantum dalam kitab Al-Qanun fi al-tib, magnum opusdari Ibnu Sina (selesai ditulis 1025 M). Sebelumnya ar-Razi juga menyebutkan beberapa khasiat medis pada kopi. Sedangkan menurut William H. Ukers, penemuan kopi bisa dilacak hingga tahun 750 M di Ethiopia ketika seorang gembala bernama Khalid yang mengamati perubahan tingkah laku kambing gembalaannya setelah memakan tanaman tertentu, yang kemudian dikenal dengan tanaman kopi.

Dari catatan-catatan sejarah yang ada maka bisa disimpulkan bahwa kopi ditemukan oleh muslim sebelum abad 10 M. Pertama kali dibudidayakan dan dikonsumsi di Yaman, alih-alih memakan bijinya, orang Yaman merebus biji kopi sehingga lahirlah minuman yang kemudian disebut Al-Qahwa. Diperkirakan bahwa pengguna kopi yang pertama kali adalah para Sufi untuk membantu mereka tetap melek saat dzikir dan shalat malam.

Abd-Al-Qadir Al-Jaziri (sekitar tahun 1558) dalam bukunya ‘Umdat al-Safwa fi hill al-qahwa, dari Fakhr al-Din Abu Bakr Ibn Abi Yazid Al-Makki yang menyebutkan bahwa al-qahwa memasuki Mekkah di abad 9 H (15 M). Setelah populer di Makkah dan Madinah, trend ngopi pun dibawa ke seluruh penjuru dunia oleh para jemaah haji dan pedagang. Al-Qahwa pun memasuki lingkungan Al-Azhar di Kairo, dan pada awal abad 15 M, Kiva Han, coffee shop pertama di Istanbul dibuka.

Di dalam Istana Turki Utsmanilah cara baru minum kopi ditemukan: biji kopi dipanggang di atas api, digiling kemudian serbuknya diseduh dalam air panas. Kopi kemudian menjadi bagian yang vital dalam hidangan istana. Bahkan ada jabatan khusus untuk pembuat kopi bagi Sultan, yaitu Chief Coffee Maker (kahvecibasi), yang dipilih berdasarkan loyalitas dan kemampuannya menjaga rahasia. Tak perlu waktu lama kopi menyebar dari Istana hingga rumah-rumah rakyat jelata. Coffehouse kemudian mejadi bagian dari budaya sosial di Istanbul. Bahkan seorang penjelajah Inggris bernama Charles Mac Farlane mengatakan “Orang Turki tak bisa hidup tanpa kopi”.

Dari Turki, kopi dibawa ke Italia oleh pedagang Venesia, dan tak lama kemudian menjadi komoditas perdagangan antara Venesia dengan Amalfi, Turin, Genoa, Milan, Florence dan Roma, hingga kemudian menyebar ke seluruh Eropa. Trend ngopi juga dibawa ke Eropa melalui para duta besar yang bertugas di Istanbul. Seperti halnya berbagai item yang diimpor dari negeri Muslim, kopi juga sempat ditentang oleh kaum gerejawan.  Bahkan Paus Clement VIII (1536-1605) dipaksa untuk mengharamkan konsumsi kopi! Konon, sang Paus mencabut larangannya setelah menyicipi sendiri nikmatnya ngopi.Setelah mendapat legitimasi dari Paus ini kopi semakin menyebar hingga ke Inggris Perancis, Belanda,Indonesia,  Amerika, dan seluruh penjuru negeri. Dan trend ngopi biar melek yang sampai sekarang masih berlangsung ini ternyata diawali oleh semangat untuk dzikir dan shalat malam![]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 48

Perawi Hadits Terbanyak

Majalahdrise.com – D’Riser pasti sudah pada familiar deh dengan nama Abu Hurairah. Secara, banyak hadits yang kita baca, diawali dengan “diriwayatkan dari Abu Hurairah.. dst”. Wajar aja sob, soalnya, Abu Hurairah ini merupakan sahabat Rasulullah Saw yang paling banyak meriwayatkan hadits. Jumlah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Ra. sebanyak 5374 hadits lho!

Tau nggak sih, sebenarnya Abu Hurairah bukanlah nama asli dari sang perawi hadits ini. Nama asli beliau adalah Abdu Syams bin Shakhr ad-Dausiy, tapi setelah masuk Islam namanya diganti menjadi Abdurrahman. Abu Hurairah berarti “bapak kucing kecil”, julukan itu disematkan karena beliau sangat menyukai kucing dan sering membawa kucing kesana kemari.

Menurut al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani, Abu Hurairah masuk Islam ketika Rasulullah Saw. masih berdakwah di Makkah, melalui perantara Thufail bin Amru Ad-Dausiy Ra., salah satu pembesar kabilah bani Daus. Thufail bin Amru sendiri masuk Islam setelah bertemu Rasulullah di Makkah, kemudian berdakwah di kampung halamannya. Salah seorang yang pertama kali menyambut ajakan Thufail bin Amru ini adalah Abu Hurairah. Tapi, Abu Hurairah baru berhijrah ke Madinah pada masa peristiwa Khaibar, 7 tahun setelah Hijrah.

Persahabatan Abu Hurairah dengan Rasulullah Saw. memang relatif singkat, yaitu sekitar 4 tahun. Tapi, masa 4 tahun itu digunakan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu dari Rasulullah Saw. Abu Hurairah tak pernah absen dari majelis-majelis Rasulullah. Tidak hanya belajar langsung dari sumbernya, Abu Hurairah juga merekam kata demi kata yang terucap dari mulut Nabi Saw, dan menyimpan setiap momen persoalan yang Rasulullah selesaikan.

Satu keistimewaan yang dimiliki oleh Abu Hurairah tetapi tidak dimiliki oleh sahabat yang lain adalah ingatannya yang sangat kuat. Abu Hurairah bisa mengingat semua perkataan dengan detil betapapun panjangnya. Dan ingatan itu bisa ia pertahankan hingga akhir hayatnya. Awalnya, Abu Hurairah sering lupa hafalannya, kemudian beliau mengadu kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. kemudian mendoakan Abu Hurairah, sejak saat itu beliau tak pernah lupa dengan hafalannya.

Doa Rasulullah Saw. ini semakin menambah motivasi Abu Hurairah untuk menimba Ilmu. Demi mendengarkan dan menghafal sabda-sabda Rasulullah Saw, Abu Hurairah rela menjadi Ahlu as-Shuffah (para sahabat yang hidup di beranda masjid), dalam keadaan faqir dan tak memiliki harta. Tak jarang beliau harus menanggung rasa lapar dan haus hingga beberapa hari. Meski demikian, Abu Hurairah lebih memilih untuk terus menuntut ilmu sambil mengikat batu di perutnya sebagai pengganjal rasa lapar.

Abu Hurairah berkata, “Orang-orang banyak yang heran, bagaimana aku dapat meriwayatkan hadis begitu banyak. Sebenarnya ketika saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin banyak yang berdagang dan saudara-saudara dari kaum Anshar sibuk berladang, aku selalu di samping Rasulullah saw.”

Abu Hurairah r.a. pernah bercerita kepada Abdullah bin Umar r.a., “Aku selalu bersama Rasulullah saw. di saat orang lain tidak berada di situ. Pekerjaanku hanyalah menghafal apa yang telah disabdakan Rasulullah saw. dan aku tidak makan selain yang diberikan Rasulullah saw. kepadaku.”

Tak hanya zuhud dan ahli beribadah, Abu Hurairah juga tidak ketinggalan melaksanakan tugas di medan pertempuran, baik pada masa Rasulullah Saw hidup maupun setelah beliau Saw. meninggal. Beberapa ekspedisi yang pernah diikuti oleh Abu Hurairah diantaranya adalah perang Khaibar dan perang di Wadi Al Qura’, ekspedisi Dzatur Riqa’, Perang Tabuk, Perang Mu’tah, Perang Riddah dan Perang Yarmuk.

Sepeninggal Rasulullah Saw., Abu Hurairah tinggal di Madinah dan mengajarkan Hadits. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Abu Hurairah sempat diangkat menjadi wali (gubernur) Bahrain, namun beliau kembali ke Madinah, dan kemudian diangkat menjadi wali Madinah pada masa Khilafah Umayyah.

Tidak hanya dikaruniai ingatan yang kuat, Allah juga menganugerahi Abu Hurairah umur yang panjang, yaitu kurang lebih 78 tahun. Abu Hurairah wafat pada tahun 681 Matau 59 H dan dimakamkan di Baqi’. Diceritakan bahwa menjelang wafat, Abu Hurairah tampak menangis. Orang-orang di sekitarnya lalu bertanya sebab ia menangis, apakah karena takut mati. Abu Hurairah menjawab, “Tidak, saya menangis karena saya tahu akan menghadapi perjalanan yang sangat jauh namun perbekalan saya sangatlah sedikit”. MasyaAllah, mudah-mudahan kita bisa meneladani Abu Hurairah Ra. []

di muat di majalah Remaja islam Drise Edisi 47