KARPET PALING JETSET

Majalahdrise.com – Pernah dengan kisah Aladin dan Karpet Terbang? Ini kejadiannya di Timur Tengah. Makanya yang dipake karpet. Kalo ceritanya di Indonesia, mungkin diganti tiker atau spanduk terbang. Hehehe… Dari dulu, karpet sudah menjadi ikon Timur Tengah. Karpet memang eksotik dan artistik! Walaupun bukan berasal dari Islam, tapi peradaban berperan besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan penggunaan karpet, sehingga furniture yang satu ini menjadi salah satu karya seni yang berharga dan simbol kemapanan.

Berdasarkan temuan dan catatan sejarah, penggunaan karpet merupakan tradisi yang cukup tua. Karpet tenun tertua yang ditemukan adalah karpet Pazyryk yang ditemukan di Pegunungan Altai (selatan Siberia) yang diperkirakan berasal dari abad ke 6 SM. Sementara itu sejarawan Herodotus dalam catatannya di abad 5 SM menyatakan bahwa penduduk daerah Kaukasus menenun karpet-karpet indah yang warnanya tak pernah pudar.

Di Persia, Anatolia, dan juga jazirah Arab, karpet memiliki posisi yang penting dalam kehidupan, terutama bagi suku-suku badwi yang hidup nomaden. Selain digunakan untuk menutupi lantai, karpet digunakan sebagai salah satu material untuk tenda, juga tirai, pelana, dan selimut. Dengan datangnya Islam, nilai karpet (permadani) semakin bertambah karena disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu kekayaan yang diberikan kepada para penghuni surga. Dari dunia Islam, karpet paling tua yang masih bertahan adalah potongan karpet dari tahun 821 M yang ditemukan di Fustat (Mesir).

Industri karpet di Fustat ini diperkirakan berawal di permulaan abad ke 8 M, dan berdasarkan teknik anyaman dan dekorasinya, karpet Fustat ini dianggap sebagai prototipe dari karpet Andalusia yang berkembang belakangan di Spanyol. Pada masa kesultanan Seljuk, karpet dari dunia Islam mencapai level paling tinggi dari segi desain maupun teknik pembuatannya. Karpet buatan mereka tersebar di wilayah Persia dan Baghdad pada abad 11 M. Sejarawan seni Islam seperti Ettinghausen, beranggapan bahwa bangsa Saljuklah yang menciptakan karpet “islami”.

Yup, karpet-karpet muslim memang mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu motifmotifnya yang didominasi oleh pola-pola geometris, floral (tumbuhan), dan kaligrafi. Hal ini karena jumhur ulama Islam melarang gambar makhluk bernyawa, terutama pada karpet yang digunakan untuk shalat. Sementara itu di Eropa, sebelum mengimpor karpet, sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa lantai-lantai di Eropa ditutupi dengan sejenis rerumputan yang disebar di atas lantai dan diganti secara berkala. Praktek ini masih berlangsung hingga abad 15 M. Terkait praktek ini Erasmus (1466- 1536) mengungkapkan;

“Rerumputan dalam ruangan kadang diganti, tapi cuma sebagian, sementara lapisan bagian bawahnya tak disentuh sama sekali, bahkan terkadang sampai 20 tahun tak diganti. Padahal rerumputan itu mengandung ludah, muntahan, air kencing anjing dan orang, tumpahan bir, potongan ikan, dan segala macam najis yang tak layak disebut. Ketika cuaca berubah, maka uap dari segala macam kotoran itu akan terhirup, yang menurut saya sangat merugikan kesehatan”.

Di kemudian hari rerumputan itu kemudian dianyam menjadi tikar, dan segera menggantikan fungsi lapisan rumput sebagai penutup lantai. Sejarah datangnya karpet ke negeri Eropa adalah kontak dengan negeri-negeri Islam di masa Perang Salib. Bangsa Eropa sangat kagum dengan karpet-karpet muslim sehingga dikategorikan sebagai barang mewah. John Sweetman, penulis buku “The Oriental Obsession: Islamic Inspiration in British and American Art and Architecture 1500-1920” mengungkapkan bahwa maskawin yang diberikan Raja Edward I dari Inggris pada Ratu Eleanor pada tahun 1255 diantaranya adalah karpet-karpet Andalusia. Di Perancis karpet muslim sudah populer pada zaman Louis IX (1215-70) yang dikenal dengan nama “tapis Sarrasinois”, bahkan di tahun 1277 ada hak khusus untuk perdagangan tapis-tapis ini.

Bukti dari apresiasi bangsa Eropa terhadap karpet muslim tergambar dalam lukisan-lukisan para seniman Eropa di masa renaissance yang sering menampilkan karpet bermotif kotak-kotak khas karpet Utsmani. Misalnya pelukis Hans Holbein Jr., saking seringnya Holbein menyertakan karpet Utsmani dalam lukisannya, sampai-sampai karpet-karpet itu dikenal dengan “karpet Holbein”. Karpet-karpet itu bisa dilihat misalnya dalam lukisan French Ambassadors karya Holbein, dan The Madonna with Canon van der Paele karya Jan van Eyck.

Menurut Ettinghausen, tak diragukan lagi bahwa karpet melahirkan kekaguman yang sangat pada masyarakat kelas atas di Eropa. Penghargaan mereka bisa diukur dengan fakta penggunaan karpet dalam upacara pemahkotaan raja dan acara-acara penting lainnya. Selain dari karpetnya itu sendiri, posisi negeri-negeri Islam sebagai pusat peradaban juga berkontribusi terhadap penyebaran tren karpet di Eropa. Ya pantas, pada masa itu negeri Islam adalah negeri maju, sementara Eropa adalah negeri-negeri yang baru berkembang. Jadi, sistem Islam atau Khilafah itu tidak akan mengembalikan kita ke zaman onta, justru akan membuat kita maju, sebagaimana bangsa Arab yang dulunya tak beradab menjadi bangkit sebagai mercusuar peradaban. [Ishaak, diolah dari muslimheritage.com]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 53

DIRTIEST PEOPLE (Tahukah D’Riser zat berbahaya yang dimaksud?)

Majalahdrise.com – Pada abad  16 sampai  18 Masehi,  di tengah-tengah  masyarakat benua  Eropa menyebar ketakutan terhadap suatu  zat yang konon sangat berbahaya bagi  tubuh. Ambroise Pare, tabib raja-raja  Perancis, pada tahun 1568 memperingatkan  masyarakat akan bahaya zat tersebut, yaitu  “bisa membuat badan jadi lembek dan  membuka pori-pori kulit, sehingga bisa  menyebabkan berbagai uap yang berbahaya  memasuki tubuh, yang bisa mengakibatkan  kematian mendadak”.

Senada dengan Pare,  Theophraste Renaudot, yang juga dokter  dari Perancis menjelaskan bahwa zat  berbahaya ini merupakan “musuh dari  jaringan syaraf dan otot, yang bisa  melemahkan badan”. Tahukah D’Riser zat  berbahaya yang dimaksud? Zat itu ialah air! Yup, itulah kepercayaan orang Eropa di  abad pertengahan akan bahaya air bila  menyentuh kulit. Akibatnya, orang-orang  Eropa di masa itu jarang mandi. Frekuensi  mandi mereka rata-rata beberapa kali dalam  setahun, yang paling rajin dan elite adalah sebulan sekali. Yaiks…!

Masyarakat  kelas bawah lebih parah lagi karena  mereka tak pernah mandi sama sekali,  dan hanya mencukupkan diri dengan  mencuci tangan, muka, dan kumur-kumur. Mencuci muka seluruhnya pun  masih dianggap berbahaya karena  dianggap bisa melemahkan  penglihatan, jadi cuci muka pun agak  jarang. Bahkan mereka percaya bahwa  lapisan daki pada kulit justru melindungi tubuh dari penyakit. Hiiy…!  Selain ketakutan terhadap penyakit,  ternyata ada alasan lain yaitu alasan  keagamaan. Sebelum abad pertengahan,  fasilitas pemandian umum sebenarnya  sudah biasa dijumpai, mengingat pada masa  itu masih jarang rumah yang di dalamnya  ada kamar mandi, kecuali di rumah-rumah  para bangsawan dan orang kaya.

Namun  pihak Gereja memberi stigma negatif  terhadap pemandian umum, karena  dianggap menyebabkan perbuatan amoral  dan seks bebas. Dari waktu ke waktu  pembatasan itu semakin banyak, bahkan  sampai ada larangan untuk mandi telanjang.  Stigma negatif terhadap aktivitas mandi  ini juga diyakini oleh kalangan bangsawan  dan aristokrat.  Beberapa penguasa yang  jarang mandi itu diantaranya adalah Raja  Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol.  Menurut kedua penganut agama Kristen  fanatik ini, mandi itu dekat dengan  kefasikan, karena orang yang mandi biasanya tidak pakai baju. Ketika duo jarang  mandi ini menaklukkan Andalusia,  penduduk muslim di sana tak hanya dipaksa  pindah agama, mereka juga dilarang untuk  mandi.

Isabella sendiri dengan bangga  menyebutkan bahwa seumur hidupnya ia  hanya mandi dua kali, pada saat dilahirkan  dan ketika menikah. Masih di Spanyol, Putri  Isabella, anak dari raja Felipe II bahkan  pernah bersumpah untuk tidak mengganti  baju hingga pengepungan Ostend (1601 M)  selesai. Namun ternyata pengepungan itu  baru berakhir 3 tahun kemudian.

Wueks…! Para penguasa Prancis pun, walau  dandanannya paling flamboyan, ternyata  kebiasaannya tak jauh beda. Raja Louis XIV  yang dianggap raja Perancis paling agung,  ternyata menurut seorang diplomat Rusia,  bau badannya seperti binatang liar.  Dibanding bangsa Eropa lainnya, frekuensi  mandi orang Rusia masa itu memang agak  lebih sering. Sebagai gantinya mereka dicap  sebagai bangsa yang paling mesum dan  amoral di mata bangsa Eropa lain. Untuk mengatasi masalah bau badan  tanpa harus mandi, para bangsawan Eropa menggunakan parfum dan  bedak wangi untuk  menyembunyikan busuknya bau  badan mereka. Alasan lainnya,  konon istana-istana di Perancis  walaupun mewah, tapi seringkali  dikotori oleh perilaku jorok  penghuninya, yakni sering BAB  sembarangan. Tak jarang  seonggok kotoran manusia  ditemukan di atas karpet di  koridor maupun tangga.

Itulah  kenapa Perancis terkenal dengan  parfumnya, demi menangkal  segala macam bau yang  menusuk hidung.  Selain memakai parfum,  solusi lain adalah dengan sering  mengganti baju dalam sehari.  Sayangnya, harga parfum dan  pakaian sangat mahal, sehingga,  parfum dan pakaian yang putih  bersih merupakan simbol  kekayaan.

Sementara rakyat  jelata harus puas dengan baju  yang tak pernah diganti  bertahun-tahun serta harus  terbiasa dengan berbagai macam bau  menyengat di sekitar mereka. Iya sob,  seakan bau badan saja gak cukup,  lingkungan pun beraroma neraka akibat  gaya hidup yang tidak higienis. Jalanannya  becek dan dipenuhi dengan kotoran dan air  kencing, karena mereka biasa  menumpahkan isi chamber pots (belanga  tempat buang air) mereka ke jalanan.

Ugh…! Kita semua patut bersyukur karena  memeluk agama Islam yang sangat  menghargai kebersihan. Kita tentu hafal  dengan ungkapan “Kebersihan adalah  sebagain dari iman” (an-nadhafatu minal  iman). Meskipun ungkapan ini bukan hadits,  tapi maknanya tidak menyimpang karena  Islam memang menyeru kepada  kebersihan. Ada banyak aturan dalam Islam  terkait dengan kebersihan, misalnya saja  perintah istinjak, perintah menjauhi najis,  perintah membersihkan pakaian, larangan  untuk buang air sembarangan, juga  perintah untuk wudhu dan mandi. Inilah  salah satu ajaran Islam yang mulia.  Tentunya kita bangga dong jadi seorang  muslim. Betul?! [].

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 52

 

PIRI REIS, THE GENIUS CARTOGRAPHIST

Majalahdrise.com – Piri Reis adalah seorang admiral,  sekaligus geografer dan kartografer  (pembuat peta) yang hidup di abad  16 Masehi, pada masa pemerintahan Sultan  Salim I dan Sulaiman al-Qanuni dari  Khilafah Utsmaniyah. Piri Reis dikenal  berkat buku panduan navigasi (Kitab-i  Bahriye) dan peta dunia buatannya, yang  tergolong detail dan dianggap paling akurat  pada zamannya.

Saking akurat dan  miripnya dengan peta modern, ada peneliti  yang berspekulasi bahwa pembuatan peta  tersebut dibantu oleh alien! Weleh weleh,  ada-ada aja deh. Nama lengkapnya adalah Hadji  Ahmad Muhiddin Piri bin Hadji Mehmed  Piri, sedangkan embel-embel Reis  merupakan gelar atau jabatannya di  angkatan laut yang setara dengan admiral  (laksamana).

Piri Reis lahir di Gallipoli pada  kisaran tahun 1465-1470, dan meninggal  pada tahun 1555 M. Karirnya di dunia  maritim diawali dengan mengabdi di bawah  komando Kemal Reis, pamannya sendiri  yang juga seorang pelaut ulung. Piri Reis  ikut serta dalam berbagai pertempuran laut  beserta sang paman, diantaranya yaitu  perang Zonchio (1499) dan perang Modon  (1500).

Setelah pamannya meninggal, Piri  Reis kemudian mengabdi pada admiral  Khaireddin Barbarossa Pasha. Berkat kegigihan dan kesuksesannya di medan  pertempuran, tahun 1547 ia naik pangkat  menjadi admiral yang membawahi armada  kapal tempur di perairan Mesir. Di sela-sela kesibukannya berjihad,  Piri Reis merancang peta dunia yang  dirampungkan pada bulan Muharram 919 H  (1513 M). Yang mengejutkan, dalam peta ini  terdapat juga benua Amerika, sehingga  menjadi peta Turki pertama yang memuat  peta “Dunia Baru”.

Peta Amerika yang  digambar Piri Reis juga merupakan salah satu  peta benua Amerika tertua di dunia. Selain  didasarkan pada catatan pelayaran, Piri Reis  juga mengambil rujukan dari peta-peta dan  catatan-catatan lain yang lebih tua. Salah  satunya adalah peta yang dirancang sendiri  oleh Columbus yang didapatkannya ketika  merebut 7 kapal Spanyol di tahun 1501. Pada zaman itu kehadiran peta  memang sangat penting di dunia pelayaran.  Bila suatu negara mengetahui lokasi pulau  dan rute-rute pelayaran yang tak diketahui  oleh negara lain, maka negara itu akan  mendominasi perdagangan di laut. Karena  alasan inilah, masing-masing negara menjaga  peta-petanya dengan ketat. Peta-peta ini tak  boleh digandakan sembarangan dan hanya  akan diserahkan kepada kapten kapal yang  dipercaya negara. Jadi, peta pada masa itu  adalah aset negara yang berharga.

Maka tak  heran juga kalau setiap negara berlomba- loma membuat peta yang  paling akurat. Pada abad 16  M Inggris dan Perancis  menawarkan imbalan  sebanyak 40 batang emas  bagi siapa saja yang bisa  membuat peta yang akurat  dari benua Amerika bagian  manapun. Nah, aspek yang  teristimewa dari peta  rancangan Admiral Piri  adalah tata letak benua dan  kepulauan serta akurasinya  yang tak tertandingi pada  masa itu, terutama pada  benua Afrika dan Amerika.  Bahkan peta-peta lain yang  digambar puluhan tahun setelahnya pun,  tak seakurat dan seproporsional peta  rancangan Piri Reis. Padahal, seumur  hidupnya sang Admiral belum pernah  berlayar ke Amerika.

Walaupun sebagian petanya dibuat  dengan menyalin dan menggabungkan dari  peta-peta yang sudah ada sebelumnya, tapi  sebenarnya ini bukan pekerjaan mudah.  Peta-peta yang didapatkannya lebih berupa  fargmen-fragmen kecil, begitu pula dengan  peta Amerika, pada saat itu belum ada peta  yang menunjukkan seluruh garis pantai  benua Amerika dengan lengkap.

Namun  berkat pengalaman dan kecerdasannya Piri  Reis bisa menggabungkan fragmen-fragmen  kecil itu menjadi sebuah peta besar yang  lengkap dan akurat. Mungkin dari sinilah muncul spekulasi alien dari para pecinta  science fiction.  Selain benua Amerika, peta Piri Reis  juga memuat sebagian benua Eropa, pesisir  barat Afrika, dan kepulauan Atlantik. Pada  tahun 1517 Piri Reis menghadiahkan peta  dunia ini kepada Sultan Salim I. Selama  menjalankan berbagai misinya di laut Piri  Reis terus menyempurnakan peta dunia  tersebut yang berhasil diselesaikan pada  tahun 1528.

Peta dunia yang sudah diupdate  itu kemudian diserahkan kepada Sultan  Sulaiman sebagai penerus dari Sultan Salim I. Antara tahun 1521-1525, Piri Reis  kemudian menyusun Kitab-i Bahriye, yang  berisi informasi detail tentang navigasi dan  petunjuk pelayaran, yang disertai peta-peta  yang akurat yang menjelaskan berbagai kota  dan pelabuhan penting di wilayah Mediteran.  Selain itu kitab ini juga memuat informasi  tentang berbagai teluk, tanjung, selat, pulau,  tempat pendaratan yang aman, bahkan  informasi tentang penduduk lokal dan  budayanya di masing-masing kota dan  pelabuhan. Semua ini dimaksudkan untuk  memandu para pelaut agar selamat hingga  tujuannya.

Versi final dari kitab ini setebal  434 halaman dan memuat 290 peta besar,  yang kemudian dihadiahkan kepada Sultan  Sulaiman. Dari berbagai karya kelautan yang  ada pada masa itu, Kitab-i Bahriye dianggap  sebagai himpunan paling lengkap yang  digunakan sebagai standar petunjuk  pelayaran di sekitar Laut Tengah. Inilah salah  satu sosok teladan kita. Luar biasa![]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 51

The First chemists

majalahdrise.com – Alkimia (alchemy) diperkirakan lahir di  daerah Cina, pada abad ke 4  sebelum Masehi, yang tujuan  utamanya yaitu membuat ramuan yang  bisa memperpanjang usia. Nggak heran,  praktek kimia kuno ini diliputi dengan sihir  dan takhayul.

Pada periode awal ini, ide-ide  dan resep-resep alkimia terinspirasi dari  sains Yunani kuno, agama-agama pagan,  dongeng-dongeng, serta berhubungan  dengan astrologi dan  klenik. Teori-teori yang menjadi landasan  alkimia kuno diantaranya adalah beberapa  kepercayaan seperti bahwa segala materi  terdiri dari 4 elemen: air, api, bumi dan  udara.

Yup, kepercayaan yang kembali  populer gara-gara serial Avatar Aang ini  ternyata pertama kali dikemukakan oleh  Aristoteles (384 – 322 SM). Juga bahwa  emas adalah logam paling “mulia” dan  “murni”;  bahwa transmutasi dari logam  satu menjadi logam lainnya dimungkinkan  dengan mengubah komposisi campuran  dari 4 elemen dasar; Serta kepercayaan  terhadap batu bertuah (sorcerer  stone) yang esensial dalam proses  transmutasi logam menjadi emas;  dsb.

Kepercayaan-kepercayaan ini  kemudian mendorong  dilakukannya berbagai macam  eksperimen yang menghasilkan  berbagai teknik dalam pembuatan  gelas, pengolahan kulit, logam,  bahkan obat-obatan. Namun, cita-cita utama para alchemist ini, yaitu  membuat ramuan awet muda dan transmutasi belerang menjadi emas  ternyata tak pernah kesampaian. Sampai  sekarang.

Nah kemudian datanglah masanya  ilmuwan-ilmuwan Islam. Mereka  menyingkirkan segala jenis khurafat dan  takhayul dalam ilmu pengetahuan dan  mengecam percampur adukan antara klenik  dan sains. Misalnya Al-Kindi yang mengkritik  eksperimen transmutasi dalam  Kitab at-tanbih ‘al khata’ al-kimiyyawiyyin (peringatan  kepada para alkimiawan).

Kemudian Ibnu  Khaldun dalam kitab Muqaddimahnya juga  mengecam praktek penipuan para  alkimiawan yang memoles perhiasan perak  dengan lapisan emas tipis. Para ilmuwan  Islam inilah penarik batas yang  membedakan alkimia –yang sarat dengan  klenik- dengan ilmu kimia modern yang  murni sains.

Salah satu bapak dari ilmu kimia  modern adalah Jabir ibnu Hayyan atau  Geber (722-815). Karya-karyanya  diantaranya adalah Al Khawass al-kabir (Buku  Besar Sifat Kimia), al-Mawazin (berat dan timbangan), al-Mizaj (Kombinasi kimia) dan  al-Asbagh (pewarna). Jabir juga memelopori  dasar-dasar operasi kimia seperti sublimasi,  liquifasi, sublimasi, oksidasi, amalgamasi,  kristalisasi, distilasi, evaporasi dan filtrasi.

Ia  juga membedakan berbagai macam asam,  membuat tinta yang bisa terbaca dalam  gelap, teknik glazur untuk keramik dan  teknik-teknik lainnya. Setelah Jabir lahirlah Al-Kindi (801–873)  yang mengabdi di istana khalifah al-Ma’mun  dan al-Mu’tashim (dari dinasti Abbasiyah).

Karyanya dalam bidang kimia adalah Kitab  kimiya’ al-‘itr (kimia parfum), yang berisi  lebih dari 100 resep minyak wangi, salep, air  aromatik dan pengganti atau imitasi dari  obat-obatan yang mahal harganya. Satu lagi ilmuwan yang sangat  berperan dalam pengembangan ilmu kimia  adalah Muhammad ibn Zakariya Al-Razi  yang di Barat dikenal dengan nama Rhazes.  Dialah yang pertama kali menuliskan rincian  berbagai proses kimia seperti kalsinasi (al-tasywiya). Pelarutan atau solusi (al-tahlil),  sublimasi (al-tas’id), amalgamasi (al-talghim),  cerasi (al-tasymi), dan metode untuk  mengubah substansi menjadi pasta atau  padatan lunak. Al-Razi juga yang pertama  kali menyaring minyak bumi sehingga  menjadi minyak tanah, dan bahkan  menciptakan sabun batangan pertama di  dunia.

Selain al-Razi, kimiawan  Islam lainnya adalah al-Majriti  dari Madrid (950-1007), yang  dikenal dengan karyanya yaitu  kitab Rutbat Al-Hakim, yang  diantaranya membahas formula  dan petunjuk-petunjuk  pemurnian logam mulia. Al-Majriti jugalah yang pertama kali  mencetuskan teori konservasi  massa, 8 abad sebelum Lavoisier.

Terkait ilmu kimia ini, sejarawan Will  Durant menulis dalam The Story of  Civilization IV: The Age of Faith: “Kimia adalah  ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh  kaum muslim; yang dalam bidang ini, ketika  orang-orang Yunani tidak memiliki pengalaman  industri dan hanya memberikan hipotesis yang  samar-samar, para ilmuwan muslim  mengantar pada pengamatan teliti, eksperimen  terkontrol, dan catatan yang hati-hati.

Mereka  menemukan dan memberi nama alembic (al-anbiq), menganalisis substansi yang tak  terhitung banyaknya, membedakan alkali dan  asam, menyelidiki kemiripannya, mempelajari  dan memproduksi ratusan jenis obat.  Alkimia  yang diwarisi kaum Muslim dari Mesir,  menyumbangkan untuk kimia ribuan  penemuan insidental, dari metodenya, yang  paling ilmiah dari seluruh kegiatan di zaman  pertengahan”. Hebat ya guys?

Mungkin inilah  hikmahnya mengapa Al-Qur’an mengajak  manusia untuk berfikir, merenungi segala  ciptaan Allah di alam semesta, serta  melarang untuk bergelut dalam perkara yang  gaib, apalagi mempercayai takhayul dan  mempraktekkan sihir. Bisa-bisa waktu  berabad-abad terbuang hanya untuk  mengejar khayalan semacam immortal potion  & sorcerer stone. Gaje![Ishak]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 50