Virus Paling Ganas

Majalahdrise.com – D’Riser tau nggak sih, tanggal 1 Desember diperingati sebagai World AIDS Day alias Hari AIDS Sedunia. Yup, walaupun baru-baru ini dunia digalaukan dengan virus Ebola yang nggak kalah dahsyat dari AIDS, bukan berarti dunia sudah aman dari serangan negara api, eh, virus HIV. Penyakit AIDS merupakan wabah yang sangat berbuahaya D’Riser, sehingga digolongkan ke dalam 8 masalah Kesehatan Global (Global Health Issues).

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)

adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), yaitu virus yang menghancurkan atau mengganggu fungsi dari sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia. Bedanya dengan Ebola yang akan menular hanya dengan kontak cairan tubuh secara langsung dengan penderita yang menunjukkan gejala-gejala sakit parah, penularan HIV seringkali tak disadari karena bisa jadi orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala sakit sama sekali! Ngeriii!

Virus ini bisa menyebar melalui penyaluran cairan reproduksi, darah, dan air susu ibu (ASI). Tapi, seorang yang terinfeksi virus HIV tidak akan langsung menderita AIDS. Virus HIV akan menggerogoti sistem kekebalan tubuh rata-rata dalam waktu 10 tahun atau kurang. Ketika sistem imun tubuhnya sudah sangat rusak, barulah orang itu akan menderita AIDS. Penderita AIDS (biasa disebut ODHA) akan rentan dari berbagai penyakit ganas yang biasanya tidak menjangkiti orang-orang dengan sistem imun yang sehat. Bila tidak dirawat, rata-rata ODHA hanya bisa bertahan hidup 3 tahun saja. Sereem!

Virus Ebola

Seperti halnya Ebola, HIV/AIDS juga belum ada obat penyembuhnya lho, yang baru ada sekarang hanyalah terapi dan perawatan untuk memperlambat penyebaran virus HIV. Padahal, sudah puluhan tahun berlalu sejak penyakit ini pertama kali ditemukan. Menurut pelacakan tim peneliti dari universitas Oxford, Virus yang sudah menginfeksi hampir 75 juta orang di dunia ini berasal dari kota Kinshasa (Republik Demokratik Kongo) pada tahun 1920.

HIV diyakini merupakan mutasi dari SIV (simian immunodeficiency virus) yang menjangkiti simpanse, yang menular kepada manusia karena proses berburu. Virus ini kemudian semakin menyebar akibat merajalelanya pelacuran dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril di kota yang sedang tumbuh tersebut. Seiring dengan berkembangnya sarana transportasi masuk dan keluar Kinshasa, virus HIV pun menyebar di wilayah Afrika dan akhirnya ke seluruh dunia.

Virus HIV memasuki Amerika di kisaran tahun 1980an, dan menyebar terutama di kalangan homoseksual (gay) dan pecandu narkoba yang menggunakan jarum suntik. Sebelumnya di tahun 1960, Amerika mengalami apa yang disebut “revolusi seksual” (sexual revolution) atau “pembebasan seksual” (sexual liberation), yang menggugat dan menjungkirbalikkan norma-norma sosial dan tata krama seksualitas. Yang semula tertutup menjadi terbuka. Yang semula terbatas menjadi bebas. Yang semula sembunyi-sembunyi, menjadi perayaan. Bahkan film porno pun ditayangkan untuk umum di bioskop. Hororr!

Maka dari itu, nggak heran bila di Amerika virus mematikan ini menyebar lebih cepat dibanding di negara lain. Bahkan karena banyak menjangkiti kaum gay, Pemerintahan Reagan pun menganggap AIDS sebagai “azab” dari Tuhan. Di Indonesia, kasus AIDS pertama ditemukan di Bali, yang diderita oleh seorang wisatawan asal Belanda. Dari tahun ke tahun, jumlah ODHA di Indonesia terus meningkat. Data Kemenkes, jumlah kasus HIV/AIDS yang tercatat sejak 1987 hingga Juni 2014 di Indonesia sebanyak 198.584 orang, dimana kasus HIV sebanyak 142.961 orang dan AIDS 55.623 orang. Naudzubillah…

Penderita AIDS di dunia maupun di Indonesia, mayoritas diakibatkan karena perilaku yang menyimpang, baik homoseksual, biseksual maupun seks bebas dan pelacuran. Dari para pelaku maksiat ini, AIDS bisa menyebar kepada “orang tak berdosa” melalui transfusi darah, pernikahan bahkan pada janin yang masih dalam kandungan.

Karena itu, solusi terbaik untuk mengatasi masalah AIDS ini adalah solusi preventif, alias mencegah penyebaran virus HIV sampai ke akar masalah diantaranya yaitu menghilangkan praktek seks bebas dan homoseksual. Islam, sejak 14 abad yang lalu sudah mengharamkan zina dan liwath (homoseksual) dengan tegas dan keras. Bukan cuma itu, celah-celah yang bisa mengantarkan terhadap zina dan liwath pun ditutup sedemikian rupa, misalnya melarang lelaki & perempuan berkhalwat (berduaan), melarang pacaran, melarang untuk tidur dalam satu selimut baik antara laki-laki maupun perempuan, sampai pada larangan untuk melihat aurat.

Inilah salah satu hikmah dari ketatnya aturan Islam dalam urusan seksual, tidak lain untuk melindungi manusia dari kehancuran akibat perbuatan manusia sendiri. Padahal ketika kerusakan itu terjadi, yang kena bukan hanya para pelaku kebejatan itu, tapi termasuk juga orang-orang lain di sekitar mereka. Makanya D’Riser, daripada maksiat, mendingan taat, InsyaAlloh selamat dunia akhirat.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

ALBUCASIS, MBAHNYA AHLI BEDAH

Majalahdrise.com – Eits, Albucasis ini bukan kakeknya Al Pacino loh ya… Melainkan nama latin dari Abu al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas Al-Zahrawi (936–1013), seorang dokter Muslim yang berasal dari Andalusia. Atas kontribusinya di dunia kedokteran dan pembedahan, Al-Zahrawi disebut sebagai bapak ilmu bedah modern. Bahkan, ia dianggap sebagai dokter bedah terhebat dalam sejarah dunia kedokteran Islam.

Kontribusinya yang paling penting dalam dunia pengobatan

Al –Zahrawi lahir tahun 936 Masehi di Madinat al-Zahra, dekat Cordoba, Andalusia. Al-Zahrawi merupakan keturunan Arab yang bermukim di Spanyol ketika Spanyol masih berada dalam naungan Islam. Kontribusinya yang paling penting dalam dunia pengobatan adalah karyanya yaitu Kitab Al-Tasrif li-man ‘ajaza ‘an al-ta’lif, sebuah ensiklopedi pengobatan dan pembedahan sebanyak 30 jilid (maqalat).

Kitab setebal 1500 halaman ini memberi pengaruh besar dalam perkembangan dunia kedokteran dan pembedahan di Eropa setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada akhir abad 12 Masehi oleh Gerard of Cremona, yang kemudian diterjemahkan lagi ke berbagai bahasa lainnya seperti Prancis dan Inggris. Kitab ini merupakan acuan baik bagi siswa ilmu kedokteran maupun dokter praktek karena memuat semua permasalahan klinis yang dikenal saat itu.

Kitab Al-Tasrif juga memuat ilustrasi peralatan bedah paling awal disertai dengan penjelasannya. Jumlah peralatan bedah yang dijelaskan kitab ini tak kurang dari 200 alat. Beberapa alat itu merupakan ciptaan Al-Zahrawi sendiri. Bahkan, Al Zahrawi juga menunjukkan bagaimana cara penggunaan alat-alat tersebut dalam praktek pembedahan yang sebenarnya. Kitab ini menjadi kitab pertama dalam sejarah yang memuat ilustrasi dan penggunaan alat bedah.

Dua jilid awal kitab Al-Tasrif diterjemahkan ke dalam bahasa latin sebagai Liber Theoricae, yang menjelaskan kurang lebih 325 jenis penyakit serta gejala-gejalanya, dan tentunya cara penanganan penyakit tersebut. Dalam Liber Theoricae ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia kedokteran, Al-Zahrawi menjelaskan kelainan pendarahan yang bersifat menurun, dimana darah tak bisa membeku dengan sendirinya ketika terjadi luka atau pendarahan. Penyakit yang dimaksud al-Zahrawi ini sekarang dikenal dengan hemofilia.

Jilid ke 28 dari kitab Al-Tasrif berisi tentang farmasi, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Liber Servitoris. Tetapi dari 30 jilid kitab ini, jilid terakhir tentang pembedahanlah yang paling banyak berpengaruh dan paling terkenal. Hampir semua penulis dan ahli ilmu bedah Eropa mulai abad 12 sampai 16 Masehi merujuk kepada kitab karya Al-Zahrawi. Dalam jilid khusus pembedahan ini Al-Zahrawi mengembangkan semua aspek pembedahan dan berbagai cabangnya, mulai dari oftalmologi dan penyakit pada telinga, hidung dan tenggorokan, pembedahan pada kepala dan leher, pembedahan umum, hingga kebidanan dan ginekologi, bahkan termasuk obat-obatan militer, urologi dan bedah ortopedi.

Al-Zahrawi membagi jilid pembedahan ini ke dalam 3 bagian, yaitu bagian kauterisasi sebanyak 56 bab; bagian pembedahan sebanyak 97 bab; dan bagian ortopedi sebanyak 35 bab. Maka nggak heran deh kitab Al-Zahrawi ini menjadi salah satu rujukan terpenting di semua universitas di Eropa yang menyebabkan orang Eropa semakin haus dengan literatur kedokteran Islam.

Eropa masih berkubang dalam kebodohan

Al-Zahrawi telah berjasa meningkatkan level ilmu pembedahan sebagai ilmu pengetahuan tingkat tinggi. Di zamannya, pembedahan merupakan keahlian khusus yang dipraktekkan oleh dokter-dokter terkemuka. Sebaliknya pada masa itu, Eropa masih berkubang dalam kebodohan sehingga operasi pembedahan malah dianggap sebelah mata yang dilakukan oleh tukang cukur dan tukang jagal. Bahkan, tahun 1163 M Konsili Tours menetapkan resolusi bahwa pembedahan “untuk ditinggalkan oleh sekolah-sekolah kedokteran dan oleh semua tabib yang terhormat”.

Tapi jangan lupa D’Riser, prestasi beliau ini juga didorong oleh keimanan Al-Zahrawi sebagai seorang Muslim, seperti halnya ilmuwan-ilmuwan muslim lainnya. Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Anas, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah ketika menciptakan penyakit, Allah ciptakan obatnya, maka berobatlah”. Tentunya capaian Al-Zahrawi ini pun nggak lepas dari peran Negara Islam pada saat itu (kekhalifahan Umayyah) yang mendukung aktivitas riset kedokteran dengan seluas-luasnya, demi kesehatan umat.

‘Calle Albucasis’.

Embahnya ahli bedah ini emang udah tutup usia  usia di kota Cordoba pada tahun 1013 M – dua tahun setelah tanah kelahirannya dijarah dan dihancurkan. Namun namanya masih diabadikan menjadi nama jalan kehormatan yakni ‘Calle Albucasis’. Di jalan itu terdapat rumah nomor 6, tempat Al-Zahrawi tinggal. Kini rumah itu menjadi cagar budaya yang dilindungi Badan Kepariwisataan Spanyol. Inilah salah satu bukti sejarah ketinggian peradaban Islam di bawah naungan khilafah. Saatnya gencarkan dakwah untuk mengembalikan kejayaan Islam demi melahirkan Albucasis baru generasi milenium. Yuk! [Ishaak]

Di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #41

 

PIONER KULINER

drise-online.com – pernah bertanya siapa pioner kuliner? Ketika penduduk di berbagai daerah di luar jazirah Arab masuk Islam sejak abad ke 7 M, kaum Muslimin menemukan berbagai macam buah dan sayuran yang belum pernah mereka kenal sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan bagi kaum muslimin untuk menanam kembali tanaman dan pepohonan berbuah tersebut di wilayah mereka dengan iklim yang berbeda, sehingga mendorong terjadinya revolusi pertanian Islam.

Misalnya gula. Sebelum mengenal gula, manusia menggunakan madu sebagai pemanis makanan. Ketika Daulah Abbasiyah menaklukkan wilayah utara India pada kisaran abad 750 M, mereka membawa pulang pohon tebu dan membudidayakannya secara besar-besaran sehingga tersebar di seluruh wilayah kaum Muslimin, termasuk Andalusia (sebagian Spanyol) dan Afrika Utara. Sementara, orang Eropa utara baru mengenal “madu yang tumbuh di pohon tanpa lebah” ini 400 tahun kemudian, yang dibawa pulang oleh Pasukan Salib. Tau nggak, kata “sugar” itu sendiri berasal dari bahasa India “sakkara”, dan kata “candy” berasal dari bahasa Arab untuk gula yaitu “qand”. Ketika Salahudin al-Ayyubi menaklukkan kembali Asia Barat dari Pasukan Salib, mereka mencoba menumbuhkan tebu di kampung mereka di Eropa Utara, tapi gagal. Karena itulah harga gula di Eropa ketika itu sangat mahal sekali, dan hanya orang kaya saja yang mampu membelinya.

Seiring dengan revolusi agrikultur tersebut, para ilmuwan dan ahli pengobatan Muslim pun meneliti berbagai macam herbal dan rempah-rempah yang belum dikenal sebelumnya, sehingga bisa dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan, mereka menjadi otoritas utama dalam menentukan apa yang dimakan dan kapan waktu memakannya. Beberapa karya penting ilmuwan tersebut misalnya kitab Al-Hawi (tentang pengobatan) karya Muhammad bin Zakariya ar-Razi (865-925); Al-Qanun fi t-Tibb (tentang pengobatan) karya Ibnu Sina (980-1037); Khalq al-Janin wa Tadbir al-Hibala (gizi untuk janin dan ibu hamil) karya Ibnu Sa’id al-Qurthubi (abad 10 M); dan kitab al-Aghdia (tentang nutrisi) karya Abu Marwan Ibnu Zuhr (1092-1161).

Jadi, dalam peradaban Islam, seni masak memasak nggak berkembang secara random bin acak, melainkan sebuah ilmu tersendiri, yang berdasarkan pada penelitian medis yang cermat serta masukan dari para ahli gizi. Bahan-bahan terbaik dipilih dan diramu menjadi masakan yang selanjutnya disebar luaskan kepada masyarakat. Sehingga, masyarakat memasak makanan yang bukan cuma lezat, tapi juga bergizi tinggi bahkan punya efek terapis untuk memperkuat daya tahan tubuh dan memperlambat proses penuaan. Ini baru maknyos!

Seiring dengan bertambahnya resep-resep masakan, para penulis pun mengumpulkannya ke dalam kitab-kitab resep. Beberapa kitab resep yang terkenal misalnya: Kanz al-fawâ’id fi tanwî ‘al-mawâ’id (Anonim, dari Mesir abad 10 M);   Fadhalât al-khiwân fi atayyibat di-ta’âm wa-‘l-‘alwân (Ibnu Razin Attujîbî, Andalusia abad 12 M); at-tabîkh fi al-Maghrib wa-‘l-Andalus(Anonim, Maroko abad 12 M); Kitab at-tabîkh (Mohammed al-Baghdadi, Irak abad 13 M); Kitab at-tabîkh (Ibn al-Warraq Sayyâr, Irak abad 13 M); Tadhkira (Dawud al-Antaki,Suriah abad 13 M); Wasla ‘l-habib fi wasf al-tayyibât wa-t-tibb (Ibn’ Adim, Suriah abad 13 M).

Sehingga, untuk pertama kalinya dalam sejarah, makanan yang dahulu hanya tersedia di dalam istana kerajaan, dalam peradaban Islam makanan itu (beserta cara memasaknya) bisa dinikmati oleh semua kalangan.

Pada abad 13 M, buku-buku pengobatan dan resep-resep kaum Muslimin itu menarik perhatian bangsa Eropa untuk mempelajarinya. Kota Ferrara, Salerno, Montpellier dan Paris menjadi pusat pembelajaran karya medis peradaban Islam. Permintaan untuk masakan-masakan khas Muslim dan rempah-rempah pun meningkat.

Kitab-kitab pengobatan dan masakan karya ilmuwan-ilmuwan Islam tadi kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin lalu diterjemahkan lagi ke dalam bahasa-bahasa daerah di Eropa untuk kepentingan para tabib dan juru masak. Misalnya buku Tacuinum Sanitatis adalah terjemahan dari kitab Taqwim al-Sihha (Pemeliharaan Kesehatan, abad 11 M) karya Ibnu Butlan, yang isinya banyak disalin, bahkan salinannya pun diplagiasi di berbagai negara.

Bukan cuma cara memasak, urutan penyajian hidangan ala kaum Muslimin pun juga dicontek; salad atau sup sebagai hidangan utama lalu diakhiri dengan hidangan penutup (dessert), berasal dari anjuran Ar-Razi dan ibnu Zuhri. Sementara itu kaum aristokrat Eropa, umumnya mereka benci sayuran, dan santapan mereka sebagian besar terdiri dari daging. Akibatnya banyak di antara mereka yang menderita asam urat (gout).

Nah D’Riser, itulah beberapa warisan peradaban Islam dalam dunia kuliner. Bukan sekedar enak bin kenyang, Kaum Muslimin dibiasakan untuk memperhatikan bahan-bahan dan cara masak agar makanan yang dihasilkan senantiasa halalanthayyiban. Sebuah kutipan dari sabda Rasulullah Saw “untuk jasadmu ada hak atasmu” (HR Bukhari), menuntun kita untuk menyantap makanan yang baik bagi tubuh, dan menghindari konsumsi makanan yang berbahaya bagi kesehatan. Ajaran Islam memang keren! [Ishak, dari berbagai sumber]

 

BOX

Beberapa masakan yang berakar dari peradaban kaum Muslimin.

  1. Beberapa penggunaan pasta dicatat oleh seorang petualang, Ibnu Bakri (11 M). Bahan pembuat pasta adalah gandum jenis durum, yang dibawa oleh kaum Muslimin ke Sicily dan Spanyol abad 10 M.
  2. Es Krim. Kata ‘cassata‘ dalam bahasa Italia untuk es krim berasal dari bahasa Arab ‘qashda‘ (krim). Pengawas pasar pada abad ke-12 di Sevilla, Ibnu Abdun, mencatat adanya penjualan qashda. Pada waktu itu teknik pengawetan dan penyimpanan es sudah bukan hal ajaib lagi di negeri Muslim.
  3. Nah, ini yang ironis. Hari ini Perancis-lah yang terkenal dengan kue-kuenya, padahal, abad 14 M, kue-kue adalah barang baru sampai-sampai sang raja menugaskan prajurit berjaga di toko tempat kue-kue itu pertama kali dijual.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi #40

Dekorasi paling rumit

drise-online.com D’Riser, kalo kita perhatikan masjid atau bangunan peninggalan peradaban Islam, mata kita akan dimanjakan dengan seni kaligrafi yang super keren. Bukan cuman itu, kita juga sering menemukan pola-pola geometris yang menghiasi dinding atau lantainya. Yang bikin berdecak kagum, pola-pola itu kelihatan sangat rumit bin kompleks. Wajar aja kalau orang bertanya-tanya “bagaimana cara membuatnya?” Secara, zaman dulu kan belum ada copy-paste mas bro. Lagipula banyak pola geometris itu tidak berulang (non-repetitif), jadi ga bisa di copy-paste!

Dalam geometri,

ubin-ubin berbentuk segi tiga, segi empat, dan segi enam bisa disusun rapat secara periodik untuk membuat pola yang berulang (repetitif). Tapi, pola geometris Islam juga seringkali berbentuk segi 5 atau lebih dari 6. Padahal ubin segi 5 atau lebih dari 6 seperti itu tidak bisa disusun secara periodik tanpa menghasilkan gap atau celah-celah kosong di antaranya. Itu sebabnya segi 5 disebut “simetri terlarang” (forbidden symetry).

Karena itu, awalnya para ilmuwan dan sejarawan mengira pola-pola itu digambar dan diukir manual secara lanDekorasi paling rumit - DRISE-ONLINE.COMgsung di atas dinding atau lantai dengan bantuan penggaris dan kompas. Suatu proses yang sangat rumit karena setiap bentuk harus digambar dengan ukuran yang tepat. Padahal, pola tersebut melingkupi area yang luas. Bisa dibayangkan berapa lama waktu dan kerja keras yang harus dilakukan oleh para pengukir pola tersebut. Tapi anehnya, pola-pola geometris itu terlihat sempurna, padahal, seandainya pola itu digambar manual, pasti akan ada beberapa garis yang agak “mencong” (tidak pas), yang bisa terdeteksi pada dinding yang luas. Kenyataannya garis mencong itu hampir tidak ada! Luar biasa!

Hal ini juga yang menggugah rasa penasaran Peter J. Lu, seorang peneliti asal universitas Harvard, ketika ia berkunjung ke Uzbekistan, tahun 2005. Lu terpukau dengan keindahan dan kerumitan pola geometris pada dinding sebuah madrasah yang dibangun pada abad 15 M di Bukhara. Lu meyakini, pasti ada teknik tertentu yang digunakan untuk membuat pola yang rumit itu. Berbagai situs ia kunjungi, ribuan foto ia teliti, Lu belum menemukan rahasianya sampai ia meneliti sebuah gulungan kuno di museum Topkapi, Turki. Gulungan itu berisi rancangan pola geometris yang sangat rumit dan tidak berulang yang dibentuk oleh garis tebal berwarna biru dan merah. Tapi, di bawahnya terlihat garis merah tipis yang memecah rancangan pola yang kompleks itu ke dalam 5 bentuk dasar. Eureka!

Lu menemukan, ternyata pola yang rumit itu tidak diukir secara manual, tapi dibuat dengan bantuan 5 ubin tertentu yang berbentuk dekagon (segi 10), heksagon (segi 6) panjang, heksagon pita, pentagon (segi 5) dan belah ketupat. Dengan menyusun ubin-ubin ini sedemikian rupa, para tukang bisa membuat pola-pola yang sangat rumit dan luas, bahkan tak berulang, dengan mengikuti beberapa aturan sederhana tanpa perlu memahami prinsip-prinsip matematika yang berada di baliknya. Apalagi kalau ubin-ubin itu sendiri juga bergambar atau bergaris, maka pola yang dibuat akan terlihat lebih kompleks. Ubin dasar ini kemudian dinamai ubin girih (girih tiles). Hebatnya, ketika model teselasi (pengubinan) secanggih ini sudah mulai diterapkan sejak abad 12 M, padahal, teori matematikanya sendiri belum “ditemukan” ilmuwan hingga ratusan tahun kemudian!

Sebelumnya, tahun 1974 Roger Penrose menemukan model pengubinan Penrose dengan 2 bentuk ubin dasar, yaitu ubin berbentuk panah dan layang-layang. Ubin Penrose ini memecahkan misteri simetri terlarang, yang membuktikan bahwa simetri segi 5 bisa disusun rapat secara aperiodik sehingga menghasilkan pola non repetitif. Kelima ubin girih yang ditemukan Lu juga sebenarnya merupakan kombinasi dari ubin-ubin Penrose, tapi dengan teknik girih, jumlah ubin bisa dikurangi sehingga lebih praktis dan tidak terlalu rumit.

Kemudian, tahun 1982 Prof. Dan Schechtman dari Technion University Israel menemukan struktur pola kuasikristal pada susunan atom-atom dalam logam, yang mengantarkannya pada hadiah Nobel. Ternyata bentuk pola kuasikristal ini

malah sudah terpampang duluan di dinding-dinding peninggalan peradaban Islam.

Beberapa peninggalan yang memiliki dekorasi pola kuasikristal yang mendekati sempurna, diantaranya komplek Darb-i Imam (1453) di Isfahan, Iran; halaman Madrasah al-’Attarin (1323) di Fez, Maroko; dan dinding makam Gunbad-I Kabud (1197) di Maragha, Iran. Dari 3.700 ubin di Darb-i Imam yang dipetakan oleh Lu dan pembimbingnya, Paul Jl. Steinhardt, ternyata hanya ditemukan 11 kecacatan kecil saja. Wow.

Diakui oleh Lu dan Steinhardt, bahwa dekorasi peninggalan peradaban Islam ini sangat matematis dan canggih, bahkan memimpin dunia di abad pertengahan. “Ini bisa jadi membuktikan bahwa matematika memiliki peran besar dalam seni Islam abad pertengahan, atau bisa jadi ini hanya metode yang digunakan para seniman untuk mempermudah dalam membangun karya mereka ….. Setidaknya ini menunjukkan pada kita bahwa peradaban yang seringkali tidak kita hargai ini ternyata jauh lebih maju dari yang kita sangka sebelumnya.”

Driser, dekorasi super rumit tapi keren yang menghiasi peninggalan budaya menjadi bukti tingginya peradaban Islam di masanya. Kejayaan Islam saat itu ditopang oleh institusi khilafah yang ngasih ruang yang luas dan gratis bagi cendekiawan muslim untuk mengekplorasi kepiawaiannya dalam mengembangkan peradaban Islam. Saatnya kita kembalikan kejayaan Islam melalui tegaknya khilafah yang mengikuti jejak kenabian. Yuk![]