Selfie: Eksis atau Kurang Percaya diri?

Suci Sri Yundari

drise-online.com – Selfie (foto narsis) adalah jenis foto potret diri yang diambil sendiri dengan menggunakan kamera digital atau telepon kamera. Foto narsisis sering dikaitkan dengan narsisisme, terutama dalam jejaring sosial. Pose yang digunakan umumnya bersifat kasual, dan diambil dengan menggunakan kamera yang diarahkan ke diri sendiri, atau bisa juga melalui cermin (www. WikipSelfie Eksis atau Kurang Percaya diri - DRISE-ONLINE.COMedia.com)

Sobat, Istilah Selfie sendiri sebenarnya sudah sejak lama, akan tetapi kata selfie sendiri nge-trend akhir-akhir ini, karena seiring dengan perkembangan jaringan sosial seperti facebook, twitter ataupun instagram yang memudahkan seseorang untuk upload foto berbagi dengan lain sehingga mendapatkan pujian atas foto tersebut. Semakin bagus foto sobat maka akan semakin banyak komentar pujian dari teman2 sobat dan semakin terkenal sobat didunia jaga raya dunia maya karena kecantikan atau ketampanan sobat.

Berbagai macam trik-trik agar mendapatkan foto selfie yang bagus dimulai dari berpose lucu dengan wajah bebek, menggunakan cermin, mencari background bagus, pengaturan pencahayaan, dll. Foto selfie sendiri bisa dilakukan dimanapun dan yang paling sering dilakukan dengan latar belakang di dalam mobil. Foto selfie juga bisa dilakukan kapanpun dari bangun tidur ampe tidur lagi, kalau gak selfie gak keren deh. Akhirnya selfie bikin ketagihan untuk diupload di sosial media.

Sobat tau gak, ada beberapa kejadian loh kisah seorang cwek suka mengupload foto cantiknya disosmed lalu diajak ketemuan oleh seorang cowok dan akhirnya cowoknya kecewa karena foto nya tidak sama dengan aslinya. Ternyata seperti kotak ajaib aja, foto selfie itu terkesan“lebih cantik/tampan” dari pada aslinya sehingga banyak yang suka berselfie ria. Ada juga karena ingin pujian cantik/tampan gak didapat didunia nyata akhirnya dengan selfie bisa mendapat pujian cantik/tampan dan bisa membangun rasa percaya diri. Jadi didunia nyata kurang percaya diri dengan fisiknya dengan berselfie dengan pengaturan sana sini akhirnya jadi cantik/tampan dan mendapat pujian.

Sobat tau gak, mesin pencari Yahoo memperkirakan bahwa pada 2014 ada sekitar 880 miliar foto akan diupload. Itu berarti ada 123 foto untuk setiap orang pria, wanita dan anak-anak, kebanyakan foto tersebut adalah selfie. Wow ….fantastis. Di Inggris, sebuah survei untuk Samsung menemukan bahwa 17 persen laki-laki dan 10 persen perempuan, mengambil selfies karena mereka menikmati ketampanan atau kecantikan diri mereka sendiri. (http://teknorc.blogspot.com).

Sebenarnya, kalau diliat-liat apa kebanyakan alasan sobat muda untuk selfie dan mengupload foto di sosmed? Jika tujuan untuk mendapat pujian kecantikan atau ketampanan, sebaiknya sobat muda mengurungkan niat tersebut karena siapa yang berhak mendapatkan pujian tersebut selain dari Sang Pencipta, Allah swt. kita hanya makhluk ciptaan-Nya diciptakan Allah swt dengan bentuk sempurna dan hanya Dia-lah yang berhak mendapat pujian atas ciptaan Nya.

Sobat, jika suka akan pujian berlebihan apapun itu ingatlah pesan Rasulullah saw sangat mewanti-wanti bahwa pujian bisa mematikan iman.

“Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli.” (HR. Ad-Dailami).

Tidaklah kecantikan atau ketampanan yang dinilai orang lain “lebih” bisa membuat sobat sombong dan ini tentu bahaya sobat. Ingat gak sobat, selendang kesombongan itu hanya milik Allah swt.

Dari Ibnu Abbas RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman : Sombong itu adalah selendang-Ku dan kebesaran itu adalah pakaian-Ku, maka barangsiapa mencabut salah satunya dari-Ku, Aku akan melemparkan orang itu ke neraka”. [HR. Ibnu Majah,dlm Targhib wat Tarhib juz 3,hal.563]

Nah sobat, kalau ada yang bilang “selfie tujuan buat mengexplor diri” ya bisa jadi tujuan seperti itu, tetapi kalau diupload disosmed tujuan buat apa ya? Sobat, setiap aktifitas kita dinilai dari dua hal yaitu niat dan caranya sesuai dengan Aturan Nya. Sebenarnya gak masalah sobat, kalau selfie sesekali terus disimpan dihandphone untuk mengabdikan bersama sahabat orang terdekat-ingat ya sebatas mahram- tetapi tidak diupload disosmed cukup disimpan sebagai kenang-kenangan dengan sobat. Keseringan upload di sosmed alih-alih ingin mendokumentasi malah ketagihan pujian, gak mau dikritik, merasa lebih dari lain, jiwa yang rapuh, dll. Sudah ada beberapa tulisan yang sering mengatakan terlalu sering selfie bisa mengakibatkan gangguan mental.

Sobat muda, di era modern ini dengan lingkungan era teknologi canggih, baiknya kita memilah memilih mana yang baik dan buruk untuk diri kita dan masa depan kita. Tentu standarnya adalah hukum syara’. Hukum asal benda adalah mubah, selama tidak ada dalil mengharamkan. Berfoto adalah benda dan itu adalah mubah. Akan tetapi diliat lagi aktifitasnya yaitu objek fotonya misalnya foto campur baur laki dan perempuan, tentu hal ini tidak boleh alias haram dalam islam apalagi foto berdua dengan pacaran yang jelas keharamanya. Sebagai seorang muslim/muslimah sejati marilah kita mengikuti tata cara

di muat di Majalah Remaja islam Drise #37

Whoever Wins, We Lose..!

drise-online.com – Kampanye sekarang aneh-aneh deh. Walaupun saya tahu, namanya juga usaha. Yaa… usaha mencari suara dengan menarik perhatian masyarakat. Yang paling mnarik perhatian saya adalah adanya foto salah satu caleg yang ditutupi wajahnya dengan topeng karakter tokusatsu Kamen Rider Faiz, caleg yang bersangkutan adalah Muchammad Faiz,ST (caleg DPRD Provinsi KalBar dari PAN). Saya tidak tahu ini editan foto atau bukan, karena saya kok gak heran juga kalau itu betulan. Sebab menurut saya kampanye sekarang memang lebih mengarah kepada iklan jualan saja. Rupanya kampanye politik sudah menjadi dagelan tersendiri. Entah apa ini indikasi kejengahan masyarakat? Sepertinya begitu ya…

Itu yang terjadi di komunitas pecinta budaya Jepang, terutama anime dan tokusatsunya. Ada yang fotonya diganti wajah Son Goku, Naruto dsb. Lebih dahulu sebelum 2014, di jejaring sosial ada parodi pasangan caleg, yaitu Bang Haji Bolot dan Malih. Lucu memang… Kepemimpinan bukan lagi hal yang dianggap serius bagi masyarakat negeri ini. Masyarakat telah kehilangan figur pemimpin sejati yang mampu melayani mereka sebagaimana seharusnya. Bang Haji Bolot dan Malih adalah tokoh lawakan, sementara Kamen Rider, Son Goku, Naruto, walaupun mereka super hero, tapi mereka hanyalah fiksi. Khayalan.

Di dunia nyata pun, di musim politik kali ini, kita masih harus menerima kenyataan diusungnya orang-orang yang bisa menaikan penjualan partai, yang notabene jauh dari ekspektasi masyarakat. Salah satunya penggandengan seleb oleh partai. Saya sangsi akan kelayakkan figur tersebut. Apalagi kalau melihat track record si artis yang minim pengalaman politik. Mau jadi apa Indonesia ke depannya? Ini bukan berarti, orang-orang yang sudah bangkotan di parpol jadi lebih terjamin lho.

Menurut saya, yang terpenting adalah visi parpol dan caleg/capres. Tentu kita semua menginginkan pemimpin yang mampu membawa Indonesia dan masyarakatnya menjadi lebih baik. Bagaimana mungkin bervisi ingin memperbaiki Indonesia dengan mengusung orang-orang yang tidak mumpuni, dan lebih kepada politik pencitraan, demi kepentingan pribadi atau parpol, bukan masyarakat?

Karena selama jenis orang-orang yang diusung itu adalah yang sedemikian rupa, nasib kita tidak akan jauh berbeda dari setiap hajatan lima tahunan. Siapapun yang menang nantinya dalam pemilu, kita selaku masyarakat, tetap kalah. Hanya akan terus menjadi korban kebobrokan demokrasi dan kebijakan sekuler. Hmmm   seperti tagline dalam film Alien VS Predator: WHOEVER WINS, WE LOSE![]

By: Ranting Rizkiatinuasih, SiswiPelajar di Bekasi

di muat di majalah remaja islam Drise edisi #36

Novel Islami Bikin Keki?

oleh : Fakhirah Robbaniy

drise-online.com – Saya suka sekalee novel! Apalagi kalau lihat novel nganggur mata nggak bisa ditahan buat nggak baca, pokoknya baca deh… Nah, novel Islami juga termasuk yang gemar saya baca, mulai dari yang bahasanya renyah sampai yang bikin mengkerut dahi saya lahap deh. Apalagi temen saya suka banget beli novel yang hampir mirip-mirip judulnya. Kayak misalnya, ‘Air mata Bidadari, Senyum Bidadari, Bidadaripun Menangis’, dan masih banyak judul bidadari lainnya…(eits…ini judul hanya karangan saya aseli, jadi fiktif belaka. Tapi, kalau ada yang nemuin judul yang sama, itu tanpa kesengajaan yak…hehehehe ) karena saya tipe pembaca omnivora super alias gak pilih-pilih kalau baca. Jadi novel begitu biasanya saya lahap juga.

Sebel…sebel…sebel….Tahu nggak kenapa? Karena kebanyakan novel Islami yang saya baca, isinya bikin enek bin senep. Nih, pengarang ngerti nggak sih tentang apa yang dia tulis? Atau penerbitnya yang nggak ngerti! Sebab banyak novel yang embel-embelnya Islami, tapi bikin hati nyeri. Dan kebanyakan (eits…bukan semua lho!) ditulis begini  ‘Novel Islami Inspiratif’ ada juga yang begini, ‘Novel Islami Penggugah Spiritual’ dan juga ada ‘Novel Islami yang benar-benar mencerminkan nilai Islam,” dan banyak lainnya deh. Apalagi kalau endorsemennya  (komentar di cover buku) ditulis oleh salah seorang  kyai pesantren terkemuka, tokoh politik Islam, Dai yang sering nongkrong di tipi, penulis novel Islami lain, petinggi Universitas Islam, atau mantan santripun jadi, asal  endorsemennya  menarik. Nah, dari endorsemen berbagai tokoh inilah yang kadang-kadang bisa menipu konsumen. Soalnya, biasanya endorsemen itu isinya yang baik–baik aja, jarang kan endorsemen itu isinya maki-maki tuh novel. Coz, bisa diedit ma editornya kalau bahasanya agak negatif dan miring buat karya itu, terus nggak sedikit yang endorsemennya terlalu berbunga-bunga padahal isinya juga, hufh…sesak napas saya, silahkan kira-kira sendirilah!.

Pernah saya baca novel, cerita singkatnya kira-kira begini. Ada gadis cantik, sholihah, pinter,  baik, bla..bla..bla..(dan segala karakter malaikatnya deh) tapi dia miskin, terus akhirnya dia terpaksa membanting tulang ke kota  dan nebeng di rumah keluarga tantenya yang seorang misionaris. Nah, jendela kamar dia berhadapan sama jendela rumah sebelah, yang ternyata kamar seorang cowok yang diceritakan gaul tapi alim (coz parameternya rajin adzan di mushola komplek yang sepi dan si cewek juga rajin ke mushola gitu deh…). Nah, gaswatnya karena si cewek ini sering ngaji malem-malem dipinggir jendela yang kebuka, si cowok jadi betah ngeliatin secara diem-diem, truz… akhirnya mereka diceritakan sering berdiskusi dan mendalami masalah agama berdua. Gubrak banget, kan!

Yaelah…bung pengarang, itu namanya berkholwat, saya aja ngerti kalau berduaan malem-malem meski nggak duduk berdampingan itu termasuk berkhalwat. Jangankan malam, pagi-pagipun kalau cuma ngobrol berdua di suatu tempat dan nggak ada oranglain lagi namanya juga khalwat. Apalagi disitu juga diceritakan,  istilah pengarang ‘minta solusi’, tapi istilah saya ‘curhat’, jadi gini si cewek itu sering disiksa ma tantenya yang misionaris, lalu dia suka curhat ke cowok itu setiap malem dan si cowok yang terenyuh jadi setia menyupport dia. Sekali lagi GUBRAK banget!!! Disana aja udah kelihatan nggak Islaminya… dari tingkah mereka yang setiap hari berbagi cerita, dalih si pengarang mungkin karena masih dianggap Islami selama bukan pacaran, lhah..lhah…lhah…nggak ngerti apa kalau aktivitasnya sama aja kalau gitu… dan banyak lagi deh cerita yang saya temuin bikin geleng-geleng kepala terus. Kalau gini cerita, bisa bikin sesat yang baca kalau si pembaca nggak tahu mana yang bener, nanti bisa-bisa karena dianggap si pengarang melek Islam dan dianggap apa yang ditulisnya itu juga suatu kebenaran. Hiy…serem banget kalau banyak yang sesat gara-gara baca begituan.

Bukan cuma satu dua buku deh yang embel-embelnya Islami tapi dalemnya hoeks…nggak Islami! Banyak banget plend! Dan itu tersebar di berbagai pelosok negri. Ya Allah, saya sempat ingin menyalahkan pengarang dan penerbit serta pemberi endorsemennya. Kalau pengarang nggak ngerti Islam yang bener gimana, ditambah editornya cukup asal ngedit, terus pimpinan redaksi malah buta Islam, diperparah pemberi endorsemennya cuma muji–muji aja, dan penerbitannya hanya ngejar pangsa pasar yang lagi ngetren. Semua itu bikin isi dan mutu dijamin oleh orang yang nggak ngerti. Parahkan?!

Disaat-saat beginilah saya menjadi sedih dan berandai-andai. Seandainya pengarangnya mengerti, penerbit juga mengerti, pemberi endorsemen juga mengerti bagaimana Islam itu memenuhi segala aspek termasuk pergaulan karena Islam bukan sekedar ritual doang. Nah, seandainya lagi negara juga peduli dengan erosi mutu novel Islami begini, pasti novel yang terbit akan sesuai dengan yang seharusnya. Hiks…hiks…hiks…disaat begini kerinduan akan negara Islam yang melindungi mulai dari hal-hal besar hingga hal kecil seperti tentang mutu dan isi buku yang sesuai dengan syariat apa nggak?!,  jadi memuncak. Rindu Khilafah banget deh… Kalau negara peduli, mungkin novel-novel fiksi remaja yang beredar adalah novel yang inspiratif pembangkit keimanan, ketakwaan dan semangat juang. Bukan melulu tentang roman picisan yang bikin syahwat kita dimanja… hiks..hiks..hiks…khilafah segeralah tegak, saya rinduu sekaleee……khilafah!

 

Di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi#9

Gelisah itu.. Membahagiakan, lho!

Gelisah itu.. Membahagiakan, lho!

                                                                              Oleh : Salma Humaira*

gelisah“Aduh, jadi ga enak hati, kok aku jadi ketakutan? Aaah, takut dia marah, aku salah gitu, ya? Yaaah gimana dong?” Itulah sebagian ungkapan yang sering dilontarkan manakala kita sedang diselimuti mantel kegelisahan. Maha Penyayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia menciptakan rasa gelisah untuk membersihkan dinding hati kita. Dan hei! Mengapa kita mesti bahagia saat dirundung rasa gelisah? Hmm … Sebelumnya kita tahu kan apa penyebab kegelisahan? Yap! Semua itu disebabkan lantaran kita telah tergelincir ke dalam lubang kesalahan atau dosa.

Dalam kitab Al-Fawain, Ibnu Qoyyim menjelaskan, “Rusaknya hati adalah karena merasa aman dari azab Allah, suburnya hati adalah karena takut dan berdzikir kepada Allah.” Wah, coba bayangkan bagaimana rasanya jikalau kegelisahan tak pernah menyelami lika-liku kehidupan kita. Meskipun telah melakukan beribu kesalahan dan kejahatan, tapi tetap merasa tenang-tenang saja. Apakah kita mau seperti itu? Tak pernah memperbaiki diri karena merasa selalu benar, jadinya dijauhi orang-orang. Merasa aman baik-baik saja, padahal sudah di ujung jurang kenistaan. Naudzubillah.

Kita gelisah artinya hati kita masih berfungsi. Seperti yang kita ketahui, hati ada 3 macam. Hati yang sehat, hati yang sakit, serta hati yang mati. Semoga kita semua senantiasa memiliki hati yang sehat. Aamiin. Tapi kawan-kawan pun tahu kan, hati yang dimaksud di sini bukan hati yang berfungsi mengeluarkan hasil metabolisme berupa empedu! Tapi, yang dimaksud hati di sini ialah sesuatu yang letaknya tersembunyi. Kalbu.

Ingin tahu kesehatan hatimu? Cobalah menjelajahi ayat demi ayat yang tergores indah dalam Al-Qur’an, apabila kau merasa ada getaran yang menyala-nyala atau matamu mendadak perih ingin meluapkan butiran hangatnya, mungkin (Insya Allah) hatimu masih ada. Namun, apabila beribu muhasabah yang kau arungi tak mampu membuatmu menangis lagi, mohonlah pada-Nya agar diberikan hati yang baru nan bersih. Karena, kuteringat perkataan seseorang. Hati yang sakit itu ibarat tubuh yang sakit, mau seenak apa pun makanannya. Kalau tubuh sedang sakit tiada nafsu tuk menghabiskannya. Begitulah, seindah apa pun ayat Al-Qur’an, takkan mampu menyentuh relung kalbu yang sakit. Astagfirullah.

D’riser, berbahagialah tatkala kamu gelisah setelah melakukan kesalahan. Berarti Allah Subhanahu Wa Ta’ala masih (dan akan selalu) sayang padamu karena telah mengingatkanmu melalui cara yang supeeer halus. “Tapi kan gelisah itu ga enak, gimana menghilangkannya?” Bila kita sungguh-sungguh, Insya Allah kita bisa terbebas dari jeratan kegelisahan itu. Caranya? Kita hanya perlu meminta maaf pada yang bersangkutan. Gengsi? Malu? Kubur dulu percikan rasa gengsi dan malumu itu, yakinlah setelah meminta maaf hatimu akan berangsur-angsur pulih dan membaik. Soal dimaafkan atau tidaknya, pasrahkan semuanya pada Allah. Tawakal. Yang terpenting kita sudah berusaha. Jangan terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Karena seyogyanya kita semua hanya insan biasa yang tak luput dari selaput kesalahan. Lagipula, hanya orang yang tidak pernah melakukan apa-apa yang tidak pernah terpeleset ke dalam kubangan kesalahan. Nah, jika proyek meminta maaf telah diluncurkan. Segera introspeksi dan perbaiki diri, jadikan dirimu yang lebih baik dari hari sebelumnya. Selagi masih diberi kesempatan tuk bernafas!

So, mulai sekarang tak perlulah kita mengurung rasa gelisah itu dengan ketakutan dan kesedihan. Layangkan untaian kata maafmu, bebaskan belenggu ketakutanmu, gunting tali-tali kegengsianmu. Jangan siksa dirimu, meleburlah dalam kedamaian. Dan jadilah orang yang berbahagia. Kita semua berhak mematri kebahagiaan dalam hati.[]