Virus Brutal Dari Layar Kaca

bak Triple H, The Undertaker, dan The Booker, tiga siswa  SMP di Bandung yakni Restu, Iyo, dan Ii mengerjai Reza  BIkhsan Fadillah (9 tahun), tetangga mereka. Tubuh kecil  siswa kelas III SD Cincin I itu mereka angkat, mereka jungkir  balikkan, lalu mereka banting ke lantai. Belum cukup, Reza yang  sudah meringis kesakitan tangannya ditekuk dan dipelintir.  

Krekkk! Akibatnya, sepekan jelang Hari Raya Idul Fitri November  2006, Reza mengeluh tangan kirinya sakit hingga sulit digerakkan.  Hasil rontgen di Rumah Sakit Hasan Sadikin, menyatakan tulang  pangkal lengan kiri Reza terpisah. Urat di tangan kirinya terjepit  tulang. Selain itu, Reza cedera di bagian dalam kepala. Sesudah  beberapa kali pindah tempat perawatan, akhirnya sehari setelah  Idul Fitri 1427 H, Reza tewas di pangkuan bapaknya, Herman  Suratman.

Selidik punya selidik, ternyata kekejian ABG warga  Kompleks Banda Asri, Desa Banda Asri, Kecamatan Cangkuang,  Bandung, itu terinspirasi dari adegan SmackDown. Meskipun  cuman permainan, SmackDown tampak sebagai tayangan gulat  gaya bebas yang keras dan kasar serta alami. Dan itu ditiru  mentah-mentah oleh pecandu tayangannya. Pada 1996 Christian Science Monitor pernah mensurvei  1.209 orangtua yang memiliki anak umur 2 – 17 tahun.

Terhadap  pertanyaan seberapa jauh kekerasan di TV mempengaruhi anak,  56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26%  mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi, dan 11% tidak  mempengaruhi. Jadi, 89% ortu bilang tayangan kekerasan TV  berpengaruh pada perilaku anak. Hasil penelitian Dr. Brandon Centerwall dari Universitas  Washington menguatkan survei itu. Ia mencari hubungan statistik  antara meningkatnya tingkat kejahatan yang berbentuk kekerasan  dengan masuknya TV di tiga negara (Kanada, Amerika, dan Afrika  Selatan).

Fokus penelitian adalah orang kulit putih. Hasilnya, di  Kanada dan Amerika tingkat pembunuhan di antara penduduk  kulit putih naik hampir 100%. Dalam kurun waktu yang sama,  kepemilikan TV meningkat dengan perbandingan paralel. Gimana caranya, tayangan TV mempengaruhi perilaku  penonton? Melalui tiga langkah, Mas Bro.

Pertama, media  memudahkan orang mempelajari “cara-cara baru” kekerasan  yang kemungkinan besar tidak terpikirkan sebelumnya. Ini  disebut copycat crimes. Misalnya pecandu SmackDown   mempraktikkan jurus-jurus kekerasan yang dilihatnya.  

Kedua, de-sensitization effects, berkurang atau hilangnya  kepekaan kita terhadap kekerasan itu sendiri. Studi menunjukkan,  akibat dari banyaknya menonton tayangan kekerasan, orang jadi  cuek terhadap penderitaan atau rasa sakit yang dialami orang lain  (Baron, 1974).

Ketiga, periklanan menganggap tayangan kekerasan lebih  menjual. Studi oleh Bushman dan Bonacci (2002) menemukan, iklan  yang menampilkan kekerasan semakin mudah diingat ketika  ditampilkan di program televisi kekerasan. Menurut Centerwall, TV memang tak langsung berdampak  pada orang-orang dewasa pelaku pembunuhan.

Tapi, pengaruhnya  sedikit demi sedikit tertanam pada si pelaku sejak mereka masih  anak-anak. Dengan begitu ada tiga tahap kekerasan yang terekam  dalam penelitian: awalnya meningkatnya kekerasan di antara anak-anak, beberapa tahun kemudian meningkatnya kekerasan di antara  remaja, dan pada tahun-tahun akhir penelitian di mana taraf  kejahatan meningkat secara berarti yakni kejahatan pembunuhan  oleh orang dewasa.

Ron Solby dari Universitas Harvard secara terinci  menjelaskan, ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi  terhadap perkembangan kepribadian anak. Pertama, dampak  agresor di mana sifat jahat dari anak semakin meningkat; Kedua,  dampak korban di mana anak menjadi penakut dan semakin sulit  mempercayai orang lain; Ketiga, dampak pemerhati, di sini anak  menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain;  Keempat, dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak  untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap  persoalan.

Nah, kebaca dong sekarang. Bisa jadi para pelaku tawuran  pelajar yang lagi rame adalah mereka yang masa kecilnya seperti  Restu, Iyo, dan Ii. Saban hari dicekokin tayangan kekerasan dari  gulat bebas smackdown, bulying sinetron, atau game online yang  berdarah-darah. Kalo kondisi ini dibiarkan terus-menerus, alamat  lahir generasi barbari yang otaknya tumpul dan kreatifitasnya  mandul untuk beresin masalah bangsa.  Saatnya negara lebih peduli. Jangan cuman ngandelin KPI  buat monitoring tayangan televisi. Buang jauh-jauh aturan  demokrasi kapitalis yang bikin negara kehilangan taji. Dalam  menghadapi kebebasan media yang bikin rugi.

Kalo negara nggak  berani, biar Islam yang unjuk gigi. Tegakkan khilafah, terapkan  syariah. Pemicu budaya kekerasan, dijamin tak ada lagi. Catat tuh![]

ASYIK TAPI YAHUDI

Ella ella, ay ay ay, under my umbrella..

tahu kan, ini bukan lagu rayuan  buat Pok Ela penjual nasi uduk,  Tapi buntut chorus dari lagu  Umbrella. Lewat tembang yang  dinyanyikan bareng Jay-Z inilah, Rihanna  penyanyi dari ndeso Barbados jadi  superstar di dunia lepas suara. Umbrella   menduduki peringkat pertama di tangga  lagu Inggris selama 10 minggu berturut-turut.

Menjadikannya lagu paling lama  yang bisa bertengger di puncak.  Rihanna juga menciptakan rekor jumlah  pemirsa konsernya. Album yang  memuat Umbrella  terjual 6,2 juta kopi  di seluruh dunia. Menjadikan Rihanna  menyabet Platinum Award dari Amrik,  Rusia, Inggris, dan Irlandia.  Umbrella  pun ditembang ulang oleh 19 penyanyi  di seluruh dunia. Wow, musiknya memang asyik,  beat-nya rancak, dan ekor chorus-nya  itu lho yang ela ela tea.  

Tapi ntar dulu, inget pesan Bang  Haji Rhoma Irama: Kenapa yang asyik-asyik itu diharamkan? Itulah perangkap  setan. Ya, ternyata kalau kita geledah  lirik Umbrella, mengandung pesan  kejayaan Yahudi  (Zionisme  Internasional).   Coba simak:  

When the clouds come we  gone/we Rocafella/We fly higher than  weather….

Rocafella di dalam lirik itu  melafalkan Rockefeller. Rockefeller salah  satu dari 13 garis keturunan (marga)  illuminati yang menguasai dunia. Di  antaranya John Davis Rockefeller,  pengusaha Yahudi-Amerika. Keluarga  Yahudi lain yang menguasai dunia  adalah Rotschild, yang sejak 2010  memborong sebagian saham Grup  Bakrie milik Abu Rizal Bakrie.

Melalui Rockefeller, ekonomi  Indonesia dikendalikan Mafia Berkeley.  Itu dimulai ketika Presiden Soeharto  mengirim Tim Perekonomian yang  terdiri Prof Sadli, Prof Soemitro  Djoyohadikusumo, dan sejumlah  profesor alumnus Berkeley University,  AS, ke Swiss berembug dengan  konglomerat Yahudi dunia yang  dipimpin Rockefeller. Lirik berikutnya menegaskan  pesan Yahudi:  

Said I’ll always be a friend/Took  an oath I’m a stick it out till the end…

Aku setia dalam  cengkeramanmu, bersumpah selalu  bersamamu sampai akhir. Umbrella bukan sekadar  bermakna payung, tapi mengandung  arti alegoris (perlambang) yakni ”Dajjal”  sebagaimana lambang masonik  berbentuk payung.  Weis, kok jadi serius banget  urusannya? Masih banyak, Bro and Sis, pesan  Yahudi yang terselip di dunia musik, baik  dalam asesoris penyanyi, perilaku  vokalis, lirik lagu, sampai sampul kaset.

Raihanna misalnya, dalam aksi  teatrikal saat manggung di Amerika,  melakukan gerakan yang mewujudkan  All Seeing Eye. Ini dikenal sebagai simbol  A-ok, yakni lingkaran dua jari yang  dilekatkan ke mata. Mata  melambangkan Horus Eye atau Dewa  Matahari (Ra). Nama Dewa ini pun  terselip dalam salah satu bait lagu Bad  Romance yang ditembangkan Lady  Gaga:

Rah-rah-ah-ah-ah-ah/Roma-roma-mamaa/Ga-ga-ooh-la-la/Want  your bad romance.

Artis dan grup ”Wabah Korea”  (Hallyu) yang populer juga membawa  pesan Yahudi seperti A-ok. Misalnya  Dong Hae, Lee Joon, SNSD, Browned Eye  Girls, dan Shinee MV. Di Indonesia,  semua tahu lagu Dewa dan Ahmad  Dhani asyik-asyik. Tapi ya itu, sarat  dengan pesan Yahudi dalam berbagai  bentuknya.  Kalau di genre rock sih sudah  jelas, misalnya simbol-simbol yang  dibawakan pemusik yang memang  berdarah Yahudi macam David Lee Roth  (Van Halen), Gene Simmon dan Paul  Stanley (Kiss) serta Ozzy Osborne (Black  Sabbath).  

Eh, di lagu balada juga ada lho.  Misalnya, siapa sih yang tak terkesima  menyimak lagu ”Donna Donna” yang  dibawakan Joan Baez dengan suara  emasnya. Beuh, jangankan yang  generasi ABG (Angkatan mBah Gue),  generasi anak baru gede jaman  sekarang pun pasti akan terpesona  mendengarnya, asalkan hatinya  selembut sutera seperti kata Jamal  Mirdad (waks, jadul nian!).  Gak tahunya, setelah dilacak di  Wikipedia, lagu itu aslinya berjudul  “Dana Dana”. Bukan ya dana ya dana  yang dinyanyikan Wafiq Azizah itu.  

Dana-Dana adalah sebuah lagu teater  Yidish dari Bahasa Yahudi Ashkenazi  (Yahudi keturunan Khazar  yang  sekarang wilayah negara Georgia).  Lagu yang ditulis Aaron Zeitlin  dan dikomposeri Sholom Secunda ini  menceritakan tragedi pembantaian  anak sapi, yang merupakan alegori atas  ”Holocoust”. Drama pembantaian  Yahudi ini belakangan ketahuan  hanyalah kisah-kisah lebay belaka. Eh, ternyata, Donna-Donna  nama lain dari ”Adonai” yang  merupakan sebutan Kaum Yahudi untuk  tuhannya. Musik: Jalan Yahudi Menggenggam  Dunia Ironisnya, produk industri musik  kapitalisme itu lahap ditelan jutaan  orang Islam utamanya kaum belia.  Sebagian mereka mungkin tidak ngeh  dengan misi Yahudi di dalamnya.  Sebagian lain ngeh tapi tidak tahu harus  berbuat apa.

Tapi yang mengerikan,  sebagian yang tahu tapi tidak mau tahu  alias cuek bebek, karena tak mau  kehilangan yang asyik-asyik. Padahal, dari intervensi atas hal-hal sepele itulah, Yahudi ingin  menggenggam dunia.  Belum lama ini, eks Presiden  Kuba Fidel Castro, melalui tulisannya  mengingatkan  bahwa Bilderberg  Group, sebuah organisasi bayangan,  telah bertransformasi menjadi  semacam pemerintahan global dan  mengendalikan berbagai hal. Tidak  hanya dalam bidang politik dan  ekonomi internasional, bahkan budaya  pun tak luput dari kendali organisasi  tersebut. Hal itu diungkap Castro pada  Rabu, 18 Agustus 2012, dalam tiga  halaman surat kabar milik Partai  Komunis Kuba, Granma. Sebagian besar  tulisan Castro mengutip buku “Rahasia  Kelompok Bilderberg” (2006) karya  Daniel Estulin.

Seperti dikutip Castro, dalam  buku itu Estulin menyebut golongan  jahat dan para pelobi Bilderberg  memanipulasi publik “untuk  menciptakan sebuah pemerintahan  global yang tidak kenal batasan dan  tidak bertanggung jawab pada siapa  pun kecuali dirinya sendiri.” Situs Bilderberg menyebut para  anggotanya “hampir tiga hari  mengadakan diskusi secara informal  dan rahasia mengenai topik-topik yang  dikhawatirkan” setahun sekali.  

Pertemuan-pertemuan itu, katanya,  ditujukan untuk mendorong masyarakat  bekerja sama mengatasi permasalahan  kebijakan besar. Nah, anggota Bilderberg  kebanyakan tokoh berdarah yahudi dan  pro-Zionis antara lain Keluarga  Rockefeller, Henry Kissinger, pejabat  senior AS dan Eropa serta pengusaha  dan pimpinan media internasional. Estulin juga mengungkap  bagaimana Rockefeller Family pada  1950-an mempromosikan musik rock  untuk mengendalikan massa dengan  mengalihkan perhatian mereka dari  hak-hak sipil dan ketidakadilan sosial. “Orang yang ditugasi  memastikan agar rakyat Amerika  menyukai the Beatles adalah Walter  Lippmann,” ungkap Estulin, menunjuk  filosof politik dan mantan kolumnis  surat kabar yang meninggal pada 1974.  “Di AS dan Eropa, banyak konser besar  musik rock yang digelar di tempat  terbuka digunakan untuk meredam rasa  tidak suka masyarakat.” Estulin dalam situs pribadinya  menyebut bahwa serangan 9/11  kemungkinan disebabkan oleh sejumlah  bom nuklir kecil dan bukan tubrukan  pesawat Boeing.

Driser, dari yang asyik sampe  yang berisik, musik emang pantas jadi  teman setia dalam situasi apapun. Tapi  inget, musik yang banyak beredar  pastingga nggak bebas nilai. Ada aja  misi terselubung yang tanpa kita sadari  ternyata bermuatan iluminati dan  ajaran Yahudi. Makanya kita harus hati-hati. Buka mata, buka telinga, buka  pikiran, dan buka internet. Jadilah  remaja melek media. Cari tahu latar  belakang musik yang lagi hit. Jangan  mentang-mentang kedengeran di  kuping enak, terus kita ikut jingkrak-jingkrak. Bisa-bisa kita kebawa ikut  ajaran di luar Islam. Nggak lah yauw![]

POLITIK CITRA PANGKALAN MILITER AMERIKA DI JAKARTA

enovasi Gedung Kedutaan Besar  Amerika Serikat (Kedubes AS) di  RJalan Merdeka Selatan, Jakarta  Pusat, menurut Dubes AS Scot Marciel,  akan menyertakan elemen budaya  Indonesia termasuk motif batik. Dengan  menyertakan motif batik di Gedung  Kedubesnya, Amrik tentu berharap  renovasi gedung bisa diterima Indonesia.  Karena batik telah menjadi bagian dari 76  seni dan tradisi dari 27 negara yang diakui  UNESCO dalam daftar warisan budaya tak  benda melalui keputusan komite 24  negara yang bersidang di Abu Dhabi, Uni  Emirat Arab, September-Oktober 2009.

Eit, tapi ntar dulu. Ketua Lajnah  Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurahman  mengingatkan, pemuatan motif batik itu  hanyalah politik citra untuk mengaburkan  makna di balik renovasi gedung. Ia  menegaskan, corak, warna atau tampilan  luar gedung itu tak ada hubungannya  sama sekali dengan eksistensi maupun  fungsi gedung. Ia memberi analog dengan  fenomena pesakitan di pengadilan.  Koruptor, pembunuh, dan penjahat  lainnya didandani dengan baju koko, peci,  kerudung bahkan cadar untuk perempuan.  

“Penampilan mereka itu mengecoh  publik,” jelas Yahya. Rencananya, Gedung Kedubes  Amerika akan dibangun 10 tingkat, dengan  luas mencapai 36.000 meter persegi atau  3,6 hektar; Menjadikannya Gedung  Kedubes AS terbesar ketiga di seluruh  dunia setelah Kedubes AS di Irak dan  Pakistan.

Duta Besar AS untuk Indonesia  Scot Marciel menjelaskan, proyek kakap ini  dijadwalkan rampung dalam lima tahun.  Renovasi bakal menghabiskan dana US$  450 juta atau sektiar Rp 4,2 trilyun.  “Pembangunannya akan dimulai akhir  tahun ini dan dijadwalkan selesai pada  2017,” kata Marciel di Kedubes AS Jakarta,  Jumat 6 Juli 2012.

Berdasarkan dokumen renovasi  gedung, sejatinya yang hendak dibangun  Amerika di Gedung Kedutaannya adalah  sebuah pangkalan militer mini. Situs  Federal Business Opportunites (fbo.gov)  yang memuat Department of State 2012  Design-Build Contract for US Embassy  Jakarta, Indonesia RFP SAQMMA-12-R0061 Notice of Solicitation of Submissions  for Contractor Pre-Qualification,  menyebutkan, Gedung Kedutaan Besar  Amerika akan dilengkapi dengan fasilitas  rahasia dan personil keamanan yakni  markas satuan pengaman laut atau Marine  Security Guard Quarters (MSGQ).  Dilengkapi dengan fasilitas rahasia dan  personel keamanan yang diperlukan  (Secret Facility and Personnel Security  Clearances Required).  

Sebelumnya, Amerika membangun  gedung kedubesnya yang terbesar di dunia  di Baghdad, Irak. Kompleks Kedubes AS  yang dibangun pada 2009 itu menempati  areal seluas lebih dari 42 ha. Di dalamnya  semua fasilitas AS ada dan dijaga secara  khusus oleh marinir AS. Bahkan beberapa  media menyebutnya sebagai miniatur  Roma, ibukota Vatikan. Kompleks itu steril  dan eksklusif. Gedung Kedubes AS terbesar  kedua di Islamabad, Pakistan. Ia  menempati areal seluas 7,2 ha.  Sejak  dibangun 2009, Amerika menambah 1.000  personel dari 750 personel yang sudah  disiagakan di sana. Dan staf tambahan itu  mencakup 350 orang marinir AS! Pejabat  Amerika juga menekan Islamabad untuk  mengijinkan import ratusan kendaraan  tempur pengangkut pasukan milik Dyncorp -kontraktor keamanan AS. Pangkalan militer di Gedung Kedubes  AS di Jakarta, akan melengkapi Navy Medical  Reseach Unit 2 (Namru-2).

Sebuah Instalasi  Angkatan Laut berkedok program kesehatan  yang sempat ditutup Menkes Siti Fadilah  Supari. Siti kemudian digantikan Menkes  Endang Sri Sedyaningsih, yang program  pertamanya membuka kembali Namru-2 di  kompleks Kementerian Kesehatan Jl  Percetakan Negara yang dikomandoi seorang  kolonel angkatan laut AS.

Perluasan kedubes dan kehadiran  Namru-2  akan melengkapi pangkalan militer  AS di Darwin, Australia, yang beroperasi sejak  akhir 2011. Saat ini ada 250 anggota marinir  AS di sana. Dan jumlah itu terus bertambah  hingga 2016 nanti sampai mencapai 2.500  personel. Pangkalan militer AS di Darwin ini  letaknya tak jauh dari Indonesia. Bila ditarik  garis dari Nusa Tenggara Timur (NTT),  jaraknya hanya 800 km. Zahir Khan, mantan diplomat  Indonesia, menyayangkan sikap pemerintah  yang lembek dalam menghadapi kepentingan  Amerika.  

“Seharusnya sebagai negara yang  berdaulat, kitalah yang mengatur bagaimana  gedung kedutaan besar negara asing itu. Lha  kalau kita yang diatur mereka, lalu di mana  kedaulatan kita?” gugat Ketua Dewan  Dakwah Islamiyah Indonesia ini usai berbicara  dalam Halqoh Peradaban bertajuk  “Mewaspadai Markas Militer Amerika di  Jantung Ibukota” di Wisma Antara, Jakarta,  Rabu (18/7/2012). Driser, perluasan kedubes Amerika di  jantung ibukota pastinya mengundang  bahaya. Kalo sampe kejadian, bisa-bisa negeri  kita makin kehilangan kedaulatan.

Gimana  enggak, masa bisa-bisanya ada pangkalan  militer negara penjajah di ibukota negara  yang sewaktu-waktu siap memangsa.  Makanya nggak ada alasan untuk menerima  perluasan kedubes amerika di Jakarta. Nggak  peduli tuh bangunan mau dihias pake batik  kek, para pekerjanya pake kebaya kek, atau  dipenuhi hiasan warisan budaya nusantara.  Karena itu semua cuman carmuk alias cari  muka doang. Katakan TIDAK untuk perluasan  kedubes Amerika![

IGLESIA MARADONIA

Awal Pebruari 2012, lebih 70 orang tewas dalam  tawuran antar-suporter kesebelasan Al-Ahly vs Al-AMasry di Port Said, Mesir. Peristiwa ini  memperpanjang daftar tragedi dunia sepakbola.  Liga Inggris tak kalah mengerikan.

Laga Liverpool vs  Notthingham Forest di Stadion Hillsborough milik Sheffield,  15 April 1989, menyebabkan 96 suporter Liverpool tewas;  Pada 9 Maret 1946, duel Bolton Wanderers vs Stoke City di  Stadion Burden Park, menyebabkan 33 orang tewas dan  lebih dari 400 orang terluka.

Pertemuan Bradford City vs  Lincoln City, di Stadion Valley Parade, 11 Mei 1985,  menyebabkan 56 orang tewas.  Pertandingan antar-klub antar-negara juga menelan  banyak korban jiwa. Laga Juventus vs Liverpool, 29 Mei  1985, di final Liga Champions di Stadion Heysel, Brussels,  Belgia, mematikan 39 suporter Juventus. Pada 20 Oktober  1982, laga Piala UEFA Spartak Moskwa vs Haarlem di  Moskwa, menewaskan 61 orang. Bahkan, versi lain  menyebut korban tewas lebih 300 orang. Pun duel bola antar-negara, sama saja.

Tanding  Guatemala vs Kosta Rika, 16 Oktober 1996, menelan tumbal  84 orang tewas. Pada 24 Mei 1964, laga Peru vs Argentina di  babak kualifikasi olimpiade di Stadion National Lima,  menewaskan 318 orang dan lebih dari 500 terluka.  Di Indonesia? Ho, ho, ho… seisi stadion dalam sebuah  pertandingan, tiba-tiba bisa jadi pegulat dan petinju,  bahkan juga sampai jadi pembunuh! Tapi ternyata, seperti kata seorang pelatih Inggris, itu  belum seberapa. “Some people think football is a matter of  life and death. I assure You, it’s much more serious than  that,” kata Bill Shankly, mantan manajer sukses Klub  Liverpool. Sepakbola, kata dia, lebih serius daripada soal  hidup dan mati.

Coba di-koprek. Sebuah akun facebook memajang  nama: Football is My Religion and St Andrews is My Church.  Sorry, domba-domba Yesus jangan girang dulu, Santo  Andrews itu bukan nama gereja, tapi stadion milik Klub  Birmigham FC, Inggris.  Ya, Brasil boleh saja mengklaim sebagai negara  ”penganut agama sepakbola”. Tapi ia masih kalah ”soleh”  dibanding Inggris –negeri kelahiran sepakbola. Sebagaimana dilansir situs Bolapedia,

Produsen Bir  Heineken merilis penelitian bahwa mayoritas (responden)  orang Inggris meluangkan lebih banyak waktu untuk  menyaksikan pertandingan sepakbola, membaca ulasan  media, dan berdiskusi membahas hal-hal yang menyangkut  sepakbola dalam obrolan keseharian. Mereka  menghabiskan dua jam plus 22 menit setiap minggunya  untuk nonton bola di televisi. Orang Inggris juga sedikitnya menghabiskan 28 menit  per pekan untuk mendiskusikan hasil pertandingan, gosip  transfer, gol, dan aksi lainnya di lapangan. Total, penduduk  Inggris menghabiskan 11 jam dan 12 menit setiap  minggunya untuk sepakbola.

Negara penggila bola berikutnya adalah Thailand,  baru kemudian Brasil yang disebut-sebut menganut  sepakbola sebagai “agama kedua”.  Jika bola adalah agama, maka pelatih dan pemain top  sepakbola pun ditahbiskan jadi ”nabi”. Lionel Messi  (Barcelona, Spanyol) disebut El Messiah (Juru Selamat);  Gabriel Batistuta (Fiorentina, Italia), diusulkan mendapat  gelar ”Santo” (The Holy Man). Batistuta   juga dipatungkan  dari logam dan dipajang di alun-alun Kota Firenze.

Bila di  mata uang kertas dolar  Amerika tertera kalimat ”In God We  Trust”, maka dalam laga Birmingham City vs Arsenal,  sebagian supoter  mengusung spanduk berbunyi: “In Arsene  We Trust”. Arsene Wenger adalah manajer Arsenal (Inggris). Yang ugal-ugalan tentu saja orang Argentina. Pada 30  Oktober 1998, di Kota Rosario, para fans ”Nabi” Maradona  mendirikan Gereja Maradona (Iglesia Maradoniana). Kapel  gereja dinamai ”Hand of God” merujuk pada gol tangan  Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986. Kitab  Suci mereka adalah Biografi Maradona. Mereka  mengamalkan kredo ”10 Perintah Tuhan” bikinan sendiri  yang berisi pepujian pada sepakbola dan Maradona.  Iglesia Maradoniana juga membuat kalender sendiri,  yang diawali tahun 1960 (tahun kelahiran Maradona).  Walhasil, tahun 2012 ini disebut Tahun 52  AD (After Diego). Konon, jamaah Iglesia Maradoniana  di seluruh dunia  kini mencapai lebih 15.000 orang.  

Eh, jangan-jangan ente termasuk salah satunya? Jangan ngeles dulu, tapi cobalah bermuhasabah.  Diantara ”10 Perintah Tuhan” agama sepakbola  Argentina adalah: Cinta sepakbola atas segala sesuatu, dan  menyatakan cinta tanpa syarat pada sepak bola.

Driser, kalau demi siaran langsung final Liga  Champions antum rela membuang kesempatan sholat  tahajud bahkan juga sholat Isya; Kalau demi PSSI antum  bersedia konfrontasi sampai titik darah penghabisan  dengan Muslim Malaysia; Kalau demi Persebaya antum jadi  Bonek dan siap mati ketika berjumpa Aremania… maka  antum sudah resmi dalam barisan Iglesia Maradoniana. Dan  kalo udah gitu, siap-siap aja dapat kavling di neraka. Iiih..![]