Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum Jsimpul. Sambil menunjukkan surga-Nya yang mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain, Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Ghandi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!” (Sumanto Al Qurtuby, Lobang Hitam Agama, Rumah Kata, Yogyakarta, 2005, hal. 45).
Tentu saja, kalau membenarkan pemikiran Sumanto di atas, kita langsung nyesel jadi orang Islam taat. Ngapain kita cape-cape meneguhi aqidah Islam dan menjalankan syariat-Nya, jika nantinya pintu surga pun terbuka bagi pemeluk agama yang ajarannya menyembah banyak tuhan dan aturan hidupnya nyantai abis seperti ber ha-he-hu-ha diiringi genjrang-genjreng gitar. Seperti dibeberkan Luthfi Asy-Syaukanie, salah seorang aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal) yang fanatik, salah satu misi JIL adalah pluralisme.
Kelompok ini menyerukan bahwa semua agama adalah benar. Yang beda hanya jalannya, dan tidak boleh ada monopoli truth claim (klaim kebenaran). Makanya, Nabi Muhammad SAW dianggap akan berada di surga bersama tokoh-tokoh pemeluk agama selain Islam. Kacau! Padahal, hanya Islam lah agama yang direstui dan diterima Allah SWT seperti ditegaskan dalam firman-Nya. “Sesungguhnya agama yang diterima disisi Alloh adalah Islam” [Ali Imran:19].
Juga “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali-Imran:85] Agenda berikutnya dari JIL adalah di bidang politik. Kaum Muslim, misalnya, “diarahkan” oleh JIL untuk mempercayai sekularisme dan menolak tata kehidupan Islam.
Dalam buku Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi dan Penyimpangan, termuat pernyataan kontributor JIL, Denny JA —mengutip William Liddle— “bahwa bentuk negara Indonesia sekarang —yang bukan negara Islam (negara bangsa) — adalah bentuk final. Dengan keyakinan ini, mereka tak akan berupaya mendirikan negara Islam.” Padahal, dalam wacana ilmu politik mutakhir, pengertian nasionalisme atau bangsa, pada praktiknya sangat luas dan kadang malah bersifat imajiner atau khayalan (Benedict Anderson, 1999).
Contoh, Penduduk pesisir timur Sumatera (yang ber“bangsa” Indonesia) sebenarnya bukan hanya dekat secara fisik dengan penduduk di Semenanjung Malaysia sebelah Barat (yang ber“bangsa” Malaysia), yang hanya dipisahkan oleh Selat Malaka. Mereka pun satu suku, satu rumpun bahasa sehingga mereka bisa memahami adat masing-masing. Tetapi, mereka “mengimajinasi” sebagai bangsa yang berbeda, dan saling menganggap sebagai bangsa asing.
Sebaliknya penduduk Sumatera, yang sama sekali tidak memiliki kesamaan bahasa ibu dan kesukuan dengan orang Ambon, ternyata telah “mengimajinasi” sebagai satu “bangsa” dengan orang Ambon. Menurut peneliti INSIST, DR Adian Husaini, di sinilah letak absurdnya nasionalisme. Yang “sama” bisa menjadi “bangsa” yang berbeda, sementara yang “tidak sama” bisa menjadi satu “bangsa”. Maka, jadilah, ente yang mengaku muslim, dengan getol memusuhi para pemain kesebelasan Malaysia yang juga muslim. Dan sebaliknya, ente membela secara fanatik pemain Indonesia asal Timor yang non-Islam.
Agenda ketiga JIL: emansipasi wanita. Digencarkanlah wacana kesetaran jender dan penyamarataan secara absolut peran atau hak pria dan wanita tanpa kecuali. Puncaknya, saat peringatan hari AIDS sedunia, di artikel harian Kompas, 6 Desember 2004 “Aids yang Semakin Berwajah Perempuan”, disimpulkan bahwa penyebab utama Aids melanda kaum perempuan adalah tidak adanya kesetaraan dan ketidakadilan gender, sehingga menyebabkan istri tidak bisa menolak suaminya atau tidak bisa meminta suaminya untuk menggunakan kondom ketika memaksakan hubungan seksual yang tidak aman.
Tak luput pula pembahasan poligami dianggap salah satu jalan kekerasan dan penindasan terhadap perempuan. Agenda keempat adalah menyebarkan virus kebebasan berekspresi. Ketika menampilkan foto-foto wanita berbikini hasil jepretannya di Majalah X! edisi Desember 2005, fotografer Darwis Triadi menuturkan: ”Fotografi sensual adalah hal wajar. Ia halal. Punya hak. Punya aura. Karena bukan melulu pemajangan fisik.
Ia bisa muncul dari bahasa tubuh. Wanita ingin tampil sensual adalah satu dari bagian obsesi mereka. Mereka bisa menonjolkan kesensualitasannya, tanpa harus dibuat-buat. Sebab, jika tidak, itulah yang namanya kevulgaran itu sendiri. Tuhan memberi keindahan berbeda-beda kepada setiap manusia.
Dan tugas fotografer adalah mengangkat aura ataupun soul tadi.” Sedangkan di majalah yang sama edisi Januari 2006, produser film Mira Lesmana menyatakan: ”Erotis itu menarik. Saya sangat menyukainya. Dan saya tidak suka vulgar. Cuma, beda antara erotisme dan kevulgaran itu kan tipis sekali. Semua keindahan bagi saya adalah bagian dari seni. Karenanya, saya heran dengan rencana pengundang-undangan pornografi. Hari gini, ngomong gituan?!” Menggunakan kata-kata yang canggih dan indah namun sebenarnya menipu dan menyesatkan umat manusia.
Fenomena semacam ini sudah dikabarkan Allah Swt dalam Al-Qur’an: “Dan demikianlah, Kami jadikan untuk setiap Nabi itu, musuh yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS al-An’am:112).
Menyimak agenda-agenda tersebut, pada 29 Juli 2005, MUI menerbitkan 11 fatwa, termasuk haramnya paham Sipilis (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Fatwa itu dirumuskan MUI dalam Munasnya yang ke-7 di Jakarta. #IndonesiaTanpaJIL Pada Selasa sore, 14 Pebruari lalu, sekelompok orang berdemo dengan tajuk “Indonesia Tanpa FPI” di sekitar Tugu Selamat Datang (Bunderan HI), Jakarta Pusat. Gerombolan demonstran terdiri lelaki kemayu, pria berambut gimbal, gaek bertatto, ada juga yang klimis seperti sutradara film Hanung Bramantyo. Aktivis JIL yang merapat ke Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla, juga tampak.
Sedang perempuannya berpakaian minim, sebagian asyik merokok, juga ada yang berkerudung segala. Meski tak terang-terangan menyerukan pembubaran FPI, komplotan pendemo menggemakan penolakan segala bentuk kekerasan yang diasosiasikan dengan Front Pembela Islam. Oleh media umumnya, peristiwa tersebut digembar-gemborkan sebagai aksi yang diikuti ratusan orang. Padahal, demo hanya diikuti 60-an orang. Demo itu beberapa waktu kemudian dibalas dengan demo akbar bertajuk ”Indonesia tanpa Liberal”.
Nah, salah satu pendemo adalah selebritas Fauzi Baadila. Meski mengaku tidak tergolong alim, bintang Film ”Mengejar Matahari” ini dengan tegas menolak pemikiran JIL. “Saya meski bukan orang alim, tapi saya menolak JIL,” tegasnya di panggung orasi. Baginya JIL bukanlah tempat yang pas bagi umat belajar agama. Fauzi menyatakan, untuk mendalami Islam tidak butuh JIL. “Biar gini-gini, saya tidak butuh ajaran kalian. Kita tidak butuh dagangan kalian,” imbuhnya disambut pekik takbir masa. Aktivis #IndonesiaTanpaJIL ini kemudian mempertanyakan klaim intelektual yang disematkan pada gerombolan liberal. Kelompok liberal, menurutnya, tidak lebih sebagai komunitas yang menjalankan sikap berfikir omong kosong dan kotor.
“Kebanyakan omong kosong, kita nyatakan menentang sikap kotoran dari hasil pikiran mereka,” tegasnya. Ia berpesan kepada massa agar tetap waspada, fokus, dan berkonsentrasi agar gerakan Indonesia menolak liberal bersih daripada penyusup. “Kita disini banyak, hati-hati ada penyusup,” imbaunya. Terakhir ia menghimbau agar umat Islam menjauhi pemikiran liberal. Pemikiran liberal adalah pemikiran merusak yang mengatasnamakan intelektualtas. “Kita tolak JIL. Jangan isi otak kita dengan pemikiran mereka.”
Selain dia, tampak pula vokalis dari grup band ”Tengkorak”, Ombat Nasution. “Kita tahu Islam turun dengan sempurna, kita nggak perlu pemikiran lain sepeti liberal lainnya. Kita lawan pemikiran bodoh barat,” seru Ombat. Driser, jelas banget kesesatan JIL yang dengan arogannya mengobok-obok ajaran Islam yang mulia. Saking jelasnya, kebobrokan pemikian liberal yang diusung JIL bisa dirasakan oleh siapa aja yang masih ngerasa dirinya muslim.
Nggak cuman ulama, aktivis dakwah, cendekiawan muslim, atau anak-anak pengajian aja yang ngeh. Coba tengok, bahkan orang-orang yang dunia profesinya lekat dengan kebebasan pun seperti Bang Fauzy Baadilah dan kawan-kawannya juga nyadar dengan sesat pikir JIL. So, gimana dengan Kamu? Ayo kita bareng-bareng tolak JIL dan pemikiran LIBERAL. #IndonesiaTanpaJIL![]
di muat di majalah drise edisi 21