ANTARA PENULIS DAN PENERBIT

Majalahdrise.com – Kini, saya mo berbagi tips agar kita ngerti soal penerbitan ini, sekaligus kita mafhum kedudukan kita sebagai penulis yang dibutuhkan penerbit, istilah dari sononya adalah simbiosis mutualisme alias saling membutuhkan gitu, lho:

1 kamu biasa nulis apaan? tema apaan? siapa pembaca yang kamu bidik? kalo dah segmented, ayo cari tau penerbit yang sesuai. So, jangan nyari penerbit soal peternakan en perkebunan kalo kamu nulis soal teknologi en strategi militer;

2 kalo dah nemu penerbit yang sesuai, ayo bergaol ria and sok akrab sama redaksinya, sapatau dapet jodoh! Eit’s jangan ge-er duluan, maksudnya adalah… kamu berjodoh sama penerbit tadi yang siap nerbitin tulisanmu;

3 kalo dah berjodoh, jangan sungkan usul ide-ide kreatif tuk nunjang performa bukumu, pastiin juga kamu siap bantu jika mereka minta kreativitasmu. So, jangan lempar batu sembunyi tangan, geto!;

4 kamu pun harus siap jika dibutuhin penerbit untuk nunjang performa promo and marketing bukumu. Bilang aja, kita siap road show ke seluruh Indonesia untuk ajang launching and diskusi bukunya. Asyik dunk, keliling Indonesia gratisan…;

5 kamu tetep seorang penulis, so selidikilah naskah apa yang dibutuhin penerbit, sangat dibutuhin en sangat mendesak bagi penerbit. Kalo dah dapet, eksekusi segera… ayo nulis, nulis dan nulis….[]

Mengenal dunia penerbitan

Majalahdrise.com – sesungguhnya, seorang penulis baru diakui eksistensinya sebagai penulis kalau dia sudah menghasilkan karya, tapi bukan sekadar karya kayak nulis di mabok (majalah tembok maksudnya), di buletin sekolah, nulis di blog, medsos atau di situs pribadi, tapi memang karya yang dipublish di media nasional atau lebih kerennya nerbitin buku! Jadi, rasanya gak seru banget ngaku penulis tapi kagak pernah nerbitin buku! Nah, kalo dah ngomongin nerbitin buku, kamu kudu tau daleman penerbitan dunk?! Sebelumnya, kamu mesti paham dulu ya perbedaan penerbitan dengan percetakan.

Biar nggak salah kamar. Secara sederhana, penerbit adalah pihak yang bertanggungjawab mengelola naskah dari penulis menjadi produk buku yang layak baca dan layak jual. Sedangkan percetakan sekadar mencetak produk saja, bisa buku, buletin, newspaper, tabloid, koran, majalah, etc! Jadi, penerbitan belum tentu percetakan. Gitu juga sebaliknya. Tapi dalam urusan penerbitan buku, dua pihak ini berkaitan. So, buat kamu yang naskahnya udah masuk penerbit tapi belum turun cetak, sabar aja ya. Prosesnya lumayan panjang. Penerbitan buku sebenernya bukan sesuatu yang ribet, bahkan untuk bikin sebuah penerbitan pun, kagak susah-susah banget. Mo contoh?

Kamu tahu penerbit Mizan yang diarsiteki sama Haidar Bagir al- Habsyi itu, kan? Wong Solo berdarah Arab Hadromi itu ngaku modal awalnya ga lebih dari 20 juta! Itupun dia minjem duit dari omnya, Abdillah Toha Assegaf, seorang politisi PAN. Pada saat awal nerbitin buku, Mas Haidar sendiri yang nerjemahin, ngelayout, ngedesain cover, bikin film dan platnya, nyetak ke percetakan sampe masarin buku ke berbagai kios dan toko buku… Kini, nama Mizan sudah diakui secara nasional bahkan go internasional. Buku-buku terbitannya menjanjikan mutu dan kualitas, baik pengelolaan redaksional, maupun pengemasan tampilan. Keren! Contoh lainnya, ada grup nasyid Izzatul Islam yang ngetop taon 2000an.

Nah, grup nasyid yang lahir dari komunitas anak-anak rohis F.MIPA Universitas Indonesia Jakarta itu selain bernasyid, mereka juga nerbitin buletin jum’at al-Izzah. Saking kreatifnya mereka, buletin ini pun berkembang menjadi sebuah majalah islam bulanan yang popularitasnya menyaingi majalah Sabili dan Sahid yang sudah mapan. Kini, mereka bergerak pula dalam penerbitan buku. Top, deh! Ada contoh lain juga yang ga kalah keren, lho?! Tau Al-Azhar Press, kan? Penerbit yang digawangi sama Rosyid Aziz itu awalnya cuma nerbitin buku mungil potokopian dan hanya beredar di kalangan terbatas. Setelah Kang Rosyid punya modal lebih, dia pun menerbitkan buku-buku mungilnya pake jasa percetakan. Setelah pasar menyerap buku-buku mungilnya secara antusias. Kang Rosyid pun mulai berani nerbitin buku-buku dengan ukuran dan ketebalan lebih besar dan tebal.

Bahkan, dengan pengemasan lux, full colour dan hard cover. Kini, Penerbit Al-Azhar yang awalnya bergerilya dari lapak ke lapak telah memiliki kantor penerbitan dengan show room sendiri di Kota Bogor. Congrat’s, deh! Nah, sudah clear kan, bahwa yang namanya penerbitan buku itu bukanlah percetakan buku karena beda jenis kerja sekaligus beda pula kreativitas kinerjanya. insya Allah, di edisi berikutnya kita mo ngebahas soal daleman penerbitan, ya, biar kamu semua-mua pada ngerti gimana proses penerbitan sebuah buku, mulai dari naskah mentah hingga jadi sebuah buku! Bahkan, kita bisa ngebahas soal self publishing ataupun penerbit indie yang biasa dikelola oleh para penulis idealis, ideologis dan profesional. Pokoknya, tungguin aja, D’Riser

di muat di majalah remaja islam drise edisi 53

AGAR BUNGA DAKWAH TETAP SEGAR

Majalahdrise.com – Kemauan yang kuat udah tentu nggak datang dengan sendirinya. Tapi dibangun dari sebuah pemahaman yang menyulap keraguan kita menjadi kebulatan tekad. Semangat kita jadi nggak setengah-setengah, tapi basah kuyup sekalian. Untuk melahirkan kemauan yang keras, mau nggak mau kita mesti bergerak. Karena berdiam diri hanya akan membekukan hati dan memasung langkah kita. Dan bunga dakwah bisa layu sebelum berkembang.

Agar bunga dakwah tetap mekar dan menebar kebaikan, berikut tipsnya: Pertama, banyak berpikir. Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir” (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409).

Semakin kita banyak berpikir tentang kebesaran Allah swt dan mengkaji Islam lebih dalam, lambat laun cahaya keimanan kita akan semakin bersinar. Makanya ikut ngaji. Kedua, perbanyak ibadah dan jauhi maksiat. Rasul pernah bilang, ”iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang”. Rasul juga bilang, “iman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat”. Makanya kita kudu getol beribadah, baik yang sunat apalagi yang wajib.

Dan jangan lupa, jauhi pelaku maksiat juga tempat maksiat. Biar kita nggak kebawa-bawa sesat. Ketiga, bergaul dengan orang-orang alim. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Makanya, sering-sering deh ngumpul dengan teman yang bisa mengajak kita untuk tetap taat dan mengingatkan kita agar jauh dari maksiat. Dengan begitu, tanki semangat kita untuk istiqomah selalu terisi penuh. Emang nggak mudah menjadikan ridho Allah swt di atas pertimbangan materi, kepentingan keluarga, atau solidaritas teman.

Tapi percaya deh, Allah swt pasti akan mengganti setiap pengorbanan kita dengan kebaikan dunia akhirat. Bukan cuman untuk kita, tapi juga untuk keluarga, teman, dan orang-orang yang kita sayangi. So, hari gini masih jadi bunga dakwah? Ya iyalah masa ya iya dong! []

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 53

Bunga Dakwah Pondasi Resolusi

Majalahdrise.com – Bunga dakwah? Kesannya, kemayu bin centil gitu ya denger istilah bunga dakwah. Soalnya udah umum julukan ‘bunga’ identik dengan kaum hawa yang mempesona bikin mata kaum adam tak berkedip menatapnya. Misal ada mahasiswi yang bening bin eye catching di kampus, para penghuni kampus pun menjulukinya bunga kampus. Kalo sempat liburan ke kampung dan ketemu gadis cantik rupawan, masyarakat menjulukinya bunga desa. Lah kalo bunga dakwah kan, berarti…..

Hati-hati ya. Bunga dakwah bukan berarti pesona aktivis muslimah yang bikin jakun para ikhwan naik turun kaya lift. Nggak boleh tuh menatap lawan jenis sampe gak berkedip plus hokcay alias molohok bari jeung ngacay. Kita diajarkan untuk gadhul bashar alias menundukkan pandangan. Bunga dakwah yang satu ini artinya… “Buku, Ngaji, dan Dakwah”. Tiga kegiatan yang wajib kita agendakan dalam keseharian.

Terutama buat remaja kaya kitakita. Biar hidup punya makna. Produktifitas kita juga berarti. Ingat pesan Imam Asy Syafii: “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).” Nasihat imam Syafií ini yang kita pegang untuk membangun pondasi bunga dakwah. a. Pondasi Pertama, Membaca

BUKU

Nyandu baca keliatannya emang nggak populer bin trendi. Padahal dengan membaca, kita bisa mendulang banyak informasi tentang segala hal. Menjelajahi berbagai tempat di belahan dunia, mengenal berbagai kecanggihan teknologi, meneladani biografi tokoh-tokoh dunia, termasuk berita sosial-politik dan perkembangan gaya hidup. Semuanya bisa dengan mudah dan cepat kita peroleh dengan baca koran, buku, atau majalah.

Dengan membaca, kita juga bisa belajar banyak hal. Mulai dari penyaluran hobi yang positif hingga berkenalan dengan ilmu lain yang nggak kita dapetin di sekolah. Seperti kisah motivasi, resep masakan, hingga berbagai keterampilan kerja. Asyiknya lagi, banyak buku yang sifatnya tutorial yang membimbing kita langkah demi langkah. Jadi nggak usah ngiri kalo ngeliat temen kamu yang pinter masak, piawai merajut kain, jago nyablon, atau terampil berbicara di depan publik. Semuanya bisa diraih hasil belajar sendiri alias otodidak akibat doyan melahap buku. Bukan perkara mudah untuk keluar dari masalah keseharian yang kita hadapi. Mulai dari kesehatan hingga kejiwaan. Tapi dengan membaca, kita bisa tahu profil setiap masalah.

Penyebabnya, akibatnya, sampe jalan keluar terbaiknya. Karena banyak buku, majalah, sampe buletin remaja kaya bukamata yang peduli dan empati dengan permasalahan remaja. Makanya nggak heran kalo mereka yang hobi baca lebih siap menghadapi dan berani menjalani proses biar bebas dari masalah. Dengan banyak baca, kita jadi banyak tahu. Dan kalo udah banyak tahu, banyak informasi bermanfaat yang bisa kita bagi ama temen. Itu berarti, kalo ada yang ngebully kita sebagai kutu buku yang kuper, mereka salah besar. Karena justru hobi baca buku bikin kita jadi tambah pede dalam bergaul karena nggak ketinggalan informasi. Semakin banyak juga kosa kata baru dan trendi yang bisa kita tabung. Bisa jadi, yang nyandu baca lebih gaul dari anak gaul. Malah jadi tempat bertanya dan konsultasi. Kan keren tuh! Jadi, rajin-rajinlah baca buku. Terutama bacaanya ngngasih kamu informasi bermanfaat. Bisa ngasih dorongan untuk makin dekat dengan Allah. Dan pastinya, juga makin mendekatkan kamu dengan resolusi yang hendak dicapai. Klop! b. Pondasi kedua, Rajin

NGAJI

 Setelah doyan baca buku, kuatkan pondasi kita dengan mengaji. Ngaji disini bukan sekedar baca quran biar bacaan tajwidnya dan tahsinya bener lho ya. Tapi juga kajian rutin untuk mengenal islam lebih dalam. Dengan belajar Islam, kita jadi tambah wawasan Islam, tahu kondisi umat Islam, dan makin mengenal kemuliaan aturan hidup Islam. Dengan mengaji, kita terbiasa untuk berdiskusi dan bertukar informasi. Kita jadi punya pegangan alias prinsip untuk berbuat yang benar sesuai teladan Rasul. Baca buku juga nggak asal lahap. Tapi bisa kita saring, mana ilmu yang menjadikan kita tambah taat dan mana informasi yang mengajak maksiat. Coba kalo nggak punya saringan, bisa-bisa semua info diterima.

Akibatnya, bisa terjerumus dalam gaya hidup STMJ alias Shalat Terus Maksiat Jalan. Ngeri! Kebaikan mengaji yang nggak kalah pentingnya adalah kita terbiasa mengaitkan perilaku di dunia dengan kehidupan akhirat kelak. Ini yang akan menjaga kemauan keras kita agar tetap dijalur yang benar. Karena setiap detik yang kita lalui, itu ada itungitungannya di hari perhitungan nanti. Dengan begitu, kita akan lebih waspada dengan godaan materi atau popularitas yang bisa menyeret kita masuk dalam kubangan dosa. Aktivitas mengaji bikin hati dan pikiran kita konek terus dengan Sang Pencipta. Setiap saat nyadar kalo Allah selalu mengawasi kita. Kita juga jadi lebih ngeh dengan kehadiran malaikat Raqib dan Atid yang selalu mencatat setiap perilaku. Kalo udah yakin Allah pasti melihat dan malaikat pasti mencatat, so pasti sungkan berbuat maksiat. Nggak sembarangan bertindak demi mencapai resolusi yang dibuat. c. Pondasi ketiga, aktif

DAKWAH

Aktivitas dakwah adalah harga mati bagi seorang muslim. Nggak bisa ditawartawar lagi. Kewajiban dakwah, sama seperti kewajiban shalat. Kalo lalai, bisa kualat lho alias dosa dan terkategori maksiat. Makanya, apapun resolusi yang kamu buat pastikan tetap ambil bagian dalam kegiatan dakwah. Belajar menyampaikan kebenaran meski kita masih sama-sama belajar. Rasul bilang, sampaikanlah walau hanya satu ayat. Berdakwah itu nggak cuman tentang kebaikan orang lain aja. Ternyata, aktivitas dakwah juga ngasih banyak kebaikan untuk diri kita lho. Pertama, dakwah mengajarkan kita untuk mengikis sikap individualis.

Dengan begitu, kita terbiasa untuk membantu orang lain dan secara alami akan banyak bantuan datang jika kita menghadapi kesulitan. Kedua, dakwah mengasah kemampuan kita dalam berbicara. Awalnya mungkin belepotan ngajakin kawan untuk jauhi maksiat kaya pacaran. Tapi kalo terbiasa, kita bisa lebih piawai memilih kata agar yang diajak lebih bisa nerima. Ketiga, dakwah itu ladang pahala yang nggak ada abisnya. Malah kita bisa dapat unta merah, sejenis kuda di timur tengah yang nilainya sangat istimewa, jika ada yang tercerahkan setelah mendengar kebaikan yang kita sampaikan. Itu berarti, tabungan pahala kita terus bertambah dan di akhirat kelak kavling surga bisa kita dapat. Pondasi ketiga ini yang akan ngasih nilai lebih pada resolusi yang kita buat.

Apapun resolusi kita, sertakan tujuan berdakwah di dalamnya. Kalo mau buka usaha, niatkan biar bisa bantu ngasih penghasilan tambahan bagi aktivis dakwah dan bisa berinfak lebih banyak. Kalo mau mengenyam pendidikan tinggi, niatkan biar dakwah kian aktif seiring banyak ilmu akademis yang kita dapat. Keren banget dah kalo dakwah jadi pondasi kegiatan dan resolusi kita. Mantabs!

Bunga Dakwah Bikin Hidup Lebih Hidup

Driser, menjadi bunga dakwah itu pilihan. Pilihan terbaik yang bisa bikin hidup kami lebih hidup. Gimana nggak, dengan menjadi bunga dakwah hidup kita dinamis. Ilmu terus bertambah. Manfaat terus disebar ke lingkungan sekitar. Pahala terus mengalir. Nggak ada waktu untuk ngegalau di sosial media. Meracau nggak karuan di kolom komentar. Yang ada, seruan kebaikan tak pernah berhenti keluar dalam bahasa lisan dan tulisan.

Nah Driser, kita pastinya nggak pengen masa muda kita habis nggak jelas gitu lantaran terhanyut budaya sekuler yang mengejar kesenangan dunia. Kita juga nggak rela dong nasib umat Islam dan kita menderita akibat penjajahan. Makanya wajar kalo kita-kita yang masih muda, kuat, dan cakep ini mesti ambil peran sebagai agen of change. Untuk kebaikan Islam dan kaum Muslimin. Jangan tunggu esok. Jangan liat orang lain. Mulai hari ini, ikut ngaji. Pake aturan hidup Islam. Dan jadilah bunga dakwah. Yuk! [@Hafidz341]

di muat di Majalah remaja islam drise edisi 53