Kids Jaman Now Eksistensi Harga Mati

Setelah generasi milenia, saat ini kita berhadapan dengan generasi Z. Generasi kelahiran tahun 2000-an yang hidup di era digital. Nggak heran kalo gadget nggak pernah lepas dari kesehariannya. Akses internet sudah jadi kebutuhan primer. Kebayang kalo gadget ketinggalan di rumah atau kuota habis, galau tingkat dewa!

Meski hidup di dunia nyata, generasi Z lebih banyak berkeliaran di dunia maya. Terutama di dunia sosial media. Mereka lebih nyaman bersosialisi tanpa tatap muka. Walhasil, eksistensi di sosial media jadi keharusan kalo nggak mau dibilang kudet. Ngerinya, ketika mereka ngerasa boleh ngapain aja yang penting viral. Nggak peduli penilaian netizen baik atau buruk. Mereka pun dikenal sebagai :

KIDS JAMAN NOW!

Eksistensi Harga Mati

Selain bahasan utama yang asyik punya, masih banyak tema rubrik lain yang nggak kalah asyiknya.

– Ternyata nggak cuman paypal. Ada mata uang digital lain yang sering juga dipakai transaksi online. Baca writepreneur kalo kamu pengen tahu.

– Gencarnya dakwah online, semakin mendekatkan hidayah pada banyak orang. Nggak heran kalo banyak preman tobat yang bisa kamu baca bahasannya di male corner.

– Gimana sikap terbaik kita terhadap perilaku Kids Jaman Now? Simak obrolan kita dengan pakar parenting islam.

– Gimana ceritanya kalo Muslim tinggal di negeri Doraemon? baca kabar dari luar aja biar dapet serunya.

– Apa kabar calon ibu hebat? Ada di rubrik female corner infonya.

– Ternyata, si Pitung itu bukan nama orang lho. Itu kata sejarah seru. baca aja kalo nggak percaya.

– Isu artis menanggalkan hijabnya banyak memancing reaksi. Apa aja ya reaksinya? Cek di mediawatch info lengkapnya.

– Kebersihan udah jadi bagian dari kehidupan islam. Simak kerennya sanitasi di masa kejayaan Islam pada rubrik amazing Islam.

– Ketinggian peradaban Islam ditunjukkan dengan mahakarya spektakuler seperti astrolab yang dikupas pada rubrik the most.

– Buat yang doya makan dan wisata kuliner, nggak boleh ketinggalan rubrik ayo hidup sehat. seru bahasannya.

– Masih ngerasa nggak pede untuk bergaul secara Islam? temukan jawabannya pada rubrik konsul psiko.

Segitu dulu bocoran majalah Drise edisi Desember 2017. Simak juga kelanjutan epik Perempuan dan Peluru yang semakin seru, juga kiriman driser yang terpilih berupa opini share your mind dan monogatari. Siapa tahu tulisan kamu. Lumayan honornya buat nambah infak.

Biasanya, driser harap-harap cemas nunggu kehadiran drise terbaru. Makanya, segera hubungi pengedar terdekat yang udah jadi langganan untuk order atau kirim pesan via WA ke 085814771511 atau klik >> pesandrisedong . Kamu bisa pesan satuan atau borongan untuk dikirim ke tempat lain. Jangan sampai kehabisan kaya yang udah-udah. Yuk pesan sekarang! [@hafidz341]

Tak perlu minta izin untuk share info bermanfaat ini. semoga semakin banyak remaja muslim yang tercerahkan…

Kebangkitan Islam : Just the matter of time

Sejak awal tahun 2011 lalu, gelombang kebangkitan  umat Islam bergejolak di Timur Tengah. Kondisi ini  Sbisa kita cium dari kejatuhan beberapa kepala negara  yang memerintah dengan tangan besi. Di awali dari  tumbangnya Zainal Abidin bin Ali di Tunisia, mundurnya  Mubarak di Mesir, hingga berakhirnya rezim represif  Gadzafi secara tragis di Libya.

 

Saat ini beberapa wilayah  masih terus bergolak seperti Yaman dan Suriah. Malah  negara-negara yang selama ini dikenal benar-benar ‘under  control’ penguasanya pun dipastikan akan turut bergoyang  seperti Yordania, Saudi Arabia, Bahraian, dan lain-lain.  Tinggal tunggu waktu aja.  Gencarnya opini penerapan syariah Islam yang  mengisi ruang pemberitaan media massa nasional maupun  internasional, bikin masyarakat melek tentang jalan  kebaikan yang ditawarkan Islam untuk mengatasi  kebobrokan aturan sekuler kapitalis yang selama ini  mengatur kehidupan mereka. Bukan cuman melek, umat  Islam juga bergerak menuntut perubahan. Ini yang terjadi  dalam rangkaian aksi di Tunisia, Suriah, Libanon, atau  Mesir.

 

Gimanapun juga, Umat adalah pemilik sejati  kekuasaan. Sekuat apapun dukungan asing terhadap  sebuah rezim, jika umat telah bergerak untuk mengambil  alih kekuasaan, rezim tersebut akan jatuh. Kena deh!

Status Perubahan Hakiki: Pending! Siapa yang nggak sumringah ngeliat tanda-tanda  kebangkitan Islam dan kaum Muslimin makin menguat di  Timur Tengah. Sayangnya arah kebangkitan belum berada  di jalur perubahan yang hakiki. Lantaran tuntutan  mayoritas umat Islam masih sebatas pada pergantian  rezim. Belum menyentuh persoalan dasarnya, yakni sistem  yang diterapkan. Kejadiannya persis saat aksi  penumbangan rezim order baru di negeri kita. Semua  masyarakat bersatu untuk menuntut lengsernya RI-1 yang  udah berkuasa selama 32 tahun.

 

Namun setelah lengser,  era pemerintah selanjutnya gak banyak ngasih kebaikan  buat masyarakat. Karena yang diganti cuman orang yang  duduk di pemerintah aja. Sementara sistem yang dipake  buat ngatur rakyatnya, masih stay tune dengan kapitalis  sekuler. Podo wae! Perubahan yang hakiki di negeri-negeri Islam  seharusnya mengandung 2 (dua) unsur utama agar  arahnya benar; Pertama, menjadikan Islam, baik aqidah  maupun syariahnya, sebagai panduan ideologis untuk  mendirikan negara Khilafah, yang akan menerapkan Islam  secara utuh di dalam negeri dan menyebarkan Islam  dengan jihad ke luar negeri. Kedua, menolak secara total  segala bentuk intervensi asing ke negeri-negeri Islam dan  tidak minta bantuan kepada asing. (Al-Waie [Arab], No  291, Rabiul Akhir 1432/ Maret 2011, hlm. 4).

 

Sementara yang tengah terjadi di Timur Tengah,  hanyalah ganti sosok penguasa aja, bukan perubahan  sistem menjadi negara Khilafah. Artinya, unsur pertama  tidak terpenuhi. Unsur kedua juga tidak terpenuhi karena  intervensi Barat, khususnya dari Amerika, Inggris, dan  Prancis telah berlangsung baik di Tunisia, Mesir, Libia  maupun; juga di negeri-negeri yang sedang bergolak kini,  yaitu di Yaman dan Suriah. Negara Barat segala  kecanggihan politiknya sukses membajak arah perubahan  Timur Tengah ke arah yang sesuai dengan kepentingannya.  Berbagai cara digunakan Barat untuk membajak arah  perubahan ini. Yang terpenting ada 5 (lima) cara.

Pertama:  memanfaatkan politisi boneka.

Kedua: memberikan  bantuan ekonomi (utang).

Ketiga: melakukan intervensi  militer.

Keempat: mempropagandakan Islam moderat.

Kelima: mengendalikan media massa guna mempengaruhi  opini publik.

 

Nggak jelasnya arah perubahan yang  dikehendaki oleh umat Islam di Timur Tengah dengan jeli  dimanfaatkan oleh negara adi daya.  Media-media Barat mengopinikan bahwa rakyat di  Timur Tengah menuntut dilakukan demokratisasi dan  liberalisasi. Tokoh-tokoh yang ditonjolkan dalam aksi itu  pun tokoh-tokoh sekular, liberal, dan pro Barat, seperti  Muhammad Elbaradei, Amr Mousa, dan sebagainya.  Padahal tuntutan demokratisasi dan liberalisasi itu  bohongan, setidaknya bukan menjadi arus utama.  Sebaliknya, masyair dan syiar Islam justru sangat  menonjol. Tuntutan penerapan syariah juga banyak  disuarakan di tengah kerumunan massa di Lapangan Tahrir  Kairo, Alexandria dan wilayah-wilayah Mesir lainnya.  Demikian pula yang terjadi di Yaman, Suriah, Libya, dan  lain-lain. Tapi semuanya ditutup-tutupi oleh musuh-musuh  Islam yang menguasai media massa. Untuk melakukan perubahan hakiki, setidaknya ada  tiga pemahaman yang harus dimiliki.

Pertama:  pemahaman mengenai buruknya realitas yang sedang  berlangsung.

Kedua: pemahaman tentang realitas yang  menjadi penggantinya, yakni sistem yang menjadi  alternatifnya.

Ketiga: metode yang tepat untuk melakukan  perubahan itu. Nah, dua hal terakhir ini yang belum dimiliki secara  sempurna. Akibatnya, perubahan hakiki tidak terjadi.  Bahkan seperti yang kita saksikan, tuntutan mereka bisa  dibajak dan dibelokkan oleh negara-negara penjajah.  Capek deh!

 

Secercah Harapan, Sebuah Keniscayaan Negara Barat yang urat malunya udah putus, boleh  aja ngaku-ngaku paling berjasa mendorong perubahan di  Timur Tengah. Amerika, Inggris, dan Prancis yang paranoid  dengan kebangkitan Islam silahkan aja membajak  perubahan di Timur Tengah. Namun demikian, ada hal  yang nggak bisa mereka klaim apalagi dibajak, yaitu  kesadaran umat akan kebobrokan sistem Kapitalis sekuler.

 

Realitas ini dapat melahirkan keberanian pada diri umat  untuk melakukan perubahan yang lebih mendasar. Sebuah pesan yang jelas bergemuruh di jalanan kota  Sanaa setelah sholat Jumat (10/2), saat puluhan ribu  demonstran Yaman menyatakan bahwa revolusi mereka  akan terus berlanjut hingga orang-orang Yaman yakin  terhadap semua tuntutan mereka. Para pengunjuk rasa  juga menyatakan bahwa pemilu presiden mendatang  adalah rencana para kapitalis yang bertujuan untuk  memalingkan tuntutan rakyat Yaman yang sebenarnya  sehingga banyak diantara mereka mengumumkan tidak  akan berpartisipasi dalam pemilu, dan akan terus turun ke  jalan untuk menyerukan jatuhnya kapitalisme dan  kebangkitan Islam. Sementara Franklin Lamb, seorang pengamat dan  pengacara internasional mengatakan, kebangkitan Islam  saat ini begitu luas dan begitu dalam.

 

Gerakan ini tidak  hanya terjadi di Timur tengah dan Asia, namun juga  mempengaruhi publik Amerika Serikat, Eropa dan berbagai  belahan dunia pada umumnya. Protes juga menyebar ke  AS dan Eropa, di mana demonstran bangkit untuk  melawan kapitalisme dan korporatisme. Sedangkan di sisi  lain ekonomi Islam terus mendapat perhatian dunia barat  menjawab sistem ekonomi baru ke depan. (republika.co.id,  29/1/2012).

 

Driser, secara i’tiqadi, kita yakin bahwa kekuasan  hakiki di tangan Allah SWT. Dialah yang memberikan atau  mencabut kekuasaan dari siapa pun yang dikehendaki-Nya.  Kekuasaan, sebagaimana umur manusia, juga ada ajalnya.  Nggak ada yang awet. Sekuat apa pun kekuasaan itu  dipertahankan, kalo udah waktunya, bakal lengser juga.  Inilah yang dialami oleh para penguasa Timur Tengah dan  lainnya. Kita juga yakin kuadrat kalo janji pertolongan Allah  SWT seperti disebutkan dalam QS an-Nur [24]: 55 bakal  kejadian.

 

Kabar gembira tentang tegaknya Khilafah juga  udah diberitakan dalam banyak Hadis Nabi saw. Salah  satunya dalam riwayat Ahmad, Khilafah ‘alâ minhâj al-nubuwwah akan datang setelah masa mulk[an] jabriyyan  (penguasa diktator), mulk[an] ‘adhdh[an] (penguasa yang  menggigit).  Belum lagi fakta yang ada di depan mata  menunjukkan kehancuran Ideologi Sosialisme. Dan  Kapitalisme juga sudah gonjang-ganjing, keropos dan  banyak dikritik karena terbukti gagal  mensejahterakan manusia. Orang kafir saja ada  yang yakin tegaknya Khilafah.

 

Michael Loreyev,  direktur sebuah perusahaan dan Wakil Presiden  Rusia Union of Industrialists dan Wakil Ketua  Duma (Rusia Assembly) memprediksi pada tahun  2020 akan muncul beberapa negara besar di  dunia. Salah satunya adalah Khilafah. Ini juga  sejalan dengan prediksi The National Intelligence  Counted menyebut kemungkinan munculnya  Khilafah baru pada tahun 2020.

 

So, udah seharusnya janji Allah dan kabar  gembira tentang kemenangan Islam dari  Rasulullah serta prediksi dari lembaga penelitian  orang kafir ditambah keseriusan negara-negara  kafir penjajah yang melakukan berbagai cara  untuk menghalangi perjuangan Khilafah semakin  menguatkan keyakinan kita bahwa mereka  kebangkitan Islam yang ditandai dengan tegaknya  Khilafah bukan utopia alias khayalan semata,  namun sebuah keniscayaan yang pasti terjadi.  Just a matter of time! [341]

 

Di muat di majalah drise edisi 20

GARDEN OF DEATH

Majalahdrise.com – Mangkatnya Rasulullah saw. pada 632 Masehi adalah musibah yang amat besar bagi umat Islam. Kabilah-kabilah murtad pada nongol hampir di seluruh jazirah Arab. Ada juga kabilah yang ogah bayar zakat dan bahkan, sebagaimana yang dikisahkan Imam Ibnu Katsir, solat Jumat cuma dilaksanakan di Makkad dan Madinah. Parah banget nggak sih?

Khalifah Abu Bakar ra. kemudian mengambil tindakan tegas untuk memerangi semua kalangan yang dimurkai Allah itu. Salah satu kabilah terkuat yang murtad adalah Bani Hanifah yang tinggal di kawasan Yamamah. Mereka dipimpin oleh seorang lelaki yang mengaku nabi, Musailamah al-Kadzab. Khalifah Abu Bakar mengirim jenderalnya yang terbaik, Khalid bin Walid, untuk menumpas gerombolan murtad ini. Perang Yamamah pun pecah antara tentara Islam di bawah pimpinan Khalid bin Walid dan bani Hanifah di bawah pimpinan Musailamah al-Kadzab.

Imam Ibnu Katsir mengisahkan dalam Bidayah wan Nihayah: “Pada peperangan ini tampak kesabaran dan keuletan para sahabat yang tiada bandingannya. Mereka terus menerus maju ke arah musuh hingga Allah menaklukkan musuh, dan orang kafir lari tungganglanggang. Kaum Muslimin terus mengejar mereka sambil menebas leher-leher mereka, dan mengayunkan pedang ke arah mana saja yang mereka maui. Maka terdesaklah orang-orang kafir hingga Kebun Kematian (Hadiqatul Maut). Para sahabat dan pasukan Islam dengan semangat jihad yang berkobar terus menekan pasukan kafir. Salah seorang penguasa Yamamah, Muhakkam bin Thufail, memberi isyarat kepada anak buahnya agar membuka gerbang besar kebun itu dan seluruh pasukan kaum murtad itu masuk ke dalam kebun. Naasnya, Muhakkam bin Thufail yang sedang berpidato untuk memerintahkan anak buahnya masuk ke dalam kebun harus tewas di tangan Abdurrahman bin Abu Bakar.

Abdurrahman melepaskan sebatang anak panah ke leher Muhakkam hingga dia tewas. Sayangnya, pasukan kaum murtad itu berhasil memasuki kebun dan hanya beberapa orang saja yang berhasil dikejar dan dihabisi oleh pasukan Islam. Gerbang kebun itu pun ditutup rapat-rapat dan dikunci dari dalam. Musailamah dan pasukannya dari kalangan kaum murtad itu berlindung di dalam kebun. Mereka mengira bisa menipu maut dengan cara seperti itu.

Padahal Allah swt. berfirman: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,” (An-Nisa’: 78). Pasukan Islam mengepung perkebunan yang dipagari oleh tembok yang cukup tinggi itu. Mereka tertahan oleh tumpukan-tumpukan batu dan tanah liat. Datanglah seorang sahabat bernama al- Bara’ bin Malik: “Wahai kaum Muslimin, lemparkan aku ke dalam perkebunan itu.” Maka beberapa prajurit Muslim pun mengangkat al-Bara’ di atas sebuah perisai dan menopangnya untuk naik ke tembok dan kemudian melompat hingga ke bagian dalam tembok.

Begitu mendarat di bagian dalam perkebunan, al-Bara’ segera diserang oleh beberapa pasukan musuh, namun dengan gigih al-Bara’ berjuang hingga pada akhirnya ia berhasil membukakan gerbang perkebunan itu. Ketika melihat gerbang sudah menganga lebar, tanpa membuang-buang waktu, pasukan Islam menyerbu masuk, mengalir deras bagai air bah. Pasukan murtad yang sudah gelagapan itu kocar-kacir dan menemui kematian mereka di bawah tebasan pedang kaum Muslimin. Peperangan yang sengit pecahlah di dalam perkebunan orang-orang Yamamah itu. Pasukan Islam berjuang habis-habisan untuk melenyapkan kekuatan orang-orang murtad yang dipimpin Musailamah al- Kadzab, namun pertanyaannya di manakah sang nabi palsu itu?

Sepasang mata dari seorang budak hitam mengawasi peperangan itu dengan jeli. Ia adalah Wahsyi bin Harb, pembantu Jubair bin Muth’im. Saat itu ia telah masuk Islam, dan berjihad bersama pasukan kaum Muslimin. Dulu, pada Perang Uhud ketika ia masih musyrik, ia berperang di pihak kaum Quraisy dan dengan lemparan tombaknya yang jitu, ia membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah Muhammad saw. Dengan tombak yang sama, Wahsyi menyusuri medan perang itu untuk memburu Musailamah al-Kadzab.

Ia ingin menebus kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Dengan amat sabar Wahsyi memburu mangsanya, hingga dia melihat sosok Musailamah di kejauhan. Pada salah satu bagian dari perkebunan itu ada sebuah tembok yang retak, Musailamah sedang berdiri di depan tembok itu dan mengawasi peperangan. Beberapa orang prajuritnya melindunginya, tanpa mengetahui bahwa maut sedang mengintainya. Musailamah sedang berada dalam keadaan galau yang amat sangat karena ia menyaksikan pertahanannya di perkebunan itu sudah berhasil ditembus dan pasukannya sudah terdesak. Tiba-tiba tubuh Musailamah kejangkejang seperti orang ayan. Dari mulutnya keluar busa yang menjijikkan, dan orangorang mengetahui bahwa dia sedang kerasukan. Setan yang merasuki tubuhnya itulah yang membisikkan kata-kata yang dia klaim sebagai wahyu.

Wahsyi mencium sebuah kesempatan yang sangat baik. Ia mencari sebuah posisi yang tepat sambil menenteng tombaknya. Dengan tatapan yang tajam diacungkannya tombaknya, tak ubahnya malaikat maut yang sedang membidik sasarannya. Tepat, tombak itu melesat cepat dan menembus dada Musailamah hingga ke punggungnya. Nabi palsu itu tewas seketika. Itulah akhir dari petualangan dan kesesatannya. Dengan cepat Abu Dujanah Simak bin Kharasyah melesat ke arahnya dan menebaskan pedangnya hingga Musailamah tersungkur dan mati. “Aduhai malangnya nasib pemimpin kita, dia dibunuh oleh budak hitam,” pekik para wanita yang berlindung di dalam sebuah bangunan di kebun itu. Di sanalah berakhirnya petualangan dan kekufuran Musailamah al Kadzab.[]

DI MUAT DI MAJALAH DRISE EDISI 53

KARPET PALING JETSET

Majalahdrise.com – Pernah dengan kisah Aladin dan Karpet Terbang? Ini kejadiannya di Timur Tengah. Makanya yang dipake karpet. Kalo ceritanya di Indonesia, mungkin diganti tiker atau spanduk terbang. Hehehe… Dari dulu, karpet sudah menjadi ikon Timur Tengah. Karpet memang eksotik dan artistik! Walaupun bukan berasal dari Islam, tapi peradaban berperan besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan penggunaan karpet, sehingga furniture yang satu ini menjadi salah satu karya seni yang berharga dan simbol kemapanan.

Berdasarkan temuan dan catatan sejarah, penggunaan karpet merupakan tradisi yang cukup tua. Karpet tenun tertua yang ditemukan adalah karpet Pazyryk yang ditemukan di Pegunungan Altai (selatan Siberia) yang diperkirakan berasal dari abad ke 6 SM. Sementara itu sejarawan Herodotus dalam catatannya di abad 5 SM menyatakan bahwa penduduk daerah Kaukasus menenun karpet-karpet indah yang warnanya tak pernah pudar.

Di Persia, Anatolia, dan juga jazirah Arab, karpet memiliki posisi yang penting dalam kehidupan, terutama bagi suku-suku badwi yang hidup nomaden. Selain digunakan untuk menutupi lantai, karpet digunakan sebagai salah satu material untuk tenda, juga tirai, pelana, dan selimut. Dengan datangnya Islam, nilai karpet (permadani) semakin bertambah karena disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai salah satu kekayaan yang diberikan kepada para penghuni surga. Dari dunia Islam, karpet paling tua yang masih bertahan adalah potongan karpet dari tahun 821 M yang ditemukan di Fustat (Mesir).

Industri karpet di Fustat ini diperkirakan berawal di permulaan abad ke 8 M, dan berdasarkan teknik anyaman dan dekorasinya, karpet Fustat ini dianggap sebagai prototipe dari karpet Andalusia yang berkembang belakangan di Spanyol. Pada masa kesultanan Seljuk, karpet dari dunia Islam mencapai level paling tinggi dari segi desain maupun teknik pembuatannya. Karpet buatan mereka tersebar di wilayah Persia dan Baghdad pada abad 11 M. Sejarawan seni Islam seperti Ettinghausen, beranggapan bahwa bangsa Saljuklah yang menciptakan karpet “islami”.

Yup, karpet-karpet muslim memang mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu motifmotifnya yang didominasi oleh pola-pola geometris, floral (tumbuhan), dan kaligrafi. Hal ini karena jumhur ulama Islam melarang gambar makhluk bernyawa, terutama pada karpet yang digunakan untuk shalat. Sementara itu di Eropa, sebelum mengimpor karpet, sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa lantai-lantai di Eropa ditutupi dengan sejenis rerumputan yang disebar di atas lantai dan diganti secara berkala. Praktek ini masih berlangsung hingga abad 15 M. Terkait praktek ini Erasmus (1466- 1536) mengungkapkan;

“Rerumputan dalam ruangan kadang diganti, tapi cuma sebagian, sementara lapisan bagian bawahnya tak disentuh sama sekali, bahkan terkadang sampai 20 tahun tak diganti. Padahal rerumputan itu mengandung ludah, muntahan, air kencing anjing dan orang, tumpahan bir, potongan ikan, dan segala macam najis yang tak layak disebut. Ketika cuaca berubah, maka uap dari segala macam kotoran itu akan terhirup, yang menurut saya sangat merugikan kesehatan”.

Di kemudian hari rerumputan itu kemudian dianyam menjadi tikar, dan segera menggantikan fungsi lapisan rumput sebagai penutup lantai. Sejarah datangnya karpet ke negeri Eropa adalah kontak dengan negeri-negeri Islam di masa Perang Salib. Bangsa Eropa sangat kagum dengan karpet-karpet muslim sehingga dikategorikan sebagai barang mewah. John Sweetman, penulis buku “The Oriental Obsession: Islamic Inspiration in British and American Art and Architecture 1500-1920” mengungkapkan bahwa maskawin yang diberikan Raja Edward I dari Inggris pada Ratu Eleanor pada tahun 1255 diantaranya adalah karpet-karpet Andalusia. Di Perancis karpet muslim sudah populer pada zaman Louis IX (1215-70) yang dikenal dengan nama “tapis Sarrasinois”, bahkan di tahun 1277 ada hak khusus untuk perdagangan tapis-tapis ini.

Bukti dari apresiasi bangsa Eropa terhadap karpet muslim tergambar dalam lukisan-lukisan para seniman Eropa di masa renaissance yang sering menampilkan karpet bermotif kotak-kotak khas karpet Utsmani. Misalnya pelukis Hans Holbein Jr., saking seringnya Holbein menyertakan karpet Utsmani dalam lukisannya, sampai-sampai karpet-karpet itu dikenal dengan “karpet Holbein”. Karpet-karpet itu bisa dilihat misalnya dalam lukisan French Ambassadors karya Holbein, dan The Madonna with Canon van der Paele karya Jan van Eyck.

Menurut Ettinghausen, tak diragukan lagi bahwa karpet melahirkan kekaguman yang sangat pada masyarakat kelas atas di Eropa. Penghargaan mereka bisa diukur dengan fakta penggunaan karpet dalam upacara pemahkotaan raja dan acara-acara penting lainnya. Selain dari karpetnya itu sendiri, posisi negeri-negeri Islam sebagai pusat peradaban juga berkontribusi terhadap penyebaran tren karpet di Eropa. Ya pantas, pada masa itu negeri Islam adalah negeri maju, sementara Eropa adalah negeri-negeri yang baru berkembang. Jadi, sistem Islam atau Khilafah itu tidak akan mengembalikan kita ke zaman onta, justru akan membuat kita maju, sebagaimana bangsa Arab yang dulunya tak beradab menjadi bangkit sebagai mercusuar peradaban. [Ishaak, diolah dari muslimheritage.com]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 53