JADI MUSLIM FULL TIME

Ramadhan telah berlalu. Ada yang berduka, tak sedikit  yang bersukacita. Mereka yang bersedih, nggak rela  Rputus hubungan dengan nyamuk, eh Ramadhan. Persis  kaya remaja kasmaran yang ditinggal pergi pujaan hatinya.  

Duh…kerasa banget sedihnya. Gimana nggak, cuman di bulan  Ramadhan Allah swt ngobral pahala nggak ada abisnya. Cuman  di bulan Ramadhan juga Allah swt buka pintu ampunan dan  hidayah selebar-lebarnya. Jarang-jarang kita dapetin  kesempatan langka itu di bulan laen. Apalagi tahun depan  belum tentu kita masih bisa ‘ngedate’ bareng bulan mulia ini.  

Who knows.  Pasca Ramadhan, lingkungan sekitar kita kembali  menunjukkan identitas aslinya yang jauh dari nuansa  kehidupan Islam. Tontonan religius yang sebelumnya gencar  memadati jam tayang premium perlahan mulai hilang ditelan  hiburan yang mengumbar gaya hidup hedonis. Kegiatan  pengajian yang biasa mengisi hari-hari ramadhan baik di  sekolah atau di tempat kerja udah nggak keliatan lagi.  Lantunan ayat suci atau nada dering islami yang sering  terdengar pun mulai digeser popularitasnya oleh irama lagu-lagu pop.

Yup, nadi kehidupan sekular di sekitar kita kembali  berdenyut. Pengaruh lingkungan sekuler emang dahsyat.  Terutama terhadap diri remaja yang gampang gonta-ganti  kulit, eh sikap. Prinsipnya dalam berbuat masih sering ngeliat  kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah. Yang lagi trendy, itu  yang suka dijadiin pegangan.

Perkara pantas atau enggak, itu  urusan belakangan. Yang penting nggak ketinggalan jaman dan  nggak terkucil dari pergaulan. Makanya nggak heran kalo  puasa banyak yang mendadak insyaf dan perhatian ama  kegiatan Islam. Karena temen-temennya juga banyak yang  mendadak alim. Mulai dari yang getol ikut pengajian sampe  busana muslimah yang nggak pernah ketinggalan. Sayangnya  setelah lebaran, mayoritas remaja pada sibuk balik ke alamnya  masing-masing.  

Rupanya, praktek hidup sekular yang udah  menghapus jejak-jejak Ramadhan dalam diri mayoritas  remaja muslim. Apalagi lingkungan sekitar udah nggak  nyetel lagi dengan nuansa ibadah. Sebulan penuh latihan  mengendalikan hawa nafsu seolah tak berbekas. Kaya gitu  deh jadinya kalo Ramadhan hanya sekedar tren tahunan.  Bulan suci disambut dengan sukacita lantaran ada udang  dibalik bakwan. Pihak media berlomba-lomba mendulang  rupiah di bulan berkah. Setelah berkahnya abis, amalan  ramadhan boro-boro dilirik di bulan laen.

Dah nggak  trendy. Gaya hidup sekuler inilah salah satu bentuk  penjajahan budaya barat yang sering luput dari perhatian  kita. Remaja muslim dijauhkan dari aturan Islam. Dan  kondisi umat Islampun makin terpuruk.  Driser, Islam nggak pernah kenal yang namanya  kehidupan sekuler. Jangankan kenalan, dicombalingin aja  ogah. Sumpeh lho.

Lantaran nggak ada sedikitpun  kebaikan yang ditelorkan dari gaya hidup sekuler bagi  umat Islam. Yang ada justru kemuliaan Islam bakal  diinjak-injak kalo Islam disamain dengan agama lain yang  cuman ngatur ibadah ritual semata. Allah swt  berfirman:  “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu  agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan  telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu”. (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Ayat di atas menjelaskan pada kita kalo ajaran  Islam itu udah sempurna. Tanpa cacat bin cela. Ajaran Islam  punya aturan komplit tentang ekonomi, pemerintahan,  sosial, pendidikan, militer, atau politik sebagaimana  kelengkapan aturan ibadah dalam Islam. Semua aturan ini  ngasih kebaikan pada manusia di dunia juga di akhirat.  

Makanya Allah swt memerintahkan umat Islam untuk jadi  muslim full time. Terikat dengan aturan Islam dimana saja,  kapan saja, dan lagi ngapain aja.  Kenapa kita mesti ngotot pake aturan hidup Islam?  Lantaran setiap amal sholeh yang berbuah pahala maupun  amal salah yang berbuah dosa selama hidup di dunia, bakal ada  itung-itungannya di akhirat  kelak. Kalo saldonya surplus  pahala, tiket surga di tangan kita. Sebaliknya, kalo surplus dosa,  ya IDL alias Itu Derita Loe di neraka.

Nggak deh! Nah driser, buang jauh-jauh deh mental sekuler  dalam diri kita. Kalo ramadhan kemaren ibadahnya getol,  giatin juga di bulan laen. Kalo puasa kemaren sukses  menjinakkan hawa nafsu, terusin di bulan berikutnya. Kalo  sebelum syawal kita aktif ikut kajian Islam, sekarang jangan  ampe kendor. Semuanya kudu dipertahankan terus biar jadi  muslim full time yang disayang Allah swt. mau kan? Terus  kalo iman kita kedodoran dihantam gaya hidup sekuler di  sekitar kita, perkuat benteng akidah dengan mengenal Islam  lebih dalam. Ikut ngaji, Insya Allah gak akan rugi. Yuk! [341

Hukum Mengarang Novel

Assalamu’alaikum D’Rise  tolong bahas tentang hukum  mengarang/novel n kisah2 fiktif  dong! cz q pernah baca2 artikel, klo  mmbuat cerita2 fiktif itu sama dg  mnyebarkan khurafat n  pembuat/penulisny dkategorikan sbg  ahlul bid’ah.. Wach,q jd ngeri jg tuh  mau nulis2 novel. Thanks..  (Nuruddin Zanky al-Jambari,Bumi  Allah)

Akhi Nuruddin Zanky Barakallahu  fika Hukum asal bohong adalah  haram.

Tetapi ada beberapa hadis yang  menjelaskan tentang kebolehan  bohong sebagaimana sabda Rasulullah  saw. Yang datang dari ummu kultsum:  “Bukanlah pendusta orang yang  mendamaikan antara manusia (yang  bertikai) kemudian dia melebih-lebihkan kebaikan atau berkata baik”.  [Muttafaqun ‘Alaih]

Novel atau kisah-kisah fiktif adalah  sesuatu yang tidak ada realitasnya dengan  kata lain mengada-ada. Tapi apakah ini  masuk kategori bid’ah atau khurafat (cerita  dusta)? Tentu kita harus dalami dulu faktanya  (tahqiq almanath).

Akan disebut bid’ah  apabila cerita yang dibuatnya ada kaitannya  dengan ibadah atau fadhilah-fadhilah ibadah  yang tidak ada keterangannya dari rasulullah  saw.

Sebagaimana sabda beliau “Barang  siapa berdusta atas nama kami (mengada-adakan hadis) maka bersiap-siaplah dia  duduk diatas api neraka”. (Muttafaq alaih).

Memang hukum mengarang novel atau  kisah-kisah fiktif tidak dijelaskan langsung  hukumnya sebagiamana hukum  menggambar binatang. Maka jika melihat  pada ketiadaan syariat memberikan hukum  jelas terhadap sesuatu, bisa jadi menulis  novel itu termasuk Mubah; namun karena  faktor tertentu, ia bisa jadi juga haram,atau   makruh.

Kalau kita mengamati kitab-kitab  yang digunakan di pesantren-pesantren ada  diantaranya kitab yang berisi cerita-cerita  fiktif seperti kitab al-Qira’tur rasyidah atau  biasa disebut kitab muthala’ah yang disusun  oleh Abdul Fattah shabry dan Ali Umar.

Di  dalamnya terdapat kisah-kisah yang memberi  motivasi, pelajaran hidup, dan kehidupan  binatang. Seperti kisah al-Asad wal Fa’rah,  at-Tahawun, sur’atul Khathir, at-taqlidul  a’ma dll.yang semuanya berisi tentang hal-hal yan baik dan memberikan pelajaran  kapada para pembacanya agar senantisa  berbuat baik. Kalau demikian adanya maka  cerita-cerita fiktif itu hukumnya mubah.  Apalagi disana terdapat pelajaran bahasa  atau tarkib allughah.

Tetapi ada juga  ulama  muta’akhirin yang menyatakan “Apabila  kegiatan membaca atau menulis kisah fiksi  ini membuat seseorang lalai dari perkara  yang hukumnya wajib, maka kegiatan ini  hukumnya haram. Dan apabila kegiatan ini  melalaikan seseorang dari perkara yang  hukumnya sunnah maka kegiatan ini  hukumnya makruh. Dalam setiap kondisi,  waktu seorang muslim sangat berharga, jadi  tidak boleh bagi dirinya untuk menghabiskan  waktunya untuk perkara yang tidak ada  manfaatnya.( Syaikh Shalih bin Fauzan Al  Fauzan)

Wal hashil seorang muslim harus  pandai-pandai menimbang perbuatannya.  Kalau perbuatannya hanya menghasilkan  kesia-siaan maka lebih baik ditinggalkan. Dan  apabila perbuatannya akan menadatangkan  manfaat bagi dirinya dan orang lain  maka  hendaklah ia melakukannya. Sebagiamana  ungkapan yang sering kita dengar “sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi  manfaat bagi orang lain”. Wallahu a’lam[]

KEJARLAH DAKU KUALIHKAN

kamis dini hari, 23 Pebruari 2012.  Enam orang datang ke RSPAD di  KJalan Gatot Subroto Jakarta Selatan  untuk melayat rekannya yang meninggal di  ruang A Eksekutif. Tiba-tiba, muncul puluhan orang  dari dua mobil plat hitam dan satu taksi.  Sebagian dari mereka membawa golok  dan parang. Seorang perempuan juga  turut menyerbu dengan senjata samurai  bak lady Kill Bill.

Gerombolan ini langsung  menyerang para pembesuk tadi secara  membabi buta. Tawuran tak seimbang  terjadi di lapangan parkir Gedung Di-rektorat Kesehatan Angkatan Darat,  Akademi Kesehatan Gigi. Akibatnya, dua  orang tewas di tempat dan satu meninggal  di perjalanan serta tiga lainnya luka-luka. Sontak, peristiwa itu jadi berita  utama (headline) media massa berhari-hari. Tema berita pun berkembang  mengupas sisik melik dunia preman, wabil  khusus preman Ambon.  Sepintas, riuhnya pemberitaan  kasus ini wajar saja.

Tapi, ada sebuah  ketidakwajaran besar yang tak pernah  ditelisik media; Lho, kok bisa, rumah sakit  tentara jadi ajang tawuran preman.  Tawuran di sebuah rumah sakit saja sudah  aneh, terlebih ini rumah sakit TNI  Angkatan Darat. Bukankah peristiwa  macam begini hampir-hampir hil yang  mustahal terjadi.

Sebelum meledaknya kasus yang  mencuatkan nama John Kei itu, media  massa ramai-ramai memberitakan  penolakan massa Dayak terhadap  kehadiran 4 pengurus DPP FPI Pusat ke  Palangkaraya. Kasus ini berlanjut hingga  aksi demo bertajuk ”Indonesia tanpa FPI”  di Bunderan HI Jakarta Pusat.

Lagi-lagi ada keanehan besar yang  tak disorot; Bagaimana mungkin, ratusan  orang liar bersenjata tajam dapat  melenggang bebas memasuki area  bandara sampai ke landas pacu pesawat. Dalam waktu berdekatan, juga  mencuat berita aneh seperti ”teroris”  mengubur amunisi di hutan UI. Juga lima  orang yang dihabisi Densus-88 di Bali  karena dituduh ”teroris”, sementara  Kapolda Bali sendiri menyebut mereka  kawanan perampok.

Peristiwa-peristiwa mengandung  keanehan yang jadi headline media itu,  namanya escavation news. Berita pengalih  isu, yang saat itu didominasi tentang  orkestra korupsi para pimpinan Partai  Demokrat. Seorang produser di stasiun teve  swasta nasional mengungkapkan, ekspos  kasus John Kei memang by-design alias  sengaja diatur agar jadi headline.

Hal ini  terungkap dari pengakuan temannya yang  seorang perwira menengah Polri. ”Banyak  peristiwa lain yang menarik, tapi sama  ‘Redaktur’ kita disuruh ‘menulis’ John Kei  terus,” keluh perwira polisi itu.  Pada 22 September 2010,  segerombolan orang bersenjata lengkap  menyerbu Mapolsek Hamparan Perak, Deli  Serdang. Tiga polisi tewas diberondong  timah panas.  Kapolri waktu itu, Jenderal Bambang  Hendarso Danuri, langsung mengklaim  bahwa serangan tersebut adalah terorisme.

Ia mengatakan, penyerangan tersebut  merupakan buntut dari penggerebekan  Densus-88 terhadap para teroris yang  merampok Bank CIMB Niaga Medan,  Sumatera Utara, 18 Agutus 2010.  Tapi, klaim Kapolri disanggah  keterangan Kapolda Sumut, Irjen Pol  Oegroseno. Kapolda Oegroseno menegaskan,  serentetan peristiwa yang menghebohkan  Kota Medan dan sekitarnya, mulai  perampokan Bank CIMB Niaga hingga  penyerbuan Mapolsekta Hamparan Perak,  dilakukan oleh sisa separatis, bukan teroris.

Hal itu dia ungkapkan saat menjadi  pembicara pada forum diskusi antara  Kapoldasu dengan sejumlah Ormas Islam,  MUI Medan dan jajaran Pemko Medan di  Ruang Rapat IV, Balai Kota, 23 September  2010. Kapolda Sumut juga menyebutkan,  “Ada satu media yang terus menggiring  masyarakat ke arah sana, sehingga  masyarakat percaya bahwa mereka adalah  teroris.”  Sebelum penggerebekan ”amunisi  teroris” di hutan UI, kalangan wartawan  juga menerima undangan khusus dari  aparat.

Undangan meliput juga diterima  wartawan sebelum penggerebekan teroris  di Wonosobo, Solo, dan lain-lain itu. Tak ayal, hal tersebut akhirnya jadi  bahan lelucon di kalangan insan pers.  Wartawan yang sadar dan cerdas,  menyebutnya sebagai ”terortainment”.

Pamungkas dari pengalihan isu  korupsi The Ruling Party adalah harga BBM.  Diwarnai demo ribuan mahasiswa dan  buruh di berbagai kota yang menguras  keringat, airmata, dan darah,  Sidang Paripurna DPR RI  akhirnya menggagalkan  kemauan pemerintah untuk  menaikkan harga BBM per 1  April 2012. Lalu Partai Golkar dan  Demokrat berebut jadi  pahlawan atas hasil sidang itu.

Padahal, dengan keputusan  yang mereka buat bersama  komplotan Setgab, Indonesia  memproklamirkan diri  sebagai penganut liberalisme  perminyakan. Sudahlah ekplorasi  sumur minyak diserahkan pada perusahaan  asing, penjualannya pun harganya mengikuti  ketentuan asing.  Driser, di satu sisi peran media  sebagai sumber informasi sangat kita  butuhkan. Sialnya, hal ini sering  dimanfaatkan oleh penguasa untuk  menggiring opini masyarakat sesuai  keinginan mereka.

Media massa jadi ujung  tombak untuk meredam kemarahan  masyarakat yang mulai jengah dengan  kebijakan pemerintah yang menyengsarakan  rakyat. Media massa juga sering dipake  untuk menyudutkan ajaran Islam dan kaum  Muslimin yang aktif mengingatkan  penguasa zhalim. Makanya, penting banget  bagi kita untuk melek media. Biar nyadar  dengan realitas sebenarnya dibalik  pemberitaan media. Kalo kita alergi dengan  tayangan berita atau isu-isu politik, alamat  masuk golongan kamseupay tuh. Mau?!  [nurbowo]

Kamseupay gitu loh..

Kampungan SEkali Uuhh PAYah adalah kepanjangan dari  Kamseupay. Itulah istilah gaul sekarang yang banyak  digandrungi anak muda sekaligus sering menghiasi status-status serta tweet-tweet di jejaring sosial. Beberapa waktu yang lalu  istilah yang lagi ngetren adalah galau, dan  sesuatu banget, sekarang  posisi bergeser pada kamseupay. Konon istilah kamseupay ini muncul  ketika perseteruan Marissa Haque dan beberapa artis mulai  memanas.

Di blog pribadinya, Marissa mengritik artis-artis yang tidak  disukainya itu dengan istilah kamseupay ini. Setelah istilah ini dipakai  dalam sebuah iklan operator selular, ia semakin booming. Kamseupay sering banget digunakan untuk ngeledek orang-orang yang nggak gaul. Kamu-kamu yang nggak ngikutin tren fesyen  pastilah bakal langsung digelari kamseupay. Yang nggak penah makan  fried chicken dan burger juga kudu siap-siap digelari kamseupay.

Apalagi yang nggak ngerti gadget dan nggak pacaran, kudu siap tebal  muka karena bakal digelari kamseupay sejati. Bener, mereka yang  nggak matching sama budaya barat bakal menyandang gelar  kamseupay. Padahal, gelar kamseupay itu seharusnya disematkan kepada  mereka yang nggak ngerti hukum-hukum Islam dan nggak mau hidup  dengan cita rasa Islam. Wajar banget kan, remaja Islam kudu tau  syariat Islam dan hidup dengan cita rasa Islam. Kalo ada remaja yang  agamanya Islam tapi telmi  tentang syariat Islam dan nggak mau hidup  dengan cita rasa Islam tandanya kamseupay. Waktu jaman nabi, orang  arab baduy yang tinggalnya di pedalaman plus kampungan tuh yang  nggak mau hidup dengan menaati aturan Islam dan nggak ngerti  syariat Islam. Amit-amit deh kalo kita bisa kaya orang arab baduy yang  kamseupay itu. Makanya, generasi Islam kudu menempa diri dengan  tsaqofah (ilmu) Islam, agar nggak jadi kampungan [sayf].