Kabar dari Istanbul: WAJAH ISTANBUL HARI INI (bagian II – Selesai)

drise-online.com – Liburan saya bersama keluarga di Istanbul, Turki, berlangsung selama 9 hari. Waktu 9 hari itu terasa sangat singkat dan tidak cukup untuk menjelajahi seluruh sudut Istanbul. Ini disebabkan kondisi saya yang sedang hamil 7 bulan pada saat itu. Sehingga tidak bisa berjalan jauh dan kurang leluasa untuk naik turun metro maupun bus kota. Tetapi waktu yang terbatas itu kami maksimalkan untuk menelusuri jejak kekhilafahan Ustmaniyah, sekaligus melihat kondisi masyarakat Istanbul secara langsung. Untuk itulah, kami mengikuti salah satu tour menelusuri Selat Bosporus. Dalam tour tersebut, pemandu kami menyebut tiga nama tokoh yang berperan penting dalam pembangunan Turki. Mereka adalah Sultan Mehmet II, Sultan Süleyman, dan Mustafa Kemal. Sosok Sultan Mehmet II dan Sultan Süleyman, sudah saya tuangkan dalam tulisan sebelumnya.

Mustafa Kemal

Mustafa Kemal adalah presiden pertama Republik Turki. Dia menjadi presiden setelah Majelis Agung Nasional Turki mendeklarasikan berdirinya Republik Turki pada tanggal 29 Oktober 1923. Dan Kekhalifahan Ustmaniyahsecara resmi dibubarkan tanggal 3 Maret 1924. Demi mewujudkan cita-citanya untuk membangun Turki menjadi negara yang sekuler, Mustafa Kemal kemudian memulai program revolusioner di bidang sosial dan politik. Diantaranya, mendorong kaum wanita Turki untuk menduduki jabatan vital dalam pemerintahan yang jelas-jelas terlarang dalam Islam, sebagai bentuk emansipasi perempuan. Disamping itu, dia jugamenghapus seluruh institusi hukum Islam dan menggantinya dengan institusi hukum Barat. Penghapusan sistem kalender hijriyah, penggantian seluruh huruf Arab dengan alfabet latin, bahkan pelarangan pembangunan masjid-masjid baru dan pengumandangan adzan dalam bahasa Arab. Mustafa Kemalmendorong lelaki Turki untuk mengenakan pakaian orang Eropa, serta topi-topi ala Eropa untuk menggantikan hijab para muslimah. Selain itu, dia juga menggalakkan produksi minuman yang mengandung alkohol di dalam negeri dan mendirikan industri minuman keras milik negara,meskipun Islam melarang keras hal tersebut.

Mustafa Kemal begitu berambisi untuk membangun masyarakat Turki sekuler yang jauh dari nilai-nilai Islam.Bahkan ia mengubah wajah dan fungsi Masjid agung Ayasofyayang menjadi lambang perubahan masyarakat konstantinopel yang semula diatur dengan undang-undang manusia, menjadi masyarakat baru yang diatur dengan undang-undang yang bersumber dari ALLAH SWT. Masjid ini ditutup pada tahun 1931 dan diubah fungsi menjadi sebuah museum pada Februari 1935 untuk menarik minat wisatawan mancanegara berkunjung ke Turki.

Ayasofyia

Serasa tersekat diri ini, ketika selangkah demi selangkah memasuki Ayasofyia saat itu. Bagi saya, Ayasofyia adalah lambang kemenangan kaum muslimin atas dominasi imperium romawi (Byzantine) serta perwujudan janji (bisyarah) Rasulullah SAW. Semenjak masa Shahabat, kaum muslimin telah mengerahkan segala daya dan upaya, bahkan tidak sedikit dari mereka yang syahid dalam jihad untuk menaklukan konstantinopel dan merebut Ayasofyia yang menjadi kebanggaan romawi. Akan tetapi, ditangan Mustafa Kemal, begitu mudahnya masjid ini beralih fungsi menjadi museum. Konon kabarnya, diperlukan waktu beberapa tahun untuk pengelupasan secara bertahap lapisan dinding dan langit-langit masjid Ayasofya agar mozaik lukisan tokoh-tokoh suci kristen peninggalan Byzantine bisa terlihat kembali. Kini, tepat di atas mimbar mihrab, terdapat sebuah mozaik lukisan perawan Maria (Virgin Mary) menggendong seorang bayi laki-laki. Bahkan bila dilihat dari salah satu pintu masuk yang berada di tengah, tampak seolah-olah mozaik lukisan tersebut diapit oleh kaligrafi bertuliskan Allah Subhanahu wa ta’alaa di pilar sebelah kanan dan Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam di pilar kiri. Penuh keingintahuan, saya kembali ke pintu masuk. Di sana terdapat beberapa partisi yang menggambarkan perjalanan sejarah Ayasofya dan proses perubahan masjid menjadi museum yang rupanya dibantu oleh pihak asing dalam pengerjaannya.

Menyusuri jalanan Kota Istanbul, saya melihat secara langsung hasil sekulerisasi yang dibangun Mustafa Kemal pada masyarakat Turki. Masjid Sultan Ahmet yang begitu megah serta dikenal di seluruh dunia dengan nama Blue Mosque itu, kini hanya dipenuhi para wisatawan. Bila waktu shalat tiba, jamaah Masjid itu hanya 2-3 shaf itupun tidak rapat. Pengunjung yang berdiri dibalik sekat kain selutut sambil memotret bagian dalam Masjid, jumlahnya lebih banyak, bahkan sampai berdesak-desakan. Masjid-masjid lain pun kondisinya sama, termasuk Masjid Yeni (New Mosque) yang berada di tepi Golden Horn (muara berbentuk tanduk diantara Selat Bosporus dan Laut Marmara). Hampir semua masjid memiliki sekat kain di tepinya sebagai tempat bagi para wisatawan yang ingin melihat kondisi dalam masjid. Masjid-masjid di Istanbul telah menjadi salah satu obyek wisata.

Restauran dan cafe-cafe sepanjang jalan maupun di pasar-pasar, hampir semuanya menjajakan minuman keras. Para pelayannya tanpa ragu memegang nampan berisi segelas minuman beralkohol sambil mengajak setiap orang yang melintas untuk memasuki restaurannya. Pengunjung restauran dan cafe-cafe itu tentu saja bukan hanya para wisatawan mancanegara, penduduk lokal Turki pun tampak menikmati minuman-minuman beralkohol tersebut. Mengingatkan saya akan cerita suami tentang teman Turkinya yang begitu antimemakan daging babi, tetapi dengan nikmat menenggak minuman beralkohol. Hal ini tentu saja menyulitkan kami selama 9 hari berada di sana dalam mencari tempat makan. Sering kali kami melangkah keluar lagi dari dalam sebuah restauran meskipun sebelumnya sudah duduk, karena melihat daftar minuman keras dalam menunya. Itu kami lakukan karena enggan melihat seorang muslim menuangkan minuman keras bagi orang lain, apalagi melihat mereka meminumnya.

Para wanita muda Turki banyak yang terlihat tanpa hijab. Hanya sedikit yang menutup aurat, itupun sebagian besar wanita paruh baya. Saya melihat geliat berhijab justru lebih semarak di Indonesia. Para wanita muda yang saya temui di metro, subway, toko-toko, maupun jalanan Istanbul tak ubahnya seperti wanita muda Eropa pada umumnya. Tak jarang terlihat beberapa diantaranya merokok sebagaimana lelaki. Meskipun demikian, sebagian besar diantara mereka sangat ramah dan suka menyapa dengan bahasa Inggris seadanya. Bahkan suka memberikan tempat duduknya kepada saya yang terlihat sedang berbadan dua. Gaya hidup muda-mudi Turki cukup bebas. Saat beristirahat di salah satu bangku taman kota Istanbul, seringkali terlihat sepasang muda-mudi duduk sambil bermesraan dengan bebas di tengah keramaian. Ironisnya yang melakukan bukan wisatawan asing, tetapi muda mudi lokal berbahasa Turki yang notabene adalah muslim.

WAJAH ISTANBUL HARI INI - DRISE-ONLINE.COM

Melihat secara langsung wajah masyarakat Istanbul hari ini menyisakan kegetiran yang mendalam di hati saya. Istanbul yang dulunya berada dalam naungan kekhilafahan Ustmaniyahmampu menjadi pusat peradaban dunia yang kuat serta disegani.Pusat kebudayaan islam itu, kini berubah hanya menjadi daerah wisata yang dibanjiri dengan tempat-tempat maksiat. Perubahan ke arah sekuler yang dibawa oleh Mustafa Kemal hanya menghantarkan Turki serta kaum muslimin di seluruh dunia menjadi bangsa dan umat yang lemah. Kelak, Islam akan jaya kembali. Seperti dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Insya Allah. []

Kontributor: Siska Putri (Linköping, Sweden)

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

Kabar dari Istanbul: WAJAH ISTANBUL HARI INI (bagian I)

drise-online.com – Saat itu, sekitar pukul 02.00 dinihari EET (Eastern European Time), pesawat KLM Royal Dutch yang membawa kamidari Bandara Internasional Schippol, Amsterdam, mendarat di Bandara Internasional Atatürk Istanbul, Turki. Tak lama, supir shuttle travel hotel yang ditugaskan untuk menjemput membawa kami membelah kesunyian kota Istanbul menuju kawasan Kota Tua Sultan Ahmet,  tempat hotel kami berada. Tak jauh dari hotel terdapat sebuah Masjid kecil dengan menaranya yang tinggi, tipikal masjid-masjid Istanbul. Hotel ini juga cukup dekat dengan Masjid Sultan Ahmet (Blue Mosque),sehingga wajar saja bila suara adzanshubuh bersahutan memasuki kamar kami.

Pagi harinya, kami sarapan di rooftop terrace hotel yang menghadap ke Laut Marmara. Sesaat saya terhenyak, memandangi Laut Marmara yang luas membentang. Saya baru menyadari bahwa Kota Istanbul terletak di sebuah semenanjung yang diapit oleh Laut Marmaradan Laut Hitam. Selat Bosporus, sebagai salah satu jalur transportasi laut tersibuk di dunia, pun membelah kota ini menjadi dua, menguhubungkan Laut Marmara di sisi selatan dan Laut Hitam di sisi utara. Tak heran bila kota ini pernah menjadi pusat peradaban Byzantine dan Ottoman Empire (Kekhilafahan Ustmaniyah).

Saat mengikuti Bosphorus Cruising Tour, seorang guide menyebut tiga nama yang paling berpengaruh bagi pembangunan Turki. Ketiga tokoh tersebut adalah Sultan MehmedII The Conqueror (Fatih Sultan Mehmet), Suleiman The Magnificent (Kanunî Sultan Süleyman), dan Mustafa Kemal Father of the Turks (Mustafa Kemal Atatürk). Sultan Mehmet II adalah salah seorang Khalifah era Ustmaniyah yang berhasil membebaskan Konstantinopel dari Imperium Romawi (Byzantine). Selanjutnya beliau mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (sekarang dikenal dengan Istanbul) dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Khilafah Ustmaniyah. Sepanjang Khilafah Ustmaniyah berdiri, sejarah mencatat masa pemerintahan Sultan Süleyman sebagai masa puncak keemasan. Di bawah kekuasaannya, Khilafah Ustmaniyah menjadi salah satu negara terkuat di dunia yang mengendalikan sebagian besar Eropa Tenggara, Asia Barat, Afrika Utara, dan Tanduk Afrika (semenanjung Afrika Timur). Sultan Süleymanpulalah yang menyempurnakan pembangunan Kota Istanbul dengan tatakota yang artistik dan bernafaskan Islam, hingga Napoleon Bonaparte menjulukinya sebagai ibukota bagi seluruh dunia.

Berdiri di taman kota Istanbul (Sultan Ahmet Square), dan melihat sekelilingnya, mengingatkan saya bahwa penaklukan Konstantinopel yang dilakukan Sultan Mehmet II, semata-mata karena dorongan sabda Rasulullah SAW, “Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.” (HR Ahmad Bin Hanbal, Al-Musnad [4/335]).Beliau dan Sultan-sultan penggantinya memiliki dorongan yang sama dalam membangun Istanbul, yakni semata-mata untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘aalamiin. Bangunan-bangunan yang masih tegak berdiri di sana menjadi bukti otentik bahwa pembangunan Istanbul sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam.

Sultan Mehmet II mengubah Hagia Sophia (Ayasofya) dari sebuah gereja menjadi Masjid dan menjadikannya sebagai pusat kehidupan kaum muslimin di Istanbul. Beliau juga membangun tempat tinggal sekaligus pusat pemerintahannya, Istana Topkapi (Topkapı Sarayı), berdekatan dengan masjid ini. Sebagai penopang keberlangsungan Masjid Ayasofya, sebuah pasar yang menjadipusat perniagaan warga Istanbul pun dibangun di dekatnya. Hingga hari ini pasar tersebut masih dikenal di seluruh dunia dengan nama Covered Bazaar (Kapalıçarşı).

Dekat dengan Ayasofya terdapat tempat penyimpanan air bawah tanah terbesar di masa Byzantine, Basilica Cistern (Yerebatan Sarayı). Cistern ini mensuplai kebutuhan air penduduk Kota Konstantinopel pada masa itu. Tetapi, di masa Kekhilafahan  Ustmaniyah, tidak dipergunakan lagi. Sebagai gantinya, Sultan-Sultan yang memerintah di Istanbul dari masa ke masa, membangun fountain untuk menyediakan air bersih bagi warga Kota Istanbul. Fountain ini dibangun karena keyakinan Islam akan sifat air mengalir yang suci lagi menyucikan. Tercatat lebih dari 10.000 fountain telah dibangun, diantaranya dipergunakan untuk berwudlu dan minum para warga maupun musafir. Salah satu fountain yang terkenal dan masih berfungsi hingga sekarang adalah Fountain of Sultan Ahmet III yang berada di depan pintu gerbang Istana Topkapi. Konon fountain ini untuk menyambut para tamu Sultan (musafir).

Kebiasaan menyediakan air bersih untuk diminum para musafir, masih berlangsung hingga sekarang. Di beberapa tempat di Istanbul, terutama di pasar-pasar, tersedia tangki air minum lengkap dengan gelas plastiknya. Sehingga memudahkan para wisatawan yang kehausan. Kali pertama menjumpai tangki air minum ini, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Segelas air langsung saya minum dan botol-botol persediaan air yang kami miliki pun saya isi penuh.

Itulah sebagian kesan saya tentang kota Istanbul yang dibangun para Sultan di masa Khilafah Ustmaniyah. Mereka (para Sultan Ustmaniy), menjadikan nilai-nilai dan ajaran Islam sebagai pondasi dalam membangun tatakota dan masyarakatnya. Pondasi inilah yang mengantarkan kekhilafahan Ustmaniyah menjadi negara kuat, besar dan berpengaruh secara internasional. Kesan saya yang lain tentang Istanbul, akan saya tuangkan dalam tulisan berikutnya. Terutama kesan yang muncul akibat kebijakan yang diterapkan tokoh ketiga yang disebut oleh tour guide yang saya ikuti, yaitu Mustafa Kemal Atatürk. Tungguin yaa…

Kontributor: Siska Putri (Linköping, Sweden)

di muat di Majlah Remaja Islam  D’rise edisi #38

Ziarah ke Auliya Bahnasa

Tanah dengan 5000 makam sahabat nabi

Oleh: Anastasia, Ibu Rumahtangga tinggal di Mesir

 

drise-online.com – Konon ketika pemerintahan Romawi berkuasa, terdapat seorang raja bernama El-Batlimus yang memiliki seorang puteri yang cantik. Kerana kecantikannya, sang puteri dijuluki dalam bahasa Arab sebagai Baha’ An-Nisa’ artinya, Wanita yang amat cantik.

Ketika penaklukan Mesir sekitar tahun 22 Hijriyah, gubenur Mesir Amru bin Al-‘As telah mengutuskan tentara Islam ke kawasan Sa’id Mesir yang dipimpin Panglima Qais bin Al-Harith. Ketika tiba di kota tersebut, tentara Islam disambut pedang tentara musuh, rantai besi serta pintu-pintu kota yang kokoh mempertahankan Bahnasa. Namun tak sedikit pun para sahabat getir mundur kebelakang. Mereka gigih berjuang memperebutkan Bahnasa sampai akhirnya Bahnasa jatuh kepangkuan Islam.

Bahnasa merupakan tanah yang penuh keberkahan, terletak di muhafazah al-Minya selatan Mesir. Sayyidina Amru Al-Asr RA, sahabat baginda yang ikut menaklukan Mesir pernah mengatakan “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda “tidak ada tanah yang lebih berkah setelah Mekah, Madinah dan Baitul Maqdis suatu melainkan di bumi Mesir serta lebih banyak keberkahan yang berada di sebelah barat Mesir. Kata Sayyidina Amr : “Mudah-mudahan ia (tempat yang banyak keberkahan itu) ialah Bahnasa”.

Hadist di atas menjadi indikasi penaklukan Islam atas negeri-negeri jajahan. Kala itu Mesir masih di bawah jajahan Romawi, kondisi Mesir tertindas banyak penduduk setempat menjadi budak. Maka dari itulah Rosulullah mengutus Amr bin Ash memerdekan Mesir. Terbukti setelah dikuasai Islam, ekonomi Bahnasa bergerak mereka memproduksi tenun yang disulam dengan emas, sehingga pada zamannya Bahnasa terkenal dengan tenunnya, masyarakat dihilangkan dari belenggu kenistaan, dan hak-hak hidup mereka diberikan.

Di kota Bahnasa begitu berkah dan istimewa karena di tanah inilah terjadi peperangan hebat yang menyebabkan 5000 sahabat Rosul syahid, di antaranya adalah generasi ke tiga sahabat. Bahnasa saksi bisu 5000 sahabat dan tabi’in gugur syahid berperang dalam Futuh Islam. Di antara para solehin yang dimakamkan di tanah berkah ini ialah:

  • Makam 7 perempuan : Dome of seven girls
  • Makam Saidi Ali Jummam (Qadi Bahnasa)
  • Makam Saidi Jaafar dan Ali Bin ‘Ukil Bin Abi Talib (Anak saudara Saidina Ali)
  • Makam Saidi Syarif Mas’ud ( Satu maqam dengan Saidi Jaafar dan Ali)
  • Pohon Saidah Maryam (Tempat Maryam, Ibu Nabi Isa alaihissalam beristirahat (ketika melarikan diri)
  • Makam Saidina Ziad bin Abi Sufian bin al-Harith bin Abdul Muttalib (Ketua perang)
  • Makam Saidi Hassan bin Soleh bin Ali Zainal ‘Abidin bin Hussain bin Ali (Cicit Saidina Hussain)
  • Makam Ubaidah Bin Ubadah Bin Assomat (Anak Sahabat)\
  • Saidina Muhammad bin ‘Uqbah bin Nafi’ dan Qa’qa Ibn Umar
  • Saidah Khaulah Al-Azwar
  • Saidi Hassan Bin Yahya Bin Hassan Al-Basri (Cucu Hasan Al-Basri)
  • Saidina Muhammad bin Abdul Rahman bin Abu Bakar (Cucu Saidina Abu Bakar As-Siddiq)

 

Ada yang menyebutkan bahwa Bahnasa merupakan tanah terbanyak yang di isi oleh makam para sahabat, karena secara fisik kompleks pemakaman Bahnasa masih utuh membentang diantara makam tersebut tercatat 70 orang sahabat yang ikut berperang ke medan Badar, di antara ulama’-ulama’ yang pernah menziarahi Bahnasa ialah Imam Bishrul Hafi, Imam Sirri as-Siqoti, Saidina Malik bin Dinar, Imam Fudoil bin ‘iyad, Ibnu Sirin dan masih banyak lagi.

Bahnasa sekarang tumbuh menjadi perkampungan kecil yang terletak 400 Km dari kota Cairo. Kondisi Mesir sekarang telah menjauhkan Islam sebagai sistem negara. Akibatnya wilayah Bahnasa tidaklah termansyur seperti dahulu kala. Masyarakat setempat hanya bertumpu hidup pada ladang. Wajah Mesir sekarang menjadi sebuah ironi antara yang kaya dan yang miskin. Kesenjangan sosial begitu tinggi, diperburuk dengan pemerintah rezim yang dzalim terhadap rakyatnya. Mesir belum stabil, masyarakat hidup dalam ketakutan karena pergantian penguasa yang syarat akan konflik, laju perekonomian kian mundur kebelakang, harga kebutuhan barang melambung di pasaran. Bahnasa sebagai tempat wisata ziarah leluhur sahabat, menunjukkan pada kita bukti nyata ketika Islam diterapkan maka keberkahanlah yang akan dilimpahkan pada masyarakat. Semoga Driser bisa ke Mesir, biar bisa ziarah ke Bahnasa, tanah dengan 5000 makam shahabat. Aamiin.[]

di muat di Majalah Remaja islam drise Edisi #37

 

“Berjilbab di negeri Ginseng” Bagian 2

drise-online.com – Tak terasa sudah memasuki tahun keempat kehadiranku dan keluarga kecilku di Korea Selatan. Aku menemani suamiku yang melanjutkan studi doctoral (S3) di kota Busan, sebuah kota metropolitan yang letaknya sekitar 5 jam dari Ibukota Seoul. Dibandingkan Seoul, Busan bisa dikatakan sebagai kota yang nyaman karena jauh dari kepadatan populasi, kemacetan kendaraan dan lalu lalang orang yang berdesakan saat menumpang kereta listrik (subway) di sepanjang stasiun setiap harinya. Busan juga memiliki suhu yang cukup hangat dan tidak terlalu ekstrim seperti di Seoul. Saat musim dingin (winter), Busan masih terbilang “hangat” karena suhunya tidak terlalu dingin dan tidak banyak turun salju. Saat musim panas (summer) tiba, kota Busan yang banyak dikelilingi pegunungan dan pantai terasa lebih sejuk dan tidak sepanas di Seoul.

Dulu ras Korea Selatan terkenal sekali dengan wajahnya yang bulat, rahang yang besar, wajah yang kotak, bermata sipit dan berhidung pesek. Namun setelah masuknya budaya barat ke negeri Korea Selatan maka perubahan paradigm terjadi. Semua orang memandang Amerika sebagai kiblat mereka. Mereka sangat mengagumi dan ingin memiliki struktur wajah dan tubuh yang sama seperti orang Amerika pada umumnya. Menurut mereka, seseorang dikatakan cantik apabila memiliki wajah yang cantik, hidung yang mancung, kelopak mata yang besar, hidung yang bulat, dagu yang lancip, tubuh yang langsing dan payudara yang berisi. Tidak jauh berbeda jika mereka memandang pria yang ganteng adalah pria yang kekar, tinggi, memiliki wajah yang panjang, hidung mancung dan memiliki wajah yang terawat.

Karena warga Korea Selatan sangat memperhatikan penampilan, maka setiap orang memiliki sense of fashion yang sangat tajam sehingga mereka sangat fashionable sekali sehari-harinya. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Korea Selatan, aku sangat terkejut dengan orang-orang yang kutemui di sepanjang jalan. Semua terlihat sangat fashionable , bak melihat manekin berjalan. Mirip fashion show yang sering kita lihat di layar kaca. Baik itu wanita maupun pria. Baik nenek-nenek, ibu-ibu, remaja dan anak-anak sekalipun. Sejak kecil orang tua Korea sangat memperhatikan penampilan anak-anaknya. Pakaian, sepatu, tas dan aksesoris yang dipakai biasanya bermerk mahal. Tatanan rambut juga tak kalah cantiknya karena sejak kecil mereka sudah diperkenalkan dengan perawatan rambut di salon rambut. Jumlah salon ini juga sama banyaknya dengan klinik operasi plastik. Setiap selisih 1 blok jalan, selalu ada salon perawatan rambut. Toko kosmetik pun bak jamur di musim hujan, selalu menawarkan diskon dan sale yang menarik pengunjung.

Kondisi yang kutemui di Korea Selatan tidaklah serta merta merubah pandanganku dan ikut-ikutan seperti mereka. Alhamdulillah aku dan putriku bersyukur diberi keteguhan iman dan keistiqomahan untuk mengenggam iman di dada kami. Meski setiap mata memandangku dan putriku setiap keluar rumah dengan menggunakan kerudung dan jilbab yang menutupi seluruh tubuh. Tak sedikit orang yang kutemui berdecak heran dengan penampilanku. Mereka yang penasaran tak segan menanyakan apa yang ada di kepalaku? Topi apa yang kupakai?. Ya, ternyata meski kecepatan koneksi internet negeri mereka tercepat di dunia dan tekhnologi mereka sangat pesat, pengetahuan mereka tentang agama Islam sangatlah minim. Mereka tidak mengenal apa itu kerudung yang digunakan para muslimah saat keluar rumah. Mereka pikir kerudung adalah pakaian tradisional Indonesia saja.

Memakai kerudung saat musim panas memiliki tantangan terberat menurutku. Setiap keluar rumah, semua orang yang kutemui akan memandang aneh dan risih penampilanku. Saat mereka bebas membuka aurat mereka dengan pakaian mini, sangat kontras dengan penampilanku yang serba tertutup. Sering mereka bertanya, “apa tidak kepanasan?”. Banyak temanku dan orang yang kutemui menyuruhku melepas kerudung karena saat ini aku berada di Korea. Saat aku menjawab bahwa aku tidak bisa melepas kerudungku karena Tuhanku yang menyuruhku, mereka segera menjawab cepat “ Oh Tuhanmu tidak akan tahu, karena kamu sekarang ada di Korea maka ikuti saja kebudayaan disini. Kamu bisa pakai kalau pulang ke Indonesia”. Aku hanya menjawab singkat, “Tuhanku selalu melihatku dan aku senang memakai hijab ini”. Mereka hanya diam sambil menganguk-angukkan kepalanya.

Putriku yang bersekolah dengan berkerudung juga beberapa kali cerita diminta gurunya melepas kerudung dan menggunakan baju lengan pendek agar tidak kepanasan. Namun putriku selalu menolaknya dan menjawab “ tidak apa-apa bu guru, ini tidak panas kok. Saya sudah terbiasa jadi tidak merasa kepanasan”. Alhamdulillah meski berkerudung, putriku tetap diterima baik di sekolahnya. Teman-temannya juga tak segan mengajaknya bermain. Maka saya sering sedih ketika melihat beberapa teman yang melepas kerudungnya saat berada di Korea. Aku selalu berdoa semoga Allah selalu meneguhkan seluruh muslimah di Korea agar bisa istiqomah dan bangga dengan kerudung dan jilbab yang dipakai. Ini adalah bentuk ketakwaanku pada Rabbku. []

 

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36