Menebar Benih Islam di Negeri Koala*

Majalahdrise.com – Di Brisbane, Australia, inilah aku mulai menyemarakkan dakwah di luar Indonesia. Kupilih pengajian di dekat rumah saja, tanpa harus menempuh tempat tujuan dengan bus. Tidak apalah, meski pengajian yang akan aku ikuti ini hanya terdiri dari tiga atau empat orang saja. Yang penting aku mengaji dan bisa bertemu dengan mereka. Anak-anak sering kuajak serta, agar mereka terbiasa dengan suasana pengajian dan agar mereka cinta dengan pengajian.

Kusadari teman-teman pengajianku itu masih sangatlah “awam”dan di saat yang sama mereka juga kritis. Karena itu kuposisikan diri sebaik-baiknya. Tetap menyampaikan bagaimana menjadi seorang muslim yang baik, sisi kepribadian islami lebih sering kusinggung.

Aku tak bermaksud untuk tidak menyampaikan kewajiban Khilafah. Bukan juga aku takut untuk menyampaikannya. Tetapi kusadari semua ada tahapannya. Begitu pun pemahaman manusia, memerlukan proses.

Saat ini aku sedang hidup di negeri barat yang bisa dikatakan “sukses” menerapkan sistemnya. Mereka melihat dan merasakan sendiri bahwa Negeri Kangguru ini telah berhasil menyejahterakan warganya. Tidak ada masalah dengan sistemnya, semua seolah baik-baik saja.

Aku berkaca dan mengingat diriku sendiri juga tidak sekonyong-konyong menyetujui dan mendukung upaya penegakan Khilafah. Jika keimanan di posisi terpenting saja belum kokoh karena semata warisan orang tua dan bukan didapatkan dari proses berpikir, tentu akan sangat sulit menerima pemikiran yang lebih dari itu.

Maka kumulai dakwahku dari pembahasan mengenai aqidah dan keimanan. Di sisi lain, kusampaikan pula informasi atau berita terkini mengenai dunia Islam. Biasanya dari sini lebih mudah bagiku untuk mengaitkan fakta permasalahn ummat dengan kewajiban menerapkan syariat Islam secara sempurna.

Kuakui aku mengalami kesulitan berdakwah di negeri yang bisa dikatakan “sejahtera dan makmur” ini. Karena bobrok dan boroknya sistem non-Islam tidak langsung terasa seperti di Indonesia. Kendala dan tantangan itulah yang semakin membuatku sadar dan terpacu untuk selalu meningkatkan kualitas diri. Sambil terus berusaha dengan perlahan dan saksama menggiring pemahaman mereka untuk menjadi seorang muslim yang baik dan taat.

Setiap ada kesempatan, kusampaikan bahwa Islam bukan hanya agama spiritual saja, tetapi juga agama yang mempunyai seperangkat aturan-aturan di dalamnya, berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, hukum, politik, dan sebagainya. Informasi-informasi inilah yang kulihat tidak mereka dapatkan selama ini, pun di bangku perkuliahan, meski mereka adalah kandidat master atau doktor sekalipun.

Ketika menyinggung ranah politik, pro dan kontra di kalangan jamaah pengajian pun tak terhindarkan. Kusadari pergolakan adalah hal yang wajar dan niscaya. Semua kusandarkan dan kukembalikan kepada Allah. Bahwa aku hanya menyampaikan dan mengusahakan secara maksimal, setelah itu persoalan hasil sudah bukan lagi dalam lingkar yang kukuasai.

Dalam waktu dekat aku dan keluarga akan segara kembali ke Tanah Air. Aku tak lagi berhitung apa yang pernah kulakukan akan berbekas atau tidak. Kami, aku dan suamiku, hanya terus berusaha menyebarkan benih-benih Islam dan kebaikan di setiap tempat. Kapan waktunya dan siapa yang akan menuai hasilnya hanya Allah saja yang tahu. Kami hanya mengharap balasan terbaik dari-Nya semata.[Anjar RK]

*dikutip dari buku Puzzel Dakwah terbitan Al-Azhar Press

di muat di majalah Remaja Islam drise Edisi #44

Ma’rakah Mu’tah

MajalahDrise.com – Menjadi bagian dari bumi syam, membuat Jordan memiliki tempat-tempat yang kaya akan sejarah. Berbagai agama pernah menancapkan benderanya di Negara ini. Nabi Muhammad SAW sendiri pernah dua kali melewati Jordan. Keduanya untuk urusan bisnis sebelum masa kenabian.

Sebuah peristiwa besar yang menghiasi catatan sejarah dunia islam pernah terjadi di selatan Jordan, tepatnya di kawasan Mu’tah. Perang Mu’tah, adalah peperangan yang terjadi di masa Rasulullah SAW pada tahun 629 M atau Jumadil Awal 8 Hijrah.

Berawal dari dibunuhnya salah satu utusan Rasulullah SAW yang membawa surat beliau untuk Raja Bushra di kawasan timur Jordan, Mu’tah. Sejak dahulu sampai sekarang, pembunuhan terhadap utusan diartikan sebagai pernyataan perang. Pembunuhan ini menyebabkan Rasulullah SAW marah dan mengirim pasukan perang sebanyak 3.000 tentara yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu.

Dalam perang kali ini Rasulullah SAW menunjuk tiga orang panglima perang sekaligus, hal yang belum pernah beliau lakukan sebelumnya. Dan beliau bersabda: “Jika Zaid mati syahid, maka Ja’far yang menggantikannya. Jjika Ja’far mati syahid, maka Abdullah bin Rawahah penggantinya.”

Setibanya pasukan di Ma’an wilayah Syam, terdengar kabar bahwa Heraklius sang Raja Romawi telah sampai di Balqa dengan membawa pasukan gabungan sebanyak 200.000 tentara. Awalnya para sahabat terkejut dan hendak meminta pasukan tambahan kepada Rasulullah SAW. Namun Ibnu Rawahah, panglima ketiga,membakar semangat para pasukan dengan mengingatkan akan kemenangan serta kesyahidan, sehingga mereka membulatkan tekad untuk tetap maju sampai ke hadapan musuh. Mereka pun berangkat menuju medan perang. Di sinilah terlihat betapa besar keberanian para sahabat dalam berjihad memerangi musuh-musuh Allah.

Pasukan musuh yang berjumlah sangat besar membuat para sahabat berperang habis-habisan. Satu tentara dari sahabat mesti melawan puluhan tentara-tentara musuh. Sungguh benar firman-Nya yang diyakini para sahabat: “Jika di antara kalian 20 orang yang bersabar makan akan mengalahkan 200 orang.” (Qs. Al-Anfal: 65)

Bendera Islam dipegang oleh Zaid ibn Haritsah. Dengan keberanian beliau maju memerangi musuh, hingga syahid. Kemudian bendera dipegang oleh panglima kedua, Ja’far ibn Abi Thalib. Tangan kanan beliau ditebas oleh musuh, sehingga beliau memegang bendera dengan tangan kiri. Namun musuh terus memburu dan kembali menebas tangan kiri beliau, yang menyebabkan beliau harus merangkul bendera tersebut untuk mempertahankan tegaknya bendera Islam.Dalam keadaan seperti itulah beliau syahid terbunuh. Beliau pun dijuluki Ath-Thayyar sebab Allah menggantikan kedua tangan beliau dengan dua sayap di surga. Ditemukan pula di tubuh beliau lebih dari 90 luka tusukan panah, sabetan pedang dan tombak.

Lalu bendera tersebut diambil alih oleh panglima ketiga yaitu Ibnu Rawahah. Tak lama beliau pun syahid menyusul kedua panglima sebelumnya.

Pasukan muslim sepakat menyerahkan bendera kepada Khalid ibn Walid. Dan dengan dinobatkannya sebagai panglima, beliau memegang bendera kemudian maju untuk mengubah strategi. Posisi pasukan sayap kanan ditukar dengan sayap kiri, begitu pula depan dan belakang. Dengan demikian musuh akan menyangkan kaum muslimin mendapatkan tentara tambahan. Meskipun kemudian, Khalid ibn Walid menganggap bahwa kekuatan musuh jauh tidak sebanding dengan pasukan muslim. Beliau sendiri telah berperang habis-habisan sampai sembilan pedang patah di tangannya.

Akhirnya Khalid ibn Walid memutuskan untuk menarik mundur pasukan sampai ke Madinah. Musuh tidak berani mengejar karena menyangka hal tersebut bagian dari siasat perang untuk mengajak mereka berperang di padang pasir yang terbuka, yang bisa merugikan mereka.

Perang Mu’tah memiliki banyak hikmah dan menyiratkan mukjizat kenabian Rasulullah SAW .Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dalam keadaan sedih meneteskan air mata seraya berkata, “Bendera perang dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga mati syahid, lalu bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga mati syahid, lalu bendera perang dibawa oleh Saifullah (Pedang Allah –yakni Khalid bin Walid) hingga Allah memenangkan kaum muslimin.” Di sinilah tampak mukjizat beliau, bahkan beliau telah mengetahui apa yang terjadi di ma’rakah Mu’tah sebelum pasukan tersebut sampai di Madinah.

Di kawasan Mu’tah sekarang, terdapat makam Zaid ibn Haritsah, Ja’far ibn Abi Thalib, dan Ibnu Rawahah. Oleh kaum Syiah, makam Zaid dan Jafar dibuat begitu mewah dengan hiasan dan bangunan, karena keduanya dimasukkan ke dalam ahlul bayt yang mereka puja-puja sedemikian rupa. Keduanya berada di satu komplek dengan masjid. Adapun Ibnu Rawahah memiliki makam di medan perang Mu’tah tanpa bangunan apapun di atasnya. Medan perang ini sangat luas dan dipagari oleh pemerintah, karena sering dipakai oleh sebagian orang untuk minum-minuman keras. Hal tersebut bisa diketahui dari botol-botol minuman keras yang berserakan di sekitar monumen. Alangkah menyedihkannya, di sebuah tempat mulia yang menjadi saksi sebuah upacara pelaksanaan puncak dalam Islam, yaitu jihad, dihinakan dengan sedemikian rupa oleh orang-orang islam itu sendiri. Allahul musta’an.

Demikian sekelumit kisah dari Mu’tah, Jordan. Betapa banyak bukti-bukti sejarah yang menggambarkan keindahan hidup Islam di zaman Rasulullah SAW . Semoga dengan turut menyaksikannya, membuat iman kita semakin bertambah dan terus bersemangat untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Wallahu a’lam.[]

Keterangan foto:

  1. Makam Ja’far ibn Abi Thalib Radhiyallahu anhu
  2. Tugu di Monumen Perang Mu’tah

    majalahdrise.com - Ma’rakah Mu’tah.jpg

    majalahdrise.com - Ma’rakah Mu’tah.jpg

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 43

Idul Adha di Negeri Sakura

Majalahdrise.com – Salah satu hal yang ane syukuri pada hari Idul Adha kemarin adalah bertepatan dengan tanggal merah (sabtu & minggu), sehingga ane sebagai pekerja magang di negeri samurai ini bisa melaksanakan shalat sunnah berjama’ah bersama kaum muslimin lainnya.Alhamdulillah. Soalnya kalau hari kerja, kemungkinan besar sih nggak akan diizinkan oleh perusahaan tempat kita bekerja.

Tapi selain dari itu, ane sebagai orang Islam yang tinggal di Jepang sini cukup bersyukur, sebab untuk masalah ibadah kami aman-aman saja. Jepang memang memberi kebebasan kami untuk beribadah. Hanya saja memang agak ribet dari segi fasilitas, seperti tempat wudhu yang sulit ditemui selain di masjid, yang itupun jumlahnya terbatas, nggak seperti di Indonesia, yang di setiap gang ada masjidnya. Kalau ane terpaksa harus wudhu di tempat umum, ane tunggu dulu sampai sepi nggak ada orang, terus ngumpet-ngumpet wudhu di tempat cuci muka (n_n;). Atau kalau ane lagi sama temen, kami gantian jaga kalau-kalau ada orang Jepang yang masuk. Kan bisa dibayangin kalau ada orang Jepang liat kita naikin kaki ke wastafel, pasti si orang jepangnyaakan keheranan sambil bilang “orang yang aneh…”.Idul Adha di Negeri Sakura - MAJALAHDRISE.COM (1)

Satu lagi yang ribet, yaitu masalah makanan. Di sini makanan halal susaah banget. Kalau beli makanan di sini harus diteliti benar komposisinya. Makanya biar aman ane sering beli makanan halal secara online. Biar ga repot ane beli sekaligus untuk sebulan, dan dimasak sendiri. Makan di luar cuma sesekali saja.

Tokoro de (by the way bus way), ane tinggal di Kumamoto, di daerah perkampungan yang ada perkebunan di sekitarnya. Agak lumayan jauh juga dari tempat tinggal ke perumahan. Tetangga pun nggak ada. Tapi ada seorang pak tua tukang kebun, yang kalau lagi panen jeruk dia suka datang ke rumah bawa jeruk sampe sekardus besar. Kalau hari libur ane biasa kerja tambahan di tempatnya. Dia tinggal dengan neneknya, seekor anjing dan seekor kucing. Walaupun sudah agak berumur tapi dia nggak punya istri, apalagi anak.

Umumnya orang Jepang ramah, tapi gak sedikit juga sih yang cuek bebek. Tapi yang bikin ane salut tuh di sini orang-orangnya disiplin, dan sadar akan lingkungan. Semua tempat di negeri ini bersih,nggak ada sampah berserakan di jalan. Mereka juga biasa memisah sampah yang bisa didaur ulang dan yang nggak, di rumah-rumah mereka sendiri. Selain itu mereka juga taat dengan hukum, jarang terjadi pencurian. Mungkin karena secara materi mereka sudah sejahtera kali ya.

Nilai minusnya, orang Jepang nggak mau punya banyak anak. Makanya disini orang tua lebih banyak dari anak mudanya. Kalo kerja suka marah-marah. Mereka gila kerja, seolah-olah uang dan kekayaan itu segala-galanya. Pergaulan disini juga bebas banget. Majalah porno dijual bebas, bahkan di rumah sakit juga ada, buat bacaan pasiennya. Paraahh..

Mayoritas dari mereka juga nggak beragama dan nggak peduli dengan agaIdul Adha di Negeri Sakura - MAJALAHDRISE.COM (1)ma, tapi efek positifnya mereka sangat menghargai kebebasan beragama. Misalnya kalau ada orang yang shalat mereka nggak akan berani mengganggu. Pernah ada satu orang Jepang yang ikut-ikutan sholat berjamaah bareng ane. Ane juga baca Qur’an di depannya. Waktu bulan Ramadhan pun dia ikutan puasa, mau nyoba dulu katanya. Sempat ane kasih panduan wudhu dan sholat dalam bahasa Jepang, sayangnya sampe sekarang orang tadi belum menjemput hidayah.

Jum’at sore sepulang kerja ane bareng teman-teman dari Indonesia berangkat menuju Masjid Kumamoto karena kami berencana untuk menginap di sana. Perjalanan dari tempat kami ke masjid lamanya sekitar 1 jam, naik kereta yang dilanjut dengan bis. Selain kami ada sekitar 30 orang lain yang menginap di masjid yang juga berfungsi sebagai Islamic Center ini.Idul Adha di Negeri Sakura - MAJALAHDRISE.COM (4)

Seperti biasa, sejak malam hari dan pagi-pagi sebelum shalat dimulai kami mengumandangkan takbir, bersama dengan sekitar 200 jama’ah lainnya. Penyumbang jumlah jamaah terbanyak adalah kami dari Indonesia, kemudian ada juga orang Pakistan, Bangladesh, Mesir, Malaysia, dan beberapa orang pribumi. Diimami oleh saudara kita dari Pakistan, kami melaksanakan shalat sunnah, dilanjut dengan makan-makan. Polisi yang berjaga-jaga pun nggak ketinggalan dijamu untuk ikut menyantap hidangan. Berbeda dengan di tanah air yang biasanya ada acara potong hewan kurban, kami nggak bisa melaksanakan sunnah tersebut karena nggak boleh motong hewan di lapangan.Idul Adha di Negeri Sakura - MAJALAHDRISE.COM (1)

Walaupun perayaan Lebaran di sini sangat sederhana, tapi buat ane pribadi Idul Adha kemarin sangat berkesan. Mungkin karena kami di sini benar-benar minoritas di negeri yang asing ini, ketika kami bisa berkumpul dan bersilaturahim, rasa persaudaraan dengan yang seiman pun benar-benar terasa lebih kuat.

Alhamdulillah, sekarang ini Jepang mulai membuka diri terhadap Islam dan orang Muslim. Hampir di setiap kota sudah ada masjid dan halal food. Mereka juga cukup respect terhadap orang Islam, bahkan mereka juga mengadakan demonstrasi terkait masalah Palestina dan Syria. Mudah-mudahan keterbukaan itu makin mengundang ketertarikan orang asli Jepang terhadap Islam, sehingga ke depannya bisa lebih banyak lagi orang Jepang asli yang memeluk Islam. []

thanks to

[Rahmat Al Fatih dari Kumamoto, Jepang]

dimuat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #41

 

Al Fayyum Kota Yang Dibangun Nabi Yusuf As

drise-online.com – Mesiradalah salah satu tempat yang diceritakan dalam Al Quran. Tanah negeri sphinx ini menjadi saksi sejarah betapa banyak leluhur para nabi yang pernah melakukan perjalanan di negeri kinanah. Yusuf AS salah satunya ketika beliau ditunjuk oleh Raja. Tugas Nabi Yusuf sangatlah berat karena Sang Raja meminta Yusuf memikirkan cara menangani tujuh tahun kekeringan yang akan melanda Mesir.

Nabi Yusuf mulai kebingungan. Namun Allah memerintahkan beliau pergi ke sebuah daerah Jaubah(lobang tempat pembuangan air kotor). Di sana Nabi Yusuf mulai memperhatikan dengan seksama daerah tersebut sekaligus mengukur ketinggian sungai Nil. Allah kemudian memerintahkan nabi Yusuf untuk menggali tiga selat yang meliputi selat bagian barat, timur dan atas. Hulu selat ini dibangun untuk mengalirkan air dari sungai Nil ke dareh Jaubah.

Bahkan dari penggalian selat tersebut beberapa mata air yang sangat besar dan bersih muncul kemudian menjadi sumber kehidupan masyarakat pada saat itu. Untuk melaksanakan proyek ini seharusnya menghabiskan waktu 1000 hari namun dengan cerdas Nabi Yusuf hanya membutuhkan waktu sekitar 70 hari. Dan akhirnya Mesirselamat dari bencana kekeringan selama 7 tahun. Maka dari saat itulah kota ini dikenal dengan nama al Fayyum, berasal dari kata Alf yang berarti seribu hari.

Dengan digalinya tiga selat tersebut, daerah al Fayyum menjadi subur dan hijau karena suplai airsudah masuk, baik dari sungai nil maupun yang keluar dari dalam tanah. Setelah itu, nabi Yusuf kemudian membangun 360 kampung di kota al Fayyum. Jumlah tersebut disesuaikan dengan jumlah hari dalam satu tahun dengan maksud bahwa satu kampungdi kota Fayyum dapat mencukupi seluruh penduduk Mesir.

Keberadaan kota al Fayyum ternyata membawa berkah tersendiri yang bukan hanya dirasakan oleh penduduk Mesir saja tapi juga turut menyelamatkan penduduk negara tetangga seperti Syria, Palestina, Mekkah dan Madinah yang saat itu juga mengalami kekeringan dan kelaparan.

Al Fayyum menjadi kota kedua yang dibangun berdasarkan wahyu Allah setelah Mekkah melalui nabi Ibrahim. Propinsi al Fayyum kurang lebih dari 90 km dari Kairo termasuk propinsi tua di Mesir. Hingga sekarang Al Fayyum menjadi dareah yang memiliki air paling melimpah di seantero Mesir. Bahkan orang Mesir menyebutkan al Fayyum sebagi Makhzan al -Maa(gudangnya air).

Untuk mengenang jasa Nabi Yusuf, di daerah Al Fayyumterdapat sebuah kampung yang bernama kampung Yusuf as-Shiddiq. Sungai yang dibuat oleh nabi Yusuf yang memanjang luas di kota Fayyum yang bernama Bahr Yusuf(sungai Yusuf) saat ini masih bisa disaksikan.

Di kota Fayyum berdiri kincir yang dibangun oleh nabi Yusuf saat menata kota Al Fayyum. Karena proyek briliant ini, menurut ahli sejarah Nabi Yusuf disebut sebagai insiyur pertama dalam catatan sejarah manusia karena mampu melakukan pengukuran tinggi rendahnya air disungai Nil.

Ketika Yunani bercokol menjajahMesir, kota Fayyum diganti dengan nama Crocodilopolis, atau dalam bahasa Arab Madinah at Timasahyang berarti kota buaya mengingat banyak buaya yang berkeliaran.

Untuk itu dewa yang berkuasa dan menguasai Fayyum menurut kepercayaan Mesir kuno disebut dewa Sobek, yang digambarkan dengan tubuh manusia berkepala buaya. Dewa ini yang disembah oleh Qarun, lelaki miskin yang menyuruh Musa untuk meminta Allah memberikan harta untuknya. Saat kaya Qarun menjadidurhaka, pelit, banyak menyiksa Bani Israil dan menyembah dewa Sobek. Hingga akhirnya Allah mengazab dengan menenggelamkannya ke dalam bumi.

Itulah sekelumit kisah peninggalan peradaban yang tercantum dalam Al-Quran di negeri Cleopatra. Setelah saya telusuri, ternyata amazing. Semoga semakin menguatkan keyakinan kita akan kemulian al-Quran. Subhanallah…! [Caca Anastia, tinggal di Mesir]

 

Al Fayyum Kota Yang Dibangun Nabi Yusuf As - drise-online.com (1)

Kota Fayyum dari ketinggian istana Qarun

Al Fayyum Kota Yang Dibangun Nabi Yusuf As - drise-online.com (3)

Kincir nabi Yusuf yang dibelakangnya terlihat rumah penduduk.

Al Fayyum Kota Yang Dibangun Nabi Yusuf As - drise-online.com (2)

Bahr Yusuf yang airnya menyambung dengan danau Qarun semenjak Allah menenggelamkannyasehingga jumlah air di danau tersebut semakin besar.

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #40