Bill Shankly, mantan manajer sukses Klub Liverpool pernah bilang, “Some people think football is a matter of life and death. I assure You, it’s much more serious than that,”. Yup, bagi para penggila bola, sepakbola tak sekedar permainan. Tapi sudah menjadi gaya hidup atau malah hidup itu sendiri. Gimana nggak, demi sepakbola akal sehat bisa bertekuk lutut dihadapan hawa nafsu.
Gara-Gara Gila Bola Waktu, tenaga, harta, hingga agama rela diumbar demi sepakbola. Seperti beberapa fakta berikut:
Wasting time
Sebagaimana dilansir situs Bolapedia, Produsen Bir Heineken merilis penelitian bahwa mayoritas (responden) orang Inggris meluangkan lebih banyak waktu untuk menyaksikan pertandingan sepakbola, membaca ulasan media, dan berdiskusi membahas hal-hal yang menyangkut sepakbola dalam obrolan keseharian. Mereka menghabiskan dua jam plus 22 menit setiap minggunya untuk nonton bola di televisi.
Orang Inggris juga sedikitnya menghabiskan 28 menit per pekan untuk mendiskusikan hasil pertandingan, gosip transfer, gol, dan aksi lainnya di lapangan. Total, penduduk Inggris menghabiskan 11 jam dan 12 menit setiap minggunya untuk sepakbola.
Fighting arena
Awal Pebruari 2012, lebih 70 orang tewas dalam tawuran antar-suporter kesebelasan Al-Ahly vs Al-Masry di Port Said, Mesir. Peristiwa ini memperpanjang daftar tragedi dunia sepakbola.
Di Liga Afrika, pada 11 April 2001, laga Kaizer Chiefs kontra Orlando Pirates diStadion Ellis Park, Afrika Selatan, menewaskan 43 orang; Duel Lupopo vs Mazembe di Liga Kongo, 30 April 2001, menewaskan14 orang.
Liga Inggris tak kalah mengerikan. Laga Liverpool vs Notthingham Forestdi Stadion Hillsborough milik Sheffield,15 April 1989,menyebabkan96 suporter Liverpool tewas; Pada 9 Maret 1946, duel Bolton Wanderers vs Stoke Citydi Stadion Burden Park, menyebabkan 33 orang tewas dan lebih dari 400 orang terluka. Pertemuan Bradford City vs Lincoln City,di Stadion Valley Parade, 11 Mei 1985, menyebabkan 56 orang tewas.
Liga Amerika juga mengundang maut. 23 Juni 1968, duel River Plate vs Boca Juniorsdi Argentina, menewaskan 74 orang dan 150 orang terluka. 2 Januari 1971, laga Celtic vs Rangersdi Skotlandia, menewaskan 66 orang dan 140 orang lebih mengalami cedera.
Pertandingan antar-klub antar-negara juga menelan banyak korban jiwa. Laga Juventus vs Liverpool, 29 Mei 1985,di final Liga Champions di Stadion Heysel, Brussels, Belgia, mematikan 39 suporter Juventus. Pada 20 Oktober 1982, laga Piala UEFA Spartak Moskwa vs Haarlem diMoskwa, menewaskan 61 orang. Bahkan, versi lain menyebut korban tewas lebih 300 orang.
Pun duel bola antar-negara, sama saja. Tanding Guatemala vs Kosta Rika, 16 Oktober 1996, menelan tumbal84 orang tewas. Pada 24 Mei 1964, laga Peru vs Argentina di babakkualifikasi olimpiade di Stadion National Lima, menewaskan 318 orang dan lebih dari 500 terluka.
Agama dan keyakinan baru
Sebuah akun facebook memajang nama: Football is My Religion and St Andrews is My Church. Sorry, domba-domba Yesus jangan girang dulu, Santo Andrews itu bukan nama gereja, tapi stadion milik Klub Birmigham FC, Inggris.
Jika bola adalah agama, maka pelatih dan pemain top sepakbola pun ditahbiskan jadi ‘’nabi’’. Lionel Messi (Barcelona, Spanyol) disebut El Messiah (Juru Selamat); Gabriel Batistuta (Fiorentina, Italia), diusulkan mendapat gelar ‘’Santo’’ (Teh Holy Man). Batistuta juga dipatungkan dari logam dan dipajang di alun-alun Kota Firenze. Bila di mata uang kertas dolar Amerika tertera kalimat ‘’In God We Trust’’, maka dalam laga Birmingham City vs Arsenal, sebagian supoter mengusung spanduk berbunyi: “In Arsene We Trust”. Arsene Wenger adalah manajer Arsenal (Inggris).
Yang ugal-ugalan tentu saja orang Argentina. Pada 30 Oktober 1998, di Kota Rosario, para fans ‘’Nabi’’ Maradona mendirikan Gereja Maradona (Iglesia Maradoniana). Kapel gereja dinamai ‘’Hand of God’’ merujuk pada gol tangan Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986. Kitab Suci mereka adalah Biografi Maradona. Mereka mengamalkan kredo ‘’10 Perintah Tuhan’’ bikinan sendiri yang berisi pepujian pada sepakbola dan Maradona.
Iglesia Maradoniana juga membuat kalender sendiri, yang diawali tahun 1960 (tahun kelahiran Maradona). Walhasil, tahun 2012 ini disebut Tahun 52 AD (After Diego).Konon, jamaah Iglesia Maradoniana di seluruh dunia kini mencapai lebih 15.000 orang.
Diantara ‘’10 Perintah Tuhan’’ agama sepakbola Argentina adalah: Cinta sepakbola atas segala sesuatu, dan menyatakan cinta tanpa syarat pada sepak bola.
Driser, sepakbola kian hari tak lagi sekedar permainan. Tapi sudah menjelma menjadi gaya hidup yang menyita sebagian besar masyarakat dunia. Tak terkecuali umat Islam. Buat non muslim, bisa jadi gara gara gila bola cuman dapet kerugian di dunia. Sementara bagi umat Islam, tekornya nembus ke akhirat. Yup, gara-gara gila bola bisa melalaikan kewajiban sekaligus menyuburkan kemaksiatan. Apalagi dalam moment piala dunia yang berbarengan dengan datangnya bulan mulia. Alamat kalah pamor tuh obral pahala yang Allah curahkan di Bulan Ampunan oleh gemerlap perebutan piala Jules Rimet. Hati-hati ah. Jangan sampe, Ramadhan lewat gitu aja gara-gara pesona piala dunia. Rugi!!! [341]
13 Juni 2014 jadi bakal hari bersejarah bagi negeri samba. Setelah 64 tahun menunggu, akhirnya Juara dunia lima kali ini dapet giliran lagi untuk jadi tuan rumah piala dunia. Hajatan sepakbola empat tahunan yang paling ditunggu oleh jutaan bola mania, tak terkecuali di Indonesia. Arena Corinthians, Sao Paulo, Jumat (13/6/2014) dinihari WIB bergemuruh oleh ribuat penontonmenyaksikan berbagai atraksi dan tarian khas Brazil dalam pembukaan pagelaran perebutan piala Jules Rimet ini. Sebuah euforia piala dunia di atas kesenjangan sosial warga Brazil. Ironis.
Piala dunia 2014 di Brazil adalah penyelenggaraan ke 20 setelah pertama kali digelar tahun 1930. Untuk kedua kalinya, negeri Pele sang legenda sepakbola ini jadi tuan rumah. Nggak heran kalo pemerintahnya banyak berbenah untuk menyambut kedatangan team dan supporter dari 31 negara yang lolos kualifikasi. Sampe rela merogoh kocek sekitar $ 11,5 miliar atau setara 142 triliun rupiah. Ini yang memicu protes dari para penduduk pribumi yang merasa tersisihkan akibat piala dunia. Untuk sepakbola, pemerintahnya rela ngeluarin miliran duit real Brazil. Sementara untuk kesejahteraan rakyatnya, minim banget. Rakyatnya protes keras dengan mengusung tema, “We need FOOD not FOOTBALL!”
Kemaksiatan Merajalela
Kalo euforia sudah naik ke ubun-ubun, sering kali bikin pengidapnya lupa daratan. Ekspresi kegembiraannya diungkapkan dengan berbagai cara. Nggak peduli keliatan gokil bin tengil, orang dipaksa memaklumi. Seperti yang banyak dilakukan oleh suporter wanita yang kedapatan kamera memberikan dukungan bagi tim idolanya dengan busana seksi malah tanpa busana bagian atas alias topless! Persis kaya orang gila menari striptease di tengah jalan protokol saat jam masuk kerja. Kagak waras..!
Para penggila bola pun demikian adanya. Bukan. Kita bukan mau menyamakan para bola mania dengan orang gila. Itu fitnah. Kita cuman mau bilang, ada beberapa oknum bola mania terutama muslim yang udah kebablasan ekpresikan hobi bolanya. Dari mulai tawuran, taruhan, hingga campur baur laki perempuan yang semuanya bertabur kemaksiatan. Orang gila masih mending, kalo maksiat nggak akan ditanya di akhirat. Lah kalo penggila bola yang waras terus terhanyut kemaksiatan yang terorganisir, berabe urusannya. Bisa-bisa nggak pernah menginjakkan kaki di surga. Nah lho!
Hajatan olahraga akbar seperti piala dunia, lantaran lahir dari rahimnya orang-orang sekuler tentu nggak peduli dengan norma gama. Bahkan event akbar piala dunia nggak ada sangkut pautnya dengan agama. Bebas nilai dan bebas berekspresi. Walhasil, kemaksiatan dalam kacamata Islam pun tak merajalela selama ajang piala dunia.
Pertandingan sepakbola dengan tingkat fanatisme yang tinggi, sering kali bikin semangat suporter-nya over dosis. Fenomena kaya gini sering dianggap wajar sebagai ekspresi dari sebuah cinta atas dasar rasa se-tanah air, sebangsa, senegara, atau sebuah komunitas semu (fans club). Padahal, sikap ashobiyah ini gampang memancing kerusuhan yang dilakukan suporter.
Di Italia misalnya. Pada 2 Februari 2007, pendukung klub Catania terlibat bentrokan dengan polisi Italia. Kerusuhan yang pecah usai laga antara Catania dengan Palermo itu menewaskan seorang anggota polisi, Filippo Raciti, dan ratusan orang mengalami luka-luka. Pasca kejadian ini, kompetisi Seri A diliburkan selama satu pekan.
Yang terbesar, sekaligus yang terburuk di Eropa mungkin adalah Tragedi Heysel, pada laga antara Liverpool kontra Juventus di Final Liga Champions, 29 Mei 1985. Para Liverpudlian yang tak terima tim kesayangannya kalah 0-1 dari Juve, melancarkan serangan ke pendukung ‘Bianconeri’ dan mengakibatkan 39 orang tewas serta 600 orang luka.
Di Piala Eropa 2008, perkelahian antarsuporter merebak pascakemenangan Jerman atas Polandia, 2-0, Senin (9/6) dini hari. Bentrokan pendukung kedua kesebelasan terjadi di luar Stadion Worthersee, Austria, saat Jerman unggul 1-0 atas Polandia. Penangkapan terhadap para hooligans Jerman juga terus dilancarkan Kepolisian Austria guna mencegah terjadinya kerusuhan. Sedikitnya 100 hooligans ditangkap polisi dalam dua kali razia. Empat puluh orang di antaranya ditangkap karena mengeluarkan ejekan berbau Nazi selama pertandingan antara Jerman dan Polandia.
Sementara di Mesir, tercatat 74 orang meregang nyawa dan sekitar seribu orang mengalami luka-luka akibat kericuhan antarsuporter usai pertandingan antara klub Al Masry dengan Al Ahly, di Kota Port Said, Rabu 1 Februari 2012.
Selain memancing kerusuhan, ashobiyah juga melahirkan sikap rasisme atau merendahkan orang lain karena perbedaan ras atau warna kulit. Nuansa rasisme ini kental sekali di English Premier League. Sebuah survei yang dilakukan ICM Research dan hasilnya dipublikasikan BBC pada Mei 2004 memperlihatkan 51% dari responden menyatakan kalau Inggris adalah negara yang rasis. Jumlah yang sama dari 1576 responden dengan berbagai background itu juga menyatakan kalau warna kulit membuat mereka diperlakukan secara diskriminatif di tempat kerja. Jumlah lebih besar lagi, yaitu 61%, bahkan menyatakan mereka mendapat pelecehan rasial saat berada di bangku sekolah (Jawa Pos.com, 25/11/04)
Selain tawuran, pasar taruhan selama ajang piala dunia juga cukup menggiurkan. Demam Piala Dunia 2014 Brasil membuat semua pecinta taruhan bola berpesta pora.Mulai dari anak-anaksampai orang tua asyik ngomongin skor pertandingan saban harinya. Saking serunya, nggak sadar mereka terhanyut dalam ajang taruhan. Awalnya sih buat seru-seruan. Biar tebak-tebakan skor nggak cuman permainan, tapi ada hadiah yang bikin penasaran. Mulai deh taruhan yang tebakannya jitu dapat hadiah kumpulan receh atau traktiran makanan dari temen-temennya. Hadiahnya tambah gede seiring ajang kompetisi yang makin mengkerucut. Ujungnya, tebakan skor final atau negara kampiun piala dunia jadi ajang taruhan. Kalo udah kecanduan taruhan, kaya orang kehillangan akal. Sampe-sampe percaya aja ama ramalan gurita, kucing, atau binatang lainnya. Tepok jidat!
Pasar judi online selama ajang piala dunia udah jadi incaran para bandar judi. Dari tingkat lokal sampe internasional. Bandar judi di Surabaya panen mengeruk keuntungan melalui jaringan judi bola secara online waktu Piala Dunia 2010. Omzet mereka bisa mencapai Rp 1,5 miliar per hari. Selama Piala Dunia Brazil, omset judi via internet ini mampu menembus nominal Rp50 juta dalam satu hari.
Terakhir yang sering luput dari perhatian remaja. Aksi nobar alias nonton bareng ajang piala dunia yagn sering digelar di cafe atau rumah makan. Laki perempuan campur baur kaya jemuran. Nggak sedikit yang memanfaatkan untuk mojok berduaan. Nggak ketinggalan, godaan setan pun berkeliaran menggoda setiap pasangan untuk bermaksiat. Dari sekedar nonton, ikut taruhan, sampe mabuk-mabukan. Parah!
Saatnya Panen Pahala, Bukan Dosa!
Driser, kebeneran bangetajang Piala Dunia 2014 ini bersinggungan dengan hadirnya bulan mulia yang ditunggu umat Islam sedunia. Bulan penuh pengampunan sekaligus ajang pas buat mendongkrak tabungan pahala kita. Seperti disampaikan Rasul dalam khutbahnya sebelum Ramadhan yang diriwayatkan Imam Ali R.A.
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.
“Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rab-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.
“Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup maka mohonkanlah kepada Rab-mu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.
“Lalu Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini.’ Rasul yang mulia menjawab, ‘Ya Abul Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT”
Bayangkan ada sebuah rumah berkah. Setiap hal positip yang dikerjakan penghuninya bakal diganjar duit segepok. Buka alas kaki dulu sebelum masuk rumah, dibayar. Ngerjain rutinitas harian mulai dari bangun pagi, mandi, sikat gigi, nyuci baju, sarapan,dan makan, semuanya dibayar. Nggak cuman itu, kalo bersihin debu di atas meja, motongin rumput di halaman depan, atau ngerapihin perabotan dalam rumah, semuanya dibayar. Pertanyaannya, apa yang bakal kamu kerjain kalo dapet kesempatan tinggal di rumah berkah di atas selama sebulan penuh?
Kalo kamu mata duitan, pastinya nggak akan pernah melewatkan setiap detik di rumah itu tanpa kegiatan positif. Yup, kurang lebih kesempatan itulah yang ditawarkan bulan Ramadhan. Nggak keren kalo kita sebagai muslim menganggap tak ada yang istimewa dengan bulan Ramadhan. Apalagi sampe kalah antusias sama ajang piala dunia. Kebangetan.
Kita nggak dapat apa-apa untuk kebaikan di akhirat dari piala dunia 2014. Kita malah bisa terhanyut dalam suasa na fanatisme alias ashobiyah tanpa kita sadari. Padahal jelas-jelasislam ngelarang kita bersikap ta’ashub. Bangga dan fanatik buta ama kelompok kebanggaan kita. Fanatisme kelompok seperti kesukuan dan nasionalisme terbukti memecah belah manusia. Karena kita dipaksa untuk hidup terkotak-kotak dalam kungkungan daerah, negara, atau klub sepakbola. Selain itu, fanatisme kelompok juga bisa bikin kita ngerasa beda dengan orang lain dan mempersempit pergaulan. Makanya wajar kalo agama kita nggak ngasih celah sedikitpun untuk berkembangbiaknya sikap fanatik kelompok seperti yang dilestarikan dalam ajang piala dunia. Sabda Nabi saw.: “Bukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah, berperang karena ashabiyyah dan mati karena ashabiyyah.”(HR Abu Daud)
Suasana piala dunia bisa bikin kita terlena. Bukannya getol nyari pahala, malah ikut jadi aktifis maksiat di bulan mulia. Akibatnya, dosa berlipat ganda sementara pahala puasa hilang entah kemana. Rasul saw ngingetin kita, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan haram serta kejahilan, maka Allah tidak butuh puasanya; meninggalkan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari)
Karena itu, sinari ramadhanmu dengan kegiatan yang ngasih manfaat dunia akherat. Ikut kajian Islam yang menjamur di bulan Ramadhan. Biar kuat iman, kuat ilmu, kuat mental, dan kuat pendirian untuk tetap istiqomah pake aturan hidup Islam. Jangan lupa, tiada hari tanpa tadarrus. Baca Al-qur’an di bulan Ramadhan jadi ladang pahala berlimpah bagi kita. Nggak ketinggalan, banyakin ngobyek ibadah ‘sampingan’. Shalat sunnah pahalanya disamain dengan shalat fardhu. Dan shalat fardhu diganjar 70 kali lipat bo! Makanya, jangan sampe kelupaan untuk sempatkan diri shalat sunat. Mulai dari shalat rawatib (sebelum dan sesudah shalat fardhu), shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid, shalat tarawih, shalat witir, dll. Terakhir, kikis sikap individualis. Di bulan suci ini, saatnya kita genjot kepedulian kita terhadap orang lain yang membutuhkan. Sisihkan uang jajan kita untuk bershadaqah. Dalam sebuah percakapan seorang shahabat bertanya: “Shodaqoh mana yang utama?”. “Shadaqoh di bulan Ramadhan..” Jawab Rasul(HR. At-Tirmidzi).
Driser, kalo kamu suka nonton sepak bola, nikmati saja permainannya. Bukan sikap ashobiyahnya. Kalo kamu ngefans ama satu tim, bagusnya simpan dalam hati saja. Nggak perlu ditunjukkan dalam ekspresi berlebihan. Yang perlu kita sadari, ajang kompetisi sepakbola seperti piala dunia selain menyuburkan ashobiyah juga bisa banyak menyita waktu dan perhatian umat. Akibatnya, umat nggak peduli lagi dengan masalah yang menimpanya selain urusan sepakbola. Umat nggak ngeh kalo lagi dijajah secara budaya dan pemikiran. Kalo tetep dibiarin, umat Islam jadi bulan-bulanan. Jadi korban diskriminasi dan kekayaannya abis dieskploitasi investor asing yang nggak tahu diri. Makanya tugas kita untuk menyadarkan umat akan bahaya ajang olahraga yang melenakan.Ikut ngaji lalu sampaikan. Yuk![341]
Siapa Sangka Majalah D’rise ngebahas kecantikan! terbukti tema yang di angkat adalah The Beauty Of Hijrah,,,
Kalau cuma lihat depanya doang begitu. bukan kali,, Majalah D’rise kali ini mengangkat tentang Hijrah. dalemnya banyak,,banyak,, sudah cek tokotoki belum? (jadi iklan) di dalamnya ada artis yang sudah hijrah dari dunianya dulu ke Islam semisal Berry Saint Loco,Caisar YKS,Sakti Sheilla On7, dan banyak lagi.. jadi bagaimana pendapat mereka tentang hijrah? dari kehidupan yang sebagian orang pengen,, langsung cari agen drise untuk tahu jawabnya..
Gimana dengan rubrik lainya?
– buat yang ingin jadi penulis yang propesional Di rubrik Writerprener: Betwen Bookaholic And Biblioholic tahu bedanya? baca ada ya,,
– pernah di ketawain? atau di olok-olok? Drise AmazingIslam kita bakal bahas olok-olok mending otak-otak ya bisa di makan.
– Saatnya cewe punya pembahasan sendiri. di FemaleCorner-Flirting style: adakah yang sudah tahu istilah ini? penasaran kan?
– yang suka sejarah panti nongkrong di SejarahSeru kita bakal bahas Borgia dan Kegilaannya,, loh apa masuk rumah sakit jiwa ya?
– tahu kan acara KONGRES MAHASISWI ISLAM UNTUK PERADABAN (KMIP) 2015 beberapa waktu yang lalu nah kita punya liputan khusunya hanya di Majalah Drise edisi #51
-yang suka berita luar negri ada KabarDariLuar kita akan bahas “Tantangan Berbuah Hikmah, Kisah Indah Dari Barcelona” yang patinya seruuuuu,,,
– udah pada nulis dan di kirim ke Redaksi Drise siapa yang jadi muat? hehhe beli aja ya,,
Masih penasaran dengan isinya? Kamu punya 2 pilihan biar nggak galau tingkat dewa.
Pertama, kejar pengedar drise terdekat. Kita nggak tanggung jawab kalo kehabisan. Soalnya laku keras pake banget!
Kedua, kamu langganan edisi digitalnya. Bentuk e-magazine format pdf. Full colour dan anti lecek. Harganya sangat terjangkau. Per edisi 15 ribu aja. Atau beli paket 4 edisi cukup 50rb aja. Kamu hemat 10rb.
Ketiga, pengen edisi cetak tapi gak kebagian. Kesempatan untuk jadi PENGEDAR DRISE. Pasti dapat tiap bulan, plus potongan harga yang menggiurkan. Dan insya Allah jadi ladang pahala karena ikut menyebarkan dakwah tulisan.
Langsung action deh.
Yang mau jadi #PengedarDrise, hubungi 0858 10 400 774.
Yang mau edisi digitalnya, WA/SMS ke 0858 1477 1511
Oh ya, buat kamu yang baru kenal Majalah drise, silakan deh baca dulu edisi onlinenya di sini >> http://issuu.com/majalahdrise
Sebagai rasa syukur karena kamu udah LIKE page majalah drise, pilih deh edisi online favoritnya kita bakal kasih satu edisi digitalnya dengan syarat:
1. Like status ini dan LIKE page Majalah Drise.
2. Share dan kasih komentar “Majalah Drise, bacaan gaul, trendi, dan syar’i. Pas buat remaja en remaji..!”
3. Kalo udah penuhi syarat di atas, klaim hadiaha via inbox.
So, jangan sampai ketinggalan majalah drise edisi terbarunya ya. Biar lebih kenal dengan Islam.
Sekali lagi, jangan cuman mupeng. Langsung action deh.
Yang mau jadi #PengedarDrise, hubungi 0858 10 400 774.
Yang mau edisi digitalnya, WA/SMS ke 0858 1477 1511
drise-online.com – Pembangunan Masjid al-Aqsha Desa Riso, Kecamatan Tapango, Polewali Mandar tersendat, lantaran uang sumbangan masjid yang telah diberikan oleh sejumlah calon legislatif (Caleg) gagal di kota tersebut ditarik kembali. Muhammad Daming, bendahara Masjid al Aqsha mengaku pusing karena harus mengambalikan uang sumbangan tersebut. “Sumbangannya sudah dimasukkan ke kas dan diumumkan ke publik bahwa ada caleg yang menyumbang ke masjid. (Namun) saya heran ternyata (sumbangan) diminta kembali,” ujarnya
Biaya politik yang sangat mahal membuat para Caleg mengeluarkan banyak dana untuk melanggengkan tujuannya. Segala cara telah dilakukan memasang foto dimana-mana, melakukan serangan money politic, pencitraan dengan dalih Bansos pun digunakan untuk merebut hati masyarakat, namun mereka tetap gagal dengan meninggalkan biaya utang yang sangat besar serta malu akhirnya mereka pun jadi Gila.
Pakar Ilmu Pemerintahan Universitas Pramita Indonesia Andi Azikin menilai kerasnya kompetensi dalam pemilu membuat para Caleg melakukan segala cara untuk menang, apakah dia baru saja ikut jadi Caleg maupun yang sudah dikenal. Persaingan pun sangat ketat, sebab para Caleg tidak saja bersaing dengan Caleg Partai lain tetapi juga sesama kader Partai pun saling jegal.
“Ketika semuanya mengeluarkan uang besar, yang kalah itu pasti stres berat. Karena targetnya harus menang, dan tidak siap kalah. Itu yang menyebabkan yang kalah jadi gila,” ujarnya.
Poliklinik Kejiwaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) W.Z. Johannes Kupang, Nusa Tenggara Timur, memeriksa dua Caleg yang diduga mengalami gangguan kejiwaaan. Mereka memeriksakan kondisi kejiwaan setelah mengetahui dirinya kalah pada pemilu legislatif 9 April 2014.
Pihak rumah sakit merahasiakan identitas kedua Caleg. Dua caleg itu masing-masing mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Kota Kupang dan DPRD Provinsi NTT. Keduanya diantar keluarga masing-masing ke rumah sakit.
“Suami saya terguncang karena sudah mengeluarkan banyak uang untuk membiayai pencalonan, ternyata tidak terpilih,” kata istri salah satu Caleg yang menolak namanya ditulis, Sabtu, 12 April 2014.
Lain lagi dengan Witarsa, sehari pascapencoblosan lelaki ini dibawa anggota keluarganya ke sebuah padepokan di Desa Sinarancang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Caleg dari Partai Demokrat untuk Dapil Jabar X ini mengalami stres akibat perolehan suaranya sangat minim, sehingga gagal menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Padahal, modal yang dikeluarkannya sangat besar.
Pemilik Padepokan al-Bustomi, Ujang Busthomi mengatakan sudah tujuh orang Caleg yang datang di Padepokannya dan rata-rata mereka depresi tingkat rendah hingga sedang.”Mereka mengaku pusing, finansial sudah keluar besar tapi takut tak menang,” ujarnya.
Tindakan nekat dan tragis bahkan dilakukan seorang ibu muda dengan ini sial S yang gagal menjadi Caleg. Anggota sebuah partai asal kota Banjar, Jawa Barat ini memilih bunuh diri saat dia tidak berhasil menjadi calon anggota dewan.
Wanita itu mencalonkan diri untuk Dapil I kota Banjar dengan nomor urut 8. Namun saat mengetahui dia gagal, depresi dan bisikan setan membuat S bunuh diri dan mayatnya ditemukan di sebuah saung bambu di Dusun Limusnunggal, Desa Bangunjaya, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Ciamis.
Di Bali karena gagal meraih suara, I Ketut Rai, caleg Partai Golkar nomor urut 5 menutup akses jalan di sekitar rumahnya di Nusa Penida Kabupaten Klungkung. Penutupan jalan itu dilakukan dengan memasang batako di tiga tempat berbeda di sekitar rumah Ketut Rai. Akibatnya, warga, terutama tetangga Ketut Rai, kesulitan melakukan kegiatan di luar rumah.
Demokrasi bikin Gila
Pengamat Sosial Iwan Januar menilai banyaknya Caleg yang stress dan bertingkah aneh ketika gagal dalam pemilu disebabkan karena demokrasi sistem politik yang tidak manusiawi.
“Sistem ini membuat orang memuja jabatan dan materi, akhirnya mereka menjadi depresi karena besarnya modal yang telah dikeluarkan,” ujarnya.
Rincian kampanye yang menghabiskan 200 juta sampai 6 milyar rupiah, dengan biaya yang sangat besar itu memaksa para Caleg memutar otak untuk mencari dana memenuhi biaya kampanye yang sangat besar.
Kondisi ini sangat mengerikan sebab para cukong pasti akan menagih janji untuk mengembalikan modal hingga dipikiran para Caleg hanya money. Kalah jadi Gila terlilit hutang, menang jadi Gila dunia.
Driser, pesta demokrasi tahap satu telah usai. Layaknya sebuah pesta, pasca berakhir pasti banyak meninggalkan sampah. Mulai dari atribut caleg yang belum dicabut, hingga calegnya yang pada semaput. Itulah harga mahal dari sebuah demokrasi. Sistem pemerintahan buatan manusia yang bergelimang kemaksiatan dan dosa. Masih percaya demokrasi? []
di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37