Teuku Wisnu (Aktor) “..Anak Muda.. Apa yang Bisa Kalian Berikan Pada Islam?”

Namanya udah nggak asing lagi di telinga pemirsa televisi. Puluhan sinetron dan iklan layar kaca kerap menampilkan sosoknya sebagai figur sentral. Belakangan, pria berdarah Aceh kelahiran Maret 1985 ini terlihat sering merapat di acara keislaman. Mulai dari presenter tayangan ramadhan, nara sumber atau bintang tamu kajian keislaman, malah nggak sungkan duduk sebagai peserta seperti saat menghadiri Konferensi Islam Peradaban (KIP) di Sentul International Convention Center Mei 2014 lalu. Jadi penasaran, apa sih yang bikin selebriti peraih penghargaan Panasonic Award 2009 untuk kategori Aktor Terfavorit pilihan Pemirsa ini ‘hijrah’. Simak obrolan singkat redaksi Drise, kang Isa dengan abang Teuku Wisnu. Cekidot!

 

Gimana perasaan Abang setelah hijrah sekarang ini?

Alhamdulillah keadaan semakin membaik. Karena sudah pasti kalau kita berhijrah hidup kita akan semakin tenang, semakin nyaman, dan semakin damai. Dan kita juga jadi tahu tujuan hidup kita itu apa, gitu! Selama ini kan, ketika sebelum hijrah, hanya berkutat pada masalah duniawi saja, dan nggak tahu sampai kapan kita kayak gini.

Nah sekarang alhamdulillah, setelah hijrah, dan Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa, karena kita butuh bimbingan. Begitu juga ketika belajar agama, kita butuh bimbingan, dan butuh guru. Dan guru juga nggak cukup satu. Banyak guru juga baik, yang penting kita bisa memfilternya juga, gitu. Dalam arti, ya hati-hati juga. Kan cari-cari guru juga kan harus hati-hati juga.

Nah alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa, dan saya banyak belajar dan dibimbing oleh mereka juga. Di masa-masa saya belajar ini mudah-mudahan saya bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.

 

Ada nggak sih halangan-halangan yang dihadapi saat memutuskan untuk berhijrah?

Sebenernya halangannya sih nggak seberapa ya, dan nggak berat. Cuman ada orang-orang yang sempat kaget ketika melihat kondisi saya setelah hijrah. Terutama ya istri, orang tua, orang-orang terdekat dulu lah. Keluarga saya. Begitu juga orang-orang terdekat saya seperti teman-teman dan sahabat-sahabat saya.

Tapi ini lambat laun mereka semua jadi menyadari, karena semua orang kan butuh adaptasi dan perkenalan lagi. Jadi ketika saya berubah menjadi sosok Teuku Wisnu yang baru, hal ini membuat orang-orang di sekitar saya harus berkenalan lagi dengan saya, gitu.

Nah di sini nanti akan kelihatan, bahwa orang yang baik nanti pasti akan senang dengan perubahan baik yang ada di dalam diri kita. Jadi kita semua saling belajar lagi satu sama lain. Seperti misalnya perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan di dalam keluarga, ternyata itu ada dalilnya dan ada aturannya di dalam Islam. Dan itulah kewajiban saya untuk menyampaikannya kembali.

 

Dunia Islam kan sekarang lagi berduka nih Bang seperti yang dialami saudara kita di Palestina. Bagaimana pendapat abang tentang kondisi itu?

Tentang Gaza ya? Saya banyak ngobrol dengan kawan-kawan, termasuk juga dengan Ustadz Felix Siauw dan Ustadz Fatih Karim. Jadi kita jangan melihat hal ini dari sisi kemanusiaan saja. Kalau hanya dari sisi kemanusiaan, kita semua pasti akan melihat bahwa hal ini amatlah keji.

Tapi kalau kita lihat dari perspektif agama, terutama agama kita, Islam, maka sesama muslim itu kan saudara, jadi mereka yang di Palestina itu adalah saudara kita juga. Dan ada salah satu hadist Rasulullah yang menyatakan bahwa umat Islam itu satu tubuh, dan kalau ada salah satu bagian tubuh yang sakit, maka bagian tubuh yang lain pasti akan merasakan sakit juga.

Jadi intinya adalah, saudara-saudara kita di Palestina adalah bagian tubuh kita. Kalau mereka terluka, mestinya kita juga merasakan sakitnya. Begitu juga seharusnya dengan kita umat Islam di Indonesia. Bayangkan, kita yang selama ini bisa beribadah dengan cukup tenang, mereka di sana beribadah juga, tapi harus bersiap-siap dengan hantaman roket, gedung-gedung yang runtuh, siap-siap dengan suara-suara tembakan. Nah ini semua yang harus kita sadari. Intinya adalah, apa yang harus kita lakukan?

Kita tidak boleh berdiam diri. Kita harus melakukan sesuatu yang mampu kita lakukan kalau kita nggak bisa ke sana. Kita perhatikan korban-korbannya. Salah satunya yang mereka butuhkan adalah bantuan medis dan pangan. Kita sumbang mereka melalui berbagai lembaga-lembaga yang kita percaya dan amanah untuk bisa menyampaikan bantuan kita ke sana. Kita juga harus berjihad sikap, untuk mengutuk dan marah terhadap pembantaian itu. Boikot juga produk-produk Israel. Karena potensi umat Islam amat besar jika kita memboikot produk-produk Israel. Doakan juga mereka, sebagai penjaga salah satu masjid suci kita.

 

Kan sekarang anak muda Islam lagi ancur-ancuran juga Bang. Bagaimana cara kita untuk memperbaiki kondisi itu?

Kalo dibilang anak muda ancur-ancuran, bisa dibilang ya atau tidak. Karena saya melihat temen-teman saya yang masi muda luarbiasa juga. Mereka berhijrah juga insya Allah istiqomah. Hanya tak terekspos saja. Ini salah satu tugas dan keingingan saya. Saya ingin memberikan motivasi semangat untuk anak-anak muda Islam bahwa kita mempunya potensi yang luar biasa. Manfaatkan potensi itu untuk berdakwah sesuai bidang kita masing-masing. Berdakwah gak mesti seperti ustadz ngasih tausiyah. Bukan hanya itu. Berdakwah bisa dengan berbagai cara. Potensi anak muda yang harus dibangkitkan. Potensi apa yang bisa kalian berikan pada pada Islam? Pada Umat Islam? Pada Allah?

Salah satu keinginan saya ingin menarik potensi anak-anak muda berprestasi agar dikenal dan menginspirasi. Saya yakin, jika anak-anak muda bersatu akan mengguncang dunia. Bisa sebagai penulis, pengusaha muda, desainer, pelaku media. Anak muda harus sadar potensinya. Saatnya kita harus bergerak. Sekarang! [Isa]

BIODATA SINGKAT:

Nama              : Teuku Wisnu

TTL                  : Jakarta, 04 Maret 1985

Istri                  : Shireen Sungkar

Penghargaan   : Aktor Terbaik ajang Panasonic Award 12, 27 Maret 2009.

Aktor Ngetop penghargaan SCTV Award 3 tahun berturut-turut (2007-2010)

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

Be The Winner

 Muhammad al-Fatih. Pastinya udah nggak asing lagi nama sultan ke-7 Daulah Utsmaniyah ini di telinga kita. Kisah perjuangannya menaklukkan kota Konstantinopel begitu inspiratif bin amazing. Siapa saja yang mengikuti kronologis ceritanya, bakal dibuat tercengang binti melongo.

Setelah hampi dua bulan pengepungan, benteng Konstantinopel yang dijaga tembok tebal bin kokoh dengan ketinggian 18 M itu tak kunjung tembus. Serangan via daratan dan lautan udah dijabanin, hasilnya masih nihil. Panglima perang yang sejak baligh nggak pernah ketinggalan shalat tahajud ini berhasil menyebrangkan 70 kapal perang yang super guede dalam satu malam via daratan. Akhirnya, pada tanggal 29 Mei 1453 M Kota yang selama 11 abad tak bisa ditembus musuh ini menyerah pada bertekuk lutut pada Muhammad al-Fatih.

Sastrawan Yoilmaz Oztuna : “Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini. Muhammad Al Fatih telah menukar darat menjadi lautan dan melayarkan kapalnya dipuncak gunung. Bahkan usahanya ini mengungguli apa yang pernah diilakukan oleh Alexander The Great”

Driser, kisah penaklukkan Konstantinopel ngasih banyak inspirasi bagaimana menjadi seorang juara. Be the winner. Simak!

Pertama, yakin you can. Keyakinan yang kuat akan suatu hal, bakal keliatan dari perilaku kita. Penaklukkan Konstantinopel adalah bisyarah alias kabar gembira yang disampaikan Rasul melalui sabdanya, ““Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”(H.R. Ahmad)

Al-Fatih diyakinkan oleh gurunya, Aaq Syamsuddin bahwa dialah yang dimaksud dalam hadits rasul di atas. Dengan bermodalkan keyakinan kuat akan janji Allah dan kabar gembira dari Rasul, Al-Fatih pantang menyerah dalam menaklukkan Konstantinopel.

Seorang pemenang akan meyakinkan dirinya bahwa dia bisa. Sehingga tak ada prestasi yang mustahil untuk dicapainya. Keyakinan yang kuat akan sebuah keberhasilan, akan mendorong diri dan lingkungan kita untuk berusaha sampe mentok demi meraih cita-citanya.

Kedua, mengubah hambatan jadi tantangan. Penaklukkan Konstantinopel bukan cuman halangan secara fisik yang dihadapi al-Fatih. Tapi juga secara psikis dan mental. Bayangin aja, udah perang hampir 2 bulan, itu benteng masih kokoh aja berdiri. Bukan cuman itu, korban dari pasukan al-Fatih juga udah banyak berjatuhan. Sampe seorang menteri bernama Khalil Pasya menyarankan al-Fatih dan pasukannya untuk kembali. Namun seorang komandan muallaf bernama Zughanusy Pasya menolak, “Tidak, sekali lagi tidak wahai Sultan! Saya tidak akan menerima apa yang dikatakan oleh Khalil Pasya. Kami datang ke sini tidak ada tujuan lain kecuali untuk mati dan bukan untuk pulang kembali.”

Seorang pemenang akan melihat hambatan sebagai tantangan, bukan batu sandungan. Sehingga dia berusaha mencari cara bagaimana cara mengatasi masalah yang dihadapi sesuai dengan kemampuannya. Nggak ada ceritanya, mundur dari medan perang atau kalah sebelum bertanding. Namanya tantangan, datang untuk ditaklukkan bukan ditinggalkan. Catet tuh!

Ketiga, memantaskan diri. Kemenangan nggak datang dengan sendirinya. Tapi mesti disambut dengan persiapan matang untuk meraihnya. Ibaratnya tamu istimewa, sebelum kemenangan datang menghampiri udah disiapkan sambutan meriah plus karpet merah. Itulah proses memantaskan diri untuk menjadi pemenang. Seperti yang ditunjukkan oleh Sultan Muhammad al-Fatih.

Sebelum penaklukan Konstantinopel, berbagai persiapan matang guna memantaskan diri menjadi pemenang dilakukan Al-Fatih. Mulai dari pribadinya yang getol beribadah sampe gak pernah ketinggalan shalat tahajjud. Sejak kecil, beliau sudah digembleng dengan ilmu agama dan ilmu militer yang mumpuni hingga menguasai 7 bahasa. Persiapan pasukannya juga gak main-main. Beliau mempersiapkan 250 ribu pasukan terpilih yang sudah terbina kepribadiannya untuk menjadi saksi penaklukan Konstantinopel. Biar tambah pantas, amunisi perang juga disiapkan dengan maksimal. Diantaranya dengan menyiapkan meriam tercanggih bin terdahsyat saat itu. Meriam Sultan Mehmet II (Berat : 15 ton / Berat Canon Ball : 285 kg) yang sukses menghancurkan benteng pertahananan Konstantinopel. Dengan persiapan yang sangat matang bin serius, wajar jika Konstantinopel berhasil ditaklukkan al-Fatih.

Seorang pemenang, akan memantaskan bahwa dirinya memang layak untuk menyandang predikat the winner. Sehingga mengurangi hal-hal yang menjauhkannya dari kemenangan dan gencar mempersiapkan segala hal untuk mendekatkannya pada kemenangan. Yup, itu namanya memantaskan diri.

Driser, tiga inspirasi dari kisah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad al-Fatih di atas bisa diteladani untuk menjadikan diri kita seorang pemenang. Pemenang dalam banyak hal yang positif. Prestasi akademis, dalam dakwah, atau pengembangan diri menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan. Lets be the winner! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

Kikis Mental Pecundang

drise-online.com – menyambung dari tulisan ini Sebagai remaja bermental pemenang, tentu harus steril dari sikap pecundang. Sikap pengecut yang melemahkan semangat kita untuk mengukir prestasi. Sikap pengecut alias mental korban cuman bikin hidup kita diam di tempat. Gak bisa move on. Gagal UAN bukannya evaluasi, malah bunuh diri. Ditolak cinta bukannya bersyukur karena jauh dari maksiat, malah pelihara dendam kesumat. Minta smartphone ke ortu belum dipenuhi bukannya usaha biar bisa beli sendiri, malah nilep uang bayaran sekolah yang bikin ortu sakit hati. #TepokJidat!

Saatnya kita kikis mental pecundang. Biar kita pantas menjadi juara. Berikut mental korban yang harus kita tendang.

  1. Futur. Saat perjuangan ketemu hambatan yang tak kunjung teratasi, seorang pecundang memilih mundur dari pertarungan. Nggak ada semangat untuk cari jalan agar hambatan segera teratasi. Seorang pemenang akan mengevaluasi diri dan perilakunya. Hambatan dilihat sebagai tantangan yang harus ditaklukkan biar naik level. Persis kaya maen game. Segera belajar dan cari tahu, gimana caranya agar hambatan tak jadi batu sandungan. Tapi justru tetap menjaga fokus kita di jalan perjuangan. Yup, hambatan adalah sahabat yang mengingatkan kita akan pentingnya jalani proses perubahan. Nyes!
  2. Kalah sebelum bertanding. Belon juga turun ke medan perang, udah ngeper duluan dengan kehebatan musuh atau terjalnya jalan ujian. Itu juga kata orang, bukan sendirinya yang ngeliat.Bayangannya udah gagal aja. Seorang pemenang punya keyakinan yang kuat dirinya bisa lewati ujian. Dia bakal berusaha persiapkan banyak untuk berikan yang terbaik. Bisikan setan nggak didengar. Bayangannya dia sudah memegang tropi juara. Yup, dia udah menang melawan nafsu setan sebelum bertanding. Keren!
  3. Tak bisa menerima kegagalan. Udah berusaha sekuat tenaga, ternyata hasilnya tak sesuai harapan. Langsung nangis. Ngambek. Mengurung di dalam kamar. Gak papa kalo sedih sebentar lalu bangun dan move on. Tapi jangan dimanjain. Itu godaan setan yang memasung produktifitas. Seorang pemenang nyadar kalo proses gak ada yang mulus kaya jalan raya yang baru diaspal. Kegagalan udah menjadi bagian dari proses yang dijalaninya. Karena dia siap menjadi pemenang dan berani menerima kegagalan. Terus berusaha karena pasti suatu saat kemenangan akan ada ditangan. Hamasah!
  4. Selalu ingin dikasihani. Fokus dengan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Selalunya membesar-besarkan hambatan yang ditemui. Lalu merasa dirinya gak bisa melewati. Dan bilang sama orang agar dimaklumi. Seorang pemenang, tangannya ada di atas untuk memberi bantuan bukan malah selalu menengadahkan tangan dan pasang mimik wajah kasihan. Dia gak cerita kekurangan dirinya, tapi fokus menularkan semangatnya. Biar yang lain juga bisa menjadi pemenang seperti dirinya. Yes!
  5. Nyari pembenaran. Udah jelas dirinya yang bangun kesiangan lantaran begadang semalaman, jadi telat shalat shubuh dan masuk sekolah. Tapi bilang ke guru ibunya telat bangunin, jalanan macet, bla..bla..bla. Dia gak gentle ngaku kalo emang dirinya yang bermasalah, malah mencari kambing hitam untuk disalahkan. Seorang pemenang akan langsung evaluasi diri saat melakukan kesalahan. Segera perbaiki, tambah ilmu dan berusaha lebih baik lagi. Gak ada ceritanya nyari pembenaran. Biar energinya nggak tersedot buat nyari kesalahan orang lain. Tapi fokus keluar dari masalah dan membuka jalan kemenanangan. Mantabs!

Driser, syukurilah nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita. Optimis menatap masa depan. Karena kita adalah pemenang. We are the champion. Go..! [@Hafidz341]

di Muat di Majalah Remaja islam Drise Edisi #39

Majalah Drise Edisi 39 : We Are The Champion

Dor…..!! bunyi tanda pertandingan dimulai terdengar memekakkan telinga. Sang juara langsung berlari sekuat tenaga. Samping kiri kanan, depan belakang, jutaan pesaingnya pun tak mau kalah. Mereka semua berlomba menuju garis finish menjemput hadiah berupa pasangan pujaan hatinya. Berbagai rintangan di depan mata tak menyurutkan semangatnya. Satu per satu lawan tandingnya berguguran. Hingga dia berhasil menemukan cinta sejatinya. Berhasil memeluknya. Berhasil membuahinya hingga lahirlah kamu. Iya kamuu!

 Juara Sejak Lahir

Gak perlu dijelasin panjang lebar tentang asal muasal kita dilihat dari sisi biologis. Yang pasti, pembuahan sperma pada sel telur yang mengawali proses reproduksi. Normalnya, cuman dibutuhkan satu sperma untuk membuahi sel telur. Masalahnya, ketika pria ejakulasi, sekitar 100-300 juta sperma masuk ke dalam vagina wanita dengan kecepatan sekitar 45 km/jam. Maaf ya kalo bahasanya, dianggal vulgar. Biar jelas aja. Kalo pake bahasa penyamaran, entar malah banyak pertanyaan. Kasian guru biologinya. 😀

Adu cepat mencapai sel telur itu kompetisi hidup dan mati. Lantaran setiap sperma unik secara genetik. Artinya nggak ada cerita dua sperma yang mengandung rangkaian gen yang sama persis. Jutaan sperma individual tersebut kini harus saling adu cepat untuk membuahi sel telur. Balapan lari!

Perjalanan menuju sel telur adalah perjalanan yang berbahaya. Fear factor mah lewat. Inilah mengapa sperma diproduksi dalam jumlah sangat banyak. Untuk berhasil membuahi sel telur, sperma harus mampu bertahan dalam lingkungan vagina wanita dan serviks alias leher rahim. Keasaman lingkungan di sana melindungi wanita dari bakteri dan serangan infeksi yang berbahaya, tapi lingkungan ini juga berbahaya bagi sperma. Sperma yang lemah atau rusak tidak akan berhasil mencapai tujuannya. Tepar!

Bayangin, dari sekian juta sperma hanya 5% saja yang akan berhasil mencapai serviks. Dari 5 % tersebut, hanya sekitar 200 sperma saja yang bisa mencapai saluran Fallopi wanita. Sperma yang berhasil mencapai saMAJALAH REMAJA | TABLOID | BACAAN | ISLAM | TRENDI | GAUL | MUSLIM | DAKWAH | ONLINE | ANAK | MUDA | CERPEN ISLAM | SMART| HTTP://MajalahDrise.Comluran ini berarti telah menempuh perjalanan setengah jauh, yang dibandingkan dengan panjang sperma itu sendiri, sama dengan beberapa ratus kilometer perjalanan. Mantabs!

Dari 200 sperma hanya sedikit yang bisa meneruskan perjalanan hingga bagian luar sel telur. Dari sperma-sperma tersebut, hanya satu yang akan berhasil menembus permukaan sel telur, meninggalkan ekornya di luar, inilah yang disebut pembuahan. Pada saat itu juga, permukaan sel telur akan menjadi tak tertembus oleh sperma lainnya. Udah full booked!

Setelah serangkaian perubahan komplek, yaitu 7 hari setelah pembuahan, sel telur tadi tertanam di dinding rahim. Pada saat inilah kehamilan terjadi. Terus janin berkembang selama  9 bulan 10 hari hingga tiba waktunya kita melihat dunia. Tangis bayi memecah kesunyian ruang bersalin. Tangis harus membasahi pipi orang tua kita. Alhamdulilaah…

Berbahagialah kita yang sukses nongol melihat dunia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena bukan cuman 9 bulan 10 hari kita ngendon di perut ibu tersayang. Jauh sebelum itu terjadi, kita telah berhasil memenangkan sebuah kompetisi hidup dan mati. Kamu bersaing dengan ratusan juta benih yang juga ingin lahir ke dunia. Itulah proses reproduksi yang jarang kita ketahui. Jadi sebenarnya, kita sudah jadi juara sejak lahir. Yes!

 Juara Dunia Akhirat

Sebagai seorang remaja muslim yang kiyut bin sholeh, kita layak menyandang gelar juara dunia akhirat. Lantaran Allah swt udah ngasih predikat umat terbaik pada kaum muslimin seperti dalam firman-Nya:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.(QS. Ali-Imran [3]: 110)

Pengertian umat terbaik adalah umat yang memberikan kebaikan dan manfaat bagi umat lainnya. Imam Ahmad meriwayatkan, ”seseorang bangkit dan menuju Nabi saw ketika beliau berada ddalam mimbar, lalu bertanya: ’Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?’, Beliau bersabda: ’Manusia yang paling baik adalah yang paling tenang, paling bertakwa, paling giat menyuruh kepada yang makruf (kebaikan), paling gencar melarang kemungkaran (keburukan), dan paling rajin silaturahmi.’”  Ini kan umat Islam banget!

Sebagai umat pilihan, kita punya peluang besar untuk menikmati surga. Sementara Allah swt justru menutup pintu syurga bagi orang-orang kafir dan ahli kitab seperti disebutkan dalam surat Al-bayyinah ayat 8. Makanya, teteplah bangga sebagai muslim hingga akhir hayat. Kita sudah menjadi juara dunia akhirat. Rasullulah saw mengingatkan:

”Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka raihlah kematiannya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir serta memberikan kepada manusia sesuatu yag dia sendiri ingin diberi sesuatu yang seperti itu.”(HR. Ahmad)

Beruntung sekali kita sebagai muslim yang termasuk umat pilihan dan berpeluang besar menikmati syurga-Nya di akhirat kelak. Jadi, nggak ada alasan dong bagi kita untuk minder dengan Islam. Justru kita mesti bangga menjadi bagian dari umat juara. Otreh?!

Eits, tetep jaga hati dong. Bangga bukan berati angkuh lho. Dalam kamu besar bahasa Indonesia tercantum jelas perbedaan antara bangga dan sombong. Bangga adalah besar hati, merasa gagah (karena mempunyai keunggulan). Sementara sombong dalah menghargai diri secara berlebihan, congkak, pongah. Beda banget kan!

Kebanggaan kita sebagai muslim tidak lantas menjadikan kita sombong. Justru sifat angkuh bin congkak hanya akan menodai keislaman kita. Rasulullah saw bersabda:

”Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, sekalipun hanya sebesar biji sawi. Seorang lelaki berkata, ”Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki yuag menukai pakaian yang bagus dan sandal yang agus (bagaimana orang itu?, penj).” Rasulullah bersabda, ”Sesunguhnya Allah itu Maha Indah mdan Allah mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan menyepelekan manusia.”(HR. Muslim).

Dalam catatan sejarah penerapan hukum Islam oleh negara juga tidak menunjukkan adanya diskriminasi terhadap penganut agama lain. Seperti pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab. Beliau memberikan keamanan bagi penduduk Elya (al-Quds) penganut kristen. Jaminan tersebut berupa keamanan terhadap diri, gereja, dan agama mereka. Mereka tidak pernah dipaksa terkait dengan agama mereka. Khalifah Umar pun menetapkan semua rakyat tidak boleh menyakiti mereka (Al-Baladzury, Futûh al-Buldan).

Ini senada seirama dengan sabda Rasul saw: ”Siapa yang menzalimi non-Muslim yang telah melakukan perjanjian atau meremehkannya, membebaninya di luar batas kemampuan, mengambil sesuatu tanpa kerelaannya, maka aku menjadi musuhnya pada hari Kiamat.”(HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi)

Sekarang makin jelas dong kalo bangga nggak sodaraan ama sombong. Nggak juga temenan ama ujub bin narsis. Bangga dengan Islam itu mulia, kalo sombong? Justru tercela!

Be Your Self Aja…

Belon afdhol kalo rasa bangga cuman mangkal di dalam hati. Kebanggaan mesti dikasih ekspresi tanpa mengurangi porsi sikap rendah hati. Untuk menjaga biar rasa bangga tetep hadir tanpa cela, ekspresi yang ditunjukkan juga nggak boleh basi. Apalagi sampe ngasih kesempatan sifat riya ikutan nyempil di hati. Cukup kebanggaan itu kita tunjukkan seperti cita rasa khas muslim sejati.

Sebagai pribadi, kita adalah makhluk terbaik yang Allah ciptakan dengan segala plus dan minusnya. Gak perlu minder dengan kekurangan diri kita. Karena kita sang jawara. Dan gak perlu juga sombong dengan kelebihan diri kita. Karena masih banyak yang lebih baik dari kita. Yang penting, jadilah diri sendiri. Tunjukan kalo kita memang layak menjadi juara sesuai dengan kemampuan kita. Gak mesti sama seperti orang lain. Tiap orang kan punya keahlian yang berbeda. Makanya kenali potensi diri lalu ukir prestasi. Tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa.

Sebagai muslim sejati, pastinya percaya akan kebaikan yang diperoleh saat kita taat ama aturan Allah swt. Apalagi kelemahan kita sebagai manusia gak tau dengan akurat apa yang terbaik buat diri kita. Terkadang kita pikir pacaran itu bermanfaat, gak taunya malah menjerumuskan kita dalam jeratan nafsu syahwat. Terkadang kita pikir nutup aurat itu cupu (culun punya), kenyataannya menjadikan martabat diri kita lebih mulia. Makanya Allah swt menurunkan risalah Islam untuk memuliakan manusia.

Sebagai ekspresi kebanggaan terhadap Islam yang jempolan, udah sewajarnya kalo kita tunduk dan ikhlas ngikutin aturan hidup Islam. Nggak pake nyari-nyari alasan biar lolos dari kewajiban taat ama Allah dan Rasul-Nya. Allah swt berfirman yang artinya: ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata”.(QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Ekspresi kebanggaan juga wajib kita tunjukkan dengan memupuk kepedulian kita terhadap Islam dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Sebagai juara sejak lahir, kita pasti bisa kasih kontribusi terbaik untuk kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Rasul saw bersabda: ”Siapa saja di pagi hari tidak memikirkan masalah kaum Muslimin, maka bukan termasuk golongan mereka (kaum Muslimin)(HR. Al-Hakim).

Driser, udah saatnya kita berani nunjukkin kebanggan sebagai pribadi juara dan generasi muda Islam. Nggak malu-malu kucing lagi menampilkan cita rasa Muslim yang gaul, syar’i, dan mabda’i. Siap menjadi garda terdepan sebagai pembela Islam. Serta tak gentar menghadapi resiko yang menghadang idealisme Islam. Biar semuanya bisa dijalani, perlu persiapan matang dengan getol mengenali Islam lebih dalam. Sehingga kita bisa berteriak lantang, Yes, we are the champion! [@Hafidz341]

di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39