Ekspresi Cinta Remaja

Majalahdrise.com – Serunya remaja ngobrolin perkara cinta, tak cukup sekedar kata. Apalagi hanya terhias dalam status sosial media. Remaja ngerasa belon afdhol kalo rasa cintanya nggak keliatan di dunia nyata. Jadi sebisa mungkin dikasih ekspresi biar cinta tak bertepuk sebelah tangan. Seperti apa ekspresi cinta remaja, mereka belajar dari tayangan media. Mulai dari sinetron, reality show, hingga acara gosiptainmen yang terus meneror tayangan remaja. Kalo kita liat, serial sinema elektronik alias sinetron nggak pernah absen mengisi jam tayang utama setiap harinya. Baik produk lokal maupun interlokal. Dan pastinya, persoalan cinta masih jadi bahasan utama. Yang bikin beda paling cuman wajah-wajah baru pemainn ya. Alur ceritanya juga gitu-gitu aja. Diawali perkenalan yang nggak sengaja, terus jatuh cinta, ada pihak ketiga yang nggak suka, dibuat deh konflik antar pemain yang mengada-ada, endingnya damai semua. Wajar kalo mental remaja kita pada letoy. Wong tiap hari hiburannya dicekokin cerita cinta melulu. Kaya nggak ada tema lain yang lebih mendidik. Selain sinetron, tiap hari remaja juga dicekokin tayangan gosip seputar kehidupan cinta kaum idola.

Dari Ayu Ting-ting, Pevita Pearce hingga al-Ghozali. Gak ada bosennya menghiasi layar kaca. Pokoknya semua ada. Remaja tinggal duduk, diam, dan terima dengan pikiran terbuka semua mata pelajaran cinta dari para idola. Mulai dari bab pedekate, bab jalan bareng, bab mengumbar kemesraan di depan publik, sampe bab gonta-ganti pasangan. Gencarnya tayangan yang mengupas cinta semakin menghanyutkan remaja dalam buaian asmara dalam balutan budaya pacaran. Walhasil, remaja seolah tak punya pilihan untuk mengekspresikan rasa cintanya kecuali dengan pacaran. Waduh!

Ekspresi Cinta di Atas Garis

Rasa cinta itu anugerah. Jadi nggak ada alasan untuk membencinya apalagi sampai menolak kehadirannya. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al- Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang. Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah” . Yang harus kita lakukan adalah menjaga cinta agar tetap berkah. Bukan malah berbuah masalah. Lantaran sebagai manusia, kita selalu disodorkan dua pilihan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri. Sebagaimana Allah swt berfirman: Dan telah Kami tunjukkan (kepada manusia) dua jalan” (QS. Al-Balad: 10)

Yup, Allah swt udah ngasih kita dua jalan. Jalan kebaikan dan jalan keburukan. Itu artinya, jika kita dihadapkan pada garis yang memisahkan baik dan buruk, kita harus memilih salah satu. Jika di atas garis adalah taat, maka dibawah garis adalah maksiat. Jika di atas garis adalah surga, maka di bawah garis tentu neraka. Jika di atas garis warna putih, maka di bawah garis warna hitam. Nggak ada pilihan di tengah-tengah. Karena tak ada area abu-abu dalam Islam. Untuk urusan cinta, remaja banyak terhanyut dalam area di bawah garis alias maksiat. Budaya pacaran yang merajalela menjerumuskan kawula muda dalam gaya hidup pemuja syahwat. Ujung-ujungnya bisa kualat. Hidup di dunia minim manfaat, masuk neraka pula di akhirat. Alamaaak…!

Karena itu, udah waktunya remaja muslim move on dari ekspresi cinta maksiat yang di bawah garis, menjadi cinta mulia tanda taat yang di atas garis. Biar bisa lolos dari ujian cinta dan nggak jadi pemuja cinta, berikut tips dari kita: Pertama, cintai sewajarnya. Cinta itu perilaku hati yang bisa berubah sewaktuwaktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Jadi, kalo kita poling in lop (baca: jatuh cinta) ama seseorang, cintai aja sewajarnya karena Allah swt. Nggak usah didramatisir layaknya kisah cinta cinderella atau Romeo dan Juliet. Karena boleh jadi suatu saat perasaan itu berbalik seratus tujuh puluh sembilan koma sembilan derajat. Saat itu terjadi, kita akan lebih siap menerima kenyataan. Rasul saw bersabda: “Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya saja, karena boleh jadi dia akan menjadi orang yang engkau benci suatu saat nanti. Bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saja karena boleh jadi dia akan menjadi orang yang engkau cintai suatu saat nanti” (HR. Tirmidzi)

Kedua, kendalikan dengan Islam. Jangan biarkan rasa cinta yang datang menjadi liar. Kita bakal kewalahan ngadepinnya. Segera kendalikan dengan aturan Islam. Kasih tau dari awal kalo ekspresi cinta dalam Islam hanya diperbolehkan setelah khitbah (pinangan) menuju pernikahan. Itupun tetep ngikutin aturan gaul Islam yang melarang mojok berduaan (berkhalwat) tanpa disertai mahrom. Nggak ada ruang sedikitpun bagi perilaku pacaran. Kalo tetep ngotot pengen pacaran. Entar kalo udah merit, puaspuasin deh tuh pacarannya! Ketiga, pupuk cinta sesama muslim. Rasa cinta nggak melulu kepada lawan jenis. Rasa cinta juga berwujud kasihsayang kita pada sesama muslim sebagai saudara satu akidah.

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Ekspresi cinta sesama muslim itu bentuknya dengan saling menasihati untuk mengingatkan dan menguatkan. Karena nasehat berarti menginginkan kebaikan pada orang lain. Kita ingin saudara kita itu jadi baik ketika dinasehati, bukan ingin mereka direndahkan atau disalahkan. Keempat, Cinta Allah paling atas. Sebesar apapun rasa cinta kita berikan, tetep nggak boleh lebih tinggi dari kecintaan kita kepada Allah swt. Itu artinya, kalo pasangan kita mengajak bermaksiat (contohnya pacaran), wajib ditolak tuh. Lalu bilangin kalo nggak ada pacaran dalam Islam dan nggak ada pacaran Islami. Sama seperti yang terjadi pada putranya khalifah Abu Bakar.

Abdullah bin Abu Bakar cinta banget ama istrinya yang cantik, luhur budinya dan agung akhlaknya. Namun ternyata, kecintaannya tersebut malah melalaikannya dalam berjihad di jalan Allah. Lalu Abdullah pun menceraikan istrinya seperti yang diperintahkan Ayahnya. Ini bukan berarti Abdullah anak papih lho. Tapi sebagai bentuk kecintaannya kepada Allah swt. Rasul saw ngingetin kita: “Ada tiga hal dimana orang yang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan enggan untuk menjadi kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya sebagaimana enggannya kalau dilempar ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Cinta pada Allah swt dan Rasul-Nya, bukan berarti kita musuhan dengan rasa cinta pada manusia, harta benda, atau yang lain. Justru, kecintaan kita pada Allah swt bakal ngejaga ketulusan cinta kita. Cinta pada manusia apa adanya. Nggak berlebihan apalagi sampe pacaran atau ikut valentinan. Cinta pada harta benda sesuai kebutuhan. Nggak diperbudak harta sampe mengorbankan harga diri. Keren kan? Driser, hanya Islam yang menjadikan rasa cinta dan orang-orang yang jatuh cinta terjaga kemuliaannya. Nggak kaya aturan sekuler kapitalis yang menjadikan cinta sebagai komoditi bisnis untuk meraih materi dan kepuasan jasmani. Makanya, penting banget bagi kita untuk mengenal Islam lebih dalam. Agar ekspresi cinta kita, di atas garis..![@hafidz341]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 54

MAJALAH DRISE EDISI 54 : CINTA DI ATAS GARIS

MajalahDrise.com – Ngomongin cinta emang nggak ada abisnya. Karya seni yang terinspirasi dari cinta pun nggak ada matinya. Mulai dari lagu, puisi, novel, hingga film layar lebar nggak pernah sepi dari tema cinta. Sebut saja Yovie Widianto atau Melly Guslaw, dua musisi kenamaan ini paling piawai menciptakan lagu-lagu cinta. Duet Riri Riza dan Mira Lesmana pernah sukses ngegarap film remaja bertajuk “Ada Apa Dengan Cinta”. Dan seorang Habiburrahman el-shirazi alias kang ebik berhasil mengguncang pecinta novel cinta dengan karya best sellernya, “Ayat-Ayat Cinta”. Cinta!

Kenapa Obrolan Soal Cinta Nggak Ada Abisnya?

Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Ibaratnya kalo kita ngeliat mawar, nggak ambil pusing dengan durinya yang berbahaya, tapi justru lebih asyik merhatiin bunganya yang indah mempesona. Makanya, bagi orang yang lagi kasmaran, pepatah nobody’s perfect sementara di-disabled. Karena dimatanya, pujaan hati selalu terlihat sempurna. Itu dia jawabannya. Karena cinta begitu indah! Cinta terasa indah karena mengandung kebahagiaan (happines), menyenangkan (comfort), dan kepercayaan (trust). Ketiga perasaan indah itu ngasih sugesti positif yang melahirkan sikap optimis dan positif thinking. Nggak heran kalo pengidap virus merah jambu hatinya selalu berbunga-bunga. Keliatan tuh dari bahasa tubuhnya. Yang tadinya pendiem, jadi nggak mau diem kaya cacing kepanasan.

Gelisah terus. Yang tadinya doyan pasang muka jutek, jadi hobi obral senyum dan sksd sama semua orang. Hatihati kebanyakan senyumnya, entar dikira pasien RSJ yang kabur lagi. Kan berabe. Kita memang nggak pernah tahu wujud keindahan cinta yang abstrak. Sehingga banyak yang bilang, indahnya cinta itu lebih mudah dialami daripada dijelaskan. Bener juga sih. Tapi bagi para ilmuwan, seluk beluk cinta kudu bisa dijelaskan secara ilmiah. Hasilnya, muncullah istilah Feromon, yaitu zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Berbeda dengan hormon, feromon menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang spesies (wikipedia).

Ternyata, feromon pada manusia juga berfungsi sebagai daya tarik seksual. Para ahli kimia dari Huddinge University Hospital di Swedia malah mengklaim kalo feromon juga punya andil dalam menghasilkan perasaan suka, naksir, cinta, bahkan gairah seksual seorang manusia pada manusia lainnya. Ini mereka buktikan saat melakukan penelitian terhadap reaksi otak 12 pasang pria-wanita sehabis mencium bau senyawa sintetik mirip feromon. Bebauan tersebut langsung bereaksi terhadap hormon estrogen (pada wanita) dan hormon testoteron (pria). Nah, ternyata memang obrolan seputar cinta tak sebatas lisan saja. Tapi juga memancing hormon tubuh dan pastinya bikin nyaman perasaan. Makanya wajar kalo udah ngobrolin cinta, terutama remaja, suka lupa diri saking asyiknya.

Ekspresi Cinta Remaja

Serunya remaja ngobrolin perkara  cinta, tak cukup sekedar kata. Apalagi hanya terhias dalam status sosial media. Remaja ngerasa belon afdhol kalo rasa cintanya nggak keliatan di dunia nyata. Jadi sebisa mungkin dikasih ekspresi biar cinta tak bertepuk sebelah tangan.  Seperti apa ekspresi cinta remaja, mereka belajar dari tayangan media. Mulai dari sinetron, reality show, hingga acara gosiptainmen yang terus meneror tayangan remaja. Kalo kita liat, serial sinema elektronik alias sinetron nggak pernah absen mengisi jam tayang utama setiap harinya. Baik produk lokal maupun interlokal.

Dan pastinya, persoalan cinta masih jadi bahasan utama. Yang bikin beda paling cuman wajah-wajah baru pemainn ya. Alur  ceritanya juga gitu-gitu aja. Diawali perkenalan yang nggak sengaja, terus jatuh cinta, ada pihak ketiga yang nggak suka, dibuat deh konflik antar pemain yang mengada-ada, endingnya damai semua. Wajar kalo mental remaja kita pada letoy. Wong tiap hari hiburannya dicekokin cerita cinta melulu.

Kaya nggak ada tema lain yang lebih mendidik. Selain sinetron, tiap hari remaja juga dicekokin tayangan gosip seputar kehidupan cinta kaum idola. Dari Ayu Ting-ting, Pevita Pearce hingga al-Ghozali. Gak ada bosennya menghiasi layar kaca. Pokoknya semua ada. Remaja tinggal duduk, diam, dan terima dengan pikiran terbuka semua mata pelajaran cinta dari para idola. Mulai dari bab pedekate, bab jalan bareng, bab mengumbar kemesraan di depan publik, sampe bab gonta-ganti pasangan.

Gencarnya tayangan yang mengupas cinta semakin menghanyutkan remaja dalam buaian asmara dalam balutan budaya pacaran.  Walhasil, remaja seolah tak punya pilihan untuk mengekspresikan rasa cintanya kecuali dengan pacaran. Waduh!

Ekspresi Cinta di Atas Garis

Rasa cinta itu anugerah. Jadi nggak ada  alasan untuk membencinya apalagi sampai menolak kehadirannya.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah AlMuhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin  memberikan komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang. Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian,  mendorong berpenampilan rapi,  membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah” . Yang harus kita lakukan adalah menjaga cinta agar tetap berkah. Bukan malah berbuah masalah. Lantaran sebagai manusia, kita selalu disodorkan dua pilihan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri. Sebagaimana Allah swt berfirman:  Dan telah Kami tunjukkan (kepada manusia) dua jalan” (QS. Al-Balad: 10)

Yup, Allah swt udah ngasih kita dua jalan. Jalan kebaikan dan jalan keburukan. Itu  artinya, jika kita dihadapkan pada garis yang memisahkan baik dan buruk, kita harus memilih salah satu. Jika di atas garis adalah taat, maka dibawah garis adalah maksiat. Jika di atas garis adalah surga, maka di bawah garis tentu neraka.

 Jika di atas garis warna putih, maka di bawah garis warna hitam. Nggak ada pilihan di tengah-tengah. Karena tak ada area abu-abu dalam Islam.  Untuk  urusan cinta, remaja banyak terhanyut dalam area di bawah garis alias maksiat. Budaya pacaran yang merajalela menjerumuskan kawula muda dalam gaya hidup pemuja syahwat. Ujung-ujungnya bisa kualat. Hidup di dunia minim manfaat, masuk neraka pula di akhirat. Alamaaak…! Karena itu, udah waktunya remaja muslim move on dari ekspresi cinta maksiat yang di bawah garis, menjadi cinta mulia tanda taat yang di atas garis. Biar bisa lolos dari ujian cinta dan nggak jadi pemuja cinta, berikut tips dari kita: Pertama, cintai sewajarnya.

Cinta itu perilaku hati yang bisa berubah sewaktuwaktu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Jadi, kalo kita poling in lop (baca: jatuh cinta) ama seseorang, cintai aja sewajarnya karena  Allah swt. Nggak usah didramatisir layaknya kisah cinta cinderella atau Romeo dan Juliet. Karena boleh jadi suatu saat perasaan itu berbalik seratus tujuh puluh sembilan koma  sembilan derajat. Saat itu terjadi, kita akan lebih siap menerima kenyataan. Rasul saw bersabda: “Cintailah orang yang engkau  cintai sewajarnya saja, karena boleh jadi dia akan menjadi orang yang engkau benci suatu saat nanti. Bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saja karena boleh jadi dia akan menjadi orang yang engkau cintai suatu saat nanti” (HR. Tirmidzi)

Kedua, kendalikan dengan Islam. Jangan biarkan rasa cinta yang datang menjadi liar. Kita bakal kewalahan  ngadepinnya. Segera kendalikan dengan aturan Islam. Kasih tau dari awal kalo ekspresi cinta dalam Islam hanya diperbolehkan setelah khitbah (pinangan) menuju pernikahan. Itupun tetep ngikutin aturan gaul Islam yang melarang mojok berduaan (berkhalwat) tanpa disertai mahrom. Nggak ada ruang sedikitpun bagi perilaku pacaran. Kalo tetep ngotot pengen pacaran. Entar kalo udah merit, puaspuasin deh tuh pacarannya! Ketiga, pupuk cinta sesama muslim. Rasa cinta nggak melulu kepada lawan jenis. Rasa cinta juga berwujud kasihsayang kita pada sesama muslim sebagai saudara satu akidah.

Dari Anas radhiyallahu  ‘anhu, ia berkata, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”  (Muttafaqun ‘alaih.  HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45). Ekspresi cinta sesama muslim itu bentuknya dengan saling menasihati untuk mengingatkan dan menguatkan. Karena  nasehat berarti menginginkan kebaikan  pada orang lain. Kita ingin saudara kita itu jadi baik ketika dinasehati, bukan ingin mereka direndahkan atau disalahkan. Keempat, Cinta Allah paling atas. Sebesar apapun rasa cinta kita berikan, tetep nggak boleh lebih tinggi dari kecintaan kita kepada Allah swt. Itu artinya, kalo pasangan kita mengajak bermaksiat (contohnya pacaran), wajib ditolak tuh.

Lalu bilangin kalo nggak ada pacaran dalam  Islam dan nggak ada pacaran Islami. Sama seperti yang terjadi pada putranya khalifah Abu Bakar. Abdullah bin Abu Bakar cinta banget ama istrinya yang cantik, luhur budinya dan agung akhlaknya. Namun ternyata, kecintaannya tersebut malah  melalaikannya dalam berjihad di jalan Allah. Lalu Abdullah pun menceraikan istrinya seperti yang diperintahkan Ayahnya. Ini bukan berarti Abdullah anak papih lho.

Tapi sebagai bentuk kecintaannya kepada Allah swt.  Rasul saw ngingetin kita: “Ada tiga hal dimana orang yang memilikinya akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan enggan untuk menjadi kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya sebagaimana enggannya kalau dilempar ke dalam api.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Cinta pada Allah swt dan Rasul-Nya, bukan berarti kita musuhan dengan rasa cinta pada manusia, harta benda, atau yang lain. Justru, kecintaan kita pada Allah swt bakal ngejaga ketulusan cinta kita. Cinta pada manusia apa adanya. Nggak berlebihan apalagi sampe pacaran atau ikut valentinan. Cinta pada harta benda sesuai kebutuhan.

Nggak diperbudak harta sampe mengorbankan harga diri. Keren kan?  Driser, hanya Islam yang menjadikan rasa cinta dan orang-orang yang jatuh cinta terjaga kemuliaannya. Nggak kaya aturan sekuler kapitalis yang menjadikan cinta sebagai komoditi bisnis untuk meraih materi dan kepuasan jasmani. Makanya, penting banget bagi kita untuk mengenal Islam lebih dalam. Agar ekspresi cinta kita, di atas garis..![@hafidz341]

DI MUAT DI MAJALAH REMAJA ISLAM DRISE EDISI 54

AGAR BUNGA DAKWAH TETAP SEGAR

Majalahdrise.com – Kemauan yang kuat udah tentu nggak datang dengan sendirinya. Tapi dibangun dari sebuah pemahaman yang menyulap keraguan kita menjadi kebulatan tekad. Semangat kita jadi nggak setengah-setengah, tapi basah kuyup sekalian. Untuk melahirkan kemauan yang keras, mau nggak mau kita mesti bergerak. Karena berdiam diri hanya akan membekukan hati dan memasung langkah kita. Dan bunga dakwah bisa layu sebelum berkembang.

Agar bunga dakwah tetap mekar dan menebar kebaikan, berikut tipsnya: Pertama, banyak berpikir. Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir” (Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409).

Semakin kita banyak berpikir tentang kebesaran Allah swt dan mengkaji Islam lebih dalam, lambat laun cahaya keimanan kita akan semakin bersinar. Makanya ikut ngaji. Kedua, perbanyak ibadah dan jauhi maksiat. Rasul pernah bilang, ”iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang”. Rasul juga bilang, “iman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat”. Makanya kita kudu getol beribadah, baik yang sunat apalagi yang wajib.

Dan jangan lupa, jauhi pelaku maksiat juga tempat maksiat. Biar kita nggak kebawa-bawa sesat. Ketiga, bergaul dengan orang-orang alim. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Makanya, sering-sering deh ngumpul dengan teman yang bisa mengajak kita untuk tetap taat dan mengingatkan kita agar jauh dari maksiat. Dengan begitu, tanki semangat kita untuk istiqomah selalu terisi penuh. Emang nggak mudah menjadikan ridho Allah swt di atas pertimbangan materi, kepentingan keluarga, atau solidaritas teman.

Tapi percaya deh, Allah swt pasti akan mengganti setiap pengorbanan kita dengan kebaikan dunia akhirat. Bukan cuman untuk kita, tapi juga untuk keluarga, teman, dan orang-orang yang kita sayangi. So, hari gini masih jadi bunga dakwah? Ya iyalah masa ya iya dong! []

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 53

Bunga Dakwah Pondasi Resolusi

Majalahdrise.com – Bunga dakwah? Kesannya, kemayu bin centil gitu ya denger istilah bunga dakwah. Soalnya udah umum julukan ‘bunga’ identik dengan kaum hawa yang mempesona bikin mata kaum adam tak berkedip menatapnya. Misal ada mahasiswi yang bening bin eye catching di kampus, para penghuni kampus pun menjulukinya bunga kampus. Kalo sempat liburan ke kampung dan ketemu gadis cantik rupawan, masyarakat menjulukinya bunga desa. Lah kalo bunga dakwah kan, berarti…..

Hati-hati ya. Bunga dakwah bukan berarti pesona aktivis muslimah yang bikin jakun para ikhwan naik turun kaya lift. Nggak boleh tuh menatap lawan jenis sampe gak berkedip plus hokcay alias molohok bari jeung ngacay. Kita diajarkan untuk gadhul bashar alias menundukkan pandangan. Bunga dakwah yang satu ini artinya… “Buku, Ngaji, dan Dakwah”. Tiga kegiatan yang wajib kita agendakan dalam keseharian.

Terutama buat remaja kaya kitakita. Biar hidup punya makna. Produktifitas kita juga berarti. Ingat pesan Imam Asy Syafii: “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).” Nasihat imam Syafií ini yang kita pegang untuk membangun pondasi bunga dakwah. a. Pondasi Pertama, Membaca

BUKU

Nyandu baca keliatannya emang nggak populer bin trendi. Padahal dengan membaca, kita bisa mendulang banyak informasi tentang segala hal. Menjelajahi berbagai tempat di belahan dunia, mengenal berbagai kecanggihan teknologi, meneladani biografi tokoh-tokoh dunia, termasuk berita sosial-politik dan perkembangan gaya hidup. Semuanya bisa dengan mudah dan cepat kita peroleh dengan baca koran, buku, atau majalah.

Dengan membaca, kita juga bisa belajar banyak hal. Mulai dari penyaluran hobi yang positif hingga berkenalan dengan ilmu lain yang nggak kita dapetin di sekolah. Seperti kisah motivasi, resep masakan, hingga berbagai keterampilan kerja. Asyiknya lagi, banyak buku yang sifatnya tutorial yang membimbing kita langkah demi langkah. Jadi nggak usah ngiri kalo ngeliat temen kamu yang pinter masak, piawai merajut kain, jago nyablon, atau terampil berbicara di depan publik. Semuanya bisa diraih hasil belajar sendiri alias otodidak akibat doyan melahap buku. Bukan perkara mudah untuk keluar dari masalah keseharian yang kita hadapi. Mulai dari kesehatan hingga kejiwaan. Tapi dengan membaca, kita bisa tahu profil setiap masalah.

Penyebabnya, akibatnya, sampe jalan keluar terbaiknya. Karena banyak buku, majalah, sampe buletin remaja kaya bukamata yang peduli dan empati dengan permasalahan remaja. Makanya nggak heran kalo mereka yang hobi baca lebih siap menghadapi dan berani menjalani proses biar bebas dari masalah. Dengan banyak baca, kita jadi banyak tahu. Dan kalo udah banyak tahu, banyak informasi bermanfaat yang bisa kita bagi ama temen. Itu berarti, kalo ada yang ngebully kita sebagai kutu buku yang kuper, mereka salah besar. Karena justru hobi baca buku bikin kita jadi tambah pede dalam bergaul karena nggak ketinggalan informasi. Semakin banyak juga kosa kata baru dan trendi yang bisa kita tabung. Bisa jadi, yang nyandu baca lebih gaul dari anak gaul. Malah jadi tempat bertanya dan konsultasi. Kan keren tuh! Jadi, rajin-rajinlah baca buku. Terutama bacaanya ngngasih kamu informasi bermanfaat. Bisa ngasih dorongan untuk makin dekat dengan Allah. Dan pastinya, juga makin mendekatkan kamu dengan resolusi yang hendak dicapai. Klop! b. Pondasi kedua, Rajin

NGAJI

 Setelah doyan baca buku, kuatkan pondasi kita dengan mengaji. Ngaji disini bukan sekedar baca quran biar bacaan tajwidnya dan tahsinya bener lho ya. Tapi juga kajian rutin untuk mengenal islam lebih dalam. Dengan belajar Islam, kita jadi tambah wawasan Islam, tahu kondisi umat Islam, dan makin mengenal kemuliaan aturan hidup Islam. Dengan mengaji, kita terbiasa untuk berdiskusi dan bertukar informasi. Kita jadi punya pegangan alias prinsip untuk berbuat yang benar sesuai teladan Rasul. Baca buku juga nggak asal lahap. Tapi bisa kita saring, mana ilmu yang menjadikan kita tambah taat dan mana informasi yang mengajak maksiat. Coba kalo nggak punya saringan, bisa-bisa semua info diterima.

Akibatnya, bisa terjerumus dalam gaya hidup STMJ alias Shalat Terus Maksiat Jalan. Ngeri! Kebaikan mengaji yang nggak kalah pentingnya adalah kita terbiasa mengaitkan perilaku di dunia dengan kehidupan akhirat kelak. Ini yang akan menjaga kemauan keras kita agar tetap dijalur yang benar. Karena setiap detik yang kita lalui, itu ada itungitungannya di hari perhitungan nanti. Dengan begitu, kita akan lebih waspada dengan godaan materi atau popularitas yang bisa menyeret kita masuk dalam kubangan dosa. Aktivitas mengaji bikin hati dan pikiran kita konek terus dengan Sang Pencipta. Setiap saat nyadar kalo Allah selalu mengawasi kita. Kita juga jadi lebih ngeh dengan kehadiran malaikat Raqib dan Atid yang selalu mencatat setiap perilaku. Kalo udah yakin Allah pasti melihat dan malaikat pasti mencatat, so pasti sungkan berbuat maksiat. Nggak sembarangan bertindak demi mencapai resolusi yang dibuat. c. Pondasi ketiga, aktif

DAKWAH

Aktivitas dakwah adalah harga mati bagi seorang muslim. Nggak bisa ditawartawar lagi. Kewajiban dakwah, sama seperti kewajiban shalat. Kalo lalai, bisa kualat lho alias dosa dan terkategori maksiat. Makanya, apapun resolusi yang kamu buat pastikan tetap ambil bagian dalam kegiatan dakwah. Belajar menyampaikan kebenaran meski kita masih sama-sama belajar. Rasul bilang, sampaikanlah walau hanya satu ayat. Berdakwah itu nggak cuman tentang kebaikan orang lain aja. Ternyata, aktivitas dakwah juga ngasih banyak kebaikan untuk diri kita lho. Pertama, dakwah mengajarkan kita untuk mengikis sikap individualis.

Dengan begitu, kita terbiasa untuk membantu orang lain dan secara alami akan banyak bantuan datang jika kita menghadapi kesulitan. Kedua, dakwah mengasah kemampuan kita dalam berbicara. Awalnya mungkin belepotan ngajakin kawan untuk jauhi maksiat kaya pacaran. Tapi kalo terbiasa, kita bisa lebih piawai memilih kata agar yang diajak lebih bisa nerima. Ketiga, dakwah itu ladang pahala yang nggak ada abisnya. Malah kita bisa dapat unta merah, sejenis kuda di timur tengah yang nilainya sangat istimewa, jika ada yang tercerahkan setelah mendengar kebaikan yang kita sampaikan. Itu berarti, tabungan pahala kita terus bertambah dan di akhirat kelak kavling surga bisa kita dapat. Pondasi ketiga ini yang akan ngasih nilai lebih pada resolusi yang kita buat.

Apapun resolusi kita, sertakan tujuan berdakwah di dalamnya. Kalo mau buka usaha, niatkan biar bisa bantu ngasih penghasilan tambahan bagi aktivis dakwah dan bisa berinfak lebih banyak. Kalo mau mengenyam pendidikan tinggi, niatkan biar dakwah kian aktif seiring banyak ilmu akademis yang kita dapat. Keren banget dah kalo dakwah jadi pondasi kegiatan dan resolusi kita. Mantabs!

Bunga Dakwah Bikin Hidup Lebih Hidup

Driser, menjadi bunga dakwah itu pilihan. Pilihan terbaik yang bisa bikin hidup kami lebih hidup. Gimana nggak, dengan menjadi bunga dakwah hidup kita dinamis. Ilmu terus bertambah. Manfaat terus disebar ke lingkungan sekitar. Pahala terus mengalir. Nggak ada waktu untuk ngegalau di sosial media. Meracau nggak karuan di kolom komentar. Yang ada, seruan kebaikan tak pernah berhenti keluar dalam bahasa lisan dan tulisan.

Nah Driser, kita pastinya nggak pengen masa muda kita habis nggak jelas gitu lantaran terhanyut budaya sekuler yang mengejar kesenangan dunia. Kita juga nggak rela dong nasib umat Islam dan kita menderita akibat penjajahan. Makanya wajar kalo kita-kita yang masih muda, kuat, dan cakep ini mesti ambil peran sebagai agen of change. Untuk kebaikan Islam dan kaum Muslimin. Jangan tunggu esok. Jangan liat orang lain. Mulai hari ini, ikut ngaji. Pake aturan hidup Islam. Dan jadilah bunga dakwah. Yuk! [@Hafidz341]

di muat di Majalah remaja islam drise edisi 53