Majalah Drise Edisi 22 :Be Player Not Dreamer

Sob, kalo kamu tergolong bukan manusia MASKULIN alias   manusia kutinggalan informasi (he he…singkatan yang   Smaksa ya) pasti ngeh dengan berita yang bisa dibilang   heboh beberapa waktu yang lalu. Sebuah prestasi yang   ditorehkan anak-anak putih abu-abu. Yup, berita tentang mobil   EseMka alias mobil yang dibikin (lebih tepatnya dirakit) oleh anak-anak yang sekolah di SMK.

Apalagi setelah Walikota Solo Joko   Widodo dan Wakil Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo menjadikan   mobil SUV produksi Kiat Esemka ini menjadi mobil dinas,   menggantikan mobil dinasnya Toyota Camry.  Trus, nggak cuman   itu, anak-anak putih abu-abu juga sukses bikin pesawat terbang,   dan merakit laptop. Heeum…, sebuah prestasi yang patut   diacungi empat jempol dan layak dapat gelar, LIKE THIS !  Sebenarnya cukup banyak ‘prestasi-prestasi’ anak negeri,   mulai dari juara olimpiade, sampe perlombaan iptek dan robot   tingkat nasional maupun internasional.

Tapi kayaknya prestasi itu   harus rela tertelan berita heboh, pemenang audisi, atau ajang   pencarian bakat, yang masih menempati prime time di televisi-televisi kita. Sepertinya cara pandang tentang sebuah “prestasi”   bagi masyarakat kita, masih seputar yang bersifat glamour,   sensatif, dan pastinya heboh. Lihat saja, ketika ada ajang audisi,   teman-teman kita pada bejibaku pengin mendaftar. Para orang   tuanya juga bangga banget kalo anaknya lolos audisi.

Ditambah   keluarga besar, tetangga, handai taulan sampe orang yang nggak   kenal sekalipun, ikutan heboh dengan mendukungnya via sms   premium.  Coba bayangkan, tentu akan berbeda hasilnya, andaikata   ketika mulai dari perhatian sampe duit yang dicurahkan di audisi   itu diarahkan ke prestasi-prestasi yang sifatnya lebih ilmiah,   macam mobil esemka tadi. Bisa jadi karena kurang dukungan,   kurang diperhatikan, bahkan bisa jadi karena kurang duit, mobil   esemka yang harusnya bisa jadi kebanggan prestasi anak negeri,   tapi uji emisi aja nggak lolos, sehingga harus dikaji ulang, untuk   diproduksi dalam jumlah banyak.

Soal pemberitaan di media pun antara berita prestasi anak   SMK dengan berita audisi, bisa dibilang nggak berimbang. Ya,   sekaligus ini menjadi bukti kalo media kita lebih berorientasi   materi (baca:duit). Tentu saja, karena lebih banyak disukai   masyarakat, ajang audisi itu lebih banyak mengundang sponsor   untuk beriklan di teve. Disamping memang, kita tiap hari dicekoki   (baca: dipaksa) oleh media untuk menelan berita dan hiburan   macam audisi itu. Bahkan kalo boleh bin perlu, presiden sampe   wakil rakyat pun bisa di audisi oleh media.

Padahal sadar atau nggak, pemaksaan yang dilakukan oleh   media tersebut menggiring  generasi kita kepada jurang lost   generation. Iya, secara tidak langsung berita dan hiburan tentang   audisi tersebut membawa kita kepada budaya konsumtif,   hedonistic, yang menghasilkan   manusia-penikmat bukan pencipta.   Generasi dreamers bukan players.   Coba perhatikan saja, siapa-siapa   yang bisa berprestasi di bidang   ilmiah, seperti juara olimpiade   tingkat nasional maupun   internasional? Bisa di hitung dengan jari   kan, kalo mau dibandingkan dengan generasi kita yang   lebih doyan jejingkrakan, teriak histeris, pemuja dan   pendukung pujannya di audisi atau pencarian bakat?

Remaja disodorin sebuah gambaran kesuksesan yang bisa diraih   secara instant!  Kalo gini ceritanya, kebayang dong kaya gimana potret   remaja nusantara di masa depan? Kayanya kekhawatiran akan   lost generation, bukan isapan jempol. Tapi isapan telunjuk, jari   tengah, jari manis hingga kelingking. Hehehe…  Ngomong-ngomong soal prestasi, sekali lagi ini soal cara   pandang tentang sebuah “prestasi” dan tentu saja tentang   standar kita dalam menentukan sesuatu layak disebut prestasi   atau nggak. Bagi para bola mania, boleh jadi kiprah Lionel Messi   atau Christian Ronaldo di La Liga adalah sebuah prestasi. Begitu   juga yang hoby moto GP, sepakat dua pakat kasih acungan jempol   bagi Valentino Rossi, Casey Stonner, atau Lorenzo. Nggak   ketinggalan, penikmat film laga kasih applause dengan prestasi   Iko Uwais yang lagi naik dauh dengan film The Raid (Bukan D’Rise   lho) yang mendunia.   Tapi bagi yang nggak suka bola, nggak doyan balap motor,   atau nggak ngeh film laga, deretan prestasi-prestasi di atas   dianggap angin lalu. Nggak ngaruh bagi mereka. Dan mungkin gak   terdorong untuk ngasih apresiasi.

Lantaran prestasi para pesohor   itu gak bikin kehidupannya jadi lebih baik.   Nah sialnya, gencarnya media remaja yang menanamkan   gaya hidup barat di benak kawula muda sukses menghipnotis   Berkiblat pada Gaya Hidup Barat  mereka. Sehingga merasa perlu untuk berdandan ala   artis K-Pop atau ngerasa wajib makan junk food. Itu karena   mereka menganggap itulah sebuah “prestasi” lantaran   sudah bisa menyamai atau meniru gaya hidup Barat.

Remaja Muslim : kiblatnya Islam donk 

Kalo sahabat jeli, soal prestasi yang selama ini   dimiliki Barat, ada 3 (tiga) hal yang harusnya jadi perhatian   kita.

  1. , prestasi Barat di satu sisi lebih karena mereka menanggalkan agama untuk mengatur kehidupan   mereka, alias sekular. Kalo mau disepadankan prestasi   sebagai sebuah kebahagiaan, maka sejatinya kebahagiaan   semu. Gimana nggak semu, kalo yang mereka sebut   prestasi adalah ketika mengumbar aurat alias pornografi   dan pornoaksi untuk mendapatkan uang. Gimana bisa   dikatakan kebahagiaan yang kekal, kalo yang mereka sebut   prestasi adalah ketika merampok kekayaan negeri-negeri   muslim, seperti yang dilakukan Amrik dengan perusahaan   PT. Freeport-nya di pegunungan Jayawijaya, Papua.
  2. , “prestasi” nya Barat sekarang ini lebih karena dulunya ‘mencontek’ Islam. Prof. G. Margoliouth dalam De Karacht van den Islam menuliskan, “Penyelidikan telah   menunjukkan, bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa   tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti, dan ilmu pengetahuan   semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance,   secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari   bahasa Arab, dan Quran-lah yang, walaupun tidak secara   langsung, memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di   antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka”
  3. , prestasi yang dimiliki Barat saat ini, lebih karena hegemoni dan dominasi negara-negara macam Amrik dan Inggris. Artinya, mereka lah yang saat ini yang menjadi “penguasa” di   dunia saat ini, sehingga wajar kalo mereka yang dijadikan kiblat,   atau memaksakan diri untuk harus jadi kiblat bagi negara-negara   lain.  Sehingga sebagai muslim, harusnya kita nggak silau dengan   prestasi yang selama ini ditebar Barat lewat media apapun.

Karena sejatinya, kita sebagai seorang muslim harusnya lebih   bangga berkiblat pada Islam. Sekedar mengingatkan, coba kita   simak kutipan berikut:  “Patut diingat, bahwa Quran memegang peranan yang   lebih besar terhadap kaum muslimin daripada Bibel dalam agama   Kristen. Demikianlah, setelah melintasi masa selama 13 abad   Quran tetap merupakan kitab suci bagi seluruh Turki, Iran, dan   hampir seperempat penduduk India. Sungguh, sebuah kitab   seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa   kini” (E. Denisen Ross, seperti dikutip dalam buku Kekaguman   Dunia Terhadap Islam).

Itulah sob, pengakuan orang Barat terhadap Islam. Itu   artinya, Islam itu pernah berprestasi dan pasti masih menyimpan   prestasi, jika diterapkan lagi seperti pernah diterapkan selama 13   abad. Bahkan pada masa kejayaan yang 13 abad tersebut, Islam   memang menjadi super power, menjadi kiblat bagi dunia saat itu.   Bisa dibilang, ilmuwa-ilmuwan Barat yang sekarang lebih kita   kenal dalam pelajaran sekolah kita adalah terilhami dari ilmuwan-ilmuwa Muslim saat itu.   Maka bangunlah the dreamers, saatnya untuk beraksi   menjadi the players dengan menjadikan Islam satu-satunya kiblat   dalam ukuran berprestasi. Cayo (LBR)

Majalah drise Edisi 21 Emansipasi pasti Mati

Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya  menyimpang” (Ditujukan kepada Nyonya  AAbendanon, 5 maret 1902). Itulah penggalan isi  surat RA. Kartini setelah mengenal Islam lebih dalam di  bawah bimbingan K.H. Muhammad Sholeh bin Umar,  seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Perjuangan  Kartini yang sering ditempelin stempel emansipasi,  kayanya mesti kita kaji lagi. Lantaran ide emansipasi yang  banyak dikampanyekan para feminis, nggak seperti yang  dikehendaki Kartini. Makanya biar gak kena tipu, kita  kudu pelotoin dan pahami lagi perkara perjuangan  kesetaraan cewek-cowok ini. yuk!

Sejarah Kelam Kaum Hawa

Driser, kalo kita tengok sejarah berbagai bangsa di  dunia ini, ternyata kultur bangsa-bangsa saat itu  menempatkan wanita di posisi yang tidak terhormat.  Bangsa Yunani memperlakukan kaum wanitanya, sebagai  sebuah sosok yang tidak memiliki kedudukan sedikitpun  di masyarakat. Bahkan muncul suatu keyakinan bahwa  sesungguhnya kaum wanita adalah penyebab penderitaan  dan musibah bagi seseorang.

Kaum lelaki tidak duduk  bersama mereka dalam satu meja makan. Kaum wanita  hanya sebagai pemuas hasrat seksual tak ubahnya seperti  pelacur-pelacur.  Menurut penuturan Prof. Will Durant: Di Roma,  hanya kaum lelaki saja yang memiliki hak-hak di depan  hukum pada masa-masa awal negara Republik. Kaum  lelaki saja yang berhak membeli, memiliki, atau menjual  sesuatu, atau membuat perjanjian bisnis.

Bahkan mas  kawin istrinya—pada masa-masa tersebut—menjadi  miliknya pribadi. Proses kelahiran menjadi suatu perkara  yang mendebarkan di Roma. Jika anak yang dilahirkan  dalam keadaan cacat atau berjenis kelamin perempuan,  sang ayah diperbolehkan oleh adat untuk membunuhnya. Pandangan yang lebih menghinakan lagi dapat kita  dapati dalam peradaban Yahudi.

Kaum Yahudi ortodoks  yang mempelajari ajaran klasik Yahudi akan mendapati,  bahwa ada di antara ajaran dan aturan Yahudi yang  menindas kaum perempuan. Talmud (kitab suci Yahudi)  menyatakan: Mustahil ada sebuah dunia yang tanpa  keberadaan kaum lelaki dan perempuan. Namun  demikian, berbahagialah orang-orang yang mempunyai  anak laki-laki, dan celakalah orang-orang yang  mempunyai anak perempuan.

Pandangan yang tak jauh berbeda juga dilontarkan oleh peradaban  Hindu. Sebuah buku yang berisi aturan-aturan keagamaan Sansekerta  kuno, Draramasastra, memuat satu bab tentang “kedudukan klan  kewajiban agama kaum perempuan” atau stridharmapaddhati yang secara  umum menempatkan kaum perempuan pada golongan warga negara kelas  dua sehingga seorang istri bahkan harus rela untuk dijual apabila suaminya  menghendaki.

Bangsa Arab jahiliyah juga menempatkan wanita tidak terhormat.  Dalam sejarah yang mashyur, kala itu kalau ada lahir bayi perempuan akan  dikubur hidup-hidup!

Bentuk Perlawanan atau Penyesatan?

Berangkat dari fakta sejarah kelam kaum wanita di atas, para pemikir  Barat sekularis menggagas ide emansipasi sebagai antitesa, menjawab  ketidakseimbangan hak kaum wanita. Secara bahasa, emansipasi berasal  dari bahasa latin “emancipatio” yang artinya pembebasan dari tangan  kekuasaan. Kekuasaan yang mencengkeram yang membatasi gerak dan  kebebasan. Ide emansipasi dari lahirnya –biasa disebut juga dengan  ‘kesetaraan gender’ atau feminisme–, intinya merupakan sebuah reaksi  atas munculnya ketidakadilan yang dialami oleh kaum wanita.  Dimana  kondisi saat itu, menempatkan wanita sebagai kaum wingking (dibelakang)  dan menjadi terpasung oleh budaya, politik, dan keadaan sosial.

Kalo  dalam filosofi orang jawa, wong wadhon (kaum perempuan) hanya cukup  di kasur, dapur, dan sumur. Tentu saja, fakta model gini bikin sewot  sebagian orang terutama kaum hawa, yang akhirnya memperjuangkan ide  kesetaraan antara kaum wanita dengan pria.  Dituturkan bahwa 6 Oktober 1789 di Perancis merupakan tonggak  awal munculnya aksi-aksi para wanita. Mereka menyuarakan kesetaraan  jender.

Menuntut perlakuan yang sama dengan kaum pria. Pemberontakan  kaum wanita Perancis dilatari perlakuan sewenang-wenang berbagai pihak  terhadap para wanita. Mereka diperlakukan tidak adil, dihinakan, bagai  seonggok tubuh yang tiada lagi guna. Kemudian bermunculan organisasi-organisasi kewanitaan tak semata di Perancis, tapi menyebar ke Inggris,  Jerman, dan belahan Eropa lainnya. Gaung slogan emansipasi pun makin  membahana.

Karakter Barat yang sekular, memisahkan urusan agama dengan  dunia, membuat garis beda yang jelas dengan Islam. Sehingga dibalik  upaya Barat menyerangkan ide feminisme ke tubuh kaum muslimin,  sebenernya Barat mengajak umat muslim untuk sekular. Mereka  menggugat peran Muslimah yang terkesan hanya pada wilayah domestik.  Menurut mereka,  menjadi ibu bagi anak-anak adalah bukan pekerjaan  yang mulia. Karena itu mereka pun menuntut agar perempuan setara  dalam berbagai hal, di berbagai sektor dan kerja malam.

Kaum wanita  berlomba-lomba merambah area public dengan label wanita karier. Kaum  wanita makin di eksploitasi daya tarik seksualnya dalam ajang kontes  kecantikan, SPG, iklan televisi, film, sinetron, hingga model prduk yang gak  ada hubungannya sama sekali dengan dunia wanita.  Padahal kalau kita mau jujur, ketertindasan kaum perempuan itu  hanya ekses (akibat) dari penerapan sebuah tatanan yang steril dari aturan  Allah (sekularisme-liberalisme).

Seperti yang terjadi pada  peradaban di luar Islam. Sebaliknya, justeru dalam peradaban  Islam kemuliaan wanita terjaga. Secara khusus Allah telah  memuliakan wanita dengan penghormatan yang diberikan  oleh Allah baik oleh anaknya maupun oleh suaminya.  Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada  dua orang ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam  keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya  dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua  orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS.  Lukman: 14)

Sebaik-baik diantara kalian adalah orang yang paling baik  terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik  diantara kalian terhadap istriku [HR. Ibnu Majah] Driser, jelas banget kalo ide emansiapasi maupun  feminisme bukan untuk memuliakan wanita, tapi justeru  merendahkan. Kampanye para feminis yang berkoar-koar  menyuarakan ide emansipasi bukan untuk perlawanan  terhadap ketidakadilan tapi bentuk penyesatan dibalik isyu  diskriminasi kaum hawa. Nggak ada ceritanya, nasib wanita  menjadi lebih baik dengan ide emansipasi binti feminisme.  Yang ada, wanita hidup sejahtera di bawah naungan Islam.  Yang mesti dibenahi, bukan keadaan para wanitanya, tapi  aturan hidup yang mengaturnya. Gitchu!

Emansipasi Pasti Mati

Driser, enyerahkan penyelesaian ‘penindasan’ kaum  wanita kepada sekularisme-liberalisme dengan ide  emansipasi, hanya akan menambah nestapa nasib kaum  wanita. Selain itu, ide emansipasi memang bertentangan  dengan fitrah manusia. Fitrah atau kodrati manusia,  menempatkan wanita sesuai dengan porsinya, akan tetapi  emansipasi menuntut diluar itu, bahkan lebih dari itu, menuntut  agar setara dengan laki-laki seperti yang digembor-gemborkan  kaum feminis liberal.

Jelas tidak mungkin, dan hanya akan  menghasilkan kerusakan dan kesia-siaan yang tergambar dalam  kehidupan sekuler masyarakat barat.  Sebuah majalah wanita, Genius Beauty, maret 2011 lalu  memberitakan bahwa para psikolog dan sosiolog Inggris  menemukan bahwa 70% wanita Inggris menginginkan  membangun sebuah keluarga yang bahagia bersama dengan  pasangan mereka. Mereka memiliki kecendrungan untuk menjadi  wanita yang lebih dekat kepada anaknya, ketimbang dengan  “bos” nya.

Bahkan Kathy Caprino dalam bukunya“Breakdown,  Breakthrough” juga memiliki kesimpulan hampir sama. Ia meneliti  banyak wanita yang terjun ke dunia pekerjaan cenderung tidak  bahagia. Lima alasan terpopuler mengapa mereka tidak bahagia  akan pekerjaan yang disandangnya menurut Caprino adalah:  Merasa tidak akan bisa seimbang antara bekerja dan mengatur  keluarga; Menderita Masalah Finasial parah;  Tidak sungguh-sungguh menjalani bakat dan keahlian dengan hati; Merasa tidak  berharga dan dihormati; dan  Hanya mendapatkan sedikit hal  positif dan kesenangan dalam pekerjaan.

Saya kutipkan pernyataan ibu Kartini kepada Nyonya  Abendanon, 27 Oktober 1902 : “Sudah lewat masanya, tadinya  kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi  apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna?  Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam  masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak  patut disebut sebagai peradaban?”.

Catet tuh! Driser, jikalau kita menginginkan wanita mulia, maka justru  emansipasi harus dienyahkan dari buminya si bolang ini, sebagai  gantinya kita pergunakan Islam sebagai solusinya. Karena Islam  telah terbukti baik secara normative (nash) maupun secara  praktis (penerapan) mampu mensejahterakan kaum wanita.  Akur?![LBR]

 

Karena sudah rusak dari sononya, maka pemikiran  emansipasi yang menuntut persamaan hak kaum wanita  Kdengan laki-laki, maka tak ayal jika akhirnya muncul  tuntutan nyeleneh seputar emansipasi, diantaranya: – Nikah sejenis. Pernikahan sejenis yang pertama kali  berlangsung dilakukan di Belanda pada tanggal 1 April 2001.  Kemudian diikuti oleh beberapa negara lainnya antara lain;  Belgia,Spanyol, Kanada, Afrika Selatan, Norwegia, Swedia,  Portugal,Islandia dan Argentina.

Di Indonesia, tanggal 1  Maret disebut sebagai hari Solidaritas Gay & Lesbian  Nasional.  – Wanita jadi imam shalat jum’at. Adalah Aminah Wadud  mina Wadud, seorang Profesor studi Islam di Virginia  Commonhealth University, mengimami pelaksanaan sholat  Jumat yang diselenggarakan di Synod House, gereja  Kathedral St. John milik Keuskupan di Manhattan, New York.

Pelaksanaan sholat jumat yang diikuti oleh sekitar 100  jemaah ini, bukan hanya diikuti oleh jemaah wanita tapi  juga laki-laki. – Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam yang  digagas Siti Musdah Mulia. Dalam CLD tersebut disebutkan  antara lain bahwa pernikahan bukan ibadah, perempuan  boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, ijab  kabul bukan rukun nikah, dan sebagainya.

So, hati-hati dengan ide emansipasi. Nggak perlu capek-capek  perjuangkan emansipasi, kesetaraan gender, atau ide-ide  feminisme untuk memuliakan wanita. Cukup terapkan Islam  oleh Negara, dijamin kehormatan wanita kan terjaga dunia  akhirat. Pasti![]

MAJALAH DRISE EDISI 19 : CINTA SEHAT TANPA MAKSIAT

Panggil saya sebagai X. Saat ini saya berusia 19 tahun,  setahun yang lalu saya bertemu dengan seorang laki-laki  yang sekarang menjadi ‘teman dekat’, panggil saja Y. Dari  pihak keluarga saya sangat setuju sekali saya berhubungan  dengan Isa, karena sejak saya kenal dengan dia kebiasaan buruk  yang sering saya lakukan sekarang sudah saya tinggalkan… Suatu  hari dia datang ke rumah dan bertanya kepada saya.

Apakah saya  mau untuk mendampingi sisa hidupnya? Artinya dia melamar  saya untuk dijadikan istri. Saya sangat senang dan bangga  mendengar kata-kata itu, tapi di sisi lain saya sangat sedih dan  merasa saya sangatlah tidak pantas apabila saya menjadi  isterinya. Mengapa saya berpikiran seperti itu, karena masa lalu  saya dulu sangatlah suram, dan intinya sekarang saya sudah tidak  virgin lagi. Apakah masih pantas saya mengharapkan Y? …

Driser, itu sepenggal curhat dari salah satu teman penulis  yang dikirim via email. Hemm, kayaknya kita pantas sedih  ‘mendengar’ curhatan X diatas. Sedih lantaran virginitas  dikalangan remaja putri kian langka terkikis oleh gaya hidup seks  bebas. Parahnya, curhatan macam itu banyak banget di dunia  maya via email, blog, hingga jejaring sosial. Sehingga penulis  nggak bisa menahan untuk menggelengkan kepala sekaligus  memasang face sedih ketika membacanya.

Dari fakta diatas, ingatan penulis terbang pada data tahun  2002, dimana seorang penulis buku “Manajemen Cinta” dari  Jogjakarta, Iip Wijayanto pernah melakukan penelitian di kampus-kampus Jogjakarta. Berikut sedikit datanya, penelitian itu  dilakukan selama 3 tahun mulai Juli 1999 hingga Juli 2002, dengan  melibatkan sekitar 1.660 responden yang berasal dari 16  perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Yogya. Dari 1.660  responden itu, 97,05 persen mengaku sudah hilang  keperawanannya saat kuliah.

Hanya ada tiga responden saja yang  mengaku sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks,  termasuk masturbasi. Sebanyak 63 persen melakukan kegiatan  seks di tempat kost pria pasangannya. Sebanyak 14 persen  dilakukan di tempat kost putri atau rumah kontrakannya.  Selanjutnya 21 persen di hotel kelas melati yang tersebar di kota  Yogya dan 2 persen lagi di tempat wisata yang terbuka  (detik.com). Parah tenan! Keperawanan jadi barang obralan yang bisa  diperjualbelikan. Tentu saja kita setuju kalo hilangnya virginitas itu  terkait erat dengan model pergaulan remaja kita.

Dan tidak  dipungkiri lagi, pergaulan remaja kita sebelas dua belas dengan  model pergaulan remaja Amrik dan konco-konco Barat-nya. Koq  bisa gitu? Iya, sebab gaya pergaulan Barat yang serba bebas (free  seks) itu berhasil ditransfer melalui media tonton maupun media  baca yang ada di negerinya si Bolang ini. Dan sialnya, tidak cukup  sekedar ditransfer, tapi sudah di copy paste habis-habisan oleh  remaja kita. Weleh-weleh! Nggak percaya? Coba aja tanya aja remaja-remaja yang ada  di sekitar kita, gimana perasaan mereka kalo gak punya pacar?  Sudah bisa ditebak, ada yang ngerasa kegerahan, belingsatan  nggak karuan, dan ngerasa kalo pacaran itu suatu hal yang wajib  dalam kamus pergaulan remaja.

Lebih sedihnya, hal yang seperti  itu (remaja ngerasa risau), nggak cuman terjadi pada masalah  pacaran, tapi hampir semua lini pergaulan remaja. Ada yang  ngerasa kurang sreg bergaul dengan teman atau gank-nya kalo  nggak punya handphone yang up to date, nggak pake baju yang  ber-merk, dandan yang nggak modis, musik yang nggak funky, dan  sebagainya. Nah, itu artinya serangan Barat yang sekular dan  permisif sudah kaafah alias menyeluruh pada semua lini. Cinta + Lawan Jenis = Pacaran? Driser, hari gini remaja banyak yang risau binti galau kalo  nggak pacaran.

MAJALAH DRISE EDISI 20 : VIRUS GALAU KUDU DI HALAU

seorang facebooker ngasih status ” di  wall-nya. Tak lama, facebooker lain  langsung kasih comment, ‘lagi galau  S yaa…!’.

Sementara di belahan dunia  maya lain, salah satu tweeple mendadak  nge-tweet puisi yang mendayu-dayu di  statusnya. Tak lama, berondongan respon  masuk yang mempertanyakan  kegalauannya.  Hare gene, penghuni dunia maya  lagi keranjingan virus galau. Lagi sedih  diputusin pacar, dibilang galau. Lagi marah  ngeliat pacar selingkuh dua lingkuh,  dibilang galau. Lagi gak dapet perhatian  dari pujaan hati, diledekin galau.

Apalagi  social media udah jadi corong ekspresi  kawula muda. Walhasil, curcol alias curhat  colongan yang memenuhi dinding facebook  atau memadati kicauan tweeter tak bisa  dibendung. Status galau pun merajalela.  Nggak tahu deh pastinya sejak  kapan kosakata ‘galau’ marak di dunia  maya. Tapi yang jelas, ‘Galau’ sepertinya  sudah menjadi keluhan wajib facebookers  dan tweeple. Dan mungkin karena  terlampau seringnya, akhirnya jadi trend.

Padahal sebenarnya pengertian kata ‘Galau’  itu mengarah ke sikap negatif. Sayangnya,  ketika menjadi semacam trend, banyak  remaja yang merasa bangga melabeli  dirinya generasi ‘Galau’ tanpa cari tahu  artinya. Persis, sebelumnya ketika ada  istilah ‘Alay’, ‘Lebay’, ‘Funky’, maka istilah  yang berkonotasi negatif itu, malah jadi  sebuah kebanggaan. Hemm…bener juga  kale ya, kata para dalang itu kalo bumi ini  sudah gonjang-ganjing alias kebolak-balik. Driser, istilah galau menurut  beberapa referensi yang ada, menunjukkan  ke persepsi negatif.

Coba perhatikan definisi  galau menurut KBBI, yaitu di halaman 407  Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV  (2008), “galau” berarti kacau (tentang  pikiran); “bergalau” berarti (salah satu  artinya) kacau tidak karuan (pikiran); dan  “kegalauan” berarti sifat (keadaan hal)  galau. Di dalam Google Translate dan buku  Kamus Indonesia-Inggris John M. Echols  dan Hasan Shadily, bahasa Inggris galau  adalah hubbub dan confusion.

Artinya,  galau lebih dekat dengan suasana pikiran  yang tengah bingung. Menurut situs arti-kata.com, ber·ga·lau adalah sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan  (pikiran). Nah, apapun arti atau definisi galau,  yang pasti kita dengan mudah mendeteksi  kehadiran para galauers di dunia maya. Ciri-cirinya adalah self sentris alias doyan  mengeluh atau ngomongin dirinya sendiri  atau getol mengumbar masalah pribadinya  ke publik atau rajin update banyak status  dalam waktu singkat atau aktif curcol di  waktu-waktu Indonesia bagian galau yang  katanya sekitar jam 22 malem sampe jam  04 pagi. Apakah driser termasuk salah  satunya?

Hayooo ngaku aja!! Galau Adalah Produk Sekularisme Orang merasa bingung (confuse)  adalah sebuah kewajaran, suatu hal yang  manusiawi. Sama seperti rasa takut-berani,  bahagia-sedih, dll. Akan tetapi menjadi  tidak manusiawi, ketika kebingungan itu  menjadi wabah penyakit epidemi, bahkan  jadi semacam karakter yang melekat pada  seseorang. Apalagi ketika menghadapi  suatu masalah, dia selalu dilema atau  bingung. Itu menunjukkan bahwa memang  orang yang bingung tersebut tidak punya  prinsip hidup yang jelas dalam menghadapi  persoalan.

Klop, seperti yang dialami  kebanyakan remaja saat ini. Coba liat, saat  ngadepin ujian sekolah, daripada pusing,  banyak pelajar yang ambil jalan pintas.  Mereka memilih untuk bikin contekan,  kerjasama saat ujian, atau cari bocoran  soal. Dalam menapaki karir atau pekerjaan,  maunya yang cepat dan banyak  menghasilkan uang. Pilhannya jatuh ke  dunia selebriti dengan terlebih dahulu ikut  audisi. Kalo lagi ngumpul bareng sohib,  nggak mau ketinggalan tren. Kalo temannya  aktivis pacaran, tanpa pikir panjang  langsung cari gebetan.

Kebayang dong kalo  orang gak punya prinsip hidup yang jelas,  apa aja dijabanin ngikutin hawa nafsunya.  Pertimbangan moral atau akhlak udah gak  mempan. Bahkan aturan Islam pun  dilabrak. Jadi gelap mata bin lupa daratan.  Ini menunjukkan bahwa remaja kita adalah  generasi galauers. Ironisnya, virus galau juga menular  ke orang dewasa. Bahkan menjadi penyakit  galau massal menjangkiti masyarakat kita.

Kebingungan masyarakat dalam memberi  standar salah-benar atau baik-buruk dalam  mensikapi kondisi lingkungan menunjukkan  dengan pasti kalo masyarakat sedang galau.  Sehingga ketika media memberitakan  tentang terorisme yang dikaitkan dengan  aktivis gerakan Islam, maka dengan  mudahnya masyarakat melakukan  generalisasi. Setiap yang berjenggot, celana  cingkrang, pakai jubah, atau bercadar  dianggap teroris. Ngasal deh! Kegalauan pribadi maupun  masyarakat nggak akan mewabah kalo  lingkungan sekitar kita pake aturan hidup  Islam sebagai prinsip hidup dalam menilai  baik-buruk dan salah benarnya perbuatan.

Yang ada sekarang justru lingkungan  disterilkan dari aturan hidup Islam. Dengan  kata lain, memisahkan pembahasan  problem kehidupan dengan Islam, alias sekularisme. Islam hanya  dibatasi di pojok-pojok mushola, itupun diambil yang ada  kaitannya dengan ibadah ritual saja atau dalam urusan nikah,  talak, cerai, rujuk, waris. Diambil yang kira-kira menyenangkan,  dipakai ketika sedang suntuk dan diamalkan kalo bisa  menenangkan hati.

Padahal Islam itu sejatinya adalah way of life (jalan hidup).  Islam adalah dien yang mengatur segala urusan, mulai dari  bangun tidur sampai urusan mendengkur, mulai dari urusan  sepele sampai yang bertele-tele, mulai dari urusan bangun rumah  sampai bangun negara. Semuanya diatur dalam Islam.  Komplit..plit..plit! Jangan Ada Galau Diantara Kita Driser, rasa galau itu ngetemnya dalam hati dan pikiran,  tentu saja kalau disepelekan akan berakibat buruk.

Akibat lanjutan  bagi orang yang sedang galau (bingung, confuse) adalah futur  (down), lupa diri, lupa daratan, sampe lupa makan yang  selanjutnya bisa bikin pengidapnya kehilangan arah dan tujuan  hidup. Kaya orang linglung gitu.  Ketika seseorang bingung cari jalan keluar dari masalah  yang tengah dihadapi, itu tandanya doi belum punya prinsip  (idealisme) hidup yang yahud. Padahal idealisme hidup yang lahir  dari cara pandang (mindset) dia terhadap kehidupan itu penting  banget buat panduan menyelesaikan setiap masalahnya. Seorang  remaja yang punya prinsip hidup dagadu: muda foya-foya, tua  kaya raya, mati masuk surga, bisa jadi masa mudanya banyak  dipake untuk mengejar kesenangan dunia yang tak ada habisnya.

Idealisme itu ibarat darah yang senantiasa mengalir dalam  tubuh kita. Bicara idealisme, adalah bicara tentang hidup dan  mati, tentang harga diri, tentang sikap, dan tentang tujuan dan  target kita dalam hidup ini. Bayangin aja, kalo orang sama sekali  nggak punya idealisme, hidupnya bakal penuh kegalauan. Ibarat  orang bepergian tapi nggak tahu tujuannya harus pergi ke mana.  Dijamin bekal, waktu, tenaga, dan pikirannya bakal habis gak  karuan. Idealisme itu ibarat “nyawa” dalam kehidupan kita. Bisa  kita bayangkan sendiri, bahwa ketika kita nggak punya tujuan yang  hendak dicapai, rasanya garing banget hidup ini.

Dengan memiliki idealisme, tujuan hidup kita jadi terarah,  memiliki target yang jelas, dan pasti punya dorongan kuat dalam  mewujudkan segala  impian mulia yang jadi tujuan hidupnya. Dan itu  berarti menuntut sebuah perjuangan dan pengorbanan. Rintangan  seberat apapun akan dianggap sebagai sebuah tantangan yang kudu  ditaklukkan. Maju terus pantang kabooor! Cegah Galau Dengan Dakwah Nggak bisa dipungkiri kalo masyarakat kita tengah terjangkit  virus galau. Cengkeraman aturan kapitalis sekuler yang dipake negara  makin menjauhkan masyarakat dari ajaran Islam. Masyarakat digiring  untuk menjadikan untung –rugi dari sisi materi sebagai tolok ukur  dalam menilai perbuatan. Standar halal dan haram dianggap udah  kadaluarsa. Ujung-ujungnya, masyarakat makin galau kalo udah  disodorin aturan Islam untuk ngatur hidupnya  biar sejahtera.  Masihkah kita cuekin kondisi ini? Ooooh….tentu tidaaak!

Sebagai muslim, udah seharusnya kita  peduli dengan urusan kaum Muslimin. Kalo kita santai-santai aja alias  cuek bebek terhadap kondisi di atas, maka patut dipertanyakan  keislaman kita. Rasul ngingetin kita dalam sabdanya: “Barang siapa  yang bangun pagi hari, ia hanya memperhatikan masalah dunianya,  maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah; dan barang  siapa yang  tidak pernah memperhatikan  urusan kaum muslimin  yang lain,  maka mereka  tidak termasuk golonganku” (HR Thabrani  dari Abu Dzar Al Ghifari).

So,  setelah kita care, peduli akan nasib kaum muslimin, yang  kita lakukan berikutnya adalah memberikan edukasi (pembinaan) ke  masyarakat termasuk individunya. Pembinaan pribadi seperti  Rasulullah Saw membina para sahabat-sahabatnya di Darul Arqam.  Sedangkan pembinaan masyarakat dengan menyebarkan opini, baik  lisan maupun tulisan, baik dalam jumlah banyak atau sedikit. Opini  yang mengupas tuntas tentang Islam sebagai jalan hidup, Islam  sebagai problem solving, Islam sebagai idealisme hidup, serta  menghancurkan segala opini yang bertentangan dengan Islam. Ayuk  kita gabung dengan barisan para pengemban dakwah biar virus galau  segera kita halau. Wataw![LBR]

TIPS ANTI GALAU

kata orang bijak “Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati”, ya  memang idealnya begitu. Berikut tips praktis kalau si galau sudah  menyerang kita:

  1. Sadarkan diri bahwa kita ini akan diuji oleh Allah dengan masalah yang  datang kepada kita, sebagai ujian ‘cinta’ alias keimanan kita kepada  Allah. So, stay cool, calm, and confident!
  2. Sertakan sikap sabar dan syukur, ketika masalah itu datang, karena  masalah itu  akan mendewasakan kita. Nikmatin  aja sambil cari  solusinya.
  3. Kalo merasa memang harus curhat, carilah tempat curhat yang tepat,  jangan membiasakan diri curcol di arena publik macam facebook atau  twitter.  Cobalah  cari  teman,  atau  datangi  tempat  yang  bisa  ‘menasehati’ kita, karena temannya orang yang sedang galau adalah  kesendiriannya, dia merasa sendiri dalam menghadapi hidup.
  4. Selalu tanamkan positif thinking. Pertama, positif thinking pada Allah  SWT, karena Allah sesuai dengan persangkaan/mindset hambanya.  Kedua, positif thinking pada diri sendiri,  karena seorang muslim yang  baik adalah yang “bermanfaat” bagi orang di sekitarnya.
  1. Segera cari sarana atau wahana yang bisa membuat kita memiliki  idealisme  Islam,  yakni tempat-tempat  kajian Islam,  setelah itu  istiqomahlah di dalamnya. So, bakarlah semangatmu untuk belajar  sekarang juga, jangan ditunda! (LBR)